Ladies and Gentleman, in few minutes, KTX Train will depart from Seoul to Busan….
Mendengar pengumuman itu, Minho mempercepat langkahnya menuju kursi yang sudah ia pesan dalam gerbong kereta kelas ekonomi. Ia melepas mantelnya dan duduk di dekat jendela.
Tak lama kemudian kereta bergerak ke selatan, membawanya ke kota kelahirannya, tempat di saat hanya tawa yang mengisi hari-harinya.
Ah… Minho begitu merindukan masa-masa itu, ketika semuanya begitu manis seperti gulali merah jambu, sebelum badai memporakporandakan keluarganya dan merusak masa kecilnya.
Jika saja di hari itu ia lebih peka atas apa yang sedang terjadi, keadaannya sekarang mungkin berubah.
Remaja 17 tahun itu termenung menatap pepohonan dan rumah-rumah yang saling berdempet melalui jendela kereta.
Perjalanan pulangnya hari ini membawa kenangan lama yang begitu manis. Masih melekat dalam ingatannya, memori tentang hari-hari terakhirnya di Busan.
.
.
.
Busan, 10 tahun yang lalu.
"Minho!" panggil Sooyoung pada putranya.
Seorang bocah tujuh tahun menoleh begitu merasa namanya dipanggil. "Nde, Eomma!" jawabnya dengan suara cempreng tanpa menghampiri ibunya. Minho terlihat sibuk berguling-guling dalam tenda di halaman belakang bersama ayahnya, Siwon.
"Kalian ini! Lebih baik bantu aku memanggang sosisnya," keluh Sooyoung.
Dua lelaki di keluarga kecil itu hanya membalas dengan cekikan dari dalam tenda.
"Ah… jadi begitu, kalian tidak mau membantuku yang berusah payah ini. Biar saja, sosisnya akan kumakan sendiri."
"Andwe!" Minho protes dan segera keluar dari tenda, berlari menghampiri ibunya dengan disusul Siwon di belakang.
Kedua lelaki itu terpaksa membantu Sooyoung berkutat dengan makanan. Selepas itu, mereka makan bertiga dalam tenda di bawah gugusan bintang-bintang.
Berkemah di halaman belakang rumah selalu menjadi saat-saat kesenangan Minho. Anak lelaki itu terus tertawa-tawa sambil bermain-main dengan kartu Uno-nya.
Sooyoung dan Siwon saling tatap, tidak tega menyampaikan berita ini, tapi tidak ada waktu untuk menundanya lagi.
"Minho…." Siwon membuka suara.
"Nde, Appa."
"Menurutmu, apa Seoul terdengar menarik?"
"Lotte World itu ada di Seoul 'kan, Appa?"
Siwon mengangguk. "Iya, apa Minho mau tinggal di Seoul?"
"Tentu, Appa!"
Siwon dan Sooyoung sangat bergembira atas jawaban itu. Dua hari kemudian, mereka sekeluarga mengurus kepindahan mereka ke Seoul.
Saat itu, Minho tidak tahu bahwa kepindahan mereka merupakan awal dari keruntuhan keluarganya. Karena saat itu, kehidupan mereka di Seoul terasa jauh lebih indah.
Berbeda dengan rumah mungil mereka di Busan, rumah yang mereka tinggali di Seoul berkali-kali lipat lebih besar dan mewah. Di sini, Minho dilayani beberapa asisten rumah tangga, ia juga bisa makan apa pun yang ia mau tanpa repot-repot menerima ocehan ribut ibunya dari dapur.
Tapi itu hanya bertahan kurang dari dua tahun. Setelahnya, Minho sering mendengar perdebatan antara ayah dan ibunya. Mereka jadi lebih sering keluar rumah dan tidak punya waktu untuk Minho. Sejak itu ia semakin jarang melihat kehadiran ibunya di rumah.
Di hari ulang tahunnya yang kesepuluh merupakan pertama kalinya Minho merayakan hari lahirnya hanya berdua dengan ayahnya. Minho menangis seharian, merengek merindu ibunya. Namun ayahnya tak berkata apa-apa, hanya memeluknya dan menghiburnya hingga tangisannya reda. Malam itu Minho tertidur dengam dihadiahi kecupan di dahinya.
Kecupan dari ayahnya… dan tidak ada hadiah apa pun dari ibunya.
Keesokan harinya, Minho mendengar panggilan ayahnya dari ruang baca. Minho menghampiri ayahnya, meninggalkan tumpukan Lego di atas karpet.
Siwon berjongkok di hadapan putranya dan mengacak pelan rambutnya. "Minho… akan senang tidak kalau Appa membawakan teman baru untuk Minho?" tanyanya dengan hati-hati.
Minho tak perlu waktu untuk menjawab, ia langsung menganggukkan wajahnya dengan senang.
Ayahnya tersenyum lebih lebar setelah mendapat jawaban itu. "Baiklah, Appa akan mengajakmu bertemu dengannya nanti sore!"
Pria itu menggandeng putra kecilnya menuju meja makan dan menyiapkan japchae untuk makan siang.
Walaupun belum lama ini Minho memang hanya tinggal dengan ayahnya, tetap saja Minho belum bisa terbiasa melihat ayahnya yang menata makanan di atas meja. "Appa, sebenarnya ke mana Eomma?"
