KookTae / KookV
Cast :
Jeon Jeongguk
Kim Taehyung
Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin
Genre : Hurt/Comfort
Disclaimer :
Cast(s) belongs to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me
.
.
.
"You Know Me too Well"
HAPPY READING
.
.
.
"Kim Taehyung- ssi! Jangan bilang kau lupa membawa copy-annya juga!"
Sosok yang dipanggil hanya menunduk sembari menggigit bibir bawahnya dengan cukup kuat. Ini salahnya karena terburu-buru hingga lupa membawa proposal dalam bentuk soft copy maupun hard copy. Padahal proposal itu sangatlah penting karena akan dipresentasikan di hadapan dewan besar di kampus mereka. Proposal itu dibuat oleh segelintir elit kampus dalam sebuah organisasi. Tujuannya untuk mendapatkan izin guna menggelar festival di area kampus mereka. Namun, tampak pupus sudah harapan semuanya. Ketua organisasi dibuat kesal bukan main oleh Taehyung yang datang terlambat ditambah lupa membawa proposal penting itu. Pasalnya hanya Taehyung yang diberi tanggung jawab untuk menyimpannya seorang. Kini, para anggota tampak memasang raut wajah was-was karena mereka berpikir pasti mahasiswa/i lain akan memburu dan menyalahkan mereka bila festival itu gagal digelar.
"Maafkan aku, Sehun sunbaenim. Aku akan mengambilnya kem-"
"Anggota dewan sudah ada di ruangan saat ini, Taehyung. Pikirmu kau bisa menghentikan waktu?"
Sehun menatap sinis Taehyung yang semakin merasa bersalah. Dalam hatinya ia mengutuk kelalaian tadi pagi. Ia kesiangan bangun karena bekerja part time. Waktu tidurnya sudah sangat kurang. Ia juga masih harus mengikuti organisasi ini, dan posisinya sebagai wakil ketua akan menguntungkannya saat melamar pekerjaan nantinya. Baru kali ini ia betul-betul melupakan sesuatu yang akan berdampak buruk kedepannya.
Sebenarnya ia bisa menyalahkan Sehun, posisinya saja yang ketua tapi sama sekali tak membantu mengingatkan Taehyung kembali. Anggota lainnya pun sama saja. Acuh terhadap Taehyung dan enggan bersosialisasi dengannya yang pendiam. Taehyung hanya berbicara jika perlu. Bukan karena ia sombong atau apa, ia hanya lelah, kesehariannya penuh dengan rutinitas yang padat hingga ia tak ada waktu untuk sekadar bermain dan berteman dengan yang lain. Dan satu hal lagi, sebenarnya Taehyung yang ditunjuk menjadi ketua organisasi oleh para dewan karena prestasinya dan cara bicaranya yang penuh wibawa. Ia pandai menyesuaikan diri. Namun, karena Sehun adalah anak dari donatur terbesar di kampus itu, jadilah ia yang dijadikan ketuanya, dan mahasiswa/i lain pun menyetujuinya. Kenapa? Karena Sehun lebih bisa bercengkrama dengan baik ke sebagian besar anak di kampusnya. Jadi, Taehyung kalah telak.
"Ada apa ini? Sehun sunbaenim, kau bahkan tak membantu sama sekali proposal ini, begitupun yang lainnya. Jangan melimpahkan semua kesalahan pada Tae Sunbae."
Taehyung menoleh dan mendapati juniornya berjalan masuk menghampirinya. Dengan ransel yang ia jinjing ke sebelah bahunya dan tampilan yang cukup rapi, ia mendekati Taehyung dan menarik telapak tangan lelaki itu. Perlahan ia letakkan flashdisk itu di tangan Taehyung dan mengusap sudut mata Taehyung yang sedikit berair. Ia tersenyum menawan pada Taehyung dan berbisik, "Jangan takut untuk melawan, hyung. Kau selalu punya aku di belakangmu."
.
.
3 Years Later
.
.
Di sebuah bar di ujung jalan, tampak Taenyung yang sedang mabuk sembari memegangi selembar foto usang. Potret dirinya sedang berdiri bersebelahan dengan Jeongguk yang memegangi bahunya. Keduanya tampak tersenyum lebar tanpa beban. Taehyung dan Jeongguk awalnya hanya sekadar tetangga sebelah pintu apartemen murah yang ditinggalinya. Saat kali pertama ia melihat Jeongguk yang kebingungan melihat isi ruangan yang sempit di hadapannya. Jeongguk diam terpaku di depan pintu yang sudah ia buka sejak lama. Ia tertegun. Taehyung pun mendekat dan menyadarkan Jeongguk kambali. Ia ingat betul saat itu.
"Kau sepertinya salah alamat. Mungkin aku bisa membantu."
"Ah... Betulkah ini gedung X no. 5?"
Taehyung mengangguk membenarkannya. Sekali lagi ia melihat ekspresi terkejut Jeongguk. Sepertinya ia salah melihat poster apartemen dan berakhir salah sewa. Mana sudah terlanjur sewa selama satu tahun penuh. Kalau ia batalkan, uangnya tak akan kembali. Taehyung terus menatap Jeongguk yang terdiam dengan segala macam pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Kembali, Taehyung menepuk bahu itu dan sontak saja Jeongguk berjengit.
"Kau orang baru yang akan mengisi pintu ini? Salam kenal. Aku Taehyung, tetanggamu. Kau pasti tidak akan kesulitan di sini. Atmosfir di tempat ini sungguh bagus, kau harus coba berbicara dengan penghuni lain di sini."
Kali itu, Taehyung membuka suara jauh lebih banyak dari biasanya. Entah kenapa, ia hanya ingin membuat lelaki di hadapannya nyaman dan tidak merasa tertekan karena tinggal di tempat yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk Jeongguk.
