Hak cipta "Boku no Hero Academia" berada di tangan ndewa Horikoshi Kouhei. Saya cuma pinjem karakternya untuk dijadikan objek halu. Fanfiksi ini dibuat untuk meramaikan event bulanan Fanfiction Addict bertema koyo. Bukan untuk kepentingan komersil.

Sekuel dari "Duh". Enjoy!

.

.

.


Aku, Kamu, Koyo


Pernahkah kalian mendengar cerita terkenal soal kapal kokoh yang tenggelam?

Bukan, bukan Titanic. Ada kapal yang lebih beken kisah karamnya daripada kapal Titanic.

Apa, hayo?

Kalian tidak tahu?

Jawabannya adalah kapal osananajimi, bodoh!

Ya, kapal osananajimi alias teman masa kecil. Karam adalah hukum alamnya, baik di dunia anime-manga maupun dunia nyata. Hanya ada secuil teman masa kecil MC yang bisa mendapatkan hati dan cinta MC di masa depan.

Dari mana Katsuki bisa tahu ini? Tentu saja hasil riset pribadi! Kalian pikir, asal mula Katsuki membangun karir sebagai artist itu bagaimana? Tentu saja membuat gambar fanart kapal-kapal yang karam dari serial aslinya. Termasuk kapal osananajimi ini.

Air mata fans dan imajinasi mereka adalah sumber penghasilan utama Katsuki. Camkan. Dia tidak melakukan pesugihan, walau tetangga mencurigainya sebagai komplotan setan.

Kalau ada yang mengira Katsuki suka gambar porno juga, sini maju dan kita baku hantam sekarang! Penghasilan dari menggambar imajinasi panas para wibu yang engas memang sangat menggoda jumlahnya. Tapi Katsuki masih sadar diri! Dia tidak mau namanya dicoret dari KK oleh Mama Mitsuki!

Karena itulah, Muka Bundar bilang, Katsuki harus banyak-banyak bersyukur karena kapalnya tidak karam. Deku, teman masa kecilnya, menyambut dan membalas perasaan Katsuki dengan penuh suka cita.

Kalau kata gadis itu, Katsuki hoki keras.

Deku itu ... sudah baik, budiman, manis, pintar, PNS dengan tunjangan cihuy pula! Muka Bundar bilang, Katsuki tinggal kibas duit sambil ngangkang saja.

Bedebah memang, kawannya yang satu itu.

Teman-teman yang lain juga banyak berkicau tidak jelas. Inti dari perkataan mereka, punya hubungan romantis dengan teman masa kecil itu banyak keuntungannya.

Salah satunya adalah, keluarga yang sudah saling kenal dan cenderung akrab. Tak mungkin ada drama saat meminta doa restu orang tua.

Yah, bagaimana ya. Selain tinggal di komplek yang sama, Katsuki tahu kalau Mama Mitsuki itu sahabat karibnya Tante Inko sejak SMA. Keduanya memang akrab. Sangat, malah.

Biar begitu, bukan berarti segalanya semulus paha De—

Ahem. Lupakan yang tadi.

Akrabnya orang tua Katsuki dan Deku tidak menjamin kelancaran segala urusan. Buktinya, baru memasang PP wasap foto berdua saja Tante Inko langsung melabrak Katsuki dan bertanya tajam:

"Katsuki, kamu gak terima anak Tante karena kasihan, 'kan?"

Katsuki amat teramat sangat tersinggung oleh pertanyaan Tante Inko. Tante Inko lupa siapa dia? Dia adalah Bakugou Katsuki! Dia alergi belas kasih!

Paling parah dari mamanya sendiri, sih. Mama Mitsuki dengan enteng menanggapi, "Gak bisa. Gak boleh gini. Aku akan suruh Izuku mencari jodoh yang lebih baik. Masa dia mau menghabiskan masa tuanya dengan makhluk macam kau?"

Keparat!

Ma, Katsuki sadar diri Katsuki itu terlalu astaga untuk Izuku yang luar biasa. Tapi enggak usah sampai segitunya!

Setelah keduanya berhasil diyakinkan Izuku kalau Katsuki tidak memaksanya dan Izuku tidak merasa rugi dengan hubungan ini, mereka mengganti taktik.

"Kami akan merestui kalian kalau Katsuki bisa membelikan rumah. Harus cash, tidak boleh kredit. Dan Izuku gak boleh bantu nyumbang sepeser pun."

Cih. Mereka terlalu meremehkan kerja lepas yang Katsuki jalani.

Kalaupun penghasilannya tak dapat mencukupi, Katsuki 'kan masih punya dua ginjal yang berfungsi dengan baik!

Kalau masih kurang, masih ada ginjal punya Muka Bundar, Mata Rakun, Pikachu KW Super, Gigi Hiu, dan Selotip.

Sebiji rumah sih, hal cetek!

Bisa sekalian memborong nendroid itu. Katsuki ingin melengkapi koleksi serial—

Katsuki menggulingkan badan, memeluk guling erat.

