Disclaimer: Cerita ini dibuat demi kesenangan pribadi dengan meminjam nama-nama tokoh dalam "Naruto", karya Masashi Kishimoto.
UNLOCKING THE SHACKLE
Bab 1
Kendati keringat mengering oleh semilir angin menjelang musim gugur, Sakura merasa risih. Terasa lengket. Beginilah nasib jurnalis junior yang baru setahun lulus kuliah jurusan komunikasi. Mandi pun tak sempat. Ia bahkan baru sampai di depan pintu saat atasannya menelepon. Ia jadi batal istirahat lebih cepat lantaran harus meliput berita di distrik Rasengan. Di situlah lokasi penyanderaan gadis yang dilakukan oleh tujuh pria.
Ia tak langsung pulang. Perutnya kembali keroncongan. Padahal, sebelum pulang ia sudah makan. Kini, ia mampir ke sebuah kedai kaki lima. Sambil menunggu udon dan sake, ia berkirim pesan dengan teman baiknya yang sudah akrab sejak kuliah. Ia dan pemuda itu bahkan tergabung dalam organisasi mahasiswa yang sama.
Tak lama, si pemuda muncul. Ia turun dari sepeda motor 250 cc hitamnya, kemudian menghampiri Sakura. Ia tetap tampak rapi dan keren. Uchiha Sasuke memang orang beruntung. Lahir dari pasangan dokter, ia dapat mengecap kehidupan yang nyaman dan bahkan cukup wah. Tak seperti sang wartawan junior yang cuma anak petani di desa. Anak rantau.
"Kau gila, ya, menyuruhku ke sini malam-malam?" omel Sasuke.
"Bayari makananku dulu! Besok kuganti," balas Sakura, lalu cengengesan.
Pemuda berusia 23 tahun itu mendesah. Sebenarnya bukan duit yang membuatnya keberatan datang, melainkan waktu tidur. Ia pun masih jadi junior. Tepatnya, asisten pengacara yang bekerja sambil menanti kesempatan untuk menempuh program profesi.
"Sudah kubilang, tinggal saja di rumahku. Kenapa ngeyel, sih?" omelnya lagi.
Sakura langsung membuat tanda silang dengan tangan sambil menggeleng kuat-kuat. Beban hidupnya sudah banyak. Ia masih harus melunasi pinjaman di bank untuk kuliahnya. Jadi, numpang di rumah Sasuke pasti akan menambah bebannya. Ia enggan punya balas budi, sedangkan berutang uang makan saja sudah bikin ia pening.
"Keras kepala," gumam Sasuke.
"Sudahlah! Daripada itu, kita bahas kasus yang barusan, soalnya kudengar kasus itu bakal diserahkan ke firma bosmu," balas Sakura.
"Bosku pasti ambil pro bono."
Sakura terkekeh. Bukan berita baru bahwa bos Sasuke ialah pengacara yang tak sudi membela penjahat meski bayarannya bisa membuat hidupnya bergelimangan harta. Kali ini, pelaku pemerkosaan tersebut tak lain adalah anak-anak pejabat. Lebih baik, mereka membela maling kecil atau pelaku pembunuhan atas dasar alasan pemaaf, seperti membela diri.
Tentu, bos Sasuke yang bernama Hatake Kakashi itu pernah membela orang salah. Namun, entah mengapa kalau berkaitan dengan harga diri perempuan, ia tak mau. Ini pula alasan Sasuke bekerja di sana. Ia juga punya prinsip yang sama.
"Pro bono," ulang Sakura. "Memang bakal begitu, ya, karena korbannya orang tidak mampu. Kasihan. Apa, sih, isi kepala orang-orang itu?"
Sasuke diam sambil menyeruput es teh Sakura. "Omong-omong, kata siapa kalau kami yang akan diserahi?" balas Sasuke.
"Polisi. Tadi juga ada Shikamaru-senpai yang langsung ke TKP begitu kukabari."
