Disclaimer : All characters belong to Attack on Titan, Hajime Isayama. But, the storyline was purely mine.
Warning : angst, alternate universe, might be ooc, etc.
[[ One (last) night ]]
.
Sekali saja, aku hanya butuh satu kesempatan. Sebelum nantinya aku akan benar-benar melepasmu pergi.
.
.
.
Berbincang di sudut kafe adalah rutinitas.
Berhadapan dengan Hange; mengarungi menit-menit penuh rapal, ditemani selintas gelak, menanti gurat oranye dan merah melintasi barat.
"Penerbanganku malam ini," ujar Levi menyela.
Raut sang puan sontak berubah. Cahayanya berganti mendung sewarna netra Levi.
"Acaraku besok, lho, Levi. Besok siang saja, ya?"
Levi berdecih samar. "Uangku tidak sebanyak itu untuk membatalkan pesanan sesuka hati, Imbisil."
Bohong, aku hanya terlampau takut menghadapi fakta.
Wanita itu kemudian melempar embus frustrasi. "Padahal eksistensi kamu yang paling aku harapkan."
Wajahnya tertelungkup lemah pada permukaan meja; mencipta hela tertahan dari sang pria.
Aku ini payah, ya?
Ingatan beberapa tahun silam menyeruak tanpa permisi bak potongan film berlayar monokrom.
Memaksa Levi kembali ke masa-masa keduanya masih berada di sekolah menengah; saat terjebak hujan dalam perjalanan pulang.
Momen yang tanpa sengaja menimbulkan desir-desir aneh pada relung. Desir-desir yang Levi coba tepis, meski nyatanya itu tak pernah berhasil.
Pria itu ingat, tatkala pelangi menghampar cantik di cakrawala. Menghipnotis, mengunci atensi.
Namun, alih-alih pelangi, netranya mengunci gadis bersurai cokelat di sampingnya. Memperhatikan tetesan sisa rintik mengalir menyusuri garis pipi, pun *sienna*-nya yang tampak menyala atraktif.
Dipikir lagi, aku memang memiliki banyak kesempatan di masa lampau
—jauh sebelum 'dia'.
Lalu perlahan, kepingan itu pudar, menarik Levi kembali pada realitas. Senyum miris terbit setelahnya.
Kepala yang masih menghadap meja Levi ketuk pelan, berniat membuat si pemilik menatapnya.
"Omong-omong, Hange,"
Benda perak silinder terjulur begitu wanita itu mengangkat kepala. Kilaunya tampak cantik dibawah cahaya lampu. Bahkan jika teliti, ukiran 'Hange' dapat terbaca di sisi bagian dalam.
"Anggap saja pemintaan maaf dariku."
Satu detik, dua detik.
Terdapat sirat ragu di netra Hange begitu meraih benda mungil dalam capit Levi.
"Levi … ini, cantik! Terima kasih, tapi …,"
"Aku tahu," potong Levi. Pria itu mendengkus gusar tak ingin mendengar rangkaian kata selanjutnya.
Levi tangkap sienna itu melirik jari manis di tangan kanan; lingkaran perak lain memeluknya erat. Samar-samar senyum wanita itu terpahat. Mencipta getir yang kesekian di dada Levi.
"Tidak dipakai juga tidak masalah," putus Levi.
Hange gelagapan. "Eh, tidak, tidak! Tentu saja akan kupakai ...," Otaknya dipaksa berpikir,
"sebagai kalung! Iya, benar, aku akan membeli rantainya nanti." Tawa aneh mengakhiri ungkap, disusul kekeh Levi.
"Terserah saja."
Lembayung senja perlahan menghilang dilahap malam. Tidak ada lagi gradasi warna; hanya gelap, pekat, dan cahaya redup rembulan.
"Levi," panggil Hange. "Kenapa harus pergi jauh-jauh ke Kanada, sih? Sepertinya dulu kamu bilang tidak suka perjalanan lintas negeri."
"Pamanku meminta datang. Biar bagaimanapun pria tua itu satu-satunya keluargaku, Han."
Lagi-lagi beralih, bersembunyi.
Wanita itu menghela napas sejenak. Lalu, tremor mengiringi kalimat berikutnya. "Kamu akan kembali, kan?"
Levi diam beberapa detik. Kemudian, diiringi embus napas pria itu berujar, "Aku memilih mengikuti skenario Tuhan."
Sang wanita mengerutkan alis. "Kamu harus kembali, atau aku yang akan menghampirimu ke sana," putusnya.
Levi tergelak canggung. Lalu mendadak bangkit dari tempatnya.
"Sudah semakin malam. Ayo, aku antar pulang."
.
"Ayo!" Farlan menepuk pria yang terpekur menatap layar ponsel yang redup.
"Dia ... tidak menelepon."
"Mungkin sedang sibuk? Ayolah, dia akan mengirimu pesan nanti."
Ah, benar. Ada perkara lain yang lebih penting.
Pria itu menghidupkan ponsel, menekan-nekan layar beberapa kali sebelum ponselnya benar-benar mati.
Levi : Aku akan berangkat.
Levi : Selamat atas pernikahanmu.
Levi : Sampaikan salamku pada Erwin.
"Ayo!" serunya kemudian pada pria jangkung di depannya.
Kopernya ditarik pelan memasuki badan pesawat; sementara dirinya terlarut dalam kontemplasi, abai dengan Farlan yang mengoceh entah perihal apa.
Dia mengembus napas panjang. Melepas pahit-pahit tak beresensi.
Lalu, tersenyum.
Tidak apa-apa, Hange. Suatu saat aku akan benar-benar melepasmu, janji.
.
—Fin.
Additinal notes :
Thank you so much for reading!
Sincerely,
Alen.
