Fajrikyoya, proudly present:
BAYANGAN REMBULAN
Pair: Osamu x fem!Akaashi, Sakusa x Atsumu.
Disclaimer: Haikyuu! and all characters belongs to furudate-sensei. This fanfiction is purely made for self-indulged and personal amusement.
Warning: AU. Genderswap. OOC. Tidak memenuhi Kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Mengandung banyak istilah yang bisa jadi disalah-artikan secara tidak sengaja. Menggunakan banyak istilah yang dibuat sendiri oleh author demi kelancaran cerita. NSFW: [Violence and commited crime. Blood. Murdering and torturing scene might appear. Alcohol, drugs and cigarettes consumption. Nudity. Sexual scenes. Sexual assault. Character death.] Akan banyak menyadur nama tempat dan wilayah dari kehidupan nyata. Dapat menyebabkan triggered, discomfort, baper, kesel, bete, giting berkepanjangan dan ketagihan kronis. Warningnya udah seabrek-abrek mohon dipertimbangkan kembali. Membaca lebih lanjut diluar tanggung jawab author.
Udah siap? Yuk mulai.
Miya Atsumu baru saja di dorong dengan kasar masuk ke sebuah sel tahanan oleh dua orang penjaga. Pintu besi dibanding tepat di depan hidungnya, menciptakan gaung menyakitkan di dalam tengkoraknya. Pemuda pirang itu terdiam sejenak sebelum berbalik, menatap dua orang laki-laki yang bakal menjadi rekan satu selnya. Baju tahanan memiliki bahan jelek dan tidak ada ukuran yang tepat untuk tubuhnya. Atasannya menjuntai seperti daster. Kedua laki-laki itu semula acuh, lalu berdiri dan berjalan mendekati Atsumu yang sibuk melipat lengan baju dan ujung celananya agar lebih nyaman.
"Wah, wah. Lihat siapa teman baru kita, Kazu-kun." Pria pertama—botak, gendut dan gigi depannya tanggal. "Mabuyucchi pasti suka main-main dengan ikemen baru kita, naa?"
Yang diajak bicara yakni laki-laki ceking berpipi kempot yang dipanggil Kazu cuma menoleh. "Aku Kazuma Eiji dan dia Arashi Genji."
"Yoroshiku." Atsumu mengangguk kaku, menarik senyum kecil. "Aku boleh dapat kasur atas di sana, kan?"
Keduanya mengangguk pelan. Sel itu tampaknya didesain untuk 4 orang karena ada satu lagi ranjang tingkat kosong. Arashi menampar pelan kepala Atsumu dan menggedikkan kepalanya mendekati Kazu yang sedang duduk meringkuk di kasur bawah.
"Apa yang membuat bocah sepertimu masuk kesini, ah?" Arashi mendengus. "Copet? Atau kau menghajar cowok yang sudah mencolek pantat pacarmu?"
"Konyol, pokoknya. Kalian pasti tertawa." Atsumu menyeringai. "Aku ikut balapan di sekitar Kobe Port Tower. Menyedot gunpowder di ceruk payudara seorang lonte yang kulitnya semulus lobak. Tiga kali lap, lalu tiba-tiba polisi datang."
Arashi dan Kazu tertawa terbahak-bahak. Atsumu lagi mendapat tamparan di kepalanya. Sungguh, kena ringkus saat balap liar benar-benar catatan kriminal yang menyebalkan. Ditambah kedapatan mengkonsumsi gunpowder—kokkain kualitas menengah kebawah yang harganya lumayan terjangkau bagi kalangan pembalap liar pemula usia tanggung. Atsumu cuma mau senang-senang, melepas penat setelah kabur dari rumah akibat bertengkar dengan ayahnya yang kolot dan keras kepala.
"Tampaknya aku mulai suka padamu, bocah!" Arashi tersengal-sengal meredakan tawanya.
"Kau sendiri? Kuharap lebih bodoh supaya aku bisa balas menertawaimu." Atsumu bersandar nyaman, mengendurkan kewaspadaannya. Penjara tidak seburuk yang ada dalam khayalannya beberapa jam yang lalu ternyata.
"Tidak. Kasusku serius, ikemen-kun." Arashi menghela nafas. "Aku merampok 180 toko perhiasan di Shinjuku. Kebiasaan burukku minum sebelum kerja membuatku mengacau."
"Gerombolanmu tidak berbuat apa-apa?"
"Mereka menawariku pilihan—membusuk di penjara, atau ditebus lalu ditebas." Arashi tertawa kikuk. "Begini lebih baik, kan?"
"Kalau kau, Kazu-kun?"
"Penipuan online. Meretas email orang dan bermain dengan akun online shopping." jawab Kazuma kalem. "Ini sudah tahun keduaku."
"Dari berapa tahun?"
"Enam."
Atsumu lalu menoleh. "Kalau Arashi-kun?"
"Bulan kelima." Arashi menjawab. "Mendengar kasusmu, mungkin kau cuma akan bersama kami selama tiga atau enam bulan. Paling lama satu tahun. Mereka menangkapmu memiliki gunpowder?"
Atsumu menggeleng. "Aku cuma punya sebungkus kemasan 50 gr. Sisanya masih ada di kutangnya lonte yang kutinggal tadi."
"Aku tidak tahu apakah aku harus mengataimu bodoh atau pintar." Kazu terkekeh. "Apa kau pintar komputer? Ada beberapa pekerjaan yang bisa kita lakukan di sini. Di perpustakaan atau membuat beberapa program. Kalau kau tipe yang suka udara luar, Arashi dan beberapa temannya membuat kebun yang hasilnya bisa membuat kita semua tetap hidup dengan makanan penjara."
"Oh, kupikir semua narapidana cuma bersih-bersih dan memasak di dapur umum saja. Kerja pertukangan, mungkin?" Atsumu tertawa. "Kehidupan penjara terdengar menyenangkan."
"Tidak, anak bau kencur. Kau harus bersyukur karena kau hidup dengan kami, penjahat recehan." Arashi berbisik. "Kalau kau bersinggungan dengan napi lain, kami tidak kenal padamu. Jangan meraung minta tolong dengan menyebut nama kami."
