Disclaimer
Rainbow Bridge (c) Ros and Fox
Warning
Contains animal abuse
Lulu.
Itu adalah namaku. Aku seekor hamster. Saat ini, aku tinggal bersama tuanku. Aku sebenarnya kurang bahagia karena kandangku kecil, alasnya sedikit, dan makananku tidak bervariasi. Sehingga, aku tidak bisa berlari dengan bebas, menggali semauku, dan merasa bosan dengan makananku. Namun, paling tidak hidupku jauh lebih baik ketimbang di tempatku lahir. Aku hidup bertumpukan dengan saudaraku, tempat tinggalku bau pesing, dan aku hanya makan wortel dan jagung.
Walaupun aku tidak bahagia dengan kehidupanku yang sekarang, aku harus bersyukur karena tuanku mau menghidupiku.
Rabu, 18 Agustus 2021
Perutku sakit sekali. Kotoranku banyak yang cair, tetapi tuanku kelihatannya tidak menyadarinya. Aku hanya bisa tertidur untuk menahan rasa sakit.
Ckrek.
Aku mendengar suara kandangku dibuka. Tak lama, aku melihat tangan besar yang mencengkram tubuhku. Itu adalah tangan tuanku. Aku pun diangkat dan ditaruh di hadapan makhluk besar nan mengerikan yang disebut 'kucing'.
Tepok.
Kucing itu pun menepuk cakarnya ke tubuhku.
"Ciiitt ... ciiiiiittt ... ciiiiiittt ..." aku mengeluarkan suara karena ketakukan.
Aku dapat melihat kalau tuanku sedang tertawa melihat kelakuan kucingnya dan juga diriku.
Entah berapa lama tuanku membiarkan si kucing bermain denganku, tuanku memutuskan untuk mengembalikanku ke kandangku.
Tak seperti biasa, tuanku mengangkat kandangku dan membawaku ke suatu tempat. Bau tempat ini lain, sama sekali tidak sama dengan bau rumah tuanku. Dengan mataku yang tidak bisa melihat dengan jelas, aku melihat tuanku berbincang dengan seseorang. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Kemudian, tuanku pun pergi. Apa tuanku akan membuangku?
Tak lama setelah tuanku pergi. Sosok manusia yang lain mendekati kandangku.
"Hai, kamu Lulu ya?" katanya dengan lembut.
Aku yang ketakutan hanya memojokkan diriku.
"Astaga, kamu kenapa?" tanyanya panik.
Ckrek. Dia pun membuka kandangku dengan perlahan dan memasukkan tangannya ke dalam kandangku.
"Ciiittt ..." aku yang ketakutan pun menggigit tangannya.
"Awww ..." ringisnya sambil menarik tangannya
"Gapapa, kok. Aku cuma mau lihat keadaan kamu."
Dia pun kembali mengulurkan tangannya dan mengangkat tubuhku dengan lembut. Lalu dia membalikkan tubuhku.
"Astaga, kamu sakit ya, Lu? Kamu udah berapa lama mencret?"
"Kita nanti ke dokter, ya?"
Ah, dokter. Aku beberapa kali mendengar kata itu. Katanya dokter itu yang mengobati manusia kalau sakit ya? Memangnya ada dokter yang mau mengobati hewan rendahan sepertiku?
Manusia itu kembali menaruhku ke dalam kandangku. Kemudian, aku melihat dia mengambil benda lonjong yang manusia sebut dengan "handphone". Terlihat manusia iti bermain dengan handphone-nya. Tak lama kemudian, dia pun meletakkan handphone-nya dan mendekati kandangku. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Lulu, maaf ya, aku ga bisa bawa kamu ke dokter hari ini. Kalau ada kesempatan, aku pasti akan bawa kamu ke dokter."
Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan radlsa sakit ini.
Saat sedang tertidur, aku terbangun karena mendengar suara manusia yang keras. Ternyata, itu adalah suara tuanku. Aku dapat melihat tuanku sedang berdebat dengan manusia yang tadi bersamaku. Aku tidak tahu apa yang mereka perdebatkan, yang penting tuanku di sini.
Setelah selesai berdebat, tuanku langsung menyambar kandangku dan pergi. Tubuhku sedikit terguncang, tetapi tak apa.
Setelah melakukan perjalanan, tuanku pun menghentikan motornya. Namun, kamu bukan di rumah, baunya beda sekali dengan rumah.
Ckrek. Tuanku membuka pintu kandangku dan mengangkat tubuhku. Kali ini, dia mengangkat dengan lembut. Dia pun menaruhku di luar.
Rasanya luas sekali. Apa tuanku sedang mengajakku bermain?
Aku pun sedikit berjalan. Sudah lama sekali aku tidak bebas seperti ini.
Aku kemudian membalikkan badanku untuk melihat tuanku. Namun, aku sudah tidak bisa melihatnya dan baunya memudar. Aku pun mencari tuanku.
