"Salam kenal, ya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."
Saat senyummu terukir rapi nihil cacat cela, serta berdiri sarat akan kepercayaan diri, kemudian irismu berlabuh pada sepasang bola mata secerah kacang kastanya—Connor Anderson membeku.
Detroit: Become Human © Quantic Dreams
Warnings! After time (best, happy ending for all), drabble, friendship, family, Connor x Reader, Hank adopted Connor (lmao), romance a little, drama, typo(s), possibly OOC, rate T+ for crude language, semoga seluruhnya sesuai dengan PUEBI, dan sebagainya.
Silly by Saaraa
Relationship
"Jadi, kau sudah mendengar dari Fowler," Hank berujar. Ia mengusap tengkuknya—serius, deh. Mengapa banyak anak muda yang ditugaskan investigasi bersamanya, apa dia tampak seperti pengasuh balita? Namun meski begitu, sang pria paruh baya itu melanjutkan eksplanasinya, "Aku Hank Anderson. Kita adalah regu khusus untuk mengurus segala kasus yang berhubungan dengan android. Lalu, ini adalah Connor. Dia juga android."
"Connor Anderson, modelku RK800. Senang bertemu denganmu."
Kau mengerjap, melihat ke arahnya. "Ah, kalian … ayah dan anak, ya?"
Mendengar itu, Connor dan Hank bertukar pandangan sebelum sang robot paripurna mengulas senyum tipis dan menjawab senang—serta begitu polos, "Begitulah."
Job
"Ini … lucu."
Markus mengerjap beberapa kali. Begitu sadar, ia sendiri terkejut betapa alamiahnya barusan itu—barangkali ia terlalu lama mengobservasi ekspresi Carl.
"Lucu kenapa?" tanya Markus, menaruh kuasnya, kemudian melangkah mendekati North yang tengah memanjakan diri dengan buku di antara selipan jemarinya.
"Yah … kau adalah pemimpin revolusi android, lalu sekarang kau bekerja sebagai pelukis. Kemudian, Connor yang secara teknis juga membantu dalam pergerakan besar ini, sekarang kembali ke kantor polisi dan menjadi detektif."
Sang pemilik bola mata heterokromia tertawa kecil. Ia mengambil tempat tepat di sebelah North, menangkup pipi wanita itu. North menautkan alis.
"North tidak mau bekerja juga?"
Dengusan.
"Aku jadi ibu rumah tangga saja."
Markus bersumpah bila ia manusia—ia sudah tersedak sekarang.
Repeat
"Menarik, kan? Melihat betapa kaku, sintesis, mesin yang kurancang … mereka tetap bisa merasakan emosi manusia. Bukankah itu menarik, Chloe?"
Chloe—sang android jelita dengan surai pirang serta iris sebiru angkasa itu menoleh perlahan pada sang pencipta. Helaan napasnya diembuskan lamat—dibuat sedemikian rupa—kemudian ia berujar, "Ah. Benar. Sampai-sampai perlu mempertaruhkan nyawaku untuk memberi ujian pada Connor, ya."
Elijah Kamski tergelak. Di kasurnya, ia sedikit bergulik, mendekap pinggang Chloe. "Maaf, ya. Tapi aku sangat yakin ia tak akan menembak, kok."
Chloe menekan pundak Elijah. Tarikan pada bibirnya begitu signifikan. Lampu LED pada pelipis menjelma kuning. Resah? Jahil? Entah.
Namun Elijah tahu Chloe sungguh-sungguh atas pernyataan wanita android itu, "Kalau kau mengulanginya lagi, aku akan marah, sayang."
Polite
"Pagi," kau menyapa. Detektif Gavin Reed adalah satu dari beberapa orang yang Connor peringati untuk kaujauhi. Namun, kala berpapasan ketika hendak bekerja—mau tak mau tetap harus tunjukkan kesopanan, bahkan meski hanya formalitas, bukan.
Gavin mendecak. "Minggir, jalang."
Kau tidak melepaskan pandangan. Menarik napas, kau menyahut keras—nyaris berseru serta bernada menantang, "Baik, perjaka!"
Sontak, seluruh penghuni kantor polisi menoleh dan menahan tawa. Gavin menjatuhkan rahang.
Hank berbisik di bawah napas dan kekeh yang tidak repot ditahannya, "Keren."
