"NARUTO MILIK MASASHI KISHIMOTO. TIDAK ADA KEUNTUNGAN MATERIAL YANG SAYA DAPATKAN DARI PEMBUATAN FANFIC INI."

.

.

.

"Stockholm Syndrome (2)"

.

.

.

Sejak Ino diusir oleh orang tuanya, ia mulai tinggal dengan Sai. Kedua orang tuanya tidak mau menerima anak kembarnya yang merupakan hasil hubungannya dengan Sai. Padahal Ino sangat mencintai Sai lebih dari apapun, tapi orang tuanya tidak mau mendengarnya. Bagi mereka, Ino hanyalah aib keluarga karena ia hamil di luar nikah. Karena itulah, hanya Sai yang menjadi tumpuan hidupnya saat ini. Ino akan melakukan apapun asalkan Sai tidak membuangnya seperti orang tuanya.

.

.

.

Jarang sekali bagi Sai untuk bangun pagi di hari Minggu. Tapi hari ini merupakan sebuah pengecualian karena nanti siang ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.

Biasanya saat jam tujuh seperti ini, Sai masih berada di tempat tidur sambil memeluk Ino dari belakang. Kedua tangannya pasti berada di perut buncit wanita tersebut.

"Cepat, Ino!" teriak Sai dari ruang makan. Jarak ruang makan dengan kamar mandi tidaklah terlalu jauh. Wanita berambut pirang itu sekarang sedang mandi.

"Sarapanmu nanti dingin," tambah Sai dengan suara kecil. Tak peduli apakah Ino mendengarnya atau tidak. Sedangkan Sai sendiri sudah menghabiskan sarapannya sejak tadi, sekarang ia sedang menikmati kopi panasnya.

Memang terkadang Sai itu kejam. Tapi dia memperlakukan hal-hal kesukaannya dengan sangat baik. Ia bahkan selalu membuatkan sarapan untuk Ino. Telur omelet ditambah dua potong sosis goreng. Ada roti tawar dan selai juga di atas meja kalau seandainya Ino masih lapar.

"Aku sudah selesai mandi." Suara Ino terdengar dari arah samping Sai.

Sebuah seringaian muncul di wajah Sai saat melihat postur tubuh wanitanya itu. Dia hanya mengenakan bra dan celana dalam. Perut buncitnya terlihat sangat menggoda di mata Sai.

"Duduk di sini," ucap Sai sambil menepuk pahanya sendiri.

Ino memutar bola matanya bosan. Hampir selalu seperti ini. Saat Ino sarapan atau makan siang atau makan malam, ia harus duduk di pangkuan Sai. Ino akan dapat memakan makanannya sedangkan Sai akan bisa menikmati tubuh Ino sesuka hatinya.

"Baiklah." Dengan patuh Ino duduk di pangkuan Sai dengan posisi membelakanginya.

Baru saja Ino mengambil garpu untuk memotong omeletnya, Sai sudah lebih dulu memeluk perutnya. "Usia kandunganmu baru enam bulan, tapi sudah seperti hamil sembilan bulan saja."

"Itu karena ada dua bayi di dalamnya," sahut Ino sambil menyuap omeletnya.

Mulut Sai sudah mulai bergerilya di sepanjang bahu Ino yang tidak tertutupi apapun. Kecupan, jilatan, hingga gigitan ditinggalkan Sai di sana. Sedikit mengganggu acara sarapan Ino.

Kedua tangan Sai masih setia mengelus perut Ino. "Kenapa mereka tidak bergerak?" geram Sai.

Ino mengedikkan kedua bahu, tidak tahu menahu soal kedua anaknya.

Sai berdecak kemudian menekan perut Ino.

Dug!

"Aww hiishh ..." Ino mendesis saat anaknya tiba-tiba menendang perutnya dengan cukup keras.

"Nah, sekarang mereka sudah bangun," ucap Sai. Ia kemudian melepas bra yang dikenakan Ino. Dipijatnya salah satu payudara Ino. "Belum ada susu yang keluar rupanya."

Tangan kanan Sai yang sejak tadi mengurut perut Ino kini berpindah mengusap vagina perempuan tersebut.

"Uuhh~" Sedangkan Ino makin kesulitan menikmati sarapannya karena ia terus dibuat mendesah oleh Sai.

"Hahaha ... Bagaimana kalau langsung ke hidangan utama? Aku ada pekerjaan siang ini," ujar Sai sambil menarik turun celana dalam Ino.

"Pekerjaan?" beo Ino. "Di hari Minggu?"

Kembali Sai tertawa. Ia menarik turun celananya sendiri hingga penisnya yang sudah tegak berdiri dapat keluar. "Iya, ada pekerjaan yang uangnya lumayan. Aku ingin pindah ke rumah yang lebih luas untuk anak kita. Jadi aku memerlukan uang tambahan," sahut Sai.