Taehyung langsung tahu kalau Jeongguk ini berbeda kasta. Karena semua yang bertengger di badannya adalah barang mewah. Koper yang ia seret juga koper dengan brand mahal. Jeongguk terlalu mencolok untuk apartemen murah ini.
"Ah, menurutmu begitu? Kalau kau berkata seperti itu, baiklah, aku akan mempercayainya. Dan namaku Jeon Jeongguk. Salam kenal!"
Taehyung meratapi potret itu. Segelintir tetes air luruh dari pelupuk matanya. Ia tidak terisak, ia hanya menangis dalam diam. Riuh musik sama sekali tak dihiraukannya. Ia lebih memilih duduk menyendiri di sudut sana yang jauh dari jamahan banyak orang. Tak lama kemudian ia mengusap air matanya dan meninggalkan foto usang itu setelah sebelumnya ia mengamati lekat sosok Jeongguk di foto itu seolah mencoba memasukkannya kembali dalam memori di kepalanya.
"Jeon Jeongguk, aku membencimu."
Taehyung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia benar-benar meninggalkan foto usang itu di sana. Melupakan bahwasanya di balik foto itu ada ukiran tanda tangan miliknya dan juga tersemat banyak sekali ukiran lambang love menggunakan pulpen merah dengan aksen gliter. Ia lebih memilih menjinjing tas kerjanya dan kembali pulang ke apartemen yang saat ini jauh lebih baik daripada apartemen kecilnya dulu.
Sedang di belakang sana, ada sosok berjas dongker mengamatinya dengan foto yang sudah ia genggam. Orang itu tinggi tegap, badannya seperti model. Gaya berpakaiannya rapi dan modis. Pria itu hanya diam menatap punggung sempit Taehyung hingga menghilang dari pandangannya. Ia tersenyum sambil menatap foto yang sedari tadi digenggamnya.
"Ketemu kau, Kim Taehyung."
.
Pagi esok harinya Taehyung terbangun dengan pakaian kerja yang masih menempel di badannya. Semalam ia sempat menyesal membuang foto itu karena itu satu-satunya foto bersama Jeongguk yang ia miliki. Ia bahkan tak pernah tahu berapa nomor ponsel lelaki itu. Hingga kini, Taehyung hanya tahu menunggu dan menunggu hingga berakhir lelah. Jeongguk berbohong. Kalimat yang mengatakan bahwa ia akan selalu ada di belakangnya itu semua bohong. Taehyung sadar. Mana ada lelaki kaya macam dirinya yang tulus mengatakan hal semacam itu?
Taehyung bangkit dan beranjak untuk membersihkan dirinya. Hari ini hari Minggu. Selagi mandi ia berpikir dan memutuskan bahwa ia akan kembali ke bar semalam dan mencoba mencari foto miliknya itu. Ia hanya mau foto kenangan terakhirnya kembali. Taehyung memang orang yang seperti ini.
Tak sampai dua puluh menit ia sudah keluar. Ia memilah baju santai yang agaknya lebih condong untuk remaja usia 18 tahun daripada 26 tahun. Tapi pantas saja dipakai olehnya karena wajahnya yang awet muda. Setelah bersiap ia pun memutuskan untuk ke bar itu meskipun saat ini masih jam 10 pagi.
Sesampainya di bar itu, Taehyung langsung masuk karena ternyata barnya buka 24 jam. Ia lantas berjalan ke arah bartender dan menanyakan perihal foto yang dicarinya. Akan tetapi si bartender tak tahu menahu dan manyarankan Taehyung agar bertanya kepada pelayan di sana atau office boy langsung, namun tetap nihil. Mereka semua tidak merasa menemukan selembar foto apapun.
Taehyung gusar, ia mulai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Bagaimana kalau sampai di ambil orang? Itu pikirnya dalam hati.
Sesosok laki-laki datang menghampiri dan menyodorkan selembar foto yang setengah mati Taehyung cari di depan wajahnya. Taehyung spontan mengambilnya dan berterimakasih dengan sikap formalnya. Sedangkan respon orang itu hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Bagaimana bisa ada di tanganmu?"
" Ah, semalam aku tak sengaja melihatmu duduk di sana dan pergi begitu saja setelah meninggalkan foto ini. Kupikir lebih baik kuambil dan kembalikan besok karena sepertinya ini penting untukmu."
"Benar. Foto ini penting sekali. Untung bisa ketemu. Terimakasih, eum..."
"Kai. Namaku Kim Kai."
" Ah, ya. Sekali lagi terimakasih, Kai- ssi. Namaku Kim Taehyung."
"Sama-sama, Taehyung- ssi. Boleh aku minta nomormu? Barangkali kau butuh teman minum, aku selalu bisa menemani kapanpun. Kebetulan rumahku dekat sekali."
Taehyung tampak berpikir. Kalau dilihat dsri tampilannya, lelaki di hadapannya itu lelaki baik-baik. Tak salah 'kan kalau ia mencoba berteman sekali lagi?
"Baiklah. Bisa berikan nomormu lebih dulu? Aku akan melakukan panggilan langsung."
"Baik. Nomorku xxxxxx."
Taehyung menggeser jarinya ke arah perintah " lakukan panggilan" dan voila, mereka akhirnya bertukar nomor ponsel begitu saja. Taehyung sepertinya tak peduli tentang orang asing. Ia hanya mencoba berteman sekali lagi.
Taehyung berpamitan pada Kai, namun sebuah ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu mengejutkan Taehyung. "Siapa pria disebelahmu itu? Sepertinya dia orang yang teramat penting sehingga kau mencarinya kembali bahkan setelah kau buang semalam."
Siapa? Taehyung tentu saja bisa menjawabnya dengan lugas dan tanpa rasa apapun. Namun, Taehyung memilih menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan lalu ia menatap Kai sambil tersenyum manis.
"Menurutmu?"