Pada saat itu, Connor merasakan sesuatu yang janggal mengulik jantung dan (secara filosofis) inti jiwanya, yang terbuat dari metal serta thirium. Sesuatu yang membikinnya menatapmu panjang dan berujar pada sang Letnan, "Letnan … dia atraktif."
Hank tersedak udara.
Children
"Ah, ya, kami baik-baik saja di sini. Alice—sayang, kau ingin mengucap salam? Ada—oh, oke, maaf!"
Markus dan Connor yang mendengar yang mendengar hiruk-pikuk hangat itu tersenyum tipis.
"Maaf, ya, ada temannya sedang datang bermain."
"Tak apa, kami hanya ingin menanyakan kabar," ujar Markus. "Baiklah, sampai jumpa, Kara. Kapan-kapan kutelepon lagi."
"Tentu! Sampai jumpa, Markus, Connor."
Saat sambungan diretas, Connor termenung untuk sesaat. Ia menggulirkan bola mata ke arah Markus yang pada akhirnya direspon dengan sebelah alis terangkat.
"Apa kau dan North tidak berniat memiliki anak?"
North tanpa sengaja membanting tab yang ia pegang.
Children (2)
"Apa ini … padahal sudah susah payah kubawa laporan ke rumah kalian, loh," kau berujar. Mengembungkan pipi, kaulihat Hank yang masih nyaman membaringkan tubuh pada sofa, serta Connor yang telentang di pualam dengan Sumo menindih tubuhnya.
"Hari Minggu saatnya tidur," Hank berujar. "Lempar laporan kasusnya dan suruh Fowler telan."
Kau menggeleng-geleng, terkekeh kecil. "Begini saja, aku akan pesan makanan, tapi kalian bangun, oke?"
"Aku tidak perlu makan," sahut Connor—tanpa ada maksud untuk menyatakan hal yang sudah jelas. Ada anggukan dan kepala yang kaumiringkan sesaat. Gemas. Android ini sebetulnya didesain berumur berapa, sih?
"Yah, baiklah. Jadi, kau mau apa, Letnan?"
"Pizza."
"Tidak," Connor membalas cepat. "Tingkat kalorinya sangat tinggi, Hank. Chinese food lebih baik."
"Oh, benar juga," sahutmu, menyetujui. Lalu, kaulempar arah pandangmu pada kulkas dan akhirnya melanjutkan, "Tidak boleh beer juga sehabis makan, ya."
Hank Anderson menghela napas panjang. Rasanya seperti memiliki dua anak baru.
Hunt
Kali pertama Connor mempertemukanmu dengan kawan-kawan android-nya—North kirimkan senyum timpang padamu. Ia menopang pipi dengan sebelah tangan dan melihatmu dalam.
Kau beberapa kali mengedipkan mata dan masih kirimkan senyum persahabatan—meski kau sedikit tak paham akan intimidasi yang dikirimkan.
"Jadi," North memulai. "Detektif untuk kasus android, ya? Apakah hobi manusia memang hanyalah memburu android, hm?"
Markus menghela napas singkat. Ah—memang begini, bukan tabiat serta sikap seorang North. Begitu hati-hati. Waspada, serta selalu teliti.
Kau melemaskan pundak. Perlahan tapi pasti, kau mulai paham akan kekhawatiran wanita di hadapanmu.
Connor ingin menengahi, namun ia juga melihat bahwa kau hendak menjawab.
"Aku memburu kriminal," tegasmu. Tidak ada ragu, lebih-lebih kemanisan palsu. Hanya ada fakta, perspektif dari diri sendiri yang sungguh, serta idealisme yang dijunjung tinggi. "Apa pun itu, siapa pun itu, selama mereka membuat masalah di masyarakat, merugikan sesama … akan kuburu."
North membiarkan tatapannya terarah padamu.
"Connor, aku suka dia."
"Aku juga." Connor tersenyum.
Kau terbatuk. Sial. Darah merah yang mengalir hingga wajah tidak terasa tepat bila kau tengah duduk di antara (secara harfiah) pemilik darah biru.
Hostile
"Hm-mnn … racun dimasukkan pada filter air keran. Kalau begitu, sisa-sisa air yang harusnya ia buang …," Gavin menggumam sesaat. Kemudian ia menoleh pada Chris, menyahut, "Chris! Bantu bawa keran dan tempat makan anjing itu pada forensik. Minta mereka periksa apakah ada sisa bahan kimiawi atau tidak."
