23/Juli/2020


Hero Without Weapon—

By: Abidin Ren

Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya pun dimulai saat itu juga.

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto & [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Isekai — Adventure — Fantasy — Romance(?).

Pair: [Naruto & ?]

Rated: T+

Warning: Alternate-Reality! (AR!), Magic-Game-World-System! SPECIAL-POWER! Martial-Arts(?), OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More.

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy it~

Please Like, Favorite, and Comment!

.


[Prologue]


[Chapter 1]: Bangkitnya Seorang Pahlawan Tanpa Senjata


Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)


.

.

.

Pik!

Kedua mataku terbuka, memperlihatkan pemandangan tanah lapang hijau yang membentang luas di depanku sana. Aku sedikit berputar, mengamati daerah sekitar yang ternyata dipenuhi oleh rumput-rumput hijau tinggi. Juga ada beberapa pohon, dari yang berukuran kecil sampai yang besar. Angin berembus tenang di sini, menerpa pori-pori kulitku hingga membuatku merasakan rasa yang sangat nyaman. Ya, tempat yang sangat indah, namun …

DHUUAARH …!

… semua keindahan ini tiba-tiba lenyap, tatkala muncul banyak sekali ledakan di mana-mana. Langit di atasku tadi yang awalnya cerah, kini telah berubah akibat terjadi adanya campuran berbagai macam warna disana. Merah gelap. Itulah warna langit saat ini. Udara di sekitar terasa menurun, membuatku merasa sangat tidak nyaman karena perasaan aneh saat ini yang bagaikan sedang menusuk pori-pori kulitku.

Tak lama setelahnya, muncul berbagai macam retakan warna-warni di langit dengan ukuran yang berbeda-beda. Tunggu, bentuknya seperti … cangkang kura-kura? Ah, entahlah. Aku sendiri kurang bisa menjelaskannya. Dari dalam retakan itu, keluar berbagai macam makhluk yang tidak bisa ku-nalar sama sekali. Terlihat aneh, tetapi juga menakutkan di saat yang bersamaan.

—Lebah dan kelabang berukuran raksasa. Ada juga tengkorak berjalan, bahkan zombie.

…. Itulah sedikit dari banyaknya makhluk yang keluar dari retakan tadi. Disana, masih banyak makhluk yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Dan jika diperhatikan lebih lanjut, mereka malah lebih mirip seperti monster-monster dalam video game yang pernah kumainkan dulu. Aaaah …! Semua ini membuat kepalaku terasa pusing! Sial.

Tapi itu tidak penting, yang terpenting saat ini adalah …, mereka semua bergerak ke arahku dengan sangat cepat!

Tunggu-tunggu-tunggu! Aku bahkan tidak membawa apa-apa saat ini! Bagaimana aku bisa melawan mereka?!

Drap drap drap ….

Terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat dari arah belakangku—mungkin bisa dibilang kalau ini adalah suara sesuatu yang sedang berlari. Menoleh ke belakang, dan kudapati ada banyak sekali manusia ber-armor serta bersenjata lengkap disana. Pedang, tombak, busur, tongkat, perisai, dan masih banyak lagi. Bahkan, disana ada juga yang berpakaian layaknya seorang petualang dalam dunia game. Aku hanya menatap dengan tampang bodoh ke arah mereka semua. 'Kenapa ada orang-orang yang berpakaian seperti itu di sini?!' teriak batinku.

Aku langsung tersadar dari keadaan melamun, dan segera bergerak panik saat dua kubu depan-belakangku semakin dekat.

"Woaah ...!" Aku melompat ke kiri, saat prajurit tadi berniat menebaskan pedangnya ke arahku.

Sialan, kenapa mereka malah menyerangku?! Di mana mereka berpihak sebenarnya, sih?! Tunggu dulu, mungkin itu lebih cocok jika ditanyakan pada diriku sendiri …, aku ada di pihak mana sebenarnya? Aarrgh …! Siapa yang akan peduli dengan hal itu di saat seperti ini?!

Kembali, aku melompat ke belakang saat melihat satu serangan dari monster lebah raksasa menuju diriku, lalu kulesatkan pukulan cepat ke arah monster tadi. Terdengar suara keras saat seranganku tadi berhasil mengenainnya, hingga membuatnya terlempar jauh. Rasakan itu, Monster!

Jraash!

Aku melirik sekitar. Ternyata sudah banyak sekali yang tumbang dengan darah yang berceceran di mana-mana. Entah itu dari pihak manusia, ataupun pihak monster. Bau anyir dapat kucium dengan jelas disini. Ughh~

"Gaah …!" Sial! Apa itu tadi?!

Tubuhku terjerembap di tanah, sesaat setelah kurasakan sakit yang mendera di wajahku. Ini benar-benar menyakitkan, kalian tahu?!

Aku menatap tajam seorang laki-laki berpakaian baju petualang. Dia berdiri disana, dengan seringai lebar di bibirnya, ia berniat menyabetkan pedang di tangannya kepadaku. Aku hanya menggeram melihat ekspresinya kala itu yang benar-benar memuakkan!

Tapi belum sempat pedang itu terayun, tubuh lelaki tadi tiba-tiba terhempas tatkala satu monster berekor—yang tak kuketahui apa itu—menerjang tubuhnya dan langsung menyerangnya dengan brutal. "Heh, itu balasan yang kau dapat, Brengsek!" desisku.

Aku hanya bisa mengembuskan napas lega saat melihatnya. Yah, paling tidak … aku bisa beristirahat sebentar, 'kan?

'Hmm, tunggu dulu ….'

Aku terdiam. Entah mengapa …, aku merasakan firasat tidak enak ketika melihat bayang-bayang besar menutupi tubuhku. Dapat kurasakan keringat dingin mengalir turun lewat pelipisku. Sungguh, perasaan ini benar-benar tidak nyaman sekali!

Kutoleh ke belakang, dan kudapati seekor monster bertubuh besar yang membawa sebuah kapak raksasa, berdiri di belakang-ku saat ini. Aku menelan ludah dengan kasar melihatnya. Sial, ini benar-benar buruk sekali!

"Gwaaa ...!"

Dia berteriak kencang, bersamaan dengan kapak itu yang meluncur cepat menuju batok kepalaku!

Syuuut ….

Tamat riwayatku ….

.

.

.

.

.

"WAAAAAHH …!"

Aku terlonjak bangun dengan keringat dingin membasahi seluruh bagian tubuhku. Napasku tampak tak beraturan, terlihat jelas dari dadaku yang bergerak naik-turun dengan cepat. Satu tetes keringat dapat kurasakan mengalir jatuh menuju daguku.

Melirik sekitar, dan aku menyadari kalau ternyata ini adalah kamarku. Kulihat jam kecil di atas sebuah meja sudah menunjukkan pukul 06:19. "Haah …, ternyata tadi hanya mimpi." Bunga tidur yang sangat buruk tentunya, 'kan?

