Warning!

Kisah ini mengandung kekerasan, penyiksaan, traumatik, disorder depresi dan gangguan kejiwaan.


Hantu dari masa lalu

Sebuah hal yang dimana seseorang melakukan dosa tak terampuni dan dihantui perasaan itu dari waktu ke waktu

"Aku cuma ingin hidup dengan damai"

Tokyo 28 Maret 2047

Sebuah kota besar yang dihuni oleh lebih dari 7 juta jiwa yang mayoritas di dominasi oleh pekerja kantoran dan turis

Diantara para turis itu banyak sekali dari mereka yang datang ke Jepang dengan tujuan yang cukup sama.

Yaitu berlomba untuk masuk kesebuah akademi bergengsi yang dinamakan IS Academy.

Semenjak pengembangan teknologi IS yang semakin maju banyak negara semakin mendorong keinginan mereka untuk menciptakan murid-murid yang hebat untuk membanggakan negara yang diwakilkan murid itu.

IS mulanya hanyalah baju eksoskleton yang ditujukkan untuk misi luar angkasa namun semua berubah ketika Tabane Shinono mengubah konsep itu menjadi baju semi-militer yang akhirnya ditujukkan sebagai olahraga.

Diantara para lulusan hebat akademi IS seperti Chifuyu Orimura, Houki Shinono dari perwakilan negara jepang. Ada seorang laki-laki yang menjadi satu-satunya laki-laki pengguna IS

Dia adalah Ichika Orimura

Saat kelulusan dari akademi IS, Ichika menunjukkan kehebatannya dengan memasuki shift ke 3 yang merupakan perwujudan terakhir dari IS itu sendiri. Prestasinya sangatlah hebat hingga diakui oleh seluruh anggota NATO

Namun tak lama setelah kompetisi kelulusan, Ichika Orimura dinyatakan Hilang secara misterius. Tak ada yang mengetahui apa yang terjadi bahkan seluruh kabinet di pemerintahan saling tuduh dan saling serang satu-sama lain demi mengungkap apa yang terjadi pada Ichika Orimura

Bahkan organisasi teroris seperti Phantom Task pun ikut dijadikan target utama kejadian ini.

'Tapi apakah Ichika memang menghilang begitu saja?'

Pikirku sambil menatap kearah buku alumni akademi IS.

'Dua belas tahun menghilang dan sampai sekarang masih tidak ada yang mengetahui dimana dia berada. Bahkan Chifuyu sensei sendiri pun ikut mengambil bagian di tim pencari'

Aku hanya bisa mengandai-andai apa yang sebenarnya terjadi pada Ichika Orimura walaupun hanya sebatas andai-andai

Aku berjalan keluar dari perpustakaan dan menuju ke kelasku. Sudah seminggu aku diterima di akademi ini dan kami para kelas 1 masih kesulitan beradaptasi di lingkungan yang penuh dengan tekanan pendidikan.

Namaku, Shinku Sarashiki. Aku saat ini berusia 15 tahun, kelas 1-A di Akademi IS.

Walaupun aku bukan siswa terbaik diantara para murid baru ataupun bagian dari kandidat perwakilan negara tapi setidaknya aku masih yakin jika aku bisa sehebat para lulusan yang terdahulu.

Sesampainya dikelas aku dihadapkan pemandangan ceria diantara teman-teman kelasku.

Kecuali satu orang yang paling belakang.

Dia itu sosok perempuan yang misterius dengan rambut hitam panjang seperti itu, memberikan kesan jika ia sangat tidak ingin berinteraksi dengan siapapun.

Aku tidak tahu mengapa, namun aku sangat ingin sekali berteman dengan dia. Walaupun berulang kali dia memberikanku tatapan kebencian tapi aku tahu jika suatu saat kami bisa berteman baik

Pelajaran dikelas berjalan dengan normal seperti biasanya. Kami diajarkan mengenai cara kerja IS dan prosedur keselamatan selama seminggu penuh.

Sensei kami atau bisa dibilang Sensei paling kejam kepada semua murid disekolah adalah Chifuyu Orimura.

Dari 20 Sensei yang mengajar di setiap kelas, hanya Orimura-sensei yang selalu mengajar dikelas 1-A setiap tahunnya selama 12 tahun berturut-turut.

Rumor beredar diantara para siswa jika Orimura-sensei mulai tidak waras semenjak kejadian yang menimpa saudara laki-lakinya. Walaupun rumor itu sedikit berlebihan, menurutku.

Hanya saja setiap kali aku melihat Sensei mengajar dikelas kami, entah mengapa setiap kali aku perhatikan diam-diam, dia terkadang sering melamun menatap kearah luar jendela dengan tatapan kosong.

Melihatnya seperti itu aku merasa sedih namun aku tak bisa berbuat banyak selain diam dan menganggap tak tahu apapun.

Malam itu, Aku kembali ke perpustakaan menghabiskan waktuku dengan membaca. Keluargaku sering menyamakan aku dengan Kanzashi Onee-san yang suka menghabiskan waktu di perpustakaan.

Kanzashi Onee-san semenjak lulus dari akademi ia menjadi bagian dari Tim R&D Nasional dan prestasinya sangatlah membanggakan keluarga kami. Hanya saja Kanzashi Onee-san hingga saat ini menolak untuk menikah bahkan jika itu artinya perintah mutlak dari keluarga kami

Tahun ini Kanzashi Onee-san akan berumur 29 Tahun dan jika dia sudah 30 masih menolak untuk menikah maka keluarga Sarashiki akan meresmi mencoret namanya.

Secara pribadi aku sangat kasihan pada Kanzashi Onee-san yang menolak membuka hatinya pada siapapun.

'...'

Apa mungkin Kanzashi Onee-san menolak menikah ketika melihat Tatenashi Onee-san menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai?

Jika benar, bukankah sangat menyedihkan sekali untuk Tatenashi Onee-san?

Aku yang menjadi anak terkecil dari keluarga Sarashiki hanya bisa berharap jika suatu saat aku bisa menjalani nasibku dengan bebas.

Malam diperpustakaan sendirian membuat imajinasiku sedikit melayang entah kemana-mana. Mungkin karena rasa penasaranku mengenai keberadaan Ichika Orimura dan situasi Chifuyu Orimura yang cukup membuatku sedih?

Aku tidak tahu pasti

Ponselku berdering saat rasa kantukku ingin membuatku tertidur di meja perpustakaan.

"Hm? Markas Phantom Task dihancurkan lagi?"

'Ini sudah kesekian kalinya dalam seminggu semenjak Jepang secara resmi membentuk pasukan perlawanan terhadap Phantom Task'

'Hanya saja'

'Bagaimana cara mereka melawan Phantom Task yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dari mereka?'

Itu membuatku bertanya-tanya

Walaupun phantom task hanya memiliki IS tipe produksi massal namun jumlah mereka sangatlah besar dan dari kemampuan tempur IS itu, setidaknya satu IS produksi massal bisa setara dengan Tank dan Helikopter disatukan.

Yang aku tahu, sejauh ini IS yang diproduksi secara khusus hanya berkisar tak lebih dari 80 unit dan produksi massal tak lebih dari 220 unit.

Kabar yang ku dapatkan dari berita, Phantom Task setidaknya memiliki 8 IS khusus dan lebih dari 80 unit produksi massal. Bukankah harusnya pasukan sudah tahu jika menggunakan kemampuan manusia melawan baju eksoskleton sangatlah tidak mungkin karena perbandingan kekuatan diantara keduanya sangatlah jauh berbeda.

Lantas bagaimana bisa mereka mengalahkan organisasi seperti itu dalam 5 tahun belakangan ini?

"..."

Aku tidak mau berpikir lebih jauh soal itu karena itu hanya membuat kepalaku sakit.

Minggu pagi di Akademi IS sangatlah damai.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar kota demi menikmati hari liburku yang berharga. Mendapatkan tekanan selama 6 hari berturut-turut bukanlah hal yang menyenangkan untuk ku jalani setiap harinya.

'Hm... Mungkin bermain ke Game Center jauh lebih menyenangkan'

Pikirku sambil berjalan menuju pusat game yang terletak di Akihabara. Akihabara sendiri merupakan pusat Elektronik dan Anime terbesar diseluruh dunia

Banyak turis dari seluruh dunia rela menghabiskan ribuan yen disini hanya mencari Light Novel maupun Bluray Anime edisi terbatas.

Saat IS hanya mampu digunakan oleh perempuan, posisi laki-laki menjadi bagian yang terbawah di Hirarki sosial namun setelah kemunculan Ichika semuanya kembali normal lagi seolah-olah keseimbangan yang lama telah kembali.

Namun cukup mengejutkan juga baginya untuk melihat bagaimana masyarakat dapat melupakan sosok seperti Ichika Orimura setelah beberapa tahun berlalu.

Nampaknya masyarakat tidak terlalu memperdulikan sesuatu seperti politik maupun kondisi yang ada disekitaran pemerintah.

"Hyah!"

Aku berhasil mengalahkan bos dipermainan ini. Cukup menyenangkan sekali menghabiskan waktu disini

"Sekarang aku lapar"

Pikirku lalu sebuah restoran pun terlihat di jangkauan mataku. Ah betapa menyenangkan sekali hari ini

Aku menghabiskan waktuku menikmati parfait yang enak sebelum memutuskan untuk kembali ke Akademi.

Sore hari di sepanjang kanal pun terasa menyenangkan bagiku. Apa ini yang mereka sebut sebagai menikmati hari libur setelah melewati saat-saat yang melelahkan?

Mungkin saja

Saat aku terus berjalan aku melihat dipinggir kanal seorang laki-laki dewasa yang mungkin berusia 30-an berdiri disana dalam diam.

