Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

Summary : Dunia Shinobi selalu dihadapkan dengan perang, para penjajah akan selalu datang. Sekali lagi, ada pihak yang menginginkan kehancuran dunia Shinobi. Apakah Sang Pahlawan akan kembali mempetahankan perdamaian?, meskipun dia telah kehilangan seluruh dunianya.

Genre : Romance, Drama, Family, Adventure

Rate : M

Pair : NaruSaku, Pair lain nyusul

Setting : Semi-Canon

Warning : OOC, MultiUniverse, Ide pasaran, Gaje, Berantakan


Happy reading...

Chapter 1. Kembalinya Sang Pahlawan

Sasuke melangkahkan kakinya lesu, baru saja ia keluar dari area gedung Hokage. Perjalanan antar dimensi menguras habis cakra dan stamina. Terlebih, aura negatif dimensi buatan Kaguya seperti menyerap daya hidupnya. Selama seminggu ini dia menetap di dimensi buatan Kaguya.

Jika bukan karena misi dari Rokudaime Hokage yang Agung ia tak sudi pergi kesana. Sayangnya dari sekian banyak Shinobi di dunia, hanya Sasuke yang mempunyai kemampuan membuka portal dimensi buatan Kaguya. Sehingga, membuatnya diberi tugas untuk memburu sisa-sisa Pasukan Otsutsuki yang masih hidup setelah Perang besar tiga tahun silam. Tapi, Sasuke sebenarnya pergi dengan suka rela demi menuntaskan urusan pribadinya.

Tiga tahun yang lalu Momoshiki Otsutsuki beserta pasukannya menyerang dunia Shinobi dengan tujuan memanen seluruh cakra yang ada. Selain itu, dia juga akan menghancurkan dunia Shinobi setelah memanen habis cakra. Momoshiki juga berniat membangkitkan pohon Shinju untuk memudahkan tujuannya.

Kasusnya hampir sama dengan Kaguya, tapi Kaguya menyayangi manusia, dia bertujuan mulia meski jalan yang ditempuhnya salah, Kaguya berniat menghentikan seluruh kekacauan di dunia Shinobi dan menjebak seluruh makhluk kedalam Mimpi tiada akhir yang disebut Mugen Tsukuyomi. Sedangkan Momoshiki sama sekali tak berempati, dia berniat membangkitkan pohon Shinju untuk menjerat seluruh makhluk hidup dan menyerap cakranya hingga tak bernyawa. Kemudian menghancurkan dunia hingga tak tersisa.

Tentu para Shinobi tak tinggal diam, kelima negara besar kembali menyatukan kekuatan, mereka memberikan perlawanan hingga mencetuskan perang besar yang dinamakan Perang dunia Shinobi kelima.

Perang berlangsung selama dua bulan, ratusan ribu jiwa melayang baik dari Pihak Aliansi Shinobi maupun dari Pihak Momoshiki Otsutsuki, bahkan warga non Shinobi ikut menjadi korban kekejaman perang.

Momoshiki dikalahkan, pihak Shinobi berhasil meraih kemenangan, tapi harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Kehancuran diseluruh dunia, merenggut paksa ratusan ribu jiwa tak berdosa. Selain itu, dari ratusan ribu nyawa yang melayang, salah satunya adalah milik sosok sehangat dan secerah matahari, Naruto Uzumaki mengorbahkan nyawanya demi menghentikan kekejaman perang. Naruto pergi menyeret Momoshiki bersamanya dan meninggalkan perdamaian sebagai warisannya.

Setelah berhasil dikalahkan, pasukan Otsutsuki yang tersisa melarikan diri ke dimensi buatan Kaguya. Bersama salah satu komandan perangnya, Urashiki Otsutsuki. Urashiki memang tak sekuat Momoshiki, namun, kemampuannya membuka portal dimensi, sangatlah merepotkan.

Urashiki bersama pasukannya yang tersisa, melakukan perang gerilya menyerang desa-desa kecil yang kemampuan Ninjanya kurang mumpuni. Tapi, usahanya selalu digagalkan oleh Sasuke yang ditugaskan untuk memburunya. Sasuke berhasil menghabisi sedikit demi sedikit pasukan yang dipimpin Urashiki. Meskipun begitu Urashiki tak pantang menyerah. Bisa dibilang, dia juga sangat licin, berkali-kali, dia berhasil meloloskan diri dari tangan dingin Sasuke Uchiha yang sangat bernafsu untuk memenggal kepalanya, meski dia harus mengorbankan sebagian pasukannya.

Urashiki selalu berpindah-pindah lokasi di dimensi buatan Kaguya. Pada masa PDS IV, Sasuke hanya tahu jika dimensi buatan Kaguya hanya berjumlah lima. Tapi tiga tahun belakangan dia menyadari bahwa dimensi buatan Kaguya ternyata berjumlah ratusan bahkan ribuan. Ini menjadi faktor utama yang menghambat Sasuke ketika memburu Urashiki.

Sasuke mampu membuka portal dimensi, meski tekniknya ini menghabiskan banyak cakra dan memiliki cooldown yang cukup lama. dia menyadari kemampuannya ini saat ia berlatih menggunakan mata kirinya beberapa bulan pasca PDS IV. Tapi tekniknya masih kalah jauh dibanding dengan Urashiki yang mampu sesuka hatinya untuk membuka dimensi buatan Kaguya. Mungkin karena Urashiki merupakan Otsutsuki asli, sedangkan Sasuke hanyalah titisan yang memiliki sepercik kekuatan Otsutsuki. Bisa dibilang ini merupakan faktor lain yang menghambatnya untuk segera memenggal kepala Urashiki.

Selama seminggu menetap di dimensi buatan Kaguya, Sasuke berhasil menghabisi ratusan pasukan Otsutsuki, menyisakan Urashiki bersama dua orang ajudan pribadinya yang berhasil melarikan diri. Sasuke tak berniat mengejarnya, cakranya memang masih cukup untuk sekedar mengalahkan Urashiki dan kedua pengawalnya. Tapi staminanya terkuras habis karena perjalanan dimensi dan meladeni tikus-tikus kecil bawahan Urashiki. Terlebih, seminggu terakhir dia hanya mengonsumsi makanan instan yang tidak cukup baik memulihkan staminanya. Jadi Sasuke memutuskan untuk kembali ke Konoha dan melapor kepada Hokage tentang misi yang dilakukannya.

