Character Masashi Kishimoto

.

.

Sorry

.

Story Rika.Riku14

.

Warning: OOC, ChibiNaru! ChibiMenma!ChibiNagato! Typo bertebaran, alur gak jelas, dan kekurangan lainnya.

.

Don't Like? Don't Read!

.

.

.

"NGGAK MAU! INI PUNYA NARU!"

"MENMA MAU MAINAN DINO INI!"

"TAPI MENMA 'KAN UDAH ADA IRON MAN!"

"POKOKNYA MENMA MAU INI!"

'Plak!'

"HUAAAAAA!!"

Tangisan kencang menggema ke seluruh penjuru rumah, membuatku yang lagi asik melipat baju, tersentak kaget dan langsung berlari ke ruang tengah. Dapatku lihat satu anak kecil menangis sambil memegang keningnya yang memerah, satu lagi nampak marah dan kaget sedangkan satu anak terakhir terlihat kebingungan dengan situasinya. Sepertinya mereka bertengkar lagi.

"Ada apa ini? Bukannya tadi sudah janji tidak bertengkar hm..." tanyaku sambil memeriksa kening Naruto yang tergores memerah. Wow tenaga si bungsu kuat juga.

Naruto memelukku dan tanpa menghentikan tangisnya, mulai mengadu padaku apa yang terjadi, "Menma mau ambil mainan Naru, nggak Naru kasih tapi malah Naru di pukul sama itu," tangan mungilnya menunjuk mainan Iron Man yang di genggam Menma.

Aku mengelus rambutnya berusaha menenangkan, lalu ku tatap Nagato yang terlihat bingung dan takut disalahin sebagai anak paling tua diantara mereka bertiga.

"Nagato, ajak Naruto ke kamar dulu ya." suruhku lembut, tak lupa senyum kecil. Nagato hanya mengangguk dan pergi sambil menggandeng tangan Naruto. Aku tersenyum simpul saat melihat mata Nagato berkaca-kaca sedih. Ah, imutnya.

Tatapanku tertuju pada Menma yang menunduk setelah dua cilik itu pergi, "Benar itu, Menma?" tanyaku lembut berusaha tidak memojokkannya.

Tapi sepertinya tidak berhasil, karena selang beberapa detik kemudian tangisan tak kalah kencang menggema seisi rumah. Dia yang salah, dia yang menangis. Ya ampun, sabar Deidara...

"Loh kenapa Menma menangis? Yang dipukul siapa, yang memukul siapa. Kok malah dua-duanya menangis. Apa Nii-chan kelihatan marah sama Menma?" tanyaku lagi berusaha selembut mungkin.

Gelengan pelan terlihat dari Menma disela-selanya menangis, membuatku harus menahan tawa. Matanya yang membulat sedih, hidung dan pipi gembulnya yang memerah, di tambah bibir mungilnya yang mengerucut lucu. Oh ya ampun, bagaimana aku bisa marah pada malaikat kecil menggemaskan ini walau dia yang salah.

"Sudah sudah jangan menangis lagi." kupeluk Menma berusaha menenangkan. Isak tangisnya mulai mereda dan dengan santainya dia mengelap wajah yang basah penuh air mata dan ingus ke baju ku. Haha... pintar sekali Otouto-ku ini.

"Jadi benar kata Naru tadi?" tanyaku kembali.

Anggukan kecil terlihat darinya, aku hanya tersenyum tipis sebelum melanjutkan, "Lalu kenapa Menma memukul Naru? 'Kan bisa minta secara baik-baik sama Naru."

"Nalu-nii enggak mau kasih mainannya padahal Menma mau main sama Dino itu. Katanya, Menma sudah ada mainan lain, jadi enggak boleh ambil punya dia." suara serak sehabis menangis di tambah cadel khas anak umur empat tahun, belum lagi ekspresi lucunya membuatku menahan senyum.

"Yang di bilang Naru, benar enggak?" Dia lagi-lagi mengangguk, "Menma udah punya banyak mainan yang lain jadi enggak boleh mengambil punya orang lain. Dan kalau pun Menma mau pinjam, minta secara baik-baik. Nii-chan, Menma boleh enggak pinjam Dino-nya? Nanti tukaran sama mainan Menma yang lain. Menma bisa'kan bilang kayak gitu?"

"Bisa." gumaman pelan terdengar darinya. Dapat kulihat dia mulai merasa bersalah.

"Terus memukul itu perbuatan benar atau salah?"

"Sa-salah."

"Pintar! Nii-chan mau nanya, kalau dipukul rasanya sakit tidak, sih?" tanganku mengusap pipinya yang memerah sehabis menangis.

"Tentu saja sakit, Dei-nii."

Aku tersenyum melihat reaksinya, "Menma, kasihan enggak sama Naru?"

Kepalanya mulai menunduk, "Kasihan."

Aku tersenyum kecil lalu mengusap-usap rambutnya yang berantakan.

"Kalau begitu janji sama Nii-chan, lain kali tidak boleh memukul siapa pun lagi, ya? Mau itu Naru, Nagato, atau orang lain. Janji?" Kuarahkan jari kelingkingku padanya, dia dengan pelan menautkan jari kelingkingnya padaku, "Janji."

Menma perlahan memelukku erat dan mulai terisak kembali, "Maaf, Nii-chan."

Aku terkekeh pelan lalu mengusap kembali puncak kepalanya, "Kok minta maafnya sama Nii-chan. Minta maaf sama Naru, dong."

Dia menjauhkan badannya dan mengangguk, "Temanin ya, Dei-nii."

Aku tertawa kecil lalu menggendong Menma, membawanya masuk ke kamar mereka. Di sana terlihat Naruto dan Nagato yang sedang duduk, tatapannya tertuju pada Naruto yang masih terisak-isak. Kuturunkan dia di kasur, bersebelahan dengan Naruto dan menepuk pelan puncak kepalanya. Mengisyaratkan untuk meminta maaf atas kesalahannya.

"Nalu-nii, ma-maaf." kepalanya menunduk dan suaranya terdengar bergetar, "Menma salah, udah memukul Nii-chan. Menma janji enggak mukul lagi dan janji enggak lebutan mainan lagi."

Aku melirik Naruto yang mulai kembali menangis dan bibirnya yang bergetar hebat menahan isak tangis, "Hiks... Nii-chan juga minta maaf, karna enggak kasih Menma mainan."

Aku tersenyum lega mendengarnya, "Tidak pakai acara berpelukan, nih?" tanyaku jahil pada mereka.

Seketika aku tertawa saat mereka berpelukan dengan malu, ditambah Ian yang ikut andil. Tapi sedetik kemudian, aku hanya menatap mereka malas begitu mendengar tangisan tiga bocah cilik bersamaan. Ya ampun, tiada hari tanpa mendengar tangisan mereka.

END

Hola! Aku kembali *jogetgaje

Kali ini aku upload oneshoot, hehehe...

Sebenarnya ini buat tugas cernakku tapi gak jadi hehe daripada sayang terbuang maka jadilah begini JRENG!

Dan karna aku selalu suka family uzumaki makanya aku milih karakter ini.

Oh ya, TMI aja nih cerita ini juga ku upload di tetangga sebelah heheh jadi jangan kaget ya kalo kalian nemu cerita yang sama di W*d

So, readers? Mind to Review?