Atas dorongan dari sahabatnya, Taufan mencoba sebuah aplikasi ponsel yang berbeda dari biasanya. Tak disangka olehnya, aplikasi itu membawa Taufan bertualang dalam dunia maya yang membawanya pada sebuah perjumpaan dan romantika baru.
Disclaimer dan Author Note
-Fanfic ini mengandung Yaoi/Shounen-ai
-Tidak suka Shounen-Ai/Yaoi? Silahkan skip fanfic yang ini. Masih ada karya non yaoi saya yang bisa dibaca.
-Dengan lanjut membaca, maka:
A. Tanggung jawab moral, material dan lain-lain adalah milik masing-masing pembaca.
B. Author menyatakan tidak bertanggung jawab atas kerugian moral, material dan lain-lain.
C. Kebijaksanaan pembaca disarankan.
-Seluruh karakter yang terkandung di dalamnya adalah milik pemegang hak cipta masing-masing kecuali disebutkan berbeda.
-Tidak ada keuntungan materi yang saya dapatkan dari fanfic ini.
-Karya tulis ini adalah fiksi. Kesamaan tokoh dengan kelompok atau individu nyata baik hidup atau tidak adalah kebetulan belaka
-Tidak berhubungan dengan cerita saya yang lain kecuali disebutkan secara spesifik dalam cerita ini.
-Dalam fanfic ini umur karakter utama adalah sebagai berikut dari yang tertua:
Boboiboy Halilintar: 18 tahun
Boboiboy Taufan: 18 tahun.
Boboiboy Gempa: 18 tahun.
Boboiboy Blaze: 17 tahun.
Boboiboy Thorn: 17 tahun.
Boboiboy Ice: 16 tahun.
Boboiboy Solar: 16 tahun.
Fang: 18 tahun.
Chapter 1. Online.
Semilir angin yang berhembus pada siang hari itu membawa sebuah kesejukan nyaman di sekitar kedai Tok Aba-BoBoiBoy Kokotiam selagi awan kelabu tipis menggantung di atas langit.
Tidak hanya cuaca sejuk saja yang sangat bersahabat, pengunjung kedai pun tidak terlalu banyak selepas jam makan siang. Boleh dibilang Taufan yang mendapat giliran menjaga kedai bersama Solar dan Blaze tidak terlalu sibuk menjelang akhir akhir jam tugas mereka.
Satu-satunya pelanggan kedai yang dikenal oleh Taufan adalah sahabat karibnya, yang terkenal dengan rambut yang diwarnai keunguan. Fang, teman satu sekolah dengan Taufan terlihat menyendiri pada meja berpayung di pelataran kedai. Segelas Ice Coffee Special menemani Fang yang sibuk memainkan ponselnya.
Jam digital pada dinding kedai tepat menunjukkan pukul 13:30 siang ketika Taufan melihat tiga orang saudaranya berjalan menuju kedai untuk berganti tugas jaga. Bahkan sebelum tiga orang saudaranya itu sampai di kedai, Taufan sudah terlebih dahulu melepaskan celemek biru yang melekat pada tubuhnya.
"Akhirnya datang juga kalian." Taufan menyapa ketiga saudaranya yang baru saja tiba itu lengkap dengan senyuman lebar.
"Ya ..." Meluncurlah jawaban bernada datar dari mulut Halilintar. Dia, Ice dan Thorn tiba di kedai untuk menggantikan Taufan, Blaze dan Solar. "Mana celemek aku?" tanya Halilintar setibanya ia di depan meja kounter kedai.
Taufan merogoh ke dalam sebuah lemari di bawah meja kounter kedai. Dari dalam lemari itu dia mengeluarkan tiga buah celemek berwarna pink. "Ini ...," ucap Taufan sembari menyerahkan celemek-celemek pink itu kepada Halilintar.
Kelopak mata sebelah kiri Halilintar berkedut saat ia melihat celemek pink yang diambilkan Taufan. "Ngga ada warna lain?"
"Duh, Kak." Blaze pun ikutan mengeluh. "Harus warna pink, 'gitu?"
"Ngga," jawab Taufan sembari menggelengkan kepala. "Celemek yang lain lagi dicuci Gempa."
"Ya sudah," ucap Solar sembari meraih sebuah celemek dari tangan Taufan. "Daripada ngga ada ...," lanjutnya lagi sebelum mengenakan celemek pink itu pada tubuhnya.