Aku tidak tahu siapa dia namun aku merasa jika pria ini adalah orang penting berdasarkan dari pakaiannya yang dia kenakan.

Pakaian itu merupakan pakaian militer resmi dari Angkatan Darat Jepang (JSDF)

'Sedang apa dia disana? Bukankah biasanya personil militer dilarang mengenakan pakaian Dinas Kerja saat berada diluar kantor kecuali ada urusan penting?'

Kebijakan itu dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan 8 Tahun yang lalu dengan pertimbangan menghindari adanya orang yang menyamar menjadi petugas militer JSDF.

Tapi dari Atribut yang dikenakan oleh pria itu, aku tidak berpikir jika dia itu menyamar. Karena atribut militer seperti bandage, rank, ribbon dan medal tidak bisa diperjual belikan dimanapun dan itu juga memiliki peraturan tersendiri kepada siapapun yang ingin membuatnya.

Lalu siapa dan apa yang dilakukan pria ini?

Aku melanjutkan perjalananku dan semakin aku berjalan semakin jelas aku melihat wajah pria itu.

Dia adalah laki-laki yang aku bisa bilang sebagai pria dewasa yang tampan dengan fitur dewasa dan tegas serta pose tubuh yang tegap membuat rasa raguku mengenai pria ini adalah palsu sedikit menghilang.

'Hm... Mungkin berbicara dengannya tidak salah'

Aku mendekat kearah pria itu

"Uhm... Ano"

"!"

Saat pria itu berbalik badan aku dapat melihat seluruh wajahnya.

Pria itu tersenyum kearahku

"Apa ada yang bisa saya bantu, nona?"

"Uhm... Ji...Jika saya boleh tahu. Apa yang anda lakukan disini, tuan..."

Aku melirik sedikit kearah bet nama yang terletak di dada kirinya.

'Lt. Ichika? Kenapa namanya mirip dengan Ichika Orimura?'

'Mungkin hanya kebetulan saja'

Dia menatap kearah langit senja lalu kembali melirikku dengan senyuman.

"Maaf jika penampilan saya sedikit tidak etis. Saya hanya menghabiskan waktu bernostalgia saat saya kecil disini"

"A...Apa anda dulu sering bermain disini?"

"Hehe... Lebih tepatnya saya tumbuh besar disekitar sini. Senang sekali saat saya kembali ke kota ini, tidak ada yang berubah sama sekali"

Ia tertawa kecil sambil melirik kearah kanal dimana air mengalir dengan arus yang cukup pelan.

"Disini, Saya setidaknya bisa merasakan jika masa-masa yang Saya alami dulu semuanya sudah pernah kualami."

"..."

Aku hanya diam mendengarkan cerita pria itu dan tak lama Pria itu menatapku sambil menundukkan kepala meminta maaf

"Maaf jika membuat anda mendengarkan cerita saya."

"T..tidak masalah"

Pria itu tersenyum saat mengangkat kepalanya

"Terima kasih, jika begitu saya permisi"

Pria itu berjalan kearah lain namun sebelum ia menjauh dariku aku langsung berbalik badan.

"Bisakah saya tahu siapa nama anda?"

"Saya Ichika"

Balasnya dengan senyuman sebelum pergi meninggalkanku sendirian.

Malam itu

aku masih tak bisa menghilangkan pikiranku mengenain pria dengan pakaian militer bernama Ichika itu.

Dari pakaian yang ia kenakan serta medal dan ribbon yang terpasang di dada kanan pakaian itu, aku bisa menebak jika pria itu setidaknya sudah terlibat dalam pertempuran dan di anugerahi penghargaan.

Namun aku tidak pernah ingat jika pemerintah jepang pernah terlibat dalam peperangan selama 20 tahun belakangan ini.

Setidaknya berdasarkan informasi resmi yang kubaca.

Apa itu artinya Jepang diam-diam melakukan operasi militer semacam divisi khusus?

Rasa penasaranku tak bisa aku tahankan lagi, aku menyalakan komputer yang ada dikamarku.

Pencarian aku mulai dari database personil militer yang terdaftar sebagai prajurit aktif. Pencarian di website JSDF cukup rumit karena aku terpaksa harus menggunakan kartu identitasku sebagai pelajar IS demi mendapat ijin melakukan pencarian lebih lanjut

Daftar personil militer JSDF tahun 2040-2047 tercatat sebanyak 245 ribu personil. Pencarian aku filter yang dimana aku mencari personil militer angkatan darat yang direkrut antara tahun 2034-2036.

Pencarian pun menunjukkan hasil sebanyak 34 Ribu.

Aku kembali memfilter pencarian yang dimana aku mencari secara spesifik personil militer aktif yang terlibat pertempuran diantara tahun 2039-2044

Pencarian hanya menunjukkan 12 hasil

Satu persatu laporan kubaca dengan sabar dan beberapa diantaranya aku sudah tahu mengenai itu, seperti pemberantasan melawan teroris di Okinawa dan Hokkaido.

Namun satu hasil menarik perhatianku

Laporan mengenai insiden penembakan massal di Kyoto tahun 2042.

Penembakan dimulai ketika diadakan rapat tertutup dengan petinggi PBB mengenai keamanan para pengguna IS dari ancaman organisasi Phantom Task.

Para petinggi PBB dihadiri oleh mantan perwakilan Jerman yang sekarang menjabat sebagai Duta Besar, Laura Bodewig

Mantan Perwakilan Inggris, Cecilia Alcott

Mantan Perwakilan France, Charlotte Dunnois

Dan Mantan Perwakilan Jepang, Houki Shinono

Pembicaraan menyangkut stabilitas kerja sama ekonomi, politik dan jaminan keamanan mengenai organisasi IS yang dibawah Perjanjian Alaska.

Ditengah pembicaraan tersebut, sebuah bom bunuh diri meledak secara tak terduga yang dilakukan oleh teroris. Penyerangan kemudian disusul oleh penyerbuan sekelompok teroris lainnya dengan senjata lengkap.

Tujuan mereka adalah menghabisi para petinggi PBB yang terpojok namun hal itu berhasil digagalkan setelah Pasukan Chūō Sokuō Shūdan tiba tak lama setelah bom meledak.

Dibawah komando Letnan Dua Ichika, pasukan yang berjumlah 20 orang berhasil mengalahkan musuh dengan cepat.

Berkat aksi ini, Letnan Ichika dianugerahi penghargaan heroik dari Pasukan Spesial serta kenaikan pangkat satu tingkat menjadi Letnan Satu.

'Ada yang aneh'

Pikirku saat menemukan seseorang yang ingin kucari.

Hanya saja

'Bukankah pasukan CRF dibubarkan tahun 2018? Tapi mengapa nama pasukan itu kembali disebutkan disini?'

'Apa mungkin pemerintah secara diam-diam mengaktifkan kembali pasukan itu?'

Aku mulai membaca daftar riwayat hidup Letnan Ichika yang uniknya tak memiliki nama keluarga.

Dari data JSDF, Disana tertulis jika Ichika lulusan Academy of High School Institute sebagai tamatan standar tahun 2035

Di awal tahun 2036 Ichika dinyatakan lulus sebagai tamatan Akademi Militer terbaik dan dicatat sebagai lulusan tercepat yang dimana ia menyelesaikan 3 Bulan pelatihan prajurit JSDF dan 2 bulan pelatihan keperwiraan.

Karena prestasi yang tidak biasa itu, Ichika mendapat rekomendasi untuk menjadi personil Ranger dibawah unit 1st Airbone Brigade.

Ia kemudian dinyatakan lulus pada Agustus 2036 dan mendapat pehargaan sebagai Ranger dikelas Scout terbaik.

Pada pertengahan Agustus 2036, Ichika mendapat rekomendasi dari Kolonel Takaharu Hiraga untuk masuk sebagai Unit SFG's

Rekomendasi itu Ichika terima dan ia pun memasuki pelatihan SFG diawal September dibawah US Army Delta Force.

Ia dinyatakan lulus pada Desember 2036 dan dinobatkan sebagai Unit terbaik dalam Search and Destroy.

Ichika ditempatkan dibawah kesatuan 1st SFG Company, 2nd Platoon yang memiliki kemampuan khusus dalam Misi Naval Warfare dan Amphibious Warfare.

'Hm? Mengapa tidak ada penjelasan mengenai pencapaian misinya?'

Aku heran ketika laporan hanya berhenti disana. Aku kira laporan akan lebih mendetil soal misi yang dicapainya

Ketika aku berusaha mencari lebih jauh soal masa lalu Ichika sistem langsung memblok tindakanku dengan alasan Otorisasi ditolak.

'Level Ijinku tak diperkenankan ya?'

Aku mendesah ketika investigasiku harus berakhir.

Namun setidaknya kecurigaanku bisa hilang sedikit jika Ichika yang ku pikirkan bukanlah Ichika yang itu.

Aku mematikan komputerku lalu bergegas tidur mengingat besok pelajaran Chifuyu sensei adalah jam yang pertama.

Aku tidak ingin terlambat sedikitpun di jam dia.

-0-

Chifuyu Orimura, wanita berumur 40 tahun dan masih singel hingga saat ini merupakan mantan perwakilan Jepang saat kompetisi IS.

Saat ini ia tak lebih dari sekedar guru pengajar di Akademi IS untuk para siswa tahun pertama. Ia telah menghabiskan waktu selama belasan tahun untuk menjadi guru dikelas yang sama setiap tahunnya dan menolak keras untuk mengajar dikelas lain.

Alasan yang Chifuyu miliki, Pribadi.