Mantan ketua Melawan Patriarki itu tetap setia pada prinsip. Bekerja sebagai salah satu advokat di lembaga bantuan hukum adalah jalan hidupnya. Yang tadi Sakura dengar, LBH tempat Shikamaru mengabdi sedikit pesimis bakal mampu melawan para pelaku. Itu mengapa, butuh orang-orang kuat dari firma yang sudah terkenal.
"Sayang, ya, IPK Senpai tidak cukup untuk diterima di firmamu. Padahal, dia sangat pintar," ujar Sakura.
"Mungkin selama kuliah dia agak malas," balas si asisten pengacara.
Sakura mengangguk-angguk setuju. Jika dulu ia kurang giat belajar, mungkin akan sulit baginya diterima di Konoha Shimbun. Ia tak bisa memungkiri bahwa otak yang cemerlang saja tak akan cukup. Nyatanya, di negara mana pun, perusahaan pastilah mempertimbangkan nilai akademis. Itulah sebabnya mereka menyayangkan nasib si Kepala Nanas.
"Jadi, kalian mengobrol?" tanya Sasuke.
"Iya," jawab Sakura.
"Hatake-san berencana untuk mendirikan lembaga perlindungan perempuan. Anak juga. Aku merekomendasikan namamu dan Shikamaru-sepai."
"O, ya? Kapan? Tapi, bukankah sudah ada lembaga-lembaga semacam itu?"
Sasuke menggedik. Ia tidak yakin dengan dugaannya, tapi sikap Kakashi selama ini memang acap kali membuatnya bertanya dalam hati. Apalagi, sejak berkawan akrab dengan pria bermarga Uchiha. Kalau tidak salah, namanya Obito. Yang ia dengar, pria itu ialah mantan polisi. Tanpa alasan yang jelas, ia keluar.
Sakura jadi ikut berpikir. Jika perkara gaji, ia rasa polisi tak kurang-kurang. Berlebih juga tidak. Tergantung pangkat. Agaknya, Obito berpangkat inspektur sebelumnya. Memang janggal, tetapi itu bukan urusan mereka. Yang penting sang mantan polisi benar-benar berniat baik.
"Jadi, mau kaubuat seperti apa berita ini?" tanya Sasuke.
Sakura menggedik. Ia tak yakin. Pasalnya, dunia kerja terkadang memaksanya untuk ikuti arus tanpa memedulikan idealisme. Ketua rekdakturnya bahkan memintanya untuk "berhati-hati" dalam menulis berita. Sekarang pun ia bingung hendak menulis apa. Padahal, ia terkejar waktu.
"Laporkan saja yang kaudapat! Opinimu tidak boleh dimasukkan. Kau tahu kode etiknya," ujar Sasuke.
"Iya, aku tahu. Lagian, daripada dipecat juga."
Sasuke tersenyum geli. Sepertinya, kawan seperjuangannya ini sedang belajar untuk menahan diri. Bersikap taktis lebih banyak dibutuhkan. Sakura bakal menggunakan pikirannya ketimbang emosi, seperti dulu. Bagaimanapun juga, mereka sudah bukan mahasiswa.
XxX
KONOHA, Konoha Shimbu - Polisi telah menetapkan lima pria sebagai tersangka penyanderaan dan pemerkosaan terhadap M (20). Aksi tersebut dilakukan di sebuah rumah kosong milik salah satu pelaku, IM (25), di distrik Rasengan. Pelaku menculik korban pada hari ... .
Mata Tsunade, ketua redaktur, bergerak ajek dari kiri ke kanan. Lalu, senyumnya mengembang. Sakura berdiri di hadapan wanita berambut pirang pucat itu dengan cemas. Ia tak paham maksud senyuman itu lantaran apa pun keadaannya, Tsunade selalu demikian.
"Ini sudah bagus. Kau masih meliput awal kejadian, jadi tidak masalah," ujar Tsunade dengan nada kalem.
Sakura mengembuskan napas pelan-pelan melalui mulut. Lega. Sepertinya, ia tidak bernasib buruk seperti wartawan-wartawan lain yang kerap kena omel sang ketua redaktur. Namun, wanita inilah yang selalu menekan mereka untuk ikut arus. Ironis. Padahal, orang-orang mengatakan bahwa Tsunade punya pikiran kritis.
