Disclaimer: Everything belong to JK Rowling unless the plot and some unknown characters
The Unfinished Business
by
AchernarEve
"You and I will always be unfinished business. There are too many words unsaid, too many thoughts unfelt and too many feelings unexpressed." ― Insha Juneja
Satu.
Matahari belum menunjukkan cahayanya meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tak dapat dipungkiri, musim dingin membuat cuaca di kota ini akan lebih kelabu dari biasanya. Hermione hanya menatap lurus ke taman yang berada tepat di seberang apartemennya. Sesapan terakhir dari teh yang ia seduh tadi menutup kontemplasi pagi harinya. Wanita yang masih menggunakan jubah mandinya itu menutup pintu dari balkon apartemennya itu lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap menunaikan tugasnya.
"Kau sudah bangun?" tanya wanita itu pada pria yang tengah duduk di ranjangnya lalu langsung menghambur masuk ke dalam walking closet miliknya untuk memilih baju apa yang akan ia gunakan hari ini.
"Kau ada jadwal pagi ini?" pria itu berbalik tanya dengan suara yang terdengar parau.
Hermione menggangguk saat kembali ke ruangan itu. "Aku harus visit pasien terlebih dahulu sebelum operasi siang ini," jawab Hermione sambil memulas riasan tipis di wajahnya yang sudah telihat sempurna itu.
Wanita itu mengikat rambut ikalnya sambil menatap tampilannya di cermin untuk terakhir kali sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Pagi ini ia memakai atasan hitam dengan detail turtle neck pada lehernya lalu dipadukan dengan rok selutut berwarna cokelat serta sepatu boots. "Kau terlalu cantik untuk datang ke rumah sakit, honey," ucap pria itu yang sudah berdiri di belakangnya.
Ia hanya mengenakan celana piyama tanpa atasan apapun. Pria itu memeluk Hermione hangat lalu mengecup lembut lehernya. "Kita harus menjadwalkan liburan secepatnya. Kau dan aku terlalu banyak berkerja dalam beberapa bulan terakhir ini."
Hermione hanya tersenyum memandang refleksi diri mereka di cermin. "Konsekuensi pekerjaan," balas wanita itu.
"Kita bisa ke Hampton malam ini," balas Cedric.
Hermione mengernyitkan keningnya namun tak melepaskan pelukan hangat dari pria ini. Cedric tampak tersenyum lalu mencium puncak kepala wanita Hermione. "Kau serius?"
"Tak ada alasan untuk bercanda, bukan? Tentu aku serius, honey," balas Cedric.
Senyum Hermione akhirnya terpulas membuat wajahnya semakin cantik. "Kau akan pulang?" tanya Hermione.
Ia mengedik. "Jika aku tak salah ingat, ada beberapa pakaian yang aku tinggalkan di Hampton. Aku tak perlu pulang, honey."
Masih dengan senyuman di wajahnya Hermione kembali mengangguk. "Great. Just great," bisik Hermione.
Cedric kembali memeluk erat kekasihnya itu. Ia meletakkan dagunya di puncak kepala Hermione. "Aku tak sabar untuk pulang kerja."
"Kau ada jadwal operasi hari ini, Ced?" tanya Hermione.
"Pukul sebelas ini. Aneurisma," balas Cedric cepat yang dijawab dengan anggukan oleh Hermione.
Tetiba saja keheningan pagi mereka diinterupsi oleh suara panggilan dari ponsel Cedric yang tergeletak di nakas ranjang sejak malam tadi. "Itu pasti Bella. Angkatlah," ujar Hermione yang melepaskan pelukan Cedric Diggory itu.
"Ada kopi serta roti panggang di pantry jika kau mau sarapan. Aku pergi dahulu."
Tak ada ucapan selamat tinggal apalagi kecupan manis di antara mereka. Hermione mengambil tasnya lalu bergegas pergi meninggalkan pria itu.
