You Are The Best
By Fureene Anderson
.
Boboiboy is own of Monsta
.
.
Warning: AU!MasterChef /Actor!Taufan/ Contestants!Yaya/No Super Power/
.
.Happy Reading
.
.
.
Yaya memasang senyum terakhir sebelum mengucapkan salam pada ketiga orang di depannya. Ia mendorong keluar ruangan troli berisi sajian ayam percik yang telah habis setengah. Yaya tidak pernah gugup, bahkan ketika berada di kampus atau organisasinya. Namun, karena kompetisi ini menyangkut mimpinya, ia merasa gugup sampai harus ke toilet beberapa kali sebelum tampil.
"Loh udah selesai?" Taufan yang duduk di kursi tunggu berdiri selagi peserta yang lain masuk setelah dipanggil seorang staf. Ia memakai topi dan masker agar identitasnya tidak ketahuan. Taufan adalah seberiti kesayangan Malaysia. Kepiawaian akting, tarik suara, dan visualnya membuat Taufan menjadi aktor kebanggan Negeri Jiran ini. Dan menjalin sebuah hubungan rahasia dengan selebriti tentu tidaklah mudah.
"Gimana hasilnya?" Taufan menghampiri Yaya yang kemudian berhenti. Sorot matanya terlihat begitu cemas namun antusias. "Kamu dipilih, kan? Kata juri apa? Chef yang galak itu ngehina masakan kamu, nggak? Bilang sama aku, biar aku kasih dia pelajaran!"
Merespons pertanyaan Taufan, Yaya hanya menghela napas. Taufan terus menunggu jawabannya sambil mengerutkan kening. Yaya akhirnya mengambil sesuatu dari kolong troli sementara Taufan terus mengawasinya dengan penasaran.
Gulungan putih digenggam, diacungkan kepada Taufan yang kemudian tersenyum lebar.
"Aku lolos." Yaya tersenyum.
"Tuh, kan!" gulungan apron putih di tangan Yaya segera direbut. Taufan terlihat lebih antusias daripada Yaya sendiri. Itu karena acara Champion Chef di telivisi adalah acara kesukaannya. Taufan tidak pernah melewatkan satu episode pun, meski ia harus menonton siaran ulangnya di Youtube.
"Akhirnya kamu lolos juga!" Seruan Taufan teredam masker biru langitnya. "Aku bilang juga apa, masakan kamu tuh enak, pasti kamu bakal lolos. Apalagi bawain masakan lokal!"
"Bukannya kamu orang yang sama yang takut masakanku dihina sama Chef Kaizo?" Mata Yaya menyipit.
"Yah itu karena aku tau dia emang suka semena-mena sama pesertanya. Pernah ada satu episode makanan peserta langsung dibuang ke tempat sampah. Pesertanya sampai nangis dan nympahin Chef Kaizo di social media. Sempat viral, lho postingannya."
"Berarti kamu nilai masakan aku nggak enak?" Yaya mengangkat alis.
"Nggak gitu." Taufan menggeleng cepat. "Masakan kamu enak. Enak banget! Ya kali calon istri aku masakannya nggak enak. Kecuali…"
"Kecuali apa?"
"Bukan apa-apa." Taufan tertawa sambil merangkul Yaya. "Ayo sekarang kita rayain! Aku mau kencan seharian karena selama beberapa bulan aku bakal susah hubungin dan ketemu kamu!"
"Iya, aku harus ikut karantina selama sebulan." Yaya ikut tertawa. "Dan selama acara, peserta nggak boleh nyalain hp terlalu sering. Jadi, kamu juga bisa fokus sama film baru kamu, kan?"
"Tetap aja pasti ngebosenin kalau nggak dengar suara kamu," Taufan memberengut. "Capek tau dengerin Gopal setiap hari. Apalagi kalau dia udah ngeluh kalau jadwalku padat. Kadang heran, dia beneran niat nggak jadi manajer aku atau nggak."
"Kamu kayak nggak tau Gopal aja. Dia kan emang suka kayak gitu," kata Yaya. Mereka tiba di parkiran dan Taufan membukakan pintu mobil untuknya. Yaya sempat berpapasan dengan beberapa peserta yang tengah berfoto di depan gedung galeri. "Oh iya, kita mau kemana? Jangan ke tempat banyak orang. Nanti kalau ada yang liat bisa repot."