"Nah, Haruno, punya pertanyaan?" tanya Tsunade.
"Pelaku ... pelakunya ada tujuh. Kenapa cuma lima yang tertangkap?"
Tsunade menatap Sakura. Sang jurnalis junior menelan ludah lantaran atasannya tak juga mengalihkan pandangan. Apa ia baru saja salah berkata-kata?
"Kau yakin menanyakan itu?" tanya sang ketua redaktur.
Sakura melipat bibir. Pertanyaan itu jelas cuma pertanyaan retoris. Harusnya, siapa pun pasti tahu jawabannya. Lima pelaku itu merupakan anak-anak pejabat rendah, jadi yang dua pasti punya dukungan lebih kuat.
"Kabarnya, yang dua itu suka berpesta ... seks," katanya.
Tsunade menjentikkan jari. Bukan rahasia bagi mereka yang ada di kalangan media atau polisi untuk mengetahuinya. Namun, jika polisi tak mendukung pengungkapan kasus ini secara utuh, media yang harus pandai mengarahkan opini masyarakat. Di sinilah tugas Sakura akan dimulai.
Jika bicara adrenalin, tentu Sakura senang mendapatkannya. Masalahnya, apakah ia punya cukup pengalaman untuk ini? Ia tak yakin dengan diri sendiri, sedangkan para seniornya saja tampak bersungut-sungut.
"Jurnalis Haruno," tegur Tsunade. Sakura terkesiap. "Lulusan magna cumlaude-mu itu harus berguna!"
"Beri saya satu pendamping senior!" balas Sakura.
Tsunade tersenyum sebelum memanggil seseorang. Pria berusia 29 tahun itu pun masuk. Namikaze Naruto. Sang jurnalis senior kemudian duduk di sebelah Sakura. Bau pomade yang bikin rambut pirang itu mencuat-cuat dengan kerennya menusuk hidung si wartawan junior.
"Sebenarnya, kita bekerjasama dengan ... salah satu intel, jadi tidak usah khawatir," kata Tsunade.
Mata Sakura melebar. Kalau demikian, ia yakin kasus ini akan makan banyak waktu dan energi. Sayang, Tsunade seakan tidak bersedia memberitahu siapa intel yang ia maksud. Tugas mereka hanyalah mencari bukti dan menyerahkannya pada Tsunade, lalu wanita itu akan meneruskannya pada si intel. Rumit.
"Kami akan mewawancarai keluarga lima pelaku sambil melakukan tugas itu," kata Sakura.
"Bagus. Kau sudah tahu apa yang harus kalian lakukan. Nah, tunggu apa lagi?"
Sakura dan Naruto mengangguk sebelum keluar. Mereka berjalan. Sama-sama asyik berpikir.
"Senpai yakin, ini tugas jurnalis?" tanya Sakura.
"Ya, kadang, kita memang punya tugas seperti ini saat ada kasus yang janggal."
"Investigasi. Penelusurannya panjang, ya, pastinya."
"Tenang saja! Kau tidak sendirian, 'kan?"
"Mohon bimbingannya!"
XxX
Sasuke berkutat dengan berkas kasus pemerkosaan terhadap pria. Sungguh, ia dibuat tercenung. Sebenarnya, bukan tak mungkin itu terjadi. Untuk mengatakan bahwa wanita mustahil memerkosa ialah penyataan dangkal. Ini bentuk lain seksis terhadap kaum adam. Hanya, jumlahnya tak sebanyak pemerkosa wanita.
Ia lantas membuka tautan Mahkamah Agung untuk mencari contoh putusan dengan kasus-kasus serupa. Jika ada, maka untuk menuntut pelaku dengan pasal-pasal akan lebih mudah. Rupanya, hanya terdapat empat kasus. Itu yang ketahuan. Mungkin di luar sana, cukup banyak laki-laki yang mengalaminya, tapi tak berani bersuara atau, lucunya, gengsi. Seperti klien Kakashi yang satu ini.
