naruto (c) masashi kishimoto

REDEMPTION adalah fanfiksi yang ditulis oleh Yagitarou Arisa menggunakan ide, plot, dan latar yang dikembangkan oleh magma_ maiden. Cover art by prinz fricorith; do not steal/repost.

Versi lengkap dari fanfiksi ini bisa diakses di AO3, dengan rating di atas M

Modern Crime AU, latar vaguely the 90s. Mercenary!Madara/fem!Hashirama. Mengandung elemen seks dan kekerasan. Bittersweet.


.

.

Malam itu, Madara tidak punya pekerjaan.

Menyebalkan memang. Padahal, dia bukan lagi anak bau kencur yang tidak layak untuk bekerja. Madara adalah seorang pria dewasa. Tuntutan hidupnya banyak dan berat.

Adiknya ada di rumah sakit, tidak sadarkan diri, dan semua alat penunjang kesehatan yang digunakan untuk membuat adiknya tetap bernapas membutuhkan banyak sekali biaya. Telat membayar sedikit saja dan para dokter tidak akan segan mengancam Madara yang miskin pun tak lagi punya asuransi. Kapan saja pihak rumah sakit bisa melepas alat bantu napas dari adiknya dan Madara paling tidak mau hal itu terjadi.

Namun, setelah satu harian berkeliling kota untuk mencari pekerjaan apapun yang tidak membutuhkan ijazah untuk proses melamarnya, tak satu pun pekerjaan ada untuknya, membuat satu harinya terasa begitu sia-sia, terlebih karena Madara menghabiskan uang untuk bensin dan rokok untuk menemaninya pergi ke sana-kemari. Dompetnya semakin tipis dan pemasukan semakin jauh dari gapaian tangan. Kini kepala Madara terasa pengar. Madara yang stress sekarang tidak bisa berhenti mengumpat.

Dia tahu betul kalau krisis moneter yang terjadi di kota masih merajalela hingga orang-orang dari kalangan pegawai sekalipun banyak yang terpaksa harus dirumahkan dari pekerjaannya. Perusahaan skala raksasa seperti Ootsutsuki sekalipun memecat lebih dari separuh pegawainya karena rendahnya permintaan produksi dari masyarakat. Namun, apa perlu orang-orang serabutan seperti Madara juga harus kena imbas pergolakan ekonomi sampai-sampai tidak menghasilkan uang sepeser pun?

Ha, jangan bercanda.

Jalanan kota yang sepi mengarahkan Madara untuk menyetir ke arah sebuah klub yang ada di pinggiran kota. Sama seperti biasanya, klub langganannya itu tidak begitu ramai. Tidak banyak mobil parkir, bahkan sepeda motor sekalipun bisa dihitung dengan jari di satu tangan saja. Musik yang diputar di dalam klub itu tidak keras terdengar. Lalu-lalang perempuan-perempuan berpakaian minim tidak terlalu kentara, biar suasana remang-remang klub itu tidak juga sirna dari waktu ke waktu Madara mengunjunginya.

Mesin mobil segera ia matikan. Madara menarik kotak rokok yang ada di dasbor sebelum turun dari mobil dan mengunci pintunya. Langkah kaki jenjangnya yang lesu pelan membawa Madara memasuki klub yang sesak dan pengap oleh aroma alkohol murahan dan asap dari linting tembakau yang tidak kalah murahnya. Samar bahkan Madara bisa mencium ganja dibakar dan aroma pesing dari toilet yang mungkin sudah puluhan tahun tidak pernah dibersihkan. Menjijikkan memang, tapi Madara tidak dapat mengeluh; tempat seperti ini memang paling cocok untuk orang berkocek rendah seperti dirinya.

"Master." Madara duduk dan memanggil lelaki tua yang sudah lama jadi bartender di klub tersebut. Lelaki tua itu berbalik, meninggalkan gelas yang sedang dilapnya dan mendatangi Madara dengan senyum miring di wajah keriputnya sembari bertanya, "Mau pesan apa?"

Madara hanya mengangkat satu jarinya dan bartender tua itu segera menarik sebuah gelas dari rak, mengucurkan bir dari tong kecil yang ada di dekat meja counter. Tanpa mengatakan apapun, dia meletakkan gelas berisi bir itu di hadapan Madara, sedikit tumpah-tumpah karena busa melimpah ruah di atasnya. Ingin rasanya Madara memprotes, tapi sekarang Madara cukup tahu diri dan sedang tidak berminat untuk mencari gara-gara; dia membiarkan bartender tua itu melenggang mengurusi pelanggan lain yang meminta tambah.