OOO
Hujan bersahutan bak anjing dan kucing di luar sana. Masih mengenakan scrub biru tuanya, Hermione duduk bersila di salaha satu sofa di ruangan para konsulen dengan segelas Americano di tangannya. Sesekali ia memeriksa ponsel pintarnya namun belum ada satupun pesan masuk dari Cedric. Hal ini menandakan ia masih berada di ruang operasi. Seorang residen mengetuk pintu ruangan itu lalu tersenyum saat melihat Hermione di sana. "Kau menyerantaku, Doctor Granger?" tanya pria berusia di awal tiga puluhan itu pada Hermione.
"Benar. Tadi aku membutuhkan, namun sekarang tidak."
"Baiklah."
"Tapi karena kau sudah berada di sini aku ingin meminta tolong padamu."
"Tentu saja. Ada yang bisa kubantu, Doctor Granger?"
Hermione meletakkan gelas Americano yang tadi ia pegang. "Periksalah OR Board, apakah Doctor Diggory sedang operasi saat ini."
Marco Black, residen tahun terakhir Cardiology itu menggelengkan kepalanya. "Aku tak perlu memeriksa nya, Doctor. Doctor Diggory pasti tengah berada di ruang operasi saat ini. Sejam yang lalu ia dipanggil ke ER karena ada pasien kecelakaan dengan trauma yang lumayan parah di kepalanya. Dan setelahnya aku mendengar ia dan beberapa residen dari Neuro sudah berada di ruang operasi.
"Sure. Kau boleh pergi, Black."
"Sure, Doctor Granger. Ah ya, jangan lupa kita harus visit pasien sore satu jam lagi."
Hermione hanya menggangguk lalu bersiap untuk tidur sambil menunggu jadwal kunjungan kepada para pasiennya sore ini
OOO
Langit kembali gelap gulita meski waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam. Cuaca di New York sangat kontras di setiap musimnya. Di saat musim panas, matahari begitu gagah menunjukkan jati dirinya, sedangkan di musim dingin seperti sekarang sang surya bak enggan menampakkan rupanya. Hermione tengah berdiri di lobby beranda lantai dua rumah sakit ini. Lagi-lagi dengan segelas Americano besar di tangannya. Dua round visit pasien dan dua back to back operasi membuat ia benar-benar membutuhkan caffeine yang banyak untuk tubuhnya. Ia tak ingin tertidur di perjalanan mereka menuju Hampton nanti. Walaupun Cedric yang pasti akan menyetir, namun ia bertekad untuk terjaga bersama.
Wanita itu melihat jam tangan dengan tali kulit hitam di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari lima belas menit ia menunggu Cedric di sini namun batang hidungnya tak kunjung terlihat. Baru saja ia akan mengeluarkan ponsel pintarnya, rambut tembaga kecokelatan khas pria itu terlihat berjalan ke arahnya. Hermione memicingkan matanya. Cedric berjalan ke arahnya masih menggenakan scrub biru tua khas para konsulen lengkap dengan jubah putih kebanggaan para dokter di muka bumi ini. "Kita tak jadi ke Hampton?"
"Aku minta maaf sekali, Hermione," balasnya.
"Karena pekerjaanmu? Atau Bella?" tembak Hermione tanpa banyak berbasa-basi lagi.
Cedric tak menjawabnya. Pria itu hanya tertunduk tak berani menatap Hermione dan wanita itu sudah tahu apa yang menjadi penyebabnya. "Apalagi kali ini? Pipa rumah kalian banjir atau anjing kalian sekarat?" tanya Hermione dengan nada sarkastik.
"Hermione," panggil Cedric dengan nada memelas.
"Don't Hermione me, Ced."
"Orang tua Bella datang dari Florida malam ini dan tak mungkin aku tak berada di rumah."
Hermione kembali menyesap gelas berukuran besar berisi Americano itu hingga kandas tak bersisa. "Mereka datang untuk menghibur Bella, kau tahu akan hal itu."
Ya Hermione sangat tahu akan hal itu. Apa yang tak ia ketahui mengenai hubungan rumah tangga dari kekasihnya ini. Ia bahkan sangat tahu bahwa saat ini mereka tengah menjalani program bayi tabung dan psikis Bella tengah tidak stabil karena hormon-hormon yang disuntikkan kepadanya di setiap harinya.
"Okay."
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Hermione saat ini. "Okay?"
