MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE
When the sun shines so bright, the darkness will fade…
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan
.
.
Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?
.
.
Prologue
.
.
Kata-kata tempaan kenangan terbakar habis,
Mengantar si perubah bentuk menghadapi tantangan.
Kala bulan baru meninggi di atas gunung iblis,
Hingga Tiberis diisi jasad berserak-serakan.
.
Ke selatanlah sang surya mesti melejit,
Melalui labirin kelam ke negeri gersang.
Untuk mencari pemilik kuda putih gesit,
Dan merampas embusan si penutur teka-teki silang.
.
Tujulah istana barat, wahai Lester;
Putri Demeter mesti temukan akar kunonya.
Si pemandu berkuku belah yang tahu sumber,
Mampu tunjukkan jejak kaki musuh ke sana.
.
Ketika yang tiga terkuak dan Tiberis didatangi,
Barulah Apollo bisa berjoget sesuka hati.
.
Itulah bait-bait ramalan yang kudapatkan di Gua Trophonius. Bait-bait ramalan mengenai tugasku yang berikutnya. Aku Apollo, seorang mantan dewa yang diturunkan ke bumi dan diubah menjadi manusia fana oleh ayahku Zeus, ditugaskan untuk menyelamatkan kelima Oracle kuno dari cengkraman ketiga Kaisar Romawi jahat yang ingin menguasai dunia.
Enam bulan setelah Perang Raksasa Kedua, aku mendapati diriku tengah terjun bebas dari langit Manhattan dan jatuh terperosok ke dalam tempat sampah di sebuah gang sempit di kota itu. Seakan belum cukup puas karena diusir secara hina dari Olympus, aku diubah menjadi seorang remaja fana tanpa kekuatan adikodratiku dengan nama Lester Papadopoulos.
Belum lama setelah aku meratap dalam kesedihan karena diusir, aku masih harus diserang oleh dua orang preman yang diutus untuk menghabisiku. Beruntung ada seorang gadis kecil berusia dua belas tahun yang berhasil menolongku dengan mengusir kedua preman itu dengan kantong kresek dan buah busuk.
Sialnya lagi, aku harus mengabdikan diri pada gadis tersebut karena ia telah berhasil mengklaim haknya atas jasaku dan membuatku harus menuruti perintahnya. Kemudian, kami berdua melakukan perjalanan menuju Perkemahan Blasteran dibantu oleh seorang demigod paling terkenal abad ini, Percy Jackson.
Di perkemahan, aku baru mengetahui bahwa gadis kecil bernama Meg McCaffrey itu merupakan anak dari bibiku, Demeter, dan akhirnya kami mendapatkan misi untuk mencari Oracle kuno yang telah lama hilang, Kebun Dodona, dan mencari para pekemah yang menghilang. Dari situlah petualangan kami berdua di mulai hingga bertemu salah seorang pendiri Triumvirat, Nero Claudius atau kaisar dengan julukan Si Buas.
Pertemuan kami dengan Nero menyadarkanku tentang pengaruh Triumvirate Holdings selama Perang Titan Kedua dan Perang Raksasa Kedua hingga mencoba untuk menguasai dunia dengan mengenggam kelima Oracle kuno. Dan akhirnya aku paham, bahwa tugas penebusan dosaku kali ini adalah menyelamatkan para Oracle.
Setelah berhasil menemukan Kebun Dodona dan menghalau serangan Kolosus Neronis ke Perkemahan Blasteran, aku dan kedua kawan baruku, Leo Valdez dan Calypso, harus mengarungi dataran Indianapolis untuk mencari gua kuno milik putraku, Trophonius, dan membebaskan kuasa sang Oracle dari cengkraman Triumvirate Holdings.
Dalam pencarian Gua Trophonius, aku dan kawan-kawanku yang baru harus berurusan dengan seorang Kaisar yang dahulu paling kukasihi. Seorang Kaisar dengan julukan Hercules baru, Commodus. Kaisar kejam yang menganggap sebuah pembantaian sebagai pertunjukan yang asyik.
Meski Meg McCaffrey, majikanku yang belia dan pemberani, sempat mengkhianatiku dengan menyeberang ke sisi Nero saat petualangan kami untuk mencari Kebun Dodona, ia memutuskan untuk mengkhianati Triumvirat dan membantuku yang tidak bisa apa-apa dan tak berguna ini dalam mencari gua Trophonius.
