Halo jumpa lagi bersama gue disini, Hijikata Shoji. Entah kenapa sekarang gue ini bisa melayang alias jalan gak lagi napak di tanah. Gue curiga sepertinya setelah kehilangan kesadaran lantaran tersandung karena tali sepatu yang nyangkut di celah trotoar terus berakhiran dengan keserempet motornya abang ojol sekarang ini gue jadi korban pindah dimensi.

Kenapa gue berasumsi demikian? Gampang aja. Itu karena gue tahu persis ini bukan dunia nyata. Kalo ini dunia nyata gak mungkin seorang wibu akut berkacamata macam gue bisa berpapasan langsung sama yang namanya Yashiro Nene.

Yap! Yashiro Nene. Lu pada gak salah baca. Gue tadi ini baru saja melihat karakter yang seharusnya cuma ada di dalam komik. Kemungkinan sih hanya ada dua. Satu, gue lagi sekarat terbaring di salah satu bangsal di rumah sakit atau yang kedua, gue sebenarnya sudah mokad dan kena isekaid ke dunia lain.

Tapi dari sekian banyak dunia isekai kenapa coba harus di TBHK? Gue itu paling anti sama yang namanya bocah apalagi kalo itu bocah punya gangguan mental berat kayak si Tsukasa. Udah gitu disini itu relasi antara makhluk dedemit dan non-dedemit gak mulus, malahan berduri, berjurang, curam kayak perjalanan mendapatkan pujaan hati.

Gue lantas menghela nafas panjang. Apa ini balasan gara-gara pernah secara gak sengaja membakar sempak bokap ya? Tapi itu kan juga terpaksa. Pas lagi masak indomie mendadak api melebar sontak gue gercep ambil apa saja yang ada dalam jangkauan. Kebetulan di sebelah ada cucian baju belum kering. Yah, jadinya gue ambil saja yang paling basah terus tebal. Hadeh, kalau tahu bakal mati gak wajar terus di lempar ke isekai berisikan dedemit gesrek gue gak bakal mau pake sempak bokap buat memadamkan api kompor. Jujur nyesel tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur.

"Hoi!" gue menoleh ke samping kiri dan mendapatkan tiga ekor kelinci dua berwarna pink sedangkan sisanya berwarna hitam tidak bermulut lagi menyodorkan permen manis kearah gue.

"Ini permen. Lagi sedih makan permen." Kata salah satu yang hanya memiliki sebuah mata saja. Geh, bisa bayangin gak sih dikasih permen tapi sama binatang yang bentuknya gak manusiawi kayak yang gue lihat sekarang ini? Tapi berhubung permennya gratis saya sebagai orang yang selalu membeli barang diskon di Al*fa pun menerima dengan lapang dada. Lumayan buat mengisi kekosongan perut.

"Terima kasih." Dengan sopan gue mengambil permen, membuka bungkusan plastik yang menyelimuti lalu memasukkan bola putih bening seukuran kelereng itu ke dalam mulut kemudian menyesapnya perlahan, menikmati rasa leci yang menyeruak di dalam mulut.

"Kalau begitu bayar." Gue dengan kesal menatap kearah kelinci bermata satu tadi. Sial, gue pikir ini gratis. Ternyata tidak sama sekali. Dengan gusar gue pun menyahut, "Kau mau apa sebagai gantinya? Asal kalian tahu saja aku tidak punya sepeserpun uang, oke?" gue menunjukkan kedua saku seragam sekolah putih abu gue yang kosong.

"Berikan permohonanmu"

"!"

Langsung saja gue was-was. Siapa yang gak? Gue ini mencoba setengah mati untuk tidak berinteraksi dengan para tokoh yang ada disini karena secara logika kalau tidak ada interaksi itu artinya gue tidak men-trigger yang namanya death flag dan hidup gue pun akan aman. Lah ini kelinci jejadian mendadak datang nyodorin permen terus sekarang minta ganti. Apes banget yak afterlife gue ini.

"Permohonan? Memangnya tahu darimana kalau aku memiliki permohonan untuk ditukarkan?" ketiga kelinci cebol itu saling bertatapan, yang bermata hitam kemudian mengulurkan tangannya- yang menurut gue itu adalah telinga- ke arah dahi gue.

"Terbaca jelas" hmm, oke. Ini mulai creepy. Sepertinya pilihan untuk mengusir mereka sekarang itu sesuatu yang sangat bagus untuk dilakukan. Gue punya firasat buruk jika terlalu lama berinteraksi dengan trio cebol ini.

