Yours
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
I want you for no other reason
You like the bright red lips
Let me tell ya
Love me don't hurt me
Just kiss me don't hurt me
I'll be yours
.
Chanyeol x Raiden x Lee Hi Changmo ~ Yours
Wah... tulisan apa ini? Ketimbang tulisan, rangkaian huruf di hadapannya ini malah mirip gambaran EKG ventrikel takikardi. Ino menghela napas panjang, dan mendadak tak berdaya ketika berusaha memahami resep obat di hadapannya. Benar-benar tidak jelas. Apotekernya berhalangan datang pula, sepertinya ini bakal jadi sore yang melelahkan.
Sembari berulang-ulang membaca resep, ia berjalan ke arah rak obat-obatan. Inilah resiko menjadi pegawai baru dan harus shift sendirian. Ia harus maklum jika klinik ini tidak mempekerjakan banyak farmasis karena hal itu pun lazim terjadi pada beberapa klinik yang tidak terlalu besar. Dan yang jadi dilema adalah, tulisan dokter dalam resep ini benar-benar tidak bisa diidentifikasi. Apakah ada dokter baru? Karena setelah beberapa hari bekerja disini ia cukup hafal tulisan beberapa dokter. Kecuali yang ini.
Ia menimbang-nimbang untuk menghubungi Sakura, seorang perawat yang lumayan akrab dengannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ia rasanya tidak harus melakukan itu. Kepanikannya makin parah ketika mengerling pada antrian resep yang makin bertumpuk dan para pasien seolah makin banyak saja menunggu di luar ruangan. Tangannya meraih gagang telepon, sengaja menelepon poli interna tempat si dokter praktek. Namun tak seorang pun mengangkat telepon tersebut. Astaga, ia harus segera bertindak.
"Maaf dokter mengganggu, saya pegawai baru di ruang farmasi." Melihat tatapan heran yang terpancar dari manik pria di hadapannya, Ino jadi panik sendiri. Rasa gugup membuatnya nyaris gemetaran. "Saya kurang paham tulisan dokter." Ia menyela beberapa pasien yang akan masuk ruangan, dan hampir mendapat dampratan dari seorang perawat yang menjadi asisten sang dokter.
Lelaki berambut coklat dengan jas putih itu mengerjap, mengabaikan ekspresi jengkel sang perawat yang berdiri tidak jauh darinya. Dia menyuruh Ino mendekat, kemudian mengamati secarik kertas resep di hadapannya." Glimepiride 2 mg, metformin, acarbose 100," Kerlingan matanya kembali ke arah Ino, seolah menyiratkan kalimat 'begini saja tidak tahu.'
"Terima kasih dokter, sekali lagi maaf karena sudah menganggu." Ino membungkuk berkali-kali sebelum keluar dari tempat itu, ia sempat melihat senyum simpul sang dokter yang terulas di bibir tipisnya.
Gadis Yamanaka itu pikir, untuk selanjutnya ia akan lebih jeli dalam memahami tulisan tangan si dokter, tapi entah kenapa tulisannya semakin lama semakin tak bisa dibaca. Ya Tuhan, kenapa tulisan dokter yang satu itu tidak sebagus tulisannya dokter Nara? Jadi dengan keterpaksaan yang membebani kakinya ia harus bolak-balik ke ruangan si dokter dan mendapat marah dari si perawat tua yang galak itu.
Pasien sudah lumayan sepi di jam 9 malam seperti ini. Ia menghela napas pelan, dan berharap Nona Shizune segera datang untuk mengambil alih shift. Ia nyaris memejamkan mata ketika sebuah suara menginterupsinya, membuatnya nyaris oleng dari kursi.
"Selamat malam Nona Yamanaka."
What, Ino terkejut parah melihat siapa yang menyapanya barusan. Dokter Inuzuka, orang yang hari ini seolah mengerjainya habis-habisan. "Dokter, sudah mau pulang?"
"Hm, begitulah." Dia tersenyum geli, "Sampai jumpa. Semoga lain kali kita satu shift lagi."
Wah sialan, namun ketimbang mengumpat, Ino malah tersenyum malu-malu. Pasti puas sekali orang itu membuatnya kalang kabut seperti mahasiswa baru yang menjalani masa orientasi. Ketika sang dokter berlalu, tatapannya masih lekat mengamati bahu lebar dan punggung tegak itu. Sebenarnya dokternya ganteng, tapi sayang sekali menjengkelkan.
