All Character belongs to Terajima Yuuji

Saya hanya meminjam karakter untuk hiburan semata tanpa niat merusak atau menjatuhkan pihak/karya siapapun. Cerita ini ditulis untuk memenuhi kesenangan saya dan readers, saya tidak mengambil keuntungan royalti dalam bentuk apapun.

.

Latar cerita diambil dari manga Diamond no Ace act II chapter 256. Meski cerita ini mengambil latar canon, tolong tetap ingat bahwa ini adalah fanfiction dan penuh rekayasa.

.

Warning : Typo(s), OOC, canon, kata kasar, spoiler!

Diamond no Ace act II belongs to Terajima Yuji

Our Sunshine belongs to Upan no Kitsune


Siapa yang tidak mengenal Sawamura Eijun. Pemuda penuh semangat yang kehadirannya selalu membuat suasana menjadi meriah, salah satu pitcher SMA Seido yang memiliki lemparan unik dan kini tengah mengemban nomor ace di punggungnya.

Ya, bocah yang kini berumur enam belas tahun itu kian tersohor ke seluruh jagat baseball SMA. Pribadinya yang berisik dan selalu mengundang banyak atensi menjadi poin tersendiri bagi Eijun.

Semua menyayanginya, semua menghormati kegigihan Eijun. Rasa optimisme tanpa batas miliknya sering kali membuat banyak pihak segan. Mereka melihatnya sendiri, melihat bagaimana kerasnya perjuangan Eijun untuk bisa sampai ke titik ini.

Pujian, hujatan, dorongan, tarikan, mereka semua menjadi saksi jatuh bangun Eijun hingga pemuda itu perlahan mencapai impiannya.

Jujur, tidak satupun dari mereka menyangka kalau hari yang selalu diagungkan pemuda brunette itu akhirnya datang. Memiliki rival yang kelewat kuat tepat berdiri disampingnya, mendapat tekanan dari pelatihnya sendiri, serta harus mengejar punggung sang catcher utama bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Tapi Eijun berhasil melewatinya, kini mereka benar-benar mengakui eksistensi Eijun, menyadari bahwa Eijun merupakan bagian penting bagi baseball SMA Seido terutama di baris pertahanan.

Perkembangannya mengerikan, bahkan perannya sebagai batter semakin membaik. Hal itu tentu saja tak luput dari latihan yang tak pernah absen barang sekali Eijun lakukan.

Dan ketika pemuda itu tidak ada, tidak seorangpun merasa lengkap. Ada kekosongan yang terasa di sudut hati mereka. Entah kenapa bayangan yips Eijun menggerogoti pikiran para anggota Seido.

Kenapa?

Eijun tidak ada bersama mereka, Eijun tidak melakukan pemanasan bersama ban kesayangannya. Tidak ada teriakan heboh yang mengundang protes, tidak ada suara riuh yang memuji para batter, tidak ada yang memberikan reaksi berlebihan pada ucapan Miyuki.

Meski latihan tetap berjalan normal, tapi rasa khawatir muncul di setiap benak anggota. Ya, Eijun tidak hadir sebab pemuda itu kini tengah terbaring lemas di kamarnya.

Hal itu bermula dari Furuya yang tiba-tiba menggebrak pintu ruang berkumpul dan mengatakan bahwa Eijun tenggelam di bak berendam, bahkan pemuda Hokaido itu hanya menggunakan handuk saking paniknya.

Semua anggota langsung reflek berlari untuk memastikan kondisi ace mereka, Nabe dan Kawakami beringsut untuk memberi kabar pada pelatih Kataoka.

Tak berselang lama, Eijun sudah kembali ke kamarnya, dengan pakaian tidur lengkap dan kompres instan di dahinya. Rei melihat termometer yang menunjukan angka 39 derajat hampir empat puluh, seluruh anggota menunjukan ekspresi tak menyangka.

"Brengsek, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya."

Kuramochi menyelak, ia berjalan keluar untuk mendinginkan kepalanya. Rasa bersalah membebani pundak short-stop Seido itu, sebagai orang yang hampir paling sering bersama Eijun, seharusnya ia menyadarinya sejak awal.

Demam adik kelasnya itu sangat parah, melebihi hampir 3 tingkat diatas suhu tubuh normal. Seharusnya ia menyadari ada yang salah pada Eijun, karena tidak mungkin seorang yang demam setinggi itu bersikap sangat normal. Andai ia lebih perhatian.

"Cih, kuso."

Dan beginilah mereka, mengasah fokus dibawah tekanan rasa cemas. Bahkan Miyuki yang biasanya paling bisa mengatur emosinya kini kesulitan untuk tetap bersikap biasa.

Penentuan tim yang lolos Koushien tepat di depan mata, dan ace mereka sekarang tumbang. Wajar rasanya jika seluruh tim merasa tidak tenang. Ditambah lagi kondisi Furuya yang tidak prima begitu juga Kawakami.