Ino yang dapat merasakan penis Sai menggosok belahan pantatnya akhirnya menyerah untuk menyelesaikan sarapannya. Sepertinya sekarang ia harus memuaskan Sai terlebih dahulu baru kemudian melanjutkan sarapannya.

"Kalau begitu cepat selesaikan ini," ucap Ino sambil berdiri dari posisinya. Wanita itu menumpukkan kedua tangannya pada pinggiran meja dan menurunkan punggungnya hingga ia terlihat menungging.

"Huuhhshh ..." Tapi tiba-tiba saja Ino menarik napas lantang sambil mengusap kasar perutnya. "Perut ini berat sekali."

Plak!

Sai menampar pantat Ino sekali. "Jangan menyakiti mereka, Ino," balas Sai. Satu tangan Sai memposisikan kejantannya pada lubang Ino sedangkan tangan yang lain memegang pinggang Ino.

JLEB!

"Ahhh!" desah Sai karena ia berhasil memasukkan penisnya dalam sekali hentakan.

Sai pun mulai menghujam lubang vagina Ino dengan beringas. Kedua tangannya memegang erat pinggang Ino.

"Akh! Akh! Akh! Akh!" Sedangkan Ino hanya bisa mendesah yang hampir terdengar seperti pekikan. "Uuhh mereka terus bergerak, Sai," tambah Ino dengan satu tangannya yang terus mengusap kasar perutnya.

Sai menarik tangan Ino tersebut. "Jangan mengasari mereka," ucap Sai lagi. Ditariknya lagi satu tangan Ino yang lain.

"Ukh! Ukh! Sa-sakit, Sai," pekik Ino karena kedua tangannya ditarik cukup keras.

Sai masih terus menggenjot penisnya pada lubang vagina Ino. Di wajahnya muncul seringaian saat melihat perut Ino bergerak-gerak heboh. "Anak-anak kita suka dengan penisku, Sayang."

"Uungghh ... Uhh ahh ahh ..." Ino tidak menghiraukan ucapan Sai. Wanita itu hanya sibuk mendesah dan melenguh sambil memejamkan kedua matanya. Sodokan Sai di vaginanya dan pergerakan anak-anaknya membuatnya merasakan nikmat tiada tara.

Sai dengan sengaja menarik kedua tangan Ino hingga posisi Ino berubah menjadi berdiri. Kedua payudara dan perut Ino terlihat membusung, menantang Sai untuk semakin mempercepat gerakannya.

"Engg Ahh!" desahan Sai terdengar cukup keras tatkala dinding vagina Ino makin menjepit penisnya. "Mhmm ..."

"Ung! Uhh! Akh! A-aku ... akan AAAAHHHH~" Ino melenguh lantang saat ia mendapatkan orgamesnya.

Sai pun menyusul tak lama setelah itu. "AAHH!"

Sai sengaja membiarkan Ino tetap dalam posisi berdiri agar seluruh spermanya masuk ke dalam rahim Ino sehingga tidak mengotori lantai. Tapi saat laki-laki itu melepaskan kedua tangannya, tubuh Ino terhuyung ke depan. Dengan cepat ditangkapnya pinggang Ino. "Kenapa kau cepat kelelahan, hm?"

Ino meremas kedua tangan Sai yang ada di pinggangnya. "Salahkan mereka yang makin membesar," sahut Ino sambil menggerakkan perutnya.

"Cih! Jangan menggodaku, Sayang," ucap Sai sambil mendudukkan Ino di atas kursi sedangkan dirinya sendiri malah bersimpuh di hadapan perut Ino.

Sai menempelkan wajahnya di perut besar Ino sambil terus mengecupnya. "Perutmu menggoda sekali. Andai saja aku tidak ada pekerjaan, aku pasti akan menidurimu sampai sore."

"Aku ingin sarapan, Sai. Kau sebaiknya cepat selesaikan pekerjaanmu."

Sai menyeringai sebelum bangun dari posisinya. "Haha ... baiklah, baiklah, lanjutkan sarapanmu," balasnya kemudian mengecup bibir Ino.

Setelah melihat Sai masuk ke dalam kamar, Ino mengenakan celana dalam dan branya kemudian melanjutkan memakan omeletnya.

.

.

.

Seperti yang diucapkan Sai sebulan yang lalu, akhirnya sekarang Ino dan Sai sudah berada di tempat tinggal yang baru. Karena jarak rumah ini cukup jauh dari tempat sebelumnya, hal ini membuat Ino cukup kelelahan. Berjam-jam berada di atas motor dengan perutnya yang sangat besar. Tapi sayangnya Sai tidak peduli dengan rasa lelahnya karena begitu sampai di tempat yang baru, Sai segera memasukinya.

Ino dibuatnya menungging di atas tempat tidur dengan perut besarnya yang hampir menyentuh permukaan tempat tidur.