Setelah meninggalkan gedung Hokage, Sasuke memutuskan untuk segera pulang. tubuhnya sangat lelah, berendam air hangat mungkin dapat sedikit meredakan rasa penatnya.

Suasana sore nampak damai didesa Konoha, Langit jingga mengingatkannya pada sosok sahabat pirang, sosok yang ia anggap sebagai saudara sekaligus rivalnya. Walau Sasuke tidak mau mengakuinya, tapi sebenarnya ia sangat merindukan Naruto. Ia teringat bagaimana dulu mereka menghabiskan waktu bersama, Sparring hingga babak belur dan Sakura akan merawat sambil menceramahi mereka berdua, minum-minum bersama untuk melepas lelah sehabis pulang misi, bahkan Sasuke merindukan pertengkaran kecil yang sering mereka lakukan karena sifat tempramental Naruto.

Teringat tentang Naruto, Sasuke memutuskan untuk menunda acara berendam air hangatnya. Seminggu terakhir dia meninggalkan rutinitas sorenya, yaitu mengunjungi makam Naruto. Selama tiga tahun terakhir, jika dia sedang berada di Konoha, setiap sore Sasuke selalu mengunjungi makam sahabat pirangnya. Sasuke memutuskan untuk membawa hadiah sebagai tanda permintaan maaf atas ke absenannya selama seminggu terakhir. Kakinya berputar arah menuju toko bunga keluarga Yamanaka.

Ino menatap majalah ditangannya, sorot matanya nampak bosan, dahinya sesekali mengerut. pada sore hari toko bunganya selalu sepi dan membuatnya nyaris mati kebosanan. Jika bukan karena wasiat sang ayah yang melarangnya menutup toko sebelum matahari benar-benar tenggelam. Ino pasti sudah menutup tokonya kemudian pergi untuk nongkrong bersama teman-teman gadisnya. Namun, wasiat itu menahannya disini sambil meratapi nasibnya yang belum dapat pasangan mengingat usianya sudah menginjak dua puluh satu tahun.

Terlalu lama meratapi nasib, Ino akhirnya terselamatkan oleh suara lonceng dari pintu tokonya. Seorang pemuda berparas mempesona muncul dari sana. Ino sedikit terkejut melihatnya, seumur hidupnya menjaga toko bunga, baru kali ini Sasuke masuk ke tokonya. dalam hati Ino berteriak kegirangan, berharap Sasuke akan mengajaknya keluar untuk makan malam atau sekedar jalan-jalan dipusat desa.

"Berikan aku bunga yang sering dibeli Naruto"

Ino harus menelan kekecewaan karena suara datar Sasuke ingin membeli bunga untuk Naruto. Ino dibuat kebingungan. Ketika masih hidup, Naruto memang sering pergi ke tokonya, tapi hanya untuk mengantarkan Sakura. Naruto tidak pernah membeli bunga.

"Naruto tidak pernah membeli bunga, dia memang sering kesini, tapi hanya untuk mengantar Sakura"

"Berikan saja bunga yang dibawa Sakura saat mengunjungi Naruto" Balas Sasuke.

"Baiklah, tunggu sebentar" Ino menghilang dibalik pintu rumah kacanya. Tak lama kemudian sebuket bunga berwarna putih tersemat ditangannya.

"Tak usah bayar, anggap saja ini hadiahku untuk Naruto" Ujar Ino menyerahkan bunga pada Sasuke.

"Terimakasih" jawab Sasuke singkat dan pergi meninggalkan toko buka Yamanaka.

Ino menatap punggung Sasuke yang menghilang dibalik pintu tokonya. Netranya beralih ke selembar uang yang entah sejak kapan tergeletak di atas meja. mendesah pasrah Ino mengambil uang dari Sasuke dan memasukkannya dalam laci, Tak mau memusingkan kelakuan Sasuke yang seolah menolak tanda persahabatan darinya.

Sasuke memasuki gerbang makam pahlawan Konoha, melangkahkan kakinya menuju pusara yang paling megah di sana. Sasuke sedikit tertegun melihat seorang perempuan berambut merah muda yang berdiri di sana. Sakura setiap hari memang mengunjungi makam Naruto. Tapi, setahunya Sakura selalu datang di pagi hari sebelum berangkat ke rumah sakit.

Sasuke berjalan mendekati makam Naruto, Mata hitamnya menangkap Sakura yang sedang menangis dan terkadang berbicara sendiri. Sasuke meletakkan buket bunganya diantara puluhan buket lain. Makam sang pahlawan perang selalu ramai peziarah yang datang dari berbagai wilayah.

Sasuke kemudian berdiri disamping Sakura yang masih menangis tanpa suara. Tak ada niatan dari Sasuke untuk menenangkannya. Dia berdoa dalam diam dan bernostalgia dengan kenangan ketika sahabat pirangnya masih hidup. Sesekali oniks Sasuke melirik Sakura yang berdiri disampingnya.

Matahari telah tenggelam, Sasuke masih berdiri di depan pusara sahabatnya. Sakura telah pergi beberapa menit yang lalu. Merasa sudah cukup, Sasuke memutuskan berpamitan dan melangkahkan kakinya untuk pulang. Netranya menangkap Sakura yang ternyata masih berdiri area pemakaman, tepatnya di depan gerbang makam pahlawan Konoha. Gadis itu nampaknya tengah menunggu seseorang.

"Sasuke-kun, bisakah kita bicara sebentar" Ujar Sakura yang melihat Sasuke berjalan didepannya.

"Ada apa" Balas Sasuke datar.

Guratan kegelisahan tampak disembunyikan oleh Sakura, "Sebaiknya kita membicarakannya ditempat lain, Bagaimana mana kalau di kedai dango dekat tempat tim tujuh biasa berkumpul?"

Sasuke terdiam sejenak memikirkan tawaran Sakura, entah sejak kapan dia tidak bicara empat mata bersama Sakura. seingatnya terakhir kali dia bersama Sakura adalah malam hari ketika dia berangkat meninggalkan Konoha, Sakura waktu itu berusaha menghentikannya pergi dari Konoha. Saat itu mereka masih berusia dua belas tahun dan sekarang mereka sudah dua puluh tahun. Jadi sekitar sembilan tahun yang lalu terakhir dia bicara empat mata dengan Sakura.

"Baiklah" Sasuke memutuskan untuk menerima tawaran Sakura dan menunda lagi acara berendam air hangatnya.