"Kenapa melamun?"
Ino geragapan, jantungnya nyaris copot saat mendapati Shizune sudah berdiri di sampingnya. "Tidak apa-apa, aku hanya tidak habis pikir dengan hari ini."
"Kenapa?" Shizune meletakkan tasnya di salah satu rak khusus.
"Dokter Inuzuka seperti sedang mengerjaiku." Ia menghela napas panjang, mulai membayangkan kenyamanan ranjang dan ingin segera tidur malam ini.
Tawa wanita yang lebih tua itu terdengar. "Wah, kau pasti kesulitan membaca tulisannya ya? Sama, waktu awal-awal aku juga begitu."
Oh, bukan dirinya saja ternyata.
"Pasti kau masih pertama kali ini satu shift dengannya." Tangannya menepuk pundak Ino pelan. "Eh, tapi dokternya keren kan?"
Ino hanya nyengir menanggapinya.
Meski berkali-kali satu shift dengan dokter pemilik tulisan abstrak itu, otak dan matanya seolah masih awam. Maka sembari menjalani shift sore yang agak sepi, ia mengambil beberapa resep obat dengan tulisan tangan dokter Inuzuka. Berusaha membaca satu-persatu dan memahaminya.
"Sedang apa?"
Ino terkejut bukan main ketika wajah Kiba malah muncul di hadapannya, kapan orang itu masuk ruangan? "Dokter? Bukannya dokter tadi shift pagi ya?" tangannya cepat-cepat meringkasi lembar-lembar resep yang berserakan di meja.
Sembari mengangguk, lelaki itu berujar. "Mengantar ibuku berobat ke dokter Nara," dia mengulurkan kertas resep ke arah Ino. "Tolong ya disiapkan obatnya."
"Anda kan dokter, kenapa bukan anda sendiri saja yang meresepkan obat untuk ibu anda." Ino tersenyum, berusaha mencairkan suasana. "Apa Dokter Inuzuka kurang percaya diri?"
Kiba menyisir rambutnya dengan jemari, tertawa pelan menanggapi si lawan bicara. "Bukan begitu, tapi ibuku lebih percaya dengan dokter Nara, semacam sugesti." Mendapati gadis muda di hadapannya yang mengangguk sembari fokus dengan kertas resep, ia jadi tergoda untuk bertanya. "Tidak bisa baca tulisannya?"
"Eh, bukan." Ino tersenyum kikuk. "Kalau tulisan Dokter Nara saya masih paham," Jeda sejenak, sebelum ragu-ragu berucap, "saya tidak paham tulisan anda, mohon tulisannya diperjelas lagi dokter."
Lagi-lagi tawanya lolos, dan ia baru sadar jika sosok pirang di hadapannya ini cukup cantik. Mata birunya yang berpendar ketika menatap, hidung kecilnya yang mancung, kulit putihnya yang menawan dan cara bicaranya yang menyenangkan. "Wah, kau berani juga mengkritik tulisanku ya."
Ino agak tak enak mendengar lontaran kalimat si dokter, ia bahkan nyaris mengambil obat yang salah karena tak fokus. Mendadak perutnya jadi mual karena keheningan yang tercipta, apalagi tatapan dokter itu terus mengamati gerak-geriknya.
"Usiamu berapa Yamanaka?"
Gadis itu mengerjap bingung, "21 tahun, kenapa Dokter?"
Ia memasukkan sebelah tangan kedalam saku. "Masih muda sekali ya, ku panggil Ino saja tidak apa-apa kan?" mendapati ekspresi bingung Ino, Kiba menunjuk name tag yang terpasang di dada sebelah kiri si gadis.
"Te-tentu saja Dokter." Yeah, tentu saja tidak apa-apa. Selesai menyiapkan obat yang diminta, Ino mengulurkan obat tersebut pada Kiba. "Dokter, boleh minta nomornya?"
Kernyit heran muncul di kening Kiba.
"Dokter jangan salah sangka, saya hanya ingin menghubungi Dokter kalau-kalau saya tidak bisa membaca tulisan resep anda."
"Kenapa tidak menelepon pakai telepon ruangan?"
