The Ring of Destiny

PROLOG

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

Sakura mengedarkan pandangannya pada seluruh isi kantin. Menyapu setiap sudut tempat mencari keberadaan seseorang. Begitu matanya menangkap sosok yang dicarinya, ia mengulum senyuman. Lantas berjalan menyeret kedua kaki bersepatu kets membawa nampan berisi satu porsi makanan menuju suatu tempat. Langkahnya semakin lama semakin tegas, senyuman di wajahnya semakin mengembang. Sampai tidak menyadari seorang pemuda berjalan di depannya dengan langkah sama cepat. Kedua bahu mereka bersinggungan dan nampan berisi makanan milik Sakura sukses jatuh menyentuh lantai. Nasi dan sup dari mangkuk tumpah mengguyur sepatunya. Gelas berisi es teh pecah menimbulkan suara nyaring yang cukup menarik perhatian orang lain. Dengan mata melotot ia menoleh, mendapati wajah terkejut seorang pria —dengan sebotol air mineral di tangannya.

"Bodoh, lihat-lihat kalau jalan!" simpratnya kesal.

Pria itu memiliki warna rambut yang sedikit mencolok, pirang. Sebelah alisnya terangkat, dengan santai ia tekekeh. "Maaf, siapa yang menabrak siapa?"

"Ck jangan tertawa. Kau, membuat makananku jatuh, Bodoh!"

"Tapi barusan kau yang berjalan cepat dan menabrakku?"

"Tapi makananku yang jatuh!"

"Berarti itu salahmu, Nona."

Sakura mendengus keras, tak terima disalahkan.

Siang yang hangat di musim gugur. Meski tak sehangat suasana hati seorang gadis berambut sewarna musim semi yang wajahnya justru ditekuk karena menahan kesal. Jujur, Sakura lebih suka duduk, membolos kelas sambil bermain gitar di taman kampus di hari-harinya melaksanakan kegiatan kuliah seperti ini. Berdesak-desakkan mengambil makanan, mengantri, bahkan kejadian jatuhnya nampan makanan seperti ini adalah hal paling merepotkan yang ia benci. Sayangnya karena tuntutan nilainya yang buruk akhir-akhir ini, Sakura terpaksa mengikuti kelas. Selesai kelas, ia berniat mengisi perut di kantin bersama teman-temannya. Moodnya sudah memburuk sejak pagi tadi, ucapkan terima kasih pada pria pirang yang akan menambah buruk suasana hatinya kali ini.

"Sialan!" geram Sakura.

Direbutnya botol mineral dari tangan pria itu, membuka tutupnya, dan tanpa pikir panjang mengguyur si pria dengan isinya. Sakura tersenyum mengejek. Semua orang memekik tertahan melihat adegan penghinaan tersebut.

"Ini untuk makananku yang malang." Sakura menyeringai puas.

Uzumaki Naruto —nama pria itu— terpaku diam, merasakan aliran air dingin melintasi wajahnya lalu turun ke pakaiannya. Ia meraih pergelangan tangan Sakura, mencengkeram kuat-kuat hingga gadis itu kesakitan. Sakura meronta meminta agar Naruto melepaskannya.

Naruto menghela napas kesal.

"Kenapa kau lakukan ini?" Naruto menunjukkan pakaiannya yang sebagian basah kuyup karena Sakura. "Aku bisa meminta maaf tapi kau tidak perlu mengguyurku seperti ini?"

Sakura menatap nyalang laki-laki di depannya. Ia benci kalah. Naruto balas menatap tak kalah tajam Sakura. Warna mata yang indah jika dilihat dari dekat. Hijau zamrud yang memesona membuat Naruto terpaku sesaat. Ada apa dengan tatapan wanita ini? Cahaya dari mata indah itu seolah hilang diserap sesuatu entah apa. Warna mata yang indah namun redup.

"Lepaskan tanganmu!"

"Naruto-kun? Apa kau baik-baik saja?"

Suara lain itu mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Sakura dan Naruto. Seorang mahasiswa dengan perawakan tinggi yang menggendong tas gitar di belakang punggungnya berjalan menghampiri mereka. Satu lagi dari arah sebaliknya seorang mahasiswi dengan sebotol air mineral di tangannya berjalan mendekat. Wajahnya diselimuti kecemasan. Ia terkejut mendapati kepala Naruto yang telah basah. Pandangannya bergulir pada gadis dengan warna rambut aneh yang sebelah tangannya dicengkeram Naruto.