Madara menyeruput sedikit birnya, membasahi mulut yang kering dan lidahnya yang terasa pahit karena nikotin rokok. Cecair alkohol itu kemudian jatuh ke kerongkongannya, menggelitiknya alih-alih memberi sensasi membakar, yang tidak sampai sedetik kemudian melepas stress yang berkumpul dalam kepala.

Bir untuk Madara adalah candu, tapi Madara yang sedang miskin tahu mengerem mulut. Madara berhenti minum sejenak ketika bir di gelas tinggal setengah. Uang yang terbatas membuat ia tidak bisa meminta tambah. Malam masih panjang dan Madara masih ingin merenungi nasib yang menyedihkan.

Madara lantas mengeluarkan kotak rokok dari balik saku jaketnya. Sebatang sigaret ditarik sebelum diselipkan ke antara bibirnya yang berwarna gelap. Aneh tapi tak ada mancis di tempat rokoknya. Entah ke mana perginya padahal biasanya Madara apik menyimpan barang. Madara segera memeriksa saku demi saku di celana jeans kotornya, menggeledah kantung-kantung di jaket dan kemeja lusuhnya demi mancis murah yang tidak hari dibelinya dari minimarket stasiun pengisian bahan bakar.

"Halo, tampan. Butuh pemantik? Kau bisa pakai punyaku kalau kau mau." Seorang wanita mengulurkan pemantik padanya. Namun, suaranya tidak asing di telinga.

Mana mungkin—

Madara melirik dan dua pasang netra gelapnya kemudian membulat tak percaya.

"Hai!"

"…"

Madara terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. Matanya masih terbelalak. Rokok yang terselip di antara bibir bahkan sampai jatuh ke pangkuan.

"Lama tak bertemu, Madara."

"…"

"Hei, kau tidak mau mengambilnya?" tanya perempuan itu. Senyum di bibir berlapis gincu yang merah menyala itu terlihat pelan berubah jadi seringai usil. "Atau perlu aku yang menyalakan rokok itu untukmu?"

Madara mendengus dan menyambar pemantik tersebut galak. Dia mengambil sebatang rokok baru dan memutar pemantik itu cepat hingga sepercik api muncul, membakar rokok yang terselip di antara bibirnya hingga bara api muncul setitik demi setitik, mengubah tembakau jadi abu.

Madara beberapa kali menghisap rokoknya, merasakan nikotin menyapa rongga mulut bersama dengan asap yang turut mampir ke saluran napasnya. Senyum sok asyik perempuan itu membuat Madara mendengus kuat-kuat. Asap rokok yang berkumpul di mulut lalu keluar dari hidung semuanya.

Pemantik itu kemudian ia kembalikan cepat-cepat. Madara diam, tak mengatakan apapun. Punggungnya bahkan segera berbalik kemudian.

"Hei, setidaknya katakan sesuatu! Begitu caramu menyapa kawan lamamu, Madara? Setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu?" cibirnya ramai. Belum lima menit dan mulutnya sudah cerewet benar. "Aku jauh-jauh mencarimu sampai kemari dan ini balasanmu? Mengabaikanku? Benar-benar tega!"

Lidah Madara berdecak sebal. Entah sial macam apa hari ini yang menimpanya, sudah siang tidak dapat kerja, malamnya bertemu dengan seseorang yang super bawel pula.

"Madara—"

"Apa yang kau lakukan di sini, Hashirama?" Madara membalik lagi posisi duduknya, kini menghadap perempuan itu dengan sepasang matanya yang memincing sebal. "Kuharap kau tidak membawa masalah apapun sampai-sampai mencariku kemari."

Perempuan itu, Hashirama, tersenyum lebar kemudian. Gigi-gigi putihnya entah kenapa jadi terlihat seperti lampu sorot di tempat remang-remang ini.

Dan Madara punya perasaan tidak baik dengan senyum itu.

"Kau punya masalah, bukan?" tuduh Madara. Matanya memandang Hashirama tajam dan perempuan itu kemudian manggut-manggut malu.

Nah, benar, 'kan.

"Dengar, aku tidak peduli," tandas Madara cuek. Dia menenggak habis birnya dan bangkit, hendak meninggalkannya, tapi Hashirama cepat mencekal tangannya hingga Madara tak bisa bergerak.

"Dengarkan aku dulu!" seru Hashirama. "Aku akan pesankan minuman. Temani aku mengobrol saja, oke?"

Untuk sedetik lamanya, Madara bertatap-tatapan dengan dua netra gelap Hashirama yang berbinar-binar penuh harap padanya. Ekspresi menggemaskan perempuan yang dulu sempat satu sekolah dengannya itu kemudian membuatnya luluh; Madara kemudian mendaratkan kembali bokongnya ke tempat duduknya semula seraya mendengus kuat-kuat.