"Yaudah, kalau gitu ke apartemen," Taufan tersenyum lebar. "Cuma itu satu-satunya tempat yang aman buat kita."
"Boleh."
"Padahal aku mau kencan sungguhan sama kamu," Taufan mulai menjalankan mobilnya. "Kamu nggak bosen kencan selalu di apartemen atau di rumah kamu?"
"Itu lebih baik buat sekarang," Yaya tersenyum. "Nanti kalau memang udah waktunya, kalau aku menang dan punya posisi yang sejajar sama kamu, kita pasti bisa kencan sungguhan."
"Posisi apa sih? Aku nggak masalah sama kamu yang sekarang. Kita kan pacaran juga udah dari zaman kuliah."
"Tapi kamu lagi naik daun, fans kamu lagi tergila-gilanya sama kamu. Aku nggak mau kalau hubungan kita justru bakal bikin mimpi kamu berhenti. Jadi, sabar dulu aja. Aku nggak apa-apa kok. Lagian emangnya aku sudi kalah dari kamu?"
Yaya memasang senyum menantang. Taufan meliriknya dan menghela napas. Pandangannya kembali tertuju pada jalanan sore di depan. Anggukan kecilnya membuat Yaya tertawa kecil.
Yah, semoga ini memang awal yang bagus bagi Yaya untuk memulai karirnya yang baru.
.
.
.
Mengikuti karantina Champion Chef ternyata tidaklah semudah yang Yaya pikirkan. Ia memang sempat melihat kegiatan-kegiatan kontestan lain sebelumnya, tapi ia tidak menyangka ternyata seberat ini.
Kamar Yaya tidaklah buruk. Malah lebih bagus dan lebih luas dari kamarnya di rumah. Di rak ada buku-buku masakan, juga notes dan surat-surat yang tertempel di dinding. Di sisi kamarnya, Yaya meletakkan vas yang berisi bunga-bunga dari Taufan—yang tentu saja diganti setiap hari.
Yaya selesai menuliskan resep yang dihapalnya, juga hasil analisa latihan pagi ini. Ia menempelnya di dinding bersama kartu-kartu penyemangat yang dikirimkan Taufan. Pemuda itu tentu tidak mencantumkan namanya. Namun, tulisan tangan yang tidak lebih bagus dari cakar ayam itu sudah menjadi bukti siapa pengirimnya.
'Kamu pasti bisa. Ayo! Champion Chef tahun ini! Semangat!'
'Jangan lupa makan. Meski sering masak, kebanyakan orang suka lupa makan. Kamu harus sempat makan. Walau lagi stress tetap makan!'
'Kalau kangen liat wallpaper hp aja!'
Yaya selalu tersenyum setiap kali membaca pesan singkat dari Taufan. Kalimat-kalimat sederhana seperti itu selalu bisa menambah motivasinya. Setiap kali ia merasa gagal dalam latihan, Yaya akan membaca kembali pesan itu. Dengan begitu, energinya akan kembali terisi. Yaya tentu tidak akan lupa untuk menang. Untuk membanggakan dirinya, kedua orang tuanya, dan juga Taufan.
Yaya menarik laci nakas, mengambil ponsel dan menyalakannya. Ponsel memang tidak boleh dinyalakan ketika waktu latihan atau ketika melakukan kegiatan karantina. Satu-satunya waktu peserta bebas memegang ponsel adalah di malam hari.
Yaya mengecek calendar dan mendesah. Hari ini Taufan juga sudah mulai syuting film barunya. Apa tidak apa-apa menghubunginya sekarang.
Tepat ketika beberapa menit ponselnya menyala, banyak notifikasi pesan bermunculan. Yaya segera membuka pesan teratas, yang paling banyak, dan paling baru.
'Kamu beneran matiin hp ya? Aku kesepian nihh '
'Ya, gimana? Lancar nggak latihannya? Ada mentor yang ngeselin? Sini, kasih tau aku siapa orangnya!'
'Aku kangen banget sama kamu. Hari ini udah mulai syuting. Doain aku, ya?'
'Kalau udah megang Hp, kasih tau ya? Aku mau denger suara kamu.'
Yaa menggeleng. Menekan kontak Taufan, ia segera memanggil sang kekasih, mendengarkan bunyi dering di seberang. Perutnya tergelitik. Banyak sekali yang ingin ia ceritakan padanya. Tentang teman-temannya, makanan yang berhasil ia buat, respons para mentor. Pasti akan sangat menyenangkan jika ia bisa bercerita langsung.
