Minggu, 25 Desember 2016
Hai Readers! Selamat datang di ff saia yang pertama. Maaf ya, kalau fanfictnya agak gak nyambung. Soalnya pikiran saia lagi buntu nih. Apalagi kepikiran, liburan akhir tahunnya batal...
And jadinya buat ff yang bisa ngilangin kebosanan saia.
*WARNING!*
" FF ini dapat menyebabkan kecanduan, keterikatan dan kebaperan luar biasa (?). Bagi yang berumur di atas 13 tahun dilarang membaca (?). Bagi yang gak suka silahkan jangan dilanjutkan untuk dibaca, hal ini dimaksudkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (?). So, buat yang membaca saia ucapkan...'Happy Reading to you Readers!'
"PAIRING = Ran+Izune"
"RnC Please!"
"HOUKA HIGH SCHOOL LOVE STORY"
"Ran, sekarang tutup mata kamu.!" Ucap sosok berjubah putih pada Ran. Dengan perasaan senang, Ran pun menurutinya. Dan sosok itu terus mendekat hingga 5cm...4cm...3cm...2 cm... Dan "CUP..." Satu ciuman mendarat di jidat Ran. Ran kini jadi Blushing dengan wajah yang memerah...
"Raaaaaaaaaaaaaannnnnnnn!" Teriak Misaki Sensei, yang menggema diseluruh penjuru kelas. Dan sukses membuat Ran tebangun dari mimpi siang bolongnya, lalu menatap Misaki Sensei dengan perasaan yang gugup. "Kamu kenapa tidur saat Sensei sedang menjelaskan?!" Bentak Misaki Sensei. "Maaf, Sensei! Aku tidak sengaja ketiduran..." Ujar Ran. "Permintaan maafmu tidak Sensei terima! Sekarang pergi keliling lapangan 100x!" Ujar Misaki Sensei dengan nada membentak. "Ba..Baik Sensei!" Sahut Ran dan pergi meniggalkan kelas. Saat berjalan menyusuri koridor, tanpa disengaja Ran bertemu dengan orang yang baru saja hadir dimimpinya. Namun tentu saja orang tersebut tidak memperdulikannya dan tetap berjalan terus. Sementara Ran hanya tertunduk sembari melanjutkan perjalannya menuju lapangan sekolah yang luasnya 1 hektare (?). "Izune senpai, kenapa kau tidak bisa menegurku? Dan kenapa sifatmu selalu saja dingin padaku?" Batin Ran. Sesampainya dilapangan mulut Ran ternganga tatkala melihat lapangan yang begitu luas didepan mata. "Ya Tuhannn! Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Ran. Tiba-tiba saja terdengar suara TOA yang menggema,, "APA YANG KAMU LAKUKAN RAN?! CEPAT LAKSANAKAN APA YANG SUDAH SENSEI PERINTAHKAN!" Ujar Misaki Sensei. "Ba..baik Sensei!" Jawab Ran menurut. Semua perhatian siswa tertuju pada lapangan dan tentu saja termasuk Izune, Siswa yang selama ini di gemari Ran. Namun sikapnya malah berbalik dengan apa yang di rasakan Ran. Menjadi cowok yang pendiam, dingin namun sangat berprestasi di HHS, bahkan sekarang dia masih memegang ranking pertama di HHS. *Cowok idaman Author. Hehhe *. Berbeda jauh dengan Ran, murid dengan IQ pas-pasan dan sedikit kikuk.
Ran terlihat mulai melaksanakan hukumannya. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Ran terus berlari mengelilingi lapangan. Setelah berapa lama ya, kira-kira sudah 5x putaran, siswa-siswa yang menonton mulai merasa bosan dan mencari aktivitas lain. Kini tinggal sebagian siswa yang masih tetap stay ditempatnya. Dari siswa yang bosan, termasuk juga Izune, terlihat mulai menjalankan aktivitasnya yaitu berlatih tenis lapangan. Karena lapangan tenisnya dekat dengan tempat Ran dihukum, akhirnya Ran menjadi semangat karena bisa menyaksikan Izune berlatih. Namun tentu saja Ran tetap menjalankan hukumannya. Dan sampailah pada putaran ke-10. Tiba-tiba saja kepala Ran menjadi pusing, pandangannya menjadi kabur dan setelah itu Ran jatuh pingsan...
