PETAK UMPET

" RIVAMIKA FANFICTION "

Shingeki No Kyojin / Attack On Titan

Disclaimer Isayama Hajime

Original Fanfiction Estelle Vaille-R

-
CAST :
Rivaille / Levi Ackerman
Mikasa Ackerman
-

Cerita ini hanya fiktif belaka hasil dari pemikiran author saat melihat picture di atas semoga kalian suka. Please Don't Plagiat My Creation.

Jangan lupa klik tombol Follow, Vote and Reviewnya.

Happy Reading!

❤️❤️❤️


Levi tidak habis pikir mengapa dirinya harus mengikuti permainan bocah seperti ini. Bermain petak umpet di halaman pelatihan Scouting Legion bersama Eren,Mikasa ,Armin dan beberapa anggota Survei Corp lain termasuk Nanaba, Moblit dan juga Hanji. Padahal usia Levi sudah menginjak 34 tahun dan permainan bocah seperti ini sama sekali tidak cocok untuknya. Levi sempat merutuki Erwin yang menyuruhnya ikut andil dalam permainan kali ini bahkan setelah 20 menit pria pendek nan tampan ini memberikan sumpah serapah kepadanya namun tak berhasil menghentikan permintaan Erwin Smith – sang Komandan tertinggi Scouting Legion. Levi bahkan belum sempat sarapan dan sialnya dia malah di seret paksa oleh Erwin dengan lagi-lagi mengancam memotong seperdelapan gajinya jika menolak perintahnya. Klimis Sialan!

Levi kini tengah bersembunyi di dalam sebuah lemari pakaian kosong yang berada di ruangan kerjanya. Tepatnya di sebelah kanan meja kerjanya terdapat lemari cokelat besar yang biasa dia gunakan untuk menyimpan dokumen dan juga beberapa setelan jas miliknya. Jika di perhatikan lemari ini mungkin terlihat seperti lemari pakaian pada umumnya namun jika kita sudah mengeluarkan isinya, di dalamnya cukup luas untuk di gunakan bersembunyi bahkan untuk tiduran sekalipun. Levi sempat bersyukur pagi ini beberapa pakaian yang ada di dalamnya sudah dia pindahkan karena rencananya lemari ini hanya akan dia gunakan untuk menyimpan berkas - berkas dokumen ekspedisi. Levi mengintip dari celah lubang kecil berharap Hanji yang sedang berjaga di luar sana tidak dapat menemukannya.

Levi memilih duduk dengan bebas menyandarkan punggungnya pada kayu lemari, bahunya mulai terasa kaku dan sempat beberapa kali dia menekuk leher dan jemarinya hingga mengeluarkan suara gemerutuk. Aku rasa cukup aman di sini , aku bisa sekalian istirahat sebentar.

Levi berusaha memejamkan matanya untuk tidur sebentar, raut wajahnya tampak Lelah. Lagipula dari semalam Levi juga mengalami insomnia jadi waktu tidurnya cuma 2 jam saja. Namun baru saja Levi ingin mencoba menutup kedua matanya tiba-tiba pintu di hadapannya di buka oleh seseorang. Levi tampak terkejut tidak menyangka ada seseorang yang dengan mudahnya menemukan tempat persembunyiannya. Seorang gadis bersurai hitam sebahu muncul dengan wajah tanpa dosa.

Gadis itu tampaknya juga terkejut melihat Levi dan membulatkan mata menatapnya. Dia adalah Mikasa Ackerman salah satu anggota Squad barunya yang sering di katai mirip dengannya. Tak ada percakapan di antara mereka, keduanya hanya terpaku di tempat saling memandang dengan ekspresi datar. Levi bersidekap alisnya mengerut bahkan matanya tak henti menatap tajam gadis di hadapannya yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

" Oh, ada anda rupanya." Ucap gadis itu.

"..."