Cedric memandang Hermione bingung. "Kau tak marah?" pria itu kembali bertanya sambil mengacak rambut tembaganya.
Tak ada senyum yang terpulas di wajah Hermione seperti pagi tadi. Wanita yang sudah mengenakan coat bewarna senada dengan roknya itu hanya menatap Cedric dengan dingin. "Apakah aku memiliki hak untuk marah padamu?"
Hermione menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya wanita simpananmu, Ced. Apakah aku memiliki hak untuk marah padamu untuk masalah ini? Tentu tidak."
Wanita itu menghela napas sejenak. "Pulanglah."
Lagi-lagi tanpa salam perpisahan apalagi kecupan hangat khas para pasangan lainnya Hermione melangkah pergi dari hadapan Cedric Diggory dengan sangat tenang. Baru saja ia menyalakan mesin mobilnya sebuah panggilan terdengar dari ponsel pintar Hermione.
Mum
Kata itu yang tertulis di layar datar benda itu. Tanpa perlu repot mengangkatnya, Hermione langsung menancap gas sedan hitamnya. Setelah beberapa kali panggilan tak terjawab dari ibunya sebuah pesan singkat akhirnya muncul di layar datar ponsel pintar itu. Hermione membaca pesan itu di tengah kegiatan mengemudinya.
Pulanglah ke London. Narcissa meninggal dunia sore tadi.
Secara otomatis Hermione membanting stir mobilnya yang mendapat banyak sambutan suara klakson dari mobil-mobil di belakangnya. Ia kembali membaca pesan singkat dari ibunya tadi dan menghela napas panjang setelahnya.
OOO
Segalanya tampak sangat kelabu yang membuat udara dingin ini semakin menusuk hingga ke setiap tulang belulang manusia. Hujan baru saja reda tepat sebelum pemakaman ini diselenggarakan. Tampaknya Tuhan ingin memberikan pemakaman yang indah dan layak bagi Narcissa Malfoy, sahabat ibunya yang sudah menganggap Hermione bak putri kandungnya. Tepat sebelum peti itu diturunkan para pelayat meletakkan bunga lily putih yang merupakan bunga kesukaan almarhumah di atasnya. Draco Malfoy adalah sosok yang meletakkan bunga itu terakhir kali setelah Hermione. Tak ada senyuman bahkan sapaan di antara mereka sejak di rumah duka tadi hingga di pemakaman ini. Mereka hanya bertukar pandang lalu saling mengangguk. Hanya itu sampai semua orang membubarkan diri dari pemakaman itu dan hujan deras kembali mengguyur kota London.
OOO
Tak banyak yang dilakukan Hermione di kampung halamannya kali ini. Setelah dua hari proses pemakaman Narcissa, wanita itu segera bersiap kembali ke New York karena ia tak dapat berlama-lama meninggalkan pasiennya. Elizabeth Granger, ibu kandungnya sudah kembali ke Wales tadi pagi setelah sedikit membuat kegaduhan dengan Hermione sebelumnya. Hubungan mereka tak pernah dekat sedari dahulu. Elizabeth hanya menjadikan Hermione sebuah tropi yang selalu dapat dipamerkan ke khalayak ramai. Elizabeth selalu membanggakan putri satu-satunya itu karena mewarisi kepintaran dirinya. Ia selalu mengatakan pada semua orang bahwa ia adalah orang tua yang sangat suportif hingga dapat mengantarkan putrinya ke posisinya saat ini yaitu seorang dokter bedah jantung ternama di New York. Dapat diakui memang benar Elizabeth Granger adalah seorang dokter bedah jantung tersohor yang memiliki banyak penghargaan. Bahkan metode bedahnya menjadi salah satu metode yang diajarkan pada semua residen bedah jantung saat ini baik di dunia kedokteran Inggris dan Amerika Serikat. Namun untuk semua pernyataan bahwa kesuksesan Hermione adalah berkat dukungannya membuat wanita yang berada di pertengahan usia tiga puluhan tahun itu ingin muntah di depannya. Ia tak pernah ada untuk Hermione sejak puluhan tahun yang lalu. Mereka bahkan pernah tak bertemu lebih dari satu tahun saat Hermione berada di tahun terakhir sekolah menengah atasnya. Dan Elizabeth baik-baik saja akan hal itu. Ia hanya menelepon sesekali dan menyewa seseorang untuk memata-matainya demi memastikan bahwa putrinya tetap belajar dengan giat. Ia bahkan tak ada saat Hermione harus menjalani operasi usus buntunya. Ia hanya menampakkan diri saat Hermione mendapatkan penghargaan. Hanya Narcissa yang ada untuknya. Itulah sebabnya ia sangat terpukul dengan kerpergian wanita yang lebih terasa seperti ibu kandungnya dibandingkan dengan ibu kandungnya sendiri.