Ran akhirnya sadarkan diri. Dipandanginya ruangan yang serba putih. Tepat disamping ranjang Ran, ada siswa lainnya yang tengah memencet-memencet handphonenya namun wajahnya masih terlihat pucat. Ran pun bertanya pada si siswa yang namanya tidak Ran ketahui. "A..Aku dimana?" Tanya Ran. "Oh,kau sudah sadar?! Sekarang kau ada di UKS. Tadi Kau pingsan." Jawab siswa yang kini posisinya ada disamping Ran. "Namaku Michi kelas XI C." Lanjutnya. " Mmmm... Apa kau melihat siapa yang membawaku kesini?" Tanya Ran pada Michi. "Tadi itu kau pingsan, dan yang mengantarmu kesini adalah Izune Senpai. Dia kelihatannya kahawatir sekali, dan itu terlihat jelas diwajahnya. Dan dia menyuruhku untuk menjagamu." Jawab Michi. "Be...Benarkah? Lalu dimana dia?" Tanya Ran lagin ekspresi yag tak bisa dijabarakan. "Tadi Izune Senpai bilang dia sedang berlatih tennis." Jawab Michi.
FLASH BACK ON*)
Ran mulai merasa pusing dikepala dan pandangan mulai kabur, hingga akhirnya Ran jatuh pingsan. Dari sekian banyak siswa tidak ada yang peduli pada Ran. Misaki Sensei yang melihat kejadian itu akhirnya melihat Izune yang tengah istirahat untuk minum dan menyuruh Izune untuk mengantar Ran di UKS. Mungkin dengan terpaksa Izune mengantar Ran ke UKS. (Readers pasti bertanya-tanya kenapa Author nulisnya 'mungkin'. Itu karena Izune sedikit ikhlas mengantar Ran). Dan akhirnya Izune menggendong Ran ala 'Bridal Style' menuju UKS dengan wajah yang khawatir.
Sesampainya di UKS, Izune membaringkan Ran di ranjang lalu meminta Michi untuk menjaganya. Karena kebetulan ranjang Michi bersebelahan dengan ranjang Ran. "Permisi, bisakah kau menemaninya hingga dia sadarkan diri? Aku sedang melanjutkan latihan tennisku.." Tanya Izune pada Michi. "Oh tentu saja Izune Senpai..!" Jawab Michi. Setelah itu, Izune pergi meninggalkan UKS, dan kembali ke lapangan tennis.
FLASH BACK OFF*)
"Jadi, Izune senpai yang membawaku kesini? Dia khawatir padaku? Dan Dia menggendongku? Oh Ya Tuhan, Aku benar-benar tidak percaya! apakah ini mimpi?" BatinRan terus bergumam dan Ran kini terlihat menghayal. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Michi yang heran dengan sikap Ran. Akhirnya Ran tersadar. "Tentu saja tidak apa-apa. Te..Terimakasih karena sudah menjagaku. Aku harus pergi!" Ujar Ran dan pergi meninggalkan UKS dengan maksud menuju lapangan tennis.
