Disclaimer : Atsushi Ohkubo

Pairing : Arthur Boyle x Kusakabe Shinra

Rate : T


I never knew

Love like I've known it with you

Will a memory survive

One I can hold on to?


Ini adalah yang ke sekian kalinya—semenjak Shinra berada di Junior High School—dia pergi kesini. Di setiap malam yang sama, di waktu yang sama dia selalu disini. Kakinya melangkah menyusuri trotoar jalanan kota, mengeratkan coat yang ia pakai karena angin musim dingin ini menusuk hingga ke tulang-tulang.

'Semoga saja aku sampai tepat pada waktunya.'

Disinilah Shinra, duduk di kursi taman di bawah tiang lampu yang menghadap langsung ke stasiun kota. Menunggu seseorang yang akan turun dari kereta yang sama setiap tahunnya.

Mereka—hanya Shinra yang—berjanji akan bertemu disini, di malam dimana salju pertama turun.

Sudah bertahun-tahun dia melakukan ini, duduk berdiam diri, memandangnya dari sudut bangku tanpa berani menghampirinya.

Shinra masih mengingat dengan begitu jelas ketika dia bertemu orang itu untuk pertama kalinya.

Itu adalah sore hari yang tidak bersahabat…

.

.

.

.

.

.

.

Pulang sekolah dengan mantel tebal membungkus dirinya seraya berjalan menyusuri trotoar yang sudah tertimbun salju kala itu. Menimbulkan bunyi yang khas ketika dia menjejakkan kakinya, serta uap yang keluar dari belah bibirnya seolah menjelaskan betapa dinginnya cuaca sore itu.

Sebelumnya Shinra sangat membenci cuaca ini, sampai akhirnya dia melihat seorang pemuda yang keluar dari stasiun dengan tergesa-gesa. Dulu, Shinra sangatlah lugu, sehingga terdiam begitu saja ketika pandangan mereka bertemu satu sama lain.

Dunianya seolah berhenti saat itu, tenggelam dalam manik kebiruan yang memikat.

Bumi memanggilnya saat pemuda itu tersenyum tipis sehingga memperlihatkan kerut samar di pipi yang sedetik kemudian memutus kontak mereka, berjalan menjauh dari tempat Shinra terdiam.

Baru kali ini Shinra tidak merasa kedinginan di tengah cuaca musim dingin, apalagi ditambah hujan salju yang tidak begitu lebat.

Dan semenjak saat itu, Shinra selalu datang ke stasiun tersebut hampir setiap hari sampai ia hafal kapan si pemuda datang lagi, turun dari kereta itu lalu berlarian ke luar stasiun, kemudian menghilang di persimpangan.

Shinra selalu melakukan itu di kala musim dingin tiba, mengunjungi stasiun untuk menunggu pemuda itu lewat dan menyapanya.

Shinra dibodohi oleh perasaan yang baru kali ini ia rasakan. Perasaan rindu yang teramat jika tak bertemu, perasaan ingin memiliki yang sangat besar, dan hatinya berdebar tak karuan jika tatapan mereka bertemu.

Dia jatuh cinta, dengan seseorang yang tak sengaja ditemuinya.

Kebiasaannya mengundang kecurigaan dari sang adik, pemuda itu mengatakan kalau dia pergi menemui kekasihnya. Sengaja tak memberitahu siapa namanya, karena Shinra sendiri pun tidak tau.

Setelah belasan purnama Shinra sabar menunggu, akhirnya semesta mengabulkan satu permintaannya.

Mereka berjanji bertemu untuk yang pertama, mengawali kisah yang tidak akan pernah tertulis di buku takdir.

Malam yang cerah saat Shinra dan orang itu berjalan menyusuri kota yang tidak begitu ramai, langit kelam yang menyajikan pemandangan luar biasa indahnya. Ribuan bintang yang menghiasi gelapnya malam di bulan Januari, tak urung membuat Shinra menyesali kebohongan yang telah ia perbuat.

"Shinra, aku penat. Iris-chan selalu saja bertingkah seperti anak kecil. Dia bahkan tak memikirkan bagaimana perasaanku." Itu adalah topic pembuka di pertemuan yang Shinra dambakan setiap harinya. Pemuda dengan helai pirang sebahu itu tersenyum pahit di samping Shinra, mengingat kembali perasaan yang terus mengganggunya belakangan ini.

Shinra balas tersenyum kecut. Tertawa sambil bersenda gurau di setiap momennya hanyalah angan yang lancang ia harapkan untuk menjadi nyata.

Dengan yaki imo di genggaman sembari berbaur dengan pejalan kaki lainnya, menikmati waktu yang terkikis sedikit demi sedikit yang juga merupakan pertama kalinya mereka menghabiskan waktu bersama. Shinra terdiam,

"Mungkin dia hanya ingin perhatianmu." Shinra menjawab sekenanya. Lagipula siapa yang tak menginginkan perhatian dari sang kekasih.

Shinra tau diri, ia sadar posisinya disini tak lebih dari orang asing yang kebetulan hadir di tengah-tengah skenario Tuhan untuk orang disampingnya kini.