"Ka-kau Haruno-san?"

Sakura memicingkan matanya, berusaha mencari memori tentang gadis di hadapannya. Sungguh, ia tak ingat pernah mengenal gadis ini. Tatapan benci dilemparkannya kembali pada Naruto.

"Kubilang lepaskan, Uzumaki-san!" Pria yang tadi, kembali ikut andil. Wajahnya datar. Oh semua orang mengenalnya sebagai vokalis dari salah satu band di kampus. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya lalu menyerahkannya pada Naruto. Sebuah sapu tangan.

"Lepaskan dia, Uzumaki-san! Aku meminta maaf atas nama Haruno Sakura padamu. Tolong maafkan dia."

Perlahan Naruto melonggarkan pegangannya. Sakura dengan cepat menarik tangannya, ia mundur beberapa langkah dari Naruto.

"Kau sungguh membuatku harus berganti pakaian Haruno-san." Ia melirik Sakura dari sudut matanya. Naruto hanya tersenyum. "Padahal setelah ini aku harus menghadiri satu kelas. Baiklah... baiklah... lain kali jangan lakukan lagi. Mengguyur orang lain, kau tahu itu tidak baik." Naruto mencairkan suasana dengan tertawa, menepuk pundak Sakura. Namun Sakura menepis tangan Naruto dari pundaknya.

"Kau, sialan." umpatnya dengan nada terlampau dingin.

Tak mau ambil pusing Naruto melanjutkan langkahnya; menarik tangan teman gadisnya menuju pintu keluar dari kantin. Suasana tegang berakhir, semua orang kembali pada kegiatan mereka. Di pintu, seorang teman lain sedang menunggunya.

"Haruno Sakura?" Nara Shikamaru menggeleng-gelengkan kepala tanda tak habis pikir dengan temannya yang satu ini. "Mau-maunya kau berurusan dengan gadis kasar itu."

Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Tidak buruk juga." Ia menanggapi seraya tertawa pelan.

"Di mana letak tidak buruknya? Lihat saja dirimu,"

"Kau yakin kau baik-baik saja?" timpal Hyuuga Hinata, teman gadis yang tadi diseretnya dari tempat kejadian.

Naruto hanya membalas dengan cengiran khas dirinya. "Kita harus cepat karena aku harus berganti pakaian. Jangan buat Kurenai-sensei marah lagi karena kita terlambat di kelasnya."

.

.

.

"Kenapa kau menghalangiku, Uchiha?!" Sakura uring-uringan di dalam mobil. Di sampingnya, teman yang siang ini berlagak sok pahlawan menyelamatkannya dari Uzumaki, Uchiha Sasuke, tengah memfokuskan pandangannya pada jalanan yang mereka lalui. Mengabaikan gerutuan Sakura. "Hey, kalau kau tidak ada, mungkin anak kedokteran itu sudah babak belur di tanganku!"

Tangan lain menepuk pundak Sakura dari belakang, berusaha menenangkan hati temannya. "Sudahlah, beruntung Sasuke menolongmu. Siapa yang tahu si Uzumaki itu berani berbuat macam-macam padamu? Bagaimana pun kau ini perempuan Sakura-chan."

"Kau benar dalam satu hal Kiba," teman lainnya menyahuti. "Sakura itu perempuan, tapi kau salah jika berkata ada yang berani macam-macam padanya." Ia terkekeh.

Sakura memutar tubuh ke belakang, hanya untuk menepuk kepala temannya yang barusan berbicara. "Katakan sesukamu, Aburame!"

"Hey-hey kalian yang di depan. Bagaimana pun kalian berkomentar, si Forehead tidak akan berubah menjadi gadis lembut. Malah kepala kalian harus di opname nantinya." terdengar gelak tawa dari kursi paling belakang.

"Kau benar Ino, kepala ini selalu menjadi andalan ibuku, dia mencium dan mengelusnya saat aku kecil. Tapi sekarang Sakura-chan sering memukulnya. Apa aku akan jadi anak durhaka? Andai saja ibuku tahu."

