Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Touhou Memories of Phantasm: Manpuku Jinja
.
.
Pairing: Naruto x ?
Genre: fantasy, romance, friendship, supranatural
Rating: M
.
.
.
Trust Me, Youkai Exist
By Hikasya
.
.
.
Chapter 1. Kesal, tidak ada yang mempercayai Naruto
.
.
.
"Oka-san, apa youkai itu benar-benar ada?" tanya Namikaze Naruto saat duduk di dekat meja. Dia sedang sarapan bersama orang tuanya di ruang makan yang bersatu dengan dapur.
"Kau bertanya itu lagi. Dasar! Youkai itu tidak ada!" jawab Namikaze Kushina menggeleng, menunjukkan tampang kesal. Alisnya menukik.
"Tapi, aku mendengar berita semalam di televisi. Banyak tulang dan darah manusia yang ditemukan berceceran di jalanan. Pihak kepolisian yang mengusut kasus itu, kebingungan mengungkap siapa pelakunya."
"Itu..."
Ucapan Kushina terputus karena Namikaze Minato memegang tangannya. Mereka duduk bersisian. Minato menggeleng, menunjukkan muka tegas. Membuat Kushina tersentak, tidak jadi memberitahukan apa sebenarnya yang terjadi pada Naruto.
"Sebaiknya kau pergi ke sekolah saja, Naruto," ucap Minato bertampang serius, lalu melanjutkan sarapannya.
"Baiklah, Otou-san," balas Naruto mengangguk patuh, mengambil tas yang tergeletak di sampingnya, "aku pergi dulu. Sampai nanti, semuanya!"
Naruto melangkah keluar dari dapur. Keheningan menguasai tempat itu sebentar saja. Kemudian suara Minato yang terdengar memecahkan kesunyian itu.
"Kushina, kau nyaris membocorkan itu pada Naruto," kata Minato melirik tajam Kushina.
"Kenapa kita harus merahasiakannya?" tanya Kushina mengerutkan kening.
"Aku tidak mau Naruto terlibat dengan mereka."
"Kita telah hidup damai selama lima ratus tahun. Tapi, kenapa mereka muncul lagi sekarang?"
"Itu yang akan kuselidiki nanti."
Minato mengeratkan kedua tangannya. Menggeretakkan gigi-giginya. Mengeraskan wajahnya. Kushina memahami perasaannya, mengelus pelan punggungnya.
Di sisi lain, Naruto bersepeda menyusuri trotoar khusus. Di sisinya, ada trotoar khusus untuk penjalan kaki. Banyak orang yang berjalan kaki di trotoar itu. Mengukir senyum di wajah Naruto.
Di trotoar bersimpang tiga, Naruto berpapasan dengan beberapa teman sekelasnya. Naruto menyapa mereka yang juga bersepeda. Senyum dan tawa mewarnai perjalanan mereka ke sekolah.
Tiba di sekolah, Naruto dan teman-temannya meletakkan sepeda ke tempat parkir. Mereka diperhatikan seseorang di balik pohon Sakura di dekat pagar, jauh dari mereka. Entah siapa seseorang itu.
Naruto menyadari keberadaan seseorang yang mengintainya. Tapi, saat dia melihat pohon Sakura itu, tidak ada siapapun. Hanya hujan Sakura yang menandakan kesunyian.
"Mungkin perasaanku saja," bisik Naruto segera berjalan bersama teman-temannya.
"Ada apa, Naruto?" tanya Inuzuka Kiba, berjalan di samping Naruto.
"Tidak ada apa-apa."
"Oh, kau main rahasia denganku?"
"Tidak."
Kiba merangkul bahu Naruto dari samping. Mereka berbincang-bincang tentang apa saja dengan kawan-kawan lain. Langkah mereka terus terayun hingga tiba di kelas.
"Aku mendengar murid sebelah juga hilang. Tahu-tahu, ada orang yang menemukan seragamnya tergeletak bersama tulang-belulang dan noda darah di trotoar, dekat sekolah ini."
"Iiih, menyeramkan sekali!"
"Aku jadi takut pulang sendirian. Apa lagi kita selalu pulang malam, 'kan?"
"Benar. Penyerangan itu terus terjadi di malam hari. Kejadiannya, akhir-akhir ini, 'kan?"
"Kita pulang sama-sama saja nanti, ya?"
"Ya."
Murid-murid perempuan di kelas Naruto, membicarakan berita yang tersebar di seluruh kota Konoha itu. Naruto dan teman-temannya yang baru masuk ke kelas itu, terdiam mendengarkan percakapan mereka. Kemudian Kiba berjalan mendekati mereka.
"Kalau kalian mau, aku bisa menemani kalian pulang nanti," pinta Kiba berdiri di dekat meja Yamanaka Ino. Dia dikenal sebagai playboy di kelas itu.
"Tidak!" balas Ino dan semua gadis itu kompak. Melototi Kiba dengan muka sangar.
"Kenapa? Aku yang tampan ini, bisa melindungi kalian dari pelaku yang memakan manusia itu."
"Kau sendiri penakut, Kiba," timpal Haruno Sakura, bersedekap dada. Berwajah jutek.