Sasuke berjalan mengekor beberapa langkah didepan Sakura. Aneh, dulu ketika masih Genin mereka biasa berjalan beriringan. Tapi semenjak kepulangannya ke Konoha setelah perang melawan Madara, seolah ada penghalang tak kasat mata yang memisahkannya. Sasuke bahkan tidak pernah secara pribadi bertemu Sakura. Naruto lah yang seolah menjadi jembatan yang menyatukan mereka berdua.

Sepanjang perjalanan keduanya diam tak ada mencoba memulai percakapan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sejak Sasuke meninggalkan desa, mereka berdua memang tidak pernah berjalan bersama. Kalaupun pernah pasti ada Naruto diantaranya. Tiga tahun yang lalu. Ketika Naruto masih hidup, perjalanan mereka selalu diisi oleh ocehan tak penting Naruto dan kadang pertengkaran kecil antara Sasuke dengan Naruto yang akan selalu berakhir baku hantam jika Sakura tidak melerainya.

Beberapa menit perjalanan, mereka berdua sampai di tempat yang dituju. Kedai itu tampak banyak berubah selama beberapa tahun terakhir.

Mereka berdua sengaja memilih tempat duduk dipojokkan untuk mendapatkan privasi. Sakura memesan dua tusuk dango dan segelas teh hijau, sedangkan Sasuke hanya memesan segelas kopi tanpa gula kesukaannya. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka berdua sibuk dengan pesanannya masing-masing.

Sakura berdehem membuatnya mendapat perhatian Sasuke. "Jadi, bagaimana kabarmu Sasuke-kun" Ungkap Sakura sedikit berbasa-basi.

"Seperti yang kau lihat" Jawab Sasuke seadanya.

Melihat Sasuke yang tak mau berbasa-basi, Sakura memutuskan untuk segera mengutarakan seluruh pikirannya.

"Aku punya sebuah tawaran"

Sasuke menatap Sakura, tanpa ingin menyela membiarkan Sakura menyelesaikan perkataannya.

"Aku tahu, kita hancur setelah kepergian Naruto"

Sasuke tahu jika Sakura tidak mengada-ada, setelah kematian Naruto mereka semua memang sangat menderita. Sakura yang memforsir dirinya dipekerjaan rumah sakit. Kakashi yang menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen Hokagenya. Sedangkan Sasuke sendiri bisa dibilang paling parah, Ia terjerumus ke jalan setan, mabuk-mabukan hingga main perempuan. Tak tahu berapa wanita yang telah ditidurinya, mereka semua dengan senang hati melemparkan diri ke Sasuke. Mereka berharap dapat membuat Uchiha terakhir ini jatuh cinta. Sayangnya hati Sasuke telah mati bersama dengan dengan kepergian sahabat pirangnya.

"Naruto tidak ingin kita terus seperti ini Sasuke-kun, kita harus terus melangkah dan melanjutkan hidup untuk menghargai pengorbanannya" Sakura mengambil nafas, emeraldnya menatap lurus Sasuke.

Sasuke dapat menangkap kesedihan yang mendalam di mata Sakura.

"Aku menawarkan sebuah kesempatan, kesempatan memulai hidup baru, menikahlah denganku, bersama kita akan saling berbagi kesedihan, kita akan saling meringankan beban, bersama-sama kita berusaha merelakan kepergian Naruto" Ungkap Sakura panjang lebar. Jari lentiknya menggenggam jari kasar Sasuke dan meremasnya pelan.

Sasuke bungkam, mencoba mencari setitik keraguan di emerald yang tiga tahun ini nampak kusam. Tapi yang ditemukannya hanyalah tekad dan harapan yang bercampur dengan kepedihan. Menurut sudut pandang Sasuke, Ia meyakini bahwa Sakura mencintai Naruto. Melihat perhatian Sakura pada mendiang sahabat pirangnya sudah cukup sebagai bukti akan perasaannya.

Dulu ketika masih kecil Sakura memang menaruh perasaan pada Sasuke, tapi itu hanyalah sebatas kekaguman. Sedangkan cintanya melabuh ke orang yang selalu bersamanya, melindungi hidupnya dan mempertahankan senyumnya.

Setelah perang melawan Madara, Sasuke secara langsung melihat interaksi antara kedua rekan setimnya mencerminkan perasaan cinta satu sama lain, meski mereka berdua menyangkalnya. Naruto selalu tampak menempeli Sakura setiap ada kesempatan, dan Sakura sama sekali tidak keberatan. Mereka sering kali terlihat berjalan beriringan dan bergandengan tangan, Mereka berdua malu-malu jika digoda tentang status hubungan.

Melihat gadis didepannya sekarang, Sasuke ragu dengan apa yang akan ia putuskan. Dia dihadapkan dengan pilihan untuk menikahi gadis didepannya. Sasuke memang menyayangi Sakura, tapi rasa sayangnya tak lebih dari rasa sayang kepada seorang teman. Sakura juga merupakan satu dari dua wanita yang cukup dekat dengannya selain Karin, rekan setimnya di Taka. Sasuke juga menganggap Sakura sebagai salah satu peninggalan Naruto yang wajib ia jaga.

Sasuke sebenarnya tidak keberatan jika harus menikahi Sakura, dengan menikahi Sakura ia bisa sekaligus mewujudkan impian untuk membangkitkan Klan Uchiha, tapi Sakura adalah gadis yang dicintai sahabatnya dan juga mencintai sahabatnya.

Apakah bijak menikahi orang dicintai sahabatmu dan mencintai sahabatmu itu sendiri? meski sahabatmu itu telah tiada? Apa yang akan dilakukan Naruto jika berada di posisinya?, Sasuke bertanya-tanya dalam hati.

Sasuke akhirnya teringat, disaat-saat terakhirnya Naruto memaksanya bernjanji untuk selalu menjaga dan melindungi Sakura. Bukankah secara tidak langsung Naruto berarti memasrahkan gadis yang dicintainya itu kepadanya?.

Memantapkan tekad, Sasuke memutuskan untuk menerima tawaran gadis didepannya. Mulutnya terbuka hendak mengeluarkan kata-kata, tapi Sakura sudah terlebih dahulu menghentikannya.

"Tidak perlu dijawab sekarang Sasuke-kun, pikirkan dulu tawaranku baik-baik, jika kau sudah yakin dengan jawabanmu segeralah temui aku" Potong Sakura, tautan tangan mereka dilepaskan. Sakura kemudian berdiri dan beranjak pergi mengakhiri pembicaraan mereka.

"Sampai jumpa lagi Sasuke-kun" Sambung Sakura sesaat sebelum pergi meninggalkan Sasuke yang mematung di tempatnya.

