Ace of Diamond (c) Terajima Yuuji

Miyuki Kazuya: 26 tahun

Sawamura Eijun: 20 tahun

...

Eijun menyukai makanan manis seperti permen dan kue daripada asupan empat sehat lima sempurna. Berdasarkan alasan tersebut, Miyuki senang sekali membelikan suami kecilnya santapan manis dari bakery ternama.

Dan inilah akibatnya sekarang.

Eijun sudah menghabiskan lima menit hanya untuk berdiri bak patung di depan kaca panjang. Ia meratapi nasib bentuk tubuhnya yang kian hari tampak membulat. Dengan wajah masam, Eijun membawa jari telunjuk untuk menusuk salah satu pipinya yang kenyal. Astaga. Dia benar-benar seperti bola empuk sekarang. Apa isi pikiran Miyuki yang telah melihatnya berubah jelek seperti ini?

Sebenarnya, Eijun tahu betul konsekuensi dari mengonsumsi makanan manis berlebih. Tapi apalah daya? Makanan manis adalah yang terbaik... ya kan?

Akibat itulah, Eijun sedang berusaha menurunkan berat badannya selama tiga hari terakhir. Tanpa pengawasan suaminya, Eijun mengurasi porsi karbohidrat, gula, dan lemak dengan hanya makan dua kali sehari; pagi dan sore. Itu pun porsinya luar biasa sedikit. Eijun juga mulai rajin untuk jogging setiap hari.

Seperti pagi ini misalnya. Eijun sudah siap dengan setelan pakaian yang cocok untuk jogging di sekitar rumah. Sebelum berangkat, perutnya malah keroncongan. Namun karena tekad kuatnya untuk diet, Eijun mengutuk perutnya agar tetap diam dan lanjut pergi keluar untuk berolahraga.

Biasanya jika sedang tidak sibuk, Miyuki akan bersedia menemani berkeliling. Hanya saja, Miyuki sudah tidak pulang selama empat malam akibat penerbangan ke Paris dengan pesawat Airbus A380—model pesawat favoritnya.

"Aku pergi, bibi!"

Eijun melambai semangat ke arah wanita tua yang turut melambai dengan senyum hangat. Wanita itu adalah bibi Jun, pembantu rumah tangga mereka yang selalu pulang seminggu sekali.

.

.

Matahari kian meninggi dan sinarnya mulai terasa panas. Eijun pun mulai merasakan beberapa bulir keringat mengalir di balik fabrik pakaiannya. Dengan langkah lambat akibat sudah mulai kelelahan, Eijun menempuh rute kembali menuju rumah.

"Eijun, selamat pagi."

Langkahnya terhenti saat disapa oleh seseorang. Orang itu adalah Amahisa, pemilik rumah tepat di sisi kanan rumahnya.

"Ah, selamat pagi juga, Kak."

Amahisa tampak baru pulang kerja. Terbukti dari setelan celana hitam bahan dan kemeja putih yang sudah sedikit kusut di beberapa bagian. Mobilnya pun sedang diparkirkan oleh satpam ke dalam garasi. Pekerjaan berat pastilah membuatnya baru kembali di pagi hari seperti ini.

By the way, bagaimana bisa pria sesukses Amahisa belum memiliki pasangan?

"Kau habis berolahraga? Dahimu penuh peluh begitu."

"Hehe. Iya."

Amahisa tersenyum mafhum. "Itu bagus untukmu. Lain kali ajaklah aku."

"Ajak kemana?" Tanya Eijun. Jelas tidak menangkap maksud pria itu.

"Hahaha." Yang lebih jangkung menyandarkan sisi tubuh pada pagar besi rumahnya. "Tentu jogging sekitar sini."

Eijun menelan ludah. Dia bisa di posisi berbahaya jika Miyuki mendapatinya berolahraga dengan pria lain.

"M-mungkin lain kali." Jawab Eijun seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jelas tidak pandai dalam urusan memberi penolakan.

"Apa suamimu sudah pulang? Aku tidak melihat Miyuki akhir-akhir ini."

"Kak Miyuki akan pulang hari ini. Dia sangat sibuk."

"Ooh, begitu. Baguslah. Tidak baik untukmu ditinggal seorang diri terlalu lama."

"Iya kak. Terima kasih banyak atas perhatiannya." Tepat saat Eijun membungkuk sopan dan hendak pulang, kedua kakinya menyerah. Eijun oleng dan hampir saja jatuh jika Amahisa tidak menahan tubuhnya segera.

"Ya ampun." Amahisa meneriaki pembantunya agar membawakan kursi lipat. "Kenapa kau bisa lemas seperti ini?"

"T-tidak tahu." Padahal, Eijun tahu betul bahwa ia selemas itu karena tidak mengasupi tubuhnya dengan karbohidrat yang cukup.

"Kau sepertinya berkeliling cukup jauh tadi. Untung kau tidak tumbang seorang diri di pinggir jalan." Omel yang lebih tua. Eijun hanya diam menurut saat didudukkan di atas kursi yang sudah diletakkan dekat pagar.

"Terima kasih..." Segelas air hangat diterima. Kedua tangan Eijun tampak sedikit gemetar.

"Kau ini." Amahisa memijit pangkal hidung mancungnya. "Lihat bibirmu itu. Pucat sekali. Aku punya satu botol obat tradisional agar dirimu membaik. Akan kubawakan untukmu."

"Tidak perlu, kak. Aku akan pulang saja sekarang." Eijun sudah pergi jogging cukup lama. Bibi Jun pasti mulai gelisah menunggui sosoknya untuk segera pulang. "Terima kasih atas bantuannya."

"Diam di sini. Aku-"

"Istriku bilang dia tidak membutuhkannya, loh."

