.

.

Still Here

by

dindingdanlangit

.

Disclaimer: I own nothing. Masashi Kishimoto has everything


Naruko tidak pernah merasa begitu marah sejak dua puluh lima tahun hidupnya hingga hari ini. Naruko mungkin akan meledak jika tidak mengingat gadis cilik yang berada di bangku belakang mobilnya. Ia mengecek lewat spion dan melihat anak itu tampak lelah. Naruko berdeham untuk membuatnya terjaga.

"Jangan tidur dulu ya, Viv. Kau belum makan malam," Naruko menasehati. Ia melihat Viv yang setengah mengantuk mengangsurkan ponsel padanya. Gadis cilik itu baru saja mengecek video penampilan balet yang ia rekam saat berlangsung. Namun Naruko hanya melihat kekecewaan terpancar dari raut wajah Viv.

"Ya sudah, kau bisa tidur sebentar. Lagi pula kita mungkin sampai cukup lama." Naruko tersenyum padanya. Ia mengulurkan tubuhnya untuk menyelimuti Viv dan mengatur letak bonekanya. Untung saja mereka terjebak macet sehingga memudahkan Naruko untuk membantu Viv tidur.

Naruko mendesah pelan ketika melihat layar ponselnya berkelip menampilkan panggilan telepon dari orang yang membuatnya marah saat ini. Alih-alih menjawab panggilan itu, Naruko mematikan sambungannya. Ia merasa tidak bisa mendengendalikan suaranya lebih rendah jika sedang marah. Dan Viv berada di mobilnya! Ia tidak mungkin berteriak memaki orang itu kan ketika Viv bersamanya dan sedang tidur. Naruko tidak ingin membuat Viv terbangun.

Namun tampaknya orang itu tidak menyerah untuk menghubunginya. Getaran ponselnya membuat Naruko geregetan sehingga terpaksa mengangkatnya. Naruko mendengar suara laki-laki yang ia kenal di seberangnya.

"Naruko? Apa acaranya masih? Di mana-"

Dengan kejam Naruko memotong ucapan pria itu. "Pulang. Acaranya sudah selesai sejak pukul 7. Silahkan saja kalau kau mau datang. Aku tidak peduli."

Pria itu mendesah. "Maaf," suaranya terdengar menyesal. "Apa kalian sudah makan malam? Aku akan membuat makan malam di rumah."

Naruko mencebik. "Terserah." Ia menutup telepon tiba-tiba dan membantingnya di jok sebelahnya. Ia merasa tidak perlu meladeni omong kosong dari pria itu. Naruko bertambah gondok melihat kemacetan yang tidak usai. Ia tidak pernah berhenti merutuk kemacetan di New York.

Benar-benar bisa membuat Naruko naik darah.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Naruko marah hari ini. Naruko begitu kecewa ketika Uchiha Itachi -pria yang meneleponnya tadi- tidak datang di pertunjukan balet Viv tadi sore. Padahal Viv begitu mendambakan kehadiran ayahnya itu. Naruko bahkan telah mengingatkannya tadi pagi sebelum pria itu pergi bekerja. Namun kesibukan Itachi membuatnya melupakan acara penting putrinya. Sampai-sampai Viv begitu kecewa padahal pertunjukan baletnya bagus sekali.

Naruko menengok Viv yang tampak pulas di belakang. Ia kembali menghela napas entah keberapa kalinya hari itu. Ia hanya berharap kekecewaan Viv tidak akan terjadi lagi nanti. Naruko akan membuat Itachi benar-benar membayarnya dengan setimpal.

000

Itachi tergopoh-gopoh meninggalkan dapur ketika mendengar pintu apartemennya yang terbuka. Ia melihat Naruko kepayahan menggendong Viv yang tertidur dan membawa beberapa tas di punggungnya dan tampak berat. Ketika Itachi hendak membantunya, Naruko menepis tangannya dan secepat mungkin meletakkan tasnya di lantai kemudian menuju ke kamar Viv.

Itachi tersenyum kecut melihat reaksi Naruko. Ia memungut tas-tas itu dan membawanya ke ruang tengah. Ia menghampiri Naruko di kamar Viv. Ia mengamati Naruko yang dengan sigap mengganti pakaian balet Viv dengan piyama. Naruko juga menghapus riasan Viv dengan lembut. Tidak ada sepatah katapun yang bisa diucapkan oleh Itachi. Ia cukup mengerti Naruko tidak dalam mood yang bagus malam ini. Ya, apalagi setelah apa yang ia lakukan hari ini. Itachi punya firasat Naruko akan memakinya habis-habisan nanti. Maka dari itu sebelum Naruko benar-benar melakukannya, ia kembali menuju dapur.