Sakura memutuskan untuk langsung pulang ke apartemennya. Tepat setelah pintu tertutup Sakura merosot, jatuh terduduk menyandarkan pintu apartemennya. Air mata berlinangan dari manik hijau Sakura. Entah kenapa dia sangat sangat merasa bersalah dengan Naruto, karena keputusannya untuk melamar Sasuke. Bahkan tadi sore dia meminta restu didepan pusara Naruto untuk menikahi Sasuke. Bukankah ketika Naruto masih hidup hubungan mereka berdua tak lebih dari sekedar sahabat dan rekan satu tim?. Sakura mendapati dirinya menyesal atas keputusannya tadi, Bukankah dulu dia mencintai Sasuke? Bukankah dulu cita-citanya adalah untuk hidup berdampingan dengan Sasuke?. Sakura tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Apakah perasaannya berubah kepada Sasuke?. Ketika tadi melamar Sasuke, Sakura sama sekali tidak merasakan jantungnya berdegup kencang.

Apakah memang hatinya telah melabuh pada Naruto?. Sakura mengingat kebersamaan mereka dulu. Dia dan Naruto sangat dekat pasca perang melawan Madara, Kemana-mana ia selalu ditemani oleh Naruto, ketika makan siang dan makan malam. ketika berbelanja kebutuhan, ataupun sekedar menghabiskan waktu luang. Sakura bahkan seringkali menggandeng tangan Naruto secara tak sadar.

Air mata semakin deras kala kerinduannya akan sosok pemuda pirang itu kembali memuncak. Sakura tak bisa menahan isakan yang keluar dari bibir manisnya. Bukankah dia yang tadi secara lantang mengatakan kepada Sasuke untuk melangkah maju dan merelakan kepergian Naruto?. Dia merasa membohongi diri sendiri karena kenyataannya Sakura belum bisa merelakan kepergian pemuda yang dulu mengisi hari-harinya.

Setelah cukup lama menangis didepan pintu, Sakura memutuskan untuk segera bergelung di kasurnya. Mengabaikan tubuhnya yang basah oleh peluh, Ia sama sekali tidak punya keinginan untuk sekedar mandi atau berganti baju.

Dipikirannya hanya satu, ia ingin segera tidur untuk melupakan cinta masa lalunya.

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Ia sudah selesai berendam air hangat dan ingin segera tidur mengingat seminggu terakhir dia tidak cukup beristirahat. Sekarang dia malah mondar-mandir tak jelas di kamarnya. Pikirannya mendadak kalut karena mengingat perkataan Sakura tadi, Bukankah tadi dia sudah memantapkan tekadnya untuk merubah diri?.

Ia tadi sudah ingin menerima lamaran Sakura. Tapi sekarang ia sangat kebingungan. Logikanya menyuruh untuk menerima lamaran Sakura, tapi hati kecilnya berteriak keras untuk menolak tawaran Sakura. Dia Sasuke Uchiha, sejak kapan dia tak menuruti logikanya? Bukankah dulu dia yakin saat mengikuti logikanya untuk mendapatkan kekuatan dari Orochimaru sampai meninggalkan desa? Sasuke berpikir dirinya sudah gila, ya dirinya memang gila setelah kepergian Naruto.

Sasuke sadar dirinya bukan orang yang pandai dalam urusan semacam ini, Sasuke bahkan tak pernah bersosialisasi dengan orang lain selain rekannya di tim tujuh. Sasuke ingin mentertawakan kebobrokan moralnya sendiri. Dia sampai mengutuk Naruto karena meninggalkannya bersama segudang masalah dibelakangnya. Masalah yang sangat bukan keahlian Sasuke Uchiha.

Menghela nafas panjang, menyambar jubah bepergiannya dan meloncat melalui jendela. Mungkin beberapa botol sake dapat menghilangkan resahnya.

Sakura terbangun dari tidurnya, netra emerald nya melirik jam yang menunjukkan pukul satu dini hari. Dia tadi bertemu Naruto dibunga tidurnya. Naruto mengatakan sesuatu yang tidak bisa diingat olehnya. Sakura berdiri kemudian melangkahkan kakinya ke nakas disamping tempat tidurnya. Tangannya meraih figura yang berisi foto tim tujuh ketika masih Genin. Ibu jarinya mengelus sosok pirang berkumis kucing, netranya menyendu ketika bersitatap dengan sosok dalam foto itu. Membawa kedalam kenangan manis tentang kebersamaannya dengan rekan setimnya yang telah tiada.

Tak ingin terlalu lama merenungkan sahabat pirangnya, Sakura memutuskan untuk kembali tidur. Besok, hari panjang masih menunggu nya dirumahnya sakit.

Sasuke berjalan sempoyongan, kepalanya masih pening karena aktivitasnya semalam. Terlihat pipi kirinya lebam biru keunguan, setelah memuntahkan seluruh isi perutnya ke wajah seorang ibu-ibu yang membangunkannya, pagi ini dikedai sake yang disinggahinya semalam.

Tangan kanannya pipinya yang berdenyut nyeri. Pikirannya mencoba mengingat kejadian semalam. Ia kebetulan berjumpa dengan Godaime Hokage di kedai sake yang dikunjunginya. Tsunade juga sama hancurnya dengannya setelah kepergian Naruto, memaksanya untuk minum-minum bersama. Sasuke mengingat percakapannya dengan Tsunade yang begitu mengalir kala membahas perihal tentang mendiang sahabat pirangnya.

Tsunade memaksanya hingga menghabiskan lima botol sake. Sasuke tahu dirinya bukanlah Godaime Hokage yang mampu menghabiskan berbotol-botol sake tanpa hilang kesadaran, tiga botol adalah batasnya. Jika lebih dari itu maka dapat dipastikan ia akan kehilangan akal sehat dan melakukan hal-hal bodoh. Pernah dulu ia minum dengan Naruto hingga habis empat botol, mereka saling baku hantam hingga menghancurkan seisi kedai.

Tepat setelah botol kelima Sasuke tak bisa mengingat apapun yang terjadi setelahnya. Dia berharap semoga semalam dia tidak melakukan hal-hal bodoh seperti yang ia lakukan dulu jika melewati batasannya.

Sasuke berjalan gontai di jalanan desa Konoha. Tujuannya adalah Uchiha Mansion, Ia ingin segera mandi, tubuhnya berbau seperti muntahan bercampur dengan aroma sake yang menyengat. Sepanjang perjalanan, ia merasa ada yang janggal dengan tatapan para penduduk desa kepadanya. Mereka berbisik-bisik ketika melihatnya.

