Draco Malfoy dan Menantu kesayangan Ayahnya.

.

.

Draco Malfoy. Hermione Granger.

.

Semua karakter punya J.K. Rowling, saya cuma pinjam.

Sekadar mengingatkan bahwa AU Dramione ini sangat ngawur dan amburadul.

kalo gasuka, skip aja MaFren.

selamat membaca!

.

.

.

Hari sudah beranjak petang, saat Hermione Granger kembali ke asrama ketua murid. Ketua murid putri itu menghembuskan nafas lelah sebelum menggumamkan kata kunci untuk memasuki asramanya. Setelah lukisan di hadapannya terbuka, Hermione menyeret langkahnya memasuki asrama. Hermione menghmebuskan nafasnya keras-keras saat melihat rekan ketua muridnya, Draco Malfoy, tengah berdiri di ambang pintu kamarnya, menyeringai ke arahnya. Ugh, Hermione sedang lelah, dan dia tidak ingin memulai perdebatan tidak penting, jadi Hermione memutuskan untuk tidak peduli, dan melanjutkan perjalanan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Draco yang hanya mendengus begitu Hermione menutup pintu kamarnya dengan keras.
.

.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan pandangan Draco dari buku di pangkuannya. Mata abu-abunya melihat kearah Hermione Granger tengah berjalan dengan santai dari kamar mandi. Air masih menetes dari ujung rambutnya, dan-sialnya-dia hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi sebagian—kecil-tubuhnya. Lebih tepatnya, menutupi seperempat bagian pahanya, dan tigaperempat bagian dadanya. Hermione berjalan melewatinya tanpa rasa malu atau apapun itu. Draco bertanya-tanya apakah Hermione tidak menyadari kehadirannya di sana. Kemudian seringai licik di wajah Hermione menjawab pertanyaanya, cewek itu tau, dan cewek itu sengaja. Sialan.
Hermione mengangkat sebelah alisnya, menanyakan apa yang sedang Draco lihat, dan mengingatkan jika air liur Draco hampir menetes. Hermione kemudian terkikik geli sembari membanting pintu kamarnya, memblokir pandangan Draco yang tengah asik menjelajahi tubuh Hermione. Draco menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak, kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan kearah kamar Hermione, bermaksud menyelinap kedalamnya, berpikir bahwa idenya pasti berakhir menyenangkan. Perlahan-lahan Draco membka pintu kamar rekan ketua muridnya, mengintip sekilas, sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamar itu. Kemudian pintu tertutup, dan terkunci. Pekikan Hermione terdengar setelahnya bersamaan dengan sumpah serapah yang diteriakkan pada Draco, hingga kemudian secara tiba-tiba, suara Hermione menghilang, diikuti dengan suara sesuatu yang terhempas, dan ranjang yang membentur dinding.

.
"Kau bodoh!" ketus Hermione saat dia dan cowok berambut pirang di sebelahnya baru beberapa langkah meninggalkan asrama mereka. Draco mendecih dan menanyakan apa lagi kesalahannya kali ini. Hermione mendengus, terdiam sejenak sebelum menarik telinga Draco. Membuat sang pemilik telinga meringis sakit. "Kau tahu kita harus patroli malam ini", tarikan di telinga Draco bertambah keras, "bisa-bisanya kau jatuh menimpaku sore tadi, beruntung kita jatuh di atas ranjang". Hermione memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam demi menekan rasa kesalnya yang meluap-luap, menarik telinga Draco semakin keras lagi, "Bagaimana jika aku jatuh di lantai lalu patah tulang?" Hermione terengah-engah. Draco meringis merasakan sakit di telinganya, namun tak bisa menahan dirinya untuk tidak menyeringai pada cewek yang tengah murka di hadapannya. 'Kau tentu tahu jika itu semua bukanlah ketidaksengajaan', pikirnya. Draco meminta Hermione menjauhkan tangannya dari telinga Draco, kemudian berbisik di telinga Hermione mengatakan bahwa Draco yakin jika Hermione menyukai akhir dari kejadian sore tadi. Nafas Draco di telinga Hermione membuat cewek itu bergidik, dan membuat wajahnya terasa panas. Hermione segera meninggalkan Draco di belakangnya, berjalan cepat-cepat dengan langkah aneh yang mencurigakan.