"Ahh! Ukh! Akh! Ah!" desah Ino seiring dengan tusukan penis Sai pada lubang vaginanya. Ino meremas sprei kasur dengan kencang, menahan goncangan tubuhnya tapi sepertinya tangannya sudah tidak sanggup bertahan apalagi ditambah dengan beban di perutnya.

"A-aah!" Sai memegang pinggul Ino dan menyodok penisnya keluar masuk dengan menggila.

Karena posisi Ino yang menungging, membuat penis Sai masuk sangat dalam. Karena saking dalamnya, Ino bahkan tidak tahu yang ia rasakan itu rasa sakit atau kenikmatan. Yang bisa ia lakukan hanyalah berteriak sambil mendesah.

"Arggh! Akh! AKH! AKH!"

Setiap selangkangan Sai berbenturan dengan pantat Ino, tubuh Ino akan bergetar dan gerakan anak-anaknya akan menggila. Tusukan Sai padanya seperti tidak ada akhirnya. Karena tidak sanggup menahan beban dari Sai dan kedua anaknya, akhirnya kedua tangan Ino menyerah.

Kepala Ino bertumpu pada bantal sedangkan kedua lututnya masih berusaha bertahan agar perutnya tidak tertindih tubuhnya sendiri. Ino dapat merasakan ia sudah kehabisan napas. Entah sudah berapa lama Sai bermain di dalam vaginanya dalam posisi seperti ini.

Ino tidak pernah menitikkan air mata saat ia berhubungan badan dengan Sai. Tapi untuk pertama kalinya Ino merasakan matanya berkaca-kaca. Vaginanya benar-benar sakit dan perutnya ditendang di segala arah oleh kedua anaknya.

"Cu-cukup, Sai. Ahh sa-kit ..."

Sai tidak memedulikan permohonan Ino, laki-laki itu masih terus membenturkan selangkangannya dengan pantat Ino. Sai mengernyit ketika merasakan dinding vagina Ino meremas penisnya, tapi ia kembali melanjutkan tusukannya.

Sensasi penis Sai yang terus menusuk lubang peranakannya, membuat tubuh Ino tersentak dan vaginanya berkedut. Setiap kali Sai mengocok seisi lubang Ino, wanita itu merasakan ada sensasi aneh yang menjalari tulang punggungnya.

"Sa-Saii ... ah ... uhh uhh a-aku lelah ahh ..."

"Sedikit lagi selesai, Sa-Sayang," balas Sai dengan suaranya yang agak pecah karena berusaha menahan desahannya.

Ino tahu kalau sebentar lagi Sai akan mencapai klimaksnya.

"Sial, Ino. Kau terlalu menjepitku!" geram Sai kemudian menampar pantat Ino.

"AKHHH! AAHH!" Ino telah lebih dulu klimaks. Entah sudah berapa kali ia klimaks sejak Sai mulai menggaulinya.

Setiap kali penis Sai menyodoknya, tubuh Ino bergetar seperti akan terjatuh. Kalau saja bukan karena tangan Sai yang memegang pinggangnya dengan erat, Ino yakin perutnya besarnya sudah terhimpit.

Setiap kali vagina Ino berkedut, napas Sai akan semakin berat. Otot-ototnya akan semakin terlihat jelas dengan keringat yang membasahi kulitnya.

"Sai, su-dah ahh!"

"Kalau kau ingin aku berhenti, jangan meremas penisku. Vaginamu yang tidak melepaskan penisku! Ghh!"

Salah satu tangan Sai merayap ke depan dan mengusap perut Ino. Ia sangat senang merasakan gerakan aktif kedua bayi mereka. Hal itu membuat penisnya semakin tegak dan kembali mendapatkan tenaga untuk terus melakukan penetrasi pada lubang Ino.

Cairan semen Sai dari klimaks sebelumnya perlahan turun membasahi paha Ino. Suara yang tercipta dari sodokan penisnya terus menggema di ruangan tempat mereka berada.

Pandangan Ino sudah mulai mengabur.

Sai menarik kedua tangan Ino agar tubuh itu tidak terjatuh ke tempat tidur. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada anak-anak mereka.

"HK! UH!" geram Sai.

Sai akhirnya memberikan sodokan yang sangat keras sebelum akhirnya menyemburkan cairannya ke dalam vagina Ino. Sepasang tubuh manusia itu sama-sama bergetar.

"Ahhh ..." desah Sai karena merasakan kenikmatan tiada tara.

Akhirnya pergumulan panas itu pun selesai. Sai dan Ino kemudian memilih tidur dengan Sai yang tidur di hadapan perut Ino. Laki-laki itu terus menciumi perut Ino sebelum alam mimpi menyapanya.

.

.

.

FIN


Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Review akan sangat membantu author untuk semakin semangat menulis ^^