Kai mendengung, ia menatap lurus Taehyung dan menjawab tanpa beban, "Kekasihmu."
Taehyung tertegun. Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk mencerna ucapan itu. Ia bahkan belum sampai tahap itu karena Jeongguk sudah lebih dulu meninggalkannya sebelum sempat menyatakan perasaannya.
"Tidak, sama sekali bukan kekasihku. Lagipula orang itu juga sama sekali tak ada rasa yang seperti itu."
"Tapi kau ada. Kau menyukai orang difoto itu. Namanya siapa? Sepertinya aku tak asing dengan wajahnya."
"Tahu apa kau, Kai- ssi. Namanya Jeon Jeonggguk."
"Jeongguk ya... Oh! Aku tahu, aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi aku lupa, Tae."
Taehyung memutar bola matanya kesal. Benar-benar lelaki ini . "Kau membual. Tidak mungkin kau pernah melihatnya sedangkan dia saja ada di Chicago sejak dua tahun lalu."
Kai melirik Taehyung dengan smirk aneh di wajahnya. Kai menarik lengan Taehyung untuk masuk ke sebuah kafe. Hal itu membuat Taehyung ingin marah karena sudah berani menyentuh dirinya.
"Sayang kalau langsung pulang 'kan? Kau pasti libur hari ini. Kita minum dulu di kafe ini ya?"
Taehyung mendesah kesal. Ia menarik tangannya dan menatap Kai sebal. "Tidak perlu memegang tanganku begitu, Kai- ssi. Aku tidak mau ada yang salah paham."
Kai melirik kanan-kiri. Namun nihil. Jalanan pagi itu masih sepi, bahkan di sana hanya terlihat mereka berdua saja. "Baiklah, maaf Tae. Tapi di sini sepi. Lihat saja."
"Sudahlah. Kau mau apa? Biar kupesankan." Tawar Taehyung yang sedang berdiri di depan display menu.
"Aku croissant satu dan americano."
Taehyung mengangguk dan menyuruh Kai untuk duduk saja lebih dahulu selagi ia memesan dan menunggu. Kai menurutinya dan memilih bangku yang jauh dari jendela agar Taehyung nyaman mengobrol dengannya.
Di lain kesempatan, seorang laki-laki berusia kisaran 28 tahun membaca sebuah pesan dan menyampaikannya pada seseorang di sampingnya yang masih berkutat dengan jam tangannya. Bibirnya merapal detik jam hingga fokusnya teralihkan saat orang di sebelahnya mulai membuka topik lain.
"Tuan muda, di sini ada gambar juga."
Lelaki itu menunjukkan layar ponselnya dan ia tersenyum. "Kirimkan foto itu ke ponselku, Yoongi hyung."
.
.
Hari ini Taehyung bekerja seperti biasa. Diawali dengan berdoa dan memasak sarapan baginya sendiri. Ia lantas meraih tas kerjanya dan berjalan ke halte bis tak jauh dari apartemennya sekarang. Ia berdiri santai sambil melirik jam tangan analognya.
Taehyung menatap lurus ke jalan di hadapannya. Tak disangka, sosok yang ditunggunya selama ini melewatinya dengan gerak yang sangat lambat. Mobil yang dikendarai lelaki itu berjalan seperti sedang diberi efek slow motion. Taehyung hampir tergugu, sebelum akhirnya ia merapalkan nama itu dengan lambat.
"Jeongguk..."
Sosok yang disebutkan namanya menoleh. Pastinya ia mendengar karena kaca mobilnya memang sedang dibuka lebar. Niat hati hanya ingin menyegarkan diri, namun ia mendapat hal yang mengejutkan. Jeongguk mendapati raut wajah Taehyung yang tak bisa dibaca. Ia menyuruh asistennya untuk menghentikan mobil. Namun, Taehyung sudah menghilang bersamaan dengan bus yang datang dari arah belakang. Jeongguk mencari sosok Taehyung di dalam bus dari dalam mobilnya. Namun, tetap saja ia tak mampu melihatnya.
"Taehyung- ie..."
Sang asisten, Min Yoongi melirik atasannya dari kaca. Ia menoleh dan bertanya, "Melihat Kim Taehyung, Tuan Muda?"
"Ya, hyung. Dia menghilang setelah bus itu datang."
"Kau mau bagaimana, Tuan Muda? Alamat lengkapnya bukankah sudah kita dapatkan sejak dua minggu lalu? Apa lagi yang Tuan Muda tunggu?"
"Aku takut dia membenciku, hyung. Kau tahu betul saat itu aku meninggalkannya begitu saja. Ia pasti membenciku. Aku hilang nyali."
Yoongi mendesah. Tuan Mudanya ini terlalu banyak pikir. Padahal ia saja bisa dengan tegas memimpin perusahaan sang ayah.
"Tuan Muda belum mencoba, bagaimana sudah pengecut begitu? Maaf, tapi semua masalah apa pun itu jenisnya hanya akan bisa lurus dengan berbicara. Kalau Tuan Muda seperti ini, tidak akan ada perkembangan apa pun."
Jeongguk diam dan merenung. Ucapan asistennya betul dan benar adanya. "Kau benar, Yoongi hyung. Lebih baik aku coba dulu. Mana tahu setelah dibicarakan nanti akan membaik. Terimakasih, hyung."
.
.
Sepekan berlalu dan Jeongguk kini berada tepat di depan pintu apartemen Taehyung. Ia berdiri dengan setelan kerjanya yang sangat formal. Dia seperti sedang ingin menghadiri meeting daripada bertemu Taehyung. Gayanya kaku sekali.
Ia perlahan menekan bel apartemen itu dan sengaja menghindari intercom di hadapannya. Ia tak mau membuat Taehyung menghindar bila mengetahui itu dirinya, orang yang sudah meninggalkan Taehyung dulu sekali.
