"Midoriya, bisa tolong bawakan ini ke mejaku? Aku mau mengajar kelas lain setelah ini."
"Ah? Boleh."
Wali kelasnya, Aizawa-sensei memberikannya satu tumpuk buku tulis milik kelas 2-A. Izuku yang kebetulan lewat diberhentikan dan diserahkan tugas estafet. Gadis itu menjalaninya tanpa protes. Toh, ia juga akan tetap melewati kantor guru kalau hendak ke kelas. Maka Izuku susah payah mengetuk dan masuk ke dalam kantor guru. Saat istirahat, ruangan ini biasanya penuh. Tetapi hari ini tidak. Hanya ada beberapa orang. Meja Aizawa-sensei jauh, ada di ujung ruangan di dekat jendela dan loker besar. Izuku berjalan tertunduk mencari meja wali kelasnya dan menaruh tumpukan buku itu di meja.
Orang itu disana. Ada di sisi lain ruangan. Duduk bersandar dengan raut wajah kusut dengan lembaran-lembaran kertas. Izuku mencuri pandang sejenak sebelum akhirnya menelengkan kepalanya. Ia cepat-cepat keluar dari kantor guru dengan hati kacau dan pikiran yang berantakan.
Pakai kemeja terang kelihatan tampan. Tapi malah jauh lebih keren kalau pakai kemeja warna gelap!
Fajrikyoya, proudly present:
Himeros Exposure
Rate: M for adultery and heavy conflicts.
Pair: Chisaki Kai (overhaul) x Fem! Deku.
Disclaimer: BNHA and every aspect of it belongs to Horikoshi Kouhei-sensei.
Warning: AU high school. Genderswap. OOC. Abal. Alay. Nggak jelas. Sok puitis. Tidak menggunakan Kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dapat mengandung istilah yang bisa jadi disalah-artikan dan disadur dari mana-mana tanpa sumber tertera. Seperti biasa, roller coaster twisting upside down. Dapat menyebabkan kesal, marah, geregetan, gondok, hipertensi, asam urat, migrain, anemia, mabuk laut dadakan dan emosi menggebu atas kejadian fiktif . Membaca lebih lanjut diluar tanggung jawab author.
Midoriya Izuku mau mengaku dosa.
Ia jatuh cinta pada salah seorang guru di sekolahnya.
Namanya Chisaki Kai. Beliau adalah guru bahasa Mandarin.
Naas, Izuku masih kelas 1. Pelajaran bahasa Mandarin adalah kelas yang akan didapatnya ketika menginjak kelas dua dan tiga sebagai muatan lokal. Muatan lokal yang didapan anak kelas 1 adalah pelajaran ekonomi rumah tangga yang membosankan namun tidak bisa dihilangkan begitu saja. Chisaki-sensei hanya mengajar kelas 3, karena di kelas 2 sudah ada Sir Nighteye—nama kerennya Sasaki-sensei. Beliau dipanggil begitu oleh anak-anak murid karena tubuhnya yang luar biasa jangkung dan penglihatannya yang super jeli. Tidak akan ada kesempatan bagi siswa untuk mencontek dalam ujian jika masih dalam pengawasannya.
Chisaki Kai dan Toyomitsu Taishiro adalah dua guru muda yang baru saja bergabung dengan SMA Yuuei sebagai tenaga pengajar. Toyomitsu-sensei adalah guru bahasa Inggris Izuku yang sekarang. Sikapnya yang ramah dan logat Inggrisnya yang terkesan 'edgy British' membuatnya jadi favorit anak-anak. Belum dua bulan beliau sudah punya fansclub. Tubuhnya gembul dan besar. Murid perempuan suka beliau karena tampangnya imut dan orangnya baik. Sementara murid laki-laki suka beliau karena orangnya gaul dan bisa diajak ngobrol mengenai topik anak muda seperti musik, sepak bola atau game.
Sebaliknya, Chisaki-sensei malah terlihat tenggelam dalam keheningan. Hanya anak-anak kelas 3 yang mengenalnya, sisanya hanya tahu nama dan bidang yang diajarkannya. Jujur saja, Izuku kepincut pada sang guru bahasa Mandarin murni karena penampilan fisiknya. Chisaki lumayan tinggi dengan bahu bidang dan tubuh ramping kencang. Rambutnya dipangkas pendek. Alisnya tipis, matanya sipit dengan bulu mata panjang dan iris ambar yang misterius. Garis rahangnya lugas dan halus seperti dipahat dengan sempurna. Kalau diperhatikan lebih seksama, ada bekas luka di dahinya dan bekas tindikan di telinganya. Ada anak kelas 3 yang bahkan bilang kalau Chisaki-sensei punya tatto di tubuhnya. Dilihat dari paras dan gaya berbusananya, usianya paling tua akhir 20-an. Bertolak belakang sekali dengan Toyomitsu-sensei, Chisaki-sensei terlihat tidak dekat sama sekali dengan anak-anak murid.
