Bar Malam Ini

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

special for reauvafs' birthday (September 10)

Happy reading, and, once again, happy birthday!

~o~

"Yamamoto tidak ada, ya ...?"

Alunan musik klasik jadi satu-satunya yang mengiringi obrolan-obrolan random para pengunjung bar malam ini. Bar hari ini sebetulnya ramai, akan tetapi hanya Kume Masao yang duduk di hadapan meja bartender malam ini. Di seberangnya, Matsuoka mengangguk-angguk tanpa menoleh.

"Mungkin saja?" Apel di tangannya masih menjadi fokus utama, selagi Matsuoka menjawab. "Aku tidak melihatnya dari tadi, sih—biasanya juga dia datang bersamamu, 'kan?"

"Aku juga nggak lihat dia, tadi ..." Kume meneguk gelas sakenya sedikit. Isinya memang langsung habis, namun botol sake yang juga bersamanya belum menunjukan tanda-tanda akan kehabisan isi dalam waktu singkat. "Yoshii-kun minum dengan temannya, lalu Satomi-kun juga nggak ada ..."

Tersebutlah Yoshii Isamu yang malam itu ada janji minum-minum dengan kawan-kawannya di Myojou, pada satu meja di pojokan bar itu, juga Satomi Ton yang sama seperti Yamamoto Yuuzou—tidak tahu sekarang ada di mana, atau barangkali sedang main dengan kakaknya, entah di mana.

"Mau kutemani?" Matsuoka tidak terlalu tega, sebenarnya, kalau melihat Kume kemari tanpa teman. Mungkin menemaninya bukan ide buruk—meski ia tidak bisa selalu di tempat, mengingat statusnya sebagai bartender yang harus siap mengantar pesanan kapan saja.

Kume mengembuskan napas. "Aku mau cerita juga. Mau dengerin?"

"Silakan. Ah, tapi sebentar, ada yang mau kuambil di belakang."

Apel-apel yang tadi dikupas Matsuoka kini dibiarkan begitu saja di atas piring kecil. Kume memperhatikannya sebentar, sebelum kembali menuang sake dari botolnya ke dalam gelas dan menghabiskannya dalam satu tegukan.

Bunyi lonceng kecil yang diletakkan di atas pintu menandakan bahwa ada pelanggan baru di bar kecil ini. Kume tidak terlalu peduli, sebetulnya—paling-paling hanya sastrawan lain yang ingin menghabiskan malam dengan minum-minum alkohol, sama sepertinya. Kala bangku di sebelahnya mendadak terisi juga Kume lebih fokus pada minumannya. Tidak penting, seharusnya begitu.

"Oh, Akutagawa?"

"Malam, Matsuoka. Kamu punya sake?"

"Ada, kok. Mau aku ambilkan?"

Seharusnya memang tidak penting. Namun, percakapan singkat yang terjadi tepat di sebelahnya membuat Kume refleks mengangkat kepala lantaran terkejut.

"... Akutagawa-kun ..."

Itu hanya gumaman kecil, namun tanpa disangka-sangka orang yang ada di sebelahnya ini mendengarnya. Akutagawa menoleh, lalu melempar senyum kecil. "Malam, Kume."

Kume tidak membalasnya.

Matsuoka di sana hanya mengulas senyum canggung, setelah melihat kedua pelanggan sekaligus kawannya ini saling berinteraksi. Botol sake beserta gelas kecil yang menjadi pesanan Akutagawa sebelumnya ia oper pada si pemesan.

Untuk beberapa saat, ketiganya terjebak dalam keheningan yang sama canggungnya seperti senyum Matsuoka. Kume memutuskan untuk kembali fokus pada sakenya seperti sebelumnya, sementara Akutagawa yang sadar kehadirannya sedikit mengganggu menikmati sakenya dengan agak gelisah. Matsuoka, yang tidak terlalu nyaman dengan hal ini, menggeser piring berisi apel potong yang dikupasnya sebelum Akutagawa datang tadi, pada meja di antara celah kedua temannya.

"Maa, kalian mau apel?"

Kume dan Akutagawa sama-sama melirik sedikit.

"Apel?" Kume membeo, sedikit bingung.

"Teman minum." Matsuoka terkekeh.

Akutagawa memperhatikan piring apel di dekatnya. Tangannya pelan-pelan meraih salah satu potongannya. "Aku minta satu, Matsuoka."

"Silakan, silakan."

Kume diam sebentar di tempatnya.

Lonceng di atas pintu bar berbunyi lagi.

"Matsuoka-saaaann, masih punya stok sake, nggaaakk?" Suara riang nan ceria itu seketika mengalahkan musik klasik yang tengah mengalun. Orang-orang yang tengah minum-minum di tempat ini bisa langsung tahu siapa pemilik suara itu, bahkan tanpa menoleh.

