Desclaimer © BTS n Adora itself
Story © LydiaSyafira
Hope you liked it!
.
.
.
Limerence
"Lirik ini tidak sesuai dengan beat yang kau buat, Paboya."
"Hah? Itu 'kan lirik yang kau tulis sendiri, Oppa…"
"—boo."
Mata tajam itu memicing kearah iris coklat di depannya. Seolah menembus tepat ke sasaran. Tak ada manusia normal yang tak bergidik saat dihadiahi tatapan seperti itu. Termasuk gadis mungil bersurai pirang yang berdiri 2 meter darinya, Park Soo Hyun, atau orang lebih suka memanggilnya Adora.
"Apa yang barusan kudengar? Huh?"
"Oppa! Itu yang kukatakan, memang apa yang kau dengar? Lebih baik kau pikirkan lirik penggantinya sekarang, daripada terus memarahiku. Lagipula itu kesalahanmu sendiri, dasar." Buru-buru Adora menaruh lembaran kertas berisi draft mentah lirik lagu tersebut secara kasar kearah meja kerja lawan bicaranya. Ia tak membiarkan laki-laki itu membalas ucapannya, sebelum serentetan kalimat tajam berdatangan dan membuat nyalinya ciut.
Bunyi debuman pintu yang keras terdengar setelahnya.
Adora kabur, tentu saja.
"Ya! kau mau kemana? Ini bahkan belum jam istirahat, kembali atau kubakar semua kertas-kertas ini!"
"Bakar saja! Lagipula itu lagu kalian, paling-paling kau yang akan dibakar Pd-nim, atau minimal, mereka akan mengunci dan membiarkanmu membusuk di studiomu!" pekik Adora dari kejauhan seraya menunjuk 6 member lainnya yang sudah sangat terbiasa dengan pemandangan ini.
Kembali lagi pada pemuda—yang saat ini mengenakan hoodie hitam andalannya—yang tengah memandangi komputernya dengan tatapan putus asa. Jadwal perilisan single terbaru sudah dekat, dan lagunya bahkan belum mencapai 50%. Mau bagaimana lagi, akhir-akhir ini dia sedang tidak sehat. Lalu, sebenarnya ini bukan salah gadis tadi. Faktanya, lirik yang dia buat memang berantakan dan tidak sesuai tempo. Padahal beat yang ada sudah sangat sempurna. Dapat dipastikan, ia pasti akan lembur lagi malam ini.
"Yoongi-hyung, jangan terlalu memaksakan dirimu. Kita masih bisa membuatnya bersama. Lagipula ini masih belum terlambat." Ucap salah satu dari mereka.
Ah, perkenalan yang sedikit telat sepertinya. Kami adalah sebuah boygroup yang lumayan dikenal di masyarakat, Bangtan Seonyondan. Kumpulan dari orang-orang yang memiliki mimpi yang sama. Pemuda yang barusan membuka suara adalah Kim Namjoon. Leader sekaligus rapper yang merangkap sebagai produser. Dan laki-laki bermata tajam yang sejak tadi menarik atensi berkat perdebatannya dengan seorang gadis adalah Min Yoongi, Hyung kedua di boygroup berisi 7 member itu. Terakhir, gadis mungil bersurai pirang yang juga membuat kehebohan tadi adalah Park Soo Hyun, a.k.a Adora. Produser resmi yang suaranya sering mengisi backvocal lagu-lagu mereka.
Wanna some plotwist, here?
"Terkadang aku masih tak percaya fakta bahwa kau berpacaran dengannya, jujur." Sepotong kalimat meluncur begitu saja dari bibir hyung tertua diantara mereka. Kim Seokjin. Sontak hal itu mengundang tawa seluruh penghuni ruangan berukuran 3x3 tersebut. Pemuda yang memperoleh predikat world wide handsome itu menyunggingkan senyum gelinya menatap sang adik yang kini bersemu merah.