Ketika dia baru pulang ke desa, setelah perang melawan Madara. Memang ia seringkali mandapati tatapan kebencian dan gunjingan penduduk desa terhadapnya, mengingat statusnya dulu merupakan mantan kriminal dan penghianat desa. Tapi setelah beberapa tahun dan mungkin karena pengaruh Naruto yang sering nampak bersamanya ditambah kiprahnya pada perang terakhir, tatapan penduduk berangsur-angsur berubah kepadanya.

Oleh karena itu, Sasuke dibuat heran. Belum lagi tatapan para penduduk bukan seperti tatapan kebencian, melainkan tatapan yang terkesan menyelidik seperti mencari sebuah kebenaran. Sasuke bertanya-tanya dalam hati, Apakah dia melakukan kesalahan?.

Pertanyaan Sasuke akhirnya terjawab ketika seorang pemuda berambut coklat dengan tato segitiga di pipinya menghampirinya.

"Selamat ya Sasuke atas pertunanganmu dengan Sakura, aku tak menyangka dari seangkatan rookie dua belas, kaulah yang akan menikah duluan, dan jangan lupa undang aku ya" Sahut Kiba panjang lebar sambil menjabat paksa tangan Sasuke.

"Hn" Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Sasuke mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan wajah datar andalannya. Dan membalas ucapan selamat dari Kiba dengan kata andalannya.

Jadi ini penyebab perubahan tatapan penduduk kepadanya. Otaknya berpikir keras, siapa yang menyebarkan berita tentang tawaran Sakura kemarin?. Meski tak mengenal baik Sakura seperti mengenal Naruto, Sasuke yakin Sakura tidak mungkin menyebarkan berita ini. Apa mungkin ada yang menguping pembicaraan mereka kemarin sore dikedai dango? Sasuke rasa juga tidak mungkin, mengingat suasana kedai dango kemarin lumayan sepi, dan dia sebagai ninja pasti dapat merasakan keberadaan orang berada didekatnya untuk menguping. Sasuke juga tidak teringat membahas masalah ini dengan Tsunade tadi malam ketika mereka minum-.

Mengingat kegiatannya tadi malam Sasuke tersadar. Tadi malam ia menghabiskan lima botol sake, dua botol lebih banyak dari batas kemampuannya. Apa jangan-jangan ia melakukan hal bodoh ketika dalam pengaruh sake semalam?.

Goyangan tangan Kiba mengembalikan kesadaran Sasuke dan melepaskan jabatan tangannya. Oniksnya beralih ke Shino yang berdiri bersebelahan dengan Kiba. Merasa ditatap Shino hanya menganggukkan kepala seolah mengucapkan selamat kepada Sasuke.

"Dan..., sebaiknya kau segera mandi Sasuke, baumu seperti kotoran Akamaru saat sedang mencret" Mengabaikan nasihat Kiba yang malah terdengar seperti olokan, Sasuke hanya mengangguk, kemudian pergi melanjutkan perjalanan menuju mansion Uchiha, meninggalkan Kiba dan Shino yang menatap kepergiannya.

"Haaah, tak kusangka si Teme itu akan menikah dengan Sakura, menurutmu, bagaimana perasaan Naruto jika mengetahuinya" Kiba mendesah panjang setelah kepergian Sasuke.

"Menurutku, Naruto akan bahagia, mengingat pada saat-saat terakhirnya Naruto mempercayakan Sakura pada Sasuke" Jawab Shino dengan misterius. Jari telunjuknya membenarkan posisi kacamata hitamnya yang melorot.

"Yah, mungkin kau benar" Balas Kiba, pandangannya beralih menatap tebing ukiran wajah Hokage dan berhenti dipapan kosong disamping wajah Rokudaime.

"Jika dia masih hidup, pasti wajah bodoh Naruto sudah terpasang di sana" Ungkap Kiba menunjuk tempat kosong disamping ukiran wajah bermasker Kakashi.

"Itu sudah pasti mengingat jasanya kepada Konoha dan dunia" Shino menimpali perkataan Kiba.

"Setidaknya aku sekarang mempunyai kesempatan untuk mengukir wajah tampanku disana" Ujar Kiba dan berbalik, Shino tak menjawab perkataan Kiba. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena bertemu dengan Sasuke.

Sakura membanting dokumen ditangannya keatas meja. Sejak pukul lima dia sudah sampai dirumah sakit. Sebenarnya shiftnya dimulai pukul tujuh pagi. Tetapi karena ia bangun terlalu awal dan tidak bisa tidur lagi, Ia memutuskan untuk berangkat lebih awal. Sejak sampai dikantornya, Sakura sudah membaca laporan shift malam dari para pegawai rumah sakit. Matanya memang memindai tulisan-tulisan yang tercetak jelas di sana, dan bibirnya berkomat-kamit mengucapkan kata yang tertangkap netranya. Tapi pikirannya melayang entah kemana membuatnya tak bisa menyerap barang sepenggal kalimat dari dokumen yang dibacanya.

Peristiwa kemarin lah yang menjadi penyebab hilangnya fokus Sakura, ditambah tadi malam Ia tak cukup tidur karena terbangun ditengah malam gara-gara Naruto datang ke dalam mimpinya. Sakura bahkan sampai tak sadar menyalahkan mendiang sahabatnya.

Netranya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Jadi selama hampir dua jam membaca laporan ia tak mendapatkan apa-apa, selain rasa kesal yang kini meyelingkupinya. Tangannya meraih cup kopi yang tadi dibelinya di kantin rumah sakit. Kopi itu sudah dingin karena terlalu lama dibiarkan. Sakura menyesap kopinya perlahan, rasa pahit menerpa Indra pengecapnya.

Tak lama kemudian pintu kantornya terbuka, sesosok gadis berambut pirang muncul di sana. Ino menerjang Sakura dan memeluknya erat. Kopi ditangannya terciprat kesegala arah. Kata-kata Ino sontak membuat emerald Sakura membola.

"Selamat ya Forehead atas pertunanganmu dengan Sasuke, jangan lupa traktiran nya" Seperti itulah kata-kata yang membuat Sakura terkejut setengah mati. Ia berusaha melepaskan pelukan erat Ino.

"Darimana kau tahu itu, Pig?" Sakura bertanya dengan kesal setelah berhasil melepaskan pelukan erat Ino. Tangannya mengibaskan dokumen yang terciprat kopi saat Ino menerjangnya.