"Halo, Ya!" Suara Taufan menyahut riang, terdengar menggemaskan. Yaya tak bisa tak tersenyum. "Akhirnya kamu telepon juga! Kupikir aku bakal mati karena nggak bisa dengar suara kamu. Gimana keadaan kamu? Baik-baik aja, kan?"
"Halo Taufan," balas Yaya tak berhenti tersenyum. "Aku baik-baik aja. Aku baru selesai review resep, sebentar lagi mau tidur karena besok harus bangun pagi buat olahraga. Kamu gimana syutingnya?"
"Lancar. Sutradara suka banget sama akting aku. Aku nggak pernah berhenti dipuji, aku kan malu."
Yaya memutar mata mendengar Taufan terkekeh. Ia lupa, pacarnya itu bisa sangat narsis dan sombong. Apalagi Yaya bisa membayanhkan pemuda itu tengah menyeringai menyebalkan sekarang. "Kamu merendah buat meroket? Udah tau kamu aktor kesayangan Malaysia."
Taufan tertawa. "Aku bercanda. Oh iya, masa karantina kamu udah mau abis, kan?"
Yaya mengangguk. "Iya. Lusa udah mulai syuting. Aku jadi deh-degan. Gimana kalau aku malah gugup dan bikin dish-nya berantakkan?"
"Nggaklah. Yaya aku kan selalu nomor satu dan sempurna. Kamu pasti bisa jadi pemenang di setiap tantangan!" tukas Taufan dengan lugas. "Aku pasti bakal nonton setiap minggu dan selalu dukung kamu! Kalau bisa, aku mau minta Gopal buat ngomong ke bagian kreatifnya supaya aku diundang jadi bintang tamu."
"Ya janganlah." Yaya memutar mata. "Kamu urusin aja syutingnya. Fokus ke sana. Jangan jadi bintang tamu di sini."
"Loh, aku kan mau dukung pacar aku. Nggak boleh?"
"Bukan gitu, Taufan. Aku malah nggak mau kalau kamu sampai hilang fokus dan kena marah sutradara karena syuting kamu nggak bener."
Taufan kembali tertawa. "Yaudah deh, kalau gitu aku bakal dukung dari sini aja. Aku percaya, pacar aku pasti bisa ngasih yang terbaik buat juri dan penonton. Oh iya, kamu terima bunga dari aku, kan?"
"Hm." Yaya mengangguk. "Aku selalu ganti bunga dari kamu setiap hari. Aku juga tempelin kartu ucapan kamu di dinding."
"Kenapa ditempel?"
Yaya mengawasi tempelan-tempelan kertas dekat dengan vas bunganya. "Supaya bisa kubaca lagi kalau aku kangen kamu."
Terjadi keheningan cukup lama. Yaya menebak Taufan kehilangan kata-katanya dan tersenyum lembut di seberang telepon.
"Sweatheart?"
"Hm?"
"I love you." Kata-kata itu menembus ke jantung Yaya sampai membuatnya ingin menangis. Ah, tahukah Taufan kalau ternyata Yaya bisa merindukan mendengar kalimat gombal itu secara langsung. "Pokoknya, setelah kamu lulus dari sana, kita kencan sungguhan, ya!"
Yaya tersenyum. Aku kangen banget sama kamu, Taufan. "Iya. Nanti kita kencan."
"Oke. Aku nggak sabar banget kalau gitu! Aku bakal selesaiin syuting sambil nunggu kamu menang dari sana. Setelah itu kita rayain kemenangan kamu bareng-bareng. Oh iya, gimana kalau kita liburan ke luar negeri?"
Yaya tersentak ketika pintu kamarnya diketuk. Ia segera berbisik tanpa menjawab pertanyaan Taufan. "Besok aku telepon lagi. Kayaknya teman aku dateng. Selamat malam, Taufan."
"Oh iya. Tidur yang nyeyak, sweatheart. Mimpiin aku, ya?"
Yaya tersenyum dan memutus panggilan. Ia kembali meletakkan ponsel di laci kemudian melompat dari kursi untuk menyambut kedua temannya yang ingin tidur di kamarnya.
.
.
.
Syuting hari pertama berjalan lancar. Ia bersyukur bukan dirinya yang harus tereliminasi di episode pertama. Mereka akan memulai syuting dua hari lagi untuk episode kedua. Dan Yaya harus menjadwalkan dirinya berkunjung ke dapur, menganalisa bahan-bahan, serta mempersiapkan apa saja yang harus dimasaknya di tantangan selanjutnya.