"Hei, jahat. Cuma karena aku tampan bukan berarti aku ini tidak bisa berkelahi." Atsumu membalas dengan nada tersinggung.
"Ganbare. Kalau ada yang mengganggumu, abaikan atau pukul saja. Hidup di penjara memang sepi, tapi mudah." Kazu menyelinap ke dalam selimutnya dan berbaring. "Selamat datang, anak bau kencur. Aku mau tidur."
Atsumu memanjat naik kasur barunya dan berbaring. Hari ini ia lelah dan penat, namun ranjang keras berlapis selimut tipis ini setidaknya membuatnya sedikit lupa dengan kejadian tempo hari.
Ya, tempo hari sebelum ia memutuskan kabur dari rumah dan menghamburkan sisa uang tunainya untuk bermain-main di arena balap liar.
Riseki keparat, begitu rutuk Atsumu dalam hati. Luka di bagian dalam lengan kanan dan sisi pinggangnya masih separuh kering. Pemuda pirang bermodel undercut itu terus menyumpah dan mengumpat si keparat yang sudah membuatnya bertengkar dengan ayahnya tersebut. Skenarionya berantakan. Kasusnya menyeruak lebih cepat dari yang sudah dirancang. Kalau beruntung, mungkin Riseki juga akan masuk penjara. Atsumu pasti akan mendekam sampai ayahnya tidak lagi merajuk. Kalau sedang sial, mungkin Atsumu akan melihat kepala Riseki menggelinding di ruang tengah, putus lepas dari lehernya dan setelah ini Atsumu akan menjadi fakir miskin dan freelancer cuma-cuma dalam skenario selanjutnya demi memperbaiki kesalahan sebelumnya.
Mungkin akan lebih enak hidup jadi Samu. Batin Atsumu melalang buana. Lalu seketika, ia menggeleng keras-keras. Sebelah mana hidup enak cuma makan sayuran, berkebun, membersihkan kuil, berdoa dan bersenda gurau bersama kumpulan pria botak yang rabun teknologi? Mana bisa seorang Miya Atsumu hidup tanpa gelimang harta, hura-hura, daging mati untuk dimakan dan daging hidup untuk diraba?
Berpikir keras tidak akan membuatnya lolos dari penjara di keesokan harinya, kan? Maka dari itu, Atsumu memejamkan matanya dan berbaring miring. Memilih untuk setidaknya bisa tidur dengan damai malam ini.
Kita Shinsuke duduk bersandar menopang dagu menatap kliennya—laki-laki paruh baya yang badannya ringkih, berkacamata tebal. Laki-laki itu katanya adalah seorang CEO Sendai Entertainment, agensi selebritis yang cukup pamor di Jepang. Namanya Takeda Ittetsu. Setelah memperkenalkan diri, Kita menyuruh sekretarisnya, Suna Rintaro, untuk menyuguhkan segelas kopi dan penganan ringan.
"Lantas, ada perlu apa Takeda-san dengan Inarizaki?"
Dua detik kemudian, Takeda berlutut.
"Enma-ousama, tolonglah kami! Salah seorang modelku tersangkut kasus perselingkuhan dengan seorang pejabat negara!"
Manik ambar bulat Kita melirik Suna, seakan minta penjelasan. Bukan perangai Kita untuk nonton televisi dan mengikuti berita kehidupan selebritis. Sepenting apa masalah ini hingga sang CEO memberanikan diri bersujud di depan pria yang dijuluki Raja Neraka dari Kobe?
"Michimiya Yui, salah satu model di agensinya Takeda-san diberitakan menjadi simpanannya Ikejiri Hayato, menteri pariwisata." jelas Suna singkat.
"Reputasi kami jatuh. Media mengecap kami melakukan prostitusi selebritis dengan kedok agensi model! Ikejiri-san mengancam akan menghancurkan perusahaan kami kalau media tidak menurunkan berita tersebut!" Takeda terus memohon belas kasihan. "Kalau ditanya seantero Kobe—tidak, di seluruh penjuru Jepang, Inarizaki adalah salah satu nama yang membuat semua orang bungkam. Sudikah Anda meminjamkan kekuatan Anda?"
Kita tidak menjawab. Ia menatap Takeda dengan pandangan menyelidik yang dingin dan angkuh. Kita Shinsuke sekilas tidak terlihat menyeramkan. Ia ramping dan tampan, garis wajahnya halus meski minim ekspresi. Ia mengenakkan hakama dengan haori merah marun bermotif phoenix yang disulam dengan benang emas, tersampir anggun seperti jubah. Ia bahkan tidak berganti pose sejak pertanyaan pertamanya kepada Takeda. Laki-laki itu diam mematung, seperti boneka manekin berkekuatan ghaib. Ada ketakutan yang perlahan merayapi syaraf-syaraf Takeda, membuatnya gelisah, membuatnya tidak yakin masihkah ia punya alasan untuk hidup setelah bertatap muka dengan Kita Shinsuke.
"Begini ya, Takeda-san." Suna kembali angkat bicara. "Harusnya Anda tahu, bahwa menurunkan berita yang sudah valid sumbernya adalah perbuatan memalukan. Tanda bahwa Anda menelan harga diri Anda dan secara tidak langsung, mengakui bahwa skandal tersebut benar adanya."
"Berapa?!" desak Takeda. "Berapa yang Anda minta, Enma-ousama?!"
Kita mengendurkan pundaknya, lalu bersandar. Ia menengadah, menerawang, mengerucutkan bibirnya sejenak sebelum melambai lembut pada Suna agar pria tersebut menghampirinya.
"Gin sukanya yang seperti apa?" tanya Kita.
"Rambut panjang. Kulit putih. Dadanya kecil." balas Suna gamblang.
"Riseki?"
"Bocah brengsek itu tidak punya tipe."
"Omimi-kun?"
"Ikal, bermata besar, toned tapi montok."
"Kau mau juga, Rin?"
Suna terkekeh canggung. "Tidak ada yang menarik untukku."