"Shikamaru yang memberitahuku, tadi malam dia habis main Shogi bersama Tsuchikage ketiga, dalam perjalanan pulang, dia melihat Sasuke yang sedang berteriak-teriak didepan kedai sake mengatakan akan segera menikah denganmu" Ucap Ino dan menunjuk hidung Sakura.

Mendengar ucapan Ino, Sakura mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia tahu dengan batasan Sasuke yang akan kehilangan akal sehat jika minum lebih dari tiga botol sake. Karena dialah yang menjemput Naruto dan Sasuke ketika mereka mengacaukan seisi kedai.

Sakura tahu, selama tiga tahun terakhir pasca kepergian Naruto, Sasuke sering minum-minum untuk sejenak melupakan masalahnya, tapi Sasuke tidak pernah melewati batasannya. Kecuali jika masalah itu benar-benar berat baginya.

Emerald Sakura meredup, sorot sendu terpancar jelas di sana. Ia berpikir bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kefrustasian Sasuke. Seharusnya ia tidak memberikan tawaran bodoh itu kemarin. Niat awalnya yang berkeinginan untuk meringankan beban Sasuke malah semakin memberatkannya.

Terlihat dari gerak-geriknya, Sasuke berniat menerima lamarannya kemarin atas dasar janjinya pada Naruto. Makanya kemarin dia menghentikan ucapannya dan memberikan waktu agar Sasuke memikirkan baik-baik keputusan yang akan dia ambil. Tapi semuanya tidak berjalan sesuai keinginan, yang ada malah semakin menambah beban dan masalah mereka berdua.

Perubahan mimik wajah Sakura tak lepas dari perhatian seorang Ino Yamanaka, tak perlu menggunakan jutsu khusus klan Yamanaka untuk mengetahui apa yang menimpa sahabat sejak kecilnya itu. Terlihat jelas dimata Ino kegelisahan yang Sakura sembunyikan.

"Sakura, Apa yang terjadi?" Ungkap Ino menatap lurus Sakura.

"Aku baik-baik saja" Jawaban itu tentunya tak dapat memuaskan seorang Ino Yamanaka.

"Kau selalu bisa membicarakannya denganku Forehead, jangan selalu menanggung bebanmu sendiri, setidaknya bagilah padaku masalahmu, mungkin aku bisa membantumu" Ino meraih Sakura dalam pelukan lembut. Tangannya mengelus punggung kecil Sahabatnya.

"Apa ini ada kaitannya dengan Naruto?" Pertanyaan Ino membuat tubuh Sakura menegang dalam pelukannya. Seolah memberikan Ino sedikit petunjuk tentang masalah Sakura.

"Maaf Pig, aku tak bisa membicarakannya sekarang, mungkin lain kali" Sakura melepaskan pelukan Ino, kemudian menyambar jas dokter dan segera mengenakannya.

"Aku harus bersiap, beberapa menit jadwal operasiku dimulai" Sambung Sakura nan meninggalkan Ino sendirian di ruang kantor wakil kepala rumah sakit itu.

"Haaah" Ino menghela nafas panjang, "Jadi memang karena Naruto ya," gumamnya entah pada siapa. Ino tak terlalu terkejut mengetahui penyebab kegelisahan Sakura. Dirinya bukanlah orang yang bodoh, terlebih interaksi antara Naruto dan Sakura pasca perang melawan Madara menunjukkan bahwa mereka berdua saling mencintai. Ia tahu seberapa besar keterpurukan Sakura setelah ditinggal mati Naruto, meski dia terlihat menyembunyikannya.

Dalam hati Ino berjanji, dengan sekuat tenaga ia akan berusaha membantunya. Berapa kali pun Sakura menolaknya, Ia takkan pernah menyerah. Sudah cukup Ino kehilangan ayahnya, Ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang disayanginya.

Sakura memijat pelipisnya yang pening. beberapa menit yang lalu dia habis mendengarkan ceramah panjang Godaime, karena lalai dalam bertugas. Otaknya tidak bisa berfokus hingga membuatnya salah saat mengisi laporan harian rumah sakit dan memancing amarah shishou nya.

Sudah seminggu sejak peristiwa lamaran Sakura. Gosip menyebar cepat, melalui mulut ke mulut hingga menyebar keseluruh Konoha.

Pertunangan wakil kepala rumah sakit Konoha dan Uchiha terakhir menjadi trending topik pembicaraan di setiap sudut desa. Hal itu tentunya membuat Sakura uring-uringan. Sasuke belum menerima lamarannya, Bahkan Sakura belum bertemu Sasuke seminggu terakhir. Ia sampai heran kenapa Sasuke tak segera menemuinya? Padahal kemarin Kakashi memberitahunya bahwa Sasuke tidak mengambil misi seminggu terakhir.

Sakura sudah berusaha keras untuk menemui Sasuke tapi tidak berhasil. Sasuke seolah hilang tertelan bumi. Sakura menanyai seluruh teman-temannya tapi jawaban mereka sama, mereka tak melihat Sasuke seminggu ini. Kediaman Uchiha pun sudah dikunjungi oleh nya namun juga tidak ada. Bahkan menurut pengurus makam Sasuke tidak mengunjungi makam Naruto selama seminggu terakhir.

Bukankah dulu dia yang memberikan waktu agar Sasuke berpikir sebelum memutuskan pilihannya?

Sakura bukannya plin-plan, tapi dia hanya perlu kepastian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman orang-orang disekitarnya. Orang tua Sakura bahkan sudah memaksanya untuk segera menetapkan tanggal acara dan mempersiapkan segala kebutuhan pernikahannya.

Seminggu ini Sakura selalu menghindari Ino, Sahabatnya itu tahu jika dirinya sedang dalam masalah. Dia tidak pernah bisa berbohong pada Ino Yamanaka. Dia tahu, Ino bertujuan baik. Tapi dia tidak enak hati untuk mengikuti sertakan Ino kedalam masalah pribadinya.

Sakura memutuskan untuk beristirahat di taman belakang rumah sakit setelah mendapat amukan Tsunade. Udara taman belakang rumah sakit terasa menyengat. Dia berteduh dibawah rindang pohon disana. Siang ini matahari bersinar terang tepat di atas kepala. Ditangannya terdapat segelas jeruk yang dibelinya dari kantin rumah sakit beberapa saat yang lalu.