Sesampainya dilapangan tennis, Ran melihat Izune yang matian-matian berlatih tennis. Hal itu menggerakan hati Ran untuk membelikan air minum dikantin sekolah. Setelah membeli air mineral dingin, Ran kembali di tempatnya tadi. Dengan berbekalkan rasa gugup, Ran memberanikan diri menemui Izune yang terlihat sedang istirahat sebentar untuk menyeka keringat. "Su...Sumimasen Senpai, ano... Bo...Bolehkah Senpai menerima ini?" Ucap Ran sambil menyerahkan sebotol air mineral dengan wajah tertunduk. Siswi-siswi di sekitar lapangan, memandangi Ran dengan pandangan tidak suka. Kemudian semakin banyak siswa yang mulai menonton. Izune akhirnya menghentikan aktivitasnya dan memalingkan pandangannya pada Ran. "Hm?" Gumam Izune. "Ano, Senpai kan sudah mengantarkanku ke UKS. Dan itu pasti sudah membuang waktu Senpai. Jadi terimalah ini sebagai tanda 'terimakasihku' pada Senpai" Ujar Ran. Izune pun menerima pemberian Ran. Sontak membuat para siswi menjadi geram. "Hn, asal kau tahu sebenarnya itu bukan niat tulusku untuk mengantarmu ke UKS. Itu semua karena perintah dari Misaki Sensei. Dan karena dia juga adalah Senseiku maka aku menurutinya." Ujar Izune dengan dinginnya. "Tapi, kata Michi, Senpai mengantarku hingga ke UKS dengan wajah yang penuh khawatir." Ujar Ran. "Sebenarnya yang ku khawatirkan bukan Kau, tapi pelatihku yang lama menungguku dilapangan. Dia akan lelah berpanas-panasan hanya untuk menungguku yang mengantarmu ke UKS. Dan intinya, Kau seharusnya tidak telalu berlebihan menanggapi tindakanku tadi." Jelas Izune. Mendengar semua pengakuan Izune, Ran merasa hatinya seakan teriris oleh pedang samurai (Author Lebayy Gaje), Ran akhirnya pergi meninggalkan lapangan tennis menuju toilet wanita. Sedangkan para Siswi malah terlihat senyum sumringah atas yang dialami Ran.
*) Toilet Wanita.
Didepan westafel dan cermin toilet, Ran terlihat menyesali perbuatannya. "Ah, payyahhh! Kenapa aku melakukan hal bodoh seperti itu? Kenapa aku terlalu berharap bahwa terimakasihku akan diterima. Ah, dasar Ran bodoh... Bodoh,,,Bodoh,,,,Bodoh,,,!" Sesal Ran sambil memukul-mukul kepalanya. Tiba-tiba segerombolan siswi masuk ke toilet. Dengan pandangan yang meremehkan, mereka mulai melontarkan kata-kata kasar pada Ran. "Dasar Munafik! Jelek! Tidak tahu malu! Juga Payah! Kau pikir kau bisa menarik perhatian Izune Senpai dengan cara murahan seperti itu.?!" Umpat salah satu dari mereka. "Ran Mizuki, Gadis bodoh dan payah, ingin mendekati Izune Senpai, Cowok idaman semua siswi HHS. Dengan level yang berbeda jauh, kau pikir bisa mendapatkannya?! Asal kau tahu saja kau itu benar-benar tidak pantas. Kau pantasnya menjadi seorang pembersih toilet... Hahahaha..." Ujar siswi lainnya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan... Kemudian, Gadis itu menuangkan seember air pada Ran. Dengan dipojokkan oleh beberapa siswi Ran kini tidak berdaya dan hanya tinggal pasrah. "Hey!" Gumam salah satu pembully sambil menarik rambut Ran, "Kuharap kau tidak akan melakukannya lagi, jika kau tidak ingin kejadian ini terulang lagi padamu..!" Lanjutnya. Ran hanya terpaku dan diam mati kutu...