"Kalaupun ada aku tidak akan meminta permohonanku untuk ditukar apalagi dikabulkan. Aku ini sudah seperti ini…" kata gue sembari menunjuk pada diri sendiri. Mencoba meyakinkan bahwa orang mati tidak perlu lagi sesuatu yang dipunyai oleh orang yang masih hidup.

"Hukum alam itu nyata. Jika melanggar maka karma yang harus dibayar akan berat. Aku lebih memilih untuk berada pada kondisi saat ini, menunggu entah sampai kapan untuk bisa menyebrang kesana, menanggung rasa kesepian, daripada harus menambah karma yang telah kuperbuat semasa aku hidup. Karena semestinya orang mati tidak seharusnya ada di dunia orang-orang yang masih hidup. Itu tabu.." dengan panjang lebar gue berceloteh ria, tidak lagi menatap ke samping kiri. Semua pandangan gue fokuskan pada pemandangan langit senja yang berubah jingga dari bawah pohon rindang tempat gue bersandar dan menyendiri sedari tadi.

"…" tidak ada jawaban dari kelinci-kelinci cebol. Mereka nampak termenung setelah mendengar perkataan gue. Yah, gue sendiri sih tidak memaksakan mereka buat percaya atau mengerti. Kalau mau ya sudah kalau tidak ya sakarepmu dewe

"Lagi pula menentang takdir itu sedikit arogan, kalian tahu? Secara kita semua yang ada disini sudah memiliki takdir masing-masing ketika terlahir di dunia. Kalau bersih keras merubah maka siapapun itu akan menanggung penderitaan yang panjang. Ganjaran yang harus dibayar juga tidak main-main. Dalam konteks yang paling parah orang-orang yang dekat dan disayangi olehnya bisa ikut terjerat." Gue kembali menambahkan kata-kata bijak. Semoga aja dengan ini mereka mau cabut dan gak bakal lagi gangguin hidup afterlife gue yang sakral ini.

"Kau aneh." Celetuk si pink yang memiliki tanda x di atas kepalanya.

"Aneh kenapa? Kupikir aku ini tergolong normal selama masih hidup dulu."

'Well, kecuali menjadi wibu akut.' Batin gue diam-diam. Berharap gak ketauan sama si kelinci hitam ngelesnya. Kalo gak bisa runyam rencana gue buat bikin mereka pergi.

"Kau aneh. Yang lain tidak segan meminta, berkata bahwa masih ada urusan yang belum selesai atau ia masih ingin disini. Tapi kau, Kau tidak mau?" si pink dengan tanda x berkerut heran. Gue hampir aja bengek ngeliat bentuknya.

"Jawabanku sudah jelas, bukan? Aku tidak mau. Berurusan dengan takdir, merubah nasib, merubah kondisi ini agak sulit. Salah sedikit maka kau akan terjebak. Aku lebih memilih untuk menerima. Kalau kalian sendiri, bagaimana?" sahut gue dengan nada penasaran yang dibuat-buat di bagian akhir karena sebenarnya gue gak peduli samsek sama opini trio cecunguk cebol disamping kiri ini.

"Kami.. tidak tahu."

"Pertanyaanmu terlalu susah."

"Aku lebih suka permen"

Si kelinci pink yang satunya lagi, dek kok jawabanmu keluar dari topik sih?? Situ sehat? Gue secara mental menepuk jidat. Kayaknya yang terakhir IQnya rada kurang se-ons deh. Emaknya pas hamil salah makan apa yak? Eh, iya gue baru sadar kalau mereka itu kan tidak punya yang namanya Ibu. Sadboi jadi anak piatu pada bertiga.

"Heh, begitu ya?" Gue seketika itu juga membatu ditempat. Mau tau kenapa? Nih gue kasih tau. Sekarang persis di depan gue lagi melayang seorang bocah yang penyakit psikopatnya ga ada obat. Nama lengkapnya Yuugi Tsukasa, tukang buat onar udah gitu kerjaannya jadi beban orang lain.

Nah, kan! Inilah kenapa gue dari awal ogah meladeni trio cebol. Gue udah feeling pasti mereka disuruh sama si bocah edan. Ya ampun gusti, kok begini amat nasib gue.

"Jadi kamu menolak untuk mengabulkan permohonan?" Tsukasa tersenyum. Iya senyumannya kelewat lebar, lebih lebar daripada kucing Cheshire yang ada di Alice in the Wonderland. Aduh, ngilu woi liatnya. Gak robek kan? Ntar kalo robek kuchisake onna mau dikemanakan?

"Sudah kubilang tidak. Melanggar hukum alam itu tabu. Untuk setiap perbuatan ada harga yang harus dibayar, kamu sendiri adalah buktinya, kan?" Tanpa banyak bacot gue langsung to the point aja. Lagian kalo dia udah nongol maka rutenya tinggal mati atau dijadikan eksperimen macam Mitsuba Sousuke, temannya Kou.