Levi dan Mikasa dapat mendengar suara Hanji yang akan mengakhiri hitungannya di luar sana. Mikasa terlihat memikirkan sesuatu. Gadis itu terlihat sangat gelisah karena belum juga menemukan tempat persembunyian. Mikasa ingat pagi ini dia berniat memberikan dokumen penting untuk Levi namun dia tidak sengaja melihat atasannya itu tengah sibuk membersihkan pakaian dari lemarinya. Menurut Mikasa lemari yang di miliki Levi pagi tadi memiliki ruangan cukup luas dan merupakan tempat yang pas untuk di gunakan bersembunyi. Namun harapan Mikasa serasa di rusak begitu mengetahui pria cebol ini sudah lebih dulu berada di dalamnya. Lagipula ini memang ruangannya wajar saja jika Levi akan berada di sana bukan, gadis itu hanya menghela nafas.

Levi sendiri tampak tak suka dengan kehadiran Mikasa hal itu jelas terpampang dari raut wajahnya yang tak bersahabat. Kerutan di wajah dinginnya mulai mengintimidasi Mikasa seolah menyuruh Gadis itu untuk segera menutup lemari dan menyuruhnya enyah dari hadapannya.

Bagaimana ini? Batin Mikasa kemudian menggigit bibirnya pelan.

Mikasa kembali menghela nafas berat kemudian terpaksa menutup pintu lemari dan berencana berjalan keluar mencari tempat persembunyian lain. Namun sialnya dia mendengar Hanji di luar sana sudah selesei mengakhiri hitungannya.

"100 yuhuy aku mulai mencari kalian ,bersiaplah! "Teriak Hanji dengan penuh antusias di luar sana.

Mati aku!

Mikasa yang panik hanya bisa berlari mondar mandir ke kanan ke kiri entah gadis itu mulai bingung mau pergi kemana lagi.

" Aku harus pergi kemana?" ujarnya selirih mungkin.

Mikasa berniat bersembunyi di kolong ranjang Levi namun di urungkan mengingat tempat itu sangatlah mudah untuk di temukan. Berlari keluar kemungkinan besar Hanji akan langsung menyergapnya, gadis itu tidak punya pilihan lain sekarang. Ya tatapannya beralih pada satu titik, dengan tatapan yang menakutkan gadis itu terpaksa membuka lemari itu lagi dan reflek mendorong tubuh Levi untuk bergeser hingga membuat wajah atasannya itu menempel pada lemari.

Ugh,Brengsek! Umpat Levi dalam hati.

Mikasa langsung masuk ke dalam lemari dan tak lupa menutup pintunya lagi. Di dorong seperti itu jelas membuat Levi merasa jengkel dan berniat mengumpat di depan wajah gadis yang duduk di sebelahnya ini. Dengan raut wajah tanpa dosa gadis itu duduk dengan menekuk kedua kakinya dan berwajah datar tanpa menoleh pada Levi.

Apa gadis ini bodoh, tempat ini terlalu sempit untuk di gunakan berdua.

" Memangnya matamu tidak lihat kalau tempat ini tidak muat untuk berdua,heh. " Ucap Levi sembari mendorong tubuh Mikasa agar menjauh darinya. Jelas saja Mikasa tidak memperdulikannya,kini gadis itu berusaha membalas mendorong tubuh atasannya itu.

" Sudah tidak ada waktu berhenti mendorong saya, heichou. Saya juga tahu di sini sempit ." ucap Mikasa.

"Sudah tahu sempit kau juga masuk dasar bodoh, Ini ruanganku pergi sana." Ujar Levi kesal.

" Sudah ku bilang sempit, jangan dorong-dorong Heichou."Mikasa kini berusaha menjambak rambut heichounya cukup keras.

" Oi Oi." Sialnya hal itu membuat Levi semakin kesal dengan kelakuan bocah di sebelahnya ini. Akhirnya adu jambak dan aksi dorong mendorong secara brutalpun tidak bisa di hindari keduanya.

" Minggir kau!" Hardik Levi berusaha mendorong tubuh Mikasa menjauh dari tubuhnya. Mikasa berusaha menahan tubuhnya dengan berpegangan pada pintu.

" Arrg! Anda ini menyebalkan sekali, hanya sebentar saja ugh."Ucap Mikasa namun seperdetik berikutnya Levi mendorongnya sangat kuat membuat tubuh gadis itu terlempar keluar pintu.

" Ah, Kau gila heichou!" Ujar Mikasa sambil mengusap pantatnya yang sakit akibat mencium lantai dengan tidak elitnya.