Beranjak dari kasur, aku kemudian mulai berjalan menuju gorden kamarku untuk membukanya, membiarkan sinar matahari pagi memasuki ruangan ini. "Ah, silau sekali …."

Kedua mataku menyipit saat melihat cahaya terang itu, dan yang bisa kulakukan hanyalah menutupi kedua alat pandangku ini menggunakan sebelah tanganku.

Aku menatap beberapa orang di bawah sana lewat jendela kamar, lalu bergumam sendiri, "Hmm, satu lagi hari lain … untuk kehidupan yang biasa ini."

Aku mulai berjalan meninggalkan ruangan kamarku untuk melakukan rutinitas harian seperti biasa, sebelum berangkat menuju sekolah. Ya, seperti inilah kegiatanku setiap hari; pergi ke sekolah, berkerja paruh waktu, juga kadang membeli beberapa kebutuhan harian, ataupun membeli sesuatu seperti manga dan light novel. Hal seperti itulah keseharianku.

Ya, aku memang bukan seorang otaku. Kegiatan ini kulakukan juga hanya karena sekedar hobi, dan untuk mengisi waktu luang saja. Ini bermula sejak awal aku berada di kelas 2 SMP, dan masih berlanjut sampai sekarang, yaitu kelas 3 SMA. Membeli manga, light novel, bahkan action figure, adalah hal umum yang biasa kulakukan beberapa kali dalam satu minggu. Bahkan, aku juga kadang membeli video game dan memainkannya hampir seharian, jika aku tidak memiliki kegiatan apapun.

Dari mana uang yang kupakai untuk membeli semua itu? Asal kalian tahu, memenangkan beberapa perlombaan seni beladiri adalah hal biasa untukku, dan ... dari sana-lah uang itu berasal. Yah, lagipula … kedua orang tuaku tidak terlalu memper-masalah-kannya, asalkan aku menggunakannya tidak terlalu berlebihan dalam membelanjakan uangku, sih.

Ya, meskipun beberapa kali aku sering melakukan hal ini, itu tetap tidak mengubah keseharianku sama sekali. Aku tetap bisa membagi waktu antara hobi dan juga kebutuhan harian. Lagipula, aku kadang juga harus sibuk dengan kegiatan ekstra sekolah ataupun klub, jadi tidak selalu melulu aku menghabiskan waktuku untuk melakukan hobiku tadi.

—Seperti itulah keseharianku. Hmm, sangat monoton, bukan? Tapi, memang seperti inilah kehidupanku.

Aku berjalan menuju meja makan, dan disana sudah ada sebuah tudung saji di atas meja. Aku mengedarkan pandangan. "Tidak ada siapa-siapa di sini?" Aku hanya berkata dengan heran saat tidak melihat kedua orang tuaku. Padahal biasanya mereka sudah bangun di jam segini.

"Hm?"

Kedua mataku terfokus pada sesuatu di atas meja. Kubuka tudung saji tersebut, dan dapat kulihat bahwa ada makanan yang sudah tertata rapi, juga sepucuk kertas disana. 'Sebuah surat, kah?' Yah, mari kita lihat apa isi suratnya ….

Karena hari ini di kantor ada rapat dadakan, jadi Ibu dan Ayah harus berangkat pagi-pagi. Maaf, karena kami tidak bisa menemanimu sarapan untuk hari ini. Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu, jadi tolong dimakan, ya—ttebane. Ibu dan Ayah menyayangimu, Naruto.

Penuh Cinta,

Ibu.

Aku menghela napas melihat isi kertas itu. "Bukankah kalian berdua terlalu keras dalam bekerja?" Yah, aku mengerti kalau semua yang mereka lakukan adalah untukku, tapi … tidak bisakah mereka berdua untuk tidak terlalu memaksakan diri?

—Oke, maaf, sebelumnya ..., mari kita berkenalan terlebih dahulu. Namaku adalah Naruto, Namikaze Naruto tepatnya. Umurku saat ini adalah 17 tahun dan sebentar lagi akan menginjak yang ke-18. Aku merupakan seorang murid SMA biasa di tahun ketiga. Tidak ada yang istimewa dariku. Mungkin, satu-satunya hal yang paling menonjol dariku hanyalah ilmu seni beladiri yang kumiliki. Seperti itulah.

Oh, iya, yang menulis surat tadi adalah Ibuku, namanya Uzumaki Kushina, sedangkan Ayahku bernama Namikaze Minato. Ya, sebenarnya sudah sering mereka pergi pagi-pagi sekali karena urusan pekerjaan, jadi aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini.

Mengeluh? Tentu saja. Dulu, aku sering melakukannya, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti dengan keadaan orang tuaku. Hanya memiliki anak tunggal, pasti membuat semua orang tua ingin sekali memberikan yang terbaik bagi anaknya, bukan? Dan … itulah yang pasti ingin dilakukan oleh kedua orang tuaku. Jadi, aku berusaha untuk tidak mempermasalahkan lagi hal ini.

Yup, begitulah menurutku. Melirik pada jam tanganku, disana sudah menunjukkan pukul 06:42. "Wah, aku harus cepat-cepat, kalau tidak ... aku akan terlambat!" Baiklah, saatnya sarapan ….

.

.

.

Setelah selesai sarapan, aku mulai melangkah, meninggalkan rumahku untuk menuju sekolah, tentu saja dengan pakaian rapi. Entahlah, aku memang tidak terlalu suka dengan gaya anak-anak lain yang … menurutku terkesan seperti berandalan. Dan memang … seperti inilah gaya kesukaanku.

Blazer ungu menutupi kemeja putih yang dimasukkan dengan rapi. Lalu, dasi panjang berwarna coklat dengan motif garis-garis warna hitam terpasang dengan sempurna di leherku. Juga, celana panjang coklat yang terasa nyaman sekali untukku. Tak lupa dengan tas hitam yang berada di genggaman tangan, aku terus berjalan tenang, menghasilkan suara pelan yang tercipta dari hasil benturan sepatu kets hitam milikku dengan jalan setapak secara berulang kali.

Yah, seperti itulah diriku, kurang-lebih, sih.

Ah, iya, aku memang lebih suka berjalan saat pergi ke sekolah. Jarak antara rumahku dan sekolah memang terbilang cukup dekat. Yah, di samping karena jarak yang dekat, hitung-hitung untuk olahraga juga, bukan? Lagipula, kita bisa menjumpai sesuatu yang belum tentu dapat kita lihat saat naik kendaraan. Entah itu hanya masalah sepele ataupun besar. Atau mungkin … bisa saja kita sendiri yang malah dapat masalah. Ahaha ….

"Woah!"

Aku terlonjak kaget ketika melihat sesuatu jatuh di depanku. Menunduk sebentar, dan kulihat sebuah kapak menancap tepat beberapa centi di depan kaki kananku.