Dipikir-pikir, warna gulingnya mirip pepperoni. Atau mungkin sosis daging? Wah, kapan-kapan Katsuki harus coba memakai kostum roti dan memeluk guling. Dia bisa cosplay jadi hotdog!

Er, harap maklum dengan kerandoman pikiran Katsuki saat ini. Dia sedang teler gara-gara kurang tidur.

Terima kasih kepada syarat restu dari Mama Mitsuki dan Tante Inko tercinta, Katsuki bermetamorfosis. Dia yang biasa dikatai sadis, kini berubah jadi masokis. Dia membuka jasa komisi menggambar tanpa memperhitungkan waktu rebahan dan malas-malasan.

Apa itu tidur? Katsuki tidak kenal dia.

Plus ultra! Demi meminang osananajimi dan mempertahankan agal kapal ini tidak karam!

Oh, ya. Omong-omong soal kapal, bagaimana kabar Deku?

Katsuki meraih ponselnya malas. Jarinya langsung bergerak gesit membuka ruang obrolan dengan Deku. Terakhir kali mereka berbincang: dua bulan yang lalu. Itu pun Deku membalas pesannya singkat di tengah waktu lembur.

Mereka sama-sama sibuk. Katsuki tidak suka.

Sekali lagi, Katsuki sedang teler. Mabuk kerjaan dan mabuk kerinduan adalah kombinasi mematikan.

Tak heran, dia yang biasanya memiliki gengsi dan harga diri yang terlampau tinggi, refleks mengetik pesan pengantar kerinduan.

"Aku kangen k"—hanya itu yang terkirim, berhubung Katsuki langsung jatuh tertidur sebelum selesai mengetik pesan.

Keesokan sorenya, Katsuki bangun dari tidur hibernasi dalam keadaan malu setengah mati. Dia teringat racauannya saat teler semalaman. Dia juga ingat pada pesan tak tuntas yang ia kirimkan kepada Deku.

Parahnya, pesan itu sudah dibalas.

Kangen k? K itu apa, Kacchan?

Kalau ini Muka Bundar, Katsuki pasti sudah menyalak; memintanya jangan pura-pura bodoh.

Masalahnya, dia ini Deku.

Itu seratus persen pertanyaan asli.

Dan, boleh dibilang, Katsuki sedikit bersyukur.

Koyo. Aku kangen koyo—balas Katsuki kemudian.

Ngasal, tentu saja.

Yang penting harga dirinya selamat.

Oalah. Lagi banyak gadang sih ya :(

Semangat, Kacchan!

(foto selfi Deku yang tersenyum lebar dan mengangkat kepalan tangan)

Katsuki menganggap masalah ini selesai. Waktunya melanjutkan tidur.

.

Dia sama sekali tak menyangka, beberapa hari kemudian, ada kurir paket yang mengetuk pintu kosannya tanpa peduli bahwa itu mengganggu istirahat Katsuki.

Katsuki buka pintu kosan dengan tampang sangar, cuma koloran. Niatnya adalah mengamuk pada si kurir dan mengomelinya karena sudah salah ketuk. Tapi amukannya tertahan di tenggorokan, karena paket yang disodorkan memang ditujukan untuk Bakugou Katsuki.

Pengirimnya? Deku.

Isinya? Koyo dua boks.

Katsuki buru-buru mengambil foto koyo itu dan mengirimkannya pada Deku.

Oi, Cupu! Apa maksudnya ini!?

Balasan datang tak lama.

Ehe. Kacchan bilang kangen koyo, 'kan? Yaudah langsung kukirim aja.

Eh, ada masa kadaluwarsanya gak sih?

Kalau kebanyakan, jual aja ke warung dan tuker sama cabe.

Haruskah Katsuki bersyukur atas "perhatian" dari teman masa kecilnya ini?

Katsuki jadi penasaran. Kalau pesan "kerinduan" itu diketik sampai selesai, kalau Deku tahu yang sebenarnya Katsuki rindukan adalah dia, apa Deku akan mengirimnya juga?

Um.

Kalau itu, maaf. Aku tidak bisa. Harus tunggu libur. Aku serius lagi banyak lembur, Kacchan.

Sebentar. Apa Katsuki tidak sengaja mengetikkan pikirannya yang tadi?

Btw~

Cie, rindu.

Lapor Mami Mitsuki ah.

Sialan.

RIP.

Di sini terbaring dengan (tidak) tenang,

Harga diri Bakugou Katsuki.

Terkubur bersama sisa-sisa kerinduan dan dua boks koyo cabe.


Tamat


Apa ini? /bengek

Ini adalah hasil kelelahan saya menggarap naskah ori. Semoga kehaluan singkat ini dapat menghibur kalian XD Siapa tahu ada yang suka baca fiksi original juga, bolehlah kepoin novel buatan saya yang ada di novelme. Judulnya "Aku Bukan Pahlawan" dan "TULALIT" /malah promo

Salam Mode Terbang,

Cunguk