"Nde, 24/7 dihabiskan dengan adu mulut dan saling melempar tatapan tajam selama lebih dari 7 tahun, ternyata diam-diam menyimpan rasa. Tidakkah, kau berpikir untuk mengikuti audisi skycastle dengan bakat acting-mu yang luar biasa itu, hyung?" Taehyung ikut bersuara setelah beberapa saat menahan tawa atas drama hariannya yang tak pernah bosan ia tonton terus menerus.
"Setuju. Kalau perlu kalian berdua ikut audisi bersama. Kurasa hanya dengan melihat chemistry bertarung kalian di luar gedung, cukup membuat kalian lolos audisi jalur prestasi. Wah, aku tidak sabar melihatmu debut di TVku, hyung." Kali ini suara berasal dari pemuda imut yang bertubuh paling pendek diantara semua member, sasaran bully paling sempurna untuk maknae mereka, Jeon Jungkook. Namanya Jimin, Park Jimin. Seseorang yang sempat membuat Yoongi merajuk tanpa alasan hanya karena marganya sama dengan Adora. Jimin sampai menangis karena terlalu banyak tertawa, jika mengingat betapa konyolnya itu.
Tampak di pojok ruangan, Jung Hoseok, atau pria bernama panggung J-hope itu sedang menyeka air mata sambil memegangi perutnya. Berkumpul dengan mereka memang tidak baik untuk kesehatan jiwa-jiwa recehnya. Kau bisa bayangkan betapa tersiksanya dia yang terus tertawa sejak 5 menit lalu.
"Aku tidak mengatakan apapun! Aku bahkan tidak tertawa! Hyung, bisa lihat bagaimana tenangnya diriku saat ini, ok!?" cecar Jungkook segera, setelah melihat aura membunuh yang dikeluarkan Yoongi untuk para adik tersayangnya.
Tak lama setelah itu, terdengar raungan memilukan dari studio Suga. Tentu saja berasal dari duo 95-liner. Kim Taehyung dan Park Jimin.
Setidaknya kali ini kau lolos, Kook.
.
.
.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Namun, pemuda bersurai kecoklatan itu masih sibuk berkutat dengan perkamen-perkamen diatas meja kecilnya. Cangkir kopi yang sepertinya sudah diisi ulang lebih dari 3 kali, tampak mengering tanpa jejak. Menandakan bahwa pemiliknya sangat menggemari cairan berwarna hitam pekat itu. Tak terhitung berapa helaan nafas yang keluar dari bibir tipisnya. Yoongi memandangi sekali lagi bait-bait yang sudah ia tulis, dan beberapa note yang ditinggalkan Namjoon dan Hoseok sebelumnya. Masih lumayan berantakan, tapi setidaknya lebih baik daripada tadi. Ia menunduk sekedar mengistirahatkan lehernya yang lelah memandangi komputer sejak tadi.
Bunyi langkah kaki di depan studionya mengalihkan perhatiannya.
Sudah selarut ini, siapa yang masih lembur? Tidak mungkin jika itu Trainee, mereka masih terkena jam malam dari perusahaan. Jadi, orang itu pasti pegawai yang cukup memiliki wewenang untuk berkeliaran dengan bebas di dalam gedung kapanpun, seperti dirinya.
Tak lama, terdengar bunyi knop pintu studionya yang terbuka. Hanya sedikit orang yang mengetahui password studionya; J-hope, Taehyung, dan juga,
"Kau masih mengerjakannya?" suara lembut khas wanita memecah keheningan malam di ruangan gelap itu. Adora berjalan pelan, tak ingin mengganggu kekasihnya yang masih menelungkupkan wajahnya di atas meja. Pemuda itu belum tidur, Adora tahu.
Perlahan ia mendekati Yoongi dan menyentuh sebagian rambut belakangnya. Senyum tipis terulas di bibir ranumnya. "Pulanglah. Sisanya serahkan padaku. Besok aku akan meletakannya di mejamu, ok?"
Tak ada respon apapun dari pemuda itu. Ia hanya diam tak bergeming di tempatnya. Senyumnya perlahan luntur, tergantikan raut penuh perasaan bersalah. Kepalanya bergerak ke arah belakang leher Yoongi dan bergumam, "Kau, masih marah padaku soal tadi siang?" jeda sebentar sebelum ia melanjutkan, "…Maafkan aku."