Izuku cuma berani menatap dari jauh. Tentu saja, jatuh cinta pada seorang guru adalah perbuatan yang tidak pantas. Tapi Chisaki-sensei kelihatan tenang dan dewasa, kalem dan jika dipadukan dengan mata ambarnya yang eksotis itu, Izuku bisa dibuat berpikir yang tidak-tidak. Karena malu, Izuku memilih menyimpan perasaannya seorang diri. Ia tidak memberitahu siapapun. Gadis berambut panjang berombak itu memilih menenggelamkan dirinya dalam hobi dan kegiatan sekolah.
"Midoriya! Bubai-sensei memanggilmu! Beliau menunggumu di depan kelas C." teriak Kaminari dari pintu kelas.
"Buat apa?" Izuku mengerenyit. Kaminari cuma menggedikkan bahu.
Istirahat sudah mau selesai, dan Izuku memilih bergegas. Bubaigawara-sensei adalah guru matematikanya. Izuku pernah tidak masuk kelas pada saat kuis karena terserang radang tenggorokan. Mungkin beliau ingin membahas hal itu. Dan benar saja. Baru saja Izuku sampai, Bubaigawara-sensei langsung bilang maksud dan tujuannya.
"Kamis depan tanggal 20 kuis susulanmu, ya. Sepulang sekolah temui aku."
"Oke."
Bel masuk berbunyi beberapa menit setelahnya. Izuku langsung berlari karena sehabis ini ia ada kelas olahraga. Kalau tidak cepat ganti baju nanti ia bisa terlambat. Gadis bersurai hijau gelap itu melompati anak tangga dengan terburu-buru sampai tidak melihat ada seseorang di belokan dan tidak sengaja menabraknya. Izuku limbung, terpental beberapa langkah namun ia berhasil menahan dirinya untuk tidak terjungkal.
Tidak.
Sesosok tangan kokoh menangkapnya dengan kuat sampai Izuku tidak terjungkal.
"Ups. Nggak apa-apa?"
Izuku melotot. Ternganga. Tidak percaya.
Hidup kadang memang suka bercanda. Dari sekian banyak orang yang ada di SMA Yuuei kenapa dia malah berpapasan dan bertabrakan dengan Chisaki? Izuku dibuat kalang kabut, salah tingkah ketika melihat si guru bahasa Mandarin hanya tersenyum tipis. Tipis dan timid, yang membuatnya makin terlihat tampan!
"Ni...ni...nĭ hăo mă? [apa kabar?]." Gadis bermarga Midoriya itu mendadak latah karena gugup. Itu adalah kalimat dasar yang selalu didengarnya ketika para senpai berpapasan dengan Sasaki-sensei atau Chisaki-sensei.
Chisaki tampak terkejut, dan ia cuma menjawab singkat. "Hăo [Baik]. Nĭ ne? [dan kau?]."
Izuku tergugup. Kalimatnya terbata-bata. "W..wo..wŏ ài nĭ, xié xie [a..a..aku cinta kamu. Terima kasih]."
Senyuman timid itu melebar menjadi seringai. Chisaki melekatkan kepalan tangannya ke bibir dan menahan kekehan geli mendengar jawaban Izuku. Gadis berpipi gembil itu mengangguk hormat tanda pamit namun si guru bahasa Mandarin menjegal bahu Izuku, menahannya pergi.
"Tunggu." Katanya. Suaranya gelap, dalam dan ada aksen retaknya. Tipikal suara-suara penjahat di serial anime. Izuku dibuat tertegun karena belum pernah ia mendengar suara Chisaki-sensei sejelas itu. "Siapa namamu?"
"Mi..Mi..Mi...Midoriya." jawab gadis itu. Pipinya memanas dan telinganya memerah. "Mi..Mi..Mi..Mi...Midoriya I..I...Izu...Izu...ku. Izuku."
"Aku tidak pernah melihatmu. Kelas berapa?"
"1-A."
"Aksenmu bagus." Ucapnya. Beriring senyum lembut yang dikulum dan tatapan langsung. Chisaki kemudian melambai. "Dah, Midoriya Izuku."
Izuku mengangguk. Ia berjalan ke kelasnya dengan langkah kaku, ingin hati buru-buru mengambil pakaian olahraga dan ganti baju namun kakinya lemas. Ia bersidekap di meja dan berusaha mengatur nafasnya yang berhamburan. Ia masih bergetar seakan-akan energi hidupnya menguap begitu saja.
"Midoriya, kenapa nggak ganti baju?" Ashido Mina datang ke kelas, mencari salah seorang teman sekelasnya yang belum hadir di lapangan. "Kelasnya sudah mulai, lho."
"Nggg..."
"Hei, ada apa?" Ashido membelai kepala bersurai hijau berombak. "Kau sakit?"
"...iya."
"Sakit apa?"