Kita mengangguk pelan. Ia mengusap keyboard di laptopnya dan mengetik sesuatu. Takeda dibuat tegang dengan bunyi ketikan cepat Kita, namun Suna menenangkannya dengan cara menyuarakan sugesti untuk menikmati kopi yang disuguhkan kepadanya. Begitu suara printer terdengar, Suna melenggang santai ke pojok ruangan dan mengambil apa yang baru saja dicetak bosnya. Disuguhkannya selembar kontrak dan sebuah pena kepada Takeda. Laki-laki berkacamata itu membaca kontrak yang diajukan Kita dengan seksama sebelum sebaris angka membuat jantungnya nyaris lompat keluar dari mulut.
"Li... li... li... li... lima ratus juta Yen?!" pekiknya panik.
"Per exposure." Kita tersenyum kecil.
"Enma-ousama... " Takeda mulai terisak.
"Takeda-san... " Kita mencondongkan badannya, lalu menganyam jari dan meletakkan kedua kepalannya di atas meja. "Menutupi aib perusahaan raksasa itu tidak gampang, lho. Kami cuma mematok harga per exposure, dimana 1 berita skandal di media akan di take down sampai tuntas hingga tidak akan ada orang yang sempat mendengarnya. Tetapi, semua itu kembali lagi pada Anda. Apakah Anda bisa mendidik ayam-ayam peliharaan Anda agar mengerti tata krama dalam berbisnis? Kalau iya, tidak akan ada lagi taken-down exposure expense selanjutnya, kan?"
Tangan Takeda gemetar ketika menerima pena yang disodorkan Suna. Senyum Kita merekah licik, terlihat seperti seekor rubah kelaparan. Guratan pena membentuk tanda-tangan, dan Suna mengambil dokumen tersebut lalu meletakkannya pada selembar map plastik yang sudah diberi tanda.
"Arigatou, Enma-ousama..." Takeda mencicit malu. Ia sekali lagi merundukkan kepalanya kepada Kita Shinsuke.
"Kochira koso." Kita kembali bersandar santai di kursinya. "Aran, tolong antar Takeda-san ke gerbang depan."
Laki-laki yang dipanggil Aran adalah orang yang sejak awal berdiri di dekat printer tanpa berbuat apa-apa. Ia mengangguk singkat dan mengantar Takeda yang lunglai untuk pergi dari kediaman keluarga Kita. Kita meraih gelasnya dan meniup-niup minumannya dengan lembut sebelum mencicipi.
"Matcha buatanmu beda hari ini, Rin." gumam Kita.
"Merk bubuk tehnya ganti." Suna menjawab singkat. "Oyakata-sama, boleh aku tanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Tidakkah harga tersebut sangat remeh untuk sekedar membungkam pemberitaan? Sendai Entertainment itu perusahaan yang sangat besar. Jumlah segitu kurasa tidak lebih dari seujung kuku untuk mereka."
Kita tersenyum. "Memang apa efeknya melakukan satu kali take down exposure? Manusia tidak semudah itu dibuat tutup mulut, lho."
Suna tertawa. "Anda memeras mereka perlahan-lahan, ya?"
"Kalau memang skandal itu cuma pengalihan isu pemerintahan atau sekedar rencana bisnis entertainment, mana mungkin Takeda-san mau menemui Inarizaki?" gumam Aran yang baru kembali, tak sengaja mendengar pembicaraan Kita dan Suna. "Maafkan aku, Shin. Wajah sok galakmu membuatku beberapa kali hampir kelepasan tertawa."
Aran menarik kursi dan duduk di sebrang Kita sementara Suna mendekat dan menyandarkan panggulnya, separuh duduk di meja. Kita menatap kedua rekan kerjanya dan mengulas senyum tipis.
"Ayo cerita, ada berita apa minggu ini?"
"Ginjima memenangkan perang kecil kita di Tottori. Klan Sarukawa sekarang tunduk di bawah lutut Raja Neraka." ucap Aran bangga.
"Aku sempat bernegosiasi dengan gokudo lain perihal heroin untuk proyek selanjutnya." Suna menambahkan. "Phantom Hawks tidak mau kasih diskon. Cuma kasih barang mentah tanpa prosedur. Sementara kkangpae di Shin-Okubo tidak ingin menyediakan barang yang kita butuhkan kalau kita tidak memberikan coverage."
"Tidak, jangan mau." Kita menggeleng. "Dana untuk coverage bisa jauh lebih besar dari keuntungan proyek kita nanti."
"Oh, iya. Satu lagi." Suna mengeluarkan selembar amplop dari saku dalam jasnya. "Kawanan buaya tambang menyodorkan proyek."
Kita membuka amplop tersebut dan membaca surat di dalamnya. Ia mengangguk singkat dan membiarkan Aran memproses sisanya. "Rin, siapkan mobil."
"Kemana?" tanya Suna dengan wajah datar dan nada bosan khasnya.
"Aku punya anak manis yang sudah sebulan belum kujenguk." Kita tersenyum.
"Ginjima akan mengantar Anda." tukas Suna.
"Tidak usah. Kotaro akan pergi denganku. Kami sudah janjian tadi pagi."
Aran dan Suna saling bertatapan, tidak paham mengapa Bokuto Kotaro sang pimpinan Fukurodani—geng yakuza yang cukup ditakuti di ibukota harus pergi dengan boss mereka. Pertama, Fukurodani berbasis di Tokyo. Kedua, boss mereka akan pergi dengan boss dari klan lain. Resiko bahayanya jelas meningkat pesat.
Ketiga, tidak banyak yang tahu bahwa Bokuto Kotaro dan Kita Shinsuke sebetulnya saudara kandung dan kembar nyaris identik.