Kemudian beberapa saat setelah majikanku berhasil memanggil Grover Underwood ,seorang satir yang sekaligus seorang Tetua Alam Liar, kami bertiga mulai memasuki labirin Daedalus untuk menuju ke tempat Grover berada sebelumnya, Palm Springs.
Namun entah karena penciuman Grover yang memang payah (aku menduga seperti itu, karena beberapa kali kami tersesat hingga masuk ke dalam kamar mandi Cyclops) atau karena labirin yang mengarahkan kami (terakhir kali aku masuk ke dalam labirin, aku muncul di bawah hidung musuh lamaku, Python), kami malah bergerak ke arah timur dan muncul di Perkemahan Blasteran.
Saat pertama kali keluar dari balik lubang di bawah kumpulan batu yang dinamakan Kepalan Zeus (Aneh memang ketika mendengar sebuah kumpulan batu dinamakan dengan tangan ayahmu, selera demigod memang aneh), kami bertemu dengan Juniper, dryad pacar Grover, dan diarahkan memasuki perkemahan untuk menemui kawan lamaku, Chiron.
Dan setelah segala kejadian yang menjemukan itu, di sinilah aku, duduk termenung di bawah patung Athena Parthenos yang dibuat dari emas dan pualam sambil mendendangkan larik-larik ramalan dan menikmati pemandangan pagi di puncak Bukit Blasteran.
Pemandangan pagi di puncak bukit ini memang sudah menjadi favoritku semenjak dijatuhkan ke bumi. Hangatnya cahaya matahari pagi yang menyinari ladang stroberi yang tumbuh di lembah bukit, menghantarkan warna hijau dan merah yang menenangkan hati. Aku tidak pernah merasa bosan untuk menikmati pemandangan ini.
Mungkin ketika aku masih menjadi seorang dewa, aku tidak terlalu memperdulikan keindahan alam seperti ini. Namun semenjak dirubah menjadi seorang manusia yang fana, aku menikmati pemandangan alam yang cukup indah ini. Mengingatkanku bahwa setiap kejadian tidak hanya berisi hal-hal yang buruk ataupun mencekam saja, namun juga ada hal yang indah di balik itu.
Ah … sepertinya aku bisa menggubah sebuah lagu dengan tema itu, atau mungkin sebuah puisi? Entah mana yang cocok untuk keadaan seperti ini.
"Sudah kuduga kau ada di sini, Apollo." Sebuah suara kecil tampak menyadarkanku dari lamunanku. Ketika aku menengok ke belakang, tampak sosok gadis berusia dua belas tahun dengan pakaian legging berwarna kuning, rok terusan berwarna hijau dan sepatu olahraga berwarna merah. Yap … dia masih warna-warni seperti biasanya.
"Ada apa Meg?" tanyaku kepada sosok gadis kecil yang menjadi sasaran pengabdianku.
"Tidak ada. Aku cuma ingin duduk di sini," tukas Meg seraya duduk di dekatku. Kami terdiam di bawah patung Athena Parthenos sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit kami.
"Meg," panggilku.
Gadis itu menoleh seraya berkata, "Ada apa?"
"Larik dalam ramalan yang berbunyi 'Putri Demeter mesti temukan akar kunonya', sudahkan kau mengerti artinya?" tanyaku kepadanya.
Ia menggeleng. "Bukankah kau seharusnya yang mengetahui arti larik tersebut? Dulu kau seorang Dewa Ramalan kan?" tanyanya kepadaku.
"Jangan ingatkan aku lagi tentang keniscayaanku," gumamku dengan nada pedih. Aku tahu bahwa aku dulunya seorang dewa yang menaungi berbagai bidang yang keren. Ramalan, musik, pengobatan, puisi, matahari, panahan, semuanya kukuasai. Tetapi semenjak berubah menjadi manusia, semua kesaktianku hilang dalam sekejap.
Meski beberapa kali aku bisa menggunakan kekuatan adikodratiku, namun semakin lama aku menggunakannya, semakin melemah diriku. Bahkan ingatan yang kubangun semenjak empat ribu tahun lamanya perlahan-lahan mulai sirna.
Aku menghela nafas perlahan dan kembali bertanya, "Apa kau yakin tidak tahu? Mungkin larik tersebut berhubungan dengan ingatan tentang rumahmu?"
"Aku tidak mau mengingatnya lagi," gumamnya lirih.
