Hinata memandang kertas pendaftaran klub yang baru saja dibagikan wali kelasnya. Pilihan klub yang dimiliki SMA Karasuno banyak sekali. Beberapa klub olahraganya masih standar, semisal basket, voli, tenis, baseball, karate, judo dan renang. Klub lain seperti klub sains dan sastra-jurnalistik tampaknya membosankan. Di kolom klub seni, hanya ada dua pilihan: seni rupa dan desain serta musik kreatif.
"Kalau ada yang ingin kalian tanyakan, silahkan." Seru si wali kelas. Begitu melihat sebuah tangan terangkat, beliau menoleh. "Ya, Hinata?"
"Sensei! Musik kreatif itu ekskul apa?"
"Oh, itu ekskul musik kontemporer. Kegiatannya seperti paduan suara. Aku sendiri kurang paham dengan apa yang mereka lakukan. Tapi klub itu terbilang aktif. Mereka banyak punya agenda latihan di luar sekolah dan kegiatan lomba." Jawab si wali kelas.
Karena namanya menarik, Hinata tanpa pikir panjang mendaftarkan diri. Ia memang lumayan suka mendengarkan musik. Mempelajarinya lebih lanjut bukankah jauh lebih menyenangkan?
Fajrikyoya, proudly present:
Forte Fortississimo
Rate: T
Pair: Various.
Disclaimer: Haikyuu Furudate-sensei. This fanfic is purely made for amusement.
Warning: AU! School life. Semua karakter dibuat bersekolah di Karasuno. Tidak berhubungan sama voli-volian. OOC sudah jelas. Genderswap terjadi pada beberapa tokoh atas keinginan laknat author. Crackpair(s). Typo(s). Abal. Alay. Nggak jelas. Humor melempem. Roman receh jayus anyep. Songfic karena tema ceritanya adalah musik paduan suara. Lagunya bakal campur-campur, tergantung mood author dan kesesuaian dalam jalur cerita. Tidak mengikuti Kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Terdapat banyak istilah tidak familiar yang mungkin saja disalah-artikan secara tidak sengaja. Dapat menyebabkan muak, kesal, emosi naik turun, gemas virtual dan baper berkepanjangan. Membaca lebih lanjut diluar tanggung jawab author. Beberapa plot yang tertera dan kejadian yang dialami beberapa karakter terutama Hinata dalam fanfic ini based on author real experiences when joined choir at college life.
Berbeda dengan klub lain yang mengizinkan anak-anak lain bergabung tanpa syarat, klub musik kreatif (juga lebih akrab disebut mukre) mengharuskan calon anggotanya mengikuti audisi. Tujuannya, untuk menentukan warna dan jenis suara supaya lebih mudah diolah. Hal ini juga dimaksudkan agar para senior tahu sejauh mana kemampuan musik si calon pendaftar. Musik kreatif lebih mengutamakan suara manusia dalam bentuk paduan suara, acapella, grup vokal dan beatbox. Ada beberapa anggota yang bisa memainkan alat musik, namun hal ini bukanlah sebuah kewajiban.
Hinata duduk di aula ruang musik bersama anak kelas satu lainnya seusai pulang sekolah. Dari 8 pendaftar yang datang hari ini, 3 diantaranya laki-laki. Salah satunya tinggi besar dengan raut wajah masam. Yang satu tinggi juga, gadis berkacamata dengan rambut ikal sepunggung. Yang satu merupakan Shibayama Yuuki, yang sudah diajak kenalan oleh Hinata sebelumnya. Kedua gadis itu langsung akrab secara instan. Shibayama juga mengemukakan bahwa ia ingin gabung di klub mukre karena ingin belajar musik.
"Halo, selamat siang anak-anak kelas 1!"
"Tahun ini sedikit banget. Angkatanmu nggak berjuang keras, ya."
"Bokkun, jangan bilang begitu dong!"
Para anak-anak kelas 1 itu menoleh begitu pintu terbuka. Hinata terperangah melihat anggota yang masuk ke aula ruang musik. Para senpai kelas 2 dan 3 mulai masuk bergantian. Mereka mengenakkan kaus berwarna yang tampaknya seragam ekskul. Ada seorang anak kelas 3 yang terlihat lebih mirip atlet binaraga dibanding penyanyi. Ada juga siswa tinggi dengan gaya rambut undercut pirang yang mengedip genit ke kumpulan anak kelas 1 yang mayoritas perempuan. Dan seorang lagi adalah gadis berambut coklat bergelombang.
"Ushiwaka-chan, mukamu dikontrol." Goda Oikawa. "Tuh lihat, anak-anak kelas 1 pada pucat lihat wajahmu."
"Kau sendiri kelihatan seperti ratu iblis." balas Ushijima dengan nada datar.
"Eh, enak aja. Ratu iblis itu tetap Morisuke-paisen, tahu!" Seorang senpai dengan rambut bermodel pirang undercut membalas. "Tooru-paisen kan bidadari."
"Bidadari neraka tapi, kan?" Seorang senpai berambut coklat belah pinggir menimpali. "Atau bidadari jatuh, tapi jatuhnya di akhir jaman!"
"Dajjal, dong?"Sahut seorang senpai kelas tiga berambut mirip pantat bebek, yang terbahak mendengar julukan tersebut.
"Niro-chan sama Tecchan mendingan diam aja, deh. Dasar pria-pria kurang perhatian." balas si gadis berambut ikal bergelombang.