Sontak gelak tawa di dalam mobil pecah. Sejurus berikutnya Kiba harus meringis merasakan pukulan Sakura mendarat di kepalanya. Ino mentertawakan hal itu, beruntung dirinya duduk di kursi belakang.

"Tapi Kiba mungkin benar, Sakura-chan. Jangan berurusan dengan anak kedokteran itu, oh, atau semua mahasiswa kedokteran. Kau tahu, mereka golongan orang-orang cerdas. Dan hanya satu kelemahan mereka, yaitu sifat sombongnya. Itu tidak seperti kita, yang meski golongan orang bodoh, jiwa kita bersosial." Lee, pemuda berambut eksentrik yang duduk berdampingan dengan Ino membusungkan dadanya bangga. "Tapi jika si Uzumaki itu berani macam-macam pada Sakura kami, matilah dia!" Ia berbicara dengan api semangat di matanya.

Ino memutar bola mata. "Kurasa kau terlalu berlebihan Lee. Oh ya!"

Teringat sesuatu, Ino buru-buru mencari satu benda di dalam tasnya. Setelah benda itu ditemukan, ia menyodorkannya ke kursi paling depan. Tepat ke samping lengan Sakura. Sebuah cincin yang berkilauan terkena cahaya langit senja dari jendela mobil.

"Kau meninggalkannya di toilet siang tadi. Untunglah aku menyadarinya."

Sakura nyaris terlonjak dari posisi duduknya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan. Dengan gerakan cepat diambilnya cincin tersebut, berharap teman-temannya yang lain tidak melihat. Sayangnya semua orang di dalam mobil itu dengan jelas dapat melihatnya, termasuk Uchiha Sasuke yang berada di kursi kemudi.

Lee mengerjap beberapa saat, "Yang aku lihat barusan adalah sebuah cincin? Kau menggunakan cincin Sakura-chan? Aku tidak pernah menyadarinya," ungkapnya masih linglung.

"Memangnya ada apa dengan cincin?" Ino menanggapi dengan santai.

"Mungkin Lee berpikir tentang cincin yang selalu menjadi simbol sebuah hubungan." Kiba menebak asal.

"Dalam keluargaku, cincin adalah benda yang sakral. Hanya boleh digunakan sebagai simbol sesuatu. Misalnya pernikahan."

Sakura sedikit berjengit seperti tersengat sesuatu kala mendengar kalimat dari Shino. Sasuke yang duduk di sampingnya dapat menyadari hal itu. Respon tidak wajar Sakura cukup membuat pemuda paling menonjol di kelompok itu merasakan firasat tidak baik. Ada sesuatu yang sedang Sakura sembunyikan. Sasuke menyimpulkan. Tapi ia memilih untuk tetap diam tak berkomentar.

Sakura menengok ke belakang, lantas tertawa. "Apa yang kalian bicarakan?"

"Hm, tapi kau memang sudah menggunakan cincin itu sejak lama Forehead. Seingatku. Mungkin kau bisa menjelaskannya pada kami, setahu kami kau tak memiliki hubungan apa pun dengan siapa pun, ah apa yang aku bicarakan? Maaf jika aku menyinggungmu. Dan kau Lee, dengarkan aku," Ino menghadapkan tubuhnya pada Lee, "zaman sekarang ini gadis-gadis banyak yang menggunakan cincin sebagai aksesoris. Pikiranmu ini kuno sekali!" jelasnya seraya menghadiahi kepala Lee dengan satu jitakan.

Mobil yang membawa kelompok mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah lapangan yang tidak terlalu luas, terletak di pinggiran kota dekat dengan pemukiman kumuh. Mereka mengeluarkan perlengkapan band dari dalam mobil. Sakura keluar, merasakan udara sore yang jernih sekaligus melihat keindahan langit senja yang membiaskan warna oranye pada permukaan bumi. Pada gedung-gedung yang tersusun padat, juga pada dedaunan yang gugur dan berserakan di bawah tanah. Kadang kita memerlukan suasana yang nyaman untuk membuat perasaan jauh lebih baik. Kemarahan yang sempat menyelimutinya beberapa saat yang lalu seolah lenyap terserap keindahan yang diberikan sore padanya.

.

.

.

.

To be continued

A/n : Author gaje balik bawa fict ga keren ini. Semoga terhibur. Jangan lupa review biar Author semangat nulis. Yosh happy reading!