" Pergi sana!" Usir Levi dengan dinginnya tanpa memperdulikan Mikasa yang merasa kesakitan akibat ulahnya barusan.

Mikasa merasa jengkel atas perilaku heichounya ini padanya. Dia mulai berdiri lagi berniat menendang lemari itu sekalian saja menghancurkannya agar pria itu tidak bisa bersembunyi di dalam. Namun dia urungkan saat mendengar langkah kaki cepat yang menuju ke arahnya. Seperti sebuah alarm tubuhnya langsung bereaksi seolah menyuruh Mikasa untuk membuka paksa lemari itu lagi dan tanpa pikir panjang langsung melompat kedalamnya hingga membuat kepala Levi kali ini yang kejedot lemari. Bocah Bangsat!. Rutuk Levi kembali.

Rivaille ingin sekali menebas kepala gadis yang dengan seenak jidatnya kini malah menindih tubuhnya. Levi melotot tak terima gadis itu berada di atas tubuhnya.

" Beraninya kau-"

Mikasa dengan segera menutup pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Bahkan gadis itu dengan santainya menaruh telunjuknya pada bibir Levi.

" Anda berisik sekali."

" Oi,kau-mppp" belum selesai Levi berkoar Mikasa dengan cepat membungkam mulut atasannya itu dengan tangan kanannya.

" Sstt, diamlah heichou, Hanji-san ada di sini." Bisiknya tepat di telinga Levi , membuat Pria itu mendadak merinding merasakan deru panas menggelitik telinganya. Keduanya langsung terdiam mendengar suara langkah kaki cepat yang memasuki ruangan.

BRAK!

" Rivaiiiiiiiiii,dimana kau?" Suara Hanji menggema seisi ruangan membuat dua orang yang tengah bersembunyi di dalam lemari tampak gugup. Mikasa mengintip dari celah dan melihat Hanji tengah sibuk mencari keberadaan mereka.

" Eh aku yakin aku mendengar suara ribut di area sini, ayolah aku pasti akan " ucap Hanji dengan seringaian mengerikan berjalan ke sisi ranjang.

" Di sini kau!" Hanji membuka pintu kamar Levi namun kosong tidak ada seorangpun di sana. " Eh, kosong."

Gadis berkacamata itu tidak menyerah, dia mencari di bawah meja kerja Levi bahkan tadi sempat melihat di kolong kasur namun tak ada siapapun di sana. Mikasa merasa beruntung tidak jadi bersembunyi di kolong kasur, kalau saja dia di sana mungkin dia yang menjadi pertama tertangkap.

" Kenapa di sini tidak ada orang, apa aku tadi salah dengar ya." Ujar Hanji sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Mereka menyadari Hanji tengah berdiri tepat di depan meja kerja dan bisa merasakan jarak keduanya sangatlah dekat . Hal itu membuat keduanya semakin gugup sampai-sampai berkeringat dingin takut ketahuan.

Mikasa dan Levi hanya terdiam berusaha menahan diri untuk tidak saling mencekik saat dengan kurang ajarnya tangan heichounya ini menyentuh pinggangnya. Keduanya saling melirik tak suka , Mikasa tak suka di sentuh pinggangnya sedangkan Levi tak suka tangan kotor bocah nakal ini berada di mulutnya.

Grrrrr!

Pandangan sengit mulai di lontarkan keduanya, Bahkan mulut Mikasa sudah komat kamit mengkode agar heichounya itu menghentikan kelakuannya. Sedangkan Levi hanya membalas mengkode menggunakan matanya yang tajam agar gadis itu melepaskan tangannya juga. Sayangnya keduanya keras kepala bahkan lupa jika Hanji masih berada di luar sana. Levipun dengan santainya mengusap lalu mencubit pinggang Mikasa hingga hampir membuat gadis itu berteriak keras. Gadis itu menggigit bibir bersusah payah menahan diri bahkan hampir membuatnya menangis. Saking jengkelnya akan kelakuan atasannya akhirnya Mikasa memukulkan kepalanya pada kepala Levi.

Dugh

Keduanya meringis menahan kesakitan berharap saja Hanji tidak mendengarnya. Namun jantung keduanya mencelos saat tiba-tiba mendengar suara Hanji.

" Kalian di sana rupanya..hehehe " ujar Hanji cekikikan. Suara tawanya terdengar sangat mengerikan.