Jugo namanya. Usianya sudah 32 tahun dan pelakunya sepuluh tahun lebih tua. Ia merasa gengsi kalau mengatakan dirinya dilecehkan. Hingga akhirnya, ia tertekan sendiri, lalu mendatangi Kakashi.
"Apa yang sedang kaukerjakan?" tanya Karin, rekannya.
"Meneliti preseden," jawab Sasuke dengan nada dingin.
Entah sejak kapan ia bersikap seperti ini terhadap wanita. Mungkin sejak kejadian setelah demo cokelat valentine bertahun-tahun lalu. Sakura menjulukinya Tukang Gantung dan ia tak nyaman. Padahal, ia tak mempermasalahkannya sebelum itu. Hanya, melihat sahabatnya yang sedang makan cokelat pemberian gadis-gadis di kampusnya, timbul rasa mengganjal saja dalam hatinya.
"Besok, kan, Sabtu. Kita ke kafe, yuk!" ajak Karin.
Sasuke mendesah. Bukan ia tak pernah menyadari maksud perilaku gadis ini, tapi ia memang tak tertarik. Keanehan serupa pun terjadi sebelumnya. Ia yang mencoba pendekatan dengan gadis, tiba-tiba pergi tanpa alasan. Benar, ia tukang gantung. Ia mendapatkan omelan lagi dari Sakura.
"Aku sudah ada janji," jawabnya.
"Pacar, ya?"
"Hm."
Ambigu. Namun, ini lebih baik ketimbang memberikan alasan macam-macam demi menolak. Karin kecewa dan Sasuke tidak peduli.
"Sasuke, datang ke ruanganku!" perintah Kakashi yang sedang lewat bersama pria dengan wajah kiri rusak itu. Obito.
Sang asisten pengacara segera ke sana. Kini, ketiganya duduk di sofa. Obito sama sekali tidak menatapnya, seakan sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Jadi, minggu depan kita akan bertemu untuk membahas rencana kami. Apa kau bisa mengundang dua temanmu?" tanya Kakashi.
"Bisa, Hatake-san. Saya sudah kasih tahu mereka soal rencana itu dan mereka mau diajak," jawab Sasuke.
"Kedua," lanjut sang pengacara sebelum melirik Obito, "dia intel."
"Ya?"
Informasi awal yang Kakashi sampaikan rupanya palsu. Tak hanya itu masalahnya. Untuk apa intelijen ke sini? Sasuke yakin, tak ada kegiatan yang patut dicurigai.
"Maaf, tapi aku punya misi khusus," kata Obito. "Aku bekerjasama dengan Konoha Shimbun, tepatnya Senju Tsunade untuk mencari informasi tentang Suigetsu dan Sasori. Mereka dua pelaku pemerkosaan yang tidak diekspos. Aku yakin, kau pasti tahu kenapa."
Sasuke menutupi mulut dengan tangan yang dikepalkan. Artinya, Obito pasti akan berhubungan dengan Sakura. Pertanyaan kedua, untuk apa intel ini bergabung dengan lembaga perlindungan perempuan yang akan didirikan Kakashi?
"Hatake-san, salah satu temanku jurnalis yang akan menginvestigasi dua orang itu. Apa mereka saling... ."
"Tidak, Sasuke. Cuma Senju yang tahu perihal identitas Obito," potong Kakashi.
Kemudian, sang pengacara berjalan ke lemari penyimapan berkas. Ia menaruh sebuah map besar di meja. Ternyata, itu adalah berkas kasus pertama yang akan ditangani lembaga mereka. Sasuke tak mengerti, mengapa tidak dikerjakan atas nama firma.
"Jujur, firma ini bakal gulung tikar jika kita terus menerima pro bono. Beda hal ketika dikerjakan atas nama lembaga. Lembaga punya suntikan dana," jelas Kakashi.
Rupanya, pikir Sasuke. Ia tak begitu saja menyalahkan bosnya. Bagaimanapun, ia perlu berpikir realistis. Perusahaan atau firma hukum tetaplah butuh uang. Kalau tidak begitu, para pekerja tak akan dapat gaji, bukan?