Tiba-tiba, dari arah pintu masuk toilet nampak seorang laki-laki gagah menghentikan aksi pembullyan ... "Sedang apa kalian?!" Tanya Izune. Para pembully itu akhirnya menghentikan aksinya. "I..Izune Senpai?!" Ujar Salah satu pembully, sontak membuat semuanya terkejut. Izune mengalihkan pandangannya pada Ran yang kini seperti kucing yang basah kuyup. Izune pun menarik tangan Ran, hingga Ran ada pada pelukannya. (Weew :v) Ran hanya bisa menurut, bahkan jantungnya berdugup 5x lebih kencang dari biasanya. Dipandanginya, sosok Izune dari jarak yang sangat dekat. "Apa kalian tidak malu?! Membully? Memukul? Dan melakukan kekerasan pada gadis polos?. Kalian pikir dengan begitu aku akan simpati pada kalian? Justru sebaliknya!" Umpat Izune pada para pembully. Dengan perasaan malu yang luar biasa, semua pembully akhirnya pergi meninggalkan toilet. Dan yang ada di dalam hanyalah Ran dan Izune. Masih dengan posisi yang sama, "Jangan dianggap serius! Ini sudah tugasku untuk membasmi pembullyan!" Ujar Izune sembari melepaskan pelukannya pada Ran. " Ha.. Haii. Doumo Arigatou Gozaimasu Senpai! Ini yang kedua kalinya Senpai menolongku. Jadi kumohon terimalah ucapan terimakasihku padamu Senpai.!" Ucap Ran. "Baiklah... Lama-lama kasihan juga melihatmu seperti ini. Sekali lagi jangan dianggap serius!" Sahut Izune.. "Hati-hati..!" Lanjutnya kemudian beranjak meninggalkan toilet.
Setelah Izune meninggalkan toilet, Ran terlihat sangat senang. Bahkan saking senangnya Ran berteriak sekencang-kencangnya untuk meluakkan rasa senangnya... "Aku menyukaimu Izune Senpai!". Teriakkan Ran menggema disegala penjuru HHS. Sedangkan Izune yang posisinya belum terlalu jauh dari toilet juga mendengarnya, dan tersenyum... "Oh yaampun, bahkan saking senangnya aku sampai lupa untuk mengganti seragamku. Uh, untung saja aku membawa seragam cadangan..." Ujar Ran lalu pergi ke lockernya untuk mengambil seragamnya. Sesampainya di locker miliknya, Ran terus memandangi locker fansnya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari lockernya. Sesuatu pun muncul di fikiran buntunya. Setelah mengambil seragamnya, lalu pergi mengganti seragamnya yang basah, Ran bermaksud membeli sebuah lolipop lalu menulis sepucuk surat dan menempelkannya di pintu locker Izune. Namun sesampainya di locker yang dimaksud, Ran dikejutkan dengan banyaknya macam surat, lolipop, dan sebagainya yang ada di pintu locker milik Izune. Keberuntungan masih berpihak padanya, dari sekian banyak barang yang ada disitu, masih ada satu tempat yang kosong. Tepat di pojokkan Ran pun menempelkan barang pemberiannya. Setelah itu, Ran langsung berlari meninggalkan locker sambil cengengesan. Tepat setelah itu, Izune pun menuju lockernya. Diam-diam Ran mengintipnya dibalik tembok. Dengan perasaan deg-degan, Ran berharap Izune bisa menerima pemberiannya. Setelah melihat semua barang pemberian fans, Izune mengambil barang yang tempatnya di pojokkan. Sambil membaca surat yang ada, Izune terlihat senyum-senyum gaje.
"Izune Senpai, kau tahu... Aku sudah menggemarimu sejak lama. Namaku Ran Mizuki, gadis yang sudah 2 kali kau tolong. Aku memberikan ini, karena aku berfikir bahwa rasa terima kasih saja tidak cukup. Aku ingin kau menerima ini, please jangan ditolak!"