Yoongi bergerak sedikit walau tetap enggan menegakkan badannya. Gadis itu menyerah, ia bangkit berdiri dan berkata, "Baik, malam ini kau tidur di studio, tapi pindahlah ke atas sofa, jangan di kursi seperti ini. Kau akan terserang flu, Chagiya." Nada suaranya tidak selembut pertama, ada sirat kecemasan di dalamnya. Ia tak mau Yoongi sakit lagi ditengah schedule-nya yang padat. Pemuda itu masih setia pada posisinya, diam tak bergeming. Adora kemudian berpikir kemungkinan bahwa kekasihnya itu sudah lelap dalam mimpinya, mengingat betapa lelahnya dia hari ini. Ia beranjak dari tempatnya, bermaksud mengambil selimut yang berada tak jauh darinya.
Belum ada satu langkah ia berjalan, sebuah lengan terulur dan menariknya cukup kuat. Adora bahkan terlalu terkejut untuk berteriak, kemudian ia sadar bahwa yang menariknya tadi adalah kekasihnya sendiri. Kini ia mendarat mulus diatas paha Yoongi, dengan posisi saling berhadapan. Dari posisi ini, gadis itu melihat dengan jelas gurat lelah yang tercetak jelas di mata panda pemuda itu. Dan dari caranya membuang nafas, Adora juga tahu, kalau kekasihnya itu masih merajuk. Lucu sekali.
"Kenapa baru datang?" gumamnya pelan seraya menjatuhkan kepalanya di bahu kecil Adora. Menghirup dalam-dalam aroma chamommile yang menguar dari tubuh gadisnya. Mengantarkan perasaan tenang dan damai tiap ia memeluknya.
"Kukira kau masih marah padaku."
"Memang."
Dan tawa halus mengalir setelahnya. Yoongi memang sangat manja jika kau benar-benar mengenalnya. Hidup dan besar sebagai bungsu di keluarganya, namun dituntut menjadi sulung di tempat kerjanya. Tetap saja ada kalanya sisi bungsu itu mengapung ke permukaan. Butuh kesabaran ekstra menghadapi Yoongi saat di mode seperti ini.
"Kau tau, Oppa. Di atas sana ada CCTV, kau akan terkena masalah jika staff lain mencurigai posisi kita yang tidak wajar seperti saat ini." Ucap Adora dengan wajah pucat yang tersamarkan oleh gelapnya ruangan.
Yoongi menatap wajah gadisnya dengan seksama, bukan hal sulit untuknya yang terbiasa dengan ruangan gelap dan minim pencahayaan seperti ini. Seulas senyum miring perlahan tersungging di bibirnya. Ia mendekatkan wajahnya pada Adora, perlahan namun pasti, kini jarak antara ia dan kekasihnya semakin terkikis.
"Jangan khawatir, aku bisa merentas sistem CCTV ruanganku sendiri. Jadi tak akan ada masalah apapun. Bahkan jika kita berbuat sesuatu lebih disini." Gumamnya bernada seduktif.
Awalnya ia terkejut dengan perubahan sikap Yoongi yang mendadak. Tapi kemudian ia ingat, ini Yoongi. Min Yoongi dengan perubahan sifatnya yang selalu tiba-tiba. Bohong jika ia berkata, ia tak merasakan apapun. Jelas ia sangat terangsang saat ini. Provokasi Yoongi benar-benar berdampak pada libidonya yang mendadak naik. Posisi mereka yang sangat intim, tubuh bidang pemuda itu yang terus menekannya ke arah meja, dan wajahnya yang terus menghapus jarak diantara mereka. Oh, ayolah walau dia lebih muda 4 tahun dari kekasihnya, ia tetap seorang wanita normal yang akan terangsang di situasi seperti ini.