"Bagaimana dengan … uh," Chris memutus ucapannya, mengedikkan dagu pada mayat anjing yang malang tergeletak dengan sisa muntahan. "Dia?"
Gavin menarik napas, menghelanya lamat-lamat. Kau akhirnya berujar, "Nanti kubantu urus. Pastikan Mrs. Amy aman, karena bisa saja suaminya kembali mencoba membunuhnya, kali ini terang-terangan."
Chris memahami perintah serta tugas yang harus ia laksanakan, maka ia jalankan itu. Selanjutnya, kaubiarkan tatapanmu mengarah pada sang detektif di sebelahmu. Gavin mengangkat alis, menghardik, "Apa?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Rotasi bola mata. Kau melanjutkan, "Kenapa kau membenci Connor? Atau, lebih tepatnya—mengapa kau sengaja bersikap menyebalkan kepada hampir semua orang?"
"Aku memang menyebalkan," Gavin menjawab cepat.
"Tidak ada orang menyebalkan yang sadar dan mengakui itu," ujarmu. "Padahal … kau detektif yang baik."
Gavin mengerjap. Melihatmu yang kembali fokus pada tab di genggamanmu, akhirnya ia mengembus napas lelah dan menyahut, "Karena itu mudah."
"Mudah?" Kau mengangkat kepalamu.
"Mudah untuk melakukan pekerjaanku tanpa harus memikirkan opini orang di sekitarku. Atau menjilat mereka."
Kau terkekeh kali ini. Gavin nyaris saja menghardik lagi—sebab, rasa malu membungkus hingga ubun-ubun. Namun tak berapa lama, Connor datang untuk menjemput dikarenakan sang kapten memanggil kalian untuk kembali.
Job (2)
"Tenanglah," kau berujar. Meneguk saliva. Bohong kalau detak jantungmu tak berdetak bertalu-talu. Kau hanya bisa berharap android di hadapanmu tak memindai kerja vitalmu.
Connor ikut memerhatikan dalam was-was. Hank menyiapkan revolver-nya, namun—tak ada yang bergerak atas pintaanmu.
"A—Aku tidak salah! Tidak, dia—dia yang salah! Mereka … android yang salah!"
"Tenang," kau mengulang. "Aku tahu—aku tahu, kamu terluka kan? Percaya padaku, kumohon. Lepaskan dia dan ini semua akan baik-baik saja."
Wanita android yang menahan tangis sedikit menggeliat dalam cengkraman sang lelaki. Pistol terarah pada pelipisnya. Satu kali tekan, maka isi otaknya akan jatuh berceceran.
"Tidak! Kalian … kalian akan membunuhku, kan? Karena aku sudah membunuh mereka!"
"Dengarkan aku." Kau kembali melaju. Satu langkah. Dua langkah. "Kau akan baik-baik saja. Lepaskan dia, lepaskan saja—kau tidak perlu membuang senjatamu. Hanya, tolong, lepaskan wanita itu, oke? Bicara padaku."
LED sang android wanita berkedip merah repetitif. Ada keraguan, sesal, rasa takut, kalap—semua berpadu menjadi satu emosi yang kacau, sebelum akhirnya sang lelaki melepaskan tawanannya. Si wanita berlari pada kumpulan polisi di belakangmu.
Kau tersenyum tipis. Melangkah semakin dekat. "Percaya padaku," ujarmu. "Sini. Berikan senjatanya dan genggam tanganku." Kau mengulurkan tangan.
Ketika pada akhirnya rasa takut dan curiga si pelaku pembunuhan reda, ia juga memberikan tangannya padamu.
Pada saat itu, dengan cepat kau menghantam keras pergelangan tangannya—menjadikan senjatanya terpelanting, kauraih senjatamu sendiri, dan menembak kakinya. Raungan terdengar, disusul geraman pedih.
Kau menatap manusia di hadapanmu. "Bawa dia ke pusat kesehatan di kantor polisi," sahutmu. Berbalik arah, kemudian melangkah maju. "Aku muak bermain tikus-kucing dengannya selama tiga bulan ini."