Hermione Granger tampak sangat kasual malam ini. Ia mengenakan kemeja putih berbahan satin serta celana jeans dan sepatu berhak tinggi bewarna krem. Wanita itu terlihat menyesap minuman yang ia pesan dari seorang bartender tadi perlahan. Ia masih tak habis pikir dengan kelakuan Elizabeth yang benar-benar tak masuk akal. Ia masih ingat pagi tadi ibunya itu mengetuk kamar hotelnya hanya untuk mencampuri masalah percintaan putrinya yang diyakini Hermione bukan karena ia peduli pada kehidupan putrinya melainkan karena ia tak mau Hermione mencoreng nama baiknya karena menjadi wanita simpanan rekan sejawatnya di rumah sakit. Mengingat hal itu membuat Hermione kembali muak dibuatnya. Wanita yang malam ini menggerai rambut ikal cokelatnya itu kembali melambaikan tangan kepada bartender yang tadi melayaninya. "Gin and tonic, please," ujarnya.
Bartender itu hanya tersenyum lalu mengangguk dan tak lama kemudian kembali dengan segelas gin and tonic yang dipesan Hermione tadi. Tanpa menunggu apapun lagi Hermione langsung menenggaknya hingga kandas. "One more please," kembali Hermione meminta segelas minuman yang sama dari bartender itu.
"Kau yakin?" tanya bartender berkulit hitam di hadapannya?
"Sangat yakin," balas Hermione yang merasa tak perlu berbasa-basi di situasi seperti ini.
"Baiklah."
Dan kembali gelas berisi gin and tonic itu kembali di hadapannya. Baru saja ia hendak kembali menenggaknya, suara berat nan dingin tiba-tiba saja menginterupsinya. "Kau berencana mabuk malam ini?"
Mata Hermione mencari sumber suara itu dan mendapati Draco Malfoy sudah duduk di sisinya. Pria dengan rambut pirang khas dirinya itu melambaikan tangan pada bartender yang sedari tadi melayani Hermione. "Canadian Club Whiskey."
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hermione pada laki-laki yang juga terlihat sangat santai malam ini.
Draco Malfoy hanya mengenakan kemeja biru tua dengan celana bewarna khaki. Tidak ada triple set suits yang biasa ia kenakan bahkan di pemakaman ibunya kemarin. Pria itu tampak menyesap perlahan whiskey yang tadi dipesannya. "Minum sama sepertimu."
Hermione tak menjawabnya. Mereka larut dalam keheningan pikiran masing-masing. Kedua insan itu hanya menyesap perlahan minuman yang tadi mereka pesan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya Draco kembali membuka suara? "Kau akan kembali ke New York besok, bukan?"
Hermione menggangguk. "Darimana kau tahu?"
"Hanya menebak."
Diam kembali menguasai suasana. Dan lagi-lagi Draco yang kembali membuka suara. "Pukul berapa penerbanganmu?"
"Sebelas siang."
"Delta Airlines?"
Hermione menggangguk. "Great. Sampai jumpa di airport besok."
Wanita itu hanya mengernyitkan dahinya. "Ibuku memberikan kalung untukmu sebagai bagian dari warisannya."
Hermione terkejut mendengarnya. Mereka memang dekat bak ibu dan anak, tapi ia tak menyangka bahwa Narcissa sampai meninggalkan warisan untuknya. Setelah melemparkan berita tadi, Draco bangkit dari kursinya sambil meletakkan beberapa lembar poundsterling di atas meja itu.