Pria ini pasti pura-pura lupa seberapa sering ia menelepon ruangannya tapi tak diangkat. "Saya tahu perawat yang jadi asisten dokter sangat sibuk, sampai tidak mau mengangkat telepon saya. Lagipula bolak-balik ke ruangan anda juga melelahkan." Mendapati ekspresi paham pada gurat lawan bicaranya, Ino tahu jika kegiatan ini tidak terlalu memalukan.
Astaga, sial. Bagaimana mungkin uangnya ketinggalan sementara makanan yang ia makan sudah habis. Tuhan, bagaimana ini? Matanya mengerling ke beberapa pengunjung rumah makan, barangkali mendapati salah satu teman yang ia kenal. Tapi sepertinya keadaan sedang tak berpihak padanya. Ia menghela napas panjang, nyaris berniat kabur tanpa membayar. Eh tapi itu kan tidak baik, lalu bagaimana ini?
Baiklah ia harus bicara dengan salah satu pegawai di rumah makan ini. Mungkin mereka bisa memberikannya kesempatan untuk mengambil uang, atau memberikan konsekuensi lain semacam mencuci piring atau apapun. Ia tidak punya banyak waktu untuk berpikir terlalu lama.
Langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki yang berdiri di hadapannya. Rasanya ia kenal siapa sosok itu, dan benar saja.
"Dokter?"
"Hai, selamat siang." Kiba menyapa. "Kau juga suka makan di tempat ini?"
Ino mengangguk pelan, dia ragu ingin meminjam uang pada pria itu. Tapi... tidak, ia lebih memilih mendapat konsekuensi cuci piring dari pada harus mempermalukan diri di hadapan dokter itu.
"Sampai jumpa ya, aku buru-buru."
Ia berusaha mengukir senyum ketika sosok jangkung itu berlalu, meski ada segumpal sesal yang bergelayut dalam dadanya. Langkahnya kembali menuju meja kasir. Dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya untuk menormalkan degup jantung yang tak terkendali.
"Nona, makanan anda sudah dibayar pria berambut coklat tadi."
"Eh?" bersamaan dengan keterkejutan itu, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Dokter Inuzuka.
Lain kali lebih teliti lagi, bagaimana mungkin makanan sudah habis ternyata uangnya ketinggalan XD
Omong-omong aku di belakangmu tadi.
Dibelakang? Astaga, pria itu pasti mendengar semua umpatan dan gumamannya yang kasar.
Ini hari paling buruk yang pernah dialaminya. Si pacar kesayangan yang ia temani sejak menempuh pendidikan militer memutuskannya. Asalannya simple, bosan dan telah menemukan gadis lain. tapi bagi Ino masalah ini bukanlah masalah sederhana. Bagaimana mungkin cintanya selama ini diacuhkan begitu saja, perhatian, semangat, nasehat dan berbagai dukungannya ternyata hanya dipakai untuk mengisi semangat selama periode pendidikan. Benar-benar mengecewakan.
Air matanya meleleh ketika jemarinya menulis,
'Akan ku tunjukkan jika aku masih dapat berdiri meski kau sudah tidak bersamaku lagi.'
Dan mengunggahnya ke media sosial. Berharap mendapat permintaan maaf dari lelaki yang ia maksud. Alih-alih begitu pesan yang masuk malah menampilkan nama dari pria lain.
'Tidak perlu sedih, kalau masih jodoh pasti akan kembali. Kalau bukan jodoh, masih banyak kok pria lain di luar sana.'
Air yang menggenang di pelupuk mata mendadak surut, bagaimana mungkin dokter itu mengomentari unggahannya? Mendadak ia jadi malu sendiri.
"Apa ini?" Ino bertanya ketika Kiba mengulurkan kantong plastik padanya.
"Untuk memperbaiki moodmu." Dan senyum miring tersembul pada bibir tipisnya.
Gadis itu mengerjap beberapa kali, menatap tak percaya dengan cokelat-cokelat batangan yang diulurkan padanya. "Ta-tapi, kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berbaik hati saja."
Parkiran yang sepi, malam yang makin petang, dan senyum Kiba yang seolah bakal menenggelamkannya dalam euforia yang berlebihan.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Kau hati-hati di jalan. Atau mau menumpang mobilku?"
Ketika alis kiri sang dokter naik sedikit, Ino merasa jantungnya tak lagi mampu menerima semua kenyataan ini. "Ah tidak dokter, aku bawa motor. Jadi terima kasih banyak untuk cokelat dan tawarannya."