" Nuguseyo? Kalau tidak dijawab juga aku tidak akan membuka pintu."
Pupus sudah. Jeongguk terpaksa buka suara dan mengaku dirinya adalah Jeon Jeongguk. Namun anehnya, Taehyung membuka dengan cepat pintu kamar apartemennya begitu saja, dengan tanpa menunggu lama.
"Lama tak jumpa, Tae, dan kau masih sama seperti terakhir kali aku melihatmu."
"Silahkan duduk, Tuan Muda Jeongguk."
Jeongguk tertegun. Ia menoleh dan menarik tangan Taehyung secara sponatan hingga ia terhuyung ke belakang dan berakhir sekitar 1 cm sebelum hampir menabrak dada bidang Jeongguk yang masih terbalut jas kerjanya.
"Jangan memanggilku begitu, Tae. Aku tidak suka. Kau sengaja mau mengingatkanku masa lalu?"
Aura Jeongguk berubah tiba-tiba. Ia menahan pinggang Taehyung agar tak bisa bergerak menjauh. Karena tingginya yang hampir sama, Jeongguk bisa dengan mudah mengetahui ekspresi wajah di depannya. Ketegangan yang sempat ia timbulkan perlahan menghilang saat melihat raut tak nyaman di wajah Kim Taehyung.
"Aku ke sini untuk meluruskan masalah itu. Kuharap kau mau mendengarkan agar tak ada lagi salah paham, Tae."
"Aku menunggu untuk itu. Silahkan mulai berbicara, Jeon Jeongguk- ssi."
Jeongguk melirik tajam ke arah Taehyung yang sudah sibuk meletakkan teh untuk Jeongguk dan dirinya sendiri. Jadi, ia tak sadar bila ditatap seperti itu.
Taehyung mendengar Jeongguk mendesah. Lantas ia mendesak Jeongguk untuk segera bercerita sebelum dirinya berubah pikiran. Ini sudah bukan saatnya tarik ulur. Taehyung sudah terlalu lama menunggu untuk itu.
"Saat itu, aku bukannya meninggalkan tanpa memberi bantuan, hyung. Aku hanya melihatmu saat kau tertangkap basah mencuri di rumahku bukan karena aku tak percaya padamu atau apapun itu yang ada dipikiranmu. Aku tak bisa berkutik saat ada ayahku. Alasan apapun akan percuma, yang ia tahu kaulah yang memegang benda itu jadi kaulah pencurinya."
"Aku tidak mencurinya."
"Ya, aku tahu. Aku selalu percaya pada-"
"Kau tidak membantu. Kau pergi begitu saja tanpa menoleh padaku, Jeongguk."
Jeongguk mendesah. Ya, betul. Saat itu memang salahnya karena pergi begitu saja yanpa berkata apapun. Tapi ia pergi bukan tanpa sebab. Ia mencoba mencari kebenaran di cctv. Namun, saat ia ingin menunjukkan hasilnya pada sang ayah, ia sudah terlambat. Taehyung sudah pergi keluar dari mansion megah itu.
"Aku mencari kebenarannya di cctv tapi saat aku ingin menunjukkannya pada ayahku, kau sudah pergi, semua sudah terlambat. Kali itu adalah saat terakhir aku melihatmu sebelum aku dipindahkan ke Chicago untuk menyambung kuliah di sana."
"Dari awal memang salahku. Saat itu aku terlalu percaya padamu. Seharusnya aku tetap di apartemen dan tidak mengantarmu pulang ke rumah itu. Maka, aku tidak akan merasa tersakiti seperti itu."
Jeongguk mendekat dan mencoba memeluk Taehyung. Ia juga mengusap lembut kepalanya saat dirasanya tak ada perlawanan dari Taehyung. Jeongguk terus senyum. Ia pikir ia sudah menyelesaikan masalah itu sepenuhnya. Namun, tak disangka, Taehyung menarik dirinya menjauh dan bangkit dari kursi.
"Lebih baik kau kembali, Jeongguk- ssi. Aku sudah tahu alasannya kini."
"Apa? Hyung ternyata masih marah ya. Aku harus apa agar kau tak lagi marah? Beritahu aku, Taehyung- ie."
.
.
Taehyung berpikir sangat keras, dan di saat itu juga Kai menelponnya. Hari ini hari libur, jadi ia tak masuk kerja. Pas sekali. Ia sedang butuh teman untuk menghabiskan waktu di luar. Ia bergegas memakai jaket dan syal karena hari ini dingin, maklum saja, sudah masuk musim gugur. Setelah selesai dengan penampilannya, ia pun keluar dari kamar dan beranjak ke arah kafe tak jauh jauh dari bar yang sering dikunjunginya di sekitaran area kantor.
Taehyung masuk ke dalam kafe dan di sana sudah ada Kai yang duduk menatap luar jendela. Ia pun menghampiri dan menepuk pundak lelaki itu dengan kencang hingga empunya berjengit kaget.
" Wah, Kim Taehyung. Jantungku terasa mau copot."
" Haha, kau juga kenapa melamun? Ada perempuan cantik yang lewat?"
" Hm, ada. Cantik sekali. Tapi bukan perempuan haha."
Taehyung mengernyit. Ia menatap ragu ke arah Kai dan bertanya, "Yang mana?"
" Eum, di hadapanku."
Deg. Taehyung terdiam mencerna kata-kata Kai. Jangan sampai lelaki di hadapannya menyukainya.
"Tidak, aku hanya bercanda. Haha. Kenapa tegang begitu? Jangan-jangan kau menyukaiku?"
Lega. " Hell no!"
"Oke, oke. Kau mau pesan apa, Tae? Kali ini aku yang traktir."
"Benarkah? Kalau begitu ..."
Dan Taehyung menunjuk banyak sekali camilan yang ia ingin sekali makan. Hitung-hitung di traktir dan sepertinya Kai ini orang berada, sekalian saja ia kerjai.