"Aku hanya akan mendengarkan."

"Iya, iya! Kau hanya akan mendengarkan dan mengobrol. Itu saja." Madara mengangguki dan tangannya lalu teracung, dia memanggil bartender tua itu, memesan dua gelas wiski untuk mereka berdua.

Madara terkejut Hashirama memesankan mahal untuknya hingga diam-diam Madara menyeringai karenanya.

Kapan lagi bisa minum wiski dan ditraktir lagi?

Hashirama adalah wanita kelas berada, sudah hampir tidak mungkin dia membelikan murah untuk Madara.

Selagi menunggu bartender itu menyiapkan minuman mereka, Madara berusaha mengalihkan perhatiannya pada objek lain selain perempuan yang sedang bersenandung di sebelahnya. Ada perasaan menggelitik yang membuat Madara canggung hingga jantung di balik dadanya sekarang sedang berdegup tak keruan dan perutnya terasa melilit seperti sedang keracunan. Lagu yang diputar di pengeras suara klub malam itu juga mengambil peran untuk membuat suasana diam-diaman di antara Madara dan Hashirama jadi terasa sangat canggung. Banyak pasang mata juga kini tertuju pada dirinya karena Hashirama yang cantik duduk di sebelahnya.

Hashirama datang ke klub sumpek itu penuh gaya; dengan rok pendek yang hanya mencapai separuh pahanya, kemeja putih ketat di bagian dada dan blazer biru yang membuatnya terlihat sangat kontras dibandingkan dengan pengunjung yang lain yang hampir semua berpakaian lusuh, vulgar, dan tidak enak dilihat. Pakaian Hashirama cukup untuk membuat Madara jadi merasa minder dan kesal di saat yang sama. Dia mengutuk diri sendiri dalam hati kenapa pakaian yang dia kenakan tidak ada rapi-rapinya sama sekali dan kenapa orang secantik dan serapi Hashirama harus mampir segala ke klub menyedihkan macam ini.

Madara menghisap pelan rokoknya. Dua bola matanya tidak berhenti jelalatan mencari objek atensi yang lain, sesuatu yang menarik, supaya jangan sampai dia melirik wanita di sebelahnya.

Namun, tidak peduli seberapa keras Madara mencoba mengalihkan perhatiannya, dia ujung-ujungnya kembali melirik Hashirama, tidak peduli kalau sekumpulan perempuan berpakaian super minim, yang sukses memamerkan setengah bongkahan pantat dan payudaranya juga kulit paha dan perutnya yang mulus menggoda, tengah bergelayutan dengan seorang pria tua yang sudah mabuk dibuat botol demi botol minuman keras yang dicekoki ke mulutnya.

Madara benci diam-diam saja. Curi-curi pandang tanpa mengatakan apapun membuat dirinya merasa seperti seorang pengecut yang hobi menguntit perempuan. Namun, Madara tidak tahu harus berbuat apa. Dia paling benci kalau harus disuruh membuka percakapan.

Lagipula, aku harus bilang apa?!

"Selama ini kau ke mana saja?" Tidak disangka-sangka, Hashirama kembali membuka percakapan setelah sekian menit berlalu dalam diam. Tidak ada lagi suara bermain-main di suaranya. Perempuan itu tiba-tiba terdengar begitu serius. Bahkan dua bola matanya tidak lagi berbinar-binar seperti sebelumnya.

"Aku selalu ada di sekitar sini."

"Jangan bohong."

"Beberapa bulan ini aku selalu ada di sini," Madara mengoreksi diri sendiri. "Bagaimana? Kau senang sekarang?"

Bibir Hashirama lalu terangkat jadi cengiran yang menggemaskan, yang membuat jantung Madara detik itu kehilangan satu ketuk ritmenya.

Aih, sial.

"Bagaimana denganmu?" tanya Madara. "Ke mana saja kau selama ini?"

Ada jeda sebelum Hashirama menjawab, "… Aku juga selalu ada di sini."

"Huh? Aku tidak pernah melihatmu."

"Kota ini tidak sekecil yang kau kira, kawan. Mau bagaimana pun juga kota ini sepuluh, hmm, dua puluh kali lebih besar daripada gedung sekolah kita dulu. Dengan luas sebesar itu, memangnya kau bisa melihat semua orang dalam waktu satu hari, ha?" sahut Hashirama sok hingga Madara tidak lagi sanggup mengatakan apapun. "Jangan pasang wajah bodoh begitu, Madara. Aku jadi ingin menciummu."

Wajah Madara mengerut, membuat ekspresi jijik yang dibuat-buat hingga Hashirama tertawa melihatnya. Kebiasaan Hashirama menggodainya belum berubah, membuatnya geli meski bukan bohong Madara jadi bernostalgia karenanya.