"Oke, sampai jumpa lain waktu."
Ketika Kiba berlalu, Ino menghela napas panjang. Rasanya bukan cokelat ini yang bakal membuatnya diabetes, tapi senyum pria itu. Ya Tuhan, ada apa dengan Dokter Inuzuka?
Perhatian Kiba malah semakin menjadi tiap harinya. Mulai dari mengirim makan siang lewat seorang cleaning service hingga sering menunggunya di parkiran ketika mereka satu shift. Bukannya apa-apa, tapi serius Ino malu pada rekan kerjanya, meski mereka toh tak mempermasalahkan hal itu.
"Kayaknya sih Dokter Inuzuka sedang cari jodoh. Kurang apa sih dia, sudah keren, punya pekerjaan mapan, dan masa depannya cerah juga. Kalau dia menawarimu jadi istrinya, terima saja." Kata Sakura ketika datang ke ruang farmasi tengah malam itu. si gadis Haruno cuma berniat mengambil cairan NaCl dan beberapa ampul untuk seorang pasien, tapi berakhir ngobrol soal si dokter yang sedang hangat dibicarakan di kalangan perawat itu.
"Apaan sih? Aku dan Dokter Inuzuka tidak ada hubungan apa-apa. Cuma teman, dan kebetulan dia baik." Berusaha menyembunyikan kebohongannya, Ino berusaha memfokuskan tatapan pada tumpukan resep yang tersusun rapi di ujung meja. Pura-pura merapikannya lagi.
"Omong kosong. Nggak apa-apa jujur, lagi pula semua sudah tahu kalau Dokter Inuzuka naksir padamu."
"Astaga Sakura, berhenti bicara seperti itu." Ino memukul pelan pundak sang teman.
"Kenyataan kok." Gadis dengan rambut sebahu itu tertawa pelan, sebelum berjalan menuju pintu keluar. "Ya sudah, aku pergi dulu. Ingat, kalau si dokter tiba-tiba melamarmu, jangan ragu untuk menerima."
"Diamlah Sakura."
Pintu berdebam, dan tinggal Ino yang tersipu sendiri di ruangan itu. "Ya Tuhan... mana mungkin Dokter Inuzuka naksir padaku, yang benar saja."
Hujan cukup deras sore itu, sementara Ino berdiri setengah melamun di parkiran karena jas hujannya ketinggalan. Astaga, kenapa ia bisa sampai lupa memasukkannya ke jok motor? Kalau dilihat dari awan kelabu yang tampak merata, sepertinya hujannya bakal awet sampai nanti malam. Bisa gawat kalau seperti itu.
"Nggak bawa jas hujan?"
Ino setengah terlonjak karena suara berat yang tiba-tiba mengusik lamunannya. Dia tersenyum kikuk melihat Kiba dengan rambut setengah basah berdiri di dekatnya. "Iya dokter, lupa nggak bawa jas hujan."
"Ya sudah ku antar pulang saja, besok shift pagi juga kan? Biar besok ku jemput."
"Ta-tapi dokter."
"Ayo naik ke mobil, biar nggak pulang kemalaman."
Yeah, kalau sudah dipaksa begitu Ino bisa apa? Lagi pula benar juga, dari pada pulang kemalaman.
"Oh. Jadi kau disini ngekos? Sudah berapa lama?" sesekali tatapan matanya mengerling Ino yang fokus dengan jalanan di sekitar.
"Berapa lama ya? Mungkin sudah hampir lima tahunan. Soalnya sejak awal kuliah sudah ngekos sendirian di kota ini." Ia mengakuinya dengan sedikit bangga, meski mungkin bagi Kiba itu tidak ada hebatnya sama sekali.
Kiba mengangguk, dan kembali fokus mengemudi. "Hebat ya." Kalimat singkat itu sudah mampu menyulut senyum di bibir si gadis, namun ia tak menyadarinya. "Omong-omong kampung halamanmu dimana?"
"Di Osaka."
"Orang tuamu juga tinggal disana?"
"Tentu saja dokter. Memangnya kenapa?" ia agak geli dengan pertanyaan ambigu si dokter.
Kiba tak kunjung menjawab, keningnya mengernyit akibat terlalu fokus dengan jalanan di depan. Meski begitu, pertanyaan Ino masih terngiang di benaknya. "Mau ngelamar kamu."