Kira-kira begitulah isi surat dari Ran. Melihat Izune memegang surat dan lolipop pemberiannya, Ran benar-benar bahagia. Setelah itu Izune meninggalkan lockernya. Sedangkan Ran masih dengan posisi yang sama malah cengengesan sendiri. Tiba-tiba Ran dikejutkan dengan suara berat disampingnya, "Kau sedang apa?" Tanya Izune. Ran pun mengalihkan pandangannya. Mulut Ran ternganga, dan senyuman diwajahnya langsung buyar ketika melihat yang ada di depannya adalah orang yang baru saja dia intip. "I...Izune Senpai? Bu...Bukannya..." Kata-kata Ran terputus. "Apa maksudnya ini?" Tanya Izune sambil menyerahkan surat dan lolipop pada Ran. "Bu..Bukannya sudah jelas, tertulis di surat itu. Aku tidak ingin mengulanginya!" Ujar Ran dan menolak menerima benda yang diberikan Izune. "Lalu, akan kuapakan ini? Asal kau tahu, aku tidak butuh benda seperti ini! Dan satu lagi, bukankah sudah kukatakan, jangan menganggap itu serius! Lagipula, untuk apa kau terlalu berharap lebih padaku, kupikir seharusnya kau menyerah saja untuk mendapatkan hatiku, karena hatiku sedingin es batu pada wanita. Bahkan wanita seperti dewi sekalipun.. Aku sarankan seharusnya tidak usah seperti ini. Karena sia-sia saja.!" Ujar Izune panjang lebar dan menusuk.. Mendengar semua yang dikatakan Izune, perlahan cairan bening mulai mengalir dipipi Ran. "Izune Senpai, kau sangat keterlaluan! Bukankah sudah tertulis di surat itu, kalau aku memberikanmu hanya untuk ucapan terima kasih...!" Umpat Ran. "Tapi sebenarnya kau mengharapkan lebih dari itu kan?!" Pertanyaan Izune membuat Ran semakin terpojok. "Kau jahat Izune Senpai!" Ujar Ran sambil berlari meninggalkan Izune masih dengan air mata yang mengalir. Sedangkan Izune kini tinggal menggenggam surat pemberian Ran.
"Beginikah Izune Senpai yang selama ini ku gemari? Dia melakukan itu didepanku? Bahkan dengan kata-kata sekejam itu! Ya Tuhan, rasanya harapanku benar-benar hilang, badanku serasa lemas seakan-akan aku tidak punya tenaga. Perasaanku seakan hancur! Aku benar-benar tidak menyangka..." Batin Ran bergumam dan air matanya terus mengalir. Ran terus berlari menyusuri koridor menuju kelasnya. Sedangkan Izune, seakan tidak menyesali perbuatannya.Setelah sampai dikelasnya, Ran langsung merenungkan kejadian naas yang menimpanya. Kemudian sebuah bohlam terang muncul diatas kepalanya. "Kenapa Aku mengangis? Ini bukan yang pertama kalinya kan, Izune Senpai memberikanku kata-kata kasar seperti itu. Jadi untuk apa Aku menangis?! Yang kulakukan sekarang adalah tidak akan pernah berhenti menjadi 'Penggemar Izune Senpai'. Ya, Aku harus bisa! Tekadku tidak akan berubah.! Karena selain menjadi dokter, cita-citaku adalah menjadi penggemar nomor satu Izune Senpai...!" Ujar Ran dengan latar berapi-api...( Author jadi nambah Gaje)...
Dengan semangat 45, Ran bergegas menemui Izune.
Setelah sampai ditempat biasa Izune, yaitu di ruang club tennis, Ran memberanikan nyalinya untuk bertemu orang yang sangat dia gemari. Bahkan lebih dari itu. "Hai Senpai! Apa Aku boleh ikut klub ini?" Tanya Ran pada Izune. Izune terkejut dengan perkataan Ran, "Ternyata kau benar-benar tidak pernah jera untuk mengikutiku ya? Baiklah kalau begitu, apa perlakuanku belum membuatmu sakit hati.!?" Tanya Izune. "Hanya seperti itu malah tidak akan menggoyahkan jiwaku bahkan sedikitpun. Karena tekadku lebih besar dari itu semua..." Jawab Ran. "Benarkah?! Dasar wanita aneh! Padahal sudah kuperingatkan, hatiku sedingin es batu dan tidak ada yang bisa membuatnya menjadi cair dan hangat!" Ujar Izune. "Dan tekadku juga membara seperti api, yang akan membuat es batumu mencair dan berubah menjadi air hangat!" Balas Ran dan membuat suasana semakin sengit. Izune tersenyum meremehkan, "Benarkah?! Kuharap itu semua bukan hanya perkataan yang terucap dari mulut seorang gadis aneh sepertimu! Lakukan saja! Jika kau berhasil, aku akan melakukan apa saja untukmu..." Ucap Izune enteng. "Baiklah. Aku akan membuktikannya padamu Senpai cepat atau lambat!" Sahut Ran kemudian pergi meninggalkan ruang club tennis. Sambil berjalan, pikiran Ran terus saja terpusat pada ucapan Izune. "Jika kau berhasil, aku akan melakukan apa saja untukmu.." Kata-kata Izune terus saja melekat di ingatan Ran.