Kelas I-A, Akademi IS

"Kalian semua sangat mengecewakan!"

"..."

Seisi kelas jatuh dalam diam tak bersuara saat seorang guru marah atau lebih tepatnya mengamuk di kelas saat nilai presentasi mereka tidak memuaskan.

"T..Tapi Sensei ka..."

"AKU TIDAK MAU MENDENGARKAN ALASAN KALIAN!"

"Hiii!"

Ketua Kelas langsung terduduk ketakutan saat dibentak seperti itu.

Saat kelas maih dalam keadaan tegang Guru Wanita itu kemudian memukul papan tulis dengan tangannya menyebabkan suara yang cukup keras hingga terdengar hingga kelas lain.

"DENGAR KALIAN SEMUA!"

"JIKA KALIAN GAGAL DALAM PERTARUNGAN BULAN DEPAN. AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENETAP DI KELAS 1 HINGGA TAHUN KEDEPAN!"

Ancaman itu spontan membuat semua murid di kelas jatuh dalam panik. Tak lama Guru wanita itu pun melangkah keluar meninggalkan murid-muridnya yang masih panik.

"Sensei"

"!"

Saat Chifuyu keluar dari ruang kelas seseorang memanggilnya dari belakang dan hal itu spontan mengalihkan pikirannya yang sedang melamun sejenak. Saat ia mengalihkan pandangan, seorang pria dewasa berdiri dengan senyuman kaku.

"Apa yang bisa saya bantu, Kepala Sekolah" Jawabnya dengan datar

"Sensei, Saya tahu anda mungkin kelelahan atau sedang stress. Namun ada baiknya anda jangan terlalu keras pada para murid"

"Saya tidak stress ataupun kelelahan. Jadi kupikir metodeku mengajar tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin"

"...(mendesah)..."

"Sensei, Saya tahu anda adalah mantan perwakilan Jepang, tapi bukankah sudah saat anda untuk ber..."

"Saya tidak lelah atau stress. Jadi saya tidak butuh di nasihati oleh anda. Permisi"

Ia langsung melangkah menjauh namun sebelum ia menghilang dari pandangan, kepala sekolah mengatakan sesuatu yang baginya adalah suatu hal yang sangat terlarang ditelinganya.

"Ichika Orimura sudah lama menghilang. Bukankah ini sudah waktunya bagimu untuk merelakan hal itu?"

Matanya langsung menggelap dan secara spontan ia berbalik badan dan menatap kearah kepala sekolah dengan mata penuh kebencian.

"Jangan pernah kau katakan itu di depanku lagi!"

"Dan? bukankah yang kukatakan adalah hal yang benar, jika Ichika sudah dinyatakan meninggal secara hukum"

(melesat)

Ia langsung melesat dan mengarahkan pedang IS tepat beberapa inchi dari leher kepala sekolah namun kepala sekolah masih tetap tenang menatap ke wajah dia.

Wajah penuh keputusasaan, penderitaan, dan perasaan lelah akibat kurangnya tidur semuanya terpampang jelas di wajah Chifuyu Orimura.

"Jangan pernah kau katakan itu lagi"

(mendesah) "Chifuyu Orimura. Sebagai kepala sekolah, mulai hari ini anda saya berhentikan sementara akibat tindakan anda yang melawan dan memberontak"

"..."

Kepala sekolah langsung menatapnya dengan tajam dengan pedang IS masih ditodongkan di lehernya.

"Dan ini adalah perintah"

Ia mengambil dan melemparkan surat perintah dari pemerintah Jepang tepat di wajah Chifuyu sebelum akhirnya Kepala sekolah memilih untuk berjalan menjauh meninggalkan Chifuyu yang terdiam.

Siang hari di kota Tokyo masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Ramai dipenuhi remaja-remaja yang berkeliaran bersama dengan teman-teman mereka dan para turis asing yang berkunjung memenuhi jalanan kota sudah menjadi hal yang biasa disini.

Namun diantara kerumunan itu, seorang wanita dewasa berumur 40 tahun berjalan dengan gontai.

Ia terus berjalan menuju rumahnya setelah seharian berkeliling kota mencari keberadaan Adik laki-lakinya yang hilang 12 tahun lalu.

Dua belas tahun sejak hari itu, Chifuyu masih percaya jika Ichika masih hidup sehingga ia terus mencari keberadaannya dimanapun dan mau berapa lama itupun ia terus mencari.

Sesampainya dirumah Chifuyu hanya duduk diam di sofa menatap kearah foto antara dia dan Ichika saat dia masih mengajar di kelas Ichika.

Ia terus menatap ke foto itu hingga tanpa ia sadari beberapa tetesan air mata mengalir.

"Ichika...

..."

Ucapnya dengan pelan sambil meneteskan air mata yang semakin lama semakin deras. Chifuyu terus menangis hingga beberapa jam dan akhirnya tertidur akibat tubuhnya tidak dapat lagi menahan lelah yang ia sebabkan selama 10 tahun berturut-turut memaksakan diri.

2 Tahun ia habiskan bersama dengan tim pencari namun merek menyerah dan mengikuti saran pemerintah yang menyatakan jika Ichika meninggal.

Namun Chifuyu menolak dan memilih melakukannya sendiri.

Alhasil Rumah yang dulunya penuh dengan suasana kehangatan sekarang berubah 180° menjadi penuh kekacauan. Biasanya Ichika yang melakukan pekerjaan dirumah dan ketika sosok itu hilang tidak ada lagi yang mengisi rumah ini dengan kehangatan selain ladang debu yang terabaikan.

Meja yang berantakan, ruang tamu yang tidak terurus dan masih banyak lagi permasalahan lainnya.

Chifuyu bahkan tidak seperti dirinya yang 10 tahun lalu saat masih memiliki harapan pada tim pencari. Wajahnya mulai terlihat beberapa kerutan, kantung mata yang menghitam seperti warna rambutnya semakin terlihat jelas serta tubuhnya juga makin terlihat kurus akibat gizi buruk.

Di dalam semua permasalahan dirinya sendiri, justru Chifuyu masih memaksakan diri untuk mencari dan terus mencari keberadaan Ichika bahkan walaupun semua orang mengatakan jika dia sudah gila.

"Ugh..."

Chifuyu mulai membuka kedua matanya yang masih terasa sangat berat sekali. Saat sinar matahari menerani seluruh ruang tamu yang kotor itu, ia mulai bangun dan bersiap untuk melakukan aktifitasnya seperti biasa yaitu menghabiskan waktu mencari dan terus mencari

Karena ia yakin jika

Dia ada disana

Chifuyu berjalan lagi mengabaikan tatapan disekitarnya yang menatapnya dengan aneh.

Ia masih mengabaikan setiap tatapan itu sambil melanjutkan perjalanan hingga langkah kakinya membawanya ke sebuah kanal.

Kanal yang dulu sering Ichika datangi saat masih kecil.

'...'

Kakinya tak sanggup lagi untuk berdiri hingga akhirnya ia pun terbaring dipinggir kanal yang dipenuhi rumput hijau.

Matanya terpejam seketika bersamaan dengan seluruh energi yang dimilikinya menghilang dari tubuhnya.

'Ah...'

Ia hanya bisa berharap jika ia mati saat ini, ia ingin sekali bertemu dengan Ichika sekali lagi.

-0-

Dirumah sakit

Seorang pria dengan pakaian kaos hitam dilapis jaket kulit hitam duduk dengan tenang disebelah Chifuyu yang dirawat.

Sore itu saat ia ingin berdiri di kanal tempatnya mengenang masa lalu sambil bernostalgia, ia justru menemukan seorang wanita terbaring dipinggir kanal dalam keadaan pingsan.

Melihat kondisi wanita ini ia merasa ingin menangis saat itu juga. Kondisi tubuh kurus dengan raut wajah penuh dengan stress membuatnya ingin mengutuk dirinya sendiri

'Banyak hal berat sudah kau lewati kan?'

Ucapnya sambil tersenyum

Dokter mengatakan padanya jika Wanita ini setidaknya tidak akan pulih sampai besok jadi meninggalkannya disini tidak akan ada masalah sama sekali.

"Hrg... I...Ichika..."

Ucap wanita itu dalam tidurnya. Nadanya sangat lemah membuat dia tak punya pilihan lain selain menunggu wanita ini disebelahnya

Ia meletakkan tangannya dikening wanita itu sambil mengusapnya dengan pelan. Usapan itu seolah menjadi obat penenang kegelisahan wanita itu yang sedang tertidur.

Ia tersenyum sedih

'Mungkin aku salah membiarkan semua ini terjadi'

Pikirnya sambil memandang langit

Pagi itu aku sedikit terkejut ketika Guru yang mengajari kami hari ini berbeda.

Apa yang lebih mengejutkan adalah, Chifuyu Sensei ternyata mendapat surat pemberhentian sementara dari pemerintah mengenai kondisinya. Walaupun aku lega jika kami dapat menghindari masalah namun satu sisi aku tidak bisa tenang ketika memikirkan soal Chifuyu sensei

Ia menghabiskan dua belas tahun mengabaikan dirinya sendiri demi mencari keberadaan Ichika namun semuanya berujung jalan buntu dan ketika semua orang menyerah, ia justru tetap mencari.

Bukankah sangat menyedihkan sekali untuk Chifuyu sensei mengabaikan hidupnya demi adik laki-lakinya.

Aku tidak bisa diam begitu saja

Aku akan mengunjungi kerumah sensei nanti.

Atau setidaknya itu yang kuharapkan.

"Huh?"

Aku bertemu dengan pria yang kutemui dikanal waktu itu lagi.

Dia nampaknya sedang membawa sesuatu dan dari arahnya nampaknya ia akan menuju rumah sakit.