"Eh pada tau nggak webtun Moonlight mau diadaptasi ke drama?"
Sesi gossip dimulai. Mau dimana tempatnya, sesi gosip adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh tertinggal. Biasanya mereka membahas banyak hal. Ketika karantina, mereka lebih suka membahas kepribadian dan kesulitan memasak. Minggu kemarin mereka menggosip tentang Chef Kaizo yang sampai sekarang belum menikah, gosip mereka seputar aktivitas selebriti dalam negeri.
Yaya memang berada di lingkaran itu. Bagaimana pun juga mereka adalah teman-temannya. Namun, Yaya tak memberikan komentar apa-apa. Menjadi pendengar yang baik dan hanya menyahut jika diperlukan. Yang penting, jangan sampai Taufan masuk ke dalam pembicaraan mereka.
Yah, meski kemungkinannya sangat kecil.
"Oh iya, tau!" kata teman Yaya yang rambutnya dicepol tinggi. "Yang main saudara kembarnya Taufan itu, kan? Halilintar?"
"Ah iya! Dia! Tahun ini kayaknya tahunnya dia. Baru aja dia selesai syuting Notification, sekarang dia harus main Moonlight lagi. Tapi, lawan mainnya Ying. Kok aku nggak suka dia, ya?"
"Iya. Aku juga nggak suka! Waktu dia jadi Aliya di drama Anneth itu nggak banget! Aku heran kenapa banyak cowok yang bilang akting dia bagus."
Teman lainnya yang gemuk menimpali. "Ya emang karena aktingnya bagus. Malah akting Halilintar di Notification cenderung kaku. Aku nonton dramanya karena Amy aja pemeran ceweknya!"
"Sembarangan dibilang kaku! Halilintar itu udah berusaha keras tau buat akting! Kabarnya tahun ini, dia ambil 5 drama! Dan di setiap drama, akting dia berproses."
"Iya, bener tuh," temannya yang lain membenarkan. "Dia punya gen Taufan. Pasti nanti bakal sebagus Taufan. Atau mungkin ngelebihin dia. Yah, tinggal tunggu waktu aja."
"Aku ke kamar dulu, ya? Kepalaku kayaknya pusing."
"Kamu sakit?" Temannya yang gemuk menoleh pada Yaya, bertanya khawatir.
"Cuma mau tidur lebih cepet aja." Yaya tersenyum kemudian bangkit meninggalkan teman-temannya. Ia menutup pintu kamarnya rapat dan mendesah.
Satu-satunya hal memuakkan dalam menjalin hubungan dengan seorang aktor adalah, kita selalu mendengar pembicaraan tentangnya dan mengetahui fakta bahwa banyak gadis yang terang-terangan menyukai pacar kita sekarang, kemudian seenaknya mengecam pacar aslinya jika dirasa tidak cocok.
Namun, Yaya tahu itu. Ia sudah memikirkan risiko ketika ia menetapkan hati untuk berpacaran dengan Taufan meski pemuda itu seorang aktor. Dan Yaya tidak akan mundur karena ia percaya hati Taufan hanya tertuju untuknya.
Yaya mengambil ponselnya di laci. Ia tersenyum melihat gambar-gambar yang dikirimkan Taufan ketika syuting hari ini.
"Sebentar lagi syuting aku selesai! Aku bisa nonton siaran langsung Champion Chef habis ini!"
.
.
.
"Ah, akhirnya bisa istirahat juga," Taufan mengeluh, menyandarkan kepalanya di bantalan jok belakang. Setelah berhari-hari syuting di kaki gunung, tulangnya seakan mau lepas dari sendi-sendi. Taufan memejamkan mata, bermaksud tidur ketika Gopal di depannya justru mengoceh soal jadwalnya setelah ini.
"Besok kamu ada pemotretan sama Suzy buat promosiin My Vampire Lover. Kita harus sampai studio jam 8. Amaar fotografer tegas, dia pasti ngoceh kalau kita sampai telat."
"Astaga, apa aku nggak boleh istirahat sehari aja?" Taufan memberengut.
Gopal menyuruh sopir mereka untuk menjalankan mobil. "Nggak bisa. Kamu udah ambil semua kontrak mereka. Kalau dibatalin, emang kamu mau bayar dendanya?"