Tuan, tuan, kau di mana? Tolong jangan tinggalkan aku.
Aku berjanji tidak akan menggigit lagi.
Panas. Tubuhku lemas. Aku haus.
Dengan terlunta-lunta, aku mendekati semak-semak untuk berteduh.
Panas sekali, aku sudah tidak bisa bergerak.
Ku sudah tidak dapat berdiri lagi. Aku lemas.
Saat aku sedang berbaring, aku melihat sesosok cahaya.
'Mantra? Apakah itu kau?' tanyaku.
'Hai, Lulu,' sapanya, 'iya, ini aku.'
'Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir kita bertemu itu adalah saat kau menjemput saudaraku, kan?'
'Iya, itu betul.'
'Apa sekarang sudah waktunya bagiku?' tanyaku lagi.
'Belum, sedikit lagi,' jawabnya.
'Kenapa? Kenapa aku tidak pergi saja sekarang? Aku sudah capek menderita.'
'Lulu, aku punya alasan untuk tidak menjem ...'
"LULUUUUU!!" kata-kata Mantra pun terpotong oleh suara teriakan manusia, manusia yang bersamaku sebentar.
"Luluuu!! Kamu ada di mana!!!??" Aku kembali mendengar teriakannya.
Secara samar-samar, aku melihat sepasang kaki yang mendekat.
Srek.
"Astaga!? Lulu!?"
Manusia itu kaget melihat keadaanku. Tanpa pikir panjang dia langsung mengangkat tubuhku dan mendekapnya. Aku dapat merasakan dia membawa sebuah motor dan pergi ke rumahnya.
Saat sampai di rumahnya, aku dapat merasakan hawa dingin yang menghembus tubuhku.
"Lulu, kamu yang kuat ya. Kita 'kan mau ke dokter. Aku udah janji sama Lulu," katanya sambil menyuapi air ke mulutku.
Aku yang sudah tidak bertenaga tidak bisa menelan air yang manusia itu suapi ke aku.
Aku sebenarnya ingin sekali tetap bisa bertahan karena masih ada manusia yang peduli denganku. Tetapi, Mantra sudah menungguku. Sehingga, aku memutuskan untuk ikut Mantra saja. Sebelum aku benar-benar ikut Mantra, aku mencoba untuk menatap mata manusia itu.
Kemudian, aku pun menghembuskan nafas terakhirku.
"Lulu?"
"Lulu, kamu jangan pergi dulu dong? Ini aku ada makanan enak buat kamu," kata manusia itu sambil menahan air matanya dan mengguncang tubuhku.
"Lulu ..." air matanya pun sudah tidak dapat terbendung karena aku sudah tidak merespon lagi.
'Jadi, Mantra. Tadi kau mau bilang apa?' tanyaku kepada Mantra.
'Alasanku untuk tidak segera menjemputmu adalah supaya kau bisa merasakan kasih sayang, walaupun hanya sebentar, Lulu,' jawabnya, 'hampir semua hewan kecil yang aku jemput tidak pernah merasakan kasih sayang. Jadi, aku mau memberikan kesempatan kepadamu agar bisa merasakan kasih sayang.'
Terlihat manusia itu mengambil sebuah lembaran berwarna putih dan menaruh tubuhku di atas benda itu.
'Mantra, apa aku boleh tinggal sebentar lagi?'
'Tentu, tapi jangan lama-lama ya.'
Kemudia manusia itu pergi ke sebuah lemari yang berada di dekat kandang hamsternya. Ah, aku sebenarnya iri dengan kehidupan hamsternya karena kandangnya luas dan bedding-nya pun juga tinggi.
Manusia itu mengambil beberapa toples. Dia pun membuka toples-toples itu dan menaburkan isinya ke sekitar tubuhku. Aku dapat melihat manusia itu menaruh seedmix yang banyak sekali variasinya, bunga dan herba kering, sayuran dan buah-buahan kering, dan biskuit. Semua itu terlihat lezat dan sayangnya aku tidak pernah memakan itu seumur hidupku.
Manusia itu pun membungkus tubuhku dan membawanya ke taman miliknya. Dia pun menggali sebuah lubang kecil dan menaruh bungkusan tubuhku ke dalamnya. Kemudian, dia pun menguburkannya. Lalu, manusia itu menutup matanya. Tak lama, dia membuka matanya.
"Lulu, kamu yang tenang ya di sana. Aku sayang kok sama Lulu, walaupun cuma sebentar aja kita bareng," katanya.
Aku ingin sekali berubah jadi wujud manusia dan memeluk manusia itu, tetapi energiku tidak cukup.
'Bagaimana, Lu? Sudah siap?' tanya Mantra.
'Iya, Mantra. Aku sudah siap sekarang,' jawabku dengan mantap.
Mantra pun mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menaiki tangan Mantra. Lalu, kami berdua terbang ke arah Rainbow Bridge.