Seperti layaknya sistem patriarki gokudo yang masih dianut mayoritas gembong penjahat terorganisir di Jepang, Inarizaki memiliki keluarga Kita sebagai pimpinan klan. Shinsuke adalah pemimpin generasi keempat. Ayahnya, Kita Shoki juga terlahir kembar dengan sang bibi, Kita Shaka. Ia memiliki seorang paman yang merupakan anak bungsu bernama Kita Shingo—yang dipanggil Ogaji (singkatan dari ogata oji alias paman raksasa—sesuai dengan posturnya yang menjulang dan tambun berotot). Kita Shoki menikahi putri kedua klan Bokuto, Bokuto Tsubame. Sama seperti keluarga Kita yang merupakan pimpinan klan Inarizaki, keluarga Bokuto adalah pimpinan bagi klan Fukurodani. Shinsuke dan Kotaro adalah putra pertama yang lahir setelah 6 generasi klan Bokuto sebelumnya selalu melahirkan anak perempuan. Atas perjanjian kedua klan, keduanya dibesarkan terpisah dengan si bungsu Kotaro mendapat marga ibu demi melestarikan darah sang ibu. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, keduanya masih hidup rukun baik sebagai saudara maupun sesama boss yakuza.
"Apakah aku kurang ajar dengan berpendapat bahwa kepergian Anda dengan Kotaro-sama justur membuatku semakin khawatir?" Suna kembali membuka suara.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi baik aku dan Kotaro akan baik-baik saja." Kita tersenyum. "Sebentar lagi Osamu akan berusia 22. Aku punya beberapa program untuknya."
"Akhirnya!" Aran membentuk gestur berdoa. "Seharusnya bisa lebih cepat kan, oyakata-sama."
"Aku tidak bilang bahwa Osamu akan kubiarkan masuk Inarizaki." sergah Kita. "Aku akan menikahkannya dengan nona Keiji, membelikannya rumah di Kobe. Membiarkan mereka berkeluarga dengan bahagia seperti layaknya pasangan muda yang manis."
"Mana mungkin bisa manis dan bahagia kalau calonnya Akaashi Keiji, oyakata-sama." Suna tertawa sinis. "Masih banyak perempuan lain yang lebih terhormat dibandingkan dia. Lebih menarik. Lebih muda."
"Ibuku hampir 15 tahun lebih tua saat menikahi ayahku." Kita tersenyum sinis.
"Tidak menjawab pertanyaanku kenapa calonnya harus Akaashi Keiji." Suna mendengus malas. "Aku bisa carikan calon yang lebih pantas."
"Osamu menyimpan foto nona Keiji di dalam dompetnya. Aku baru tahu belakangan setelah dia sekitar enam bulan tinggal di Kabusanji." Kita tersenyum. "Itu saja sudah merupakan bukti kalau nona Keiji itu spesial di hatinya Osamu, meskipun dia tidak mau jujur. Aku jadi ingat kalau mendiang Ayame melakukan hal yang sama waktu kami masih jaman sekolah dulu. Osamu memang manis seperti ibunya. Romantis, ya?"
"Spesial." cibir Suna.
"Kurasa, Osamu lebih mirip denganmu." sanggah Aran. "Baik secara wajah dan bersikap. Atsumu, di satu sisi tetap punya sikap impulsif dan kharismatik magisnya Ayame-neesan."
"Sihir dimana seberapa menyebalkan tingkahnya, kau tidak akan sanggup benci padanya." Kita tersenyum tipis sambil menggerling pada Suna. "Naa, Rintaro?"
"Apa?" ketus Suna.
"Aku ingat, dulu Rintaro sempat bermusuhan dengan Ayame sampai bilang aku tidak akan sudi menggendong anak-anakmu. Nyatanya, dia yang selalu paling repot mengurusi si kembar."
"Sayangnya, anak-anaknya Miya Ayame adalah anak-anaknya oyakata-sama juga. Mana bisa aku tidak peduli?" Suna mengalah. "Sudah puas mengejekku?"
"Tapi pikirkanlah lagi, Shin." Aran bersikukuh. "Biarkan Osamu bergabung dengan kita. Dia mungkin masih polos. Tapi aku berani mempertaruhkan tangan kananku, kalau Osamu pasti lebih kuat dan lebih pintar dari Atsumu."
"Taruhanmu gagal, kau cuma separuh benar." Kita menghabiskan tehnya dalam beberapa seruputan singkat lalu meminta Suna mengisi gelasnya lagi. "Dia mungkin polos dan kuat, tetapi Osamu lebih bodoh dari kakaknya."
"Tapi dia tidak banyak tingkah." Aran mengoreksi. "Berikan dia masa probasi dua bulan. Dia akan jadi ksatria terkuat klan kita, Shin."
"Dengan begitu, kalian berdua bisa malas-malasan dan bertumpang pada kinerja pangeran kecilku yang kalian 'didik' sebagai kouhai itu?"
Mendengar logika dingin boss mereka, baik Aran dan Suna sama-sama menegang.
"Dia tidak sekecil dulu lagi, asal kau tahu saja." Aran tertawa kikuk. "Makin kesini, dia nyaris sama besar dengan mendiang ogaji."
"Mereka itu kembar indentik." Suna menyeletuk. "Mengapa Anda memperlakukan mereka tidak setara?"
"Dalam bentuk apa yang kau bilang tidak setara, Rin?" mata ambar Kita menelik bosan. "Atsumu menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam Inarizaki karena dia mau bergabung. Osamu tinggal di Kabusanji setelah diberikan banyak sekali pilihan karena dia mau tinggal di sana. Hanya karena mereka kembar identik, bukan berarti aku harus memperlakukan mereka seperti sumpit."
"Anda benar." Suna menunduk malu. "Maafkan kelancanganku, oyakata-sama."
"Lagipula, nona Keiji adalah aset yang sangat berharga bagi kedua klan, baik di Inarizaki atau Fukurodani. Kurasa orang yang paling tepat meyakinkannya adalah kau, Rin." Kita tertawa kecil. "Pergunakan bibirmu untuk memulas rayuan yang baik, oke?"
Suna cuma menggerling malas.
"Akagi ada di rumah?" tanya Kita pada Aran.
"Mungkin nanti sore dia akan tiba. Ada pekerjaan kecil katanya." Aran menggedikkan bahu. "Ada perlu sesuatu dengan Akagi?"