Matsuoka menoleh. "Masih, kok."

"Banyak?"

"Kusano-san butuh berapa banyak?"

"Hmmm, aku butuh banyak sekali, kurasa." Kusano Shinpei mendekat. Di celah antara bangku Kume dan Akutagawa, ia berdiri dengan Gyawazu yang ekspresinya sama seperti sang pemilik. "Buraiha dan Haruo-san bilang mereka mau lomba siapa yang paling kuat minum. Ibuse-san juga di sana. Mereka di kamarnya Dan-kun sekarang."

Matsuoka mangut-mangut. "Sepertinya butuh banyak sekali, ya ..." gumamnya. "Aku ambilkan dulu di belakang. Perlu kuantarkan?"

"Ah! Boleh, boleh!"

Ketika Matsuoka berkata ia akan mengantarkan sake pesanan Kusano Shinpei, Kume merasakan satu firasat buruk. Matsuoka beranjak ke belakang, dan tak berapa lama kemudian ia kembali dengan satu kotak besar—isinya pasti sake-sake itu. Kume berdiri.

"M-matsuoka ..."

Matsuoka melirik. "Hmm?"

"Kau ... kau mau pergi?" Kume bertanya ragu.

Matsuoka meringis. "Sebentar saja, kok," balasnya. "Duduklah, oke? Nanti aku kembali dan kamu boleh bercerita sesukamu. Nikmati juga apelnya."

Gantian Kume yang meringis.

Matsuoka pergi bersama Kusano setelahnya. Kume kembali duduk di tempatnya, diam, enggan menoleh ke sebelah untuk beberapa saat.

Apa ia langsung pulang saja, ya, ketimbang berlama-lama duduk di sebelah orang yang paling ia hindari di perpustakaan ini?

Itu ide yang terdengar bagus, sebenarnya. Kume ingin. Ya, ide bagus apabila ia langsung pergi saja, kembali ke kamar sambil membawa botol sake dan gelasnya, kemudian mengembalikan gelas kecil itu pada Matsuoka besok pagi.

"... Nanti aku kembali dan kamu boleh bercerita sesukamu ..."

Satu dari sekian kalimat yang Matsuoka Yuzuru ucapkan sebelum pergi sukses membuat Kume yang semula ingin beranjak jadi kembali ragu.

Apa Matsuoka akan cepat kembali? Berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk mengantar sake ke tempat Buraiha? Atau juga mungkinkah Akutagawa Ryuunosuke bakal pergi sebelum Matsuoka kembali?

Yang terakhir itu terdengar seperti harapan, dan Kume mengamininya dalam hati. Apabila ia tetap menunggu di sini, barangkali Akutagawa juga akan pergi nanti. Lalu begitu Matsuoka kembali, ia bisa bebas bercerita apa saja.

"Ano, boleh aku merokok di sini?"

Suara dari bangku sebelahnya itu membuat lamunan Kume terbuyar. Netra sewarna lavender itu melirik dari balik lensa kacamata, Akutagawa tengah meliriknya juga dengan tangan bersiap masuk ke dalam saku.

Kume mengejap-ngejap. "Oh." Pemuda itu mengangguk. "Silakan." Nggak ada yang larang, lagipula, kalimat itu ia lanjutkan dalam hati.

Akutagawa tersenyum. "Makasih." Tangannya menelusup ke dalam kantong, mencari-cari rokok dan pematik yang biasa ia selipkan di dalam sana. "Omong-omong, apel dari Matsuoka enak—cobalah."

Itu mengingatkan Kume pada apel dari Matsuoka yang belum sempat ia sentuh. Warnanya masih terlihat segar di atas piringnya. Kume meraih satu, kemudian menggigitnya setengah.

Rasa segar bercampur manisnya menyebar dalam mulut segera setelah Kume menggigitnya. Akutagawa benar, ini enak.

"Enak ..."

"Iya, 'kan?"

Aroma tembakau tercium samar-samar. Kelihatannya Akutagawa sudah menemukan apa yang ia inginkan. Karena tidak ada yang melanjutkan percakapan singkat barusan, Kume juga kembali pada botol sake dan gelas kecilnya. Isi botol yang tingginya tak lebih dari panjang lengannya itu kembali ia tuangkan ke dalam gelas. Kume memperhatikan isinya yang memantulkan cahaya lampu sebelum meneguknya setengah.

"Sake di sini memang yang terbaik. Aku nggak heran kamu sering kemari dengan Yamamoto atau teman-temanmu itu." Mendadak Akutagawa bicara seperti itu. Kume meliriknya.