Feelings
"Aku tidak paham," aku Connor. Oh—menyebalkan. Sekarang ia merasa nadanya terlalu lemah serta frustrasi. "Perasaan dan emosi manusia selalu kompleks. Aku biasanya berusaha untuk melakukan riset untuk mencapai pendekatan terbaik dan beradaptasi dengan mereka, tapi untuk kali ini … aku betul-betul tidak paham."
Kara menatap Connor. Lewat video call itu, hologram sang wanita android terlihat begitu nyata, seolah-olah berdiri langsung di hadapannya.
"Tapi, ketika dia sedih, kau ikut sedih, kan?" tanya Kara.
Connor mengangguk.
Senyum keibuan wanita itu tampak.
"Kalau kau sedih, biasanya … apa yang paling kauharapkan?"
Guilty
"Yah, kerja bagus menangkap pelaku sakit jiwa ini …," Fowler berujar. Oh, kali ini—ia bersungguh-sungguh dalam perkataannya.
Sang kriminal telah membunuh 12 android wanita. Markus yang mendengar ini tentu tidak senang dan ingin turun tangan. Tapi, ia diyakinkan oleh Connor dan soal betapa rumitnya kasus ini. Maka itu, Markus menyerahkannya pada kepolisian Detroit.
Pada nyatanya, tim Hank telah mengendus si pelaku sejak lama. Total sudah tiga kali dipojokkan—namun, si pelaku berhasil kabur setiap kali. Tentu pendekatan persuasif tidak berhasil. Kali ini, ketika ada tembakan pada kaki untuk mencegah kegagalan yang ke empat—tentu Fowler mengapresiasi itu.
Hank mendengus. "Detektif barumu masih sangat muda."
"Jadi? Bagaimana kabar anak itu?"
Hank menoleh melalui punggung. Sepasang iris memandang menembus kaca transparan yang membungkus kantor Fowler, ke arah meja tempatmu mengetik dan mengisi laporan untuk kasus yang tadi.
"Merasa bersalah, kurasa."
How are you?
"Bagaimana perasaanmu?"
Kau mendongak. Menjernihkan pandangan dari layar transparan ini terasa baik. Namun, kau juga paham—masih ada laporan yang harus kauisi. Kau mengembus napas lemah.
"Lelah."
Connor mengerjap. Dalam gerakan lambat, dibubuhi kebimbangan, ia mengulurkan lengan, kemudian mendekapmu. Membiarkan kepalamu bersandar pada perutnya. Kau terkaku.
Tepukan pelan pada pundak.
"Kau … uh," Connor terbata. Ini bodoh. Dia android prototipe terbaik, satu dari sedikit dari yang paling cerdas. Mengapa begini saja rasanya sulit? "Tak apa?"
Satu detik.
Dua.
Kau terkekeh tipis.
"Terima kasih, Connor."
Guilty (2)
"Kau tidak perlu merasa bersalah soal itu, kau tahu? Kau menangkap sang pelaku, mencegah banyak android terbunuh."
"Kurasa, justru karena aku tidak merasa bersalah," sahutmu. Connor tidak paham. Pandanganmu lurus. Meski area kantor polisi adalah apa yang masuk ke dalam visual, namun itu terasa buram. Matamu lelah. "Aku merasa tidak salah. Bahkan kalau pun aku harus melumpuhkannya pada saat itu pula—asal dia tertangkap, aku, merasa … tak apa. Bagaimana pun, dia pembunuh yang … keji."
Dan aku merasa bersalah justru karena tidak merasa bersalah.
Berikutnya, kaurasakan tekanan lembut pada puncak kepala dan suraimu diacak ringan. Kau menengadah, menemukan sang letnan di sana.
"Ya sudah. Kalau begitu, apa yang kaupusingkan? Sial, kalian anak muda terlalu banyak berpikir!"
Kau terkekeh tipis.
Crisis
"Connor!"
Sirine menggaung dalam gendang telinga artifisial sang android. Itu pun rasanya saru dengan seluruh kerusuhan menyesakkan yang ada di sekitarnya. Pandangannya melebur. Visual memperingati agresif bahwa ada bio-komponen miliknya yang rusak. Ia tahu itu—astaga.
"Buka mata, oke? Apa yang harus kulakukan? Katakan sesuatu, Connor!" kau menyerbu. Bukan langkah yang cerdas. Bukan ketenangan yang disodorkan—apa boleh buat. Ini kali pertama kaulihat thirium mengalir dalam jumlah banyak—dan itu tak terasa baik.