Warna kuning jus jeruk mengingatkannya kepada rambut mendiang sahabatnya, membuatnya tenggelam dalam kenangan manis ketika sahabatnya itu masih hidup. Dulu, di siang terik seperti ini, Sakura selalu menemani Naruto beristirahat setelah latihan berat yang dilaluinya. Mereka selalu berteduh bersama dibawah lindungan pohon training ground sambil menikmati bekal yang dibawa Sakura.

Dia ingat, Naruto sering menggodanya seperti seorang istri yang baik dan perhatian kepada suaminya. Dan selalu dia balas dengan memberikan jitakan manis setelahnya. Memikirkan kenangan bersama Naruto membuat matanya terasa panas, Tapi lamunannya harus dihentikan karena bunyi ledakan dan sirine darurat memasuki pendengarannya. Buru-buru Sakura mengusap air disudut matanya dan beralih menatap kearah sumber suara.

Asap hitam membumbung tinggi dari sana. Beberapa ledakan menyusul ditempat lain. Sakura bergegas kembali kerumah sakit untuk melakukan protokol evakuasi. Jika sirine darurat berbunyi sudah pasti desa dalam kondisi genting seperti saat Invasi Pain beberapa tahun yang lalu.

"Brengsek" Sasuke mengumpat keras, kakinya menendang kepala seorang mayat yang terbaring didepannya hingga terdengar suara patahan tulang.

Beberapa menit yang lalu dia merasakan keberadaan Urashiki bersama dua ajudannya sedang berada di dimensi buatan Kaguya yang telah dia tandai. Sasuke langsung pergi kesana, tapi hanya menemukan dua orang ajudan Urashiki, sedangkan Urashiki sendiri telah berpindah sesaat sebelum dia tiba.

Setelah menghabisi dua ajudan Urashiki, Sasuke merasakan segel di tangan kanannya teraktivasi. Segel itu adalah segel pembalik Kuchiyose yang kuncinya dia berikan kepada Kakashi untuk meneleportasikannya saat dia diluar desa jika sewaktu-waktu desa dalam kondisi darurat. Tapi sekarang dia berada di dimensi buatan Kaguya, agar segel tersebut dapat berfungsi dia harus terlebih dahulu membuka portal dimensi. Sedangkan Sasuke sudah menggunakan kemampuannya membuka portal dan membutuhkan waktu satu jam untuk melakukannya lagi.

Otak jenius Sasuke menyimpulkan jika Urashiki sengaja memancingnya untuk mengejarnya ke dimensi buatan Kaguya. Dan Sasuke masuk dalam jebakannya, sehingga dia tidak bisa kembali ke desa dengan cepat.

Sekitar setengah jam dia melawan dua pengawal pribadi Urashiki, mereka cukup kuat dibanding bawahan Urashiki yang lain. Sasuke membutuhkan waktu setengah jam lagi untuk bisa membuka portal dimensi dan kembali ke Konoha.

Sedangkan desa saat ini sedang membutuhkannya, Kakashi tidak akan memanggilnya pulang jika tidak dalam kondisi darurat. Pasti Urashiki melakukan serangan ke Konoha setelah dia memancing Sasuke mengejarnya ke dimensi buatan Kaguya.

Seminggu terakhir Sasuke meninggalkan Konoha untuk menghindari masalahnya dengan Sakura. Tapi selama seminggu dia tak di desa, desa sudah dihadapkan dengan keadaan darurat. Dia merasa gagal terhadap janjinya pada Naruto, untuk selalu melindungi desa yang ditinggalkan oleh sahabatnya itu. Sasuke berharap Kakashi dan para Shinobi Konoha dapat mempertahankan desa sebelum dia tiba di sana.

Bukankah kekuatan Urashiki jauh dibawah Momoshiki?, seharusnya dia bisa sedikit lega mengingat terdapat banyak Shinobi kuat yang berada di Konoha. Tapi entah kenapa firasatnya tidak enak, firasatnya mengatakan bahaya yang menimpa Konoha lebih dari sekedar Urashiki. Dan parahnya lagi firasat seorang Sasuke Uchiha selalu tajam dan tepat sasaran.

Kakashi menatap kekacauan didepannya dengan tajam, tangannya terkepal erat, kemarahan bercampur keputusasaan melihat kondisi desa yang dipimpinnya mengenaskan. Merutuki ketidak mampuannya mengemban amanah para pendahulunya. Dia berdiri diatasi tebing Monumen wajah para Hokage, gedung Hokage sudah hancur lebur oleh serangan makhluk yang kini melayang di atas pusat desa. Sosok itu terus menerus menghujani Konoha dengan bom-bom Cakra berwarna ungu kehitaman mirip bijuudama. Kakashi tak mampu berbuat apa-apa, dirinya sekarang tidak memiliki Sharingan Obito. Terlepas dari title Hokage keenam, dia hanya ninja Jonin biasa.

Netra Kakashi menangkap para ninja bawahannya sedang bertarung dengan orang-orang yang dibawa sosok yang terbang di udara. Dia ingin terjun dan membantu mereka. Namun, posisinya sebagai pemimpin desa membuatnya tak bisa melakukannya. Dia hanya bisa melihat dan memberi perintah dari jauh. Kakashi merasakan kedatangan seseorang dibelakangnya.

"Laporkan status Shikamaru" Ujarnya tegas tanpa mengalihkan pandangan.

"Seluruh penduduk sudah berhasil dievakuasi, para Jonin dan Chuunin sedang menahan gempuran pasukan yang menyerang desa" Jawab Shikamaru dia berlutut dibelakang Kakashi.

"Bagaimana dengan penyerang, Apa ada informasi tentang mereka?"

"Menurut Jonin yang terjun langsung melawan mereka, mereka berjumlah 10 orang selain yang sedang melayang, mereka juga menyebut dirinya Otsutsuki dan mereka mempunyai Byakugan, hanya itu informasi yang kami dapatkan, Hokage-sama " Balas Shikamaru dengan tenang. Dia berjalan dan berdiri di samping Kakashi.

"Bagaimana dengan Sasuke, Hokage-sama"

"Sasuke belum merespon panggilanku, kemungkinan dia sedang berada di dimensi buatan Kaguya. Mungkin Urashiki sengaja memancingnya agar dia tak didesa saat penyerangan ini" Jawab Kakashi, matanya memicing tajam ketika melihat titik ungu yang muncul dari kejauhan menuju ke desa Konoha.

"Itu dia" tunjuk Kakashi kearah titik ungu yang dia yakini sebagai Susanoo Sasuke.