"Ya nggak sih," Taufan mendesah, menyandarkan kepalanya di dinding. Ia melihat ponsel dan mengecek apakah ada pesan masuk dari Yaya atau tidak. "Tapi besok kan ada Champion Chef. Aku mau nonton siaran langsungnya."
"Studio Amaar kan dekat sama Galeri Champion Chef," sahut Gopal. "Kenapa nggak mampir langsung?"
"Eh seriusan deket?"
Gopal mengangguk. "Iya. Nggak jauh di seberangnya. Tapi kalau kamu emang mau ketemu sama Yaya, pastiin buat nggak terlalu mencolok. Aku bakal kerepotan kalau kamu kena skandal lagi."
"Pacaran bukan skandal." Taufan menyipit. "Lagian terserah akulah mau hidup kayak gimana? Kan yang jalanin aku."
"Ya terserah sih kalau kamu mau karir kamu redup sekarang." Gopal mengedikkan bahu.
Taufan terdiam. Ia memandangi pesannya yang belum dibaca dengan Yaya. Gadis itu pasti sangat sibuk sekarang. Ia jadi merasa bersalah karena membiarkan Yaya berada di situasi seperti sekarang ini. Menjadi aktor dan berpacaran bukanlah hal mudah. Saat pertama kali debut, ia khawatir Yaya akan memutuskannya. Namun, Taufan menawarkan Yaya untuk menjadi manajernya.
Awalnya memang baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu, Yaya mulai khawatir dan juga bersalah. Ia merasa seharusnya manajer tidak memacari artisnya. Sangat melanggar kontrak. Namun, Taufan benar-benar tidak ingin mengakhiri hubungan mereka. Taufan lebih rela kehilangan kepopularitanya daripada Yaya.
Mereka berpacaran sejak lama, membangun mimpi sama-sama. Taufan tidak ingin mimpi yang sudah diraihnya justru menghancurkan hubungan mereka. Sampai akhirnya, Yaya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai manajer dan tetap menjadi kekasih Taufan sebagai orang biasa.
"Kamu nggak bakal mutusin aku, kan? Aku tau wartawan dan fans itu emang kadang nyebelin. Tapi aku benar-benar nggak bisa kehilangan kamu, ya? Please. Jangan tinggalin aku."
Saat itu Yaya berkata sambil tersenyum lembut. Senyum yang sering sekali menemani Taufan di sela-sela kesibukannya. "Aku nggak bakal ninggalin kamu. Aku tetap bakal dukung kamu, tapi sebagai seorang pacar dari kalangan orang biasa. Tapi, aku juga mau sejajar sama kamu. Aku mau berdiri di samping kamu dengan kebanggan sendiri. Jadi, kita kelihatan serasi ketika semua orang tau soal hubungan kita."
"Ya, kamu pasangan aku yang paling serasi. Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa karena gimana pun juga, kamu udah milikin aku."
Yaya menggeleng. "Aku tetap mau ngejar kamu. Aku nggak akan kalah dari kamu, Taufan. Jadi, kamu jangan ngeremehin aku. Suatu hari, aku pasti bisa jadi kebanggaan buat kamu.
"Asal kamu tau, aku selalu bangga sama kamu. Kamu perempuan paling sempurna dan cantik. Kamu serba bisa, baik hati, dan selalu jadi juara di setiap kompetisi. Apalagi kamu lulusan terbaik kampus kita. Gimana aku nggak bangga?"
"Tetap aja, aku harus nunjukkin prestasi itu."
Taufan tersenyum dan menciumnya di apartemen miliknya ketika hari turun hujan. Sejak saat itu mereka selalu berkencan diam-diam, bertemu secara rahasia, dan rutin dalam mengirim pesan. Meski bukan lagi sebagai manajernya, tapi Yaya menepati janjinya untuk selalu ada di sampingnnya.
Mobil Taufan berhenti di lampu merah, Tidak jadi mengirim pesan, Taufan mendongak pada Gopal yang tengah melempar lelucon dengan sopir mereka.
"Gopal, kalau kita langsung ke galeri, Yaya marah nggak, ya?"
.
.
.
Jarum di jam besar galeri terus berputar. Para kontestan merengek panik karena baru saja juri mengumumkan sisa waktu mereka tinggal lima menit, sementara jam itu sama sekali tak bisa diajak kompromi.