"Uhm... Ke...Kebetulan sekali, Ichika-san"

Aku masih gugup setiap kali ingin berbicara di depan laki-laki.

"Oh, Kamu yang waktu itu ya? kebetulan sekali bertemu disini"

Balasnya dengan senyuman.

Memang dari pertemuan kami di persimpangan lampu merah seperti ini terdengar cukup masuk akal jika dikatakan sebagai kebetulan.

"I..Iya... Anda mau kemana ... Ichika-san?"

"Saya? Saya sedang menuju kerumah sakit"

"A..apa... Ada kerabat anda... yang sakit?"

Aku mengutuk rasa gugupku ketika berbicara didepan laki-laki. Itu sangat memalukan sekali

"Bukan kerabat, hanya orang biasa yang kutemui. Dia pingsan tiba-tiba dikanal jadi aku membawanya kerumah sakit"

"Pingsan?"

"Iya, kata dokter wanita itu terlalu banyak menanggung beban stress, menyebabkan tubuhnya menjadi lemah. Jadi aku berniat untuk menemaninya sampai dia sadar"

"Anda sangat baik sekali, Ichika-san"

Aku benar-benar tersentuh dengan bagaimana sikap Ichika-san. Mungkin jika aku ikut bersamanya, aku bisa membantu sesuatu walaupun aku tidak yakin apa yang bisa kulakukan.

Ketika aku mengatakan pada Ichika-san soal niatku ia justru menerimanya dengan baik, malah ia sangat senang sekali.

Aku mulai berpikir jika pria di depanku ini memanglah orang yang sangat baik.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ia bercerita banyak hal mengenai wanita itu. Aku mulai penasaran mengenai wanita yang ia ceritakan itu.

Sesaat setelah kami sampai di depan pintu kamar, pria itu membukakan pintu dan seketika wajahku membeku ketika melihat siapa yang ada disana.

'Chi...Chifuyu sensei!?'

Chifuyu Orimura Sensei guru yang mengajar kelas 1-A.

"Oh? Kalian saling kenal"

Tanya pria itu padaku, aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaannya.

Kami berdua pun masuk kedalam kamar yang dimana Chifuyu Sensei ternyata sudah sadar sejak tadi.

"Sensei! Apa yang terjadi pada anda!?"

Aku menatapnya dengan khawatir.

Chifuyu Orimura Sensei tak menjawab seketika. Matanya menatap kesekitar ruangan sampai akhirnya matanya bertemu dengan Ichika-san.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Chifuyu sensei hanya saja ketika aku melihat reaksi terkejut dimatanya aku tahu satu hal.

"I...Ichika!?"

"Ichika!"

Chifuyu berusaha bangkit dari tempat tidurnya setelah melihat sosok Ichika-san. Aku penasaran apakah mereka saling kenal satu sama lain

Melihat Chifuyu sensei terkejut dan berusaha bangun dari tempat tidurnya, aku secara refleks ingin mencegahnya namun sebelum aku bertindak Ichika-san yang mulanya berdiri dibelakangku ia langsung bergerak dengan cepat mencegah Chifuyu Sensei.

"Sebaiknya anda jangan memaksakan diri"

Ucap Ichika-san dengan khawatir

"Saat ini tubuh anda terlalu lemah dan ada baiknya anda beristirahat lebih banyak lagi"

Aku tidak tahu mengapa tapi sesaat setelah Ichika-san mengatakan itu, tiba-tiba wajah Chifuyu-Sensei langsung membeku.

"I...Ichika... K...kau tidak bercanda kan? Kau tidak mengenalku. Ini aku!"

Tiba-tiba Chifuyu Sensei menggenggam tangan Ichika-san dengan keras. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan serta rasa putus-asa yang tidak bisa aku bayangkan bagaimana pedihnya itu.

Saat Chifuyu Sensei kulihat diambang tangis aku mulai meremas jaket Ichika-san sedikit, walaupun aku tahu jika dia ini bukanlah Ichika Orimura tapi setidaknya bisakah dia...

"Maaf nona, Saya tidak tahu siapa anda. Itu benar nama saya Ichika, tapi saya bukan Ichika yang anda kenal. Maafkan aku"

"Tidak! Kau bohong! Jangan bohong padaku Ichika!"

*Sob *Sob

"Kau... Kau Ichika! Adikku yang bodoh!"

Chifuyu bersikeras dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sangat menyakitkan sekali pasti bagi Chifuyu sensei ketika merindukan sosok yang ia panggil sebagai keluarga dan saat bertemu dengan orang yang mirip dengannya justru malah teringat hal-hal yang menyakitkan

Bukankah itu sangat menyedihkan sekali

Pikirku sambil menahan air mata

*Stare

Ichika-san menatapku dengan sinyal yang bisa aku pahami seketika.

Aku pun pergi meninggalkan ruangan dengan harapan jika Chifuyu Sensei bisa menerima yang Ichika-san katakan.

(*Hic... Hic...)

Chifuyu masih tak mau melepaskan pelukannya pada Ichika

Tangisan Chifuyu bahkan tak bisa mereda sebelum ia mendapatkan kepastian dari laki-laki ini.

Ichika mengarahkan tangannya ke kepala Chifuyu dan secara lembut ia mengelus kepala Chifuyu sambil menerima semua perasaan dan tangisan darinya yang langsung menusuk hati Ichika.

"Maafkan aku"

Ucap Ichika dengan nada pelan.

"Uwaah...!... Ke...kenapa kau pergi!... Kenapa kau meninggalkanku!... A...aku..."

Chifuyu terbata-bata dengan air mata dan semua emosi bercampur aduk didalam dirinya.

Butuh beberapa saat bagi Chifuyu dapat tenang bahkan saat Chifuyu mulai tenang pelukan yang diberikannya semakin mengerat seolah-olah tidak mengijinkannya pergi.

"C...Chifuyu Nee-san"

Ucap Ichika dengan nada pelan dan itu membuat tubuh Chifuyu mulai bergetar.

"Maafkan aku"

Ichika kembali mengelus kepala Chifuyu dengan wajah penuh penyesalan.

"Aku tidak punya pilihan lain, aku harus melakukan ini"

"Jadi... Kumohon biarkan aku pergi sekali lagi"

"Tidak!"

Chifuyu mengeratkan pelukannya ketika Ichika akan melepaskan diri.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi! Aku tidak mau sendirian! J...Jadi Pulanglah, Ichika"

Chifuyu memohon dengan air mata namun Ichika tahu jika ia tidak mungkin bisa melakukan itu.

Ia memaksa melepaskan pelukan Chifuyu dan membuat keduanya saling menatap satu sama lain.

Wajah Hancur akan penderitaan Chifuyu selama 12 tahun ditambah kondisi fisiknya yang menyedihkan, semuanya menyakiti mental dan perasaan Ichika namun apa yang jauh lebih membuat hatinya hancur adalah ketika melihat wajah Chifuyu yang penuh keputus-asaan dan itu sangatlah menyakitkan sekali baginya.

Tangan Ichika menyentuh wajah Chifuyu yang sangat dingin sekali bagaikan es lalu secara lembut ia mengusap air mata Chifuyu.

"Aku... Aku memang bodoh meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukannya lagi jadi"

Ichika tersenyum pada Chifuyu

"Ayo kita pulang"

Melihat Ichika berkata seperti itu Chifuyu melebarkan mata

"K...Kau tak akan pergi, kan? Kau tak akan meninggalkanku"

"Yup. Aku janji, kali ini aku akan kembali pulang bersamamu. Apapun yang terjadi, aku akan kembali"

"Kau janji"

"Ya"

Keduanya jatuh dalam pelukan hangat dan ia bisa merasakan jiwa Chifuyu Orimura yang dulu hilang sekarang kembali lagi kedalam tubuhnya.

Kebahagiaan Chifuyu yang hilang sekarang sudah ada disini bersamanya.

Ichika kemudian melepaskan pelukan Chifuyu lalu ia mengambil sebuah kursi roda yang terletak dipinggir kamar.

"Aku bisa berjalan sendiri. Jadi jangan bawa benda itu"

Chifuyu menolak, saat Ichika melihat wajah Chifuyu yang mulanya pucat pasi sekarang kembali bersinar, sedikit titik hangat mulai bersarang di dalam hatinya.

"Apa kau yakin bisa berjalan dengan kondisi tubuh seperti itu?"

"Aku bisa"

"Tidak, kau tidak bisa"

Chifuyu berusaha menentang hingga Ichika datang mendekat lalu menyentuh atau lebih tepatnya mencubit pipi Chifuyu sedikit.

"Atau apa perlu aku menggendongmu sepanjang perjalanan pulang?"

Goda Ichika dan hal itu membuat Chifuyu tersipu sedikit.

"B...Boleh saja"

Chifuyu mengatakannya

Dan Ichika hanya bisa tertawa kecil sebelum mengangguk.

"Baiklah, jika itu yang anda inginkan. My Princess"

"Hyah!"

Chifuyu terkejut ketika Ichika benar-benar menggendongnya dengan ala bridal style. Chifuyu walaupun merasa malu namun ia disatu sisi merasa sangat bahagia

Bahagia sekali seolah-olah ia bisa mengeliling dunia saat ini juga. Kebahagiaan yang dulu pernah hilang sekarang bisa ia rasakan lagi didalam pelukan hangat

'Ichika... Kau bodoh!'

Chifuyu tersenyum

-0-

Saat pagi hari tiba Chifuyu Orimura terbangun dari tidurnya.

Ia tidak terlalu mengingat apa yang terjadi hingga akhirnya kesadarannya sepenuhnya pulih dari alam tidur.