Sebagai catcher, Miyuki seharusnya bisa melihat kondisi pitchernya dengan baik. Ini kedua kalinya ia merasa kecolongan. Pertama berhubungan dengan kondisi mental parternya itu yang membuatnya dirundung rasa kesal karena tidak dapat mengembalikan performa Eijun, dan kini berhubungan dengan kondisi fisiknya.

Miyuki awalnya percaya bahwa orang bodoh tidak bisa sakit, ditambah lagi stamina Eijun itu tidak main-main. Tapi ia lupa, kalau Eijun juga manusia. Mau bagaimanapun, ia hanya bocah SMA yang memiliki batasan terhadap fisiknya.

TAK

Miyuki terkejut, kemudian mendengus kasar. Ia memaksakan senyum culasnya menatap Kawakami karena gagal menangkap lemparan yang sebenarnya tidak sulit.

"Maaf, salahku." Kawakami hanya mengangguk maklum.

...

Malam menyapa, istirahat berlaku. Kini mereka sedang berkumpul sambil menyantap jatah makanannya. Para kouhai berusaha menghabiskan makanan mereka meski rasa mual terus menyapa.

"Oy, Asada. Bagaimana keadaan Sawamura senpai?" pemuda berkacamata dengan rambut highlight merah itu membuka percakapan.

Yang dipanggil memberikan lima jarinya, memintanya menunggu sampai ia menelan makanannya.

"Ah, ugh-!" Asada menutup mulutnya, ia merasa akan mengeluarkan kembali apa yang baru saja ia telan.

"O-oy, tenanglah, tidak perlu terburu-buru. Tuntaskan dulu makananmu," ujar Kukki.

Asada menurut, ia mencoba meredakan rasa mualnya dan menstabilkan kondisinya. Dirasa telah cukup, ia bersuara.

"Sudah membaik, tidak separah semalam yang sampai mengigau. Sekarang ia sudah bisa tidur dengan tenang," jawab Asada.

"Mengigau?"

Asada menoleh, pemuda bersurai platina itu menatap bingung Asada.

"Ah, itu, awalnya aku juga terkejut karena tiba-tiba Sawamura senpai meracau bahkan terisak saat tidur. Tapi Kuramochi senpai mengatakan hal itu wajar dan bisa terjadi ketika seseorang mengalami demam tinggi sehingga meluapkannya tanpa sadar," jelas Asada. Ia meringis ketika meingat Sawamura semalam, dibanding terganggu ia lebih kepada turut merasa sakit. Bahkan Kuramochi sampai duduk terjaga saking khawatirnya, meski senpainya itu tidak menunjukan secara tersurat.

Okumura menyuap makanan dan minumannya secara langsung dan otomatis berdiri untuk mencuci bekas mekannya.

"Hey, Koshuu! Kau mau kemana?" tanya Taku rusuh, ia buru-buru mengikuti sahabatnya, ia khawatir kalau pemuda yang pernah bermasalah dengan senpainya kembali membuat masalah.

Asada menunduk lesu, Kukki yang berada disebelahnya tersenyum menenangkan. "Tidak perlu terlalu khawatir, kawan. Sawamura senpai tidak selemah itu."

Mendengar keributan dari bangku kouhai turut mengundang atensi para senpai kelas dua dan tiga yang sedang bergabung. Raut wajah Kanemaru mengeras, mengundang kekeh Tojou disebelahnya.

"Jangan terlalu tegang, Shinji."

"Uruse na, Tojo."

Zono menatap Kuramochi yang sedang berdebat dengan Miyuki, ntah topik apa yang memulainya saat ini tapi pertikaian itu terhenti tepat setelah sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Zono.

"Apa Sawamura benar sudah membaik, Kuramochi?"

Yang disebut namanya terdiam sejenak. Berpasang mata menatapnya penuh minat, membuatnya jadi jengkel sendiri.

"Berhenti menatapku seperti itu, kalian membuatku takut."

"Jangan begitu, kau sendiri sedari tadi berusaha bersikap normal sampai terkesan aneh untuk menutupi rasa khawatirmu," sahut Asou.

"Aku tidak begitu!"

"Aturlah ekspresi cemasmu dulu sebelum kau mengatakan itu."

"OY?! SHIRASU?!"

"Hahaha, ada seorang tsundere disini. Sebegitu sayangkah kau pada si berisik itu?" goda Miyuki.

"Berisik, bajingan. Kau sendiri gagal menangkap lemparan Nori karena tidak konsen, heh."

Miyuki bungkam, bingung harus merespon apa.

"Hey, jangan bertengkar. Bagaimana dengan pertanyaanku tadi?!" protes Zono tak terima pertanyaannya diabaikan.

"Oh iya, aku lupa. Ya ... dia sudah jauh lebih baik dari pada semalam. Setidaknya ia sudah bisa berteriak saat kusuruh untuk memakan natt–"

SREKKK

Semua mata tertuju pada pintu.

"Eijun-kun?"

Yang menjadi tersangka tersenyum tanpa dosa dengan kompres instan yang masih melekat di dahinya.

"Ada apa ini? Kenapa suasananya sangat berat?! Oho! Aku tahu, pasti karena Sawamura si pencair suasana tidak ada kan?! Hahahahahahaha!!"