Kai merespon dengan biasa saja. Baginya uang segitu tak seberapa. Toh, nantinya akan diganti oleh atasannya yang sebenarnya berada di sana juga. Jadi, tidak masalah.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Kai hanya bersiul melihat meja mereka jadi penuh sekali. Padahal mereka hanya berdua. Bagaimana cara menghabiskannya?
Taehyung menunduk, mencoba membaui semua makanan yang ia pesan. Semua aromanya tampak menggugah selera. Taehyung akan kenyang pastinya sepulang dari kafe itu. Sebelum itu, ia memikirkan perkataannya sendiri dan merapal tanpa suara berulang kali. Ia ingat saat sebelumnya Jeongguk berbicara untuk kali pertama dengannya dan saat itu juga Jeongguk memohon padanya. Ia berkata "Aku harus melakukan apa?"
Di titik itu juga wajah Taehyung merah bagaikan kepiting rebus. Taehyung padahal sebenarnya hanya asal bicara saja. Ia hanya menjawab dengan satu kata tapi bermakna dalam. Kalian tahu apa yang diucapkannya? Betul sekali. Sex with me. Dan lebih mengejutkannya lagi, Jeongguk langsung menyanggupi tanpa keraguan. " Tunggu aku di tanggal 18, jangan berani menghindar atau kabur, Tae." Jeongguk memberi tenggat waktu untuk mempersiapkan diri selama satu minggu dan hari ini adalah harinya. Taehyung terngiang kata-kata Jeongguk hingga ia dengan perlahan menjadi gelisah. Dan untuk mengurangi itu, ia pun meminum apa yang sudah dipesannya tadi.
Kai sontak saja bingung melihat gelagat aneh dari Taehyung. Ia beranjak duduk di dekatnya dan sedikit menyingkap rambut Taehyung yang agak panjang kebelakang telinganya dan Taehyung gemetar dibuatnya.
"Kai- ssi!"
Taehyung berdiri dan menatap Kai dengan kesal. Nafsu makannya jadi hilang entah kemana. Lebih baik ia bergegas pulang ke apartemennya karena saat ini tubuhnya terasa tidak betul. Udara di sekitarnya terasa panas dan membuatnya berkeringat. Padahal sedang musim gugur dan ia jelas melihat angin menggerakkan daun dan ranting pohon.
Sedangkan di dalam kafe Kai tampak tenang dengan smirk yang terpatri di wajahnya. Tanpa sepengetahuan Taehyung, Kai sudah memasukkan sesuatu ke minumannya. Dan itulah alasan mengapa Taehyung bisa berkeringat dan panas di cuaca sedingin ini.
Dengan langkah tergesa, Taehyung berjalan cepat. Ia meneguk ludahnya kasar dan berjalan setengah berlari. Ini ia lakukan guna meminimalisir rasa aneh pada tubuhnya. Barangkali saja ia bisa lebih baik setelahnya. Namun, nihil. Tak ada hasil apapun. Yang ada ia menjadi lelah dan itu memperburuk keadaannya karena napasnya menjadi pendek.
Sesampainya di apartemen, Taehyung langsung minum dan membuka dua kancing bajunya. Ia menyalakan ac dan kipas secara bersamaan. Sebelumnya tak lupa ia buka ikat pinggangnya dan menyamankan diri di atas sofa. Tanpa tahu kalau Jeongguk sudah ada di sana untuk waktu yang cukup lama.
Saat membuka mata, Taehyung terkejut. Ia melihat jelas Jeongguk berdiri di depan pintu dengan ekspresi tak bisa dibaca. Ia tenang namun matanya menatap Taehyung dengan intens. Membuat Taehyung terperanjat dan berusaha mengancingi kembali bajunya.
Belum sempat mengancing, Jeongguk melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup sempurna di belakangnya dan mendekati Taehyung yang saat ini semakin bingung. Ia berbisik lirih di telinga si sunbae, "Jangan Tae. Posemu saat ini membuatku turn on."
Deg. Ucapan Jeongguk membuat bulu romanya berdiri. Lantas ia pun menggeser tubuhnya ke belakang dan whops, ia malah berakhir terlentang di atas sofa dengan baju yang sedikit tersingkap di bagian atasnya. Mukanya pun sudah merah padam, di tambah peluh dan deru napas yang masih terengah itu.
"Kau seksi sekali, Tae. Aku ingin menjamahmu. Saat ini juga... Di atas sofa kecil ini, akan kubuat kau merasakan betapa besarnya kenikmatan dunia."
Jeongguk menjatuhkan kakinya di atas sofa, di atas tubuh Taehyung. Ia mengurungnya dalam posisi yang pintar. Taehyung hanya diam memandangi paras Jeongguk yang jauh lebih tampan dan jantan. Tak ada niatan untuk kabur meski ia tahu akan berakhir seperti apa sore hari itu.
"Kim Taehyung, aku benar-benar menyesal. Aku menunggu waktu di mana aku bisa berani memanggilmu, mendatangimu seperti ini. Tae, maafkan aku untuk kesalahpahaman yang kubuat waktu itu."
Taehyung mendengarkan namun tak berniat sama sekali menjawab. Baginya kini hanyalah bukti bukan sekadar janji. Karena janji dari mulut bisa ingkar kapan saja. Beda hal dengan perbuatan. Cukup tunjukkan dan buktikan. Sekalipun tanpa bicara, ia pasti akan tahu.
Taehyung menarik kerah kemeja Jeongguk agar semakin dekat. Jemari nakalnya membuka satu persatu kancing itu hingga tak ada yang tersisa. Ia menurunkan kemeja Jeongguk perlahan. Jemarinya menyusuri indahnya otot bisep itu. Seulas senyum hadir di wajahnya, membuat libido Jeongguk tiba-tiba saja memuncak.