Aku menelan ludah dengan susah payah. I-Itu ta-tadi … be-benar-benar … ber-bahaya. Hampir saja kapak itu membelahku! Siapa orang yang cukup gila melakukan hal ini, sih?! Aku bisa mengerti kalau dia mungkin cuma bercanda, tetapi kalau sampai membahayakan orang lain, bukankah itu sudah sangat keterlaluan, hah?!

'Haah …, baru saja berpikir tentang masalah, dan hal itu langsung datang menghampiriku.' Aku sempat berpikir. Apa mungkin Tuhan tahu apa yang sedang kupikirkan … dan langsung mengirimkannya padaku?

Bukannya apa, hanya saja … aku terkadang beberapa kali menjumpai hal yang seperti ini, berulang kali tepatnya. Yah, aku akan senang jika hal "baik"-lah yang muncul, tetapi … itu justru berkebalikan dari apa yang kalian bayangkan saat ini! Hampir semua buruk, dan itu pasti. Entah sejak kapan hal ini terjadi, tapi yang jelas … kejadian ini sudah seperti deja vu bagiku, kalian tahu?! Dan jujur saja, itu sangat menyebalkan!

Jika memang benar Tuhan akan mengabulkan apa yang sedang aku pikirkan, aku pernah berpikir seperti ini, 'Bagaimana jika aku mati—entah karena apapun itu alasannya—, dan tiba-tiba aku terbangun di dunia lain. Seperti di anime-anime isekai yang pernah kutonton.'—kurang lebih seperti itu. Yah, pasti keren. Ahahaha—eh?!

"Apa yang kupikirkan, sih?!"

Aku menggeleng keras, mencoba menghilangkan pikiran absurdku tadi. Yah, mana mungkin hal itu bisa terjadi. Lagipula, hidup dengan penuh ketenangan seperti ini juga enak. Dan aku masih menyukai kehidupanku ini, damai serta tentram, tanpa ada gangguan, juga menikmati hobiku yang menyenangkan ini. Hm, hm, benar sekali ….

"Err …, kau tak apa, Nak?"

Menoleh ke kanan, dan kudapati seorang pria dewasa sedang menatapku dengan raut wajah khawatir. Hmm, ya … aku baik-baik saja sebenarnya. Memangnya ada apa?

Aku mengangguk pelan. "Ya, aku tak apa, Paman." Kulihat dia mengembuskan napas lega. Dan itu tentu saja mengundang raut bingung di wajahku. Kenapa, sih?

"Maaf, ya. Tanganku tadi licin, dan tak sengaja membuat kapak itu terlempar ke arahmu. Hahahaha …."

Melirik ke bawah, ke arah benda yang hampir membunuhku tadi. Dan seketika itu juga, dapat kurasakan kalau alisku berkedut-kedut pelan.

'Ya ampun …, dia masih bisa berkata dengan santai dan tertawa keras seperti itu, bahkan setelah dirinya hampir membunuh orang lain?!' Aku hanya bisa membatinkan itu sambil mengurut pelipisku. Sungguh, untuk beberapa saat, aku sempat mempertanyakan kewarasan orang ini! Haah …, oke, tak apa-apa. Lagipula, tidak ada yang terluka di sini, jadi sepertinya, tidak perlu untuk memperpanjang masalah ini, bukan?

Mencoba tersenyum se-"baik" mungkin, aku pun berujar padanya, "Ah, iya, tak apa. Lagipula, kapak itu tak mengenaiku, kok." Kulihat dia kembali tertawa keras setelah mendengar balasan dariku tadi. Dan tentu saja, itu mengesalkan, kau tahu, Paman?!

Setelah Paman itu mengambil kapak-nya, dia pun kembali mengucapkan permintaan maaf. Tentu saja aku menanggapinya untuk tidak perlu terlalu memikirkannya. Sudah kubilang, 'kan, kalau aku tidak terluka?

Aku menatap Paman tadi yang sedang berjalan menuju ke seberang jalan. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya menaruh kotak-kotak—yang entah apa isinya—ke dalam truk besar, setelah dirinya menyimpan kembali kapak tadi ke dalam salah satu kotak disana. Hmm, aku heran, bagaimana bisa kapak tadi terlempar ke arahku, jika pekerjaan Paman tadi saja hanya memindahkan kotak-kotak itu? Err …, entahlah.

Setelah terdiam beberapa saat melihatnya, aku pun mulai melanjutkan perjalananku menuju sekolah. "Seorang pria dewasa ber-kapak dan pekerjaannya," gumamku sambil mengangguk mantap.

Oh, iya, ngomong-omong soal kapak, aku jadi teringat tentang mimpiku tadi pagi. Mimpi yang sangat aneh. Dan hal ini sudah terjadi padaku beberapa kali dalam seminggu ini. Ya, mimpi tentang diriku yang berada di sebuah dunia, yang sedang mengalami masalah kekacauan.

Aneh memang. Kenapa juga harus muncul mimpi yang hampir sama? Haah ….

Mengangkat kedua bahu dengan pelan, aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkan mimpi tadi. Percuma saja memusingkan hal yang belum tentu akan terjadi secara nyata, bukan? Lagipula, sebuah mimpi tetaplah mimpi.

Aku pun kembali fokus pada jalanan di depanku ….

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

Aku sudah ada di rumah sejak tadi. Hari ini di sekolah tidak ada kegiatan ekstra, dan klub ilmu seni beladiri yang ku-ikuti sedang diliburkan. Yah, sekali-kali … kita memang butuh istirahat, bukan? Lagipula, kami sudah berjuang keras di pertandingan persahabatan melawan SMA dari kota sebelah minggu lalu.

Pemenangnya? Jujur saja, kalau hanya pertandingan seperti ini …, aku tidak terlalu memikirkan siapa yang akan menang dan yang kalah. Asalkan kami bertarung secara sportif, juga karena sukses menjalin persahabatan, itu sudah membuatku senang. Yup, tentu saja. Lagipula, lewat seni beladiri itulah yang berhasil membuat kami menjalin hubungan pertemanan. Ya, kurang lebih seperti itulah yang kurasakan.

"Jam tujuh malam." Aku bergumam setelah melihat waktu di jam dinding.

Di waktu seperti ini, kedua orang tuaku memang masih sibuk bekerja, sudah biasa juga mereka pulang larut malam setiap hari, apalagi kalau sudah lembur. Tidak, mereka bukannya orang penting atau semacamnya. Kedua orang tuaku hanyalah pekerja kantoran biasa. Ya, biasa, begitupula dengan keluargaku ini. Tidak ada yang istimewa. Kami hanyalah keluarga normal yang hidup di dalam padatnya masyarakat Jepang, di Kota Kyoto tepatnya.