"Memang," jawabnya pelan. Suaranya barusan sedikit banyak tenggelam oleh obrolan pengunjung lain dan alunan musik klasik, namun Akutagawa dapat menangkap apa yang dikatakannya dengan jelas.

"Punya rekomendasi?"

"Kalau itu ... aku rasa Matsuoka lebih paham."

"Begitukah?"

"Kau bisa tanya padanya, kalau mau."

Akutagawa terkekeh. "Akan kuingat itu," katanya. Tangannya meraih botol sake miliknya dan menuangkan isinya ke dalam gelas, lalu meneguk seluruh isinya dalam sekali teguk.

"Hmm ..."

Lonceng di atas pintu masuk berdenting untuk kesekian kali. Itu bukan Matsuoka, sayangnya, melainkan Wakayama Bokusui yang kelihatannya akan ikut minum-minum dengan anggota Myojou di pojokan sana.

Akutagawa menoleh pada Kume. Tangannya sempat mengambil sepotong apel lagi, sebelum kemudian berkata, "Omong-omong, Kamis depan kita ngumpul lagi, 'kan?"

Kume ikut menoleh. "Kamis depan ... ah, iya. Aku rasa begitu." Perihal pertemuan murid-murid Natsume Souseki yang selalu diadakan setiap Kamis. Belakangan pertemuan itu jadi semakin ramai, mengingat sejak beberapa bulan lalu, Suzuki Miekichi dan Uchida Hyakken akhirnya turut bereinkarnasi ke perpustakaan ini.

"Aku dan Hyakken-san punya rencana untuk beli beberapa kue sebelum pertemuan. Kamu mau ikut?" tawar Akutagawa ringan.

Yang ditanya diam sejenak.

"Untuk Natsume-sensei, ya?"

"Mhm. Kita bisa beli buat yang lain juga."

"... Aku rasa ... boleh?"

Akutagawa tersenyum. "Aku akan bilang lagi begitu kita mau pergi," katanya.

Kume mengangguk-angguk.

Lonceng di atas pintu berdenting lagi. Akutagawa menoleh ke belakang, matanya sesaat mengejap-ngejap. "Oh ..."

Mendadak, Akutagawa berdiri. "Kita baru ngobrol sebentar, tapi kayaknya aku bakal balik duluan," ucapnya, sambil menatap Kume. "Bilang pada Matsuoka, sakenya enak, apelnya juga."

Kume memiringkan kepala. "Oh ... baiklah?"

"Jaa, aku pergi dulu."

Akutagawa menjauh dari tempatnya, menuju pintu masuk bar hingga Kume mendengar satu bunyi bel lagi. Bersamaan dengan itu, sesuatu menepuk pundaknya dari belakang. Kume sontak menoleh.

"... Matsuoka ..."

Matsuoka tersenyum kecil. Pemuda itu kembali ke tempatnya setelahnya, di balik meja bar, di hadapan Kume.

"Jadi kalian ngobrol?" Matsuoka bertanya seraya mengambil sepotong apel yang masih tersisa.

Kume diam sebentar. Tak lama, ia mengangguk kecil. "Sedikit ..."

"Wah ..."

"Omong-omong, dia bilang sake dan apelnya enak."

Matsuoka tersenyum tipis. "Kalau dia suka apelnya, aku masih punya. Kamu juga, kalau suka, aku bisa kupaskan lagi," katanya.

"Makasih."

Kume kembali menuangkan sake ke dalam gelasnya. Setelah meneguk isinya, ia menatap Matsuoka. "Matsuoka."

"Hm?"

"Aku masih mau cerita. Mau dengar, 'kan?"

Matsuoka mengangguk. "Tentu."

Kume mengambil napas sebentar, sebelum akhirnya mulai bercerita.

(Ia bercerita tentang Akutagawa, lagi-lagi tentang dia. Namun, tidak ada yang tahu, selain dirinya sendiri, bahwa apa yang ia ceritakan sekarang, sedikit banyak berbeda dengan rencananya sebelum Akutagawa datang dan minum di sebelahnya.)

-End-

AK TAU INI UDAH MALEM TAPI GAPAPA INI MASI TGL 10 /woi

oke, gaada yg penting selain janjiku yg bilang bakal upload yg ini begitu kelar kbm. Tapi ak sempet mandek huhu, maafkan T_T

ANYWAYS, SEKALI LAGI AK MAU NGOMONG, HABEDE REAU-SAAAANNN. MOGA SEHAT SELALU, SUKSES SELALU, BAHAGIA SELALUUU QwQ

makasih udah mau berteman denganku yg aneh ini huhu. Masih ga nyangka tapi dunia emang semengejutkan itu. Moga kita tetep bisa temenan ya ;v;)/

Sekali lagi, habedeeee. Bahagia selalu ya ;v;)/