Jeongguk menyentuh dagu Taehyung teramat lembut, ditatapnya pasang hazel itu hingga tanpa sadar bibirnya telah bertemu dengan milik Taehyung. Sapuan lembut bibirnya seolah menuntut lebih. Kini Jeongguk memaksa rentetan gigi itu agar terbuka guna memberinya akses lebih. Jemarinya pun mulai menyusup masuk ke dalam kemeja hitam yang dikenakan Taehyung.
" Eungh..."
Sebuah lenguhan lirih mengalun dari belah bibir Taehyung. Ia merasakan hawa tubuhnya semakin panas dan membuatnya menggeliat tak tentu arah. Ia merasa geli dan aneh dalam satu sensasi rasa. Namun, ia menyukainya.
Jeongguk paham bila Taehyung menginginkan dirinya lebih dari apapun. Saat dua kutub selatan mereka tak sengaja bergesekan, Jeongguk menggeram tertahan. Ia mengeratkan gigi gerahamnya. Sebelah tangannya ia susupkan ke dalam celana Taehyung sedangkan sebelah lagi ia gunakan untuk memilin puting sebesar biji kacang hijau itu. Ia menikmati erangan demi erangan yang keluar mulut Taehyung begitupula dengan ekspresi seksinya.
Jeongguk tak sabar, bagian selatannya berkedut dan sesak sekali. Ia pun membuka kancing serta menurunkan ritsletingnya juga menarik paksa kemeja Taehyung agar kancingnya terlepas semua dengan maksud melihat tubuh topless Taehyung. Ia rasa kini sudah adil. Mereka berdua sudah sama-sama bertelanjang dada.
Jeongguk mendekat ke arah dada Taehyung yang bergemuruh. Ia menarik sudut bibirnya dan mengecup ujung puting milik Taehyung hingga membuat si empu terkejut. Dengan hati-hati ia menjulurkan lidahnya ke arah sana dan sekali lagi Taehyung terkejut. Kali ketiga saat Jeongguk menjilati serta mengulum dengan tempo yang sengaja ia naik turunkan, Taehyung menggelinjang hingga hampir jatuh dari sofa. Lantas Jeongguk menggendong Taehyung dan merebahkannya kembali di atas kasur empuknya.
"Jeongguk-ah, aku ini apa? Kau menganggapku siapa, hm?"
Tiba-tiba saja Taehyung bertanya. Jeongguk terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Kalau ia mengatakan ia mencintai Taehyung apakah Taehyung akan mencintainya juga? Atau malah ia akan balik ditinggalkan?
"Aku? Tentu saja aku orang yang selalu ada di belakangmu, Tae."
"Berhenti Jeongguk, aku bukan anak kecil yang bisa terima jawaban seperti itu."
Masih dengan lengan yang ia kalungkan di leher Jeongguk. Ia kembali bertanya, "Sekali lagi. Aku ini siapamu, Jeongguk?"
"Tentu saja aku teman favoritmu, Tae."
"Hanya teman? Kau tak berpikir lebih?"
Hening. Taehyung mendorong dada bidang Jeongguk dengan lembut dan memilih duduk di tepian kasur. Ia mengenggam erat kayu tepian kasur dan sama sekali tak berniat menhadap ke arah Jeongguk.
"Tiba-tiba aku mengantuk, Jeon. Kumohon pulanglah."
Jeongguk menatap punggung itu dari belakang. Ia beranjak mendekatinya dan mencoba memeluknya. Taehyung tak menolak sama sekali. Ia terlihat lelah. Saat itu Jeongguk merasa bahu Taehyung bergetar dan isak tangisnya mengalun lirih. Jeongguk panik. Ia memeluk Taehyung lebih erat dan mengusap punggungnya perlahan.
"Aku menunggumu sekian lama, Jeon. Hiks, tidak bisakah kau jujur padaku? Apa benar kita hanya bisa berteman saja? Hik, aku... aku menyedihkan sekali, hiks."
"A- aku juga menantimu Tae. Maaf kalau aku salah bicara. Aku tak mau kau salah paham dan malah berbalik akan meninggalkanku kalau aku berkata aku mencintaimu."
Tehyung berhenti menangis. Matanya mengarah tepat ke dalam mata lelaki itu.
"Apa? Kau bilang apa, Jeon?"
"Aku mencintaimu Tae, sejak lama. Aku selalu ada saat kau butuh, karena aku ingin kau melihatku berbeda."
"Jadi? Kita ini apa, Jeongguk?"
Jeongguk menatap lamat-lamat wajah Taehyung. Mata itu memang merindukan dirinya. Ia tak sadar ternyata rasa pengecutnya sudah membawa lelaki di hadapannya sangat menderita.
"Aku sudah pantas untukmu bukan? Aku punya kerja dengan gaji lumayan. Aku tinggal di apartemen besarku sendiri. Katakan Jeon, bisakah sekarang aku datang dan bersanding denganmu?"
"Aku tak memandang dirimu setara denganku atau tidak, Tae. Aku hanya mencintaimu, sedari dulu. Aku ingin mengatakannya sebelum pergi ke Chicago, namun semua terlambat. Tae, kali ini, beri aku kesempatan juga untuk bisa ada di sisimu."
Taehyung menangis sejadi-jadinya di tengah keheningan senja. Ia memeluk Jeongguk erat seakan tak mau lepas. Jeongguk melepaskan pelukan itu dan merebahkan kembali Taehyung di atas kasur. Keduanya sama-sama tersenyum tipis. Taehyung percaya, Jeongguk tidak bermain kata. Ia menarik wajah Jeongguk agar mendekat dan mereka pun kembali berciuman lagi. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Jeongguk mengerti, ia juga tak mau dikalahkan oleh submissive nakalnya ini. Ia berinisiatif, ditekuklah kakinya dan mulai menggesekkannya ke selatan Taehyung dan dia pun mendesah karena terkejut.