Aku memandang sebuah pigura besar yang menempel di dinding. Di dalamnya terdapat sebuah foto yang berisi tiga orang. Aku beserta kedua orang tuaku. Ya, itu adalah foto yang diambil kurang-lebih dua tahun lalu, saat aku selesai memenangkan pertandingan Taekwondo tingkat nasional, dan menjadi juara pertama. Semua perasaanku terasa sangat senang sekali kala itu. Dan saat itu juga, merupakan momen yang paling tidak bisa aku lupakan. Ya, benar-benar momen emas dalam hidupku selama ini.

Oh, ya, selain Taekwondo, aku juga belajar beberapa ilmu seni beladiri yang lain. Yah, sebenarnya ini baru kumulai saat memasuki bangku SMA, yaitu Kyoto Senior Highschool. Sekolah tersebut adalah salah satu sekolah yang terkenal akan ilmu seni beladiri-nya. Tentu saja bersekolah disana memerlukan uang yang tidak sedikit. Ya, biayanya sangat mahal.

Aku dulu pernah menolak saat disuruh oleh kedua orang tuaku untuk bersekolah disana, tentu saja alasannya karena biayanya. Aku sadar seberapa besar keuangan keluargaku. Tapi, karena kesungguhan ayah dan ibu yang mau mendukungku dalam bidang seni beladiri, akhirnya aku pun menerima tawaran mereka berdua untuk bersekolah di Kyoto Senior Highschool.

Semakin waktu berjalan ke depan, maka kebutuhan kita juga akan semakin meningkat. Begitupula yang terjadi pada pengeluaran uangku. Hal ini terasa sangat jelas saat aku mulai menginjakkan kaki di bangku SMA. Dan untuk mengurangi beban ini, beberapa bulan setelah memasuki SMA tahun pertama, aku mulai menjalankan kerja paruh waktu di sebuah toko buku. Memang hanya pekerjaan kecil, dan bayarannya pun tidak seberapa, tetapi paling tidak, hal ini bisa sedikit meringankan beban kedua orang tuaku, bukan?

Oh, iya, kalian tahu bagaimana reaksi kedua orang tuaku kala itu? Ya, marah, terutama Ibuku. Mereka berpikir, bahwa apa yang kulakukan saat itu karena merasa kekurangan uang. Tentu saja aku menyangkalnya. Aku hanya ingin meringankan beban mereka berdua. Itu saja. Tidak kurang, dan tidak lebih!

Setelah berdebat panjang, aku pun mencari jalan tengah dengan berjanji pada mereka, bahwa pekerjaan paruh waktuku tidak akan memengaruhi sekolahku. Lagipula, ini hanya seperti saat aku melakukan kegiatan di waktu SMP dulu, yaitu sering membaca light novel di waktu luang, ataupun bermain video game. Yah, meskipun sampai sekarang, sebenarnya aku juga masih melakukannya, sih.

Oh, iya, ngomong-omong soal light novel, aku jadi teringat sesuatu.

Aku pun bangkit dari acara tiduranku di ranjang milikku, kemudian berjalan menuju meja belajar. Disana, terdapat sebuah buku yang terlihat tua sekali. Sampulnya berwarna merah tua, dan terdapat semacam pola rumit yang menghiasi bagian depan buku tersebut. Aku mengambil buku itu, kemudian membawanya ke atas ranjang.

Buku ini kudapatkan secara tidak sengaja, sesaat setelah aku hampir saja dirampok oleh dua orang sehabis aku pulang dari tempatku bekerja paruh waktu. Beruntung, aku tidak kenapa-napa akibat itu, sih. Yah, ketika aku ingin berjalan untuk meninggalkan keduanya, saat itulah buku ini tiba-tiba jatuh tepat di atas kepalaku! Sungguh, aku benar-benar marah kala itu, pada orang yang dengan tidak sopannya menimpuk kepala orang lain tanpa permisi!

"Haah …, percuma saja memikirkan orang seperti itu." Aku mendesah pelan, bersamaan dengan tangan kanan yang memijit pelipisku. Sudahlah, lagipula …, aku beruntung mendapat buku gratis ini. Ya-Yah, orang itu sudah m-membuangnya, j-jadi … ini sudah menjadi mi-milikku, 'kan?!

Aku memandang buku merah tua tersebut. Aku belum sempat mengeceknya tadi, karena langsung kubawa begitu saja. Jadi, entahlah apa isi buku ini.

"Baiklah, mari kita lihat buku apa ini sebenarnya."

Hmm …, judul bukunya adalah "Legenda Lima Senjata Pahlawan Suci". Seperti itulah judul buku yang tertulis disana. Kalau dilihat sekilas …, buku ini memang hampir mirip seperti light novel.

Aku pun mulai membaca isi buku tersebut ….

Di sini dimulai dengan penjelasan mengenai sejarah dunia tersebut, atau sesuatu semacam itulah. Cerita pembukanya terlalu biasa.

Lalu, di sini dijelaskan, bahwa untuk melindungi dunia dari Gelombang Kehancuran, dipanggillah lima pahlawan dari dunia lain. Kelima pahlawan tersebut memiliki senjata yang berbeda-beda, yaitu pedang, tombak, busur, dan yang terakhir adalah perisai.

"—Eh …, tidak, tidak. Perisai bukan senjata, tetapi pelindung, 'kan? Dan lagi, kenapa cuma empat saja yang disebutkan senjatanya? Bukankah ada lima pahlawan di cerita ini?"

Hmm, apa penulis buku ini lupa menyebutkan senjata terakhir? Yah, terserahlah. Mungkin nanti aku juga akan tahu sendiri saat aku selesai membaca buku ini.

Aku pun terus melanjutkan membacanya ….

"Heroine-nya tidak disebutkan, ya? Lalu, Putri dari kerajaan ini hanya digambarkan sebagai wanita jalang …."

Diceritakan, kalau Putri Jalang ini sangat manipulatif. Dia selalu memanfaatkan setiap pahlawan, dan saling mengadu domba mereka. Menurutku aneh saja, karena Putri Kerajaan ini selalu menggoda setiap pahlawan yang disukainya. Maksudku, kenapa dia tidak memilih salah satu di antara para pahlawan itu? Dasar Jalang ini …!

Oke, aku akan mengabaikan perilaku putri tadi. Aku meneruskan membaca ….

—Hm, cukup menarik. Setiap pahlawan juga diceritakan secara sendiri-sendiri. Mereka punya kelebihan dan kehebatan yang berbeda-beda. Bahkan, para pahlawan itu terkenal di bidangnya masing-masing.

Pahlawan Pedang yang memiliki keberanian besar. Pahlawan Tombak sangat menghargai teman-temannya. Pahlawan Busur … selalu menjunjung tinggi rasa keadilan. Lalu, Pahlawan Perisai, dia banyak sekali membantu orang-orang yang kesusahan.

"Heeh~ …, mereka pasti orang-orang yang hebat …."