"Eh?" Ino terkejut parah dengan jawaban singkat sang dokter yang seolah santai namun serius.
"Bercanda." Dan tawanya mengalun, dia sempat mengerling si gadis yang tampak kaget parah dengan pipi bersemu merah. "Eh tapi, kau belum punya pacar kan Ino?"
Kali ini Yamanaka tak mampu memberikan jawaban, sebab Kiba pasti tahu jika setelah putus dari pacarnya yang terakhir ia tak sedang menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Kalau begitu aku punya peluang kan untuk dekat denganmu?"
Please, Ino tidak paham dengan lelucon yang dimainkan pria ini. Tapi serius, ini membuat jantungnya seolah bakal berhenti dalam waktu dekat.
Ino tidak menyangka jika Kiba bakal datang ke kosnya sore itu. Mendung bergelayut di langit tanda hujan bakal segera turun. Astaga, kenapa pria itu nekad betul sih?
"Dokter kok nggak bilang kalau mau datang?" Ino setengah panik, dan benar-benar malu dengan penampilan sederhananya. Tidak nyaman saja membiarkan Kiba melihatnya dalam balutan celana training dan kaos lengan pendek yang terkesan terlalu biasa.
"Jadi aku harus ijin dulu ya? Ku kira masalah bertamu itu bisa kapan saja, lagipula ini masih sore, bukan jam-jam yang terlalu menganggu untuk bertamu."
"Tapi... " Ino tak memiliki jawaban untuk menyanggah, benar juga sih. "Aku kan bisa menyiapkan sesuatu untuk dokter, maksudku, mungkin membelikan camilan."
"Nggak perlu. Justru aku kesini karena mau memberikan ini," tangannya malah mengulurkan kantong plastik berisi banyak sekali roti serta buah-buahan. "Makan yang banyak ya, biar nggak dikira kurang gizi."
Astaga, andai ini bukan orang yang sangat dihormatinya, Ino pasti sudah menoyor kepalanya. "Dokter nggak perlu repot-repot seperti ini."
"Nggak merepotkan kok," matanya menatap ruang kos Ino yang benar-benar sempit. Tempat tidur, rak buku, lemari, dan alat untuk memasak jadi satu di ruangan itu. Tapi, Ino sepertinya tetap mempu menjaga ruangan sempit itu jadi rapi.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Sampai jumpa ya."
Bahkan sampai mobil Kiba berlalu pun, Ino masih mematung di tempat. Demi Tuhan, sepertinya ucapan Sakura waktu itu benar adanya.
Diam-diam Ino begitu menikmati semua perhatian yang Kiba berikan. Sang dokter sering memberikan makanan, buah, bahkan pernah sekali membelikannya gaun yang menurut Ino terlalu mewah. Kendati sampai hari ini belum mengungkapkan rasa yang sebenarnya, Ino tahu Kiba betul-betul menyukainya. Ia senang-senang saja, lagipula Kiba keren, karirnya mapan, kalau memang pria itu berniat serius, Ino bakal mengiyakan tanpa perlu pikir panjang.
"Ambil roti yang banyak, sesukamu mau pilih rasa apa. Kalau mau susu juga nggak apa-apa."
Ino mengangguk malu-malu, malam itu Kiba mengajaknya belanja bahan makanan. Katanya untuk mengisi persediaan kulkas di rumah, tapi ketimbang membeli keperluannya sendiri, rasanya sang dokter malah sibuk memilihkan bahan makanan untuk Ino. "Terimakasih dokter, Anda baik sekali."
Kiba hanya tersenyum menanggapinya. Ia nyaris membalas ucapan Ino, namun urung ketika sebuah suara menyapa.
"Hei, Kib? Ngapain?" Pria itu berambut gelap, tinggi, dan kaca mata hitam bertengger di wajahnya.
"Shino? Kebetulan sekali," mereka berdua saling bersalaman. "Ini sedang membeli bahan makanan. Kau sendiri?"
"Aku cuma mampir beli minum," Shino mengerling Ino yang membungkuk padanya, gadis itu tersenyum sebelum kembali memilih roti. "Pacar baru?"
"Calon istri."
Yamanaka nyaris tersedak, namun ia diam saja sambil kembali mengulas senyum.
"Oh, seleramu bagus."
"Kenapa diam saja dari tadi?" Kiba mengawali pembicaraan ketika mereka berada di dalam mobil. Hujan turun, dan suaranya membuat Ino makin canggung.