"Minna," seorang kakak kelas berambut kelabu tebal dengan mata besar bermanik ambar menyela. Suaranya yang lembut dan formal sukses membungkam para kakak kelas paduan suara tersebut dalam keheningan mencekam yang terpatri jelas di wajah mereka. "Perkenalan dulu. Dimana adab kalian tiba-tiba bertengkar di depan anak baru?"
"Su-Sumimasen, Kita-senpai." Jawab mereka serempak.
"Silahkan, Bokuto."
Si senpai yang bernama Kita mundur selangkah, membiarkan cowok berambut abu-abu jabrik yang diketahui bernama Bokuto Kotaro memberikan kata pengantar. Bokuto adalah ketua paduan suara SMA Karasuno, yang mana ekskul ini menamai diri mereka Werewolf Heartstring. Selain berlatih paduan suara, mereka juga berlatih paduan musik kreatif seperti beatbox dan acapella. Setiap anak akan diaudisi untuk menyeleksi jenis suara mereka. Bagi anak yang tertarik dengan beatbox, mereka memiliki latihan khusus untuk para werewolf (sebutan untuk anak mukre yang bisa bernyanyi juga bisa beatbox).
"Lalu, di sini suara kalian dibagi menjadi 7 kelompok. Untuk yang cowok, ada bass, bass-baritone, tenor dan countertenor. Sementara untuk yang cewek ada sopran, mezzo-sopran sama alto." Bokuto menutup sambutannya dengan kedua tangan terentang lebar, memberikan gestur menyambut. "Aku Bokuto Kotaro, dari kelas 3-2. Jenis suaraku countertenor. Boleh mulai perkenalannya, kakak-kakak sekalian?"
Ushijima maju selangkah. "Ushijima Wakatoshi. Kelas 3-2. Jenis suara, bass."
"Iwaizumi Hajime. Kelas 3-2. Jenis suara, bass. Werewolf."
"Sawamura Daichi. Kelas 3-4. Jenis suara, bass. Werewolf."
"Kuroo Tetsurou. Kelas 3-5. Jenis suara, bass-baritone."
"Kita Shinsuke. Kelas 3-5. Jenis suara, bass-baritone. Conductor."
"Yaku Morisuke. Kelas 3-5. Jenis suara, mezzo sopran. Wakil ketua. Werewolf."
"Oikawa Tooru. Kelas 3-1. Jenis suara, sopran. Conductor."
Seorang gadis berambut kelabu panjang yang terlihat cantik dan lembut menjadi barisan terakhir angkatan kelas 3. "Sugawara Koushi. Kelas 3-4. Jenis suara, sopran. Sekretaris."
Lepas tepuk tangan, deretan anak kelas 2 memulai sesi perkenalan mereka.
"Sakusa Kiyoomi. Kelas 2-5. Jenis suara, tenor. Werewolf. Bendahara."
"Miya Atsumu. Kelas 2-1. Jenis suara, tenor. Werewolf. Conductor."
"Futakuchi Kenji. Kelas 2-1. Jenis suara, tenor. Werewolf."
"Hoshiumi Korai. Kelas 2-1. Jenis suara, countertenor. Conductor."
"Akaashi Keiji. Kelas 2-5. Jenis suara, Alto."
"Kozume Kenma. Kelas 2-3. Jenis suara, sopran. Werewolf."
"Shirabu Kenjiro. Kelas 2-5. Jenis suara, sopran."
Bokuto memberikan tepukan penuh semangat sebagai penutup. "Nah, sekarang giliran anak kelas satunya. Dimulai dari kau, ya!"
"Senpai, mau siapa yang mengaudisi?" tanya Oikawa menginterupsi.
"Kita-senpai aja." jawab Atsumu tiba-tiba.
"Aku lagi." Kita mengeluh.
"Ayolah, Kita-san. Adik-adik kita yang manis nungguin, lho." bujuk Atsumu.
Melalui undian, Hinata mendapat giliran terakhir. Mereka berdelapan berdiri di hadapan para senpai, dirintangi sebuah keyboard. Kita duduk di depan piano dan memainkan sebuah nada, memberi pemanasan pada jemari dan telinganya sebelum menatap peserta pertama. "Siapa namamu?"
"Namaku Shibayama Yuuki. Kelas 1-3." Shibayama memperkenalkan dirinya.
"Shibayama, dengarkan alunan pianonya baik-baik. Lalu coba nyanyikan nadanya sesuai bunyi piano. Aku akan memandumu juga." Jemari ramping Kita menari di tuts piano dan memperdengarkan ketukan nada yang sistematis. "Do, re, mi, fa, sol, la, si, do..."
"Do, re, mi, fa, sol, la, si, do..." Shibayama berusaha mengimbangi nyanyian dan permainan piano Kita.
Kita mengangguk. "Coba nyanyi satu bait lagu bebas."
"Mau nyanyi lagu apa?" tanya Bokuto.
"Lapis Lazuli, dari Eir Aoi."
"Oke, start."
Kita memainkan intronya sejenak dan memberi kode bahwa Shibayama bisa mulai menyanyi.
[Yozora o mau aoki mikazuki
Mabyui sekai wa kumo o koe
Ima kanaderu tabidachi o
Negai wa kanata e nagareyuku]
"Oke, cukup." Oikawa menghentikan nyanyian Shibayama. "Mezzo-sopran."
"Uuuuuuu~~" Bokuto bertepuk tangan. "Next, next!"
"Tsukishima Kei. Kelas 1-4." Si cewek tinggi berkacamata itu menyambut gilirannya.
Lepas Tsukishima mengikuti alunan nada dari permainan piano Kita, Oikawa maju menghadapi Tsukishima.