Ah … aku lupa kalau ingatannya akan rumah malah berakhir dengan terbunuhnya ayah Meg di undakan Perpustakaan Umum New York. Terakhir kali aku melihat ingatan itu, waktu aku berusaha untuk menyelamatkan nyawanya di gua Trophonius yang terkenal akan ramalannya yang merasuk ke pikiran dan membuat gila.
Saat itu, Meg masih berusia lima tahun dan ia harus menyaksikan ayahnya terbunuh oleh Si Buas atau alter ego lain dari Nero (meskipun aku menduga bahwa Nero mereka-reka hal itu untuk memanipulasi Meg kecil, karena memang sifatnya dingin nan kejam).
Tapi, aku yakin bahwa masih ada sesuatu dibalik memori masa kecilnya. Memori sebelum ia dan ayahnya pindah ke New York. Memori sebelum Nero menemukannya dan mengangkatnya sebagai seorang anak. Namun … mungkin kita tidak akan mengetahui hal yang sebenarnya sampai kita bertemu Oracle berikutnya.
"Apollo." Entah mengapa ada sebuah suara memanggilku lewat pikiran. Apa itu kau panah Dodona? Semenjak pulang dari Kebun Dodona, aku menemukan sebuah anak panah yang terbuat dari kayu pohon ek yang tumbuh di kebun itu. Sayangnya panah itu bisa berbicara layaknya pohon-pohon yang ada di Dodona.
"Apollo, putraku." Suara ini … bukankah suara milik ayahku? Mengapa tiba-tiba ia memanggilku?
"Ada apa ayah?" tanyaku. Di sebelahku, Meg memandangku dengan raut wajah bingung.
"Kau tengah berbicara dengan panah Dodona? Sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan ayah?" tanyanya.
"Enak saja," jawabku kepada Meg. "Mana sudi aku mau memanggil panah itu dengan sebutan ayah. Zeus tengah berbicara denganku melalui sambungan telepati."
"Oh," jawabnya singkat. "Bukankah segala sambungan komunikasi milik bangsa Olympia berhasil disabotase oleh Triumvirat? Bagaimana bisa ia memanggilmu? Bahkan kata Chiron, sambungan komunikasi lewat Dewi Iris saja berhasil disabotase," tanyanya.
"Entahlah," balasku. "Mungkin kita bisa mencari tahu hal itu nanti."
"Apollo, putraku. Segera kembali menuju Olympus saat ini. Sidang Dewan para Dewa menantikan kehadiranmu." Kata-kata yang disampaikan oleh Zeus membuatku meneguk ludah dengan berat.
Serius!? Hari ini tengah diadakan Sidang Dewan para Dewa dan aku harus hadir? Apakah Zeus ingin menambahkan hukumannya kepadaku? Belum cukupkah ia melihatku menderita dengan wujudku yang menjadi fana ini? Bahkan ini lebih parah dibandingkan saat aku diasingkan dari Olympus saat berselisih dengan Paman P maupun membunuh para Cyclops Tua penempa petirnya!
Tetapi bolehkah aku berharap bahwa masa percobaanku telah usai dan kesaktianku sebagai dewa dikembalikan? Setidaknya kita harus selalu berpikir positif tentang segala hal bukan? Meski aku menangis dalam hati kalau-kalau memang nasibku menjadi lebih buruk.
"Baiklah ayah, aku akan segera ke sana," jawabku pada Zeus. Aku pun menghela nafas perlahan dan mengambil wadah panah yang tergeletak di samping kakiku. Ketika aku beranjak dari tempat dudukku, Meg kembali bertanya, "Kau mau ke mana?"
"Aku akan ke Rumah Besar untuk menemui Chiron. Sepertinya kita masih harus menunda perjalanan kita saat ini, karena aku dipanggil oleh Zeus untuk menuju Olympus," jawabku kepada Meg. Kurentangkan tanganku padanya. "Kau mau ikut?"
Ia tampak menimbang-nimbang ajakanku. "Hm … boleh deh." Akhirnya ia ikut beranjak dari tempatnya duduk dan bersama-sama kami menuju ke Rumah Besar.
Di sepanjang perjalanan kami menuju Rumah Besar, kami melihat sejumlah pekemah tengah merenovasi kembali segala hal yang sempat roboh karena serangan yang dilancarkan oleh Kolosus Neronis. Tampak sebagian pekemah dari pondok Hephaestus dan juga Demeter bersama-sama membangun kembali Pondok empat yang diinjak oleh Kolosus.