Deg

Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis keduanya, Mereka hanya terdiam saling pandang dan berfikir mungkinkah keduanya sudah ketahuan.

Ah benar-benar sialan, gara-gara gadis suram /pria cebol ini. Pikir keduanya bersamaan.

" Ya! Bocah kuda dan gadis kentang! diam di sana jangan lari." Teriak Hanji.

" WOI aku pasti menangkap kalian berdua, diam disa itu!." Teriak Hanji lagi kini terdengar berlari keluar dari ruangan Levi. Hanji dengan kekuatan penuh mengejar dua buruannya, Jean dan Sasha langsung kabur kocar kacir , "YA! Jangan kabur!"

Di rasa suara Hanji sudah menjauh kedua orang yang berada di dalam lemari akhirnya bisa bernafas lega.fuh!

" Oi, singkirkan tangan kotormu dari mulutku,bocah." Ucap Levi kini dengan sorot mata dingin.

" Anda juga jangan menyentuh pinggang saya dengan seenaknya." Balas Mikasa tak kalah dinginnya, kali ini Mikasa melepas tangannya dari bibir Levi dan mengibaskan seolah jijik.

" Kau duluan yang menyentuhku , giliran aku balas kau tidak mau,heh." Ujar Levi datar.

" Apa! Maaf saja saya terpaksa melakukannya dan cih, mungkin setelah ini saya harus mencuci tangan saya sebanyak mungkin." Ucap gadis itu dengan sorot wajah meremehkan.

Levi tampak kesal dengan perilaku anak buah menyebalkannya ini setidaknya dia ingin membuat bocah itu menyadari siapa lawannya kini. Dengan segenap kekuatan Levi mendorong tubuh Mikasa hingga gadis itu terpojok di lemari dengan posisi kakinya berada di atas pangkuan Levi.

" Tunggu Aow- Apa yang anda lakukan? Lepas!." Mikasa tampak terkejut dengan posisi kakinya kini dan menjadi bertambah kesal saat Levi mencengkram pipinya dengan tangan kanan, membuat bibir gadis itu mengerucut sebal.

" Oi, bocah suram, Jaga sopan santunmu, sepertinya kau lupa aku ini lebih tua darimu." Ucapnya datar. Namun setelah berucap seperti itu levi tiba-tiba merasakan kesemutan luar biasa pada kaki kanannya. Shit!

Mikasa tentu saja tak terima di perlakukan seperti ini, merasa melihat celah dia pun membalas hal yang sama dengan mencengkram pipi heichounya itu. Levi dengan terpaksa menatap wajah gadis itu sambal menahan kesakitan.

" Ku bilang lepaskan aku. Jangan menyentuhku cebol." Berontak Mikasa membuat Levi bertambah jengkel saat kakinya semakin berkedut parah.

" Oi oi diamlah Kakiku kram brengsek."

" Apa peduliku baguslah, seperti ini." Mikasa sengaja menyenggol kaki Levi yang kram membuat pria itu menahan nyeri luar biasa,

"Brengsek kau, bocah."

" Rasakan." Mikasa tersenyum penuh kemenangan,

Levi kemudian dengan cepat mendorong gadis itu ke dinding kayu hingga membuat gadis itu tidak mampu bergerak. Bahkan Levi sudah tidak memperdulikan rasa sakit di kakinya lagi.

BRUG

" Aduh sakit, lepaskan aku heichou." Pintanya begitu tangannya mulai di cengkram erat Levi.

"Diamlah atau aku tidak menjamin apa yang akan selanjutnya terjadi." Ancam Levi tepat di depan wajah Mikasa. Dengan sorot mata yang berkilat membuat Mikasa syok dengan ucapan ambigu heichounya itu akhirnya memilih untuk diam. Entah bayangan hal gila apa yang merasuki gadis itu membuat wajahnya tiba-tiba memerah seperti tomat. Levi mencoba memijat mijat kakinya yang kram , dia menatap wajah Mikasa yang terlihat memerah.

" Kau kenapa lagi,huh?" Tanya Levi bingung dengan apa yang tengah di pikirkan gadis itu.