"..." Hening senyap. Tidak ada jawaban dari Tsukasa. Dan reaksinya yang diam itu membuat gue merinding hebat. Wah, kayaknya gue baru aja men-trigger death flag deh. Bai bai afterlife.

Tanpa aba-aba Tsukasa menarik kasar lengan kanan gue. Gue lantas mendecit, alis gue berkedut menahan sakit. Aduh, mampus nih gue. Dalam hati udah komat-kamit baca doa.

"Hei..." Yaelah bangsul! Kenapa jadi serem sih?!

"Kau mau jadi kaki tanganku, tidak?"

.

.

.

"Hah?!" Semprot gue. Otak gue mendadak ngelag. Loading lama kayak laptop kalo udah crash. Dan itu membuat gue tidak bisa menjawab pertanyaan Tsukasa, alhasil lengan gue di cengkram lebih erat. Gue rasa tulang gue bakalan patah sebentar lagi.

"Itta-ta, lengan! Lengan!" Bukannya dilepas malah tambah nyengkram. Aduh ini bocah kayaknya pengen banget gue jadi penyandang disabilitas.

Krak!

Yah, bener aja. Patah. Gusti, lapangkan hati hambamu yang satu ini.

"Ugh!" Lenguhan rasa sakit tanpa sadar keluar dari mulut gue. Iyalah, mana bisa gue rem. Ini itu lebih sakit daripada diputusin sama pacar, tau gak? kalo situ jomblo dan gak tau gimana rasanya patah hati akibat mengalami kekandasan perihal dunia percintaan semasa SMA berarti anda beruntung saudara :v

"Hey, kutanya sekali lagi. Kau mau tidak jadi tangan kananku??" si bocah membagongkan ini sekarang malah menarik muka gue. Sial, oi! Jangan dicengkram terlalu keras! Kalau tulang rahang gue ikutan remuk nanti gue ngunyah makanan gimana? Masa puasa selamanya? Fix nih bocah lupa minum obat penenang. Siapapun itu kalo punya sekardus kotak morfin di rumah tolong J*NE-kan ke gue sekarang.

"Aku tidak akan bisa menjawab lebih lama kalau kau masih dalam proses ingin membuatku gagu!" sahut gue dengan seluruh tenaga yang bisa gue kerahkan.

"Ah, ups! Maaf?" dengan santai ia melepaskan dan melayang mundur, membuat jarak antara gue dan dirinya. Heh! gue tahu lu sama sekali gak merasa bersalah! Dasar!! Perlahan gue mengusap rahang bawah gue yang hampir aja jadi korban keganasan selanjutnya setelah lengan kiri malang gue.

"Jadi kau mau tidak?" Tsukasa bertanya lagi untuk yang kesekian kalinya.

Langsung aja gue melempar tatapan tajam ke arahnya. What? Gue berhak dong?

"Kalaupun aku menerima tawaranmu, apa yang bisa kau janjikan padaku? Kau taukan aku ini bukan seseorang yang suka akan keributan atau doyan membuat masalah. Lagipula jika aku andil dalam rencana masa depanmu yang sudah di pastikan lebih kelam dari pada langit malam, bukankah aku yang akan dirugikan disini??" gue mendengus kasar setelah mengeluarkan unek-unek dari relung hati terdalam. Gue lihat si Tsukasa terdiam, dia terlihat berpikir sejenak. Yang gue tahu setiap kali si cecunguk satu ini termenung berpikir, semua yang ada dan berkeliaran di dalam benaknya anggap saja bukan sesuatu yang bagus atau pun normal.

'Ini gak akan berakhir baik', batin gue. Terus lanjut mengutuk orang yang telah dengan begonya melempar gue kedalam dunia sinting ini. 'Siapapun itu semoga aja lu jadi impoten!!'

"AHA!!!" teriak Tsukasa dengan suara yang kerasnya melebihi jam beker milik Jamal; teman seperbangkuan gue selama SMA. Lalu ia menunjukku. Senyumannya terlihat bahagia.

"Kau bisa jadi sahabat ichi kokujoudai!"

.

.

.

Sudah kudugong. Emang dasar tikus got yang satu ini hobinya bikin orang elus dada karena kelewat dongkol. Untung gue udah mokad, kalau tidak tensi darah gue bisa tembus angka 800 kali.

"Koku..joudai???" gue berpura-pura tidak mengerti. Yakali gue tunjukin ke bocah psikopat bahwa gue ini mengerti akan segala yang sedang dan yang nantinya akan terjadi! Itu sama saja dengan menggali lubang kubur diri saya sendiri lebih awal dari yang telah diperkirakan. Gue ini kalau ibarat ayam baru netas dari telur, masa langsung dipanen sama si peternak? Gak mungkin. Mission Impossible itu.