"Kau curang, Jeongguk- ie. Aku lebih tua. Jadi, berikan aku ruang lebih besar."
" Big no, Tae. Meski kau menang dari segi umur, kau tetap submissive ku. Dan aku yang akan punya ruang lebih besar karena aku dominanya di sini."
Taehyung merengut. Ia tak terima dengan ucapan itu dan Jeongguk melihat raut kesalnya. Sontak ia terkekeh dan berkata, "Tapi kali ini kau boleh ada di atas ku, Tae. Agar kau tak sakit saat pertama kali melakukannya."
Wajah Taehyung merah padam. Ia menyahut dengan lantang dalam kegugupannya, "Si-siapa bilang ini pertama kali bagiku? A-aku sudah pernah melakukannya dengan orang lain!"
" Hm, oh ya? Siapa? Biar kutanyakan langsung dan kusekap mereka semua karena sudah menjamahmu lebih dulu."
" A-ah, tidak usah! Kau tak akan kenal juga. Lupakan!"
" He? Bilang saja kalau kau bohong, TaeTae hyung. Kau hanya gengsi, 'kan? Jujur saja sayang dan aku pun akan jujur padamu."
Taehyung termakan ucapan itu. Ia pun ingin tahu bagaimana kehidupan seksual lelaki itu selama ini. Dan akhirnya ia mengangguk membenarkan ucapan Jeongguk.
"Ya, aku bohong, Jeon. Bagaimana denganmu?"
"Benarkan, aku tahu dirimu Tae. Lalu aku pun sama. Kalau aku ingin sex ya biasanya aku hanya onani sambil memandangi fotomu. Mesum sekali ya? Haha."
Taehyung mengedikkan bahunya acuh. Onani itu wajar untuk pria dewasa seperti dirinya. Jadi, Taehyung tak terlalu mempermasalahkannya. Ia mengabaikan ucapan Jeongguk dan perlahan membalikkan posisi. Sekarang, ia berada di atas Jeongguk. Tangannya membuka ritsleting celana Jeongguk dan mengelusnya perlahan dari luar.
Jeongguk mendesah lirih. Ia melihat Taehyung merangkak turun ke sana. Tak lama dari itu, ia sudah merasakan bagian selatannya basah dan semakin membengkak akibat ulah Taehyung. Jeongguk takjub, ini kali pertama untuk Taehyung tapi sudah seberani ini.
" Argh, kau nakal Tae. Darimana kau mem- ah-mempelajarinya? Eumh..."
Taehyung menghisap kuat dan melepaskannya begitu saja, membuat Jeongguk ingin cepat-cepat memukul bokong sintal itu dan menghujaninya banyak sekali cinta.
"Aku hanya melihat sekali film blue yang direkomendasikan temanku, dan sepertinya memang berhasil ya... Dan, eum, Jeongguk, aku tak tahu kenapa, tapi aku merasa semakin panas. Bisakah kau membantuku?"
" Hm? Kau mau kita masuk ke intinya saja? Kemarilah. Buka celanamu, Taehyung- ie."
Taehyung bergerak perlahan. Ia tampak ragu dengan hal ini. Sekali lagi, ia tatap Jeongguk dan mendapatkan sebuah anggukan serta senyuman yang meyakinkan dirinya untuk tidak perlu takut. Dan, ya, Taehyung pun menurunkan celananya sambil menutup matanya erat.
Jeongguk bangkit dan mengangkat badan ringan Taehyung ke atas badannya, lebih tepatnya di atas kebanggaanya. Ia menyuruh Taehyung untuk jongkok dan Taehyung pun menurutinya. Jeongguk memposisikan kejantanannya tepat di bawah kenikmatan duniawi milik Taehyung. Ia menyuruh Taehyung membuka mata dan melihat ke arahnya saja sementara ia sedang berusaha memasukkan pelan-pelan kejantanannya dan Taehyung menggigit kuat bibir bawahnya hingga airmatanya menetes.
"Jangan gigit bibirmu, Tae. Kau ingin aku hentikan saja? Aku tak suka melihatmu kesakitan begitu."
Taehyung membuka matanya dan melepas gigitannya. Ia menggeleng, menolak untuk berhenti. Ia malah nekat memasukkannya sekali hentak, sakit sekali rasanya. Seperti terbelah dua. Membuat Jeongguk panik bukan main.
" Hey! Apa-"
"Lanjutkan saja, Jeongguk- ie hhh..."
Melihat Taehyung yang sudah kepalang nekat, tak mungkin ia hentikan. Jadilah ia membalikkan posisi dan mulai menggenjot Taehyung perlahan. Ia mencoba agar Taehyung merasa terbiasa dahulu dengan junior miliknya.
"Sakit tidak, Tae?"
" Emh, sedikit hhh, tidak apa, lanjutkan saja Kookie aahhh sshhh... Aku suka sekali rasanya, terus saja begini ..."
"Kupercepat boleh, Tae?"
Taehyung merespon dengan dengungan. Jeongguk menegakkan tubuhnya dan mulai menggenjot Taehyung membabi buta. Sebelah kaki Taehyung ia naikkan ke atas bahunya. Tangannya tentu saja tak diam. Ia menampar keras bokong sintal Taehyung dan mengocok juniornya dengan tempo naik turun. Terus begitu hingga Taehyung merasa frustasi. Pada saat Taehyung ingin mencapai puncaknya , Jeongguk berhenti dan menarik juniornya keluar. Ia merasakan kedutan pada junior Taehyung melambat dan tatapan mematikannya seolah menelanjanginya. Jeongguk tersenyum dan berkata, "Tidak secepat itu, TaeTae hyung. Jangan keluar lebih dulu dari aku, oke?"