" Tidak ada, asal anda tahu saja saya sama sekali tidak tertarik dengan pria tua seperti anda. " Ucap Mikasa sambil mengeratkan syal merahnya dan berhasil membuat mata Levi terbelalak. Pria tua katanya?

" Kau pikir aku tertarik dengan bocah ingusan sepertimu, dasar suram dan dadamu juga datar kau juga bukan typeku." Ucap Levi mencemooh tepat di hadapan dada gadis itu.

" Kau bilang apa? menyingkir dariku sekarang." Ucap Mikasa mulai marah lagi. Gadis itu mulai memberontak lagi dengan mendorong wajah Levi menjauh membuat kaki Levi kembali merasa nyut-nyutan. ah sialan bocah ini.

" Aku sudah bilang jangan bergerak bodoh." Levi kini geregetan ,dia merentangkan kedua tangan gadis itu dan mencengkramnya kuat-kuat. Wajahnya di dekatkan ke wajah gadis itu membuat Mikasa membulatkan matanya dengan cepat. Wajah Levi sangat dekat sekali bahkan Mikasa bisa merasakan deru nafas dari pria itu.

" Kkkau tak berniat menciumku bukan? " Ucap Mikasa serasa merinding saat pria di hadapannya ini bukannya menjawab malah menyunggingkan seringaian yang menyeramkan di matanya.

" Kalau kau tak mendengar perintahku mungkin akan aku lakukan." seringai Levi santai sambil menahan kesemutan kakinya yang tak kunjung hilang.

" Dasar pak tua mesum sialan! " Teriak Mikasa sebal , dari jauh Levi mendengar langkah kaki terburu-buru mendekati ruangannya lagi. Dengan secepat kilat Levi menarik kepala Mikasa dan kali ini benar-benar membungkam mulut gadis itu menggunakan mulutnya.

Cup!.

Mikasa terkejut sangat terkejut hingga membuat gadis itu melotot parah. Mikasa tidak pernah menyangka pria cebol di depannya ini benar-benar akan menciumnya di bibir pula.

Brak!

" Uwaapaa! padahal aku mendengar suara berisik tadi, tapi di sini tak ada orang lagiiiii." teriak Hanji frustasi membuat dua orang bersembunyi di dalam lemari kaget dan hanya bisa mematung dengan bibir mereka yang masih menempel.

Mikasa berusaha melawan namun naas karena posisinya tak menguntungkan membuatnya kalah. " Emmphh- "Gadis itu ingin menjerit histeris saat dengan kurang ajarnya pria itu semakin menekankan bibirnya.

" Sebenarnya di mana mereka semua bersembunyi. Dua Ackerman itu benar-benar sulit sekali di cari. Leviiiii dimana kau bersembunyiii heh." Ucap Hanji mewek sambil sibuk mencari di kamar mandi bahkan di bawah kolong lagi namun lagi-lagi nihil tak ada seorang pun di sana.

" Atau jangan-jangan Leviii bersembunyi di ruangan Erwin, siapa tahu saja saja aku harus segera menangkapnya, Hadiah itu harus menjadi milikku." ucap Hanji sembari mencari lagi.

Mikasa benar-benar tak tahan lagi dia ingin keluar dari situasi ini. Dia mulai mencoba melepaskan kedua tangannya dan akhirnya berhasil. Gadis itu mendorong tubuh Levi menjauh hingga membuat ciuman mereka terlepas. Belum gadis itu memulai umpatannya Levi menangkup kedua pipi gadis itu dan berakhir dengan mencium bibirnya lagi. Tak hanya sekedar mencium kali ini bahkan atasan gilanya ini berani melumat bibirnya dengan penuh gairah.

Mikasa syok luar biasa gadis itu memukul dada pria itu berkali-kali namun tak berhasil menghentikan kelakuannya. Mikasa membenci pria ini ,berani sekali dia mencuri ciuman pertamanya. Bukankah ini sama saja dengan pria itu memperkosa bibirnya secara paksa. Mikasa tidak mau tahu setelah ini pria di depannya ini harus bertanggung jawab padanya. Bisa sajakan keesok harinya Mikasa hamil gara-gara hal ini.

Tapi kenapa bibirnya terasa manis sekali, diam sedikit bolehlah.