Connor berusaha menahan pelupuknya yang semakin berat. "Aku tidak apa-apa," sahutnya. Sedikit bualan. Setengahnya lagi kebenaran—itu pun kalau tim teknisi segera datang dan mudah-mudahan membawa pump regulator cadangan, seperti apa yang telah Hank pinta (suruh) sedari tadi. "Tenanglah."
Sementara dua kriminal—sepasang—android dan manusia ditangkap, Hank memecah fokusnya antara Connor dan para pelaku pembunuhan. Chris akhirnya menyahut, "Letnan, serahkan padaku. Coba kauperiksa Connor."
Hank mendecak.
Kau menggertak gigi. Mengeraskan rahang. Menunduk, mengusap wajah dingin yang terancang dari metal. Connor masih sempat mengulas senyum tipis.
"Aneh, deh," Connor menyahut ringan. Meski peringatan shutdown telah berkali-kali menubruk pandangannya, entah mengapa—ia merasa ringan. "Aku hanya sebuah mesin. Organku bisa digantikan dan diperbaiki, kau tidak perlu menangis."
"Berisik."
Berisik. Dasar robot berisik.
Question
Pada suatu siang kala mentari bersinar keterlaluan terik dan mereka ditugaskan untuk melakukan pengintaian, kau bertanya dengan sederhana, "Connor, apa kau pernah menyukai seseorang?"
Connor terdiam. Lampu LED miliknya berkedip berwarna kuning, kilat dan sesaat, sebelum kembali menjadi biru muda cerah.
"Aku tidak yakin aku paham maksudmu. Secara general, aku menyukai Letnan. Dia adalah partner yang baik, dan—"
Gelengan darimu. "Bukan, bukan," jelasmu, disusul dengan kibasan tangan. "Seperti Markus dan North. Kurasa istilahnya lebih tepat kalau, mencintai?"
Dapat kaulihat kini Connor menatap ke depan dengan kegemingan yang luar biasa. Uh-oh. Apa kau merusaknya? Sedikit khawatir, kau memerhatikan sang android sebelum akhirnya lelaki robotik itu kembali melihatmu dan menjawab, "Aku tidak yakin. Bagaimana denganmu?"
Kau menghela napas lega. Kaupikir software-nya rusak atau bagaimana. Selanjutnya, atas pertanyaan itu, ada jawaban yang kaupaparkan, "Uh. Pernah, sih … tapi sudah lama sekali. Lagipula orangnya berengsek, jadi tidak berkesan."
Di luar dugaanmu, Connor mengirimkan kekehan kecil. "Oh, maaf." Connor mengangkat sebelah tangan dan berniat menjelaskan dirinya kala kau menatap bingung. "Hanya saja, aku tidak bisa membayangkanmu menjalin sebuah relasi. Jangan tersinggung, aku tidak bermaksud menghina."
Dengusan pun kaukirimkan. "Yah, benar."
"Kalau kau akan jatuh cinta lagi … kira-kira, kau akan mencintai orang yang seperti apa?"
"Pertanyaan bagus." Kau menyetujui. "Hm-mnn … mungkin seseorang yang lembut hatinya? Yang tegas, memiliki idealisme, tapi juga baik hati. Oh! Poin tambahan kalau orang tersebut rapi dan suka anjing."
Kau menyadari perubahan warna pada lampu LED Connor.
"Kau baik?"
Connor mengedip. "Ya."
"Hmnn, baguslah." Mendadak, fokusmu kembali kepada sang tersangka. Baru saja kau ingin memanggil Connor.
Namun, ia terlebih dahulu bersuara, "Hei."
"Ya?"
"Aku suka anjing."
Does it make sense?
"Masuk akal, tidak, sih?"
Hank menatap ke arahmu dengan sebelah alis terangkat. Bahunya berkedik sebelum ia menjawab, "Aku bukan Tuhan. Mengapa aku harus menghakimi itu masuk akal dan pantas atau tidaknya?"
Kau merengut penuh ambivalensi. "Tapi, dia—"
"Dengar. Aku secara harfiah mengadopsi seorang android sialan menjadi anakku. Dan sekarang kau bertanya padaku apakah ini masuk akal atau tidak? Kalau menyukainya, ya sudah! Jalankan saja."