"Sampai jumpa di airport besok. Selamat malam, Granger."
OOO
Heathrow tampak tak terlalu ramai lagi ini. Oleh karena itu alih-ali berada di coffee shop Hermione memutuskan membeli segelas Americano serta croissant untuk mengganjal perutnya sembari menunggu penerbangannya untuk kembali ke New York dan menunggunya di waiting room. Pagi ini ia mengenakan kemeja hitam yang kembali ia padukan dengan jeans dan boots serta coat panjang bewarna cream. Hermione sudah menyumbat telinganya wireless earphone sambil memakan croissant dan perlahan menyesap Americano yang terlihat masih mengepul dari balik lubang kecil tutup gelas kertas itu. Beberapa kali ia memeriksa ponsel pintarnya dan panggilan tak terjawab dari Cedric yang menghiasinya. Ia memang tak memberitahu siapapun mengenai kepulangannya ke London. Ia hanya mengabari pihak personalia rumah sakit tempat ia bekerja dan Marco Black sebagai residen kepercayaannya.
Alunan suara Erykah Badu yang menemani pagi sendunya terinterupsi oleh sosok yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Draco Malfoy menepati janji untuk menemui dirinya di airport pagi ini. Lagi-lagi ia berpakaian sangat kasual. Ia mengenakan kemeja biru muda dengam celana panjang berwarna biru tua yang senada dengan jaket yang ia kenakan. Tanpa ada kata pembuka atau basa-basi seperti manusia biasanya, Draco langsung mengeluarkan sebuah kotak hitam beludru dari balik jaketnya dan memberikannya pada Hermione yang sontak melepaskan wireless earphone dari telinganya.
"What the hell Malfoy!"
Draco tidak langsung menjawabnya. Pria itu menyesap latte dari gelas kertasnya terlebih dahulu sebelum kembali membuka suara. "Warisan dari Narcissa untukmu."
Hermione menatap horror padanya. "Kau kira aku bercanda saat mengatakan bahwa ibuku memiliki sebuah warisan untukmu."
"Aku pikir kau mabuk, Malfoy."
"So funny, Granger."
Hermione langsung membuka kotak itu lalu menemukan sebuah kalung yang bertabur berlian tercantik yang pernah ia lihat selama hidupnya. Matanya menatap tak percaya pada kalung di hadapannya. Cantik sekali. Sesaat kemudian Draco kembali mengeluarkan sebuah amplop dari balik jaketnya. "Surat?"
Draco mengangguk. "Aku pikir isinya sama seperti milikku."
Teburu-buru Hermione membuka dan membacanya dengan saksama. Matanya terbelalak. Ia menutup surat itu dengan tenang lalu menatap Draco yang tak kalah terlihat tenang. Pria itu dengan santai menyesap latte di tangannya sambil memeriksa pekerjaan yang juga ia tinggalkan di New York sejak beberapa hari yang lalu.
"Apakah Narcissa memintamu untuk menikah denganku?"
Lagi-lagi Draco terdengar sangat santai seakan hal ini bukanlah masalah besar baginya. "Kau tampak tak terkejut," balas Hermione.
Draco tersenyum tipis lalu meletakkan gelas kertas yang sedari tadi ia pegang ke bangku kosong di sampingnya. "Kita hidup di masyarakat yang berbeda, Granger."
"Di saat para remaja seusia kita dahulu memilih basket dan cheerleader sebagai olahraga kita diwajibkan mengikuti polo dan golf. Di saat mereka dibebaskan memilih jurusan perkuliahan yang diimpikan, orang tua kita sudah memilihkan untuk kita. Jadi, jangan terkejut jika mereka sudah memilihkan atau mengatur pasanganmu kelak," Draco menjabarkan dengan sangat tenang
Hermione tak pernah berpikir bahwa seorang Draco Malfoy juga mengalami hal yang sama dengan dirinya. Ia tak tahu bahwa Narcissa juga mengatur semua kehidupannya. "Aku tak tahu bahwa hidupmu diatur sedemikian rupa sepertiku," balas Hermione.
Pria itu mennggeleng. "Narcissa tidak pernah secara gamblang mengaturku. Tetapi, semua ini sudah menjadi kebiasaan bukan?"