Entah setan apa yang merasuki keduanya hingga mereka berduapun tampak menikmati ciuman satu sama lain. Bahkan Mikasa yang tadinya menolak kini mulai membalas ciuman itu dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Levi. Mikasa berusaha menahan suara saat Levi mulai memperdalam ciumannya bahkan menghisap bibirnya begitu kuat. Keduanya mendengar pintu tertutup lalu saling pandang meskipun bibir mereka masih saja menempel. Semburat merah terpampang jelas di wajah keduanya terutama Mikasa yang notabene gadis polos nan suci aku penuh dosa. #coretyangterakhir

" Ternyata kau suka padaku." Ucap Levi terdengar menggodanya membuat Mikasa langsung jengkel dan reflek menampar pipinya.

Plak!

" Mimpi."

Gadis itu segera mendorong Levi menjauh kemudian keluar dari lemari dan berlari keluar ruangan.

" Bocah sialan." Ucap Levi datar namun setelahnya menyeringai. " Tidak buruk" ucapnya sembari menjilat jempolnya.

Mikasa berlari ke kandang kuda berusaha menenangkan debaran jantungnya barusan. Padahal Mikasa yakin kalau dirinya tidak menyukai pria itu. Tapi kenapa tubuhnya seolah menolak hal itu. Sejak kapan?

Mikasa merasa wajahnya sangat panas hingga membuat gadis itu mengibaskan tangannya berkali-kali untuk menenangkan diri. Gadis itu mengingat adegan ciuman yang telah di lakukannya tadi bersama Levi. Masih terasa jelas bibir manis Levi yang mencium bibirnya. Sangat hangat dan begitu menggoda.

Mikasa menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya terbesit kegilaan andai saja Mikasa bisa merasakan getaran itu kembali. PLAK!
Gadis itu reflek menampar pipinya .

Mikasa ayo sadarlah! apa yang telah kau lakukan barusan , kau membiarkan pria cebol itu menciummu bahkan kau membalasnya. Aaaaaa! Ini gila . bodoh kau Mikasa bodoh sekali.

Mikasa menenggelamkan kepalanya pada tembok hingga tak sadar dari tadi Hanji sudah menepuk pundaknya.

" Aku mendapatkanmu,Mikasaaaa." Ucap Hanji dengan sumringah.

Eh!

Mikasa tak menyadari tadi ,dia bahkan tak mampu menutupi wajah memerahnya lagi. Ah ini semua gara-gara Levi sialan.

" Ah sekarang aku hanya tinggal mencari Levi. Kemana si cebol itu bersembunyi, apa kau tahu dia bersembunyi Mikasa?" Ucap Hanji membuat Mikasa kaget saat mendengar nama Levi disebut. Jantung Mikasa mulai berdetak lagi. Karena mulai menggila Mikasa pun menjerit.

" TIDAKKKKK"

Mikasa mulai berlari lagi membuat Hanji mengedipkan matanya bingung.

" Kenapa dengannya."

Begitulah akhir dari permainan petak umpet itu akhirnya di menangkan oleh Levi dan Komandan Erwin menghadiahinya sebuah Medali emas yang sangat membuat Hanji iri luar biasa. Apalagi Levi juga di berikan cuti selama seminggu dan juga mendapat 5% kenaikan gaji membuatnya cukup senang meskipun tidak akan pernah dia tunjukkan. Sedangkan Mikasa setiap kali berpapasan dengan Levi dia lebih memilih untuk kabur menjauhinya. Mikasa sangat malu dan tidak tahu mengapa setiap bertemu, pria itu selalu saja membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Sepertinya itu sesuai prediksi Levi , pria itu hanya memandang tajam punggung gadis yang mati-matian bersembunyi berusaha menghindarinya.

" Manis sekali." Ujarnya hingga berakhir dengan seringaian puas dari wajah tampannya.

.


-
- THE END -
-


Hai ini oneshot ketiga aku , ternyata bikin cerita sampai akhir itu susah ya. Aku bikin selalu Cuma sampai pertengahan habis itu blank. Hahhaha Semoga kalian suka jangan lupa untuk tinggalkan komentar kalian untuk penyematku dalam menulis. Jangan pelit vote and follow juga ya.

Terima kasih sudah mampir , I love u guys

❤️❤️❤️

~ Estelle Vaille-R ~