Episode kali ini adalah episode lima besar. Yaya bersyukur karena ia bisa bertahan meski harus beberapa kali mengikuti pressure test. Namun, karena ini adalah lima besar, Yaya harus mengeluarkan tenaganya untuk menyajikan yang terbaik. Ia sudah sampai sejauh ini dan Yaya tidak mungkin mundur lagi.
Ia menarik loyang berisi cookies dari oven. Menu sesi ini adalah dessert, dan Yaya memutuskan untuk membuat soft baked cookies dengan tiga rasa. Dibandingkan menu lain, kemampuan dessert Yaya memang kurang. Tapi mau bagaimana lagi? Champion Chef memang menuntut pesertanya untuk bisa memasak semua menu. Lagipula Yaya tidak punya kuasa mengubahnya. Semua yang terjadi di galeri adalah kehendak juri.
"Oke, waktu tinggal lima detik," Ucap salah satu chef perempuan di depan. Enam orang peserta semakin panik meempersiapkan hidangan mereka. "Lima … empat…"
Yaya menata soft baked cookies tiga warna di piring, menghiasnya dengan chocolate ganache dan menuang susu ke dalam teko khusus.
"Tiga … dua …"
Yaya meletakkan stroberi di atas tumpukkan cookies. Tepat ketika juri meneriakkan angka satu, kedua tangan semua peserta terangkat.
Yaya mendesah. Ia tidak yakin akan rasanya, tapi yang terpenting ia bisa membuat sajiannya terlihat sempurna dan selesai tepat waktu. Iwan menjadi nama pertama yang dipanggil. Yaya tetap berdiri di tempatnya, menunggu dengan tegang bagaimana ketiga juri mengomentari makanan iwan.
Iwan menyajikan tiramisu cake. Para juri terkesan dengan tekstur rasa tiramisu dan cokelat yang sangat kental. Bahkan perpaduan cake dan whipped cream juga terasa lembut. Iwan memang sangat pandai soal dessert, hanya saja plating Iwan sedikit meleset, sehingga poinnya tetap berkurang.
Yaya kembali menarik napas pelan dan menghembuskannya. Jantungnya berdebar sangat gelisah. Mendadak ia merasa takut, bahkan firasatnya juga tak enak. Ia hanya berharap semoga kali ini ia tertolong. Jika memang dessert yang dibuatnya kurang sedikit, Yaya akan berusaha lebih baik lagi ke depannya.
Yaya tidak mau usahanya berakhir di sini. Ia harus kembali maju dan mengalahkan semua kontestan.
"Yaya Yah."
Jantung Yaya kembali berdetak kencang. Meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja, Yaya membawa nampan sajiannya ke depan. Ia harus fokus. Yaya tidak boleh terlihat pesimis di depan para juri. Semua akan baik-baik saja.
.
.
.
Semua tidak baik-baik saja.
"Maaf, tapi kamu harus pulang hari ini," Chef perempuan berujar dengan raut menyesal. "Kemampuan main dish kamu bagus, tapi kami tidak bisa meloloskan peserta dengan skill dessert yang minim lolos masuk lima besar."
Yaya membeku di tempatnya. Ia bahkan tidak sanggup berkata-kata untuk membantahnya. Kurang manis, cenderung asin, bau amis telur yang masih terasa di lidah. Komentar-komentar tersebut sudah cukup untuk membuat mental Yaya jatuh saat sesi penilaian.
Juri menilai jika dessert buatan Yaya masih belum cukup masuk ke standar Champion Chef, dan Yaya tidak bisa menampik. Karena … dari dulu, dessert adalah kelemahannya. Seharusnya Yaya tahu diri kenapa banyak orang yang membenci biskuitnya.
"Perjalanan kamu nggak berhenti di sini," Chef Kaizo menatap mata Yaya yang kosong. "Pasti kamu bisa menemukan kesuksesan kamu di luar sana. Jadi, jangan menyerah. Skill memasak kamu bagus, jadi jangan berhenti berusaha."
Apakah komentar itu berguna untuk saat ini? Yaya tahu mereka berusaha menguatkan Yaya, tapi nasihat-nasihat itu justru membuat Yaya semakin tidak tahan ingin menangis. Mengapa semuanya harus berakhir di sini? Ia ingin sekali memohon satu kesempatan lagi.
Yaya menghela napas pelan, ia tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa kecewanya yang hendak meledak.
"Iya, terima kasih untuk membimbing saya sampai sejauh ini. Saya pamit."
