Pria itu jatuh perlahan-lahan menembus lapisan udara sebelum berakhir sama seperti kebanyakan nasib seorang Uchiha bernama Shisui. Pria lain berdiri mematung di pinggir jurang, dia beberapa menit di sana sebelum kembali ke arah kompleks klan mengikuti beberapa pikiran di kepalanya yang sekali lagi berujung genosida Uchiha. Naruto mengintip semua itu tanpa melakukan apa-apa, hanya duduk di puncak pohon dimana dia bisa melihat pemandangan terbaik matahari terbenam di spot terbaik Konoha. Naruto sudah mencoba garis kehidupan Itachi dan juga Shisui, nyaris semua kemungkinan sudah dia coba.
Kakinya menggantung, berayun maju-mundur tanpa hati-hati meski sebenarnya ketika jatuh wujudnya sekarang tidak akan merasakan apa-apa. Ini adalah hari yang damai, meski garis waktu dunia ini akan pelan-pelan menuntun Itachi ke garis akhir yaitu genosida Uchiha atau beberapa upaya laki-laki bertopeng membangun rencana demi gadis bodoh yang sudah mati. Semua tetap berjalan normal di sore hari musim panas.
Bola biru berpupil hewani menatap kejauhan. Dia masih terus mengamati lingkungan sekitarnya. Aku membutuhkan ini semua. Tidak melakukan apa-apa ternyata enak juga. Tapi tentu pemikiran naif itu bertolak belakang dengan keadaan dimana dia sendiri sekarang adalah target dari petapa tertentu yang menolak kegagalannya di masa lalu. Naruto berpikir, mungkin saja benda kuning yang disebut matahari itu adalah kamuflase Rinnegan untuk mencari tahu apa yang dilakukannya sekarang, kalau begitu dia sudah mendapatkanku.
'Bosan…' pikirnya, dia memejamkan mata menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dan kemudian mengeluarkannya. Sejenak terpikir untuk menggoda Rikudo. Naruto merasakan sentakan kecil dan panas di telapak tangan kanannya. Angka sembilan muncul. Rasanya seperti percikan api. Seperti ada sesuatu yang menyedot nya. Naruto tahu perasaan itu, familier lebih tepatnya. Itu bukan pertama kali dalam hidupnya.
Tapi bagaimana dia bisa dipanggil? Itu tidak mungkin. Bijuu miliknya bukan sama seperti Bijuu di dunia ini. Tapi betapa familiar pemanggilan itu… bibirnya menyeringai, mengintip langit dengan geli. Rupanya anakmu sendiri mengkhianati mu Hagoromo.
Seluruh semesta terhubung dalam satu titik tempat yang disebut Limbo. Sebuah dunia tanpa batas yang hanya terdiri dari hitam putih dan berisi makhluk-makhluk yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Di beberapa dunia makhluk Limbo ini dipuja sebagai dewa ada juga yang dibenci sebagai iblis. Apapun bentuknya, konsep itu milik manusia yang hidup di masing-masing dunia. Naruto adalah bagian dari Limbo meski tidak terlahir dari sana, tapi berkat itulah dia bisa menjelajahi macam dunia.
"Baiklah apa yang membuat Rubah bodoh itu memanggilku…" dia bergumam pada dirinya sendiri. Hal itu menarik perhatiannya. Jika satu bijuu bisa memanggil ku apa kedelapan lainnya bisa melakukan hal yang serupa? Tapi hingga detik ini saat berada di dunia ini, reaksi seperti inilah yang pertama kali muncul. "Yang jelas… Rubah itu benar-benar dalam masalah."
Naruto bangkit berdiri di atas dahan lalu mengangkat tangannya ke depan dan membuka telapaknya lebar-lebar. Dalam sekedip, lubang hitam ternganga muncul dari ketiadaan. "Mari kita jenguk Uzumaki Naruto di dunia ini."
Dia berjalan masuk ke dalam lubang dan menghilang tertelan kegelapan.
.
Dia menatap bocah yang kini meregang nyawa, mengabaikan matahari di punggungnya. Agak lucu sebenarnya, dari sekian tempat dia muncul di sungai tempat Naruto dan Sasuke akan bertatap muka sambil merengut kelak. Menemukan kondisi wujud versi kecilnya yang masih berusia lima tahun dengan pisau dapur menusuk di bagian perut menodai kos putih berlogo cakra. Harusnya bocah itu diikuti Anbu… tapi kondisi di depannya rupanya adalah riak di dunia ini. Setiap dunia selalu punya kemungkinan lain meski jumlahnya tidak banyak.
Entah dia harus mengucapkan terima kasih atau tidak kepada takdir.
"Kamu akan mati dalam hitungan menit Kurama… Jinchūriki mu sudah di ujung ajal."
Bocah itu masih hidup meski hampir sepertiga energi kehidupannya sudah lenyap. Naruto menggeleng kepalanya dan berjalan mendekat lalu berjongkok. Diraihnya dahi bocah malang dan dialirkannya cakra miliknya ke ujung jari. Dia menutup mata sejenak dan ketika membukanya di hadapannya adalah kandang besar yang terkunci hanya dengan sebuah kertas bertuliskan segel.
Seperti yang diharapkan, Bijuu besar itu tersentak merasakan kehadirannya. Terkejut sehingga tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut penuh gigi itu. Naruto mencoba teringat kapan terakhir kali Kurama kaget… tapi rubah berekor sembilan itu selalu pandai menyembunyikan perasaannya. Tsundere.