Pekemah Athena, Ares, Hephaestus dan Hermes tengah berusaha untuk membangun Paviliun makan yang juga sempat rata dengan tanah. Beberapa dryad, satir maupun nymph berusaha untuk mengubah tapak kaki dari Kolosus menjadi sebuah kolam koi yang menawan. Mereka semua tampak berbenah semenjak insiden penyerangan Nero ke Perkemahan.
Namun, yang paling terlihat mencolok dibandingkan terakhir kali kami ke sana adalah banyaknya jumlah pekemah yang hadir di perkemahan ini. Jika pada musim dingin lalu, jumlah pekemah yang singgah di Perkemahan Blasteran hanya sekitar selusin orang (itu pun mereka sempat kecolongan karena lima pekemah mereka menghilang), maka sekarang hampir seratus pekemah hadir di pertengahan musim semi ini.
Sesampainya di Rumah Besar, kami melihat Chiron tengah mengobrol santai dengan Rachel Elizabeth Dare, Oracleku yang berafiliasi dengan Delphi. Chiron menoleh ke arahku dan Meg. "Ada yang bisa kubantu, kawan lama?" tanyanya.
"Aku ke sini hanya untuk berpamitan sementara, Chiron," ujarku. "Zeus memanggilku kembali ke Olympus melalui sambungan telepati."
"Untuk apa tuan Zeus memanggilmu Apollo?" tanyanya lagi dengan nada bingung. "Entahlah Chiron … tapi ayah mengatakan bahwa Sidang Dewan para Dewa membutuhkan kehadiranku saat ini," jawabku.
Ia tampak memasang raut wajah gusar. "Apalagi yang ingin dibahas oleh dewan saat ini? Apakah mereka ingin membahas mengenai ancaman Triumvirat? Atau malah ingin menambah hukumanmu, kawan lama?" tanyanya sambil melirikku dengan khawatir.
"Tolong jangan melantunkan hal yang membuatku pesimis seperti itu!" Sungguh … bisakah seseorang tidak usah mengingatkanku akan pikiran negatif yang sempat merasuki otakku itu? Aku sudah ingin membuang firasat itu jauh-jauh, padahal aku ini mantan Dewa Firasat. "Semoga saja Zeus menangguhkan hukumanku," tukasku sembari berharap.
"Baiklah kalau begitu." Ia pun melempar sekeping drachma kepadaku. "Untuk apa ini?" tanyaku kepadanya. Ia tersenyum "Kau memerlukan itu untuk bisa mengakses jalan masuk Olympus melalui akses yang biasa digunakan oleh kaum blasteran, Apollo," balasnya kepadaku.
Aku hanya bisa bersungut-sungut. Birokrasi itu menyebalkan. Padahal jika aku masih menjadi seorang dewa, aku bisa saja sampai di Olympus dengan sangat cepat. Namun dalam keadaan sebagai manusia fana, transportasi menjadi lebih lama. Kemudian ia melirik ke arah Meg. "Lalu bagaimana dengan Meg, Apollo? Apakah ia akan ikut denganmu?" tanya Chiron.
Sebelum aku bisa menjawab pertanyaan itu, Meg sudah menjawabnya terlebih dahulu, "Aku belum ingin ikut ke Olympus. Aku belum siap untuk bertemu dengannya." Hm … sepertinya ia belum siap bertemu dengan Demeter, ibunya. Wajar saja sih, setelah apa yang ia lewati semasa kecilnya hingga sekarang, ketiadaan Demeter pasti membuat Meg sedikit membenci dewi tersebut meski sudah sering menggunakan kesaktian yang diwariskan darinya.
Terakhir kali aku menjumpai seorang demigod yang seperti itu, ia menyeberang ke sisi bangsa Titan dan menyatakan perang terhadap Olympus. Yap … orang yang kumaksud adalah Luke Castellan, demigod putra Hermes.
Ia harus menghadapi ibunya yang mengalami gangguan kejiwaan setelah mencoba untuk melamarkan diri menjadi pythia Delphi sebelum Rachel Elizabeth Dare. Namun karena saat itu jiwa Oracle Delphi tengah dikutuk oleh Hades sehingga tidak bisa berenkarnasi, maka May Castellan harus mengalami kengerian dan kegilaan ketika melihat sebuah pandangan masa depan mengenai nasib putranya dan Hermes tidak ada diantara mereka.