"Tapi serius, Hashirama—"

"Aku serius."

"Aku belum selesai bicara, Nona Senju," cibir Madara dan Hashirama tertawa saja, terlihat sangat-sangat cuek seperti tidak punya masalah apa-apa. "Ada apa sebenarnya kau mencariku?"

"Aku kebetulan lewat dan kebetulan menemukanmu di sini."

"Kebetulan lewat dan kebetulan menemukanku di sini sampai-sampai kau membawa tas sebesar itu?" Madara melirik ke arah tas yang dibawa Hashirama, yang terletak di lantai kotor yang menghitam karena tidak pernah dibersihkan entah sejak kapan. Dia lalu memicingkan mata dan menatap Hashirama curiga. "Kau sedang dalam masalah, 'kan?"

"Kenapa kau selalu menuduhku begitu, sih?"

"Ayolah, Senju. Berhenti bercanda. Aku bukan baru mengenalmu satu atau dua tahun yang lalu," kata Madara.

"Tapi kita baru bertemu sekarang setelah beberapa tahun—"

"Apa itu mengubah segalanya? Seseorang bisa saja tidak berubah dalam waktu beberapa tahun, kau tahu."

Hashirama lalu tersenyum lemah. "Kau benar," katanya.

"Jadi apa?"

"Aku berjudi."

"Hm."

"… dan aku mempertaruhkan tempat tinggalku."

"Hm."

"Nah, itu masalahnya! Sekarang aku tidak punya tempat tinggal lagi. Mereka mengusirku petang tadi!" seru Hashirama gemas sendiri.

Sudut-sudut bibir Madara terangkat, menahan tawa.

"Kita mungkin sudah tidak pernah bertemu selama satu dekade lebih dan kau masih sama bodohnya seperti kau di umur dua belas tahun," Madara mengejek, tanpa menatap Hashirama, membuat perempuan itu mengerucutkan bibirnya sebal.

Dua gelas wiski lalu diletakkan di hadapan mereka. Dalam satu teguk, Hashirama menghabiskan setengah isi gelasnya, alih-alih merutuki sebal Madara yang terlihat bangga sekali karena sudah berhasil mengejeknya.

"Habisnya aku putus asa!" Hashirama membela diri dan Madara mulai menertawainya.

"Orang bodoh mana yang putus asa dan memilih untuk berjudi?"

"Hei! Aku punya alasan untuk itu!" Hashirama bersikukuh. "Kupikir kalau aku bisa bertaruh dengan sesuatu yang lebih besar, aku akan memiliki peluang yang lebih untuk menang—ah, Madara! Jangan menertawaiku seperti itu, sialan!"

Namun, tawa Madara semakin kencang. Meja yang tak berdosa pun jadi ikut dipukuli karena rasa geli yang menggelitik perut

"Uchiha Madara…" keluh Hashirama. Suaranya rendah. Kelopak matanya menyipit sebagai peringatan.

Madara lalu diam, berhenti tertawa dengan menggigit bagian dalam pipinya.

"Ah, baik, baik. Aku berhenti, aku berhenti. Jangan memandangku seperti itu lagi." Madara lalu berdeham. Ekspresinya kembali jadi serius. "Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Sampai aku mendapatkan pekerjaan, boleh aku menetap di rumahmu dulu? Aku akan membayar separuh biaya sewanya… hmm… bahkan bersih-bersih dan masak untukmu!"

"Kau yakin?"

"Daripada aku tinggal di jalanan. Kau tega, ha?"

"Aku sih tidak masalah kau mau tidur di mana." Madara mengedikkan bahunya lagi, separuh bercanda, separuh lagi sama sekali tidak peduli.

"Madara."

"Baiklah, baiklah," tandas Madara dan Hashirama tersenyum lagi, sangat-sangat cerah sampai-sampai Madara silau sendiri melihatnya. "Hanya sampai kau dapat pekerjaan. Kau juga benar-benar harus menepati janjimu untuk bersih-bersih dan masak di tempatku."

"Tentu! Kau bisa pegang janjiku."

"Habiskan minumanmu. Biar kita pulang."

Tidak diperintah dua kali, Hashirama menghabiskan wiskinya dalam sekali tenggak.


Hashirama agak terkejut ketika Madara memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan apartemen reot yang terlihat begitu menyedihkan. Dindingnya sudah menguning dan terlihat kusam, di bagian tertentu bahkan berjamur dan berlumut, ada pula tanaman sulur menyeramkan di tiang-tiangnya, memberi kesan angker seperti bangunan yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah dihuni oleh seorang manusia pun.

"Ayo."