"Flu." Gadis dengan pipi gembil berbintik itu melantur. "Flu burung. Flu babi. Flu Arab. Flu Spanyol."
"Hah? Bicara apa sih, kau ini?"
"Bilang saja sama sensei aku ini kena flu burung Arab dari babi Spanyol."
Ashido tertawa. "Sensei mana percaya, baka. Ya sudah kalau tidak mau kesana. Aku akan bilang kalau kau sakit perut karena datang bulan, ya."
Izuku mengintip, tersenyum lembut dari balik dekapan sikunya. "Sankyuu, Ashido-san."
Sepanjang kelas olahraga, Izuku berdiam di kelas sendirian. Kejadian konyol itu masih terbayang-bayang di kepalanya. Kalimat konyol apa yang terlontar di mulutnya tadi, sih? Untung saja Chisaki menganggapnya sebagai hal yang lucu. Izuku sangat awam bahasa Mandarin, dan sikapnya tadi hanya bermaksud memaklumi.
Gadis berpipi bintik itu mengambil ponselnya, iseng-iseng berhadiah mengetik nama lengkap si pencuri hati melalui tab pencari di instageram. Barangkali saja Chisaki punya akun disana, kan? Ini sudah era digital, hampir semua orang di dunia ini punya akun sosial media.
"Eh? Nggak di lock?"
Pencarian nama 'Chisaki Kai' berujung pada akun tunggal dengan username overhaul. Awalnya Izuku sanksi, namun dari koleksi unggahan fotonya terbukti bahwa ini adalah akun instageram si guru bahasa Mandarin. Namun bio yang tertera di akunnya membuat Chisaki menjadi lebih dipenuhi teka-teki.
Chisaki Kai
TPE|CPH|DXB|HND
Followers akunnya 4k, berarti ada 4.000 orang yang mengikutinya. Setelah scroll down semakin mendalam ke akun Chisaki, terdapat foto-foto lamanya saat ia masih remaja. Ada pemandangan kota tua Eropa dan air mancur, suasana pinggir hutan dengan tumpukan salju atau gradasi warna musim gugur, padang pasir dan panorama kota metropolitan, foto selfie menggunakan kacamata hitam dan sorban merah-putih dengan caption tulisan Arab pada foto tersebut. Kebanyakan kutipan caption pada postingannya penuh dengan huruf kanji bahasa Mandarin. Ada pula kalimat berbahasa Inggris pada postingan lain. Ada bahasa lain yang tidak Izuku tahu. Ada salah satu foto yang Izuku sukai, yakni salah satu postingan terbaru Chisaki. Lokasinya menerangkan foto itu diambil di Taipei. Sosoknya tengah duduk di kereta metro kosong, mengenakkan parka hijau yang tudungnya berbulu. Posenya setengah badan dari kepala sampai pertengahan dada, membuat wajahnya kelihatan jelas. Parasnya tampak setengah melamun. Ia terlihat memandang keluar jendela saat difoto.
'estranged in my own homeland.'
Tanpa pikir panjang, Izuku menangkap foto tersebut dalam bentuk screen shot. Ia menyimpannya untuk kenang-kenangan. Sampai rumah nanti, mungkin ia akan mencetaknya sebagai pemanis jurnal hariannya.
BANTOR - BACOTAN AUTHOR:
Hai semuanya! Author kembali dengan fanfic genderswap deku! Kali ini, idenya dibuat berdasarkan fanfic karya author yang sebelumnya, Frost Burning. Oh, well, author mau ngaku sebenernya pair ini udh lumayan nggak laku lagi secara Seasons 4 udh tamat kan yah. Tapiiiiiii author memenuhi janji aja mau bikin fanfic femdeku buat user [thornberriess] /dimana kamu naaak?!
Ide bikin fanfic ini macam-macam. Karena author kerja di kitchen sama beberapa orang dari RRC, author sedikit banyak tertarik soal bahasa Mandarin yang diklaim sebagai bahasa tersulit di dunia itu. Terus, ide untuk bikin Overhaul jadi guru karena secara canon umurnya Deku sama Overhaul lumayan jauh. Pembawaannya Overhaul yang daddy sekali itu kayaknya mantep untuk dijadikan skandal cinta guru-murid. Oh, dan lupakan topeng burung dan masker aneh di mukanya Overhaul (meski jaman pandemik begini tapi bodoamat lah ya), di fanfic ini yang author bayangkan adalah tampang ikemen dibalik topeng burung laknat itu. Omaigat ternyata Overhaul ganteng coy. Mukanya kayak mashup Akaashi Keiji sama Sawamura Daichi dari fandom voli-volian itu kalo menurut author, atau malah kayak bapaknya Gaara kalau kata adeknya author. Todoroki Sho-chan monmaap author pindah hati, ya! /lusiapawoy
Yosh! Sekian bacotan kali ini. Jangan lupa tinggalkan review, pencet favorit, follow, dan jan lupa follow IG-nya author juga /nggakgitu
See you in the next chapter!