.
Langkah Hermione terhenti, ketika ia sampai di depan asrama gryfindor. Dia menatap 'nyonya gemuk' dalam diam, sebelum tiba-tiba Draco Malfoy menabraknya dari belakang. "Pakai. Matamu. Malfoy!" seru Hermione sembari menusuk-nusuk dada Draco dengan jari telunjuknya. Draco hanya mengedikkan bahunya, kemudian menarik Hermione menjauh dari sana. Draco menguap mengatakan jika ia sudah lelah sambil menggaruk-garuk belakang telinganya, kemudian meminta Hermione untuk bergegas. Hermione hanya bisa pasrah saat Draco terus saja menariknya menuju asrama ketua murid.

.
Draco merasakan suatu keanehan saat terbangun pagi ini. Cowok itu menggaruk-garuk kepala pirangnya yang tidak gatal, berpikir keras, mencari tau apa yang salah pagi ini. Kemudian bola lampu imajiner muncul di atas kepalanya. Draco menjentikkan jarinya. Itu dia. Draco tidak biasa terbangun dengan sendirinya. Biasanya rekan ketua muridnya yang-menggedor-gedor pintu kamarnya-membangunkannya setiap pagi. Lalu kemana perginya si Nona-tahu-segala itu, apa dia sengaja tak membangunkan Draco. Draco menggerutu sebal, turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar. Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, Draco berjalan menuju pantry, hendak mengambil air minum saat matanya melihat pintu kamar Hermione yang sedikit terbuka. Seringai licik muncul di wajahnya, dia harus membalas rekannya itu, karena tak membangunkannya pagi ini.
Namun, segala rencana pembalasanya musnah seketika, ketika Draco melihat Hermione masih terbaring di ranjangnya dengan selimut yang mencapai leher. Draco mengangkat sebelah alisnya, seorang Hermione Granger, bangun lebih lambat dari Draco Malfoy, apakah ini bisa dipercaya? Draco berjalan mendekat kearah Hermione yang masih pulas dalam tidurnya. Dia melihat wajah Hermione yang sedikit pucat, dan nafasnya yang terdengar berat. Draco berinisiatif menempelkan punggung tangannya pada kulit leher Hermione, dan segera menarik kembali tangannya karena panas yang dirasakannya. Hermione demam? Draco panik bukan main, segera menepuk-nepuk ringan pipi Hermione, "hey hey! bangunlah."
Hermione terbangun beberapa saat kemudian dan menanyakan apakah hari sudah pagi. Draco tidak menjawabnya, dia menyodorkan segelas air dari meja kecil di sebelah tempat tidur Hermione. "Apa kau sakit? Tubuhmu sangat panas. Kau demam ya? Bagaimana kalau kita pergi ke madam Pomfrey?" Draco tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Hermione memanggil nama Draco dengan lirih, menggenggam tangan Draco yang menempel di dahinya, dan mengatakan jika Hermione akan segera sembuh kalau Draco membuatkannya segelas coklat panas. Draco mengangguk singkat sebelum beranjak meninggalkan Hermione sendiri di kamarnya.