Crisis (2)
Saat mendengar Connor terbaring pada pusat gawat darurat mekanikal, tentu saja Markus datang—bersama North. Bahkan setelah dua jam terlewat, kau masih tidak bisa melangkah pergi dari tempat itu, menunggu Connor dan para teknisi serta android yang memperbaikinya di dalam sana.
"Aku tidak paham," sahutmu, tiba-tiba. Menarik perhatian sepasang android yang duduk di hadapanmu. Kau melenguh lelah, menunduk, mendekap lutut. "Aku tak paham …"
… kalau dia mati, lalu … apa?
Machine
"Kalau dia mati … ya? Bisa digantikan. Hanya mesin, kan?"
Kau membeku. Konversasi ini dimulai mendadak, dilanjuti oleh sesuatu yang tak pernah kausangka. Kau menatap Hank untuk berapa lama, memastikan sejauh apa pria itu bergurau. Namun—keseriusan pada sepasang mata sayu namun tegas itu tampak sungguh.
Meski kau tidak yakin apakah ini menguji atau serius. Kau menerka yang pertama.
Kau meneguk ludah sebelum menjawab. Kau juga sempat untuk melempar pandangan pada Connor yang tengah berada di dapur—memasak makanan sehat yang ia coba bikin berdasarkan resep dari internet.
"Kuharap kau bercanda, Letnan."
Hank mendengus. "Kenapa?"
"Aku bisa memukulmu."
Pada detik kelima setelah hening membalut, Hank menguarkan tawa yang keras sekali. Connor sampai terkesiap, nyaris menjatuhkan wajan dalam genggamannya.
"Pola pikir yang bagus."
Kau mendesah frustrasi. Orang tua di hadapanmu memang sakit jiwa.
.
.
.
.
.
"Kau yakin?"
Sang android teknisi wanita tersenyum tipis padamu dan Hank. "Dia pasti ingin melihat kalian. Masuklah."
Kau dan Hank bertukar pandang beberapa saat sebelum akhirnya dengan langkah pasti dan hati-hati, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di atas kasur pasien, tampak sang robot lelaki tersenyum tipis—begitu teduh. Meski kemeja putih lesi masih sisakan bercak thirium, yang begitu pekat dekat bagian pump regulator dan semakin memudar-titik-titik, tetap saja—senyum itu tenang.
Seolah tak terjadi apa-apa.
Hank mendekat. Ragu. Takut. Ia mengangkat tangan, mengusap puncak kepala Connor. "Sial. Kau baik-baik saja, benar?"
"Hi, Hank. Iya, benar, kok," sahut Connor. "Maaf membuatmu khawatir."
Hank mendengus. "Yesus Kristus, kau menyebalkan."
Ada tawa yang pecah menjelma serpihan. Connor menyadari kau yang hening serta mengisolasi suara sendiri. Ia memanggil namamu, dan kaudengar silabel yang terasa begitu nyaman untuk mengetuk indera pendengaranmu.
"Connor," panggilmu. "Apa … kau, tadi … bisa mati kalau kita telat?"
"Tidak," Connor menjawab. Nihil berpikir dua kali. Tak perlu. Sebab meski kini ia berpikir, Bisa. Dan pump regulator milikku unik—sedikit berbeda dengan milik Markus meski model RK kami nyaris sama. Dan mengingat bahwa aku menjadi deviant ketika revolusi terjadi, CyberLife tak lagi memproduksi dan tidak memiliki suku cadang bio-komponen untuk model RK800.
Kalau aku mati ... aku akan betulan mati.
Namun—ia tidak mengatakan itu. Connor hanya tersenyum, meraih ujung jemarimu, menyatukan dengan miliknya. Ia melepaskan warna kulit sintesis, tampilkan tangan yang putih metah.
Hank Anderson menyadari ini cara bagi android untuk berkomunikasi dan berkoneksi. Sesuatu yang melepaskan penjagaan dan membiarkan diri terbuka oleh lawan bicara. Menunjukkan kelemahan, sekaligus afeksi.
Kau terdiam.
"Aku baik-baik saja. Tenanglah."
Dan berapa kali terkadang, kita—menyepelekan kata baik-baik saja?
"Kau belum makan malam, kan?" Hank bertanya padamu.
Gelengan kauberikan lemah.
"Akan kubelikan. Tunggu di sini. Lalu, Connor—apa kau ingin minum darah atau sesuatu semacam itu?"