Adora menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan. Seulas senyum menghiasi bibir indahnya. Ia memajukkan wajahnya sangat dekat dengan Yoongi. Semburat merah jelas terlihat di wajah keduanya yang sama-sama seputih salju. Gadis itu menyatukan dahinya dengan kekasihnya, menutup kelopak matanya, dan membiarkan posisi ini selama beberapa saat. Menikmati ketenangan yang ada, tanpa adanya perasaan tidak nyaman. Beginilah cara mereka mengisi ulang energi setelah seharian bekerja. Tak ada yang menyangka bahwa Adora adalah seorang introvert dari sikapnya yang begitu ceria di depan, sampai Yoongi sering mendapatinya berdiam diri di atap perusahaan setiap jam istirahat, dengan roti isi daging dan jus jeruk, favoritnya.
"Maaf." Lirih gadis itu pelan.
"Kau sudah mengatakan itu puluhan kali. Aku bahkan berpikir apa kau sedang bertobat atas dosa-dosamu di masa lalu atau bagaimana."
Adora tak punya kuasa atas tangannya yang reflek mencubit perut pemuda di depannya. Yoongi mengaduh, seraya terkekeh pelan. Oh Tuhan, ia sudah mengenal Yoongi bertahun-tahun, tapi tetap saja, gummy smile itu adalah dosa besar yang dimiliki kekasihnya. Akan sangat memalukan bila ia tertangkap basah memandanginya lebih dari 5 detik. Segera saja ia mengalihkan wajahnya kearah lain.
"Jadi, untuk apa maaf itu kali ini, nona? Aku akan mendengarkan apapun itu darimu." Suara Yoongi perlahan melembut, seiring dengan lengannya yang semakin mengerat di sekitar pinggangnya.
"Tidak ada, hanya—"
Satu kecupan berhasil dicuri laki-laki itu. Menghentikan kalimat Adora sejenak. "Ah, aku tidak bisa menahannya, maaf."
Adora terkekeh gemas. Ia bertanya-tanya apa benar pria ini benar berusia 27 tahun, atau bukan.
Alih-alih melanjutkan kalimatnya, ia malah menghambur ke dada bidang di depannya. Menghirup dalam aroma kayu manis yang menguar dari parfum yang dikenakannya. Tanpa sadar setetes bening meluncur mulus menyusuri garis pipinya, tak ada isakan atau getaran apapun. Ia hanya menangis tanpa suara. Sampai ketika Yoongi menyadari diamnya Adora yang terlalu lama baginya, ia menarik pelan bahu Adora. Dan terkejut melihat wajah gadisnya yang basah.
"A-ah, aku akan mencuci pakaianmu nanti—"
"Kau menangis? Apa karena aku menciummu tadi?" Yoongi menatapnya khawatir, Adora bukanlah orang yang mudah menangis, jadi wajar bila ia sangat cemas sekarang. Ia sangat tahu jika Adora adalah gadis yang sangat menjaga dirinya. Maka, tindakannya barusan bisa dibilang melewati batas privasinya.
Ia menggeleng, berusaha menghentikan air matanya yang terus mengalir tanpa kendali. "A-aku, merasa bersalah padamu. Kau pasti sangat ingin melakukan beragam hal dengan kekasihmu seperti normalnya pasangan—kau tahu maksudku. Dan, disini yang kau dapat hanya gadis membosankan yang bahkan tak berani melakukannya pada kekasihnya sendiri. Itu adalah sesuatu yang terus mengganjalku selama ini, bagaimana mungkin kau masih bertahan padaku yang tak bisa memberikan kepercayaan penuh padamu? Sangat wajar bila suatu hari kau tertarik pada gadis lain. Aku selalu menyiapkan diriku atas itu setiap hari. Tapi kenapa kau bahkan masih bisa bersikap sedemikian lembut padaku tanpa berharap sesuatu lebih dariku? Waeyo, oppa?" tatap Adora tepat di manik hitam Yoongi. Nafasnya memburu oleh luapan emosi yang tertanam sejak lama.
Keheningan melingkupi atmosfer diantara keduanya.