"Mau nyanyi lagu apa?" tanya Oikawa.
"Yellow Flicker Beat dari Lorde."
"Oh, oke. Start."
Kali ini, Kita memberikan suara humming beriringan dengan dentingan nada yang dimainkannya. Tsukishima melantunkan nada yang sama sebagai intro baginya.
[I'm a princess cut from marble, smoother than a storm
And the scars that mark my body, they're silver and gold
My blood is a flood of rubies, precious stones
It keeps my veins hot, the fires find a home in me
I move through town, I'm quiet like a fire
And my necklace is of opal, I tie it and untie it
And our people talk to me, but nothing ever hits
So people talk to me, and all the voices just burn holes]
Atsumu menepuk pundak Oikawa. Gadis itu menoleh. Mereka berbisik-bisik sejenak dan Atsumu merunduk, berbisik juga pada Kita.
"Bisa lebih rendah lagi, nggak?" kata Atsumu. Ia mencondongkan badannya dan memainkan beberapa nada di piano. Masih di lagu yang sama, namun di bagian yang belum dinyanyikan Tsukishima.
[And this is the red, orange, yellow flicker beat]
"Ikutin nadanya Tsum-tsum." Bokuto berbisik memberi instruksi.
Tsukishima mengangguk.
[And this is the red, orange, yellow flicker beat-beat-beat-beat]
Hinata terperangah. Suara Tsukishima merendah, melantunkan nada yang sukses membuatnya merinding. Kita, Oikawa, Bokuto dan Atsumu saling berpandangan dan mereka mengangguk setuju.
"Alto." Kata Atsumu sambil mengangguk yakin.
"Akaashi, akhirnya solo karirmu berakhir!" seru Bokuto.
Si kakak kelas yang bernama Akaashi memberi gestur mengucap syukur.
"Yes! Akhirnya punya alto lagi!" seru Oikawa senang.
"Oke, next!"
"Koganegawa Kanji dari kelas 1-1!" jawabnya penuh semangat.
"Koganegawa-kun, dengarkan alunan pianonya baik-baik." Kita mulai memainkan nada sistematis seperti yang sudah-sudah. "Do, re, mi, fa, sol, la, si, do..."
"Do, re, mi, fa, sol, la, si, do..." Koganegawa berusaha mengimbangi nyanyian dan permainan piano Kita, meski terdengar kesulitan.
Kita mengangguk. "Coba nyanyi satu bait lagu bebas."
"Bebas?" Koganegawa membalas. "Aku mau lagunya BURNOUT SYNDROME yang Phoenix."
"Boleh."
Koganegawa lalu berteriak penuh semangat.
[Tsumeato ga nokoru kurai
Kobushi wo kataku nigirishime
Ima orenji no hikari no naka e!]
Suara tawa tergelak lepas dari semua orang di ruang seni musik. Kita hanya terkikik pelan dan menoleh pada Oikawa.
"Bass." ucapnya. "Selanjutnya."
Orang yang mendapat giliran selanjutnya adalah Kageyama.
"Nama dan kelas?" tanya Kita.
"Kageyama Tobio, dari kelas 1-3." Kageyama menjawab. "Aku sudah pernah ikut paduan suara di SMP."
"Oh, iya? Apa jenis suaramu?"
"Awalnya aku ikut di alto. Terus, kelas 2 pindah ke Tenor."
"Kalau begitu, coba nyanyi satu lagu bebas." jawab Kita. "Menjelang SMA, bisa jadi range suaramu berubah."
Kageyama mengangguk. "Music of the night dari Phantom of Opera."
Kita mengangguk setuju. Hinata memperhatikan bagaimana Kageyama merubah posisi berdirinya. Kedua tangan di belakang, punggung tegak, satu kaki maju dan kepala sedikit terangkat dengan angkuhnya.
[Slowly, gently, night unfurls its splendor
Grasp it, sense it, tremulous and tender
Turn your face away from the garish light of day
Turn your thoughts away from cold, unfeeling light
And listen to the music of the night
Close your eyes and surrender to your darkest dreams
Purge your thoughts of the life you knew before
Close your eyes, let your spirit start to soar!
And you'll live as you've never lived before]
Suara Kageyama ternyata amat, sangat merdu. Terdengar khas seperti penyanyi-penyanyi yang biasa ada di gereja. Caranya memproduksi suara juga berbeda dengan Koganegawa. Keindahannya membuat semua yang mendengar sontak memberi tepuk tangan.
"Udah lumayan matang teknik bernyanyimu, ya." Kita berkomentar. "Kageyama-kun di tenor, deh."
"Hai, azassu[1]." jawab Kageyama, yang tak bisa menyembunyikan senyuman senangnya.
"Lanjut."
Audisinya berjalan lebih lama dari yang Hinata kira. Kakak-kakak seniornya banyak melontarkan internal jokes yang tidak dipahami anak-anak kelas 1. Sakunami dan Yachi dapat suara sopran. Jadi, sejauh ini di angkatan kelas 1 sudah ada 3 sopran, 1 alto, satu tenor dan satu bass.
"Lanjuttt!" Bokuto berseru heboh sambil menunjuk Lev. "Sini, sini."
"Haiba Lev, kelas 1-2."
Lev, seperti yang lain juga mengikuti audisi interval nada. Kita juga mempersilahkannya menyanyikan lagu bebas. Lev membungkuk dan memajukan bibirnya, memproduksi suara-suara aneh yang terdengar seperti musik elektropop.