Yaya membungkuk. Dengan berat hati, ia melepas apron putih. Apron yang ia dapatkan dengan susah payah kini harus hilang. Padahal Yaya memimpikan untuk memakai chef jacket dan berdiri penuh kebanggaan di tengah-tengah podium Champion Chef.
Yaya menyalami ketiga juri, juga kepada teman-temannya, dan menahan air matanya yang tak bisa terbendung lagi.
Menutup pintu galeri, Yaya terisak tanpa suara. Menunduk sedalam mungkin untuk menyembunyikan wajahnya. Yaya terbiasa menang. Yaya terbiasa menduduki peringkat satu. Tapi kenapa ketika itu menyangkut impiannya, Yaya tidak bisa meraihnya. Yaya kalah dalam menggapai mimpi untuk menjadi juara satu dalam kompetisi memasak.
"Aku mau berdiri di samping kamu dengan kebanggan sendiri. Jadi, kita kelihatan serasi ketika semua orang tau soal hubungan kita."
Astaga. Bagiamana bisa mengatakan omong kosong itu pada Taufan dulu? Yaya terlalu percaya diri sampai akhirnya ia ditampar kenyataan sekarang. Yaya tidak akan selamanya jadi yang terbaik. Yaya tidak akan selamanya jadi nomor satu. Bagaimana ia bisa menghadapi Taufan setelah omong kosong yang diucapkannya?
Yaya mengerjap ketika merasakan seseorang berdiri di depanya. Ia mendongak dan terkejut melihat wajah dan mata biru yang sangat familiar.
Taufan tersenyum, namun Yaya membuang muka.
"Selamat, ya. Kamu hebat," ucap Taufan. Kepala Yaya diusap dengan begitu lembut. "Kamu udah berusaha keras sampai sejauh ini. Makasih banyak."
Yaya mengerjap, setetes air matanya turun.
"Aku tadi liat kamu masak. Kamu bener-bener keren. Kamu keliatan cantik kalau lagi serius masak. Peserta yang paling cantik," Taufan tersenyum dengan tulus. Rasanya begitu hangat sampai air mata Yaya tak berhenti.
Taufan mengusap wajahnya. "Bagi aku, kamu tetap pemenang. Nggak ada juara kedua atau ketiga. Kamu pemenang tunggal buat aku, buat keluarga kamu, buat diri kamu. Jadi, jangan nangis lagi, ya?"
Yaya tak sanggup menahannya lagi. Ia mendekap Taufan dan terisak di dadanya. Kepalanya diusap dengan lembut sementara Taufan terus memberikan kalimat penghiburan.
Seluruh tubuhnya gemetar. Ia sempat merasa marah setelah eliminasinya, namun Taufan membuat semuanya lebih baik. Kekalahan memang sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan. Namun berada dalam dekapan Taufan, membuat seluruh rasa sakit itu menguap. Yaya merasakan kelegaan dan kehangatan di waktu yang bersamaan. Pelukan dan kehadiran Taufan seperti es krim lembut yang menyejukkannya.
Taufan benar. Ia tidak perlu menyesal karena kalah. Yaya bisa bangkit menjadi lebih baik lagi. Yaya bisa mencoba hal baru yang lain lagi. Taufan tahu bahwa ia sudah berusaha keras, namun Yaya tidak akan berhenti.
Ia menarik diri dan menatap Taufan yang masih tersenyum lembut. Yaya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk bisa terlihat serasi bersamanya.
"Aku mau es krim."
Taufan tertawa seraya merangkul sang kekasih. "Oke. Kita bakal beli es krim sebanyak yang kamu mau. Ayo!"
Dan Yaya akan memulai lagi lembaran baru setelah ini.
.
.
.
A/N : Apakah ending ini memuaskan? Aku harap iya.
Terima kasih buat baca sampai sejauh ini. Tulisan ini aku persembahin buat Kak Ra yang katanya lagi nggak baik-baik aja. Aku harap satu cerita ini bisa ngobatin sedikit rasa sakit kamu. Aku sengaja tulis ini buat kamu karena kupikir kamu bener-bener butuh hiburan. I dunno what should I do to make you better, jadi aku cuma bisa ngasih segini. Semoga rasa sakit kamu lekas membaik
Oh iya, cerita ini idenya dari fic aku sebelumnya sih. Dan juga dari dulu pengen banget bikin Yaya ikut kontes masak, yang ahirnya kesampaian juga!
Semoga pada suka, ya!