Bertahun-tahun mengenal Draco Malfoy baru kali ini Hermione mendengar ia berbicara panjang lebar. Pria yang ia kenal sejak di bangku sekolah dasar ini teramat jarang berinteraksi dengannya. Hubungan mereka hanya sekadar teman sekolah dan ibu mereka yang saling bersahabat. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Jadi , kau sudah tahu bahwa kau akan dijodohkan denganku?" tanya Hermione.
Draco kembali menggeleng. "Aku tahu suatu hari Narcissa akan berbasa-basi mengenai pasanganku dan membawa list calon yang dirasanya cocok dengan nama Malfoy yang kusandang. Tetapi, aku tak tahu bahwa wanita itu adalah dirimu."
Masuk akal. Jangankan menikah dengan Draco, duduk berdampingan sembari menunggu penerbangan mereka saja tak pernah terlintas di nalar Hermione. "Dari apa yang kau jelaskan, kau tak terdengar keberatan dengan permintaan ibumu atau ide dari sebuah perjodohan."
Mereka berdua terlihat menyesap sisa minuman yang masih ada di gelas kertas itu. Draco mengedik sambil memakain sunglass yang ia kantungi karena secara ajaib rintik hujan di luar sana berhenti untuk digantikan dengan cahaya matahari yang memantul di kaca yang mengelilingi ruang tunggu airport ini. "Marriage is a business in our society, isn't?"
"Hal ini adalah lumrah. Orang tuamu, orang tuaku semuanya adalah hasil perjodohan," tambah Draco.
Hermione tertawa sarkastik ketika mendengarkan apa yang diutarakan Draco. "Dan lihatlah hasilnya, Malfoy. Ayahku meninggal tanpa ibuku memedulikannya. Ibumu meninggal sementara ayahmu tengah bersama wanitanya yang lain."
Tak ada tawa sarkastik dari Draco seperti Hermione tadi, ia hanya mengedik. "Lihatlah peninggalan sebuah yayasan amal dan banyak bisnis lain yang dihasilkan oleh orang tuamu. Dan lihatlah kerajaan bisnis keluargku karena Lucius menikahi Narcissa, salah satu pewaris kekayaan keluarga Black di Inggris."
"Kau berpikir Narcissa memintaku untuk menikah denganmu dengan alasan bisnis?"
"Selain ia sangat menyayangimu bak putri kandungnya, alasan bisnis pasti adalah salah satunya."
Hermione terdiam. Hal gila macam apalagi ini. Apakah masalahnya dengan Cedric dirasa Tuhan tak cukup menguras emosinya? Kini ditambah dengan wanita yang sangat menyayanginya meminta dirinya untuk menikah dengan putranya.
"Kau tak perlu memikirkan apalagi menyetujuinya. Narcissa sudah tidak ada, permintaanya tak lagi valid untuk dilakukan," jelas Draco tenang.
Hermione tak menjawabnya. Perasaan tenang dan damai menjalar di tubuhnya. Setidaknya ia tak perlu melakukan hal yang tak masuk akal dan tak sesuai dengan keinginannya. "Dan satu lagi, Narcissa mewariskan sebuah rumah di Fort Greene."
"Fort Greene di Brooklyn, New York?" tanya Hermione.
Draco menggangguk. "You guys are crazy," tandas Hermione tak percaya.
"Bukan aku, hanya Narcissa."
"Pengacaraku akan mengurus segalanya dan langsung mengirimkan semua sertifikat kepadamu."
Belum sempat Hermione menjawabnya sebuah panggilan untuk penerbangan mereka telah menggema ke seantero airport ini. Draco langsung bangkit dari duduknya begitupula dengan Hermione. "Kau juga di first class?" tanya Draco saat melihat wanita itu ikut berdiri di sisinya.
"Kenyamanan adalah hal yang utama, Malfoy. Remember it's a tradition in our society," ujar Hermione yang melenggang pergi meninggalkan Draco menuju gerbang keberangkatannya.
Draco hanya tersenyum lalu ikut berjalan di belakangnya.