"Eh, nggak apa-apa dokter."
"Mikirin ucapanku ke Shino tadi ya?"
Mata Ino agak melebar, sejujurnya iya, tapi dia tak berani menjawab.
"Aku serius kali ini," Inuzuka menghela napas pelan. "Kalau ku bilang aku menyukaimu, apa kau punya perasaan yang sama?"
Damn, Ino yakin jantungnya nyaris berhenti.
Semenjak pernyataan cintanya malam itu, Kiba menghilang. Tidak lagi datang ke klinik untuk praktek, tidak ada kabar, nomor ponselnya tidak aktif, media sosialnya pun seperti tak lagi berpemilik. Ino kesal, sangat kesal karena merasa Kiba cuma mempermainkannya. Seolah laki-laki itu mendekatinya selama ini cuma untuk menakhlukkan hatinya. Cuma untuk menguji sejauh mana dia bisa mendapatkan hati seorang Yamanaka Ino. Astaga, kenapa ia bisa begitu percaya pada perhatian dan segala hal yang ditunjukkan lelaki itu?
"Tahu nggak, dokter Inuzuka sudah keluar dari sini," sore itu Sakura sengaja mengajak Ino makan berdua di kedai ramen untuk menyampaikan hal itu.
"Keluar? Maksudnya?"
"Ya, nggak kerja di klinik lagi," Gadis Haruno itu menghela napas pelan. "Aku dengar dari dokter Nara kalau dokter Inuzuka dijodohkan."
Ino diam, jantungnya rasanya jatuh ke dasar perut. Detakan di nadinya seolah mengirimkan jutaan nyeri yang tak bisa dideskripsikan. Ia mati-matian menahan panas, berusaha keras agar maniknya tak menjatuhkan air mata sekarang.
"Ino?"
"Ya?" ramen yang menguarkan aroma sedap tak lagi membuatnya berminat. Dokter Inuzuka tidak bekerja lagi di klinik, dia dijodohkan? Ini tidak bohong kan? Apa itu alasan si dokter menjauhinya? Atau mungkin sejak awal ia hanyalah mainan penghibur untuk si dokter?
"Kau nggak apa-apa kan?"
"Tentu saja, memang aku kenapa?"
Sakura tahu, gelagat Ino tak bisa bohong. "Tapi kau dan dokter Inuzuka kan--"
Dengan napas yang agak tercekat, Ino berusaha merangkai alasan untuk menjawab apapun yang bakal Sakura tanyakan. Namun dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi membuatnya lega mendadak. Untuk pertama kalinya ia begitu bahagia mendapat panggilan di tengah acara makan. "Tunggu sebentar ya, kurasa ini penting."
"Uhm, oke."
Itu bukan panggilan yang penting. Sebab itu hanyalah si ibu kos yang menanyakan apakah Ino sudah memberi makan kucingnya tadi pagi. Ia memasang wajah serius sembari menjawab singkat, berharap ia punya alasan untuk segera menyingkir dari tempat itu.
"Siapa?" Tanya si gadis Haruno saat Ino selesai dengan acara berteleponnya.
"Aku harus segera pergi sekarang. Ada urusan penting." Gerakannya begitu terburu-buru ketika mengambil tas, dan beranjak pergi. Tak peduli dengan tatapan si lawan bicara yang heran dengan tingkahnya.
"Ino, tapi kau belum memakan ramenmu sama sekali.
Yamanaka bahkan tak menoleh ketika melambaikan tangan sebagai tanggapan. Air matanya meleleh saat melewati pintu, demi Tuhan, dadanya begitu sesak. Tidak mudah menahan sakit hati, dan pura-pura baik-baik saja.
Andai saja Ino tak butuh makan setiap hari, tidak perlu cari uang buat bayar kos dan tidak harus membuat orang tuanya tetap merasa dirinya baik-baik saja, ia pasti sudah berhenti bekerja. Atau pindah tempat kerja saja ya? Ia merasa dighosting parah. Bisa-bisanya orang yang selalu membuatnya terpesona adalah orang yang paling membuatnya tersakiti seperti ini.
Kalau benar dokter Inuzuka bakal ditunangkan dengan wanita pilihan orang tuanya, apakah ia akan diundang ke pernikahan itu? Kalau memang diundang ia pasti tak memiliki alasan untuk menolak pergi. Teman-teman kerjanya pasti datang semua. Bagaimana ini? Ino tak akan mampu melihat si dokter bersanding dengan wanita lain. Ya Tuhan...