Ia berada di kamarnya

Berarti saat ini ia berada di rumahnya.

'Apa itu hanya mimpi?...'

Ia tidak ingin mempercayai itu jika yang ia alami kemarin adalah mimpi.

Ia langsung melesat kearah kamar Ichika Orimura demi memastikan apakah yang ia alami nyata atau tidak namun sesampainya disana ia langsung terdiam

Kakinya tiba-tiba lemas tak bertenaga

Ia terduduk disana dengan wajah shock

'I...Ichika?...'

Kamar itu berdebu

Kamar itu tak berubah sama sekali

'K...Kenyataan memang kejam sekali'

Ia tak bisa berbicara sedikitpun bahkan dirinya hanya bisa duduk diam disana berharap jika alam mimpi bisa membawanya kembali kesana.

'Uhk'

Chifuyu memegang dadanya yang terasa sangat sakit sekali. Itu sangat sakit sekali

'Apakah ini artinya aku harus rela menerima kenyataan?'

Mimpinya sangat indah namun ia tak bisa menerima hal itu jika hanya sebatas mimpi namun...

Apakah itu sudah takdir?

Chifuyu berusaha berdiri dan berjalan keluar dari kamar Ichika. Kedua kakinya yang tak bertenaga ia paksa untuk melangkah keluar dari kamar itu

Ini sudah takdirnya untuk menerima kenyataan

Ia harus menerima itu

Chifuyu berjalan gontai menuju ruang tamu dan ketika ia sampai di depan pintu yang menuju ruang tamu, ia hanya bisa memikirkan soal membuat altar untuk Ichika.

Hingga...

"Ah? Selamat pagi"

Ia mendengar sebuah suara familiar

Seolah energinya yang hilang langsung datang begitu saja, Chifuyu menatap kearah sana yang dimana sesosok yang ia rindukan sedang duduk tersenyum padanya.

"Bagaimana jika kita sarapan, Chifuyu Nee?"

"I...Chi.. ka?"

Chifuyu melihat sesosok pria dewasa tersenyum padanya dan setiap kali ia berusaha meyakinkan diri jika itu hanya mimpi namun sosok itu tidak menghilang sama sekali.

"Ichika"

Chifuyu berusaha berlari kearahnya namun sebelum ia bergerak sebuah pelukan hangat menyambutnya.

"Aku disini, Aku akan selalu disini. Sekarang dan selamanya"

Chifuyu tak bisa mengerti hanya saja saat ini ia merasa jika ia hanya ingin berada dipelukan seperti ini sedikit lebih lama.

Ketika Ichika menuntunnya ke meja makan, Chifuyu dihadapkan oleh pemandangan meja makan yang hangat.

Masakan yang Ichika dulu buat untuknya saat ia bekerja overtime yaitu Soup dan sekarang ia melihat kearah masakan yang sama persis seperti dulu membuat air matanya tak bisa ia tahankan lagi.

Air mata ini bukanlah air mata kesedihan namun kali ini ia justru merasa kebahagiaan yang tak bisa diukur lagi.

"Ah, berhati-hatilah. Itu masih panas"

Ichika memperingatinya namun ia hanya bisa tertawa lepas mendengar perkataan yang sama untuk sekali lagi setelah sekian lama.

Kehangatan diruangan ini telah kembali.

Setelah sarapan pagi, Ichika dan Chifuyu duduk berdua di sofa. Ruang tamu yang sangat kotor sudah berubah menjadi tempat yang nyaman seperti dulu lagi.

Chifuyu duduk bersebelahan dengan Ichika, keduanya tetap diam sampai siaran Televisi menayangkan sesuatu yang membuat wajah Ichika berubah menjadi serius.

(Inilah Headline News pukul 10 pagi)

(Kementerian pertahanan saat ini menyatakan jika perang melawan Phantom Task sudah memasuki tahap baru. Pemerintah dibantu oleh PBB setidaknya sedang memburu petinggi Phantom Task yang telah di buron selama satu dekade. Penyelidikan pun telah membuahkan hasil mengenai sindikat dan anak cabang dari phantom task.

Untuk mengetahui lebih jauh soal itu, kita telah terhubung dengan wartawan Media diluar Markas JSDF, Okinawa)

Berita itu membuat Ichika sedikit terganggu.

"Hei Ichika"

Pikirannya langsung teralihkan ketika Chifuyu menatapnya.

"Bisa beritahu aku, kemana kau selama ini?"

"..."

Ichika hanya diam sejenak sebelum ia menatap ke Chifuyu dengan serius.

"Apa yang kan ku katakan padamu adalah Rahasia Negara. Jadi, aku tidak bisa memberitahukanmu semuanya, apa itu tidak masalah?"

Chifuyu menganggukkan kepala

"Aku..."

...

"Kau bergabung dengan militer!?"

"Itu benar, Aku harus melakukan itu"

"Tapi kenapa kau pergi begitu saja!"

"Itu..."

Ichika membuat wajah muram sebelum akhirnya ia mendesah.

"Aku tidak bisa membahayakanmu, Maafkan kebodohanku"

"..."

Ichika dan Chifuyu jatuh dalam diam sesaat setelah menceritakan apa yang ia lakukan selama ini.

Militer JSDF sudah cukup lama mengincar Ichika untuk menjadi bagian dari mereka namun dengan statusnya sebagai orang kontroversial maka sangat tidak mungkin membiarkan publik tahu soal itu

Maka dengan Kementerian Pertahanan sebagai backup, mereka berhasil mengecoh perhatian publik dan membuat keberadaan Ichika baru.

"Saat ini, aku tidak bisa membiarkan siapapun tahu soal siapa aku yang sebenarnya. Jadi..."

"... Sesaat setelah aku keluar dari rumah ini, kita tak lebih dari orang asing. Apa itu tidak masalah buatmu, Chifuyu Nee"

Chifuyu meremas dadanya. Melihat Ichika di depan umum menganggapnya sebagai orang asing membayangkan hal itu saja sudah membuatnya sakit hati.

"Aku..."

Ichika hanya bisa tersenyum

"Jangan menatapku seperti itu, Saat kita dirumah. Kita akan kembali seperti semua lagi"

Ichika berusaha menenangkan Chifuyu. Ia bisa mengerti keadaan Chifuyu yang selama 12 tahun menahan rasa kesepian, kepedihan dan keputus-asaan namun bukan artinya ia bisa bertindak sembrono yang dapat membahayakan keadaan mereka berdua

'Aku tidak mungkin mengatakan pada Chifuyu soal, Phantom Task'

Ia menatap kedua tangannya

'Aku sudah terlalu banyak berbuat dosa, tapi...'

Wajah Kakak Perempuannya yang ada di depannya ini sudah cukup menjadi obat baginya untuk tetap bertahan disisi gelap.

Saat semua ini berakhir, aku akan pulang.

-0-

"Ichika Orimura, 31 Tahun. Mendapatkan prestasi yang sangat hebat dikalangan pasukan khusus di usia 24 tahun"

"Selama di MIliter, Setidaknya sudah menjalani 6 Operasi tempur dengan rating kesuksesan 100 persen"

"Menjadi satu-satunya orang yang mampu menggunakan IS dan satu-satunya yang bisa mengalahkan IS"

"Kau harusnya bisa mendapatkan peringkat Jenderal saat ini"

"Tapi lihatlah kau. Letnan"

"Kenapa kau bisa terjebak disitu?"

Ichika hanya diam di dalam ruangan pimpinan SFG.

Kolonel Murata Sarashiki yang saat ini menjabat sebagai Komander di SFG's heran ketika membaca profil Ichika yang ada di mejanya.

"Kau padahal bisa dengan mudah mendapat masa depan hanya dengan menikahi salah satu diantara Tatenashi dan Kanzashi. Tapi, kau justru menolak keduanya dan kau bahkan menolak semua para kandidat perwakilan negara"

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu yang memaksakan diri memasuki militer dibandingkan masa depanmu sendiri"

"Itu salah satu misteri hidupku, Pak"

Ichika menjawab dengan apa adanya.

"Kau tahu betapa sakit hatinya aku ketika melihat keponakanku, Kanzashi yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mengembangkan IS dibandingkan mencari kehidupan cintanya. Melihat keadannya yang seperti itu, aku sangat ingin sekali membunuhmu"

"..."

"And yet, Kau malah memikirkan cara untuk menyingkirkan Tabane Shinonono tanpa harus menyakiti perasaan Houki Shinonono."

"... saya tidak menyangkal soal itu"

"Lantas apa yang kau temui? Semakin jauh kau menggali soal Phantom Task, mengapa kau semakin menjauh dari melakukan tugasmu?"

"Itu..."

"Misimu sederhana, Bunuh Tabane dan semua yang mengikuti dibelakangnya. Tapi.."

Kolonel Murata membanting dokumen soal misinya selama ini di meja.

"Kau menghabiskan seluruh waktumu hanya menyingkirkan para bawahan mereka, menyebabkan Phantom Task justru semakin waspada. Apa kau berusaha bermain-main"

"..."

"Dengar. Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan, tapi misi tetaplah misi. Tugasmu yang kau terima lima tahun lalu adalah Menghabisi Tabane dan Semua pimpinan yang membawahinya. Jika kau berhasil maka kau bisa pensiun dini dari MIliter, Do i make myself clear?"

"Yes sir"

"Bagus, Kau diijinkan pergi"

Ichika memberikan hormat sebelum berbalik badan dan berjalan kearah pintu keluar dari ruangan Kolonel.

"Sebelum kau pergi, aku punya satu hal yang ingin ku katakan padamu"

Kolonel Murata kemudian mengeluarkan sebuah dokumen dengan sebuah foto seorang tahanan dibagian depan dokumen itu.