[I'm that flight that you get on, international
First class seat on my lap girl, riding comfortable
'Cause I know what the girl them need,
New York to Haiti
I got lipstick stamps on my passport,
You make it hard to leave
Been around the world, don't speak the language
But your booty don't need explaining
All I really need to understand is
When you talk dirty to me]
"BRO, BROO!" Bokuto menampar-pundak Daichi dengan penuh semangat. "Tantangan itu, bro! Terima, dong!"
"Bokuto, tenanglah." Kita mendengus malas.
"Anak kelas 1 sekarang tengil-tengil, ya." Atsumu mengompori. "Kalau para paisen kelas 3 nggak mau turun tangan, biar kami aja."
"Apa maksudmu kami, rubah tengik?" hardik Sakusa.
"Aku nggak tanya Omi-omi, ya. Aku tahu kau pasti nggak mau. Kozuken sama Niro gimana?"
"Aku sih yes." jawab Futakuchi santai.
"Kalaupun aku bilang no, kalian semua pasti akan memaksaku." Kenma mendesah malas.
"Hei, ini battle beatbox bukan pemerkosaan. Kau membuatku terdengar seperti pemerkosa." Atsumu mendecih. "Jadi jawabanmu yes, ya."
"Apa kami bilang no, tadi?" Iwaizumi tersenyum tipis. "Kalau semua werewolf bilang yes, Omi nggak boleh ngelawan, ya!"
"Jangan lupa kalau kami yang mengajarkanmu stereo-sound, Miya." Daichi melangkah maju.
"Ih, apa-apaan ini?! Masa ber..." Telunjuk panjang Lev menghitung beberapa kakak kelas yang maju selangkah lebih dekat dengannya. "Masa satu lawan 6?! Curang!"
"Kata siapa enam?" Yaku ikut melangkah maju. "Aku yang pilih lagunya, ya?"
"Boleh." Atsumu menyanggupi.
Yaku terdiam sejenak lalu menarik nafas, melantunkan sebait lagu.
[Yaku]:B-bang it
Para senpai yang tadi menantang Lev melakukan battle beatbox mencondongkan badan mereka, merunduk, mengeluarkan harmoni suara yang persis seperti musik. Daichi dan Iwaizumi mengambil bagian bass soobwofer, Kenma, Sakusa, Futakuchi dan Atsumu mengeluarkan suara-suara yang lebih terdengar objektif. Sementara Yaku, menjadi vokalis dalam lagu tersebut.
[Yaku]: Hit the turn, flip the bird
Bust a bitch, make'm swerve
B-bang it to the curb
Futakuchi menunjuk Lev, lalu ia memulai bait lagu selanjutnya. Lev, yang tampaknya tanggap harus melakukan apa, melanjutkan bagian beatbox yang tadinya diisi Futakuchi.
[Futakuchi]: Bangin down the block with my Remy bottle
Re-reppin 213, California lotto
Servin all the fiends like King Taco
My cheese, nachos, flossin til ya unfollow
Windows down the 'Lac, just an ass crack
Nothin but the Alpine system on smash
[Daichi, cracked bass]: Hit the stash in the dash, better puff puff pass
[Futakuchi]: Flyin faster than the 5-0, bang it to the curb!
Lalu, ketujuh orang itu kembali memainkan harmoni beatbox yang cukup seru sampai Bokuto dan Kuroo berjoget seakan-akan mereka ada di klub. Semua orang di ruangan bertepuk tangan. Iwaizumi dan Daichi merangkul Lev dengan bangga, sementara Futakuchi dengan seringai lebarnya menampar puncak kepala Lev.
"Welcome to the pack, boy!" Ucap Atsumu beriring tawa.
"Latihanmu nambah setiap selasa jam istirahat. Awas aja kalau mangkir." Iwaizumi melepaskan rangkulannya.
"Si...siap!" Lev secara refleks memasang gestur hormat.
"Oke, suaranya ditaruh dimana?" Kenma menyela selebrasi hiperbolik para kakak kelasnya.
"Antara di tenor atau di countertenor." Kita menjawab. "Ada kemungkinan pindah, tergantung konsistensi dan kualitas. Soal itu bisa diurus sama Semi-san nanti."
"Lanjuuut!" Bokuto berseru penuh semangat.
Hinata maju selangkah dan memperkenalkan dirinya.
"Hinata Shoyo. Kelas 1-1."
Kita memainkan pianonya, dan Hinata berusaha menyanyikan interval yang didentingkan. Kita mengerenyit, lalu meminta Hinata memulai lagi dari awal karena bunyi piano dan suara Hinata tidak sesuai. Kita sempat menekan satu tuts berkali-kali, seakan memperingatkan bahwa nada tersebut harus terdengar seperti itu. Kita mendesah singkat lalu menurunkan pundaknya dengan lelah.
"Oikawa, Atsumu." panggilnya. ". Anak ini deaf tone."
"Hah?!" Hinata memekik panik. "Ja...jadi, aku nggak bisa ikut paduan suara? Suaraku sejelek itu, ya?"
"Bukan gitu, sayang." Atsumu terkekeh. "Tandanya, kau harus diaudisi khusus. Aku dan Tooru-paisen, akan menyanyikan satu lagu. Kau berusaha ikuti nada suara kami, ya."
Oikawa menjentik-jentikkan jarinya, lalu Atsumu mulai bernyanyi dengan nada rendah yang terdengar menggema.