OOO
Meninggalkan rumah sakit mendadak selama beberapa hari memang bukanlah kebijakan yang baik dirasa Hermione Granger. Pagi sekali ia sudah berada di ruangannya demi memeriksa semua rekam medis pasien-pasiennya. Mulai dari rawat jalan, pre op dan post op sampai dua pasien yang akan dioperasinya siang dan sore ini. Sebuah gelas kertas berukuran besar berisikan Americano dan beberapa buah donut sudah menemanin wanita yang telah mengganti bajunya dengan scrub biru kebanggan para konsulen rumah sakit ini. Dengan seluruh beban yang akan dia jalankan siang ini, asupan caffeine, karbohidrat dan protein tidak boleh kendor dari tubuhnya.
Tok.. tok..
Sebuah ketukan terdengar dari luar pintunya. Marco Black terlihat berdiri di balik jendela ruangannya. "Masuklah," jawab Hermione.
Marco berdiri di ambang pintu itu dengan sebuah tablet pintar di tangannya. "Selamat datang kembali, Doc."
"Bagaimana kabar London?" tambah pria itu lagi.
Hermione mengernyitkan dahinya sembari meminum semua multivitamin yang akan menunjang kebugarannya dalam satu tenggakan itu. "London basah dan suram," balasnya yang disambut dengan kekehan dari Marco.
Wanita itu bangkit dari kursinya lalu memakai jas putihnya sambil berjalan ke arah Marco kemudian mengambil tablet pintar yang dipegang oleh residennya itu. "Sudahi basa -basimu. Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang Black."
"Siap Dokter Granger."
OOO
Seperti yang sudah Hermione perkirakan tadi pagi sebelum memulai harinya bersama Black, hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat panjang bagi Hermione. Kakinya hampir copot karena berdiri selama berjam-jam di ruang operasi. Wanita itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun lobby rumah sakit ini tampak masih sangat ramai. Berita yang beredar, terjadi kecelakaan yang berjarak beberapa blok dari rumah sakit ini. Hermione segera bersiap untuk meninggalkan rumah sakit sebelum ER memanggilnya.
Hemione sudah mengganti scrub biru tuanya dan menggantinya dengan terusan krem yang dipadukan dengan coat hitam serta boats sebelum berjalan ke parkiran rumah sakit ini. Wanita itu singgah sesaat di coffee shop lobby ini sebelum menuju basement untuk mengisi daya caffeine dalam darahnya.
"Americano on the rock.."
"Classic 3, liquid whipped cream 1. Jangan lupa di-shake"
Hermione tahu sekali sumber suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Cedric dengan sigap menyerahkan kartunya pada kasir di hadapannya lalu mengambil minuman Hermione dan memberikan minuman itu padanya. Hermione hanya menatapnya sesaat lalu mengambil gelas kertas kemudian berlalu. "Apakah kau tak merasa berhutang penjelasan padaku?" tanya Cedric yang berusaha mengimbangi langkah Hermione.
Hermione menyesap minuman yang terlihat mengepul dengan harum yang sangat ia gemari itu. "Tak ada yang perlu kujelaskan."
"Kau marah padaku karena membatalkan janji tiba-tiba?" balas Cedric pelan.
Hermione mengedik. "Apakah kau lupa, Ced? Aku tak punya hak untuk marah kepadamu," balas Hermione dingin sambil terus berjalan.
"Lalu apa maksudmu pulang ke London tanpa memberitahuku?"
Hermione mengehentikan langkahnya dengan tatap dingin kepada Cedric Diggory yang berdiri di hadapannya. "Hentikan, Ced. Aku sangat lelah hari ini."
"Kau yang seharusnya menghentikan hal ini. Kau pergi ke London tanpa memberitahuku. Lalu kau tak mengangkat semua pesan dan panggilanku. Dan hari ini kau selalu menghindariku," ujar Cedric yang berusaha mengontrol nada bicaranya agar tak mengundang perhatian khalayak ramai.
"Kau mau aku menghentikan hal ini? Baiklah."
Wanita itu menghela napas sejenak sebelum kembali membuka suaranya. "Mari berpisah. Aku ingin berpisah denganmu."
"Kau gila, Hermione," sontak Cedric ingin menarik tangan Hermione yang dengan sigap wanita itu hindari.