Seseorang datang, berdiri menjulang tak jauh dari keduanya.

"Kak Miyuki?!" Eijun lantas berdiri dan menghampiri Miyuki yang masih berpakaian lengkap ala pilot maskapai dia bekerja. Hanya minus topi dan jas luaran saja.

Tahu betul dengan apa yang terjadi pada Eijun, Miyuki lantas menyambut dengan meraih lingkar pinggangnya yang kecil. Tatapannya melembut dengan sirat khawatir yang kentara. Kemudian, sorot matanya berubah—beralih menatap tajam Amahisa yang masih berdiri di dekat kursi tempat Eijun duduk sebelumnya.

"Terima kasih atas pertolonganmu." Setelah itu, Miyuki memapah Eijun untuk meninggalkan halaman rumah tetangga mereka. Di depan rumahnya sendiri, Bibi Jun sudah berdiri menunggu di depan pintu utama diselimuti rasa khawatir.

Sang dominan menuntun Eijun sampai ke ruang tengah. Bibi Jun mengikuti langkah keduanya dari belakang. "Bibi, tolong siapkan beberapa potong roti selai untuk anak yang ceroboh ini."

Bibi Jun mengiyakan dan segera menuju dapur. Wanita itu juga berencana untuk menyeduh segelas teh hangat untuk sang pilot.

"Jelaskan padaku kenapa kau bisa bersama dengan Amahisa?" Tanya Miyuki setelah menjatuhkan diri tepat di samping belahan jiwanya. Eijun tidak langsung menjawab dan menyandarkan kepala pada bahu Miyuki yang lebar.

Shiba inu kecil kita tentunya sudah sangat merindukan Miyuki, sosok yang sudah ia kenal dari semasa kecil.

"Jangan berprasangka buruk dulu. Tadi kak Amahisa menyapaku saat aku melewati rumahnya. Setelah berbincang sesaat, Eijun hampir oleng dan jatuh."

Eijun memejamkan kedua mata. Batinnya memohon agar Miyuki akan segera percaya dan tidak lagi bertanya yang tidak-tidak. Akibat rindu yang memupuk, Eijun ingin segera tidur nyenyak dalam lingkar tangan kekar Miyuki hingga keduanya sukses melepas lelah.

"Jangan dekat-dekat dengannya." Miyuki merapatkan pelukan. Jari-jari panjangnya memilin surai Eijun dengan gerakan malas. "Dia itu sudah melajang terlalu lama. Bagaimana jika suamiku yang cantik ini diculik, huh?"

Eijun mendongak dan disambut dengan pemandangan rahang tegas Miyuki. "Kakak bicara yang aneh-aneh. Aku tidak suka."

Tentu Miyuki mencuri kesempatan untuk mengecup bibir merah Eijun sekilas. "Pokoknya jangan dekat-dekat dengannya. Kalau ingin bercengkrama dengan tetangga, datangi saja rumah Sanada. Raichi itu cukup bawel dan tidak akan membuatmu bosan."

"Bosan, ah."

"Lalu bagaimana agar suamiku yang cantik ini tidak bosan di rumah sendirian?"

"Jangan memanggilku cantik. Kakak pasti berbohong." Eijun bersidekap. Bagaimana bisa wajah dan tubuhnya yang membengkak ini disebut cantik?

"Bohong apanya?"

Dengan perasaan gusar, Eijun menjauh dari bahu Miyuki. Mata kucingnya lalu menatap iris karamel Miyuki untuk menuntut jawaban pasti. "Aku gemuk! Lihat pipiku ini. Lama-lama membulat seperti donat."

Sang lawan bicara tampak terkesiap. Beberapa sekon kemudian, ia malah tertawa. "Lalu kenapa memangnya kalau gemuk? Kau akan tetap cantik dalam keadaan apapun. Lagipula berkacalah yang benar. Kau tidak menggemuk. Pipimu memang seharusnya chubby seperti itu."

"Aku benci pipi chubby. Sebentar lagi, aku akan menghilangkannya. Lihat saja."

"Hei hei."

"Aw!"

Sang submisif mengeluh sakit setelah jari panjang Miyuki menjitak dahinya (walau sebenarnya tidak begitu keras). "Aku tidak suka jika kau menganggap dirimu jelek. Mau gemuk atau pun kurus, aku tetap mencintaimu. Jika keadaannya sudah seperti ini, yasudah biarkan saja. Kau tidak perlu sampai irit makan dan berolahraga sampai hampir pingsan seperti tadi, sayang."

"K-kakak tau darimama kalau aku irit makan?"

"Bibi Jun."

"..."

Bertepatan dengan itu, Bibi Jun sudah kembali dengan membawa nampan makanan. Sepiring roti selai dan satu gelas teh manis disimpan di atas meja. Setelah itu, sosoknya pamit menuju ruang setrika.

"Bibi Jun mengadu bahwa ia telah memasak cukup banyak untukmu. Dia juga membuat camilan untuk menemanimu mengerjakan tugas kuliah. Tapi rupanya, kau malah makan sedikit seakan makanannya tidak enak."

Eijun menunduk—jelas merasa bersalah. "Maaf. Makanan bibi Jun adalah yang terbaik."

"Minta maaf pada bibi Jun. Bukan padaku."

"Iya, kapten."

Diam-diam, Miyuki menatap gemas Eijun yang mudah menurut seperti anak kecil. "Yasudah. Habiskan rotimu sampai habis. Setelah itu, kau mau apa?"

"Tidur!" Jawab Eijun semangat. "Kakak pasti capek. Ayooo tiduuur."

Habis jogging malah tidur. Haha.

"Baik, bayi."

"Jangan panggil aku bayi!"

.

.

END

A/N

Anagata is backkk bitchessss