"Sudah semuanya? Aku akan menjawabnya jika kau sudah selesai." Yoongi tersenyum lembut. Tangan putihnya terulur menggapai kotak tisu yang ada di dekatnya, mengambil beberapa helai tisu di dalamnya. Melipatnya ke dalam beberapa lipatan, sebelum meraih wajah mungil di depannya. Mengusap lembut jejak basah yang tertinggal di pipi putih Adora, begitu juga yang ada di telapak tangannya. Merapikan poni yang menutupi dahinya, dan menyapunya ke belakang. Diam-diam mencatat dalam hati bahwa gadisnya tengah di masa pra-menstruasi yang selalu menjadi momok bagi kaum adam dalam menghadapi wanita di kondisi moody-nya seperti ini. Namun, itu cukup lucu menurutnya.
Adora menggeleng pelan. Tanda ia menyudahi segala ucapannya barusan.
"Baik. Pertama, dan selalu utama, berhenti berfikir aku akan melihat kearah gadis lain. Karena, Demi Tuhan, kau bisa melihat jadwalku 'kan? Adakah sela yang bisa kugunakan untuk berkencan, menurutmu?". "Lalu kedua, tidak ada satupun hal buruk atas keputusanmu untuk lebih menjaga diri. Sekalipun itu dariku, kekasihmu sendiri. Karena, yah, aku tidak munafik bahwa aku tetap pria normal yang mudah terbawa nafsu. Apalagi itu kau." Yoongi menjeda sejenak, mengalihkan sedikit atensi dari manik coklat di depannya. "Lalu ketiga, sampai saat ini bahkan aku tidak tahu apa yang membuatku menyukaimu. Tapi, kurasa justru lebih baik tidak kutemukan. Karena bila alasan itu hilang, maka perasaanku padamu kemungkinan besar akan hilang. Dan terakhir," Yoongi menutup matanya, kembali menyatukan dahi mereka berdua, "Berhenti berfikir bahwa menyerahkan mahkotamu merupakan cara menunjukkan rasa percayamu padaku. Aku akan menanggung rasa bersalah lebih tinggi, bila pada akhirnya akulah yang menghancurkan kepercayaan itu. Tetaplah simpan satu hal berharga yang hanya akan kau berikan pada suamimu kelak di masa depan. Itu sama sekali bukan pemikiran kolot, justru itu menggambarkan betapa kuatnya prinsip yang kau pegang selama ini. Sesuatu yang jarang dimiliki gadis seusiamu." Ia tersenyum, "Dan membuatku semakin menyukaimu, asal kau tahu." Bunyi kekehan pelan terdengar setelahnya.
Adora terpaku di tempatnya. Air mata kembali meleleh di sepanjang garis pipinya. Ia tak menyangka bahwa kalimat Yoongi akan sepanjang dan sedalam ini. Berulang kali ia berusaha menyeka wajahnya, merutuki diri atas sikapnya yang mendadak melankolis seperti ini. Oh astaga, mereka sudah 3 tahun berpacaran, bukan 3 minggu yang lalu.
Gadis itu lagi-lagi menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya.
"Aku, menyukaimu."
"Aku tahu."
"Tidak, aku mencintaimu."
"Aku tahu."
"Kau menyebalkan."
"Aku tahu."
"Tapi aku menyukaimu."
"Itu juga aku tahu."
Adora mendengus sebal. Apapun ucapannya pasti akan selalu dibalas kalimat yang sama. Perlahan ia menjatuhkan kepalanya pada bahu Suga, merasakan kantuk yang semakin menggelayut pada kedua kelopak matanya.
"Kau tidak keberatan membawaku dalam pangkuanmu sejak tadi? Kau akan terkena osteoporosis dini setelah ini, kakek tua."
"Yah, mau bagaimana lagi, gadis tidak tahu diri itu baru menyadarinya sekarang."
"Menyebalkan." umpatnya pelan, sambil menyembunyikan seulas senyum di bahu kekasihnya.
"Kau mengantuk? Tidurlah di sofa sana."
"Lalu kau?"
"Aku bisa tidur dimanapun."
Adora merasa tidak enak, kemudian ia berkata, "Kita, bisa berbagi sofa kalau begitu."