"A, ah, o-oke" Hashirama sudah bergidik duluan membayangkan bagaimana keadaan bagian dalam bangunan itu setelah melihat bagian luarnya yang jauh dari kata layak, tapi mau tak mau kakinya terus mengikut Madara yang sudah berjalan duluan masuk ke dalam bangunan kumuh itu.

Benar saja dugaan Hashirama.

Bagian dalam bangunan seratus kali lebih parah daripada bagian luarnya.

Hashirama ingin memaklumi kalau Madara adalah seorang lelaki dewasa, yang mungkin benar-benar sangat malas bahkan untuk melakukan hal sesederhana bersih-bersih dan membuang sampah, tapi tidak hanya di depan kamar Madara, kamar-kamar tetangganya pun tidak kalah jorok terasnya. Sama sekali tidak ada sedikit pun kebersihan dan bau sampah-sampah itu benar-benar menyengat hingga Hashirama merasa mual.

Hashirama jelas tidak bisa menyembunyikan rasa jijiknya. Dia melompat-lompat kecil selama melewati tumpukan demi tumpukan sampah yang tak terurus, yang tersebar di sepanjang lorong, tidak ingin membuat kaki berlapis stoking dan tasnya terkena air-air dari bungkus-bungkus raksasa berisi sampah yang super bau.

"Ini kamarku." Madara mengeluarkan kunci dari sakunya. Dia lalu melirik Hashirama dengan tatapan penuh selidik. "Kau yakin kau mau tinggal di sini?"

Bukannya membuka pintu, Madara justru bertanya. Kuncinya sudah tercantel di lubang, tapi Madara tidak memutarnya, menunggu Hashirama menjawab.

"Eh?"

"Tempat ini sangat menjijikkan, kau tahu. Banyak sekali orang-orang yang lebih menyebalkan dariku tinggal di sini."

Hashirama menggenggam erat tali tasnya, menggigit sudut bibir selagi mengamati sekitar untuk kesekian kalinya.

Tempat tinggal Madara benar-benar jauh dari ekspektasinya. Hashirama mengira kalau setidaknya Madara akan tinggal di apartemen yang terlihat normal—bangunannya masih terlihat kokoh dan catnya masih berkilau cerah dan terurus. Kalau pun tidak seperti itu, setidaknya lingkungan apartemen itu bersih dan terawat, persetan dengan bangunan tuanya yang menyeramkan.

Namun, kenyataan memukul Hashirama telak.

Apartemen Madara sungguh-sungguh mengerikan.

"Dengar, aku bisa mengantarkanmu ke hostel murah di dekat sini. Biayanya tidak terlalu mahal tapi tempatnya jauh—"

"Aku akan tetap akan tinggal di sini," putus Hashirama tegas. Dia mengepalkan tangan dan membusungkan dada, terlihat ingin memberanikan diri dan tidak terlihat ragu-ragu sama sekali. "Aku tidak selemah itu. Kondisi seperti ini tidak akan menghalangiku sama sekali!"

"Baiklah, kalau itu maumu." Madara mengedikkan bahunya cuek dan memutar kunci. "Kalau begitu, ayo masuk—oh, tetap pakai sepatumu omong-omong. Beberapa hari ini aku tidak pulang dan menginap di mobil, jadi mungkin sekarang lantainya sudah berdebu."

"Ah, pantas saja. Tidak heran mobilmu itu tercium seperti gabungan bau apak dan bau alkohol di saat yang bersamaan," canda Hashirama yang disambut dengan tatapan tak suka oleh sepasang mata Madara yang galak. "Aku bercanda, Madara. Jangan bersikap galak seperti itu."

Hashirama menyeret tasnya masuk, meninggalkan di dekat pintu sebelum Madara menutup dan mengunci kembali pintunya.

"Kau tidur di kamar. Tempat itu bersih karena aku jarang tidur sana. Aku akan tidur di sofa," Madara menjelaskan pembagian tempat tidur mereka ketika Hashirama masih asyik melihat-lihat. "Kibaskan saja selimut itu di beranda. Kalau kau mau, kau bisa melapis lagi tempat tidurnya dengan seprai ekstra yang tidak pernah kupakai yang ada di lemari. Aku yakin kasur lapuk itu mungkin sudah berkutu."

"Kenapa bukan kau saja yang tidur di kamar? Aku tidak masalah tidur di sofa, kau tahu. Lagipula, aku menumpang di sini."

"Kau yakin? Sofaku bau apek dan bau alkohol kalau kau tidak keberatan," balas Madara setengah menyindir, membuat Hashirama mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal disahuti begitu.

"Kau bisa saja, Madara."

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

Hashirama tertawa renyah kemudian. "Bagian dalam kamar apartemenmu tidak seburuk kelihatannya seperti yang ada di luar."