Mendengar nada bingung gue, Tsukasa mangut-mangut. Kemudian dari tangannya muncul sebuah bola api hitam berinti biru. Lah cuma satu? Sisanya kemana? Seinget otak gue, baik Tsukasa maupun Hanako punya masing-masing dua buah bola api. Beda cuma di warna. Tsukasa hitam sedangkan Hanako putih. Keduanya punya yang berinti merah, satunya lagi hijau (Hanako) dan biru (Tsukasa).

Apa jangan-jangan…

Wah, Gesrek nih bocah satu! Dia gak sedang berpikiran bahwa gue mau jadi babunya kan? Lalu secara paksa mengubah bentuk gue menjadi bola yang bahkan gak punya tangan dan kaki?! Cobaan macam apa ini, Gusti??!

Hei!! Ini namanya pelanggaran hak asasi dedemit, tau?!

Dengan tatapan mati gue meladeni tawarannya. Sudah sampai disini gue udah masa bodo. Persetanan dengan cecunguk tak berotak di depan gue. Gue udah nyerah dengan kehidupan gue yang sepertinya kelewat apes.

"Katakan padaku bahwa bentuk bola seperti itu tidak permanen.."

Tsukasa menatap balik seakan gue ini setan yang paling bego yang pernah ia temui semasa 50 tahunnya menjadi salah satu misteri sekolah.

"Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja tidak."

Diam-diam gue melepaskan nafas lega. Jelas lah, gue ogah kehilangan tangan dan kaki gue yang berharga ini.

"Jangan libatkan aku dengan apapun yang rumit. Pegang janji itu dan barulah aku bersedia menjadi kaki tanganmu, bagaimana? Kalau ingkar aku akan undur diri dari sini; saat ini juga." ujar gue sembari memberi kode pada lengan kiri gue yang kini tak bisa lagi digerakkan. Geh… udah jadi dedemit sekarang pake acara cacat pula. Ditambah gak bisa nolak ajakan iblis sinting yang mengambil rupa anak bocah polos kalo gak kumat.

"Itu mudah!!" setelah berkata demikian Tsukasa menjentikkan jari dan kalian tau apa yang terjadi? Layaknya sihir lengan kiri gue sembuh total! Mata gue membelalak gak percaya dengan kejadian horor yang baru gue alami.

'Gila! Gue yakin tadi pasti gak gratis!!! Anak curut!' batin gue menangis tersedu-sedu. Bukan karena terhura tapi karena telah sekali lagi menggali lubang hutang pada sesuatu yang gak seharusnya. Demi apa yalord? Asal gue kasih tau aja si Tsukasa asli saja harus mendekam jadi tahanan seumur hidup di rumah merah! Lah gue? Bakalan jadi apa gue ini?!

"Nah sekarang ulurkan tanganmu!" dengan perasaan yang bercampur aduk macam es campur abang-abang yang biasa jualan di depan gerbang sekolah pas jam pulang, gue mengiyakan perintah Tsukasa. Singkat kata gue ini udah pasrah.

Dia menggenggam pergelangan tangan kanan gue, dan sensasi dingin menyeruak ke dalam tubuh transparan gue. Bukan pertanda bagus. Sensasi dingin meredam kemudian disusul rasa nyeri pada bagian dada. Ah… gue berakhiran menjadi tikus lab :')

"Oke selesai!" Tsukasa menatapku dengan teliti. Eng? ada apa?

"Yah, tidak buruk. Kau mau melihat tampilan barumu yang sekarang?" Hah? Tampilan baru? Apa nih bocah merubah penampilan pemberian orang tua gue secara sebelah pihak? Kok gak nego dulu sih??

Dia merogoh sesuatu di kantong celananya, ajaibnya sebuah cermin berukuran sedang keluar dari sana dan tengah berada dalam pegangannya.

Gue tersenyum getir. Rambut hitam mulus gue sekarang jadi putih dan mata coklat kesayangan gue berubah merah… jangan lupa wajah gue yang dulunya bebas dari noda sekarang bertato hitam dari bawah mata kiri turun ke leher dan berhenti pada… Yap! tempat yang tadi cecunguk itu pegang. Bajing terbang emang!!

Gue membuang nafas kasar. Sial!

"Mulai sekarang namamu adalah Aka!"

"Jadi mohon kerjasamanya, oke?"

a/n:

status bisa berubah menjadi ongoing, jadi doakan saja saia dapat pencerahan nantinya :v