Jeongguk menekuk kedua kaki Taehyung dan kembali memasukkan juniornya ke dalam lubang itu. Masih terasa sempit dan mencengkram. Ia memaju mundurkan pinggulnya perlahan. Ia menikmati netul ekspresi Taehyung di bawah sana. Dengan peluh bercucuran dan rambut setengah basah serta mulut yang setengah terbuka dengan diiringi desah halus, Taehyung amat sangat seksi dan Jeon Jeongguk harus mengakui itu berkali-kali.
"Jeong-guk ahhh jangan hh jangan mempermainkanku. Percepat temponya- argh!"
" Hng? Belum Taehyungie, aku maaih lama. Kau mau tetap begini atau mau berubah posisi? Menungging mungkin? Siapa tahu aku bisa jauh lebih cepat keluar dan kau bisa cepat istirahat."
" Ugh, aku akan menungging. Minggir dulu."
Taehyung malu sebenarnya tapi apa boleh buat, agar Jeongguk cepat orgasme ia harus menungging. Ia harap Jeongguk cepat keluar karena dirinya tak kuat lagi.
"Lebarkan kakimu sayang agar aku bisa melihat hole mu dengan jelas."
Jeongguk membungkuk dan mengendus paha Taehyung hinga ke bongkahan membal itu. Jeongguk menjilat sedikit dan membuat kissmark di bokong mulusnya. Taehyung bergetar lagi, ini kesekian kalinya precum itu keluar.
"Cukup hh , ayo mulai saja Jeongguk aaahhh."
"Baiklah, baiklah, gongju-nim."
Jeongguk memposisikan kembali tubuhnya dan tanpa basa basi ia memasukkan kebanggannya ke hole itu. Ia genjot lagi dengan tempo lebih cepat dan juga kasar, membuat Taehyung mendesah tak henti.
" Aahhhh Jeongguk aaahh lebih hh lebih cepat, sayang."
Jeongguk tersenyum. Ia menampar bokong Taehyung secara bergantian dan melihat Taehyung yang seksi sekali dari posisi begini. Ia lantas menjadi panas dan merasa akan orgasme.
" Call my name, Tae... Ngh..."
" Ahhnn Jeon hh Jeongguk sshhh aahhh"
" Just-my-name- Tae ahh..."
Taehyung mengumpulkan napasnya dan berteriak lantang, "Jeon Jeongguk!"
.
#Side Story#
Pagi ini ponsel Taehyung membangunkan Jeongguk. Dengan sebal ia meraih dan menggeser ponsel itu dah terdengar sebuah suara dari line telpon di seberang sana. Ternyata si penelpon adalah HRD di kantornya, ia menanyakan keberadaan Taehyung yang sampai jam 10 pagi ini tak ada kabar. Karena biasanya Taehyung itu selalu datang pagi, ia jadi khawatir karena hari ini Taehyung mendadak tak ada kabar.
"Iya, kurasa Taehyung tidak bisa masuk ke kantor hari ini. Ia sedang tak enak badan, dan itulah kenapa aku yang mengangkatnya."
Jeongguk menjawab dengan lugas. Ia mendengar HRD itu mengucapkan cepat sembuh untuk Taejyung dan istirahat yang banyak sebelum mengakhiri oanggilan itu.
Jeongguk menoleh ke arah Taehyung uang masih saja pulas. Wajahnya damai sekali, Jeongguk jadi tak tahan untuk mencium bibirnya yang menggoda iman.
" Eungh..."
Taehyung membuka mata dan mengecup pipi Jeongguk dengan cepat. Ia berkata "Aku ingin seharian di rumah, Jeongguk- ah."
Jeongguk menganguk dan memeluk Taehyung lagi. Ia mengusap surai lembut lelaki di rengkuhannya dengan sayang. Ia juga mengecupnya beberapa kali.
" Oh, Tae, aku harus keluar sebentar. Aku harus menyerahkan beberapa dokumen yang ada di mobil pada asistenku di bawah. Baru saja ia mengirimiku pesan."
Taehyung menatap ragu lalu perlahan ia mengijinkan Jeongguk keluar tapi tidak lebih dari tiga puluh menit.
Sementara di bawah, sudah ada Yoongi dan seorang yang tak asing lagi. Kim Kai. Ya, pria itu adalah asisten Jeongguk juga namun tampak jarang terlihat bersama dengannya karena Kai mengurus lebih banyak pekerjaan di lapangan ketimbang dalam kantor.
"Kau meletakkan obat apa kemarin, Kai?"
Kai memutar bola matanya jengah. Dengan tangan yang ditekuk dua di pinggang, ia melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Jeongguk terbelalak kaget. Seketika saja ia menarik kerah baju Kai dengan kasar.
" Wow, easy bos. Aku melakukan itu agar semuanya berjalan lancar. See?"
Jeongguk melirik Yoongi yang menggelengkan kepala dan Jeongguk pun melepaskan cengkramannya perlahan.
"Tapi dosisnya tinggi. Kau lelaki yang berisiko, Kai."
"Betul, itu sebabnya kau menempatkan aku di lapangan, bos."
"Sudahlah. Bagaimana pun juga, terimakasih, Kai. Aku akan menambahkan bonus di gajimu selanjutnya. Yoongi hyung, tolong catat itu."
"Baik, Tuan Muda."
"Kalau begitu, aku akan ke atas lagi. Kalian pergilah, tolong urus urusan kantor selagi kalian masih bisa tangani selagi. Aku mempercayakannya pada kalian. Dan, jangan ganggu aku hari ini."
Yoongi dan Kai memberi hormat sengan cara yang berbeda. Setelah melihat punggung Jeongguk menjauh mereka berdua pergi dengan mobil masing-masing dan ke arah yang berlawanan.
Dan cerita berakhir di sini.
.
.
.
The End
.
.
.