"Madoka, akan di Vonis mati oleh kejaksaan militer setelah ditahan 7 tahun. Hukumannya akan dilaksanakan besok"

"Kenapa anda memberitahukan saya?"

Ichika tidak berbalik badan sama sekali mendengar hal itu.

"Bukankah itu sudah jelas. Karena Dia itu adalah adik perempuanmu"

Ichika mendengar hal itu langsung menatap ke Kolonel Murata dengan tajam.

"Dengan penuh hormat Pak, Dia bukanlah bagian dari keluargaku. Dia tak lebih dari serangga"

Ucap Ichika dengan sinis sebelum ia pergi sepenuhnya dari Ruangan Kolonel Murata

'Kau pembohong yang buruk'

Murata tersenyum pahit melihat jawaban Ichika.

Dibalik dokumen itu terdapat informasi mengenai Keluarga Orimura namun Ichika bertindak seolah tak mengetahui hal itu padahal ia lebih tahu daripada apa yang tertulis disini.

'Jika dia tak peduli soal M. Tak mungkin dia membiarkan gadis itu terjebak di penjara selama ini disaat semua negara menginginkan dia mati'

Madoka atau M sudah lama menjadi incaran CIA dan dicap sebagai teroris terburuk. Bounty untuk kepalanya bahkan mencapai $ 17 Ribu dan ketika situasi menggila yang dimana semua negara akan membunuhnya, Ichika justru menangkapnya dan memenjarakannya di Penjara Nasional.

'Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya anak itu pikirkan'

Lalu dokumen berikutnya menunjukkan seorang perempuan dengan telinga kelinci robot.

Tabane Shinonono

Dia adalah pimpinan Phantom Task yang menjadi top target setelah semua kedok dan pelaku utama telah terbongkar oleh CIA.

Saat ini, SEAL Team sedang mengejarnya bahkan GIGN dan SAS pun dilibatkan dalam Misi Pembunuhan ini.

'Apa yang sebenarnya PBB sedang rencanakan?'

Sangat aneh ketika PBB mensetujui proposal Amerika Serikat untuk menciptakan koalisi pasukan khusus untuk mengeliminasi Tabane Shinonono padahal dia adalah penemu teknologi IS.

"..."

Okinawa, USMC 3rd Marine Expeditionary Force, Kamp Courtney

Ichika duduk dikasurnya dengan pikiran yang melayang entah kemana.

Ia memikirkan soal Chifuyu yang terpaksa ia tinggalkan sendirian karena panggilan mendadak dari Letnan Jenderal Stacy H. William

Masih ada satu jam lagi sebelum Let. Jend tiba

Hanya saja yang terus mengganggunya adalah bagaimana caranya untuk menghubungi Chifuyu. Di Markas para personil dilarang menyalakan koneksi internet demi keamanan

Sementara Ponselnya hanya bisa berkomunikasi melalui jaringan internet agar bisa menelpon.

'Apa yang harus kulakukan?'

'Haruskah aku menyelinap keluar?'

Pikirnya saat melihat situasi markas ini, namun entah kenapa saat dia ingin pergi keluar dari markas sesuatu mulai mengganggu pikirannya.

'Oh'

Pikirannya mulai teringat ke sosok perempuan yang pernah mengancam akan membunuhnya dulu. Dia adalah sosok wanita misterius yang mengaku dari keluarga Orimura

'Madoka'

Sudah beberapa tahun sejak ia berhasil memenjarakan Madoka dan keputusan hukuman mati akan di lakukan besok.

'Perasaan apa ini?'

Ia menatap ke langit siang dimana pikiran mengenai Madoka itu mulai menghantuinya. Apa dia harus…

Tidak, itu tidak mungkin.

Ulang di dalam pikirannya saat sebuah ide dimana dia akan mengunjungi Madoka untuk terakhir kalinya. Tapi entah kenapa perasaan yang sangat mengganggu itu masih membuatnya risih

Tak lama Ichika pun di panggil ke ruang komando dimana Let. Jen telah menunggunya, cukup mengejutkan ketika Let. Jen ternyata tiba jauh lebih cepat dari dugaannya.

(sementara itu)

Akademi IS, Shinku Sarashiki. Kelas I-A Akademi IS

Saat ini kelas yang sering di bilang sebagai kelas neraka mengalami hal yang sangat mengejutkan dan itu adalah

'A….apa yang terjadi'

Pikirku ketika seisi kelas juga ikut terheran-heran bahkan suasana yang biasanya mencekam sekarang berubah menjadi 180 derajat kebelakang.

'Orimura sensei, t….tersenyum?!'

Ya benar, saat ini kelas yang dibimbing oleh Chifuyu Orimura atau yang biasa di kelas sebagai guru dari neraka sekarang malah tersenyum di depan kelas dengan wajah yang sangat berbeda.

Jika biasanya sensei terlihat seperti seorang zombie yang tidak bisa tidur dan siap memakanmu, sekarang sensei malah terlihat seperti seorang maiden in love?!

Kali ini seluruh kelas malah semakin ketakutan melihat tingkah Chifuyu sensei yang masih senyum-senyum sendiri.

Waktu pun berlalu hingga jam istirahat pun tiba

Seisi kelas masih tidak bergerak dari tempat duduk mereka bahkan setelah Chifuyu-sensei telah keluar dari ruangan dari tadi, kami masih tidak bisa bergerak dari tempat duduk kami

'Apa sih yang terjadi?'

Itulah yang aku tanyakan lagi

-0-

{All system start}

Suara interface terdengar di sebuah ruangan yang gelap, tak lama ruangan tersebut mulai di sinari cahaya yang sangat terang menunjukkan sesosok pria yang berdiri di sana

"Bagaimana keadaanmu?"

"Biasa saja"

"hah... jawaban seperti apa sih yang kau berikan itu"

"?"

Di dalam ruangan, dua pria dewasa saling berbicara satu sama lain hingga salah satu dari mereka mulai berjalan kearah sebuah pesawat stealth bomber

Pria yang satu lagi berjalan kearah lain dimana sebuah garasi terdapat baju besi modern yang sangat futuristik siap di gunakan olehnya

"Ichika Orimura"

Seorang pria dengan pakaian Military Dress berpangkat Jenderal mulai masuk kedalam ruangan, pria yang bernama Ichika langsung membenarkan posisi berdirinya menyambut seorang pria yang menjadi pimpinan pasukan ini

"Yes sir"

"Misi kali ini adalah penentu semuanya, ku harap kau memberikan hasil terbaik"

"Yes sir"

Namaku Ichika Orimura, 30 tahunan, menjabat sebagai Letnan SFG's Japan Ground Self Defense Force.

Saat ini hidupku mulai kacau saat semua yang aku berusaha hindarkan semuanya terjadi secara beruntun di depan mataku.

["Cargo bay open!"]

Ucap salah satu personel di dalam pesawat kargo varian dari B1 Bomber, saat personel itu menekan tombol itu, pintu kargo belakang pesawat langsung terbuka.

Di ketinggian 36 Ribu kaki dimana oksigen sangat tipis sesosok manusia berpakaian baju besi futuristik mulai berjalan

["Battle mode, start"]

Suara sistem baju tempur terdengar.

Saat Visor helm full face ia nyalakan, Ichika Orimura langsung terjun bebas dari pesawat.

"Shuuuush"

Dari kedua kaki Ichika, Booster rocket langsung menyala.

[Altitude at 15000 ft, oxygen in normal state]

Interface yang ada di kaca visor helm Ichika menampilkan semua informasi soal status baju tempur ini.

'Jika aku tidak bisa mengembalikan kehidupan normalku seperti dulu'

'Akan ku lawan takdirku yang menyedihkan itu!'

Ichika langsung menurunkan ketinggian ke 8000 kaki di udara dan saat ia melewati beberapa bukit, ia mendarat dengan bantuan roket thruster di kakinya.

("All system check")

Interface langsung menunjukkan sistem yang ada di baju armor milik Ichika.

[Weapon system, activated. Shield status 100 percent. Fusion Reactor Nominal. Deploying IR Beacon]

Ichika kemudian melakukan test sekali lagi sebelum ia perlahan bergerak menyusuri hutan rimbun ini menuju target.

Akademi IS, Jepang

"Seperti yang kalian sudah lihat sendiri. Exo IS sendiri saat ini telah berkembang dengan sangat cepat. Salah satu fitur yang telah di fokuskan adalah kontrol Aerodinamika saat terbang yang membuat IS lebih stabil saat mode terbang ataupun melayang Hover di angkasa"

Di ruangan kelas saat ini suasana yang sangat tegang membuat semua siswi yang ada di kelas jatuh dalam keheningan

'A...apa yang terjadi dengan O...Orimura Sensei!'

Orimura Chifuyu, saat ini mengajari kelas dengan senyuman yang sangat tidak biasa, atau bisa di bilang ini adalah hal yang sangat aneh.

Mengingat dalam 12 tahun belakangan ini, Chifuyu mengajari kelas dengan sangat brutal dan terkenal kejam dalam mendidik.

"Apa kau tahu kenapa dengan Chifuyu Sensei, Sarashiki-chan?"

Tanya Siswi di sampingku, jujur aku pun tidak tahu apa yang terjadi.

Kelas pun berlangsung tegang sampai akhir pelajaran selesai.

'Apa yang sebenarnya terjadi?'

Pikirku sambil berjalan menyusuri koridor.

Aku kemudian sampai di perpustakaan dimana semua buku yang aku ingin baca selalu ada, namun kali ini aku tidak membaca buku seperti biasanya.