"Baiklah Izune Senpai, Aku akan melakukannya hingga berhasil!" Ucap Ran pada dirinya.
Teeeeeeeet...Teeeeeeeeeeet...Teeeeeeeeet... Bel pulang berbunyi, semua siswa meninggalkan HHS. Begitupun dengan Ran yang pulang dengan senyum sumringah diwajahnya.
Keesokan Harinya...
Ran mulai menempelkan lolipop, surat bahkan yang berbentuk hati dipintu Locker Izune dipagi buta... Dengan senyum yang mengandung keyakinan pasti, Ran terlihat sangat percaya diri... Pada waktu istirahat, Ran menuju lapangan tennis untuk mengumpulkan semua bola yang tengah berserakan, sekaligus menyaksikan fansnya yang sedang berlatih. Setelah melihat Izune yang istirahat sejenak Ran mengambilkan air dan handuk kecil untuk Izune, meskipun ditolak, Ran tetap memaksa hingga diterima. "Siapa yang butuh itu?" Ujar Izune. "Tentu saja kau Senpai." Jawab Ran dengan senyum termanisnya. "Tidak perlu. Aku juga punya..." Tolak Izune. "Benarkah?.." Ujar Ran sambil tersenyum jahil. Setelah mengobrak-abrik tasnya Izune tidak mendapatkan handuk dan air mineralnya. "Krasak...Krusuk..." Begitulah bunyi tas yang diobrak abrik Izune, (Emang gitu ya bunyinya?...*Halah abaikan...). "Oh iya, aku lupa mengatakan ini, punya Senpai sudah kuasingkan ditempat lain. Aku mengambilnya, saat Senpai sedang serius berlatih..." Ucap Ran sambil senyum sumringah. "Apa kau bilang?! Lalu kau menyimpannya dimana?" Tanya Izune. "Tentu saja ditempat yang Senpai tidak tahu. Hihihi" Jawab Ran cekikikan. "Dasar wanita aneh!" Umpat Izune. "Ya, aku adalah wanita aneh yang akan mencairkan hatimu Senpai. Dan aku sarankan, sebaiknya Kau gunakan saja ini!" Ujar Ran sambil menyodorkan handuk kecil dan sebotol air mineral. Dengan berat hati Izune menerima dan menggunakannya. Senyum lebar tergambar diwajah Ran. "Yessssssssssss! Akhirnya Izune Senpai menerima pemberianku! Tahap pertama berhasil. Lihat saja Izune Senpai aku akan membuatmu menuruti permintaanku!" Batin Ran cengengesan.
Setelah itu Ran menuju lockernya untuk mengambil handuk dan air minum Izune yang telah disembunyikannya. Sambil tersenyum, Ran bergumam pada dirinya sendiri. "Kau memang hebat Ran!"... "Oh yaampun, Aku hampir lupa, aku harus membersihkan ruang club tennis!" Lanjutnya lalu menuju tempat yang dia maksud.
