Penggalan Kisah Mereka (c) faihyuu

Naruto (c) Kishimoto Masashi, Studio Pierrot.

Rated K (plus) atau T, mungkin?

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC, gajelas, dll.

Untuk #NHValentinesDay1

Penggalan pertama: kencan.

Sebagai anak rantau dari kawasan paling utara dan selatan di Jepang, Wakkanai dan pulau Hateruma—Hinata dan dan Naruto nyatanya memiliki jiwa untuk berhemat yang sama.

Ketika para pasangan lain di sekitar mereka sedang giat-giatnya kencan ke mana saja. Maka Naruto dan Hinata berbeda, keduanya memilih untuk berdiam diri di perpustakaan milik Waseda yang lengkap ditemani dengan tugas, buku, maupun jurnal di sekitar mereka. Atau kalau sedang benar-benar senggang dan Naruto merasa suntuk, barulah mereka akan jalan-jalan—itu pun hanya sekadar mengunjungi kedai ramen kecil langganan mereka saja.

"Hinata." Untuk kali ini, mereka berdua memang memilih untuk kembali kencan di perpustakaan. Naruto bilang tugas dari dosennya sudah menumpuk. Dan Hinata yang sedang senggang pun memilih untuk mengiyakan. Lagi pula, gadis itu memang sedang membaca sebuah buku berbahasa asing yang lumayan memerlukan konsentrasi tinggi. Pula melihat Naruto yang tampak serius sangat menyenangkan. Pemuda itu makin terlihat tampan.

"Ada apa, Naruto-kun?"

Hinata menutup Lapar karya Knut Hamsun yang tengah dibacanya, memilih untuk memusatkan atensinya sejenak kepada pemuda terkasih.

"Aku mau tanya," Naruto menggeser sedikit letak laptopnya agar dapat melihat wajah manis kekasihnya tanpa terhalang apa pun. "Dari seluruh tempat yang ada di Jepang, apakah kau punya tempat impian sebagai tempat tinggal? Tentunya selain Wakkanai."

Namun, seperti pasangan kekasih lainnya—Naruto dan Hinata juga seringkali membahas mimpi mereka bersama saat mereka kencan. Dengan suara yang berusaha pelan agar tidak mengganggu kesunyian perpustakaan.

"Selain Wakkanai?" Hinata termenung sejenak. Gadis itu memikirkan beberapa kemungkinan tempat di benaknya. "Mungkin Fukuoka. Menurutku segalanya di sana, terasa pas."

Fukuoka, tempat yang tidak terlalu menyengat panas dan membekukan saat dingin. Sebuah wilayah yang sempurna memadukan kenyamanan kota dan alam. Hinata sebenarnya juga tertarik akan biaya hidup di sana yang jauh lebih murah daripada Tokyo.

Senyum Naruto mengembang jadi tawa kecil. "Kalau begitu sama," kata pemuda dengan jenaka. "Aku ingin tinggal di sana. Biaya hidupnya murah, perkotaan yang menyatu dengan alam. Kurasa, itu tempat yang baik untuk membesarkan anak-anak dan memelihara hewan peliharaan."

Jelas, yang terakhir sebuah godaan. Karena mereka masih sama seperti pasangan kekasih pada umumnya, senang menggoda kekasih mereka kala berkencan.

Hinata menunduk, pipinya terasa terbakar. Gadis itu yakin pipinya sangat memerah saat ini. Padahal mereka telah menjalin kasih lumayan lama, tetapi Hinata masih saja belum terlalu siap dari serangan-serangan yang Naruto lancarkan padanya.

"Aku ingin tertawa lebih keras lagi, tapi ingat ini perpustakaan. Mukamu benar-benar merah, Hinata. Jangan-jangan kau berpikiran mesum, ya?"

Uzumaki Naruto yang memang tak pernah lepas dari kejahilannya. Hinata mendengkus pelan. "N-Naruto-kun, jangan menggodaku seperti itu!"

"Iya, iya," Naruto mencondongkan tubuhnya sedikit, meraih pipi gembil gadis di hadapannya yang hanya terhalang meja kayu untuk ditariknya dengan gemas. "Maafkan aku. Nanti pulang dari sini kita ke Ichiraku, deh."

"Baiklah." Hinata mulai mengurvakan senyum lagi—

"—tapi bayar sendiri." Naruto yang menjulurkan lidahnya tampak menyebalkan. Hinata ingin membalas, tetapi ketika maniknya mulai menangkap keberadaan orang yang akan duduk di sekitar mereka. Gadis itu terdiam, kembali membaca karya Knut Hamsun si penerima Nobel kesustraan pada tahun 1920 dengan buku edisi bahasa Inggris. Naruto pun kembali memusatkan perhatiannya ke arah laptop, pura-pura mengetik sesuatu di sana.

Sama seperti sebagian besar pasangan kekasih di Jepang yang tidak terlalu mengumbar kemesraan mereka ke publik, Naruto dan Hinata sama-sama ingin kemesraan di antara mereka menjadi sesuatu yang pribadi pula mengesankan untuk tiap individunya.

Tak lama, Hinata merasakan ponselnya yang sudah diatur agar tidak mengeluarkan suara tampak bergetar. Dengan cepat gadis itu membuka ponsel dan menemukan sebuah pesan singkat di dalam sana.

[ Seporsi sedang tonkotsu ramen, gyoza, dan ocha dingin. Kalau mau tambah, bayar sendiri. ]

Hinata jelas tahu siapa pengirimnya.

[ Ayeay, Captain! ]

Hari ini hanyalah salah satu kepingan manis dari perjalanan panjang kisah cinta mereka, kencan.