Pasta yang ia masak telah matang. Ia mematikan kompor dan menuangkannya ke dua piring. Itachi tidak tega membangunkan Viv untuk makan malam. Ia melihat putrinya tampak lelah. Dan mungkin kecewa padanya. Sungguh, Itachi merasa kecewa sekaligus bodoh atas tindakannya yang selalu membuat putrinya sedih.

Tak lama setelah itu ia melihat Naruko keluar kamar berjalan melewatinya. Ia melihat Naruko tergesa-gesa mengangkut tasnya. Jelas sekali ia tidak berniat belama-lama di sini. Melihat itu, Itachi segera mencegah wanita itu.

"Tinggallah sebentar untuk makan malam," kata Itachi melembutkan suaranya. Sayangnya reaksi Naruko berikutnya membuat Itachi merasa tercubit.

"Tidak perlu." Naruko bahkan tidak berusaha menutupi kekesalannya.

Itachi merasa tenggorokannya kering. Ia tidak benar-benar suka situasi di antara mereka. "Aku tadi ada meeting. Kakashi lupa mengingatkanku dan membuatku meeting," kata Itachi kemudian.

Naruko mengerutkan kening tidak suka. "Jangan mengatakan seolah ini kesalahan orang lain, Uchiha Itachi. Seharusnya kau tau betul, kau lah yang harus mengingatnya bukannya sekretaris tololmu itu."

Itachi tampaknya menyadari kesalahannya dan hanya diam. Naruko semakin terbakar amarah melihat pria di depannya membisu. Tidakkah pria itu merasa menyesal setelah semuanya? Setidaknya sedikit memikirkan perasaan Viv!

"Aku lelah, Itachi. Entah sudah berapa kali kau melupakan janjimu pada Viv. Aku tidak pernah melihatnya sekecewa itu. Kau tahu betul pertunjukan ini benar-benar ia nantikan. Kau sudah berjanji akan datang. Setidaknya kau bisa mampir kalau memang ada meeting setelahnya dan bukannya tidak mengabari sama sekali! Kau tidak tahu saja, Viv bahkan tidak menangis!" Naruko bicara dengan penuh amarah.

"Ya! Viv masih lima tahun dan ia bahkan tidak menangis! Bisakah kau bayangkan seperti apa karakter putrimu? Dia tidak pernah mengeluh selama ini. Dengar, aku tidak peduli sesibuk apapun dirimu. Yang aku pedulikan hanya, kalau kau sudah berjanji pada Viv cobalah untuk menepatinya! Berhenti membuatnya berharap dan kecewa berulang kali!"

Naruko merasakan matanya memanas. Ia tidak percaya dengan lonjakan kemarahannya. Itachi juga sama tidak percayanya dengan Naruko saat ini. Sepanjang hidupnya ia mengenal Naruko, ia tidak pernah melihat Naruko begitu marah. Naruko sangat marah karena ia membuat kecewa putrinya! Kesekian kali! Itachi seketika merasa benar-benar buruk.

"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Itachi merasa percuma mengatakan apapun. Naruko sepertinya tidak akan mendengar apapun yang keluar dari mulutnya. Rasanya tidak setimpal menerima kemarahan Naruko daripada membuat Viv kecewa. Naruko membuatnya sadar bahwa ia tidak bisa menjadi ayah yang baik selama ini.

Naruko kembali menyumpahinya dan benar-benar menutup telinga mendengar Itachi. Ia benar-benar marah dan pasti akan meledak kalau tidak segera pergi. Tentu saja ia tidak ingin Viv terbangun karena teriakannya lebih lama lagi. Jadi ia menepis Itachi yang menghalanginya dan pergi meninggalkan apartemen dengan suara pintu terbanting dengan kerasnya.

Benar saja. Keributan itu sungguh bisa membangunkan siapapun yang terlelap. Tidak terkecuali Viv yang kini berdiri setengah mengantuk di depan kamarnya dan mengamati Itachi yang masih termangu.

"Papa, apa kau dan Naruko-chan baru saja bertengkar?"

000

To be continued