Apa ia harus pulang ke Osaka saja? Dengan begitu ia punya alasan untuk menghindar, ia bisa memulai dari awal, ia tak harus selalu dapat ucapan semangat dan simpati setiap menjalani shift.
Baiklah, Ino merasa hatinya mantap untuk membicarakan hal ini dengan Apotekernya.
Nyatanya ia tak pernah mampu mengungkapkan keinginannya pada si Apoteker. Sampai beberapa hari berlalu, dan semua orang mulai melupakan jika Ino pernah dekat dengan si dokter Inuzuka. Rasanya semua mulai berjalan normal lagi.
Namun yang tak pernah semua orang tahu, setiap malam Ino menangisi kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Ditinggal pacar yang sudah ia temani melewati suka-duka, giliran sukses malah cari gadis lain. Lalu dapat dokter keren malah ditinggal nikah dengan wanita pilihan orang tuanya.
Sial benar sih nasibnya.
Bintang-bintang berusaha keras mengedipkan cahaya redupnya dari balik kabut tipis yang menyelimuti langit di luar jendela kamar kosnya. Setelah berjam-jam berusaha memasukkan beberapa baju ke dalam koper dan merapikan buku-buku bacaannya, Ino duduk di ranjang sembari menghela napas panjang. Ia akan pulang ke Osaka dalam waktu dekat, tidak peduli apapun konsekuensinya.
'Tuk tuk tuk.'
Suara ketukan pintu menggema di seluruh ruangan, namun ketimbang menatap ke pintu, ia lebih dulu menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjuk angka sembilan lebih. Tidak biasanya ada yang datang di jam seperti ini.
'Tuk tuk tuk.'
Ketukan pintu itu makin keras sekarang. Jujur Ino agak panik, namun ia tetap berusaha melangkahkan kaki ke arah pintu. Selama ini tak pernah terjadi hal yang aneh-aneh, dan kalaupun orang diluar mau merampoknya pastilah dia sudah mendobrak jendela dari tadi.
'Tuk tuk tuk.'
"Iya seben... tar." Ino terkejut bukan kepalang, angin malam yang berhembus dingin di sepanjang kulitnya tak lagi terasa. Pemuda yang berdiri di luar pintu kosnya menyedot perhatiannya.
"Aku mengganggumu ya?" Tanyanya diantara napasnya yang tersengal parah. Ia tak peduli pada jasnya yang tak lagi rapi, dan dasi yang sudah nyaris lepas dari kerah kemejanya.
Puluhan pisau seolah mengerat pembuluh darah Ino, bagaimana mungkin pria yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya sekarang muncul dalam keadaan seperti habis dikejar anjing dan peluh yang mengalir di pelipis. Lidahnya kelu, ia tak tahu apa yang ingin ia ucapkan.
"Aku, aku minta maaf." Kiba menatap lekat mata Ino, semua luka terpancar jelas dalam kubangan biru jernih itu. Namun ketimbang mengucapkan sesuatu, Ino justru bergerak untuk menutup pintu. "Hei, jangan ditutup. Ada yang ingin kujelaskan padamu." Tangannya mendorong pintu dengan kuat, memaksa masuk.
"Untuk apa dokter kemari?" Dadanya sesak, tak mampu lagi menahan gejolak air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan. "Dokter nggak seharusnya berada disini," tangannya mendorong Kiba, namun tak cukup kuat untuk membuat lelaki itu berpindah dari tempatnya.
Dengan sebelah tangan, Kiba menutup pintu dan mendorong Ino ke dinding. Tak mempedulikan perlawanan dari si gadis, Kiba mencium bibirnya dengan paksa. Melumatnya, dan berharap gadis itu mau diam sejenak, alih-alih makin terisak.
"Apa yang dokter lakukan?" Jantungnya berdetak tak terkendali, campuran rasa takut, marah dan kerinduan bercampur jadi satu. "Dokter mau memperkosaku ya?"
Diantara lelah dan penat yang beberapa hari ini membuatnya kalang kabut, Kiba tertawa pelan. "Mungkin."
"Bajingan," Ino mendorong dada pria itu kuat-kuat, membuat Kiba sedikit mundur, namun kemudian maju lagi. Lelaki itu menempelkan bibirnya ke dahi Ino, menciumnya.