"Dari sekian banyak versi, keadaan seperti ini nyaris tidak ada. 99% Uzumaki Naruto akan berakhir happy ending, meski 1% nya lahir menjadi seperti diriku dan aku sendiri sudah merusak happy ending itu cukup banyak. Ya… meski aku akui beberapa orang tidak suka dengan sikapku itu, tapi aku selalu tergoda untuk mencobai berbagai bentuk kehidupan."
Sekali lagi Naruto tersenyum. Rubah masih belum membalas satupun kata-katanya, tapi gejolak yang dia rasakannya itu sudah cukup. berapa umur rubah itu, Naruto hingga detik ini masih belum tahu, tapi lamanya nafas umur para bijuu pastinya membawa segudang pengetahuan di luar jangkauan hidup manusia.
"Kamu bukan Naruto…. Kamu bukan dari dunia ini." Alih-alih geraman penuh benci, Rubah itu bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Ya, ini teknik kuno Uzumaki yang sudah punah dan aku mendapatkannya dari tangan-tangan tak terduga." Tidak ada gunanya menyangkal.
"Aku tahu… Airo pernah menunjukkan sekali."
Naru mengerutkan kening. Airo yang dia kenal adalah makhluk lain dari Limbo. Jika Airo yang dibicarakan Kurama sama seperti Airo yang dia kenal, banyak hal menjelaskan kenapa makhluk itu tahu banyak soal manusia. Hal yang tidak pernah ada dalam makhluk yang lahir di Limbo. "Sekarang, apa yang kamu inginkan? Sebentar lagi kamu akan ikut mati bersama anak malang ini. Mungkin sepuluh tahun lagi kamu akan terlahir kembali…"
Rubah bergerak, bangkit bersamaan dengan kesembilan ekornya melambai-lambai. Mata haus darah yang belum dicemari kata-kata manis Uzumaki Naruto. Wujud penuh kebencian… meski yang terakhir kali, Naruto agak ragu saat Rubah itu tidak sesarkas yang dia tahu.
Sekali lagi pola kematian muda Naruto adalah riak di dunia ini.
"Aku bisa menyelamatkan wujud mu…" Naruto berpikir cukup lama untuk mengucapkannya. "Tapi tidak dengan bocah malang ini. Wadah mu akan mati."
"Mati…" Rubah itu menyipitkan matanya. "Padahal aku mulai menyukai bocah ini."
Hal ini membuat wujud tua Naruto berkedip kaget. Dia menatap wajah rubah menjulang di atasnya. "Apa?"
"Heh! Manusia bodoh… aku bisa merasakan cakra milikku samar-samar dalam dirimu, yang artinya dulu kamu juga Jinchūriki. Tapi melihat tatapan bola matamu… kurasa kehidupanmu sedikit buruk ya?" Rubah terkekeh, mata berkilat-kilat sama seperti ketika Kurama-nya menyentuh titik lemahnya. "Tapi apa boleh buat jika bocah ini mati… katakan bagaimana caranya kamu membantuku?"
Naru diam sejenak. "Aku akan mengambil alih tubuh bocah ini. Sederhanya jiwaku akan menggantikan jiwa rusak itu. Kamu bisa tetap hidup, kecuali kalau kamu benar-benar ingin bebas di alam liar."
"Dan membuat Uchiha sialan itu menemukan ku?"
"Itu bukan urusanku."
"Minato dan Kushina pasti menangis melihat anaknya tumbuh dengan sorot dingin sepertimu. Harusnya kamu datang beberapa lebih cepat… kedua hantu itu bingung dengan nasib anaknya."
"Oh," aneh mendengar nama kedua orang yang sudah menyumbangkan dua zat tubuhnya membentuk dirinya selama sepuluh bulan dalam kandungan. Jujur Naruto tidak pernah merasakan cinta apapun kepada kedua orang itu, tapi mendengar kembali nama itu setelah sekian lama. Ada gejolak sengatan kecil di dalam hatinya. "Waktumu tidak banyak."
Rubah itu tidak berkata apa-apa, dia masih menatap Naruto sebelum mengangkat tangan ber bulunya menembus kerangkeng segel yang perlahan melemah akibat jiwa wadah yang sekarat. Dia mengepalkan tinju di depannya.
Naruto maju dan melakukan gerakan serupa lalu ketika kedua kepalan itu saling bersentuhan cahaya muncul dari sekujur tubuh Naruto dan merambat ke dalam wujud rubah ratusan tahun. Dia mengucapkan mantra khusus agar jiwa Bijuu tidak ikut terseret dalam kematian dan mendoakan Naruto kecil pergi ke tempat yang layak di kehidupan selanjutnya. Meski Naruto berhati dingin dan sudah membunuh versinya sendiri ketika terlalu berisik dengan ceramahnya soal shinobi saling mengerti satu sama lain, Naruto juga memahami betapa berharganya sebuah kehidupan. Uzumaki Naruto di dunia ini masih terlalu cepat untuk meninggalkan dunia. Dia masih belum mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya. Dia pantas untuk mendapatkan kehidupan abadi bersama kedua orang tuanya. Naruto tersenyum ringan pada dirinya sendiri saat dia perlahan merasakan cakra rubah masuk ke dalam tubuhnya, mungkin Kurama-nya akan cemburu melihat dia bersamaan dengan versi rubah yang lain. Well tidak ada yang tahu.
