"Hei ayo lah…. Mau sampai kapan kamu manyun, hm?"
Remaja yang kini membelakanginya sambil duduk mengutak-atik komputer di atas mejanya masih tidak menggubris. Sudah lebih dari 3 kali balikan Mashiho ke kamar adiknya itu. Mulai dari menyogoknya dengan makanan kesukaannya, mentraktir nonton, termasuk bersedia memberikan koleksi CD bertanda tangan yang dimiliki, hanya agar minimal dia berbalik badan.
"Hi-kun~~" panggilnya untuk yang entah ke berapa kali di malam ini.
Digoyang-goyangkan bahu Hi-kun, nama kecilnya di rumah, tetapi dia masih manyun. Ah, apa manyun kata yang tepat? Atau ngambek? Karena si robot bernama depan Asahi itu sebetulnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Datar.
Namun Mashiho yakin dia masih sebal pada si kakak. Tahu dari mana? Dari bibir yang mengatup tipis dan lebih maju 0,5 cm. Sedetail itu. Apalagi saat Mashiho mendekatkan wajahnya ke wajah si adik, berniat menggoda malah berakibat cubitan ganas di lengan.
"Aw, jahatnya adikku ini…" ucap Mashiho sambil mengelus lengannya.
Asahi memang seperti ini. Tidak banyak bicara, adanya banyak aksi. Contohnya cubitan barusan dan lain-lain yang akan diceritakan kemudian.
Tentu saja Mashiho bercanda waktu berkata adiknya jahat karena mungkin justru dialah yang sebetulnya jahat. Mashiho tersenyum kecut sambil menatap sisi kiri wajah adiknya. Iya, bibirnya masih maju 0,5 cm.
Remaja yang hendak berusia 17 tahun itu mendesah, lalu mengacak sekilas rambut Asahi. Masih agak kasar, gara-gara sering bereksperimen dengan cat warna rambut padahal sebentar lagi dia akan menjadi senior di sekolah menengah pertama.
"Aku tunggu di bawah, oke? Keburu makan malammu dingin," ucap Mashiho sambil beranjak keluar dari kamar Asahi yang berpenerangan kekuningan. "Dan segera cat rambutmu itu. Kamu tidak mau dikatai kakek-kakek saat sekolah nanti kan?"
Pintu kamar ditutup pelan. Warna rambut Asahi yang sekarang putih. Cocok dengan wajahnya yang tampan, sih… tetapi tidak untuk ke sekolah, kan? Cari masalah dengan guru namanya. Sebelumnya merah terang, sebelumnya lagi hijau, ungu, ah… lupa lagi saking seringnya berganti. Berbeda dengan Mashiho si anak baik-baik yang belum pernah mengecat rambutnya, paling potong rambut, itu pun oleh ayah mereka.
Sepeninggalnya si kakak, Asahi mengulur waktu dengan mengutak-atik ponselnya. Hanya membaca sekilas chat-chat lama, kebanyakan dengan sahabat dunia mayanya ber-penname 'Hyukk13'.
"Dasar aniki jelek, pendek, jahat."
Asahi bukan tipe yang bisa berbicara kasar, di depan atau di belakang. Namun merutuk pelan, saat sendirian, apalagi diperuntukkan pada Mashiho yang sangat sangat sangat ia sayangi, rasanya bukan sebuah dosa. Apalagi atas apa yang akan sang kakak lakukan pada keluarganya.
Meninggalkan mereka.
Itu sebabnya akhir-akhir ini Asahi agak malas berkomunikasi dengan Mashiho. Apalagi ketika dipanggil untuk makan malam bersama sekeluarga, yang artinya satu hari lagi berkurang dari sisa kebersamaan mereka.
Bangkit dari kursi setelah mematikan komputer, Asahi berjalan turun, menyusul Kaa-san, Tou-san, Aniki, yang menunggunya di ruang makan.
.
.
.
-###-
.
.
.
.
.
Aloha… super lama ga nulis. Berapa tahun ya? Maaf kalau ada typo atau keanehan lainnya.
Kali ini akan coba bawa ff Treasure, boyband yang akhir2 ini sedang sy suka. No shoai apalagi yaoi di ff ini, walau mungkin hints ga bisa dihindari.
Tiap chapter sepertinya akan sedikit2, supaya bisa rajin diupdate. Semoga ga terbengkalai seperti bbrp multchap sy lainnya yg sebagian besar sudah dihapus.
Semoga suka. Jangan lupa comment, vote, dll. Oh ya, ff ini di upload di AO3 & wattpad dengan judul yang sama. Terima kasih & CU!