"Aku jarang pulang. Aku kembali jika ingin tidur dan mandi saja. Jangan terlalu berharap kalau aku akan banyak menghabiskan waktuku di sini." Madara lalu menyalakan sejumlah lampu di ruangan kecil itu, menambah penerangan. "Omong-omong aku masih harus pergi kerja. Kalau kau mau mandi, pakai saja kamar mandinya. Tapi, jangan mengeluh kalau tidak bisa mandi air hangat di sini."

"Astaga Madara, berhenti memperlakukanku seolah-olah aku ini tidak pernah susah sebelumnya."

"Memangnya kau pernah?"

"Satu bulan ini aku sudah cukup susah, kau tahu."

"Selamat datang kalau begitu," katanya dengan nada bosan yang hampir membuat Hashirama ternganga mendengarnya. "Aku benar-benar harus pergi sekarang."

"Hati-hati."

"Kalau terjadi sesuatu, kau bisa menghubungi polisi dari pesawat telepon yang ada di dekat pintu. Pastikan juga pintunya terkunci sebelum kau tidur nanti."

"Kau punya kunci cadangannya, 'kan?" Hashirama bangkit dari tempat duduknya, mengantar Madara yang sudah kembali menyampirkan jaket ke bahu sambil mengenakan sepatunya. "Kau tidak akan keluar lama-lama, bukan?"

"Aku akan kembali sebelum matahari terbit. Jadi pastikan dirimu sudah bangun sebelum aku pulang atau aku akan membuat tidurmu terganggu."

Hashirama mendengus, "Ha, memangnya apa yang akan kau lakukan?"

"Mudah saja. Aku tidak akan berhenti mengetuk pintu sampai kau bangun atau kalau perlu aku akan mendobraknya."

"Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri, kalau begitu."

"Dan aku jadi punya alasan untuk mengusirmu," Madara bercanda dan Hashirama yang kesal menampar lengannya pelan. "Kau ini tega sekali!" sungutnya.

"Aku hanya bercanda." Madara tertawa dan membalikkan punggung. "Aku pergi dulu. Lebih baik kunci sekarang pintunya dan beristirahat. Besok kau benar-benar harus mencari kerja untuk membayar sewa tempat busuk ini."

"Hm! Percaya saja padaku!"

"Aku pergi dulu." Madara membuka pintu. "Ingat kunci pintunya!"

"Astaga, kau cerewet sekali! Pergi sana!"

Madara lalu melenggang keluar dan Hashirama mengikutinya sampai ke depan pintu, menunggunya, sampai punggung lelaki itu hilang di balik koridor, dengan tangan terus melambai-lambai, sebelum kembali masuk dan mengunci pintu sesuai dengan perintah Madara.

Sekali lagi, Hashirama mengamati kamar yang tidak seberapa luasnya itu. Biar terlihat lebih bersih, tidak dapat dipungkiri kalau dinding di dalam kamar pun sudah sama kusamnya; warna kuning dan cokelat yang merambat dari langit-langit yang asbesnya berlubang di beberapa tempat dan bintik-bintik hitam dari jamur berkumpul di sudut-sudut dinding yang keropos, menambah kesan menyedihkan tempat itu. Kabinet-kabinet kecil yang dipakai Madara untuk menyimpan berbagai barang-barang juga sudah ditambal di sana-sini dengan plastik dan koran. Bahkan tirai yang menutup pintu menuju beranda luar sudah benar-benar usang hingga sudah sobek di beberapa bagian.

Hashirama lalu duduk di satu-satunya sofa di tempat itu, merasakan bagaimana tipis busa yang mengisi sofa yang sudah kehilangan warnanya, yang juga sudah sobek di beberapa tempat. Tidak seperti yang diceritakan Madara, sofa itu hanya berbau lapuk, persis seperti perabotan tua yang dimakan usia dan tidak ada bau-bau alkoholnya sama sekali.

Menyadari hal itu, Hashirama mendengus kecil.

Sudah lebih dari satu dekade sejak terakhir kali Hashirama berjumpa dengan Madara dan sekarang lelaki itu sudah banyak berubah, sangat-sangat berbeda dari seseorang yang dulu pernah Hashirama kenal. Pemuda yang dulu digadang-gadang sebagai siswa paling tampan di sekolah, sekarang sudah berubah jadi seorang pria kucal tak terawat.

Hashirama bahkan hampir tidak percaya dengan tampang Madara yang sekarang. Lelaki itu mencukur janggutnya asal-asalan, pipinya tirus ceruk ke dalam, dan kulitnya gosong kecokelatan. Rambut hitamnya yang pendek di bagian sisi kepala dan panjang di bagian tengah terlihat kusut dan berminyak. Rambut gondrongnya diikat asal, warnanya pun kusam. Di beberapa tempat di kepalanya, Hashirama bisa melihat helai-helai putih rambut yang sudah berubah jadi uban tanda penuaan.