.
Hermione berjalan tergesa memasuki aula besar. Dia punya banyak kelas hari ini jadi dia harus segera mengisi perutnya yang terus 'berteriak'. Hermione mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang nyaman dan akhirnya memilih untuk duduk di antara Ron dan Harry di meja gryfindor, memunggungi meja slytherin. Hermione tidak menyadari jika Draco Malfoy duduk tepat di belakangnya. Hermione memperhatikan Ronald Weasley di sebelah kirinya, makan dengan lahap—atau mungkin rakus—seperti biasa. Sedang di sebelah kanan, Harry Potter makan berdua, saling menyuapi, dengan Ginny Weasley, kekasihnya. Itu juga sudah biasa.
Kemudian saat Ronald tengah menggenggam paha ayam ketiganya, dan Harry tengah membisikkan sesuatu entah apa ke telinga Ginny yang membuat cewek itu terkikik senang, Hermione menatap piringnya yang masih tetap kosong. Dia memang kelaparan, tapi sekarang nafsu makannya menghilang entah kemana. Hermione menyingkirkan piringnya, kemudian menjatuhkan kepalanya keatas meja di hadapanya. Ron menghentikan kencannya dengan potongan paha ayam di tangannya, memandang Hermione heran dan menanyakan apakah Hermione tidak makan. Suaranya sangat tidak pelan, membuat beberapa orang d sekitar mereka menoleh sejenak. Harry yang mendengarnya, ikut menoleh dan memperhatikan Hermione. Hermione mengangkat kepalanya, menggeleng, kemudian menjatuhkan kepalanya lagi. "Aku sagat lapar, tapi tidak nafsu makan." Hermione mengerucutkan bibirnya, nampak sangat kesal.
Draco Malfoy yang mendengarnya, mengintip dari bahunya. Dilihatnya Hermione yang terduduk lemas, dengan kepalanya yang diletakkan di atas meja, menghadap kearah ron yang sudah memulai kembali 'kencan'nya yang terhenti. Draco bangkit dari duduknya. Pansy menanyakan apa yang terjadi dan ikut beranjak, mengekori Draco. Draco tidak memperdulikannya dan berdiri diam di belakang punggung Hermione, diikuti Pansy Perkinson yang tiba-tiba memeluk lengan kirinya. "Hei Nyonya besar! Kau tidak makan? Apa kau sedang mencari-cari cara agar kau sakit dan tidak patroli malam ini?" Hermione tidak menjawab, dia berbalik menghadap Draco. Sedikit mengernyit melihat Draco yang tak terusik dengan Pansy Perkinson yang menempel padanya. Hermione menyuruhnya untuk diam, kemudian melipat tangannya di depan dada, menunujuk ke lengan kiri Draco menggunakan dagunya dan meminta Draco untuk menjaga sikapnya. Draco menyeringai senang menyadari kemana arah Hermione menunjuk. "Kau tahu, Dia yang melakukannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Draco memasukkan tangan kanannya kedalam saku, "Mungkin kau bisa membantu mengatasinya?" Draco menaik turunkan kedua alisnya, membuat Hermione memutar bola matanya. Hermione kemudian menyanggupinya, Hermione memanggil Pansy, dengan nama keluarganya. Kemudian meminta tolong untuk menyingkirkan tangannya dari Draco, dengan nada mengancam dan senyum mengerikan. Pansy menatapnya aneh, begitu pula dengan orang-orang di sekitar mereka. "Kau dengar itu PERKINSON?" Draco menghentakkan tangan Pansy dengan kasar "Lepaskan. Tanganmu. Dariku." Apakah tadi Draco mengatakan 'tidak bisa berbuat apa-apa'? Pansy terkejut, dengan mulut yang menganga, dia menatap Draco yang meninggalkannya, dan Hermione yang menyeringai senang.
Draco menggeser tempat ron duduk, dia duduk di antara Ron dan Hermione. Yah, sejak kau-tahu-siapa berhasil dikalahkan, dan Hogwarts dibuka kembali—sesudah renovasi besar-besaran- hubungan antar asrama semakin membaik hari demi hari. Bahkan murid dari slyterin pun sudah mulai terbiasa duduk bersama dengan asrama lain. Yah, walaupun duduk bersama teman asramanya sendiri tentu lebih terasa nyaman. Draco mengambil sepotong paha ayam dan menyodorkannya pada Hermione, tapi Hermione menolaknya. Draco mengambil sebuah apel, menyodorkannya lagi pada Hermione, tapi lagi-lagi Hermione menolaknya. Kejadian langka itu terus berulang dengan makanan-makanan yang lain. Nevile mengerjapkan matanya berulang kali, Luna menyunggingkan senyum aneh, Ron mencampakkan paha ayamnya, Harry memandang Ginny dengan satu alis terangkat yang dijawab cewek itu dengan gelengan kepala. Ada apa dengan ketua murid mereka? Bukankah biasannya mereka saling meributkan sesuatu hal yang tidak penting, saling menyalahkan perbuatan masing-masing, saling mencela satu sama lain. Lalu apa yang terjadi sekarang, apa mereka sedang melakukan genjatan senjata? Oh entahlah. Toh dengan begini, suasana jadi sedikit aman, tanpa teriakan dan makian yang biasanya saling mereka lontarkan. Jadi, mari biarkan mereka dan kita lanjutkan sarapan.
"Hei nyonya besar! Kau harus makan." Draco ikut menjatuhkan kepalanya, dan kini saling berhadapan dengan Hermione. Hermione mengatakan dengan lirih jika ia lapar, tapi menjadi mual jika dia melihat makanan. Setelah mengatakannya, Hermione segera mengangkat kepalanya, menutup mulutnya dengan telapak tangan, kemudian berlari keluar aula besar. Draco segera saja mengejarnya, meninggalkan Ron dan Harry yang terbingung-bingung di tempat. Hermione berlari memasuki kamar mandi perempuan, dan Draco—entah sadar atau tidak—ikut masuk kedalamnya. Di sana Hermione terus mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa cairan. Karena perutnya memang belum terisi apapun kecuali coklat panas buatan Draco tadi pagi. Apa dia keracunan coklat panas buatan Draco? Draco memijat tengkuk Hermione dengan lembut, menatap Hermione dengan khawatir.
Merasa baikan, Hermione membasuh mulutnya dan menyiram bekas muntahannya. Hermione lantas berbalik dan mengalungkan lengannya ke leher Draco, mengeluhkan kakinya yang jadi lemas. Draco balas memeluknya, membelai lembut punggung Hermione. "Sudah baikan?" Hermione mengangguk dalam pelukan Draco. "Kita kembali ke aula besar" Draco mengangkat Hermione. Menggendong Hermione bridal style membawanya berjalan keluar kamar mandi.