Sementara Solar dan Blaze memasang celemek mereka, Halilintar melaksanakan serah terima tugas dengan Taufan. Mulai dari pendapatan di pagi hari sampai sisa bahan minuman, semuanya yang dicatat Taufan diperiksa kembali oleh Halilintar.
"Hm ... gula masih sisa empat kilo, susu kental masih ada tujuh kaleng, bubuk cokelat masih sisa lima kilo ... Oke Taufan, jumlahnya cocok. Masih cukup lah untuk sampai besok," ucap Halilintar setelah dia menyamakan catatan Taufan dengan keadaan stok barang dagangan di kedai.
"Kalau begitu ..." Taufan melepaskan celemek yang masih menggantung dari lehernya. "Waktunya untuk santai." Cengiran ekstra lebar Taufan pun mengembang setelah ia melipat dan menyimpan celemek yang dipakainya.
Tidak hanya Taufan. Blaze dan Solar pun terlihat sudah melepaskan celemek mereka. Kedua adik Taufan itu langsung mencari sebuah meja kosong untuk beristirahat melepas lelah setelah menjaga kedai.
Taufan sendiri langsung menghampiri meja dimana Fang masih sibuk dengan ponselnya.
"Akhirnya," ucap Taufan selagi ia menghempaskan tubuhnya pada sebuah bangku kosong di samping Fang. "Selesai juga kerjaku hari ini."
"..." Tidak ada tanggapan dari Fang. Remaja berparas oriental itu masih saja sibuk dengan ponselnya. Tatapan kedua matanya terpaku pada layar ponsel sementara jari-jemarinya menari dengan lincah di atas layar ponselnya itu.
"Fang?" panggil Taufan lagi.
"..." Jangankan menjawab, Fang melirik ke arah Taufan pun tidak. Remaja berambut ungu itu masih saja asyik dan sibuk dengan ponselnya.
Spontan Taufan menggeram lembut sembari memutar bola matanya ke atas. "Fang!" panggil Taufan lagi dan kali ini dibarengi dengan luncuran jari telunjuk beserta jempolnya menuju pinggul Fang.
"Aduh!" Kontan Fang mendesis ketika merasakan sengatan pedas cubitan Taufan di pinggulnya. "Apa Fan?" ketus Fang sembari mengusap-usap bagian pinggulnya yang dicubit Taufan. Tatapan sebal Fang pun kini tertuju sepenuhnya kepada Taufan
"Kamu ngapain sih?" tanya Taufan tanpa menghiraukan lirikan sebal dari sahabatnya itu.
"Bu-bukan urusanmu!" Fang menjawab dengan cepat dan tergesa-gesa. Jari-jemarinya pun langsung sibuk menutup aplikasi yang sedang ia buka di ponselnya.
Sayangnya Fang kurang cepat bagi Taufan yang terkenal cepat dan tangkas karena dalam gerakan sekelip mata, ponsel yang tadinya berada di tangan Fang sudah berpindah ke tangan Taufan.
Tanpa basa-basi dan tanpa permisi Taufan langsung membuka-buka aplikasi yang sempat dimainkan oleh Fang. Tentu saja aksinya itu membuat si empunya ponsel mendelik horor.
"Ja-jangan!" pekik Fang. Kedua tangannya pun menggapai-gapai ke arah ponselnya yang dipegang Taufan. "Kembalikan!"
Alih-alih mengembalikan, Taufan malah menjauhkan ponsel itu dari si empunya. "Buka aplikasi apa, hayo!?" ledek Taufan sembari melihat aplikasi yang tadi digunakan Fang.
Memang hanya sekilas, namun Taufan masih bisa melihat dengan jelas apa yang terpampang di aplikasi pada ponsel milik Fang.
"A-apa ini?" Mimik muka Taufan langsung bertukar serius. Kedua netra biru safirnya langsung tertuju pada layar ponsel milik Fang. Sekejap saja Taufan tahu bahwa aplikasi di ponsel Fang bukan aplikasi biasa, apalagi setelah ia melihat deretan foto-foto para pengguna aplikasi itu.
Tidak seperti media sosial biasa, hampir semua foto profil pengguna aplikasi itu memilih untuk tidak berbusana. Minimal remaja-remaja yang memakai aplikasi itu mengenakan baju armless atau tanktop ekstra lebar yang memamerkan lekuk-lekuk tubuh mereka. Entah mengapa, busana seperti itu mengingatkan Taufan akan Blaze dan Fang.
Dan ...