"Beruntung aku punya teman sepertimu, Shinra." Entah untuk poin yang mana pemuda disampingnya mengatakan hal itu. Shinra tidak paham.

"Aku tidak sebaik yang kau kira," dirinya sangat jahat. Ya, Shinra mengakui itu.

Sungguh ironis. Shinra merasa cintanya sudah sedalam melebihi palung terdalam. Perasaan yang meledak-ledak itu kadang sulit sekali dia tahan. Sampai rasanya, Shinra takut orang akan dengan mudah membaca perasaannya, melalui binar mata berlebihan yang ia berikan setiap kali melihat si pemuda.

Cintanya memang gila, sayang orang itu tak pernah menyadarinya.

Yang seringkali si pemuda membuat Shinra patah hati tanpa disadari.

'Kamu tak pernah tau, di sini aku menahan cemburu setengah mati.' batin Shinra tak tau diri.

Dalam hati Shinra bertanya-tanya, untuk apa dia terus-terusan menunggu dan mengharapkan seseorang yang bahkan tak pernah tau perasaannya. Shinra sudah pernah tiba pada satu tekad untuk melupakan dan melanjutkan hidup. Tapi segala apa yang dia rencanakan, pudar hanya karena orang itu menghampirinya sambil tersenyum jenaka.

"Hatiku sakit. Rasanya sama seperti ditusuk ribuan jarum." Shinra menengadah, melihat bintang lebih jelas. Merasakan lebih dalam bagaimana hatinya sakit ketika pemuda di sebelahnya tersenyum hangat.

"Aku tahu. Aku pernah mengalami hal yang sama denganmu."

"Tapi, jangan biarkan rasa sakit itu terus menggerusmu. Kamu boleh saja marah, sedih. Tapi, janganlah terlalu lama. Kamu harus bisa bangkit kembali." tepukan dan usapan halus bisa Shinra rasakan di pucuk kepalanya. Tangannya yang hangat sangat berbanding terbalik dengan angin yang menerpa mereka malam itu.

"Aku ingin dia juga merasakan sakit yang sama." suara Shinra mulai sedikit serak, ia memberanikan diri menatap tepat ke mata yang selamanya akan menjadi favoritnya, tapi dia tak bisa. Kepalanya menunduk begitu saja, memandang sepatunya yang terlihat lebih menarik untuk dilihat. Menyembunyikan wajahnya dari jangkauan pemuda di sampingnya.

'Tuhan, tolong biarkan aku egois, untuk kali ini saja.'

"Dia juga mengalami sakit yang sama denganmu. Tapi, mungkin saja dia tidak pernah menampakkannya. Percayalah, dia sama terlukanya denganmu." Si pemuda pirang menerawang pekatnya cakrawala, nasibnya sendiri pun ia tak tau. Tapi bisa dengan mudahnya memberi orang lain nasihat, miris.

"Orang-orang selalu mengatakan agar mengikuti kata hati. Tetapi, jika hatiku sudah terpecah menjadi seribu bagian, lalu bagian mana yang akan aku ikuti?" Shinra tersenyum getir, suaranya menjadi parau, berusaha mati-matian menghalau air mata yang memaksa keluar dari pelupuk matanya.

Si pemuda terdiam, tidak punya kata-kata yang tepat untuk diucapkan sebagai jawaban.

Memendam rasa pada seseorang setelah sekian lama membuat Shinra paham bahwa cinta memang punya berbagai rupa. Cinta menunjukkan rupa nya yang lain pula. Shinra mengalami itu semua. Bahagia saat melihatnya, karena kehadiran orang itu saja memang sudah bisa membuat Shinra bahagia dan patah hati datang di saat yang sama.

Karena sampai sejauh ini yang bisa Shinra lakukan hanyalah memendam rasa dalam hati.

Tak apa. Toh, Shinra baik-baik saja. Itu yang selalu ia sugestikan untuk dirinya, merapalkan kata-kata itu untuk membohongi diri sendiri.

.

.

.

.

.

.

Kembali lagi ke masa sekarang, ke tempat Shinra yang sedang menggosokkan kedua telapak tangannya mencari kehangatan.

Sekarang sudah lewat tengah malam, seharusnya kereta yang pemuda itu naiki sudah sampai di stasiun saat ini. Kenapa malam ini terasa sangat lambat? Shinra ingin mencoba berpikir positif, mungkin saja mereka mengalami perubahan jadwal.

Shinra hanya terduduk dan memainkan jari-jarinya yang mulai memutih, mengayun-ayunkan kaki serta menertawakan uap yang keluar dari mulutnya. Beberapa orang yang berlalu melewatinya menatapnya heran, mungkin berpikiran apa yang sedang dilakukan seorang pria sendirian di depan stasiun selarut ini. Sedikit rasa takut merayapinya ketika dia melihat segerombolan berandal yang menunjuk ke arahnya dari kejauhan, namun mereka tidak jadi menghampirinya. Dasar anak muda!