Suasana mendadak menjadi hening saat Draco dan Hermione memasuki Aula besar. Bahkan para professor pun menatap mereka dengan takjub. Draco membawa Hermione kembali ke tempat duduknya. Hermione menolak untuk turun saat Draco sudah merendahkan tubuhnya. Draco mendesah pasrah, kemudian mendaratkan bokongnya di tempat duduk Hermione, dengan Hermione yang duduk di pangkuannya. Draco memeluk perut Hermione, dan Hermione memeluk lengan Draco di perutnya. Suasana masih terasa orang -tanpa mereka sadari- menghentikan aktifitas masing-masing, memilih untuk menyaksikan adegan langka di depan mata mereka. Draco Malfoy dan Hermione Granger yang lengket bagai lem super.
"Katakan padaku, kau ingin makan apa sekarang?" Hermione meletakkan telunjukknya di kepala, berpikir. "Aku mau puding!" Hermione menoleh lewat bahunya, dan Draco tersenyum kearahnya. "Um, Potter. Bisa tolong ambilkan pudding?" Harry menggeleng dan mengatakan jika puding sudah habis. Ron pun melakukan hal yang sama. Hermione mengerucutkan bibirnya, menoleh lagi kearah Draco, "Aku ingin pudding.." rengeknya. Draco mencium pipi Hermione, "Adakah yang punya puding?" Draco sedikit berteriak, "Aku harus memberi makan nyonya besar ini."

.
Hermione duduk santai diruang rekreasi gryfindor sore harinya. Beberapa penghuni asrama gryfindor tampak mengerumuninya. Ginny menanyakan Apa hubungan Hermione dengan si Malfoy itu. Luna menanyakan apakah Hermione berpacaran dengan Draco. Dan mahluk lainnya mengangguk-anggukkan kepala mereka kearah Hermione. Hermione tertawa. "Aku? dengan Malfoy?" Hermione menatap mereka satu persatu. "YA!" jawab mereka serempak. "tidak, aku tidak pacaran dengannya." Hermione menjawab. "Bukan begitu, Malfoy?" Hermione mengangkat alisnya, menatap Draco yang baru masuk asrama gryfindor bersama Nevile.
Draco mengernyit bingung, "apa maksudmu, Love?" suara nafas yang tertahan terdengar di seluruh penjuru ruangan. Hermione mendecih, "Kita tidak pacaran, bukan begitu?" Hermione menarik Draco untuk duduk di sampingnya. "ah, ya kita tidak pacaran. Tadi aku tidak dengar, Nyonya besar!" Draco mencubit gemas pipi Hermione. "Jadi sekarang kau tuli?", sinis Hermione. "Jangan memulai sayang," Draco membingkai pipi Hermione dengan kedua tangannya, membawa wajah Hermione mendekat padanya "atau aku akan menghukummu" dan tanpa malu atau ragu mencium Hermione tepat di bibir. Draco tak hanya berhasil membungkam mulut Hermione, tapi juga mulut semua orang yang ada di ruang rekreasi gryfindor. Beberapa saat kemudian Draco dan Hermione saling memisahkan diri, tersenyum satu sama lain. "Hukuman yang menyenangkan, Malfoy." Draco menyeringai. Menyadari suasana yang terasa hening, Draco dan Hermione mengalihkan pandangan mereka, dan terkekeh menyadari keterkejutan penghuni asrama gryfindor. Hermione melambaikan tangannya di depan wajah Ronald dan Harry yang duduk melantai di hadapannya, "Hei hei katakanlah sesuatu". Harry mengerjapkan matanya, lalu menepuk pundak Ron, menyadarkannya dari keterkejutan. "Kalian bilang tidak pacaran!" sungut Harry bersamaan dengan jari telunjuknya yang ditudingkan ke arah pasangan ketua murid di hadapannya. Draco dan Hermione mengangguk setuju. "lalu, apa maksudnya ciuman itu!" protes Ron kemudian. Draco menampilkan seringainya, memeluk Hermione dari samping, "apa aku tidak boleh," kemudian mencium pipi kiri Hermione, "mencium ISTRIKU sendiri".

.

.

END/TBC?

.

Sekian dan Terimagaji.

.

Kritik dan Saran diterima.

.

Tinggalkan jejak jika berkenan.

.

Alafyu MaFren