Kiba mendencih pelan menatap sepuluh orang berkulit pucat didepannya. Mereka memakai zirah putih dan penutup wajah mirip selendang. Kemampuan mereka sangat merepotkan. Selain mempunyai Byakugan mereka juga memiliki jurus asing yang tidak pernah dilihatnya. Disamping Kiba ada beberapa ninja Konoha yang membantunya.

Para pasukan Otsutsuki melompat kebelakang menjauhi Kiba dan rekan-rekannya. Mata Kiba melihat keatas sosok yang diyakininya sebagai pemimpin orang-orang yang menyerang Konoha.

Sosok itu bertubuh kecil, berkulit pucat, fisiknya menyerupai anak-anak usia 10-12 tahunan. Dipunggungnya terdapat kendi putih yang mengingatkan Kiba kepada pemimpin desa Suna.

Ditangan orang yang sedang melayang itu muncul bola hitam keunguan seukuran bola basket. Tanpa aba-aba dia melemparkan bola itu kearah Kiba dan rekan-rekannya. Beberapa Shinobi yang bersama Kiba menggabungkan kekuatan untuk membuat kubah tanah untuk berlindung dari bola itu. sesaat sebelum bola itu menyentuh kubah tanah, bola itu tiba-tiba berpindah kebelakang orang yang melemparnya dan menimbulkan ledakan besar diatas langit Konoha.

Merasa tidak terjadi apa-apa, para Shinobi melepaskan Jutsu kubah tanah yang melindungi mereka dan mereka dapat raksasa humanoid berwarna ungu lengkap dengan armor dan sayap terbang diatas langit berhadapan dengan orang yang tadi menyerang mereka.

Beberapa menit yang lalu, Sasuke telah berhasil membuka portal dan keluar dari dimensi buatan Kaguya. Dia muncul beberapa kilometer dari desa, Seharusnya ia langsung berteleportasi ke desa tapi Kakashi sepertinya tidak sedang mengaktifkan segel pemanggil yang diberikannya. Karena tidak mau menunggu lama Sasuke langsung mengaktifkan Susanoo sempurna dan terbang meluncur kearah desa.

Saat ini Sasuke terbang berhadapan dari sosok anak-anak yang melayang beberapa puluh meter didepannya. Orang itu tampak tak terpengaruh oleh ledakan dari jurusnya sendiri yang tadi Sasuke pindahkan dibelakangnya. Orang itu tertawa keras melihat kedatangan Sasuke. Tawanya terdengar berat khas orang dewasa, sangat kontras dengan fisiknya yang menyerupai anak-anak.

"Sasuke Uchiha kah? hmm menarik, perkenalkan aku Ginshiki Otsutsuki kakak dari Kinshiki Otsutsuki yang kalian bunuh tiga tahun yang lalu" Ujarnya setelah puas tertawa, nada bicaranya terdengar meremehkan, pandangan merendahkan dia lontarkan kearah Sasuke.

"Jadi kau kesini untuk balas dendam karena kami telah membunuh adikmu?" Tanya Sasuke memprovokasi, Sasuke mencoba menahan seluruh amarahnya melihat desa peninggalan sahabatnya itu berantakan.

Ginshiki tertawa keras seperti orang gila, "Bukan, aku kesini untuk menyapa dan berterimakasih pada kalian yang telah membunuh adik bodoh yang banyak merepotkanku", Ujarnya dengan nada dibuat-buat, dia sama sekali tak terpengaruh oleh provokasi Sasuke.

"Dan sebagai ucapan terimakasihku..." Ginshiki menjeda kalimatnya, mengangkat tangan kanannya keatas dan dari sana, bola raksasa berwarna hitam keunguan muncul dari ketidak adaan. "Terimalah ini" Sambungnya kemudian tangan kanannya bergerak kedepan membuat bola raksasa itu meluncur kearah Sasuke. Bersamaan dengan itu Ginshiki menghilang dari sana.

Pikiran Sasuke mendadak blank melihat hal tersebut. Dia tahu dia dapat bertahan karena terlindung dalam Susanoo sempurnanya. Tapi tidak dengan orang-orang dibawahnya. Sasuke melirik menatap desa Konoha dibawahnya, ratusan orang nampak di sana, mereka hanya pasrah menunggu ajal melihat bola raksasa itu datang.

Sasuke mengumpat, dia sudah berjanji pada Naruto akan selalu melindungi Konoha. Tapi ini diluar kemampuannya. Sasuke bukanlah Yondaime Hokage yang mampu memindahkan bijuudama juubi ketengah laut. Kemampuan mata kirinya hanya bisa memindahkan benda sejauh matanya mampu memandang. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya, hanyalah dengan meniru cara Naruto saat menahan serangan Momoshiki pada saat final ujian Chuunin tiga tahun yang lalu.

Sasuke membuat segel dengan satu tangannya, mengeluarkan seluruh cakra yang dimilikinya dan dan memfokuskannya kesayap Susanoo. Sayap Susanoo Sasuke semakin membesar hingga lima kali ukuran tubuhnya. Kedua tangan Susanoo menahan laju bola didepannya dan sayapnya menyelimuti bola raksasa itu hingga tertutup sempurna.

Sasuke menutup mata menunggu ledakan dari bola yang ditahannya. Namun ledakan yang ditunggu tak kunjung datang. Ketika Sasuke membuka matanya bola raksasa itu telah hilang, digantikan oleh sosok berwarna kuning keemasan sedang melayang di sana dan sosok itu menatapnya dengan angkuh.

"Apa kau tidak punya cara lain sehingga meniru caraku, Teme" Ujarnya dengan nada dan senyum meremehkan.

Sasuke terbelalak, mencoba untuk tidak mempercayai apa yang dilihat matanya. Sosok yang seharusnya terbaring di makam Pahlawan Konoha berada didepannya.

"Kau terlambat, Dobe" Balas Sasuke penuh kelegaan. Hati Sasuke sangat lega melihat sahabatnya yang sangat dirindukannya itu. entah kenapa seluruh beban dipundaknya menjadi hilang. Ia bersyukur karena belum menerima tawaran Sakura. Karena sosok yang dicintai Sakura dan mencintai Sakura tengah melayang didepannya.

Seolah bangkit dari kematian, Naruto Uzumaki telah kembali.

TBC

AN : mungkin dilanjut Minggu depan, mungkin bulan depan, mungkin tahun depan, atau gak bakalan dilanjutin.