"Ya sudah kalau begitu." Aku mengambil semua barang-barangku dan mulai beranjak pergi. "Aku permisi dulu semuanya," ujarku. Setelah melihat anggukan kepala mereka, aku pun beranjak dari tempat itu dan pergi menuju pusat Manhattan.
.~.
Wahai pembaca budiman, bagi kalian yang sudah pernah mengikuti kisah petualangan para demigod di era modern ini, maka kalian pasti mengetahui mengapa aku melangkahkan kakiku menuju pusat Manhattan.
Dan bagi kalian yang belum pernah mengikuti kisah mereka, wah … untung saja aku tengah berbaik hati untuk menjelaskannya kepada kalian. Jadi … tolong disimak baik-baik ya. Kami, bangsa Olympia, selalu terikat dengan yang namanya Peradaban Barat. Peradaban Barat dimulai dari masa Yunani Kuno, tempat di mana Pantheon kami mengakar dan berkembang.
Kemudian, kami berpindah-pindah mengikuti arus pusat Peradaban Barat. Kami pernah singgah di Roma dan mengakar dalam wujud Romawi kami. Kalian pasti mengenal istilah Jupiter, Mars, Diana dan lain-lain bukan? Itu adalah wujud Romawi dari bangsa Olympia yang terkenal hingga sekarang.
Lalu, kami berkembang dengan kuat di era Renaissans, di mana banyak sekali patung, karya sastra, lukisan maupun sejarah kami yang terkenang dalam pikiran manusia. Kami mengilhami berbagai prosa, berbagai patung kesenian, bahkan teater pertunjukan klasik.
Setelah masa Perang Dunia Kedua, kami mengikuti jantung api Peradaban Barat yang saat ini tengah singgah di Amerika Serikat. Jika kalian memperhatikan, saat ini Amerika memang menjadi pusat dari segala peradaban yang tumbuh di belahan barat, dan kamilah yang mengilhaminya.
Lambang negara AS yang berbentuk elang merupakan representasi dari elang Zeus atau Jupiter. Parlemen yang ada di pemerintahan AS terdiri atas para senator yang sama seperti pada zaman Imperium Romawi. Kurang bukti apalagi coba?
Dan pusat dari segala aktivitas dari Pantheon kami, atau gunung Olympus kami saat ini tertambat pada puncak gedung Empire State Building yang terletak di pusat Manhattan. Lokasi tepatnya berada di lantai 600 gedung tersebut. Bagi manusia fana seperti kalian, kalian tidak akan bisa menjumpai lantai 600 ini, namun bagi para dewa ataupun demigod (atau manusia fana yang diundang oleh kami), kalian bisa menjumpai lantai magis ini.
Oke … mungkin cukup sekian penjelasan dariku. Mari kita kembali lagi pada kisah hidupku yang suram. Setelah turun hingga ke jalan raya di kaki bukit, aku memutuskan untuk menghentikan taksi yang lewat dan naik ke dalamnya. Beberapa saat kemudian, taksi tersebut sudah meluncur menuju Empire State Building.
Sepanjang perjalanan, aku mencoba untuk mereka-reka apa yang ingin disampaikan oleh Dewan para Dewa sehingga memanggilku yang masih dalam masa percobaan untuk kembali ke Olympus. Namun, tidak ada satupun yang terlintas di kepalaku. Aku pun hanya bisa mendesah pasrah dan memutuskan untuk mengikuti alur yang dibuat oleh para Moirae.
Setelah turun dari taksi dan membayar tarif taksi dengan uang seadanya (Zeus dengan sifat pelitnya), aku memasuki pelataran gedung Empire State Building dengan langkah gontai dan raut suram. Aku langsung bergerak menuju meja lobi tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapku dengan pandangan aneh.
Seorang wanita yang tampak sebagai penjaga lobi tersebut memandangku dengan raut tersenyum. "Permisi tuan, ada yang bisa dibantu?" tanyanya dengan nada ramah.
"Aku hanya ingin menuju lantai enam ratus dari gedung ini," ujarku kepadanya. Tampak wanita itu memasang wajah bingung. "Maaf tuan, di sini tid-"
"Ada apa ini?" tanya seorang pria berpakaian setelan hitam khas keamanan tampak memotong ucapan wanita tersebut dan menghampiri kami. Kemudian, ia melirik ke arahku. "Ada apa kau kemari nak?" tanyanya lagi.