Setahun lepas dari universitas ternyata belum bisa mengenyahkan rasa tergelitik manakala mengetahui hal-hal semacam ini. Mungkin Sakura sama. Itu sebabnya gadis itu resah ketika hendak membuat berita. Bentrokan antara realitas dengan mimpi memang cukup keras. Ia dan sang teman masih 23 tahun. Bagi orang-orang seusia Kakashi, mereka masih bau kencur atau anak kemarin sore.
Ia lantas membuka map itu. Sebuah foto empat kali enam melekat di ujung kanan atas kertas. Tenten, 24 tahun. Mahasiswa kedokteran yang hendak co-ass. Identitas wanita ini sekilas tak ada masalah, tetapi setelah diperhatikan riwayatnya, Sasuke mengerti. Tenten mengalami kekerasan dalam pacaran. Hubungan beracun.
"Jadi, orang tuanya tidak cukup mampu?" tanya Sasuke.
"Benar. Dia mendapatkan beasiswa. Kau tahu, otak pintar belum tentu pintar saat menjalani hubungan," jawab Kakashi.
Obito melirik ke berkas di tangan Sasuke. Sang asisten lantas memberikannya pada intelijen itu, tetapi ditolak. Katanya, ia tak memerlukannya. Sasuke kesal. Apa, sih, masalah orang ini?
"Jadi, Rabu depan kita berkumpul dengan dua teman Anda, 'kan?" tanya Obito.
"Ya," jawab Sasuke.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi. Sampai jumpa."
Setelah pria itu menghilang di balik pintu, Kakashi meringis tak enak hati. Ia sangat sadar, asistennya merasa tersinggung. Ia pun menjelaskan keadaan Obito.
Kekasih Obito adalah seorang guru yang meninggal dua tahun silam. Kematiannya tak wajar, sebab ia tewas di jurang setelah bertemu dengan atasan sang intel. Obito yang seorang polisi bahkan tidak sanggup mengungkapkan alasan sebenarnya, lalu timbullah keinginan untuk menggempur kasus-kasus yang menimpa perempuan melalui lembaga ini. Tentunya, ia akan jadi orang di balik layar.
Perangainya berubah sejak saat itu. Maka, Kakashi meminta Sasuke untuk mencoba memaklumi Obito. Bukan berarti intel itu tak menghargai Sasuke.
"Secinta itu, ya?" gumam sang asisten.
Kakashi tertawa. "Seperti kau tidak pernah jatuh cinta saja."
Sasuke tersenyum masam. Jatuh cinta? Tentu pernah. Waktu ia SMP, ia suka pada adik kelasnya dan mereka pacaran. Putus saat masih sayang-sayangnya. Pahit juga.
"O, ya, apa korban ini juga akan datang?" tanyanya.
"Iya. Makanya, lebih cepat lebih baik."
XxX
Keluar dari bank dengan muka lesu sudah bukan hal baru bagi Sakura. Utang yang ia gunakan untuk membiayai kuliahnya dulu harus dilunasi tiap bulan dengan gajinya. Orang tuanya tak tutup mata. Mereka pun membayar setengahnya. Namun, rasanya pemasukan yang ia terima seperti hanya numpang lewat.
Sasuke menatapnya dengan prihatin. Tak jarang ia berniat membantu, tetapi teman karibnya itu pasti menolak. Gengsi Sakura besar. Ia sampai tak tahu lagi bagaimana ia dapat menolong sang sahabat. Disuruh pindah ke rumahnya saja tidak mau.
"Lama-lama, saldoku mirip IPK-ku," gerutu Sakura.
Sasuke mendengkus. "Ya, sudah, terima saja uangku! Repot sekali, sih!"
"Sama saja, 'kan? Aku tetap harus bayar utang padamu."
"Yang minta kau bayar siapa?"
"Idih, nanti kalau kau punya pacar, dia bisa memusuhiku begitu tahu."
"Aku tidak akan pacaran sebelum lunas."
Sakura terkekeh. Segila-gilanya seorang teman baik, mana ada yang begini! Utang itu serasa seumur hidup untuk bisa lunas. Ia tidak mungkin menyuruh Sasuke untuk membujang sampai tua.