Aku benar-benar kagum pada mereka. Sepertinya, para pahlawan di cerita ini menjalankan kewajiban mereka dengan benar, padahal … itu bukan dunia mereka sendiri, "Yah, sepertinya, memasuki isekai memang menyenangkan, ya. Kalau saja aku juga bisa masuk ke isekai … pasti keren." Aku mengangguk dengan mantap beberapa kali setelah mengatakan itu.

"Ahaha …." Aku hanya tertawa pelan memikirkan perkataanku tadi. Apa sih, yang kupikirkan? Tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Lagipula, ini kehidupan nyata, bukan kehidupan seperti di anime-anime ataupun light novel.

Aku menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pikiran tadi. Mungkin, ini akibat yang muncul karena aku terlalu sering membaca light novel, hingga membuatku memiliki keinginan seperti tadi. Yah, memang tidak salah memiliki pemikiran dan keinginan seperti itu, tetapi kita juga harus bisa membedakan mana yang merupakan realita dan mana yang cuma khayalan, bukan?

"Oh? Cerita mereka berempat sudah habis. Sekarang, giliran menceritakan pahlawan terakhir."

Hmm …? Tunggu—

"Apa?!"

Aku berteriak untuk mengekspresikan kekejutanku.

Kenapa pahlawan terakhir tidak ada namanya? Seorang pahlawan tanpa nama? Bukankah itu malah terdengar aneh? Dan lagi, kenapa tidak ada disebutkan senjatanya? Aku merasa, penulis buku ini memang sangat-lain-daripada-yang-lain! Ya, aku yakin itu ….

"—Eh?!"

Sepertinya, penulis buku ini benar-benar berhasil menarik keterkejutan-ku berulang kali! Setelah tadi dia tidak menyebutkan senjata legenda terakhir, dan merahasiakan nama dari pahlawan terakhir …, dia kini juga malah membuat buku ini kosong! Aku ulangi …, buku ini benar-benar "KOSONG" pada bagian belakang!

"Aku heran …, entah ini kesalahan si Penulis, atau orang yang mencetak buku ini." Haah, mungkin karena ini juga, pemilik sebelumnya membuang buku ini. Bahkan, tepat mengenai kepalaku lagi. Sungguh, aku benar-benar akan membuat perhitungan dengan orang yang menjadikan kepalaku sebagai tempat sampah pembuangan buku!—Ehem, ya-yah …, tentu saja jika aku sudah me-mengetahui orangnya yang mana. Seperti itulah. Ahahaha ….

Aku melihat kembali buku kosong tersebut.

"Hmm?" Entah ini cuma perasaanku, atau memang buku ini terlihat mulai bercahaya. Tunggu dulu—

"Waaa!"

Aku terkejut tatkala kertas dari buku itu membalik sendiri! Halaman per halaman terus terbalik menuju ke bagian belakang buku! Cahaya yang terpancar dari buku itu juga semakin terang! Dan juga, dapat kurasakan kalau ada sesuatu tak kasat mata yang seperti sedang menarik tubuhku saat ini!

"Woaah …! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Ruangan kamarku tiba-tiba berubah. Seperti … semua benda, dinding, dan segala hal lain yang ada di dalam sini berubah menjadi memanjang! Lalu, di sekitarku, secara perlahan muncul berbagai macam warna yang saling bercampur!

"—Apa-apaan ini?!"

Pikiranku benar-benar akan menjadi gila jika seperti ini terus!

Tubuhku terasa seperti jatuh ke dalam sebuah lubang. Dan sebelum aku menyadari apa saja yang terjadi selanjutnya, kedua mata safirku ini mulai menggelap, kesadaranku mulai menipis, hingga akhirnya … aku hanya bisa merasakan kegelapan tanpa dasar ….

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

"Aaaah ...! Apa itu tadi?"

Kedua mataku kini terbuka, memperlihatkan padaku akan lantai yang ada di bawahku. Ugh, lantainya sangat aneh sekali. Bukannya apa, hanya saja … lantai ini seperti bisa memantulakan cahaya, kalian tahu? Lalu, ada semacam altar di sini, yang di atas altar ini terdapat satu pola besar berbentuk pentagram aneh. Seperti pola untuk melakukan sebuah ritual-ritual kuno atau semacamnya. Ya-Yah, kurang lebih sesuatu yang semacam itu.

Ku-pegang kepalaku yang tiba-tiba terasa pusing sekali. "Aduh …, tadi itu apa, sih?" Hanya gumaman itu yang keluar, sebagai pertanda kebingunganku saat ini. Aku bangkit dari acara tengkurap, lalu mendudukkan diri di lantai ini, "Tunggu! Apa ini?!"

Aku tentu terkejut kala tanganku mengusap bagian dadaku sendiri.

Disana, terdapat semacam armor berwarna perak yang hanya menutupi bagian dada atasku saja, sementara bagian tubuh yang lain tidak ada apa-apanya. Di bagian tengah-tengah armor ini terdapat semacam batu permata bundar berwarna putih. Juga, ada semacam garis berwarna hitam memanjang yang menghiasi setiap tepi-lekukan armor ini.

Sebenarnya apa ini, sih?! Armor ini tidak bisa kulepaskan! Sial. Mencoba seberapa keras pun, benda ini memang tidak bisa terlepas dari tubuhku. Haah …, terserahlah. Ngomong-ngomong, benda ini terasa ringan seperti bulu, karena aku tidak merasakan sedikit pun berat sama sekali saat aku bergerak.

Aku mengedarkan pandangan ke sekililing. Tempat ini memiliki dinding yang terbuat dari batu bata, dan tentu saja, setelah dilihat dengan baik … kalau ini bukanlah kamarku! Oi, oi, di mana ini sebenarnya?! Tunggu, tunggu, tunggu, mari kita ingat kembali apa saja yang sudah terjadi padaku sebelumnya.

Hmm …, hari ini aku menjalani kegiatan seperti biasa, pergi ke sekolah dan langsung pulang karena tidak ada kegiatan ekstra yang lain. Setelah itu, aku bekerja paruh waktu di toko buku sampai malam hari, lalu membeli beberapa barang kebutuhan harian saat pulang dari tempat kerjaku. Hmm, ya … tidak ada yang aneh sampai saat ini.

Oke, setelah itu … ah, iya. Uangku hampir dirampok oleh dua orang, tetapi dapat kuselesaikan masalah itu dengan mudah. Saat ingin pergi meninggalkan keduanya, aku menemukan sebuah buku tua—maaf sedikit ralat, buku tua itu yang menemukanku lebih tepatnya. Karena tidak punya waktu, jadi kubawa saja buku itu dan memilih untuk mengeceknya saat tiba di rumah. Yah, seperti itulah ….

Oke, setelah melakukan ini, itu, dan segala hal lain, saat itu pun aku yang sedang berada di kamar tidur, berniat melihat buku yang kubawa barusan. Kemudian … ah! Benar!