"Aku hanya ingin menuju lantai enam ratus saja," jawabku dengan santai. "Aku Apollo dan saat ini ingin menghadiri undangan dari ayahku Zeus," lanjutku. Wajah pria itu tampak berkerut sesaat sebelum akhirnya menghela nafas perlahan. "Jadi … rumor itu benar," katanya selagi ia berjalan memasuki meja lobi.
Ia menekan sebuah tombol dan sebuah gerbang pengaman terbuka. "Silahkan masuk, tuan Apollo," ujarnya kepadaku. Aku mengangguk dan langsung menuju ke dalam lift. Ketika lift mulai merangkak naik, suara alunan musik Queen menggema di dalam lift tersebut.
Em … meski aku memang merestui band yang cukup kontroversial tersebut, tapi agaknya musik dari band ini tidak cocok sebagai penghibur dalam lift menuju Olympus. Harusnya beberapa lagu karanganku dan para musai yang mewarnai lift ini. Mungkin aku bisa protes ke Zeus nanti jika ada waktu.
Tak lama kemudian, sepasang pintu lift di depanku mulai membuka dan menampakkan wajah baru Olympus setelah Perang Titan Kedua berakhir. Pilar-pilar yang terbuat dari marmer tampak berjejer di samping jalan setapak di hadapanku, memagari jalan setapak menuju aula utama Olympus.
Di kanan dan kiriku, tampak berbagai ornamen khas masa lampau menghiasi pelataran tersebut. Aku juga melihat para musaiku tengah bercanda dengan riang sambil sesekali bermain dengan kecapi mereka. Ketika mereka melihatku, mereka melambaikan tangan seraya memanggilku.
Aku tergoda untuk menghampiri mereka, namun karena ingat tujuanku datang kemari, aku memutuskan untuk melanjutkan langkahku menuju aula utama. Di dalam aula, tampak semua Dewa-dewi utama Olympia telah duduk di singgasana mereka (kecuali aku tentunya). Mereka saat ini menatapku dengan pandangan netral, minus Ares si tukang bully dan juga saudariku Artemis.
Ares memandang sosokku dengan pandangan rendah dan hina. Sorot matanya seolah-olah mengatakan "kau pantas menjadi dirimu yang sekarang, jauh-jauh dari Olympus sana".Beda Ares beda pula Artemis, ia memandang diriku dengan raut tajam dan sendu secara bersamaan.
Aku langsung berlutut di hadapan Zeus. "Ada apa ayah memanggilku?" tanyaku. Ia memandangku dengan sorot datar. "Ada dua alasan mengapa aku memanggilmu kemari. Pertama, kau harus melaporkan apa yang telah kau lakukan semasa percobaanmu dalam tiga bulan ini, dan yang kedua, kau akan mengetahuinya nanti," jawab Zeus.
Aku pun melaporkan segala tindak tanduk Triumvirate Holdings yan kini tengah bersiasat dan berupaya untuk menjadi dewa baru dengan mengontrol para Oracle kuno. Aku juga menyebutkan kuasa mereka yang bisa membatasi jaringan komunikasi para demigod, bahkan melalui perantaraan Dewi Iris. Aku menyebutkan identitas Nero dan juga Commodus, anggota Triumvirat yang telah diketahui dan juga misiku untuk mencapai Oracle Erythaea sebelum seorang Kaisar pemilik kuda putih gesit.
Semua dewa-dewi yang mendengar laporanku tampak manggut-manggut menanggapinya, seolah-olah hal itu tidak terlalu merisaukan mereka. Kemudian Zeus kembali berkata, "Baiklah .. kami menerima laporanmu. Lalu untuk yang kedua, ada empat orang yang ingin bertemu denganmu."
Aku menaikkan alisku dan memasang raut bingung. Empat orang, siapa saja mereka? Apakah salah satu di antara mereka itu adalah ibuku Leto? Aku sangat merindukannya saat ini.
Namun naas, ternyata ekspektasiku tidaklah seperti realita yang ada. Aku bertemu dengan seseorang yang paling kuhindari saat ini. Sosok yang berdiri di bawah kaki Zeus adalah sosok wanita yang mengenakan setelan gaun yang berwarna serba hitam, dengan rambut hitam panjang yang terurai dan iris mata berwarna hitam legam tengah menatap tajam diriku.