Hashirama lalu merebahkan punggung yang lelah di atas sofa, menatap langit-langit kamar apartemen Madara yang menyedih dan berkilas balik, mengingat-ingat masa lalu yang menyenangkan.

Madara dan Hashirama mulai berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama, sama sekali mengejutkan banyak orang karena sifat Madara dan Hashirama yang bertolak belakang.

Tidak jauh seperti sekarang, Hashirama ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama adalah gadis super aktif yang banyak menghabiskan jam-jam sekolahnya dengan bersenang-senang alih-alih belajar keras, sedangkan Madara adalah kebalikannya. Dia memang bukan tipe pelajar yang menghabiskan seluruh waktunya dengan menempelkan hidung ke buku dan mengerjakan semua tugas yang diberikan guru, tapi setidaknya, Madara jauh lebih pendiam dan kolektif orangnya. Dia tidak banyak bergaul. Tempat duduknya bahkan ada di belakang, dekat dengan jendela. Di mata pelajaran tertentu saja dia akan berkonsentrasi dengan bukunya dan duduk tenang mendengarkan.

Selebihnya?

Madara lebih senang tidur daripada menegakkan punggung dan mendengar guru menerangkan.

Namun, biar begitu, prestasi Madara juga bukan main hebatnya, hampir tidak ada bedanya dengan Hashirama.

Biar dihitung sebagai gadis pecicilan yang sering membuat masalah karena terlalu banyak bersenang-senang, Hashirama selalu sukses mencetak prestasi di sekolah. Nilainya tidak pernah turun. Setiap bulannya selalu ada peningkatan yang selalu sukses membuat sekolah geleng-geleng takjub akan prestasinya. Pujian demi pujian tidak pernah pernah berhenti tertuju seorang Senju Hashirama.

Hashirama banyak mengukir prestasi di bidang literasi dan musik; selama duduk di bangku sekolah menengah pertama, bukan satu-dua lagi penghargaan diberikan untuknya untuk dua bidang kegiatan itu. Bidang akademik lain seperti atletik juga dilakoninya. Beberapa kejuaraan pernah dia ikuti dan sejumlah piala juga berhasil diboyongnya pulang ke sekolah. Namun, bertolak belakang dengan Hashirama, Madara, sebagai pribadi yang tenang dan tidak banyak tingkah, hanya mengikuti perlombaan ketika hatinya sedang tergerak. Kalau tidak, dia akan menumpahkan semuanya untuk Hashirama atau bahkan siswa lain yang haus ingin berlomba.

Di sekolah, Hashirama selalu menganggap kalau satu-satunya lawan masalah akademik yang sebanding dengannya hanyalah Madara. Namun, Madara tidak pernah menganggapnya demikian. Dia terlalu santai dan kurang bersemangat, tidak seperti dengan Hashirama yang meledak-ledak dan heboh penuh energi.

Dan hal itu yang sering membuat Hashirama gemas.

Hashirama jadi terobsesi dengan Madara yang cuek bebek hingga tiga tahun masa sekolah menengah pertama pun ia habiskan untuk membuat Madara mau berkejar-kejaran dengannya, hingga tanpa sadar mereka, Hashirama dan Madara dekat seiring berjalan waktu.

Hashirama selalu mengekorinya. Tidak ada hari di sekolah berlalu begitu saja tanpa membuat pemuda itu kesal, hingga Madara pada akhirnya terbiasa dengan keberadaan Hashirama juga tingkahnya yang kelewat aktif setiap harinya. Mereka benar-benar dekat sampai bukan sedikit orang yang menuduh kalau mereka berkencan, karena bukan sekali-dua kali lagi publik melihat mereka saling membela dan menjaga satu sama lain.

Masa sekolah Hashirama menyenangkan bersama Madara. Masa-masa itu adalah kenang-kenangan Hashirama yang paling berharga.

Namun, hal baik tidak bisa bertahan selamanya.

Hari-hari menyenangkan itu sirna kemudian. Warna-warni kehidupan bersekolah Hashirama dengan Madara kemudian berubah ketika Madara kehilangan orang tuanya karena satu kecelakaan hebat, membuat segalanya tentang mereka berputar seratus delapan puluh derajat dalam waktu satu malam saja.

Janji ingin melanjutkan pendidikan ke bangku universitas pun tidak bisa dipenuhi Madara. Sebelum lulus, Madara tidak lagi berminat untuk belajar. Dia lebih sering membolos karena bekerja; beberapa kali juga dia harus berakhir ke pos polisi terdekat karena ketahuan memalsukan umur untuk dapat bekerja di toko-toko kecil. Sampai akhirnya prestasi Madara merosot dan Hashirama menduduki peringkat satu tanpa harus bersusah payah lagi.