"Banyak, sebetulnya." Kita bertopang dagu. "Bilang padanya siapkan segala keperluan untuk Osamu. Mulai bulan depan, dia tidak akan tinggal di Kabusanji lagi."
"Hal itu bisa kuurus sekarang." Aran berdiri dan mohon pamit. "Shitsureishimasu."
Begitu Aran pergi, hanya Kita dan Suna saja yang berada di ruangan tersebut. Sang pimpinan Inarizaki bersandar malas dan merenggangkan pundaknya sementara pria sipit berambut hitam di sisinya tidak banyak bereaksi.
"Dimana Atsumu sekarang, Rin?"
"Penjara." jawab Suna singkat. "Bedebah kecil itu diringkus polisi saat balap liar setengah giting."
"Tebus dia."
"Iya, biar tahu rasa." Suna tertawa mengejek. "Itu adalah balasan yang pantas untuknya setelah membuat oyakata-sama murka seperti tempo hari."
Kita melirik dingin. "Rintaro... "
Suna Rintaro dibuat ngilu dengan tatapan mata ambar besar menakutkan atasannya. Lelaki berambut kelabu tebal itu berdiri dan menarik dasi yang dikenakan Suna hingga tubuhnya limbung. Suna menopang tubuhnya dengan kikuk sebelum wajahnya menghantam meja kerja oyakata-sama.
"Tebus dia malam ini juga." bisik Kita. Wajahnya sangat dekat sampai nafasnya menerpa pipi Suna. "Kau memang peliharaannya ogaji, tapi Atsumu tetap putra kandungku. Tolong sadari posisimu, Rintaro."
Lelaki sipit itu mendecih. Ia melepaskan jegalan tangan Kita dengan lembut dan kembali menegakkan punggungnya, membetulkan setelannya. Suna sudah bekerja untuk Inarizaki sejak masih bocah ingusan, saat Shinsuke muda yang mungil dan rapuh masih berusaha memoles teknik iaijutsu-nya. Ogaji mendidik Suna untuk menjadi petinggi Inarizaki. Ia dikirim sekolah di luar negeri agar bisa menjadi tameng, penasehat dan senjata terkuat Shinsuke saat ia nantinya memimpin. Kedekatannya dengan oyakata-sama memang sudah seperti saudara, namun Suna memang selayaknya tunduk di bawah kuasa Kita Shinsuke karena ia ditempa untuk bersikap demikian. Suna hanya mengangguk singkat dan melemparkan senyuman tipis.
"Sumimasen deshita, oyakata-sama. Shitsurei shimasu." katanya sambil berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut.
Akaashi Keiji hanya terdiam menatap pemandangan luar dari jendela mobil dengan wajah hampa. Bossnya berkendara dengan si kakak kembar di mobil yang satunya, meninggalkan dirinya dengan bajingan berambut belah tengah yang bibirnya tak kenal tata krama. Oh, ralat. Klan Inarizaki memang dipenuhi dengan sekumpulan bajingan, namun Suna Rintaro ada dalam level yang berbeda.
"Perbaiki wajahmu. Oyakata-sama tidak akan senang melihat calon menantunya bermuram durja begitu." desis Suna. Duduk di kursi mengemudi tampaknya tidak memecah fokusnya dalam merendahkan orang lain.
Akaashi mendengus pedih. "Persetan dengan patriarki busuk klan Inarizaki. Kalian memperlakukanku seperti barang."
"Kau harusnya bersyukur Kotaro-sama masih mengizinkanmu mengabdi. Fukurodani itu klan matriarki." Suna terkekeh sinis. "Buktinya, Kotaro-sama setakut itu pada istrinya."
"Yukippe itu wanita yang luar biasa." Akaashi tidak menampik. "Menghadapi Bokuto-san sudah membuatku separuh sinting. Beliau menghadapi Bokuto-san seumur hidup."
"Mengabdi pada Kita Shinsuke sudah membuatku tiga perempat sinting. Kalau kau mau bertukar boss, dengan senang hati. Kotaro-sama tidak ada apa-apanya dibanding oyakata-sama." Suna membalas. "Simpan keluhanmu, perempuan manja."
Akaashi tidak membalas.
"Kau beruntung, Osamu itu masih suci." kata Suna lagi.
"Dan kalian sendiri yang merusaknya dengan pernikahan politik rekaan ini."
"Jangan begitu. Aku tidak main-main." Suna menoleh sejenak. "Osamu itu pangeran kesayangannya oyakata-sama. Meskipun nantinya kau akan jadi menantunya, ia tidak akan ragu untuk memenggalmu kalau membuat Osamu terluka atau sakit hati."
"Kalian sewa saja pasukan penjaga buatnya."
"Hemat biaya. Selain itu, kau pasti tidak akan menolak." Suna menukas santai. "Dan lagi, entah apa alasannya, oyakata-sama sangat tidak ingin Osamu jadi yakuza."
"Karena Atsumu sudah dijadikan putra mahkota?" Akaashi menerka. "Kudengar dari Bokuto-san, keluarga Kita sudah punya gen kembar yang kuat. Mereka selalu dibesarkan terpisah."
"Agar mereka saling menguatkan." Suna membalas. "Begitu yang diyakini Shoki-sama dan Shaka-neesama. Karena cinta monyet Samu denganmu saat jaman sekolah, kurasa kau pasti sudah dengar dari mulutnya sendiri kalau dia yang memutuskan tinggal di Kabusanji."
"Ada alasan lain kenapa di kuil?" Akaashi bertanya lagi. "Bokuto-san bercerita, katanya Kita-san pernah tinggal di kuil juga semasa remajanya, kan?"
"Akaashi." Suna mengecam. "Untuk seorang bawahan, agaknya pertanyaanmu terlalu lancang."
"Tidak bolehkah aku tahu satu-dua hal tentang keluarga calon suamiku?"
"Nyatanya kau terima perjodohan ini, toh?"
"Tentu saja. Karena calonnya adalah Osamu." Akaashi tertawa rendah. "Kalau aku dinikahkan dengan Atsumu, lebih baik aku kawin lari dengan kembarannya. Atau kalau dia tidak mau, kau bisa menikahi aku, Rintaro."