Mulutnya terkulum membentuk sebuah senyuman sinis. "Kita bertemu lagi … pelanggar sumpah nan setia," katanya kepadaku. Err … kenapa aku harus bertemu dengan dia sih? Kan hutang sumpahku masih terlalu banyak saat ini. Aku belum siap membayar semuanya.
Aku hanya bisa tertawa gugup. "Haha … halo Styx, kenapa kau kemari?" tanyaku dengan raut gugup. Senyuman sinis miliknya mulai melebar. "Tentu saja menagih hutangmu," jawabnya dengan santai. "Memangnya apa lagi?" lanjutnya.
Keringat dingin sudah mulai membasahi tengkukku. Sial … apa yang harus kulakukan? Misiku belum usai dan aku harus meregang nyawa di tangan sang Dewi Kebencian? Hell no … aku masih ingin menaiki kereta matahariku!
Sesaat setelah lamunanku memudar, aku melihat kembali adanya tiga sosok berusia lanjut yang tengah berdiri di samping Styx. Ketiganya juga memakai sebuah gaun berwarna hitam yang agak kusut, sebuah alat pemintal dan juga benang berada di tangan mereka. Ingatan fanaku mulai bergejolak.
Aku pun mulai terkejut. "Maaf ayah, tapi mengapa para Moirae ada di sini?" tanyaku kepada Zeus.
Tetapi bukan Zeus yang menjawab, melainkan Styx. "Mereka berada di sini karena adanya perubahan takdir yang menimpamu Apollo. Hal ini dikarenakan karma buruk yang kau terima setelah melanggar sumpah atas namaku," jawabnya.
Aku pun terkesiap. "Takdir yang kulalui berubah? Berubah seperti apa?" pikirku. Namun sebelum aku selesai berpikir, para Moirae melantunkan sebuah ramalan baru.
.
Engkau, Lester, akan tetap menjadi fana;
Hingga tugas sang putra selesai terlaksana.
Karena sang ayah digantikan putranya,
Tuk kalahkan para Kaisar Roma.
.
Kemudian mereka melantunkan ramalan yang lain.
.
Kata-kata tempaan kenangan terbakar habis,
Mengantar si perubah bentuk menghadapi tantangan.
Kala puncak matahari meninggi di atas gunung iblis,
Hingga Tiberis diisi jasad berjatuhan.
.
Tugas sang surya digantikan putranya,
Lewati labirin kelam ke negeri nan gersang.
Pemilik kuda putih gesit yang akan ia jumpa,
Untuk merampas embusan si penutur teka-teki silang.
.
Datangilah istana barat, wahai pusaran;
Putri Demeter mesti temukan akar kunonya.
Bersama naga dan si pemandu berkuku belah yang tahu jalan,
Mampu tunjukkan jejak kaki musuh ke sana.
.
Ketika yang tiga terkuak dan Tiberis didatangi,
Maka pusaran dan ular bertarung hingga satu mati.
.
Setelah kedua ramalan selesai dilantunkan, aku menangis dalam hati. Sungguh … setelah beragam cobaan yang kuderita, berbagai luka yang tertoreh di badan, berbagai kehilangan yang kualami selama perjalananku ini, aku mesti kehilangan tugasku dan tetap menjadi seorang manusia fana?
Apalagi yang menggantikanku adalah putraku sendiri. Semua ini terjadi karena aku … melanggar sumpahku sendiri? Ah! Seharusnya aku tidak gegabah dalam mengucapkan sumpah demi sungai Styx!
Kemudian, Zeus kembali mengucapkan sesuatu kepadaku, "Karena ramalan baru telah dilantunkan, kau akan menjalani masa percobaanmu di Perkemahan Blasteran sembari menafsirkan isi ramalan tersebut."
Lalu, ia mengulurkan tangannya ke atasku dan tak lama kemudian, meleburlah aku dalam kilauan cahaya.
.~.
Ketika kilatan cahaya menghilang, aku menyadari bahwa aku muncul di dalam Rumah Besar. Di dalam ruang pertemuan Dewan Perang, tampak Chiron, Rachel dan segelintir konselor senior tengah berdiskusi hebat mengenai sesuatu.
