Chocolate Milk

Putus cinta memang sakit. Sekalipun hubungan berakhir baik-baik tanpa pertengkaran. Shotaro meminum matcha latte, memandang kosong pada kerlap kerlip lampu pertokoan. Ia baru putus dengan kekasihnya dengan dalih hubungan mereka tidak direstui. Profesinya sebagai penari menjadi penyebabnya.

Pembohong

Shotaro tahu kekasihnya sedang dekat dengan lelaki yang berprofesi sebagai manajer di perusahaan tempat mantan kekasihnya bekerja. Fakta ini diberitahu oleh temannya. Shotaro tidak percaya pada awalnya tapi rekaman percakapan mantan dan manajer itu menjadi bukti konkret.

"Iya, aku mau menikah denganmu."

"Tapi kekasihmu gimana?"

"Tenang, Shotaro pasti ngerti kok."

Percakapan itu berhenti setelah temannya terpergok oleh mereka.

"Permisi, maaf, kafenya sebentar lagi tutup-"

"Oh, iya, terimakasih. Sebentar ya..."

"Tapi kalau masih mau di sini silahkan saja!"

Pelayan itu juga turut menyebutkan bahwa kedai kopi itu sudah tidak menerima pesanan sejak jam 9 malam tapi karena dia anak pemilik kedai, dia tidak merasa keberatan jika Shotaro masih ingin berdiam diri di kedainya.

Shotaro memperhatikan gestur canggung lelaki yang terlihat masih bocah, menurut dugaan Shotaro, itu. Sepertinya, dia ingin dirinya tetap di kedai sampai dia memutuskan untuk mengusirnya. Shotaro pun memutuskan untuk tinggal.

Herannya pelayan tersebut malah duduk di depannya setelah membuatkan susu coklat yang sepertinya itu untuknya "Sungchan lihat, kakak kayaknya sedang sedih. Ini susu coklatnya Sungchan cuma bisa buat ini."

"Pertama, namaku Shotaro. Aku gak suka dipanggil kakak sama orang yang belum dikenal."

"Kedua, kamu beruntung. Karena kalau orang lain kamu tanyakan seperti ini. Kamu mungkin akan dianggap stalker dan berakhir di penjara."

"Ketiga, masa aku harus cerita." Shotaro bukan orang yang akan menceritakan masalahnya pada orang yang tidak dikenal.

"Kalau itu bisa membuat kakak lega, kenapa tidak?"

Sial, harusnya dia memilih pulang saja ketimbang berhadapan dengan bocah di hadapannya. Mungkin setelah ini, Shotaro harus menandai kalender hari ini dengan spidol merah sebagai hari tersial agar dia bisa berdoa meminta keberuntungan. Sudah dicampakkan ada bocah privilage sok kenal dan dekat dengannya ini membuatnya tambah kesal.

"Apa orang dengan hak istimewa selalu berbuat seenaknya?"

"Lihat dirimu yang sok kenal dan dekat denganku, apa aku semenyedihkan itu sampai harus diinjak-injak oleh orang seperti kalian?"

"Kalian yang punya hak istimewa ini sadar gak sih kalau kalian udah punya segalanya? Kalian gak perlu ngerebut punya orang lain."

"Aku baru aja dicampakkan mantanku. Dia bilang orangtuanya gak suka profesiku ssbagai penari. Boong banget. Dia baru aja dilamar atasannya. Padahal dia gak usah bohong. Aku juga tahu bakal kalah sama orang yang lebih berduit."

"Aku emang cuma penari tapi apa aku serendah itu? Apa bener penari itu gak bisa ngehasilin banyak duit? Apa aku harus jadi orang kantoran dulu biar gak dipandang sebelah mata."

Air mata Shotaro tidak bisa berhenti mengalir. Dia menangis di hadapan bocah yang mengganggunya tapi dirinya sudah tidak peduli. Dia lelah dengan pandangan merendahkan dari orang lain akibat profesinya. Dia kecewa dengan mantannya yang berbohong. Dia tahu tidak seharusnya meluapkan emosinya pada Sungchan, bocah itu tidak bersalah.

Sungchan hanya diam, menerima semua amukan Shotaro. Dia tahu itu hanya akumulasi dari segala kekecewaan yang dirasakan Shotaro selama ini. Pasti berat ditinggalkan orang yang disayangi. Sungchan hanya bisa berharap Shotaro akan merasa lega setelah ini. Jangan sampai usaha dia membahongi orangtuanya agar membiarkan Shotaro tetap tinggal sia-sia.

~FKF~

15 menit berlalu. Shotaro sudah merasa baikan "Maaf tadi aku membentakmu."

"Tidak apa-apa. Sungchan tahu kok Shotaro cuma ngerasa kecewa sama situasi sekarang. Tapi Shotaro gak akan berhenti nari kan?"

"Gak akan lah! Ya kali! Penghasilanku tuh lebih gede dibanding menejer itu sebenarnya. Cuma statusnya aja yang keliatan keren." Sungchan terkejut mendengar jawaban Shotaro. Bukan masalah uang tapi cara Shotaro membangkitkan rasa percaya dirinya. Dia rasa, penari itu akan melupakan mantan pacarnya dengan cepat.

Percakapan mereka pun berlanjut tentang okupasi masing-masing. Kebanyakan penghasilan Shotaro datang dari membuat koreografi untuk animasi. Sungchan sendiri masih seorang murid SMA kelas tiga yang kadang membantu orangtuanya jaga kedai.

Susu yang dihidangkan oleh Sungchan sudah habis. Anak itu tahu percakapan mereka akan segera berakhir.

"Terimakasih Sungchan. Aku udah ngerasa baikan sekarang. Kayaknya aku harus pulang."

"Shotaro pasti akan dipersatukan dengan orang yang kakak sayangi. Seseorang yang menyayangi seluruh kelebihan dan kekurangan Shotaro. Sungchan percaya itu."

"Iya aku juga percaya. Semoga kamu juga dipertemukan dengan orang yang tepat buat kamu sendiri."

"Kalau masih sedih datang aja ke sini tapi pas udah seneng juga gak papa!"

Shotaro tertawa mendengarnya. Ucapan Sungchan terdengar polos seperti anak kecil padahal baru saja lelaki itu terdengar dewasa. Kalau bukan karena jadwal latihannya, mungkin dia akan berdiam lebih lama.

"Sampai bertemu lagi!"

END

hello, aku bawa ff SungTaro lagi. semoga kalian suka. btw, ini udah pernah aku pub di twt. mungkin bakal du pub juga di wp. terimakasih.