Tubuhku tersentak, tatkala diriku sudah mengingat apa yang telah terjadi. "Hmm, ini masih perkiraanku sih, tapi jika memang benar itu kenyataannya ..., kalau begitu sekarang aku ada di … ah, lebih baik langsung mengeceknya saja."

Aku ingat, kalau aku seperti telah melewati hal di luar nalarku akibat menemukan buku tua itu—sekaligus membacanya. Di pikiranku tadi sempat terlintas, kalau aku seperti sudah terkirim ke dunia lain. Bukannya apa, tapi kejadian di kamarku tadilah yang membuatku berpikir demikian. Lagipula, memangnya ada penjelasan yang lebih masuk akal tentang dirimu yang sedang terbang melayang di lorong dengan segala campuran cahaya sebagai dindingnya? Tidak ada. Jadi, itulah perkiraanku saat ini, yaitu aku ... telah masuk ke Isekai!

Aku berdiri, lalu berjalan menuju pintu yang ada di depan sana. Hmm, hanya ada lorong dan beberapa jendela, serta tidak ada siapa-siapa di sini. Melihat ke kanan dan ke kiri sebentar, aku pun memilih jalan yang kanan. Terus berjalan sambil sesekali melihat sekitar, juga melihat ke luar jendela, aku hanya bisa bergumam kagum akan arsitektur tempat ini.

Kebanyakkan arsitekturnya hampir mirip seperti bangunan yang ada di Eropa. Yah, aku memang belum pernah pergi ke sana secara langsung, dan hanya sering melihatnya lewat jaringan internet saja, jadi aku sedikit ingat bagaimana gaya bangunan dari orang-orang di Eropa. Hmm, kurang lebih seperti itulah.

Swuushh~

"Oh? Udara di sini sejuk juga …." Aku bergumam pelan, saat merasakan embusan udara tadi. Terasa sekali angin di sini berembus dengan tenang, seakan sedang membelai pori-pori kulit tubuhku. Perasaan yang sangat nyaman.

Tak lama berjalan, saat sampai pada persimpangan lorong, aku melihat satu orang di depan sana. Dia memakai atribut lengkap sama seperti seorang prajurit pada umumnya. Pedang, perisai, baju baja lengkap, bahkan helm terpasang sempurna di kepalanya. Woah, terlihat sangat keren, kau tahu?

Senyum lebar mengembang di bibirku ini. Akhirnya aku menemukan seseorang di sini! Aku bisa bertanya sesuatu padanya tentang di mana ini berada.

Langkahku yang tadinya cepat untuk mendekatinya, kini kian melambat saat mataku melihat adanya gelagat aneh muncul dari orang itu. Entah mengapa …, aku merasakan firasat buruk akan datang darinya. Tidak, ini hanya seperti intuisi dalam diriku saja, kau tahu?!

Sudah banyak aku melawan berbagai macam orang dalam pertarungan ilmu beladiri, sehingga … itu seperti membuatku seolah-olah bisa membaca apa yang akan orang lain lakukan, hanya dengan melihat sedikit pergerakannya saja. Dan aku yakin sekali …, kalau orang disana memiliki niat buruk padaku saat ini.

Kedua kakiku ini berhenti bergerak, kala orang itu mulai berjalan ke arahku dengan pedang teracung ke depan, tepat padaku. Wajahnya benar-benar menunjukkan raut yang tidak bersahabat sama sekali. Sudah kubilang, 'kan?! Ini benar-benar buruk! Terkadang …, aku juga sangat membenci intuisi-ku sendiri yang selalu benar! Arrgh …! Sial!

Aku berniat berputar ke belakang dan berlari menjauhinya. Tapi, baru satu langkah saja bergerak, kedua kakiku ini langsung berhenti, ketika kedua mata safirku melihat di depan sana muncul tiga prajurit yang sama seperti prajurit di belakangku.

Sedikit menoleh ke belakang, dan kulihat disana sudah berdiri tiga prajurit lainnya. Sial, aku sudah terkepung oleh tujuh orang dari depan dan belakang. Dan yang lebih menyebalkannya adalah, mereka semua memasang raut wajah yang sama, benar-benar tidak punya niat bersahabat sama sekali denganku! Ini sudah menunjukkan alamat buruk, bukan?!

Aku hanya bisa terdiam, saat mereka sudah mengerubungiku dari berbagai arah. Mengembuskan napas dengan pelan, aku mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Yah, siapa tahu ini bisa dibicarakan dengan baik-baik, 'kan? Oke, mari kita mulai pembicaraan ini …

"Ah, halo—"

"Diam kau, Penyusup!"

… atau mungkin tidak.

Satu keringat dingin mengalir jatuh melewati pelipisku. "Sebenarnya begini—"

WAAAA …! Oi, oi, oi …, itu sangat berbahaya, kau tahu?! Bisa kau singkirkan benda tajam itu dari leherku, hah?!

"Cepat bawa Penyusup ini!"

"Hai'!"

Tunggu, ap—oi! "Singkirkan tangan kalian dariku!" Aku hanya bisa memberontak, saat kedua tanganku dikunci dengan paksa oleh dua orang prajurit tersebut. "Tunggu dulu. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik, 'kan?!"

"Kau hanya perlu diam, dan ikuti saja kami, Penyusup!"

Apa-apaan itu?! Penyusup dari mana?! Aku yang terdampar di sini, Brengsek! Aku saja tidak tahu di mana dan apa nama tempat ini, tapi mereka seenaknya menuduhku!

Sial, tenaga mereka berdua besar sekali. Padahal aku sangat yakin bisa melepaskan kuncian mereka dengan mudah. Bagiku, ini merupakan hal remeh seperti biasanya, tetapi ... apa ini?! Aku bahkan seperti tidak bisa merasakan kekuatanku sendiri saat ini! Arrgh …! Kuso …!

Percuma saja. Aku hanya bisa mengikuti mereka semua yang terus menggiringku entah kemana.

Tap tap tap ….

Mereka mau membawaku ke mana, sih?! Dari tadi jalan terus. Belok sana, belok sini. Seperti tidak ada ujungnya saja tempat ini. Aku benar-benar berusaha untuk tidak mengumpat pada mereka saat ini, kalian tahu?!

'Eh, tunggu sebentar …, apa itu?' Aku hanya bisa membatin saat melihat pintu besar yang ada di depan sana. Kami berhenti tepat di depan pintu tersebut. Salah satu prajurit tadi masuk ke dalam ruangan di balik pintu, meninggalkan-ku bersama enam prajurit lainnya di luar sini.

"Pembicaraannya sudah selesai. Baiklah, Para Pahlawan, aku ingin memastikan status kalian."

"Eh, 'status' …itu apa?"

"Etto …."

"Apa maksud kalian? Setelah memasuki dunia ini, harusnya kalian sudah menyadarinya, 'kan?"

"..."

"Apa di depan kalian terlihat suatu icon?"