"Ya. Jangan sok menjadi pelindung begitu," celetuk Ten Ten menyipitkan mata.
"Jangan katakan aku begitu! Itu merusak reputasiku!"
Kiba kelabakan karena terkena cipratan protes dari geng Sakura. Hanya Hyuga Hinata yang terdiam, tidak ikut menghakimi Kiba. Kiba mundur beberapa langkah, memilih menyerah daripada berdebat dengan geng Sakura.
"Aku tahu siapa pelaku yang telah memakan orang-orang itu," ungkap Naruto maju dan berdiri di depan Kiba, "pelakunya adalah youkai."
"Youkai?" Semua orang membelalakkan mata.
"Ya, youkai."
Naruto mengangguk. Bersikap serius dengan mata menyipit. Tapi, dugaannya ini malah dianggap lelucon oleh seisi kelas. Tawa yang nyaring membuat Naruto terdiam.
"Naruto, Naruto, Youkai itu tidak ada," ujar Nara Shikamaru memegang bahu Naruto. Menahan tawa agar tidak meledak lagi.
"Ya, Naruto. Kau pasti kebanyakan menonton film tentang youkai atau sejenis itu," timpal Uchiha Sasuke, yang baru datang, sempat mendengar apa yang terjadi.
"Hei, aku tidak bercanda! Youkai itu benar-benar ada! Aku percaya mereka ada! Bukan fiksi atau karangan belaka!" teriak Naruto melototi semua orang yang ada di sekelilingnya.
"Sudahlah, Naruto. Kau jangan bersikeras begitu. Tidak akan ada yang mempercayaimu," bisik Kiba ke telinga Naruto.
"Terserah kalian percaya atau tidak. Tapi, suatu hari nanti, kalian akan mempercayainya."
Naruto tersenyum. Ucapannya tadi membuat orang-orang terdiam. Kiba melongo, berbisik pelan ke telinga Naruto.
"Naruto, aku percaya Youkai itu ada. Tapi, jangan terlalu menunjukkan obsesimu terhadap Youkai itu pada orang-orang di sini." Kiba bermuka kusut.
"Itu tidak masalah bagiku. Aku mengetahui tentang Youkai dari temanku yang tinggal di bukit, jauh dari sini. Aku akan mengunjunginya setelah pulang sekolah nanti." Naruto menoleh ke arah Kiba.
"Apa aku boleh ikut denganmu?"
"Tidak. Hanya aku yang boleh mengunjunginya."
"Ayolah, aku mau berkenalan dengannya!"
"Tidak."
Naruto menggeleng, segera melangkah ke mejanya. Kiba mengekorinya. Naruto tidak memedulikan bisikan seisi kelas yang membicarakannya. Menganggapnya dirinya adalah orang teraneh di kelas.
.
.
.
Naruto berpisah dengan Kiba dan teman-teman yang memihak padanya saat pulang sekolah. Naruto bersepeda, melaju di jalur khusus sepeda. Arah tujuannya bukanlah menuju rumahnya, melainkan ke arah hutan yang ada di tepi kota.
Jalan raya membelah hutan. Udara sore yang cukup segar, menemani perjalanan Naruto. Naruto mengayuh sepeda dengan semangat. Tidak sabar bertemu dengan kawan karibnya.
Ada jalan setapak yang menanjak menuju puncak bukit. Naruto menyeret sepedanya dengan sekuat tenaga untuk menempuh jalan setapak itu. Dia berhasil sampai ke atas bukit. Menemukan halaman yang tertutupi batu putih dan banyak daun berserakan di mana-mana.
Di tengah halaman batu putih itu, ada kuil kecil bobrok dan tidak pernah dikunjungi orang. Ada gadis Miko yang menjaga kuil itu. Gadis Miko berambut hitam yang sewarna dengan matanya, sedang duduk di tepi beranda depan kuil. Dia menikmati secangkir teh hijau hangat.
"Kau lagi," ucap gadis itu menurunkan cangkir teh dari mulutnya.
"Maaf, aku mengganggumu, Reimu," balas Naruto berhenti menyeret sepeda. Memarkirkan sepeda di dekat Reimu.
"Ya. Kau selalu menggangguku. Dasar!"
Reimu mempelototi Naruto. Naruto tersenyum, lalu duduk di dekat Reimu. Dia menunduk, melepaskan perasaan lelah dengan menghembuskan napas beberapa kali. Reimu memerhatikannya, turut menghembuskan napas, tetapi sekali saja.
"Kau baru pulang sekolah, ya?" tanya Reimu bermuka datar.
"Ya," jawab Naruto mengangguk pelan.
"Terus, kenapa kau malah datang ke sini?"
"Karena ada masalah."
"Apa masalahnya?"
Naruto menceritakan semua yang terjadi pada Reimu. Reimu tercengang, kemudian menyipitkan mata. Dia memegang cangkir dengan kuat.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Cerita baru di fandom Naruto and Touhou. Bagaimana pendapatmu tentang cerita ini?
Tertanda, Hikasya.
Selasa, 1 Juni 2021