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi kau bukan tipeku." Suna memarkirkan mobil di pelataran kuil Kabusanji, lalu mematikan mesin mobil dan melangkah keluar lebih dulu. "Lagipula, aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku meniduri mainan rusak."
Rahang Akaashi mengeras mendengar ucapan Suna, namun ia tidak membalas perkataannya. Ia membungkuk hormat begitu berpapasan dengan Kita dan Bokuto. Mereka mendaki ratusan tangga untuk sampai di halaman kuil yang luas dan asri. Beberapa biksu lalu-lalang, mengucap salam santun beserta senyuman ramah.
Kuil Kibusanji adalah kuil yang terkenal di Osaka, didedikasikan untuk Bishamonten, sang dewa perang. Akaashi tidak bisa lupa bagaimana senyum Osamu merekah cerah saat ayahnya mengajukan usul bahwa Osamu akan tinggal dan berlatih di kuil selepas lulus SMA. Ponsel Akaashi kadang riuh, dihebohkan dengan pesan singkat Osamu yang bertutur bagaimana ia tinggal bersama para biksu yang pintar melawak dan pandai memasak tersebut. Kesehariannya memang monoton dan tidak menarik bagi Akaashi, namun ia cukup lega bahwa Osamu ternyata cukup bahagia.
Miya Osamu dan Akaashi Keiji terpaut 7 tahun. Mereka pertama kali bertemu saat si kembar tinggal di kediaman Bokuto, menyaksikan bagaimana Akaashi meladeni latihan judo tanpa akhir dari bosnya yang memang penggila pertarungan. Akaashi sangat terkejut mengetahui kalau Osamu dan Atsumu dinamai atas marga ibunya, selain karena Kita Shinsuke benar-benar mencintai almarhumah Miya Ayame yang meninggal setelah berjuang melahirkan si kembar, juga karena Kita berpikir bahwa marga 'Kita' terdengar sangat mencolok bagi anak kembarnya. Tentu saja seantero Hyogo—salah, seantero Jepang pasti tahu bahwa siapapun yang bermarga Kita pasti berasal dari klan Inarizaki. Mereka dijuluki Siluman Rubah Kobe, gembong penjahat terorganisir dimana mereka seringkali terlibat dalam berbagai konspirasi kriminal. Lebih sering pembunuhan dan bisnis hitam. Pengadaan senjata dan dana untuk klan yakuza lain, kasus kriminal rekaan guna mendompleng kinerja penegak hukum Jepang, dan masih banyak lagi kalau mau disebutkan. Merupakan salah satu gokudo yang mengerikan, baik secara perancangan kejahatan maupun kekuatan tempur. Kesuksesan Inarizaki mulai tenar begitu Kita Shingo menggantikan kakak-kakaknya yang wafat, dan semakin melejit setelah Shinsuke dilantik menjadi oyakata-sama selanjutnya. Miya bersaudara sangat mengidolakan Akaashi, sebagai figur seorang kakak perempuan yang lembut dan penyayang, yang keren dan serba bisa. Mereka—khususnya Osamu, sering beratraksi menunjukkan apa yang mereka kuasai guna membuat Akaashi terkesan. Sejak Osamu tinggal sebagai biksu di Kabusanji, Akaashi cuma diperbolehkan menelpon seminggu sekali atau dua kali. Miya Osamu bersih dari urusan bisnis keluarganya, namun tidak dengan sang kakak kembar Atsumu, yang dengan sukarela mengabdikan diri pada Inarizaki. Banyak pula klan yang tidak tahu bahwa Raja Neraka dari Kobe punya sepasang putra kembar, sebab selalu Atsumu yang mereka saksikan sepak terjangnya. Larangan ini dimaksudkan agar Akaashi meminimalisir kesalahan membocorkan informasi mengenai kegiatan Fukurodani maupun Inarizaki.
Akaashi sejak belia memang paham sedikit soal urusan dan silsilah klan gokudo. Ayahnya adalah master judo dan muridnya tidak sedikit yang merupakan komplotan yakuza, termasuk Bokuto Kotaro dari Fukurodani—klan hitman mercenaries yang berbasis di Tokyo, di bawah kepemimpinan klan Bokuto. Karena Bokuto pula, Akaashi menjadi familiar dengan beberapa nama dalam belantika hitam kehidupan gokudo. Bokuto dan ayahnya Akaashi terbilang sangat dekat, dan ayahnya Akaashi dibekali segudang informasi mengenai pergerakan yakuza di seluruh Jepang. Katanya untuk jaga-jaga Inarizaki dan Fukurodani sangat ingin ayahnya Akaashi bergabung dalam salah satu klan mereka, namun sampai akhir hayatnya ia menolak. Akaashi resmi jadi yatim piatu saat kelas 3 SMP. Serangkaian episode buruk didapatnya dari kedua belah klan, namun Bokuto menyelamatkannya dengan mengirimnya sekolah ke luar negeri.
Menyelamatkan, atau bisa dibilang menjerumuskan paksa.
Akaashi Keiji dibuat setia mengabdi pada Fukurodani sampai detik ini. Akaashi Keiji dengan setelan jas rapi dan celana panjang, dengan rambut hitam panjang berkelok yang selalu dikepang longgar. Akaashi Keiji yang metodis dan monoton seperti mesin. Akaashi Keiji yang meski cantik dan anggun, tetap menjaga tradisi judo didikan ayahnya dalam nadi dan sendi tubuhnya. Akaashi Keiji yang digelari The All Seeing Eyes atas bakat menembaknya yang legendaris.
Akaashi Keiji, yang entah untuk keberapa kalinya, dibuat jatuh hati oleh Miya Osamu.