"Sepertinya aku harus dapat suami kaya supaya bisa melunasinya," gurau Sakura.
"Apa, sih?!"
Sang jurnalis junior mengangkat alis. Ia belum pernah melihat Sasuke sesewot ini. Belakangan, tiap kali ia bercanda tentang hal yang sama, pemuda ini pasti merajuk. Benar-benar aneh.
"Makanya, jangan utangi aku!" katanya.
Sasuke pun berdecak sebal, lalu berjalan mendahului Sakura. Gadis itu berlari kecil sambil memanggil nama Sasuke. Mereka pun sampai di tempat parkir bank. Sasuke langsung menyalakan motornya. Sakura naik.
Seperti biasa, tiap Sabtu mereka ke kafe langganan. Cuma minum kopi. Sekadar menghabiskan waktu sebagai sesama manusia lajang sambil menikmati musik. Kadang, mereka sampai lupa pentingnya punya pacar, atau sebenarnya memang selalu begitu. Dari dulu, sejak keduanya mengenal di kampus.
Sakura memutar video-video lucu di akun media sosialnya. Tak perlu suara lantaran aksinya saja sudah menarik.
"Lihat ini! Lagi musim, sepertinya," ujarnya.
Sasuke menonton video tutorial makeup karakter itu. "Kau ingin berdandan?"
"Ih, bukan! Maksudku, bagaimana mereka sekreatif ini, ya?"
"Belajar, lah."
"Kau tidak asyik!"
Bercanda, adu mulut, sampai saling ledek sudah biasa terjadi dalam persahabatan mereka. Mereka bahkan tak menghitung, berapa tahun mereka sedekat ini. Namun, rasanya tak ada yang berubah. Sakura tak pernah malu memperlihatkan sisi buruk atau konyolnya di depan pemuda ini.
"O, ya, soal besok Rabu, kau mau dijemput atau berangkat sendiri?" tanya Sasuke.
"Aku dengan Shikamaru-senpai. Kantor kami, kan, dekat," jawab Sakura.
"Oh."
Kopi mereka pun diantarkan oleh seorang pramusaji. Kalau Sasuke suka kopi hitam tanpa gula, Sakura suka kopi dengan krim melimpah yang manis.
"Mau coba?" tawar Sakura.
"Terima kasih."
Gadis itu tertawa lepas. "Nanti hidupmu pahit, lho! Seperti, jomblo seumur hidup."
"Biar saja. Kan, kau juga sama."
"Hei, jangan menghina! Begini-begini, aku ditaksir senior-seniorku."
Sasuke berdecih. Temannya ini memang berwajah lumayan. Dulu, terlihat kusam. Sekarang, Sakura mulai terbuka terhadap zaman. Zaman di mana para perempuan mengenal perawatan tubuh dan wajah. Ia senang akhirnya Sakura tidak menolaknya atas dasar kedengkian seperti dulu. Kalau saat ini banyak yang suka, Sasuke tidak heran. Ia ... .
"Oh, bagaimana dengan kasus ... siapa itu namanya? Tenten?" tanya Sakura.
"Iya. Kenapa?"
"Hubungan toxic-nya sudah lama? Kenapa baru dilaporkan?"
"Karena sudah ada tindak kekerasan."
Sakura terdiam. "Pacaran itu ... kadang bisa jadi mengerikan, ya. Sepertinya lebih baik sendiri saja."
Sasuke tersenyum masam. Mungkin, hal ini memang sudah wajar mengusik kaum hawa. Tetapi, apakah menutup hari untuk selamanya adalah solusi? Entah mengapa pilihan itu terdengar mengganggu.
o
o
o
o
o
Bersambung.
Catatan Penulis
Hai, hai! Saya kembali lagi dengan cerita baru! Seperti yang saya tulis di summary, ini adalah lanjutan plus versi panjangnya Revolusi Cokelat. Kalau mau tahu isinya, sebaiknya kalian baca oneshot saya itu. Terima kasih.