Di pojok layar tampilan aplikasi itu pula terlihat profil Fang yang fotonya diambil secara selfie oleh Fang sendiri di depan cermin dalam kamar mandi. Lebih mengejutkan lagi adalah busana yang dikenakan Fang.
Kontan Taufan meneguk ludah saat ia melihat foto dari Fang yang tidak pernah ia duga keberadaannya. "Fa-Fang?" Bahkan Taufan merasa sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan untuk mengomentari foto selfie sahabatnya itu.
"Ish!" desis Fang sebelum akhirnya ia bisa merebut ponselnya kembali dari tangan Taufan. Buru-buru Fang menutup aplikasi yang tadi sempat dibuka oleh Taufan sebelum menggenggam erat ponsel miliknya itu bagaikan sedang berhadapan dengan copet.
Sayangnya usaha Fang itu sia-sia. Nasi sudah menjadi bubur, Taufan sudah terlanjur melihat aplikasi yang terpasang dalam ponsel milik Fang. "A-aplikasi apa itu tadi?" tanya Taufan sembari menatap wajah sahabatnya yang mulai dirambati rona kemerahan.
"Bukan urusanmu!" ketus Fang dengan kepala tertunduk. Seperti kebiasaannya jika gelisah, mulailah Fang membetulkan letak kacamatanya berkali-kali seakan alat bantu pengelihatan itu terasa sangat mengganjal.
Taufan tidak langsung berkomentar. Untuk beberapa saat lamanya remaja bernetra biru safir itu terdiam sembari menatap lawan bicaranya. Di dalam memori otaknya, Taufan tahu dan paham akan tabiat Fang yang terkenal narsis selalu ingin diperhatikan. Namun di sisi lain Taufan tidak mengerti mengapa Fang berani mengambil selfie dirinya sendiri sampai seekstrim itu.
"Aku ngga pernah melihatmu selfie sampai begitu Fang," ucap Taufan dengan berwajah serius. "Cukup ... menarik."
"Hah?" Komentar tidak terduga dari Taufan membuat Fang tercengang. Seorang Taufan yang dikenal oleh Fang biasanya akan langsung menyindir atau membuat lelucon konyol, namun kali ini komentar si sahabat itu benar-benar di luar dugaan.
"Kamu ... serius?" tanya Fang dengan hati-hati. Dia masih tidak yakin dengan sikap Taufan.
Sebuah anggukkan kepala menjadi jawaban dari Taufan.
Raut wajah tegang Fang pun perlahan mengendur. "Terima kasih? Kurasa?" ucap Fang yang sebetulnya masih ragu dengan sikap Taufan.
"Aplikasi apa itu tadi?" Kembali Taufan bertanya mengenai aplikasi yang sempat dilihatnya.
Sejenak Fang berdiam diri. Tatapan kedua manik netra lavendernya tertuju kepada Taufan sementara otaknya menimbang pilihan jawaban untuk sahabatnya itu. "Oke ... kurasa ngga ada salahnya," gumam Fang lembut sembari kembali membuka aplikasi ponselnya.
"Ini ..." Mulailah Fang menjelaskan perihal aplikasinya sembari memperlihatkan tampilan aplikasi itu kepada Taufan. "Aplikasi untuk mencari ... teman dekat."
"Teman dekat?" tanya Taufan dengan dahi mengerenyit. "Seperti aku dan kamu, begitu?"
Fang menggelengkan kepalanya. "Lebih dari itu, Taufan," jawab Fang.
"Maksudmu?"
"Ah!" ketus Fang sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Percuma kuperhalus ... Aplikasi ini untuk mencari pacar!"
Kesunyian yang memekakkan telinga pun melanda tempat Taufan dan Fang bercengkrama. Jawaban dari Fang yang tanpa tendeng aling-aling itu sama sekali tidak terpikir oleh Taufan. Bahkan Taufan sendiri tercengang melongo setelah mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Dan bukan pacar biasa, Taufan." Fang lanjut menjelaskan. "Pacar ... sesama ... jenis," ucapnya lagi dengan sangat hati-hati.
Dari tercengang, mimik muka Taufan berubah menjadi terkesima. Alih-alih tersindir, Taufan malah terlihat semakin tertarik dan bahkan mulai menggeser posisi duduknya mendekati Fang. "Dimana kamu dapat aplikasi itu?" tanya Taufan dengan antusias sembari ikutan mengeluarkan ponsel miliknya.