Kedua tangan kekar ayahnya berhenti bergerak ketika Minho bertanya. Setelah mendesah sesaat, pria itu baru menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari sumpit dan mangkuk yang tengah disusunnya. "Eomma-mu di Busan."
"Apa?! Eomma menemui Harabeoji dan Halmeoni tanpa mengajakku?!" Minho menarik-narik lengan baju ayahnya dan mulai merengek. "Appa… Appa 'kan tahu aku rindu rumah lama kita di Busan dan aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Harabeoji dan Halmeoni!"
"Minho… kita sudah sepakat soal ini, bukan? Jangan banyak tanya tentang eomma-mu selama dia pergi!"
"Tapi—"
Melihat tatapan melotot dari ayahnya Minho menunduk dan kembali ke kursinya, tidak berani melanjutkan kalimat.
Setelah makan siang yang tidak diisi percakapan apa pun, ayahnya membawa Minho ke taman Namsan. Duduk di sebelah ayahnya yang fokus mengemudi, Minho bisa mencium aroma parfum. Minho menyadari ayahnya bersolek hari ini. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ayahnya seperti ini, bahkan saat mereka merayakan hari jadi pernikahannya dengan ibunya di restoran Michelin pun ayahnya tak pernah sampai seperti ini.
Meski penasaran, selama perjalanan, Minho memutuskan untuk tidak banyak tanya. Ayahnya pasti akan membawanya menemui "teman" yang dimaksud tadi.
Pria itu menggandeng tangannya menemui seorang wanita dan remaja lelaki yang duduk di kursi taman itu. Wanita dan anak lelaki itu berdiri begitu melihat kehadiran mereka. Keduanya terlihat sangat gembira bertemu dengan Minho dan ayahnya.
"Yoona-ya!" ujar pria itu, dengan begitu akrab.
"Siwon-oppa! Inikah Minho yang selama ini kau ceritakan? Manisnya!"
Siwon mengangguk dan tersenyum lebar. "Min-ie, perkenalkan dirimu."
Sesaat, Minho heran dengan suasana hati ayahnya yang tiba-tiba berubah di hadapan wanita ini.
"Anyeonghasaeyo, namaku Choi Minho, umurku sepuluh tahun," kata Minho sambil membungkuk pada Yoona.
"Ah, manis sekali. Minho, kalau begitu kau lebih muda tujuh tahun dari Kyuhyun, ya." Yoona terkekeh sambil merangkul pundak putranya.
Kyuhyun menghampiri Minho tanpa diminta, ia membungkuk di hadapannya dan memperkenalkan diri. "Anyeong! Minho-ya, namaku Cho Kyuhyun. Kau boleh panggil aku Kyu, atau Kyuhyun, atau Hyung, apa pun terserah selama kau nyaman." Kyuhyun mengusap kepala Minho dan tersenyum lebih lebar. "Senang bertemu denganmu."
"Aku juga senang, Kyuhyun-hyung!" panggil Minho dengan bersemangat. Ini pertama kalinya Minho punya seseorang yang bisa ia panggil kakak, ia seorang anak tunggal yang tidak memiliki sepupu. Sedari dulu Minho menyesali takdirnya yang satu itu. Ia ingat saat masih TK ia pernah menangis di depan ibunya karena teman-teman sekolahnya memiliki kakak sementara ia tidak.
Melihat Minho dan Kyuhyun cepat akrab, Siwon dan Yoona saling bergandengan tangan dan tersenyum menatap putra mereka.
Minho menyukai Yoona dan Kyuhyun begitu mudah. Mereka sangat baik padanya, sejak pertemuan mereka beberapa minggu lalu di Namsan, Yoona dan Kyuhyun menjadi sering datang ke rumahnya.
Yoona selalu membawakan makan siang yang enak di setiap kunjungannya. Wanita itu bahkan selalu bertanya makanan apa yang Minho inginkan untuk Yoona bawa di pertemuan berikutnya. Sementara Kyuhyun selalu membawakan gim konsol yang seru untuk mereka mainkan.
Minho tidak punya banyak teman di sekolah karena dia tidak pintar bermain bola atau kasti, ia juga tidak pandai menemukan topik obrolan yang seru. Tapi bersama Kyuhyun, Minho tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa diterima. Kyuhyun selalu menemaninya dan mau berteman dengannya apa adanya.
Di mata Minho, Kyuhyun adalah sosok kakak yang keren. Wajahnya tampan dan tubuhnya tinggi. Ia pandai bermain piano dan punya suara yang sangat merdu. Ia selalu sabar membantunya mengerjakan PR matematika. Bicara tentang matematika, Minho bahkan berpikir Kyuhyun jauh lebih pintar dibandingkan guru matematikanya di sekolah. Belum lagi, Kyuhyon jago sekali bermain gim! Minho tak pernah sekali pun menang melawannya. Ah, pokoknya Kyuhyun-hyung itu sangat keren!
Paling tidak, itu pendapatnya hingga suatu hari ayahnya bertanya padanya dengan suara pelan, "Minho… apakah kau mau menerima Yoona-ahjuma dan Kyuhyun-ah sebagai Eomma dan Hyung-mu?"
Sejak saat itu, Minho tak pernah melihat Yoona dan Kyuhyun dengan cara yang sama lagi.