Aku mulai menyalakan komputer di perpustakaan dimana aku mulai mengakses database yang ada di akademi.

'Aku masih penasaran, siapa Ichika itu'

Pikiranku mulai tertuju ke pria dewasa yang ku temui beberapa waktu lalu. Ada yang aneh menurutku antara data riwayat hidupnya dengan insiden menghilangnya Ichika Orimura.

Apa yang lebih aneh lagi, kenapa aku merasa kalau Ichika ini ada hubungannya dengan Chifuyu Sensei

'Mau berapa kali aku lihat, masih sama saja semuanya"

Aku mendesah saat melihat semua laporan personil JSDF yang di rekrut tahun ke tahun dimana Ichika masih tertera sebagai perwira biasa yang lulus di akademi militer dengan pencapaian yang luar biasa.

'?'

Entah kenapa aku mulai tertarik dengan SGF's, saat aku mulai menelusuri semakin dalam soal latar belakang dan kontroversi yang ada di sekitaran JGSDF, aku berhipotesis kalau SFG'S memiliki kaitannya dengan insiden penyerangan Dewan Keamanan PBB yang terjadi beberapa tahun silam.

Sangat aneh jika personil prajurit bisa mengalahkan phantom task yang memiliki perlengkapan IS penuh dan semuanya mampu di kalahkan oleh prajurit biasanya.

"Hah~"

Aku hanya bisa menyandarkan wajahku di meja sambil mendesah berat saat melihat semua hasil yang ingin ku cari semuanya berujung ke jalan buntu dan spekulasi yang tidak ada habisnya.

"Ara? Apa ada yang mengganggumu, Sarashiki-san?"

Suara feminim terdengar dan saat aku berbalik melihat siapa yang tiba-tiba berbicara di belakangku, sosok wanita dewasa dengan warna rambut hijau berdiri dengan senyuman menawannya.

Wanita 40 tahunan itu bernama Yamada Maya

"Sensei"

"Ya?"

"Apa Sensei tahu sesuatu soal Letnan Ichika dari JSDF?"

Sensei sedikit memiringkan wajahnya dengan satu tangannya dia sandarkan di wajahnya membuat Sensei terlihat sangat imut.

'Uuuuu...'

Aku sedikit iri dengan Sensei Yamada yang masih terlihat sangat cantik walau umurnya telah menginjak 40.

"Hmm... Bukankah dia adalah Prajurit Spesial dari Unit SDF yang berperan dalam misi penyelamatan dewan PBB dulu. Sayangnya Sensei tidak tahu banyak soal dirinya"

"Begitu..."

Aku kemudian menyalakan layar komputer dan menunjukkan riwayat hidup Ichika yang ada di database akademi.

"Sensei. Apa menurut anda, Ichika ini ada hubungannya dengan Orimura Ichika yang dianggap hilang?"

Saat Sensei melihat Foto Ichika saat masih di Akademi Militer, Sensei hanya melihat kearahku dengan ekspresi heran.

"hmmm... Sayangnya Sensei juga tidak tahu soal itu. Tapi untuk saat ini jangan pernah bicarakan soal ini lagi ya"

"Eh? Kenapa"

"B...Bukannya Sensei melarang murid Sensei untuk belajar, t...tapi..."

Yamada Sensei mulai bergetar ketakutan.

"... S... Chifuyu Sensei sedikit sentimen soal pria ini dengan adiknya yang menghilang itu. J...Jadi jangan di bahas sembarangan ok?"

Oh, ada benarnya juga soal itu. Chifuyu Sensei masih dianggap kurang stabil jika menyangkut soal Ichika.

"...K...Kalau begitu Sensei duluan ke kelas ya"

Sensei kemudian berjalan kembali ke kelas setelah memperingati ku. Jujur saja, aku malah semakin penasaran soal siapa sebenarnya Ichika ini.

Apa hanya kebetulan saja ada dua nama yang sama dengan pengejaan Kanji yang sama?

-0-

["Disini pusat misi ke Wishkey. Kami telah mengkonfirmasi laporan mu soal kemungkinan adanya target Kobra. Kau diberikan ijin untuk melakukan swap bersih ke area. Project Thor akan mencapai orbit area dalam 4 menit]

"Command, disini Wishkey. Copy"

Di ketinggian 2 ribu kaki diatas permukaan laut, sosok manusia dengan eksoskleton terbang melayang mengawasi area.

["Identity check: Orimura, Ichika. 30 yrs old"]

["Safety weapon : Dissangange"]

Layar interface yang terdapat di helm menunjukkan laporan terakhir sebelum dia mulai menurunkan ketinggian sekali lagi.

'... kill on sight, huh'

Target Ichika adalah Kobra dan dia adalah salah satu wanita yang paling diburu oleh seluruh negara.

Roket yang ada di kaki Ichika langsung menyala dan dia terbang menungkik tajam ke daratan dimana area targetnya ada di jarak 12 kilometer.

Sementara itu di markas Phantom Task, para gadis yang mengenakan Eksoskleton IS berjaga dalam keadaan siaga penuh.

Diantara para gadis-gadis muda yang berjaga, sosok wanita dewasa dengan fitur kekanak-kanakan mulai terlihat keluar dari gedung.

"Ara...Ara... Tampaknya akan ada tamu"

"Fufufu"

Dibelakang wanita dewasa itu terdapat sosok wanita dewasa lain dengan pakaian yang cukup sensitif dengan aura yang sensual terasa jelas di sekitar dia.

"Apa maksudmu, Tabane-sama"

"Fufufu~"

Wanita yang di kenal sebagai Tabane itu hanya tertawa kecil sebelum sesuatu yang mengejutkan berhasil membuat semua orang yang ada di sekitar jatuh dalam keterkejutan.

[Boom]

Tanah bergetar saat sesuatu menghantam tanah dengan sangat cepat.

"Penyusup! Semuanya bersiaga!"

Ucap salah satu operator IS kepada rekannya.

["Siapa kau!"]

Bentak salah satu operator IS yang menggunakan speaker

Saat debu disekitaran kawah itu mulai menipis sesuatu dapat terlihat dibaliknya.

"!"

["Semuanya serang!"]

(Srring)

Suara tebasan yang terdengar nyaring namun sangat keras membuat beberapa sistem operasi IS mengalami gangguan.

"Ara Ara... fufufu... Tamu yang sangat tidak ramah"

Tabane tertawa kecil

"...!..."

Wanita berambut panjang dengan warna blind alami itu langsung terkejut ketika melihat apa yang terjadi di depannya.

"kyaah..."

Beberapa operator IS terkejut melihat rekannya yang terkena serangan dari sosok misterius itu.

"B...Bagaimana bisa!"

Salah satu operator IS yang terkejut hanya bisa merinding ngeri ketika melihat itu

["One down"]

Suara mekanikal terdengar dan apa yang ada di area hanyalah sosok manusia dibalik eksoskleton yang menutupi seluruh tubuhnya dengan pedang panjang di aliri energi listrik dari baju besi tempur.

Di sampingnya, sosok manusia yang telah terkena tebasan pedang itu terbaring kaku dengan tubuh terbelah dua menghancurkan baju eksoskleton IS dengan perisai mutlaknya.

"S...Serang dia!"

Beragam tembakan diarahkan langsung kearah manusia itu

Di tengah kepanikan wanita blonde itu langsung menarik lengan Tabane menyarankan dia untuk pergi namun...

"Fufufu..."

"Tabane-sama! Kita harus pergi darisini!"

"fufufu..."

"Tabane-sama!"

Tabane hanya tersenyum melihat bagaimana manusia eksoskleton itu mampu menghancurkan setiap peluru yang datang kearahnya seolah-olah dia mampu membaca tembakan dan arah peluru berkecepatan tinggi itu

"gyaah"

Dalam hitungan detik sosok itu melesat cepat dan kembali mengayunkan pedangnya.

"Chika!"

["Two"]

"Beraninya kau!"

Tak terima rekannya di bunuh secara brutal, semua operator IS langsung melesat kearah sosok itu.

Ditengah kekacauan, Blonde itu mengaktifkan sistem IS miliknya dan Tabane kembali menyaksikan ini dalam senyuman

"Fufufu... Kau sudah besar ya..."

"... Orimura, Ichika-kun~"

Pasukan phantom task yang telah keluar dari kamp langsung mengepung sosok itu yang berdiri dalam diam menyaksikan dirinya di kepung oleh puluhan gadis operator IS.

["Tch"]

Di balik baju tempur, Ichika berusaha melawan pikirannya yang menentang akan misi ini.

'Kill on sight'

Artinya

Dia di perintah untuk membunuh semua target yang ada disini, TANPA pengecualian.

'...'

Ichika berusaha untuk mempertahankan ketenangan saat melihat interface detakan jantungnya mulai meningkat.

["Disini Command, Kami telah mengkonfirmasi visual dari satelit Thor. ETA Thunder Gamer, 2 Menit"]

"Acknowledge"

Ichika kembali melihat ke sekelilingnya dimana dia di kepung oleh beragam gadis muda yang mengenakan baju eksoskleton IS.

'Sungguh candaan yang tidak lucu'

Ia kembali melesat dengan sangat cepat ketika roket motor yang ada di baju tempur ini telah aktif.

"Bunuh dia!"

Teriakan para gadis yang berusaha menyerangnya.

"Gyaaah"

["Three"]

Ichika mengayunkan pedangnya tanpa berhenti menebas satu persatu para gadis-gadis muda itu tanpa ada ampun, membunuh dengan sangat cepat.

["six... seven... twelve... sixteen"]

"C...cepat kalahkan dia!"

Teriakan kepanikan mulai terdengar ketika sosok yang berusaha mereka kalahkan, justru membantai mereka dengan sangat mudah.