[Titik, titik hujan
masih membasahi
kala kau menyapa, pelangiku]
Dengan lirik yang sama, selanjutnya nadanya perlahan-lahan naik. Hinata bisa mengimbanginya dengan baik mulai pada interval kedua Atsumu. Oikawa mengikuti nyanyiannya pada interval ketiga dan seterusnya. Pada interval ke enam, suara Atsumu mulai tipis pada interval ke tujuh dan delapan, menjelang interval ke 15, Oikawa bernyanyi sendirian dengan suara sopran tinggi melengking yang meski terdengar tajam, tetap sangat merdu. Hinata sudah bungkam pada interval kesebelas, tidak sanggup mengimbangi produksi suara kakak-kakak kelasnya.
"Gimana?" tanya Kita.
"Mezzo." Oikawa mengerenyit tidak yakin.
"Alto, ih." Atsumu membantah. "Terlalu gelap suaranya kalau ditaruh di mezzo. Lagian, kalau mezzo kan harus sampai G. Dia di E# aja udah cracked suaranya."
"Nggak ada tenaganya kalau ditaruh di alto, Tsum-tsum!" Oikawa mulai ngotot. "Tadi di F juga suaranya breathy. Tessitura-nya nggak lentur. Mana bisa ditaruh di alto yang banyak bending-note gitu?"
"Ditaruh di mezzo makin kecekik, dong? Gimana caramu tuning suaranya dia nanti kalau base tone-nya mezzo aja dia nggak sampai? Kalau standarnya ketinggian, pas 'jatuh' nanti 'cedera', lho." Atsumu berusaha tenang dan menurunkan nada suaranya, namun pandangan mata dan pemilihan katanya terkesan menyindir Oikawa.
JRENGG!
Semua orang menoleh ketika Kita menghantamkan jari-jarinya dengan geram ke tuts piano, menciptakan nada sumbang yang linu terdengar. Atsumu refleks menutup kedua telinganya dengan tangan sementara Oikawa terpekik panik. Keduanya mengangguk segan seraya melempar tatapan minta maaf pada Kita.
"Hoshiumi." Kita menoleh pada salah seorang dari barisan kelas 2. "Menurutmu gimana?"
Senpai yang bernama Hoshiumi adalah seorang cowok pendek dengan rambut putih dan mata besar berwarna hijau terang, sedari tadi duduk di atas meja sambil membalik-balik buku partitur seakan audisi anak kelas satu sama sekali tidak penting buatnya. Ia bahkan tidak jauh beda dengan Hinata yang juga tidak begitu tinggi. Gadis berambut ginger itu bingung mendapat tatapan intens kosong dari si senpai yang baru saja dipanggil maju.
"Coba bilang, kuku kaki kakak kakekku kaku kaku." katanya.
"Hah?!" Hinata terpekik bingung.
"Kuku kaki kakak kakekku kaku kaku." Hoshiumi mengulang ucapannya, berikut petikan jari yang memberikan ketukan.
"Kuku kaki...kakak kakekku, kaku kaku."
Perkataan aneh itu lambat dan monoton. Hoshiumi memandunya bergumam, dan Hinata menyadari lambat laun nada perkataan tersebut melambat dan terdengar berbeda. Setelah tiga kali mengulang kalimat tidak masuk akal itu, Hoshiumi bersidekap.
"Timbre-nya beda dengan Akaashi atau megane-chan." Hoshiumi menyimpulkan. "Tapi dia satu timbre denganku dan Bokuto-san."
"Jadi mau dimasukkin countertenor?" balas Atsumu jahil.
"Jangan ngadi-ngadi." Ujar Hoshiumi, Kita dan Oikawa bersamaan.
"Taruh di alto udah bener, kok. Kalau deaf tone -nya sembuh, tessitura-nya bisa lebih fleksibel. Kita-san nggak masalah bikin audisi kedua, kan?"
Kita menggeleng pelan.
"Kalau masalah tenaga, kan bisa diobatin sama kondensor." Hoshiumi menoleh pada Oikawa. "Semakin banyak latihan, anak ini pasti bisa unisound sama kelompok suaranya."
"Kalau begitu, audisi anak kelas 1 selesai!" Bokuto bertepuk tangan dengan begitu gembira. "Silahkan, kalau ada pertanyaan."
Kageyama mengangkat tangannya. "Kaos yang kalian pakai warnanya sesuai jenis suara, ya?"
"Bingo!" Oikawa memberi pose wink dan kedua tangan menembak. "Buat bass, warna putih. Buat bass-baritone, warna abu-abu. Buat tenor, hitam. Countertenor, biru muda. Alto, merah marun. Mezzo-sopran, ungu muda. Sopran, merah primer."
"Aku mau warna biru muda nggak boleh?" tanya Koganegawa dengan polosnya.
"Aku mau abu-abu sama merah." balas Lev.
"Kaos ini dipake untuk latihan aja. Jadi jelas-jelas nggak boleh." Yaku membantah. "Nantinya, kalian bakal disiapkan seragam choir buat kita lomba dan manggung."
"Kenapa nggak pakai seragam sekolah?" Koganegawa menyahut.
"Karena, coach kita nggak suka." Oikawa membalas. "Coach kita, Semi-san adalah orang yang lumayan strict. Kita sering diajak latihan gabungan sama grup orkestra, dibuatkan proyek video acapella dan masih banyak lagi kegiatan publik lainnya. Seragam sekolah bakal cepat rusak kalau dipakai terus-terusan diluar kegiatan sekolah, kan?"
"Benar juga." balas anak-anak kelas 1 lainnya.