Seringai perlahan terulas di bibir Yoongi, ia kembali mendekatkan wajahnya. "Hee, kau tidak takut pada apa yang mungkin bisa kulakukan padamu nanti?"
Kini giliran seringai tipis muncul pada lawan bicaranya, "Hmm, coba saja kalau berani." Dengan santai, Adora bangkit dari posisinnya dan berjalan menuju kearah sofa untuk merebahkan dirinya.
Yoongi tersenyum tipis, kemudian berjalan menyusul Adora. Malam kali ini terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Dengan beberapa pembicaraan yang cukup berat, kurasa mereka akan tidur nyenyak. Purnama terang yang biasnya merambat hingga ke dalam ruangan gelap itu menjadi satu-satunya saksi mereka malam ini.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Pemuda berparas manis layaknya gula tersebut, tampak membuka kelopak matanya perlahan. Dia masih belum tidur sejak tadi, menunggu saat yang tepat untuk bangun dan memperhatikan gadisnya diam-diam. Mereka berdua tidur di single sofa yang berbeda, jadi ia bangkit duduk kemudian berjalan pelan menghampiri Adora. Berlutut tepat di dekat kepalanya, memandangi wajah damai yang tak pernah bosan ia pandang.
"Aku memang mengatakan seperti itu tadi, tapi kenyataannya aku tetaplah pria egois yang terus berharap kau mau bersamaku hingga hari dimana aku bisa meminta izin pada kedua orang tuamu." Ia menatap nya lembut, "Kau masih terlalu muda untuk menghabiskan sisa waktu bersamaku, masih ada mimpi-mimpi yang ingin kuraih. Para member, perusahaan ini, orang tuaku," manik hitamnya bergulir kearah pigura di meja kerjanya yang menampilkan venue di Stadion Olympic saat mereka melakukan final tour album Love Yourself.
"Dan juga army yang sudah mendukung kami sejauh ini." Yoongi mengelus ringan helai pirang yang terjatuh di sekitar wajah Adora. Menarik napas dalam sebelum bangkit berdiri.
"Ayo bekerja lagi, Min Yoongi!"
BONUS
Seorang pemuda berperawakan tinggi terlihat memasuki sebuah ruangan. Tidak seperti biasanya, ia memilih berangkat agak pagi supaya dapat menikmati acara bersepeda-nya tanpa suara bising kendaraan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Hyung keduanya yang tertidur diatas tumpukan kertas, dan juga seorang gadis yang tidur tepat sebelahnya dengan kondisi tak jauh berbeda. Kepala yang menempel diatas meja, tangan yang menggenggam sebuah pulpen, dan sebaran perkamen dimana-mana.
"Ah, kalau begini aku baru percaya bahwa mereka memang sepasang kekasih."
"Kita lihat saja, berapa lama mereka tetap akur seperti ini. Oh, apa aku harus mengabadikan moment ini?" kekehnya geli seraya mengambil ponsel dari kantongnya.
"Wah, irinya… Aku juga ingin punya kekasih yang sealiran denganku dalam hal musik."
Selesai mengambil gambar. Ia menyimpan kembali ponselnya, kemudian terkikik saat keluar dari ruangan itu. Terbayang dalam otak jeniusnya beragam rencana jahil yang akan ia lakukan bersama member lainnya dengan foto itu.
Kurasa para maknae-line adalah ahlinya di bidang ini, gumamnya lengkap dengan seringai tipis.
.
.
.
END
NB :
So, it's been a while since I wrote some fanfiction in this platform again. How how? r u guys liked it? I hope so :)
O, it also my first time to write a Korean fiction. Based on how I sooo mucchhhh lovee BTS this far heuheu :" Fyi, Adora is a real person (that live in y/n life I think huhuhuhu, but I love her so much too XD) she's a producer of bighit entertainment whose the same agency with BTS. The fact that they often have a good conversation with her as co-worker, that sweet isn't it? And, some rumors say that Adora is suga's ideal type… driving me crazy xD.
Last but not least, wanna RnR? :)