Sosok itu nyaris tidak berubah seperti saat Akaashi mengenalnya sebagai bocah lugu. Mata chesnut besar sayu yang sering terlihat malas itu berseri-seri ketika Kita membalas dekapan rindu sang putra bungsu. Kita tertawa saat ia diangkat beberapa senti dan berputar-putar singkat dalam pelukan anaknya karena Osamu terlampau senang. Senyum lembutnya terulas tulus. Bokuto dan keponakannya bertukar serangkaian toss aneh seperti sahabat lama. Suna Rintaro yang ketus dan menjemukan bahkan melunak, menunjukkan ekspresi lembut penuh sayang ketika Osamu juga memberinya pelukan. Osamu tertegun mematung begitu melihat Akaashi dari kejauhan. Bokuto, Kita dan Suna menoleh. Bokuto melambai pada Akaashi, menyuruhnya mendekat. Akaashi membungkuk hormat pada Osamu dan tersenyum kikuk.
"Kau pasti sudah lama tidak ketemu Akaashi kan, Osamu?" tanya Bokuto.
Osamu masih membeku. Wajahnya tampak kosong. Mulutnya separuh terbuka.
"Tapi kurasa, sebagai salah satu keluargamu dia juga berhak menjengukmu." ujar Bokuto lagi.
"Hisashiburi, Samu." Akaashi menyapa.
"Rinrin, tampar aku."
Suna menaikkan sebelah alis mendengar permintaan Osamu.
"Aku lihat bidadari. Aku pasti mimpi." Osamu mengelus dadanya.
Dengan senang hati, Suna melayangkan tamparan keras ke kepala Osamu. Pemuda bongsor itu mengaduh dan mengusap kepalanya. Cengiran polos yang terlihat konyol menghiasi wajah datar pemuda itu. Akaashi menunduk malu, dibuat berdebar karena teringat dengan betapa manis dan menggemaskan sosok Osamu waktu dia masih anak-anak dulu, tentang bagaimana dia mengungkapkan rasa kagumnya dengan gamblang, yang dahulu kala membuat hati Akaashi mendadak berubah hangat.
"Kami menjemputmu karena akan ada pertemuan keluarga." Kita bergumam.
"Beneran?" Osamu terperangah. "Apa Tsumu juga akan datang?"
"Tergantung. Kakakmu masih ada sedikit kerjaan."Kita mengusap lembut ujung dagu Osamu. Pancaran matanya penuh kasih sayang. "Sana, temani nona Keiji. Aku dan pamanmu mau mengunjungi kepala kuil."
Osamu membetulkan hakama-nya dan berjalan mendekati Akaashi. Gadis ayu itu mengulurkan tangannya dan jemari kedua belah pihak bertaut. Sensasi hangat genggaman Osamu membuat Akaashi gugup. Mereka berjalan bergandengan menelusuri halaman depan kuil Kabusanji. Langkah mereka kemudian menuju ke area hutan dimana Osamu menawari Akaashi duduk di salah satu bangku batu yang menghadap danau kecil dan asrinya hutan. Menjelang musim panas, rona segar mewarnai alam. Osamu merenggangkan pundaknya dan menghela nafas dalam-dalam.
"Kau tampak sehat, Samu." Akaashi mengulum senyum.
"Kau tampak cantik sekali." Osamu membalas santai. "Kudengar kau kuliah di luar negeri. Makan apa sampai kau jadi secantik sekarang?"
"Apakah dulu aku sejelek itu?" Akaashi pura-pura merajuk.
"Nggak jelek. Akaashi yang dulu manis. Sekarang super cantik dan super manis. Kau juga terlihat seksi dengan setelan jas itu. Apa kau cuci muka pakai madu setiap hari?"
Tanpa sadar, Akaashi terkikik geli. Osamu duduk di sebelah Akaashi dan tampak santai memandangi riak air danau.
"Samu." gumam Akaashi.
Si bungsu Miya menoleh.
"Apa kau suka tinggal disini?" Akaashi berusaha memperbaiki kalimatnya agar Osamu tidak salah tanggap. "Maksudku, kau bisa keluar dari sini dan punya karir lain. Misalkan, kerja di kantor. Atau buka kedai onigiri seperti yang pernah kau impikan waktu jaman SMA."
"Ah, aku sudah bicara pada otou-san soal itu." Osamu membalas. "Aku masih belum tahu apa yang aku mau. Tapi, setidaknya aku ingin menghabiskan waktu di rumah dengan keluargaku sebentar. Aku sudah lama nggak ketemu Aran dan Akagi-san. Rinrin setiap minggu kesini, tapi aku tetap saja kangen dengannya. Apalagi Tsumu. Kemana si brengsek itu sampai nggak ikut menjengukku?"
"Begitu."
Akaashi meraih tangan Osamu, dan kembali menggenggamnya lebih kuat.
"Samu, coba bayangkan kalau kita nikah. Aku jadi istrimu." gumam Akaashi.
Osamu menerawang, wajahnya kusut karena kebingungan. "Gomenne, Kaashi. Otakku tidak sanggup."
"Apa karena sudah lama jadi biksu, imajinasimu jadi terbatas?" Akaashi terkikik.
"Kaashi, aku tahu ucapanmu tadi serius."
Zamrud cemerlang Akaashi terbelalak kaget mendengar nada dingin Osamu. Chesnut sayu yang selalu terlihat malas itu jarang sekali menunjukkan isi hati, namun kali ini Akaashi menangkap ada sepercik emosi di pantulan netra Osamu. Marah—atau mungkin bisa diartikan seperti frustasi. Pribadi Osamu yang pasif membuatnya lebih banyak menyimpan isi kepalanya tanpa tercurah melalui kata-kata, tetapi perbuatan dan bahasa tubuhnya memproyeksikan segala perasaannya. Akaashi mengenal Osamu sejak dini, dan satu hal yang paling dibenci oleh Osamu adalah dia paling tidak suka dibohongi.
"Apa ini rekaannya otou-san?"
"Samu, dengarkan aku—"
"Kaashi, kau tahu kenapa aku memilih tinggal di Kabusanji?" tanya Osamu.
"Karena kau ingin?"
Osamu mengangguk lambat. "Aku takut."
"Takut apa?"