Chiron dan Rachel melihatku muncul di ambang pintu dan menyuruhku masuk. Di dalam sana, aku melihat beberapa orang yang tidak kulihat selama musim dingin yang lalu. Beberapa di antaranya adalah Clarisse La Rue, putri Ares; Annabeth Chase, putri Athena; Jake Mason, putra Hephaestus dan Konselor pengganti dari Leo Valdez; Drew Tanaka, putri Aphrodite dan Konselor pengganti dari Piper McLean; Travis Stoll, putra Hermes; dan Clovis, putra Hypnos (yang saat ini tengah tidur di kursinya).
"Apakah kau membawa kabar dari Olympus?" tanya Chiron kepadaku. Aku mengangguk dan menceritakan apa yang terjadi di Olympus tadi. Mereka semua sedikit terkejut dan merasa bersimpati kepadaku.
"Kami turut bersimpati ayah," ujar Will mewakili semuanya. Aku hanya bisa tersenyum getir. "Mungkin ini memang ganjaran bagiku … namun saat ini, ada yang harus lebih diutamakan," ujarku dengan nada serius.
Mereka semua ikut memandangku dengan tatapan serius. "Jadi … tugasmu untuk mencari para Oracle kuno akan digantikan oleh salah satu putramu?" tanya Chiron. Aku mengangguk. "Kalau begitu siapa yang akan kau utus?" tanya Percy Jackson, sebagai konselor kabin Poseidon.
Aku berpikir sejenak. Tak lama setelah itu, aku sedikit tersentak ketika mengingat salah satu bagian dari larik ramalan dan juga seseorang yang tinggal jauh di belahan timur sana. "Sepertinya aku tahu siapa yang akan menggantikanku … tetapi sayangnya ia tidak ada di sini," balasku.
Mereka memandangku dengan raut bingung. "Kenapa bisa begitu ayah?" tanya putraku. Aku menghela nafas pelan. "Kata-kata 'pusaran' dalam larik ramalan mengingatkanku pada nama salah satu putraku dari seorang wanita Jepang. Ketika aku pertama kali mengandrungi haiku, aku sempat belajar langsung di Negeri Matahari Terbit itu dan disaat itulah aku juga menikah dengan salah seorang wanita Jepang di Kyoto," jelasku.
Mataku menatap lurus ke arah mereka. "Tugas pencarian Oracle ini akan kuserahkan kepada putraku, Uzumaki Naruto."
.
Bersambung
.
Hey semuanya, balik lagi sama saya, FI. Antonio no Emperor. Maafkan saya yang sudah menghilang selama hampir sebulan ini. Setelah menimbang-nimbang kembali, saya memutuskan untuk meremake fic Hujan di Bumi Sura dan juga fic Maelstrom Chronicle : The Python's Slayer ini. Untuk fic ini, saya mengubah judulnya menjadi Maelstrom Chronicle : The Burning Maze karena saya memasukkan plot dari buku ketiga serial Trials of Apollo yang berjudul sama namun dengan sedikit pengubahan dengan alur yang sudah saya tetapkan sebelumnya.
Mengapa saya memutuskan untuk meremake fic ini? Hal ini terjadi setelah saya membaca kembali serial novel Trials of Apollo, saya melupakan adanya ramalan di akhir cerita di referensi yang saya baca, sehingga terpaksa saya mengubah sedikit beberapa plot yang harus saya persiapkan, terutama alasan pengubahan ramalan yang sudah sempat tertera di cerita aslinya.
Prolog ini berada pada alur tepat setelah event dalam buku The Dark Prophecy dan tepat sebelum event dalam buku The Burning Maze. Bagi para pembaca yang belum membaca bukunya, mungkin bisa menyempatkan diri untuk membacanya karena fic ini akan menjadi alternative sequel dari cerita aslinya.
Dan maaf kalau prolog ini cukup panjang dibandingkan sebelumnya, karena memang masih banyak yang harus saya masukkan ke dalam prolog ini sebelum masuk ke cerita utama, apalagi bagi kalian yang memang belum pernah mengikuti kisah yang ditulis oleh Rick Riordan ini.
Untuk MC masihlah seperti di versi sebelumnya yaitu Naruto, hanya saja untuk pengenalan konflik yang akan terjadi, saya menggunakan Apollo sebagai karakter di bagian prolog. Mungkin itu saja dari saya, saya harap reader sekalian menikmati hasil remake dari fic ini.
Sekian dari saya, terimakasih.