"Oy! Bakamura! Apa yang kau lakukan disini?! Kondisimu belum pulih!" Kuramochi yang pertama meneriakinya.

"Ayolah, mochi senpai. Aku bosan hanya diam di kasur seperti orang sakit!"

"Kau memang sakit, bodoh."

Eijun terdiam sebelum kemudian tersenyum usil, "Oho, apa ini? Apa cappu sedang mengkhawatirkanku?"

"Tentu saja, aku akan kesulitan menyeretmu yang pingsan dari atas mound," jawab Miyuki santai.

"KEJAM! ITU TIDAK AKAN TERJADI!"

"Ya ya ya, itu tidak akan terjadi kalau sekarang kau kembali ke kamarmu dan beristirahat dengan benar, ayo."

Eijun menatap Kawakami yang berucap sambil berjalan mendekat, diikuti oleh Kuramochi di belakangnya.

"T-tunggu! Aku hanya ingin berbicara dengan kalian! Aku rindu kalian!"

"Ya, terimakasih, rasa rindumu kami terima. Sekarang ayo kembali."

Kawakami mengait kangan kanan sedangkan Kuramochi mengait tangan kiri pemuda beriris gold itu.

"Tidakkkk! Aku masih mau disini! Aku mau menonton video rekamankuuuu!"

DUAGH

Bogem mentah penuh cinta dari Kuramochi mendarat estetik di atas kepala Eijun, "Lakukan itu setelah kau benar-benar pulih, idiot."

"Huwaaa!! Tidakkkkk!! Tojo! Kanemaru! Furuya! Harucchi! Kariba! Tolong akuuuuu!"

DUAGH

"Berisik!"

"Itaii! Mochi senpai! Tega sekali kau menjitak orang sakit dan itu dua kali! Dua kali! Arghhhh!"

Ruangan yang sempat gaduh beberapa detik itu kembali sunyi saat Eijun berhasil diseret untuk kembali.

"Hmpft- bwahahahaha." Tawa Miyuki terdengar. "Baiklah, aku rasa orang bodoh juga bisa sakit tapi bodoh tetaplah bodoh," lanjut Miyuki.

Anak kelas tiga lainnya turut mendengus geli. Lihat, kehadiran sang ace yang tidak sampai satu menit itu dapat merubah suasana sekejap mata.

"Aku jadi ragu apa dia orang yang sama dengan orang yang terkapar kemarin," Asou berujar.

"Tidak, senpai. Mereka tidak sama," sahut Kanemaru.

Gelak tawa memenuhi ruang kumpul tersebut. Sawamura Eijun. Pengemban nomor punggung satu tim baseball SMA Seido saat ini. Sekarang mereka yakin, pemuda itu sudah benar-benar menjadi bagian penting dari mereka.

Sebagai pemain, anggota, dan jiwa dari tim. Kehadirannya dapat mengubah suasana, menaikan moral, dan memberikan semagat. Punggung itu menjadi tompangan bagi seluruh tim.

"Dia sudah bisa seheboh itu," Kariba berucap.

"Ya, sekarang kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Besok pasti dia akan merengek pada kantoku agar diizinkan melempar di bullpen meski ia tahu pasti akan ditolak," sahut Haruichi sambil terkekeh.

"Melempar di bullpen ... "

"Oy, oy, Furuya matikan auramu. Dia masih harus diistirahatkan!" protes Kanemaru.

Asada tersenyum, suasana menekan yang sejak pagi ia rasakan terangkat begitu saja karena kemunculan Sawamura secara ajaib. Ia semakin mengagumi senpai satu kamarnya itu.

"Lihatlah, Koshuu, dia sudah baik-baik saja. Jadi hilangkan aura gelapmu itu.

Taku terkekeh, ia tau Koushuu sebenarnya sangat tertarik pada Sawamura dan sangat mengkhawatirkannya. Kehadiran Sawamura yang sebentar itu setidaknya membuat pikiran negatif mereka tersingkir.

Ya, Sawamura Eijun adalah mentari. Ia adalah matahari milik Seido.


Author's note :Osu! Hai hai hallo~ Saya nulis ini ketika galau ga bisa bobo siang wkwk. Ugh, udah lama banget sejak unpublish all story karena writter block berkepanjangan, setelah pikir-pikir akhirnya saya mutusin buat publish dan fandom kambek pertama saya setelah selama ini adalah ... DIAMOND NO ACE hahaha!Astagfirullah, saya sayang banget sama manga/anime ini, apa lagi sama baby Eijun ugh. Ini anime favorit yang akhirnya bisa menggeser Haikyuu!! di no. 1. Terimakasih untuk kerja keras anda Terajima sensei! Ini karya yang sangat luar biasa.Maaf kalau sekiranya masih banyak kekurangan, saya mah apa atuh, cuma author tak berpengalaman yang super moody dan langganan writter block, hiksrot.Yosh! Dah kebanyakan bacod, saya pamit undur diri. Mari bertemu di story lainnya 3 (kalau mood) /plak