Semua itu harus Madara lakoni karena Madara masih memiliki seorang adik perempuan. Izuna namanya; umur mereka tidak terpaut begitu jauh. Setelah orang tuanya meninggal beberapa saudaranya ingin mengurus Izuna, tetapi Madara lebih memilih untuk merelakan sekolah dan masa mudanya karena tidak ingin berpisah dengan satu-satunya keluarga yang ia punya itu, tidak peduli kalau dia juga masih harus menanggung hutang-hutang yang ditinggalkan orang tuanya.

Kejadian hari itu sudah mengubah Madara jadi seseorang yang tidak lagi bisa Hashirama gapai. Mereka jadi jarang berbicara, jarang bertegur sapa. Bukan Hashirama yang enggan berbicara dengannya, sebagaimana yang diceritakan teman-teman sekolahnya karena Hashirama memandang Madara yang miskin tidak lagi bisa bergaul dengannya yang merupakan anak seorang pemegang perusahaan besar, tapi Madara sendiri yang menjauh darinya.

Madara jadi pendiam dan selalu menolak keberadaan Hashirama. Madara minder dan tidak mau terlihat mencolok lagi dengan keberadaan Hashirama di sekitarnya. Madara juga tidak mau menerima simpati siapapun. Dia tidak suka dikasihani oleh orang lain. Pertemanan mereka kemudian putus begitu saja menjelang kelulusan.

Setelah kelulusan, Hashirama lalu pergi ke luar kota, melanjutkan pendidikan di universitas yang cukup ternama, sebagaimana yang pernah mereka cita-citakan bersama. Hashirama agak merasa bersalah karena harus menjadi satu-satunya orang yang menjalani janji yang pernah mereka buat. Namun, Hashirama pun tidak bisa membantu Madara, tidak dengan finansialnya sendiri yang masih disokong oleh keluarganya. Terlebih Madara sendiri sudah menolak untuk dibantu oleh orang lain, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Mereka hampir tidak pernah bertemu setelah Hashirama kuliah. Pernah iseng sekali Hashirama mengiriminya surat untuk berbasa-basi dan beruntung, Madara membalas. Dia mau diajak berkomunikasi dengan surat. Nyaris setiap minggu mereka berkirim kabar. Tiap surat yang Madara kirim benar-benar terdengar seperti dirinya dahulu, ceplas-ceplos dan menyenangkan, sama seperti sebelum kejadian yang merengut semua masa mudanya itu.

Hashirama menemukan kebahagiaannya yang lama hilang. Setelah beberapa bulan, Madara mau berkabar dengannya walau tidak secara langsung. Bahkan ketika liburan musim panas tiba, kalau Hashirama bisa pulang rumah dan meninggalkan kesibukan kuliahnya, dia akan memaksakan diri untuk pulang kampung demi bertemu dengan Madara, dan bermain-main sebentar, itu pun kalau lelaki itu tidak sibuk dengan 1001 kerja serabutannya.

Namun, momen itu pun tidak berlangsung lama juga.

Tidak lama setelah Hashirama lulus dari bangku kuliahnya, Madara lalu tiba-tiba tidak pernah membalas surat-suratnya, bahkan untuk beberapa surat terakhir, pos selalu mengembalikannya suratnya kembali ke tangan Hashirama.

Hashirama mendengus dan memejamkan mata. Mengingat masa lalu entah kenapa membuat dadanya terasa sesak. Ada perasaan mengganjal menggorogoti dadanya. Perasaan itu tumbuh dalam dada sejak ia bertemu dengan Madara di klub barusan dan semakin besar karena emosi yang sekarang bergejolak karena kilas balik yang singkat itu.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun dan mereka tidak pernah berkontak.

Bukan sebuah kebetulan Hashirama menemukan Madara di klub itu. Hashirama mendapatkan berita soal sobat lamanya itu berkat berita kecelakaan Izuna juga. Namun, entah kenapa, lebih dari rindu, ada perasaan yang sekarang merayap di dada Hashirama, yang membuatnya sedih juga kasihan pada lelaki itu, terlebih setelah ia mengetahui kalau sekarang pun Madara susah karena harus merawat Izuna yang tergolek tak berdaya di pembaringan rumah sakit.

Apa sih yang kupikirkan?

Hashirama meletakkan lengannya untuk memblokir sinar lampu yang terang menyorot matanya, pelan membiarkan matanya yang berat membawanya untuk terlelap, menyudahi satu hari yang melelahkan.