Intensitas hujan salju mulai lebat dan Shinra mulai merasa kalau coat yang ia pakai sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Mobil dan kendaraan lain sudah jarang yang berlalu lalang. Sekitar ada satu atau dua mobil yang lewat setiap 10 menit sekali. Nah, sekarang Shinra seperti orang yang tidak punya kerjaan atau parahnya seperti orang gila. Menghitung mobil yang lewat ternyata tidak lebih menyenangkan daripada menghitung jumlah domba sebelum tidur.

Dan sampailah pada pukul satu pagi, dia belum juga keluar dari stasiun itu. Telapak tangan Shinra sudah mati rasa, nafasnya sudah terasa berat, dan penglihatannya sudah sedikit berkunang. Shinra hampir putus asa dibuatnya, kemudian dia pun berdiri, membersihkan topi beanie yang sudah separuh basah karena salju yang turun tepat di atas kepalanya, mendapati coat yang ia pakai sedikit lembab dan sisi bangku taman yang tak terisi di sebelahnya tertutup salju.

Selama itu kah Shinra menunggunya?

Mungkin, tahun ini dia tak menaiki kereta itu.

Saat Shinra baru melangkah beberapa kaki, terdengarlah suara itu. Suara peluit kereta api yang menggema disertai desisan mesinnya yang entah mengapa terdengar seperti salam rindu.

Kini, Shinra berdiri, menghadap pintu keluar stasiun itu, menunggunya keluar dengan senyum yang teramat ia rindukan.

Dia disana, lelaki dengan perawakan sedikit mungil diantara teman sebayanya, masih menggunakan pakaian yang selalu dia gunakan di setiap tahunnya. Hoodie berwarna pastel dan coat cokelat tua. Matanya yang menyipit jika tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, ditambah apple hair pirangnya yang otomatis membuat Shinra terkekeh pelan.

Juga kulitnya yang semakin pucat dari tahun ke tahun.

Biasanya, Shinra akan pergi setelah melihat pemuda yang ditunggunya keluar lalu berjalan menjauhi stasiun. Namun apa yang pemuda itu lakukan malam ini, membuatnya diam di tempat.

Dia memandang Shinra dari kejauhan, jarak mereka hanya terpisahkan oleh jalan raya.

Gerak bibirnya membentuk sebuah kalimat, yang Shinra yakini berbunyi.

"Apa kau mau ikut bersamaku?"

Tanpa sadar Shinra mengangguk, kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya. Terlalu jauh untuk Shinra gapai.

'Kepejamkan mataku...

"Ini adalah pilihanku." lirihnya sembari tersenyum lega.

...untuk sesaat.'

Dan ketika matanya terbuka, Shinra menemukan orang itu tepat dihadapannya.

Ternyata kulitnya jauh lebih pucat daripada yang Shinra bayangkan. Tangannya yang sedingin es membelai pipi Shinra lembut. Pemuda itu tersenyum, kemudian belaian itu tak terasa lagi, tergantikan genggaman hangat di telapak tangannya.

"Kita bertemu lagi." deru nafas yang menggelitik pipinya, membuat jantung Shinra menggila.

"Shinra." panggilan yang teramat sangat Shinra rindukan akhirnya kembali terdengar oleh gendang telinganya.

Mereka meninggalkan stasiun itu yang mendadak menjadi seramai pasar. Saat Shinra ingin berbalik, penasaran dengan apa yang membuat orang semakin ramai ke tempat mereka berada tadi, si pemuda bersurai pirang itu memegang wajah Shinra supaya bertatap muka langsung pada wajahnya yang rupawan seraya berkata.

"Tenanglah, kau sudah bersamaku." baru kali ini Shinra mendengar suaranya yang seperti di atas angin, samar-samar tetapi terasa sangat jelas.

Shinra baru menyadarinya.

Dan baru kali ini juga Shinra sangat percaya dengan seseorang, sampai dia rela ikut kemana pun pemuda itu mengajaknya pergi. Satu-satunya orang yang dicintainya, dari lubuk hati terdalam. Satu-satunya orang yang paling berpengaruh di hidupnya. Satu-satunya orang yang bisa menjungkirbalikan hatinya semudah membalikkan telapak tangan.

Yah, hanya dia orangnya.


Don't you dare walk away from me

I have nothing

If I don't have you


"Ya, aku selalu bersamamu...

.

.

.

.

.

.

...Arthur."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BREAKING NEWS!: TELAH TERJADI KECELAKAN TUNGGAL YANG MENEWASKAN SEORANG PEJALAN KAKI DI DEPAN STASIUN KOTA DINI HARI TADI. BERIKUT INI ADALAH IDENTITAS KORBAN.

KUSAKABE SHINRA, 25 THN, LAKI-LAKI.


Horaa,

Ini adalah artefak dari jaman megalitikum karena sudah lama mengendap di draft sebagai asupan pribadi setelah Asakusa Arc. Baru berani saya keluarkan dari koleksi karena saya butuh recovery pasca aksi heroic Kishi-ou juga sebagai bentuk bucin saya ke Arthur.

Terinspirasi dari sad quotes yang kebetulan saya temukan beberapa tahun lalu, dan BOOM!! jadilah ampas ini. Huehuehehehe

Hope y'all like it bruh..