"Benar, ada."

"Kalian hanya tinggal memusatkan kesadaran kalian pada icon tersebut."

Aku dapat mendengar sayup-sayup suara di dalam ruangan sana, yang sedang membicarakan tentang status, level, pahlawan, dan segala hal lainnya. Hmm, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius …, atau mungkin sesuatu yang sangat aneh? Entahlah, aku sendiri tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi di dalam sana.

Perhatianku teralihkan pada prajurit tadi yang baru saja kembali. Sekarang, apa yang harus aku lakukan …?

"Bawa dia masuk. Raja Aultcray Melromarc XXXII ingin melihat wajah penyusup ini terlebih dahulu."

Tunggu dulu …, dia tadi bilang ... raja?! Woah, aku beruntung sekali. Dengan bagini, aku bisa sedikit tenang karena tidak perlu repot-repot mencari bantuan. Pasti dia bisa membantuku. Ya, tentu saja, memang seperti itulah tugas seorang raja, bukan?

Kami pun mulai memasuki ruangan itu. Aku melihat sekeliling. Hmm, tak kusangka di sini ramai sekali. Ada banyak orang dengan pakaian mewah, tentunya mereka terlihat sangat berkelas. Juga ada beberapa prajurit ber-atribut lengkap disana. 'Err …, ini hanya perasaanku, atau memang tatapan mereka semua sepertinya sedang terfokus padaku?' batinku.

"Eh? Mereka …?" Perhatianku teralihkan pada empat orang yang sedang berdiri di tengah ruangan. Masing-masing membawa sesuatu di tangan mereka. Aku urutkan mulai dari kiri ke kanan;

Pertama, seorang pemuda dengan rambut bergelombang berwarna pirang gelap. Sepertinya dia seumuran denganku, yaitu 17 tahun. Kalau kulihat-lihat, dia ini seperti orang yang selalu bersikap serius dalam segala hal. Dia membawa sebuah busur berhiaskan permata kuning;

Kedua, seorang pemuda dengan rambut hitam panjang, bahkan memiliki jambang yang menutupi kedua telinganya. Dia kelihatan masih muda, mungkin ... dialah yang paling muda di antara mereka berempat? Melihat tatapan matanya, kalian mungkin akan langsung menyadari, bahwa laki-laki ini adalah seseorang yang selalu bersikap dingin. Dia membawa sebuah pedang berhiaskan permata biru;

Ketiga, seorang pemuda dengan rambut panjang berwarna pirang yang dikuncir ke atas. Hanya dengan sekali lihat, kau mungkin akan menyadari, bahwa laki-laki ini adalah tipe orang seperti kakak yang baik hati. Dia membawa sebuah tombak berhiaskan permata merah;

Keempat, seorang pemuda dengan rambut hitam yang acak-acakkan. Hm, bagaimana aku menjelaskannya, ya? Lelaki ini hanya terlihat seperti orang biasa lainnya. Aku bahkan seperti tidak melihat sedikitpun kharisma dari dalam dirinya. Dia membawa … perisai? Emm, yah …, sama seperti yang lain, perisainya juga memiliki permata, tetapi yang ini berwarna hijau.

Aku sedikit bingung dengan pakaian mereka berempat yang terlihat berbeda dengan orang-orang di sini. Justru sebaliknya, pakaian mereka malah hampir mirip seperti yang ada di tempatku berasal. Memang tidak terlalu mirip sih, tetapi sedikit mendakati-lah. Yah, kurang lebih seperti itu.

"Berani sekali kau menyusup ke tempat ini, Anak Muda."

Perhatianku teralihkan pada seseorang yang sedang duduk di sebuah singgahsana. Dia memiliki perawakan orang tua dengan rambut keseluruhan berwarna putih. Sebuah mahkota duduk dengan indah di atas kepalanya. Ekspresinya nampak seperti … tidak suka? Tapi, karena apa? Hmm, entahlah. Aku tidak tahu, mungkin karena suatu hal tadi yang baru saja mereka bicarakan atau apa. Seperti itulah.

"Siapa namamu?"

"Emm, nama saya adalah Namikaze Naruto."

Oke, melihat di mana posisinya saat ini, sepertinya dia raja di sini. Baiklah, kalau begitu ….

"Sebenarnya, saya—"

"Apa kau tidak tahu, kalau kami sedang berdiskusi bersama Empat Pahlawan Suci untuk melawan Gelombang Malapetaka yang akan datang sebentar lagi?"

Tunggu, bukankah tidak baik memotong perkataan orang lain, meskipun jika kau itu merupakan seorang raja sekalipun? Dan lagi, apa maksud dari Gelombang Malapetaka? Aku tidak mengerti sama sekali!

"Aku tak punya waktu untuk mengurusi seorang penyusup saat ini. Jadi, Penjaga, langsunga bawa saja dia ke penjara!"

"Tunggu, ini ada kesalahpahaman! Saya bukan penyusup! Justru saya malah tersesat, setelah saya tadi tiba-tiba muncul di tempat ini!"

"Apa maksudmu?"

Ini merepotkan. Bagaimana aku menjelaskannya pada mereka, ya? Ah, siapa peduli. Lebih baik aku menceritakannya saja pada mereka dari awal.

Setelah itu, aku pun mulai menceritakan segala hal yang terjadi sampai akhirnya tiba di sini. Dimulai dari menemukan buku aneh, muncul di ruangan yang seperti tempat untuk ritual, sampai akhirnya ditangkap oleh para penjaga karena aku dikira seorang penyusup. Aku mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada yang dikurangi, ataupun yang kutambahi. Semua kukatakan dengan jujur, karena ini nantinya yang juga akan menentukan nasibku, bukan?

Setelah aku selesai bercerita, dapat kudengar segala bisikan dengan nada tidak percaya dari orang-orang, bahkan sang raja juga menampakkan raut wajah sama seperti mereka semua. Memangnya ada yang salah dari perkataanku tadi? Aneh sekali reaksi mereka.

"Jadi, tempatnya muncul tadi adalah tempat yang sama, dengan tempat pemanggilan [Empat Pahlawan Suci]?"

Aku hanya diam sambil melihat raja yang sedang berbicara dengan seseorang, yang sepertinya merupakan orang kepercayaannya. Biarlah, yang penting … aku sudah menjelaskan semua kebenarannya. Sekarang tinggal menunggu keputusan Raja Aultcray Melromarc XXXII. 'Oh, iya, ngomong-ngomong ..., kok namanya panjang banget, ya?'

—Tentu saja aku hanya berani membatinkan saja ucapan tadi, kalau aku masih ingin menghirup udara segar besok pagi. Yah, saat ini ... aku ada di dunia milik orang lain, bukan duniaku sendiri. Jadi, aku tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa merugikan diriku sendiri. Umm ..., hanya untuk saat ini, maksudku. Seperti itulah.