# Ruang Club Tennis...
Ran mulai menyapu, menyimpan dan membersikan semua yang ada di ruangan itu. Pikiran Ran mulai bekerja lagi, "Ah aku baru ingat! Setelah latihan, Izune Senpai akan kesini. Sebaiknya, aku meninggalkan makan siangnya disini saja." Setelah kekantin, Ran kembali ke ruang club tennis untuk menyimpan makanan untuk Izune. Tidak lupa, diatas penutup wadah makanannya terdapat surat. Seperti kejadian kemarin, Ran mengintip di ruangan tersebut saat Izune masuk. Dilihatnya, Izune yang membaca surat miliknya...
"Ittadakimasu Izune Senpai!"
Ran tidak percaya kalau Izune akan memakan makanan pemberiannya, bahkan sangat lahap. Kembali hati Ran merasa bahagia. "Kali ini Izune Senpai juga menerima pemberianku! Waaaaaaa! Aku benar-benar tidak menyangka! Thanks God!" Batin Ran lebay tingkat tinggi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ SKIP DAY ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
1 Minggu telah berlalu. Apa yang dilakukan Ran juga sudah terjadi selama sepekan ini. Namun Ran belum juga bisa melakukan apa yang diinginkannya. Perasaan Izune benar-benar dingin seperti es batu. Hingga keputus asaan mulai nampak pada dirinya.
# Koridor Kelas XII A ( Kelas Izune)
Ran terlihat sedang menyusuri koridor XII A sambil bergumam pada dirinya, "Apa aku menyerah saja?!. Aku benar-benar tidak bisa mencairkan hatinya... Padahal sudah kulakukan semuanya... Tapi tetap saja tidak berhasil! Aku yang payah, atau perasaan Izune Senpai yang memang terlalu dingin? Mungkin sebaiknya Aku menyerah saja pada Iz..." Kata-kata Ran terputus, ketika seseorang menarik tangannya dan membawanya hingga ke ruang club tennis... Ran memandangi siapa yang telah menariknya. "I...Izune Senpai?" Gumam Ran. "Ada apa?" Lanjutnya. "Apa kau bermaksud untuk putus asa?" Tanya Izune. Ran mengangguk, "Baguslah! Mulai sekarang jangan pernah memaksaku untuk menyukaimu!" Ujar Izune. "Tapi kenapa? Kenapa Izune Senpai?!" Tanya Ran dengan air mata yang berlinang di pipi chubbynya. Izune tersenyum lebar, "Karena kau sudah berhasil membuat hatiku mencair padamu..." Jawab Izune. Ran menjadi diam kemudian senyum terharu... "A...Aku berhasil?" Tanya Ran yang tidak percaya. Izune mengangguk. "Aishiteru Ran...!" Ujar Izune dengan senyum manis dan hangat miliknya, senyum yang tidak pernah Ia berikan pada gadis lain. "Aishiteru mo Izune Senpai.." Balas Ran dengan tersenyum manis semanis manisnya. Kemudian Ran bertanya pada Izune mengenai perkataan Izune saat diruang yang sama dengan tempat mereka berada sekarang...
"Oia, Senpai! Apakah Senpai masih ingat dengan apa yang Senpai katakan?" Tanya Ran. Izune tersenyum, "Tentu saja. Sekarang apa permintaanmu?". Jawab Izune dan balik bertanya. "Sangat mudah. Aku hanya ingin Izune Senpai berjanji, Akan selalu bersikap hangat padaku dan menggapku sebagai fans nomor satu Senpai!" Jawab Ran lalu mengajak Izune untuk mengaitkan kelingkingnya. "Hm, baiklah. Aku berjanji akan selalu bersikap hangat pada Ran dan Akan menjadikannya gadis nomor satu dihatiku!" Ujar Izune dengan romantisnya sambil membalas mengaitkan kelingkingnya.
"THE END"
Hufftt, akhirnya FF saia selesai juga. Rasanya jadi terhibur setelah gagal liburan... Thanks buat yang udah baca and silahkan Comment...
Kamis, 29 Desember 2016...