"Selepas ini, Suga akan mencatat data-data kalian. Nomor telepon, ukuran seragam dan nomor orangtua atau wali kalian. Hal ini menyangkut jadwal latihan, dan seperti yang sudah diungkapkan Oikawa, kita banyak menghadiri kegiatan luar sekolah. Jadi ada kemungkinan kalian akan dispensasi." Yaku melanjutkan.
"Pertanyaan!" Lev mengacungkan tangannya. "Kenapa coach kita seaktif itu? Apa dia guru sekolah kita?"
"Bukan, Semi-san itu pelatih dari luar." ujar Oikawa. "Ushijima dan Kita-senpai yang membuatnya bergabung dan melatih kita."
"Pertanyaan!" Hinata mengacungkan tangannya juga. "Kenapa anak-anak kelas 3 memanggil Kita-senpai dengan sebutan Kita-senpai juga? Apa dia semacam ketua angkatan, kepala geng atau bisa jadi nggak naik kelas?"
Para kakak kelas mukre mendadak bungkam. Yaku menyikut-nyikut Bokuto, yang malah saling tatap menatap dengan Oikawa. Tampaknya, alasan kenapa anak kelas 3 memanggil Kita dengan sebutan Kita-senpai masuk dalam konten yang sangat sensitif.
Kuroo maju dan memilih buka suara. "Ehm, jadi begini—"
"Tidak apa. Biar aku saja." Kita tertawa kecil. "Siapa namamu tadi? Hinata, ya?"
Hinata mengangguk.
"Kau benar. Aku memang tidak naik kelas. Aku satu tahun diatas angkatannya Bokuto, Oikawa dan yang lainnya." ujar Kita jujur. "Bahkan aku yang mengaudisi semua senpai kelas 3 dan kelas 2 yang kalian hadapi sekarang."
"Padahal Kita-senpai tampangnya kayak anak sholeh." celetuk Kageyama.
"WOI!" Anak-anak kelas 1 yang lain berteriak panik, nyaris bersamaan karena ucapan Kageyama barusan.
"Bisa jadi kecelakaan, kan!?" ujar Hinata, berusaha positif.
"Atau orangtuanya dinas luar, dan Kita-senpai telat daftar sekolah." Shibayama juga ikutan membela.
"Kali aja Kita-senpai diam-diam cowok liar doyan tawuran." Tsukishima ikut menyahut.
"Tsukishima, itu nggak ada positif-positifnya! Hormat sedikitlah sama senpai!" seru Lev.
"Kalian semua salah."
Kali ini, anak kelas 1 dibuat bungkam. Ushijima yang paling jarang bicara, mengangkat pendapatnya. Tampangnya yang dingin dan suaranya yang dalam seperti supervilain membungkam semua orang seketika. Anak-anak kelas 1 langsung pasang telinga lekat-lekat. Tampaknya yang hendak diutarakan Ushijima itu sangat penting.
"Aku dan Kita-san terpilih menjadi peserta Franz-Liszt Music Festival di Budapest 2 tahun yang lalu." ujar Ushijima. "Aku masuk di kategori pop choir di bagian bass, sementara Kita-san dipilih memerankan The Dutchman dalam opera Flying Dutchman."
"Buat kalian yang masih baru di dunia choir, ikut festival musik mancanegara itu luar biasa susah. Kalian harus diaudisi solo, lalu menghadapi ribuan orang demi memperebutkan satu tempat. Latihannya keras dan lama, kalian bisa tiba-tiba dipulangkan kalau tidak memenuhi standar. Atau kalian bisa tiba-tiba ditelpon agar datang menggantikan posisi yang kosong. Mendapat peran utama dalam sebuah opera, tandanya kalian akan terikat kontrak dan bernyanyi sebagai peran tersebut sampai masa pagelaran opera-nya selesai. Biasanya 2 bulan, tapi latihannya sendiri sudah 6 bulan lebih awal. Jangan lupakan proses pengurusan visa dan lain-lainnya." jelas Yaku panjang lebar.
"Intinya, Kita-san menghabiskan 1 tahun waktunya di Hungaria. Lalu kembali untuk mengulang lagi di kelas 2 karena tidak ikut ujian akhir di dua semester sebelumnya." Ushijima berusaha meringkas. "Benar begitu?"
Kita mengangguk pelan.
"Keren banget!" Hinata berseru heboh. "Kayak apa rasanya latihan musik di luar negeri?"
"Pusing." Kita menjawab terus terang. "Beda bahasa, beda budaya. Latihannya keras dan sangat disiplin. Jadwalnya padat. Kau dituntut sangat mandiri karena tak akan ada orang yang punya waktu mengajarimu bernyanyi. Tetapi, banyak sekali hal yang kupelajari dari acara itu."
"Apa orangtuamu tidak marah, kalau Kita-senpai sampai tidak naik kelas hanya karena ekskul?" tanya Tsukishima skeptis.
"Awalnya iya. Orangtuaku cuma petani padi. Mereka sangat awam soal seni musik. Mereka pikir, kegiatan choir cuma menjadi ekstrakulikuler bagiku. Mereka sangat syok mengetahui resiko macam apa yang akan kuhadapi kalau aku bersikeras ikut festival. Tetapi, aku berhasil meyakinkan mereka bahwa kesempatan ini menjadi bukti keseriusanku dalam bernyanyi. Karir musik klasik memang belum menjanjikan di Jepang. Tetapi aku melihat ada banyak kesempatan kalau kita mau melihat segalanya lebih dekat."