Connor menyadari humor pada nada itu dan ia mendengus kecil. "Lucu sekali, Letnan."
Pada akhirnya, Hank pergi keluar dari ruangan. Ketika tersisa antara dirimu dan sang android, hening masih merasuk. Tak apa. Ini pun nyaman—dan membuatmu betah. Berada di samping sang pemilik bola mata secerah kastanya selalu terasa menyenangkan.
"Aku tidak paham …," lirihmu. Selembut napas. Connor menyadari nada yang berat dan ia menunggu untukmu menyelesaikan kalimatmu. "Tadi, kau tampak sekarat, siap mati … tapi sekarang, kau tampak baik-baik saja—seolah tak terjadi apa-apa."
Connor menyelipkan jemari di antara sela jemarimu. Menggenggam tangan itu. Suaranya yang tenang mengalir, "Apa itu … menaruh ketidaknyamanan dalam dirimu, yang mengingatkanmu bahwa aku hanyalah sekadar mesin?"
Gelengan mantap. "Aku takut," kau mengakui. "Semudah itu kau sembuh, maka di saat yang sama—semudah itu kau terluka. Dan, dan—aku tidak paham apa yang harus kulakukan ketika kau terluka. Latihan first aid-ku terbatas pada tahap manusia. Aku bisa saja belajar menjadi teknisi yang lebih baik, tapi—sampai kapan? Seberapa lama aku harus belajar? Kalau besok, kalau dua hari lagi—kau kembali terluka, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak paham—"
"Hei." Panggilan. Kau mengernyitkan dahi, berusaha menahan segala emosi yang siap tumpah ruah dan menatap android di hadapanmu. Lampu LED-nya berkedip kekuningan. "Kau meracau."
"Berisik."
"Kau tahu …." Connor menutup pelupuknya. Kali ini, ia biarkan penyimpanan memorinya berputar. "Saat pertama kali ditugaskan untuk menyelamatkan gadis kecil yang menjadi tawanan android, aku—selalu yakin bahwa aku akan menyelesaikan misiku.
"Aku menggunakan senjata api untuk melumpuhkan android itu. Tembakan tepat di antara mata. Menurutku, android dan manusia—kalau pun memiliki sebuah ikatan, itu hanya hasil dari simulasi perasaan dan emosi yang tercetak pada software sang android. Jadi, tidak pernah kupikirkan aku akan menaruh kepedulian pada manusia, atau pun soal apakah android akan benar-benar bisa menjalin relasi dengan manusia.
"Tapi, aku bertemu dengan Letnan. Dia seperti ayah bagiku. Dan dibalik kosa-katanya yang sedikit mengkhawatirkan, ia—hanyalah manusia yang terluka. Bekerja bersamanya selalu … menyenangkan dan menantang.
"Sejak saat itu, aku percaya bahwa manusia dan android bisa menjalin hubungan baik. Terlebih, karena setelah itu aku … bertemu denganmu."
Kau melihat iris kecoklatan. Senyum yang begitu lembut dan alamiah—senyum yang begitu hidup.
"Melihatmu khawatir dan ingin menjadi lebih baik membuatku senang. Tapi, aku lebih senang karena—kita bisa bertemu dan menjalani berbagai hal bersama. Menjadi detektif di sampingmu dan Hank adalah hal yang tak pernah kupikir akan kubutuhkan—tapi pada nyatanya, aku bahagia.
"Karena itu, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa dan aku janji—aku berusaha untuk tidak terluka."
Kau kali ini mengangkat tinjumu, memukul pelan bahu sang android. "Elijah Kamski mendesain program Relasi Sosial-mu terlalu baik. Mengerikan."
Connor tergelak tipis.
"Sayang sekali, ini bukan program Relasi Sosial milikku."
"Lalu?"
Senyuman. "Ini program baru, kurasa."
Program apa?
Cinta.
A/N: PLIS ITU DUA KALIMAT TERAKHIR CHEESY BANGET BUT I LOVE IT. Maaf ya, tadinya ini mau jadi fanfiksi Connor dkk setelah tamat, tapi malah jadi Connor x reader. Maaf iya saya halu. You guys, mungkin ada konten DBH lain? Kalau ada yang request, mungkin bisa saya buatkan. Thank you ya udah baca, sampai bertemu di fanfiksi berikutnya. Cheers!