"Maafkan aku. Aku tidak mungkin melakukan itu padamu."
Tangan Ino gemetaran, ia ingin memeluk pria itu erat-erat bahkan jika ini bakal jadi terakhir kalinya sebelum Kiba jadi milik orang lain. Namun ia tak mampu, ia tak mampu bergerak, ia tak mampu membiarkan pria ini dimiliki wanita lain. Dan semua itu membuatnya putus asa. "Dokter tak perlu datang kemari kalau cuma untuk minta maaf," ia tak mampu menghentikan isakannya, bahkan ketika Kiba merengkuhnya erat-erat.
"Selain minta maaf, aku kemari ingin mengajakmu menikah. Apa kau mau menikah denganku?"
"Eh?" Dengan terburu-buru, ia melepaskan diri. "Anda sudah gila?"
"Barangkali memang begitu." Inuzuka lagi-lagi tertawa.
"Lebih baik dokter pulang saja, aku nggak akan mau kalau dokter mengajakku kawin lari." Ketika tatapan mereka bertemu, Ino menemukan kesungguhan yang menggebu dalam manik lelaki itu.
"Siapa yang mengajakmu kawin lari?"
"Lalu?"
"Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku." Ia menggenggam tangan Ino, merasakan kehangatan yang telah lama ia rindukan. "Mereka mau menjodohkanku karena mengira aku tidak punya calon sendiri."
Isakannya sepenuhnya berhenti, dan ribuan kupu-kupu seolah berterbangan dalam perutnya.
"Jadi, Yamanaka Ino maukah kau menikah denganku?"
Demi Tuhan, kejutan macam apa ini? Bagaimana mungkin Pria ini melamarnya dalam keadaan sekonyol ini? Jantungnya bahkan seolah melewatkan satu degupan.
"Tapi kenapa dokter seolah menghilang beberapa hari ini? Yang lain bilang dokter sudah keluar dari klinik, itu benar ya?" Setelah insiden dramatis itu, mereka berdua memutuskan keluar ke sebuah kedai yang masih buka. Dari pada saling ngobrol di kamar kos dan berpeluang dicurigai melakukan sesuatu.
"Yeah, aku keluar dari sana." Kiba menatap hidangan makanan di hadapannya, sejujurnya tak benar-benar ingin makan. "Aku pindah ke rumah sakit Tokyo."
"Oh." Ino mengangguk, sedari tadi tangannya sibuk mengaduk kuah ramen, tapi tak berniat untuk memakannya. "Lalu kenapa nomor dokter juga nggak aktif?"
"Ponselku hilang."
Gadis itu mengangguk lagi, dan baru sadar jika mereka berdua pasti seperti pasangan yang aneh. Si lelaki memakai jas sementara si gadis malah memakai baju yang kelewat santai, tapi masa bodohlah.
"Maaf ya, aku nggak menghubungimu dan membuatmu salah paham sejauh ini. Tapi yeah, kurasa itu bukan masalah lagi kan sekarang?"
Itu benar, semua itu tak terlalu jadi malasah lagi sekarang. "Dan kenapa sekarang seolah baru kabur dari penculikan?"
Pertanyaan kali ini membuat Kiba tertawa. "Aku memang kabur, kabur dari acara makan malam bersama keluarga wanita yang bakal dijodohkan denganku."
"Apa?"
"Lupakan saja, lagipula mereka tidak akan menemukanku disini." Tak terlalu menghiraukan ekspresi terkejut si lawan bicara, Kiba mulai memakan ramennya. "Dan satu lagi, berhenti memanggilku dengan embel-embel dokter. Itu membuatku agak risih."
Ino mengerjap beberapa kali, agak bingung. "Jadi aku harus memanggil apa?"
"Panggil saja sayang."
Astaga, Ino memutar mata jengkel. Sementara lelaki di hadapannya hanya menyeringai.
Asal Ino tahu saja, Kiba pura-pura pergi ke toilet dan keluar dari rumah makan dengan hanya membawa dompet, tanpa ponsel dan kunci mobil. Jadi, dia terpaksa berlari ketika tak menemukan satu pun taksi di sekitar rumah makan. Yeah, kadang kalau soal cinta, ada yang memang harus dikorbankan.
end
.
~Lin
31 Oktober 2021