Kageyama mengangkat tangannya lagi. "Kenapa...Kita-san begitu gigih dalam menekuni paduan suara? Maksudku, kalau suaramu bagus kau bisa mendaftar sebagai idol. Tidak perlu paduan suara, kan?"
Kita terdiam mendengar ucapan Kageyama. Ia kemudian berdiri dengan tegak dan tersenyum lembut.
"Karena aku sangat suka paduan suara." katanya. "Karena saat kau bernyanyi dengan sepenuh hati; tak peduli bahasa apapun yang digunakan, pasti akan sampai ke hati para pendengar. Bagiku, paduan suara merupakan kegiatan seni yang paling tulus. Karena segala jerih payahmu, dipersembahkan untuk membahagiakan orang lain."
Baik anak kelas 1, 2, bahkan 3 bertepuk tangan mendengar penuturan Kita yang begitu sederhana dan sangat menyentuh hati.
PLAYLIST:
-Lapis Lazuli, Eir Aoi
-Yellow Flicker Beat, Lorde
-Phoenix, BURNOUT SYNDROME
-Music of the night, Phantom of Opera
-Talk dirty, Jason Derulo
-Bang it to the curb, Far East Movement
-Pelangiku, Sherina
A/n (author's note):
[1] Azassu—singkatan atau slang dari ucapan arigato gozaimasu.
-Acapella:aransemen musik yang murni menggunakan varian dari produksi suara manusia.
-Range: jangkauan terendah dan tertinggi ekstrem dari suara seseorang.
-Tessitura: hampir sama seperti range, namun tessitura dinilai sebagai titik ternyaman seseorang dalam bernyanyi. Biasanya satu not diatas dan dibawah titik ekstrem.
-Timbre: dapat diartikan sebagai 'wujud' dari suara. Suara yang diproduksi seorang penyanyi dapat dikatakan 'terang', 'gelap', 'tebal', 'tipis', 'kasar', 'halus' dan sebagainya. Dua orang penyanyi dapat menyanyikan satu nada yang sama tetapi tetap terdengar berbeda, hal ini yang dinamakan 'timbre'.
-Tune: pelafalan atau pembunyian nada yang sesuai dengan not musik. Tuning adalah proses pengoreksian suara agar sesuai dengan partitur yang dinyanyikan. Out of tune adalah perubahan atau perbedaan yang terjadi saat seorang penyanyi dalam menyanyikan nada yang diminta. Sementara off-key adalah kegagalan seorang penyanyi dalam menyanyikan nada yang diminta alias fals. Ibaratnya, out of tune itu seperti cuma kepeleset tapi belum jatuh tapi off-key itu udah kepeleset terus jatuh.
-Vocal range (dihitung dari nada yang dimainkan pada bar piano):
*Bass: [E2-E4], suara terendah laki-laki. Berkarakter gelap, dalam, pekat, berat dan didesain untuk memberikan "tekstur" dalam sebuah paduan suara. Harus diproduksi dengan power yang besar agar stabilitasnya dapat terjaga. Biasanya jumlah penyanyi bass lebih sedikit jika dibandingkan jenis suara laki-laki lainnya karena produksi nada suara yang rendah juga dipengaruhi faktor bakat suara normal si penyanyi itu sendiri. Dalam partitur, sering dituliskan B atau lengkap dicantumkan Bass.
*Bass-baritone: [A2-A4], suara menengah laki-laki. Sering disebut baritone saja. Memiliki range yang luas dan karakternya cukup dominan. Nada jangkauannya yang berada ditengah-tengah menjadikan baritone sebagai 'titik nyaman' bagi kebanyakan penyanyi laki-laki. Penyanyi bass-baritone biasanya bisa menyanyi dalam range tenor namun tetap dengan kepekatan dan power seperti penyanyi bass. Dalam partitur, sering dituliskan sebagai B-Bar atau Bar saja. Dalam beberapa aransemen paduan suara, bass-baritone dapat berubah menjadi bass dan menjadi fondasi dari lagu jika standar jangkauan bass yang diincar memerlukan nada-nada cryptic.
*Tenor: [C3-B4, atau C3-C5], suara tinggi laki-laki. Berkarakter ringan dan 'terang', cenderung terdengar lembut dan heroik. Suara tenor dapat menjangkau nada tinggi dengan beberapa teknik. Seorang penyanyi laki-laki dapat dikategorikan sebagai tenor jika ia bisa menjangkau nada-nada tinggi dengan tepat dan jelas. Dalam paduan suara, tenor sering menyanyikan nada-nada bending untuk memberikan aksen pada lagu.
*Countertenor: [E3-E5], suara tertinggi laki-laki. Sangat-sangat jarang didapati. Berkarakter ringan namun gelap. Jangkauan suaranya fleksibel tetapi paling sulit dikendalikan. Jika tidak diolah dengan teknik yang baik, suara countertenor dapat terdengar "cempreng". Dalam beberapa kasus, produksi suaranya hampir identik dengan range yang biasa dinyanyikan perempuan seperti alto dan mezzo. Beberapa penyanyi countertenor bahkan dapat menyanyi di nada sopran dengan sempurna. Sama seperti bass, seorang penyanyi pria yang dapat menjangkau nada countertenor biasanya memiliki bakat dari suara normal si penyanyi itu sendiri. Ada beberapa kelompok paduan suara yang menamai countertenor dengan sebutan meane (male alto) atau treble (boy sopran).