"Sayang."
Suara perempuan terdengar dari belakang Cedric. Sontak pria itu berbalik badan dan terkejut dengan siapa yang tengah berjalan ke arahnya. Begitupula dengan Hermione yang seumur hidupnya berusaha untuk menghindari situasi ini. Isabella Lancelot atau sekarang berubah menjadi Isabella Diggory berjalan dengan anggun ke arah mereka dengan dua gelas Americano dingin berukuran sangat besar di kedua tangannya. Senyum serta tatapan matanya seakan dapat membunuh siapa saja yang berada di sekitarnya.
"Aku kira kau sangat sibuk sampai tak dapat membalas sedikitpun pesan dariku, Sayang," ujar Bella, panggilan dari perempuan ini.
Cedric tampak sangat tak nyaman dengan situasi ini begitupula dengan Hermione yang sedari tadi tampak tenang agar segalanya tetap terkendali. "Baru saja aku akan mengabarimu. Aku baru saja menyelesaikan dua operasi berturut, Sayang."
"Aku kira kau sibuk dengan Dokter Granger," balas Bella yang tak lepas menatap Hermione sejak kedatangannya.
Hermione hanya tersenyum. "Selamat malam Mrs Diggory. Aku pamit terlebih dahulu."
Baru saja Hemione hendak pergi, Bella kembali membuka suara. "Apakah kau risih dengan kehadiran istri sah dari selingkuhanmu?"
"Bella!" Cedric memegang tangan istrinya dengan mata melotot.
"Kenapa, Cedric? Bukankah semua orang tahu dia adalah gundikmu?" suara Bella terdengar semakin tinggi.
Beberapa orang mulai memerhatikan mereka bertiga. "Pergilah, Hermione," ujar Cedric sambil memegang tangan Bella.
"Tanpa kau minta aku memang akan pergi dari sini," balas Hermione.
Belum sempat Hermione meninggalkan tempat itu, Bella melepaskan tangan Cedric lalu dengan sigap menarik tangan Hermione Granger untuk kemudian menyiram dua gelas Americano dingin ke kepalanya. "Kau kira aku tak tahu kalian berselingkuh, huh? Kau pikir aku tak tahu selama ini Cedric tidak pulang ke rumah bukan karena ia harus melakukan operasi melainkan bermalam di rumahmu? Dasar wanita jalang!"
"Bella cukup!" Cedric menarik istrinya untuk menjauh dari Hemione.
Sementara Hermione yang masih tertegun dan berusaha mencerna kekacauan yang tengah terjadi saat ini. Ia menyadari semua mata tertuju pada mereka. Perlahan Hemione menyeka rambutnya yang sudah kuyup dengan aroma kopi yang menempel di sana. Alih-alih berlari meninggalkan keadaan itu, Hermione berjalan ke arah Cedric dan Bella yang masih dirasuki emosi. Ia tersenyum tipis seraya berbisik pada Bella pelan. "Tanyakan pada suamimu, alasan ia sampai berselingkuh denganku, Mrs Diggory."
Bella mengayunkan tangannya untuk menampar Hermione namun dengan sigap ditahan olehnya. Masih dengan memegang tangan Bella, Hermione mengendus wajah istri dari Cedric itu lalu mundur perlahan. "Mrs Diggory apakah kau mabuk? Diggory tolong luangkan waktumu untuk istrimu dan jika sempat bawalah ia ke psikiater."
Ia sengaja membesarkan suaranya agar orang-orang yang memperhatikan mereka mendengarnya. "Jaga omonganmu! Aku tidak gila."
"Kalau begitu, selamat malam," tambah Hermione.
Ia menegapkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan tempat itu dengan sejuta emosi yang berkecamuk di kepalanya.
OOO
Bersambung
A/N: My laptop was stolen for more months ago. I tried to logged on this account but unfortunately it didn't work. So I decided to make a new one named Soleil Soleil, but like everyone always said 'masih rezeki anak sholeh' I finally can log in to this account. So, please enjoy.
FYI, I should postpone 'The Gift' cause I lost all the draft. I'll try to rewrite everything after this.