Selain itu, aku masih memikirkan semua yang dikatakan oleh orang-orang yang ada di sini tadi. Ya, setelah mendengar beberapa penjelasan dari mereka, aku mulai mengerti situasi dunia ini;

Intinya, dunia ini akan dihantam oleh banyak sekali [Gelombang Malapetaka]. Dan untuk mengatasi masalah itu, mereka melakukan ritual kuno untuk memanggil [Empat Pahlawan Suci] dari dunia lain, yang masing-masing akan memegang salah satu dari empat [Senjata Legendaris]. Keempat orang itu akan ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran.

Ya, kalau tidak salah, ini hampir mirip seperti cerita di buku tua yang kutemukan. Meskipun, perbedaannya hanya terletak pada banyaknya pahlawan yang dipanggil, sih. Baiklah, aku semakin yakin … kalau aku dan keempat orang itu benar-benar sudah masuk ke Isekai! Yah, seperti yang sudah aku duga dari awal, kalau aku memang benar-benar masuk ke Isekai. Meskipun, aku pada awalnya juga ragu soal masalah ini, sih.

"Dengar, Anak muda …" aku memperhatikan sang raja yang mulai berbicara, "… meskipun kau tadi berkata, kalau kau terseret ke dunia ini dan merupakan salah satu dari Pahlawan Suci, kami belum bisa memercayainya."

Tunggu dulu, apa maksudnya ini?! Bukankah tadi sudah jelas kukatakan, kalau aku juga termasuk salah satu pahlawan yang dipanggil? Ya-Yah, kurang lebih seperti itulah isi dari buku yang kubaca, sih. Terlepas dari benar atau tidaknya, aku sendiri juga kurang yakin sebenarnya.

Tapi pokoknya …! Aku hanya mengatakan apa saja yang ada di buku tadi! Terserah mau buku tua itu benar atau tidak. Lagipula, aku juga sudah terlanjur masuk ke dunia kalian, bukan?! Apa ini juga belum cukup menjadi bukti?! Terus sekarang, apa yang akan kalian lakukan terhadapku, hah?!

"Ada dua alasan yang menguatkan hal ini. Pertama, kau bahkan tidak memiliki Senjata Legendaris."

"—Senjata Legendaris …?"

Memang benar, kalau aku tidak memilikinya seperti empat orang itu saat tiba di dunia ini, dan hanya armor perak inilah yang kumiliki. Apa ini juga bisa dikatakan sebagai sebuah senjata? Entahlah, ini lebih mirip pelindung bagiku. Lagipula, salah satu orang disana juga hanya memiliki perisai kecil di tangannya, yang bisa dianggap sebagai pelindung ketimbang senjata. Lalu untuk diriku, hanya karena masalah armor-ku itu dianggap termasuk sebagai senjata atau bukan, tentu ini tidak bisa dijadikan sebuah alasan kuat, kalau aku bukanlah seorang pahlawan yang dipanggil, 'kan?!

"Dan yang kedua …"

Mataku melebar saat mendengar lanjutan dari perkataan sang raja,

"… legenda kami hanya mengatakan, kalau kami hanya bisa memanggil Empat Pahlawan Suci saja ke dunia kami."

Tidak mungkin ….

Ini pasti bohong ….

Aku tidak bisa menerima perkataannya …!

"Karena hal itu, aku akan menahanmu di penjara untuk sementara ini, sampai semuanya terbukti benar. Kau akan ditahan, dengan dasar tuduhan, 'Menyusup ke kerajaan dan menyamar menjadi salah satu Pahlawan Suci'!"

Aku pasti bermimpi saat ini!

Bersambung


[Author Note]:

Hm, hm, aku kembali membuat fic baru, kali ini dengan tema isekai. Yah, hitung-hitung untuk meramaikan fandom Tate no Yuusha no Nariagari. Kulihat di bagian crossover anime ini dengan anime Naruto cuma ada 11 kalau gak salah kemarin aku cek. Dan itu pun yang bahasa indonesia cuma ada 2, ahaha ….

Yah, maaf kalau semisal ceritanya jelek. Sebenernya, aku buat cerita ini loncat-loncat, sih. Dari awal, akhir, tengah-tengah, dan berulang terus semacam itu. Tergantung idenya muncul di bagian mana, karena jujur aja sih, susah buat ceritanya ini, ahaha. Jadi, maaf kalau semisal ada beberapa kalimat informasi yang gak nyambung, entah itu sebelumnya ataupun sesudahnya. Kalau memang jelek, mungkin cerita ini akan bernasib sama seperti ceritaku yang lain, yaitu bakal aku remake, wkwkwk ….

Lalu, aku ingin berterima kasih untuk Author Purple'sSky69. Terima kasih atas kritiknya kemarin di fic event Hurt/Comfort milikku tentang keefektifan PoV1 soal kata "aku/-ku/ku-", dalam satu paragraf yang hanya boleh tiga saja. Yah, sudah aku coba sebenernya, tetapi susah juga, ahaha. Jadi, mungkin aku gak bakal bisa buat cerita cuma terbatas pada penggunaan tiga kata "aku" dalam satu paragraf. Tapi, mungkin akan aku coba untuk me-minimalisir-nya. Thanks sekali lagi.

Juga, aku ingin berterima kasih untuk Author Acies Adam. Terima kasih atas penjelasan mengenai berbagai macam PoV-nya. Lalu, makasih untuk masukan dan juga sarannya. Ya, kita memang tidak bisa terpaku hanya pada penulisan kata "aku" saja dalam pembuatan cerita menggunakan PoV1, yang mana malah membuat kita sendiri mengalami kesulitan, ahaha. Yah, jujur aja sih, aku kemarin juga mengalami stuck beberapa kali saat memikirkan masalah penggunaan kata "aku" ini, ahaha ….

Yah, seperti yang Author Acies Adam bilang, "Gaya dalam menulis itu sesuatu yang sangat abstrak, bukan ilmu pasti yang bisa diatur dengan aturan-aturan yang sangat mengikat." Jadi, aku akan mencoba untuk mencari gaya kepenulisanku sendiri yang enaknya bagaimana. Thanks atas pemberian ilmu-nya untukku.

Intinya, aku senang sekali jika ada orang lain yang memberiku kritikan, karena ini juga akan membuatku untuk lebih belajar dari kesalahanku sebelumnya. Aku sadar, bahwa aku juga belum bisa menciptakan karya bagus seperti penulis lain di Fanfiction. Jadi, aku masih butuh belajar lebih banyak lagi untuk menulis sebuah karya tulis di sini.

Terima kasih juga kepada para author-author senior dan para reader lainnya, yang juga sudah mau mendukungku. Tanpa kalian, entah aku masih bisa bertahan menjadi author di fanfiction apa enggak.

Akhir kata-kata dariku, "Terima kasih atas semuanya."

Tertanda. [FI. Abidin Ren]. (23/Juli/2020).