"otou-san, Kocchan, Rinrin, Aran, Tsumu, Kaashi juga. Setiap kalian berkunjung, kalian selalu pasang wajah bahagia. Aku menyayangi kalian, karena kalian keluargaku. Kalian sudah memperlakukan aku dengan baik. Kalian semua orang baik. Tapi... tapi... Inarizaki dan Fukurodani tidak melakukan hal baik. Tidak selalu. Kalian menipu dan membunuh, lalu bersikap seakan-akan semuanya baik-baik saja. Aku takut, suatu saat nanti aku melihat orang yang kusayang berubah menjadi seseorang yang tidak lagi aku kenal. Takut kalau kebaikan yang selama ini kurasakan ternyata cuma halusinasiku saja."
Akaashi terdiam. Ia yakin bahwa meski para petinggi Inarizaki tidak menceritakan langsung mengenai bisnis keluarga mereka, Osamu pasti mendengar satu-dua hal tentang Inarizaki dari orang lain. Hidup terasingkan dari keluarga yang memiliki kaitan dengan gokudo memang menyulitkan, Akaashi paham benar.
"Kaashi."
"Hmm?"
"Apa aku ini pengecut?" ujar Osamu. "Aku selalu jadi anak manis untuk otou-san karena orang bilang, otou-san sangat menyeramkan kalau ia sedang marah. Orang-orang di Kobe menjulukinya Enma-ousama. Raja Neraka. Entah benar atau tidak, aku hanya takut kalau ternyata otou-san yang begitu lembut ternyata orang yang kejam."
"Samu, apa kau takut pada ayahmu, Tsumu, Rintaro dan orang-orang Inarizaki lain karena mereka pernah berbuat jahat?"
Osamu mengangguk.
"Aku pernah berbuat jahat juga." Imbuh Akaashi. "Apa kau takut padaku?"
Osamu menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku kenal Kaashi." ujar Osamu polos. "Kau tidak akan berbuat jahat tanpa alasan."
"Begitu pun dengan keluargamu." Akaashi mencium punggung tangan Osamu dengan lembut. "Sam, mengakui bahwa dirimu takut, adalah tindakan yang berani. Mungkin di mata orang lain, tindakan keluargamu terlihat jahat. Tapi, mereka melakukan hal itu untuk melindungi. Untuk membuat orang yang mereka sayangi tidak lagi merasa takut."
"Bagaimana caranya melindungi orang yang kusayang kalau aku ketakutan?" tanya Osamu bingung.
"Dengarkan kata hatimu."
Osamu mengulas senyum tipis ketika tangan Akaashi membelai pipinya. Sejak dulu, Osamu selalu mengagumi Akaashi. Ia cantik, tinggi, pintar, tenang dan sangat kuat. Pendengar yang baik dan juga berhati tulus. Ada secercah ketenangan di lara Osamu ketika merasakan sentuhan tipis Akaashi di tangannya, di wajahnya, seakan sapuan halus kulit wanita itu mampu menepis segala bencana yang ada di muka bumi ini. Pikirannya mengelana jauh, memikirkan jika memang Kita benar-benar merancang pernikahan Osamu dengan Akaashi, akankah Osamu bergabung dengan Inarizaki dan melakukan serangkaian hal-hal rumit demi meneruskan usaha keluarga?
Angin sejuk menjelang musim panas dan riak air danau, serta langit cerah membuat Osamu melupakan segalanya. Sekali ini saja, ia ingin menikmati hal-hal terindah dalam hidupnya. Entah itu cuacanya, suasananya, atau karena Akaashi Keiji yang sudah menempati hatinya sejak ia masih berusia 10 tahun.
A/n
-Enma-ousama: merujuk pada Dewa Yama (orang Jepang menyebutnya Enma), dewa yang menjadi raja neraka sekaligus hakim di alam baka di agama Shinto-Budha. Maka, biasanya Dewa Yama dipanggil Enma-ousama. Karena Kita Shinsuke bergelar Raja Neraka dari Kobe, selain sering dipanggil oyakata-sama dia juga sering dipanggil Enma-ousama.
Kochira koso: kalimat multitafsir dalam bahasa Jepang. Dapat berarti 'the pleasure is mine/I'm the equally here (sama-sama)'/likewise, juga bisa berarti 'aku juga berterima kasih'. Dalam konteks pembicaraan Kita dan Takeda, ucapan tersebut dapat berarti 'aku yang seharusnya berterima kasih'
-coverage: istilah yang menggambarkan 'perlindungan' atau 'kebal hukum' atau 'lolos dari pantauan polisi'.
bacotan author:
hai gengs, kembali lagi dengan fajrikyoya yang nggak ada kapoknya ngetik mafia AU di fandom HQID setelah ngetik-sendiri-baper-sendiri gara-gara Johnny Blaze nggak dinotice orang hahahahaha. Fanfic ini dibuat demi melampiaskan stress dan mumet kerja dan perasaan-sudah-muak-kerja-tapi-masih-butuh-duit hmmmm jadilah aku butuh pelarian (nulis fanfic di sela kerjaan nggak sama kayak selingkuh, tapi entah kenapa kesannya terdengar kayak selingkuh yaaa).Tapi tapi tapiiiiiiii prompt Miya kembar jadi yakuza susah banget keluar dari otak haluku, jadilah tercetus bikin ini. Terlebih, aku baru banget mainan twitter (iya, baru banget. Norak emang.) dan OMAIGAT GA KUKUH ASUPANNYA LEBIH SEDAAAAPP! Fanfic ini adalah hasil mutual halu bersama salah seorang mahaguru pengabdi tete osamu dan mata cantik akaashi (cara aja twitternya /meanhyookie), dan setelah diketik total I guess I like it. Jadi yaudah deh di post aja hahaha.
Tenang, tenang. Forte Fortissimo masih bakalan lanjut, kok. Fic-fic lain yang masih ongoing-semi hiatus juga bakal dilirik dan diselesaikan lagi SECEPATNYA (sesempatnya, se datengnya mood aku hiks hiks hiks maafkan otak dan jari-jariku yang halu-nya suka travelling).
Udah, capek kali ngebacot mulu. Doakan aku supaya update kilat, ya!