"Coba saja cari di Playstore, RomeoRomeo namanya." Tanpa ragu-ragu lagi Fang menunjukkan Taufan aplikasi yang ia pakai. Tidak hanya menunjukkan, Fang menjelaskan pula cara registrasi, membuat profil, bahkan sampai ke cara mencari pasangan yang sekiranya cocok berdasarkan minat dan lokasi Taufan.
Tidak sulit bagi Taufan sendiri untuk mengikuti semua instruksi yang diberikan oleh Fang. Bahkan kurang dari sepuluh menit, Taufan sudah berhasil membuat profil baru dalam aplikasi pergaulan RomeoRomeo yang diperkenalkan oleh Fang. Tentu saja profil yang dibuat oleh Taufan itu belum sempurna karena masih banyak yang belum diisi, namun sudah cukup bagi Taufan untuk mulai menjelajah dan bertualang dalam dunia maya yang dianggapnya cukup menyegarkan mata.
"Waw." Berkali-kali decak kagum Taufan terdengar saat ia menjelajahi profil-profil para pengguna lain di aplikasi RomeoRomeo. "Wuaahhh, ganteng-ganteng semua. Imut-imut juga." Senyuman Taufan kian melebar seiring dengan semangatnya yang semakin menggebu.
"Eh? Ini profil kamu, Fang," komentar Taufan saat ia menemukan profil milik Fang. "Lho ... Ini profil ..." Sebuah profil berbeda membuat Taufan terkejut karena foto utamanya sangat tidak asing baginya.
Fang terkekeh lembut saat melihat Taufan tercengang. "Yap ... Ngga salah ... Itu profilnya ..."
"Solar?" sambung Taufan. "Astaga ... aku ngga sangka kalau ..."
"Kalau adikmu yang narsis gila itu rada belok?" tanya Fang seakan itu adalah retorik biasa saja. "Kemana saja kamu, Fan? Kamu tinggal di gudang bawah tangga rumah?"
Sindiran dari Fang itu membuat sebuah sweatdrop menitik di kepala Taufan. "Ngga, lah," tukas Taufan sembari terkekeh cengengesan. "Cuma saja aku baru tahu kalau Solar ... sedikit belok."
"Nah sekarang kamu tahu ... Plis, Taufan, kali ini jangan jadi ember pecah mulutmu ..." Fang melirik tajam ke arah Taufan. Mimik muka remaja berambut ungu itu terlihat sangat serius dipadu dengan kelopak matanya yang sama sekali tidak berkedip. "Jangan sampai yang lain tahu kalau adikmu itu rada belok," sambung Fang, kali ini dengan bernada peringatan.
Tatapan tajam Fang kontan membuat Taufan meneguk ludah. Tentu saja dia tidak mau dirinya menjadi bermusuhan dengan Solar atau Fang hanya karena perkara mulut embernya yang terkadang suka menyerocos tanpa rem itu. "I-iya, aku akan hati-hati," ucap Taufan sembari menganggukkan kepala.
"Ingat, kali ini jangan ember, Taufan," ancam Fang lagi masih dengan nada bicara serius.
"Iya, aku janji ngga bakalan ember!" ucap Taufan dengan nada lebih tegas daripada sebelumnya.
Sesaat kedua sahabat itu terdiam dan saling berpandangan. Walau membisu secara lisan, otak Taufan kembali berputar dan mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Sebuah kejanggalan mendadak menghentikan putaran otak Taufan. "Tunggu ... Kamu bilang kalau aplikasi RomeoRomeo itu untuk mencari pacar ... ehm ... gay?"
"Ya?" Fang menaikkan sebelah alis matanya.
"Solar yang kamu bilang sedikit belok pakai aplikasi itu ... Lalu ... kamu juga pakai aplkasi itu ..." Tibalah Taufan pada sebuah kesimpulan yang membuatnya kembali tercengang. "Ja-jangan bilang kamu juga ..."
"Yap," jawab Fang tanpa basa-basi dan tanpa ragu-ragu. "Aku juga belok."
Sebelum Taufan sempat berkomentar lebih lanjut, Fang terlebih dahulu melempar senyum termanisnya kepada sahabatnya yang bernetra biru safir. "Jangan jadi ember bocor ya, Taufan?" ucap Fang sembari melingkarkan tangannya melewati pundak Taufan dan merangkul sahabatnya itu. "Kamu ngga mau aku culik semalaman 'kan?"
Ancaman Fang itu cukup membuat Taufan bergidik sebelum menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat. "I-iya! Aku ngga bakal kasih tahu orang lain!"
.
.
.
Bersambung.