*Alto: [F3-F5, atau F3-E5], suara terendah perempuan. Berkarakter gelap dan pekat, serta memberi aksen sedih dalam lagu karena seringkali suara alto didesain untuk terdengar monoton atau cryptic sebagai penyanyi latar, namun tak jarang pula alto menjadi karakter utama dalam sebuah lagu di paduan suara. Tidak banyak penyanyi yang bisa menjangkau nada terendah, namun penyanyi alto yang terlatih dapat menjangkau nada-nada tinggi dengan bobot yang besar atau suara tipis gelap yang mendayu-dayu. Karena produksi suaranya yang bertenaga, biasanya jumlah penyanyi alto adalah yang paling sedikit dalam choir. Seperti tenor, alto juga banyak menyanyikan nada-nada bending guna memberi aksen pada lagu.
*Mezzo/Mezzo-sopran: [A3-A5], suara menengah perempuan. Berkarakter lembut. Jangkauan umum suara perempuan. Seperti bass-baritone, penyanyi mezzo juga bisa menyanyikan nada-nada tinggi dan juga menjangkau nada rendah. Memiliki power dan ketebalan karakter yang lebih tipis dari alto. Jenis suara yang paling fleksibel dibandingkan yang lain, karena jangkauan nadanya yang luas sehingga mudah dilatih. Dalam partitur choir, mezzo bisa diikutsertakan sebagai sopran atau sopran II.
*Sopran: [C4-C5, atau A3-G5], suara tertinggi perempuan. Merupakan jenis suara yang paling sulit dilatih karena karakternya yang terang, tipis dan tajam, sehingga memerlukan beragam teknik agar bisa mengekskusi nada-nada tinggi dengan sempurna. Nada-nada sopran yang sangat tinggi dapat terdengar seperti peluit (whistle voice), hampir identik dengan bunyi alunan permainan alat musik flute yang dimainkan dengan nada yang sama. Saking tingginya, penyanyi sopran seringkali memberikan efek 'merinding' pada klimaks di sebuah lagu.
-Conductor: adalah pemimpin dalam grup musik. Dia adalah orang yang memberi komando dalam mengeksekusi sebuah lagu meski tiap penyanyi sudah membaca atau menghafal partitur. Conductor adalah orang yang menyelaraskan permainan instrumen dan suara penyanyi. Seorang conductor diharuskan paham dalam bemain musik dan mengolah vokal, juga mengendalikan tempo dan dinamika pertunjukkan musik. Dalam grup tertentu, seorang conductor diharapkan bisa mengajar pemain musik atau penyanyi paduan suara dalam membaca, menerjemahkan dan mengelola nada dari sebuah lagu.
-Deaf tone: singkatnya, tuli nada. Bisa juga diartikan sebagai 'buta nada'. Orang yang tidak paham perbedaan bunyi dan suara dalam musik, juga bisa berarti orang yang tidak bisa membaca atau mengeksekusi nada dalam partitur.
-Opera: pertunjukan musik yang memiliki jalur cerita. Biasanya dieksekusi dengan lagu secara keseluruhan, lagu dan narasi, atau bahkan lagu, narasi dan dialog.
BANGSAT (BACOTAN NGEGAS TAPI SANTUY DARI AUTHOR):
Yeaaaa wassap madafakah, apa kabar khalayak HQID?! Fajrikyoya kembali membawa ide-ide halu yang sangat sayang kalau dibiarkan berdebu di evernote. Sebenernya fanfic ini udah lama bangetttt diketik, tetapi emang dasar authornya sibuk campur mager dan moody-an, jadinya baru dipoles lagi dah sekarang. Forte Fortississimo ini dibuat sebelum Johnny Blaze, eh malah Johnny Blaze duluan yang tamat wkwkwkw. Please jangan tanya kapan author update fanfic sebelah, follow aku dong makanya biar ada notifnya kalau apdet /kepedean level dewa.
Anyway, author lagi berusaha cross-posting di akun wattpad juga dan masih njlimet sama sistem uploadnya. Padahal lebih simple tapi karena belum biasa jadinya puyengggggggg. Kesibukan author di tempat kerja udah lumayan berkurang, tapi beban kerjanya nambah jadi butuh distraksi biar pulang kerja nggak ngemil abis itu goleran bobo malas dari sore sampe tengah malem, terus cuma sekedar mandi abis itu lanjut bobo lagi sampe subuh /tolong jangan ditiru ya /monmaap namanya juga quarterlife crisis /denial parah
Dan juga, sekedar info untuk fanfic ini semua love pairingnya bakalan straight. Beberapa mungkin canon, beberapa mungkin cracks hasil halu-halu ena nya author. Tapi author mau kasih spoiler: Hinata bakalan direbutin 2 senpai dengan posisi penting di Werewolf Heartstring, Yaku bakal dilema milih siapa werewolf yang jadi tambatan hatinya, sama Kuroo dirundung galau diantara dua gadis "pirang". Oikawa secara nggak sadar bakalan jadi tukang rebut cowok orang. UDAH YA, CLUE NYA UDAH BANYAK BANGET! SILAHKAN MENGHALU SAMPAI AUTHOR MEMBONGKAR SEMUANYA PELAN-PELAN!
Apa kalian bilang?! Nggak asyik!? Baca dulu, follow terus review, sebelah mana nggak asiknya! Kalau ternyata love pairing(s) suguhanku asique mantap surantap, kalian janji jadi followersnya forte fortississimo, ya!
Aduh, suka gini emang. Kalo ngebacot nggak bisa kalem. Biarin weh, fanfic juga fanfic aing.
Yaudah, segitu dulu bacotannya. Jangan lupa review, fave dan follow, ya!
See you in the next BANGSAT-eh, the next chapter!