'ugh...!'

Tangan Ichika mulai bergetar ketika ia melihat tumpahan darah yang berserakan di tanah bahkan beberapa jejak terlihat di baju eksoskleton miliknya

"fufu... Kau sangat sombong ya"

Ucap sosok baru yang muncul di depannya.

Dia adalah wanita dengan blonde natural, mengenakan IS Generasi 5 Illegal yang nampaknya dibuat oleh Tabane secara personal.

'...'

Ichika mengarahkan pedangnya ke wanita itu

"Grrr... Kau berani meremehkan ku!"

Wanita itu langsung melesat kearah Ichika dengan kekuatan IS Custom Ryuugaku no Kishi Mk II.

"Hoho"

Serangan frontal dari dia berhasil di tangkis Ichika.

"Kau..."

Wanita itu menatap kearah wajah Ichika yang tertutup visor helm full face

"... style ini sepertinya aku pernah tahu"

Ichika langsung menaikkan energi yang ada di pedangnya dan spontan wanita itu sedikit terhempas

"Kapten!"

Rekannya langsung menghampiri wanita itu yang terkena lonjakan energi dari Ichika.

"Apa kau baik-baik saja?"

"...d..dia monster"

Beberapa rekannya mulai menatap kearah Ichika dengan gemetar ketakutan ketika melihat berapa banyak rekan mereka yang dibunuh dengan sangat mudah.

"Hyaaaah!"

Wanita itu langsung melesat kearah Ichika, Ichika dengan sigap menggunakan momentum itu dengan menangkis serangan dan di padukan dengan tendangan dan diakhiri dengan pukulan kuat.

"Gaaah!"

Wanita itu kembali terhempas

"Kapten!"

Tanpa menunggu lama, Ichika langsung melesat kearah wanita itu dengan pedang ia alirkan energi 80 persen

["Seventeen"]

Wanita itu yang mendengar suara mekanikal di depannya, saat ia melihat ke sumber suara, ia melihat kilasan sinar kemerahan dari visor helm itu dimana ia teringat akan sesuatu.

Aura tenang, aura tanpa takut dan belas kasihan terasa sangat kental menekan ke dirinya, untuk sesaat tubuhnya bergetar ketakutan melihat tekanan aura membunuh dari sosok itu.

Pedang yang siap menusuk dan mengakhiri nyawanya langsung melesat.

"Kapten!"

Saat dia siap akan serangan, dia tidak menduga sesuatu terjadi.

"Ghuk"

"...K...Kapten"

Rekannya berdiri di depannya, matanya langsung melebar ketika melihat apa yang terjadi.

"..Kau.."

Rekannya yang tertusuk pedang yang langsung menembus IS itu hanya bisa tersenyum melihat Kapten yang berhasil ia lindungi.

["Annoying"]

Ucap dengan nada dingin sosok itu.

(Slash)

Pedang itu langsung merobek tubuh gadis malang itu, tanpa perasaan, sosok itu yang membelah dua gadis operator IS dan membuang jasadnya bagaikan sampah.

["Now"]

"Hiii"

Rekan-rekan operator IS yang melihat kekejaman sosok itu, mulai ketakutan saat mereka melihat jasad rekannya tanpa ragu di injak di depan mereka.

"B...beraninya kau!"

Salah satu operator IS yang marah melihat ini, langsung melesat kearah sosok itu.

"MATI KAU!"

(Dtiiiing)

Pedang operator IS itu berlaga dengan pedang sosok itu.

["You're next"]

Ichika dengan cepat menggunakan tangan kanannya dan meraih wajah gadis itu, Shield IS langsung tembus dan tangan Ichika yang menggenggam wajah gadis muda itu, tanpa ampun ia merekah wajah gadis itu.

"Gaaaahhh!"

Gadis itu menjerit keras saat cengkeraman tangannya semakin kuat, suara retakan tengkorak dapat terdengar sangat keras.

"T...Tunggu!"

"Jangan!"

Mereka yang melihat rekannya yang akan di habisi berusaha menyelamatkannya, gadis yang berada di cengkraman Ichika berusaha sekuat tenaga melepaskan diri bahkan teriakan kecilnya memohon namun...

"K...kumohon..."

(crack...splash)

"Hiiiii"

Mereka semua menjerit ngeri melihat itu.

["Whose next?"]

Ucap sosok itu dengan nada mekanikal

Sosok kejam itu berdiri dengan pedang ia arahkan pada mereka yang menatap kearahnya dengan penuh rasa takut.

Tak ada yang berani melangkah ataupun bergerak dari posisi mereka hingga sebuah suara terdengar

(tepukan tangan)

"Fun...fum... kau benar-benar melebihi ekspektasi ku..."

Sosok wanita dengan telinga kelinci buatan mulai terlihat.

"... Orimura, Ichika-kun~"

Saat itu suasana langsung berubah menjadi tegang.

Ichika melihat target yang di kejarnya, langsung melesat kearah Tabane.

(dentingan)

Ichika sedikit terkejut ketika melihat serangannya berhasil di tangkis oleh Tabane.

"Hoho..."

Ichika mengaktifkan sistem full power dan kembali menyerang Tabane secara bertubi-tubi.

"Hoho... Orimura, Ichika-kun~ kau sangat agresif"

Ichika berusaha menyerangnya namun semua serangan berhasil di tangkis oleh Tabane dengan tangan eksoskleton IS.

"Fufu..."

Ichika kemudian mengaktifkan mode tempur 100 percent dimana semua efesiensi power terfokuskan ke mode tempur.

Tabane langsung melompat menjauh ketika lonjakan energi tinggi datang dari Ichika.

'Ara... sepertinya mereka berhasil melampaui IS ku ya?'

Pikir Tabane saat melihat Ichika yang berdiri dengan lonjakan energi yang mengalir mencapai tingkat yang sangat tinggi.

'Fufu...'

Tabane melirik kearah samping dimana dia melihat sosok siluet di kejauhan.

Ichika yang melihat Tabane lengah, langsung melesat kearahnya dengan pedang

Pertarungan dan tukar seragam jarak dekat itu terus berlangsung hingga salah satu operator IS mulai mendekat membantu Tabane.

"Tabane-sama, kita harus pergi dari sini. Kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan"

Ucap blonde itu pada Tabane.

Tabane yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sebelum ia menatap kearah Ichika yang berdiri dengan pedang di genggaman

"Fufu... Ichika-kun, sepertinya ini perpisahan kita, ya~"

Tiba-tiba sekelompok operator IS kembali mengepung Ichika dan Tabane dengan santai berjalan menjauh dengan blonde itu.

"Semuanya, bunuh dia!"

Ucap operator IS dengan senjata diarahkan ke Ichika.

"Sistem, check berapa hostile?"

[Scanning]

...

[Scan complete. Total target, 24]

Ichika yang melihat Tabane menjauh mulai mengumpat melihat situasinya.

'...'

Ichika menghela nafas ketika melihat beragam tembakan yang diarahkan padanya. Ia langsung mengelak setiap tembakan dan menangkis dengan pedangnya.

"Jangan biarkan dia mendekati Tabane-sama!"

Ucap operator IS yang berusaha menembaki Ichika yang masih menghindari setiap serangan.

"Bagaimana bisa!"

Operator IS terkejut ketika melihat bagaimana serangan mereka tak mampu menggores sedikitpun ke Ichika.

"!"

Semua Operator IS langsung terkejut ketika Ichika melompat dan mendarat dengan satu tangan di pedang dan tatapan tajam di balik visor diarahkan ke mereka semua.

["My turn"]

Ucap suara mekanikal itu

"Jangan lengah!"

Teriak operator IS pada rekan-rekannya.

"Huh?!"

Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Ichika menghilang dari pandangan mata.

"Kaicho! awas di belakang mu!"

"Huh..."

Operator IS itu langsung berkeringat dingin ketika merasakan aura membunuh di belakangnya.

["One"]

(sriiing)

"Kaichoo!"

Teriakan mereka mulai menggema di kepalanya, tak lama ia merasakan rasa sakit dari perutnya. Pandangan mata mulai ia arahkan ke tempat dimana dia merasa sakit namun sesuatu yang ia lihat justru membuatnya ketakutan

["You dead one"]

Ucap suara mekanikal itu, saat ia menoleh kearah sumber suara dimana di belakangnya terdapat sosok manusia dengan baju eksoskleton aneh.

"Hiii!"

"Ghuak!"

Ia memuntahkan darah ketika perasaan sakit luar biasa itu datang dari sebuah pedang yang menusuk langsung ke baju IS menembus hingga ke tubuhnya.

"Khk..."

(slash...)

Matanya mulai memburam ketika pedang itu dengan mudah membelahnya. Sebelum kegelapan menjerumuskan nya selamanya, ia bisa melihat sekilas sosok itu, sosok kejam yang tidak memiliki hati dan tanpa belas kasih.

"...m...mo... monster"

"KAICHOO!"

Semua operator IS langsung melesat menyerang Ichika

"Graaaahhhh!"

Ichika berusaha menghindari serangan para gadis remaja naif yang bahkan tidak terlatih dalam pertarungan CQC/Close Quarter Combat

"Gyaaahhh!"

"Argh!"

Satu persatu teriakan menggema di balik visor helm Ichika yang masih tanpa ampun mengayunkan pedangnya.

"["Twenty"]

Ichika dibalik visornya dapat melihat bagaimana pedangnya berlumuran dengan darah dan banyak organ tubuh manusia berserakan dimana-mana.

Setiap wajah musuh yang ia bunuh mulai menghantuinya, setiap teriakan hingga setiap kalimat memohon kembali tergiang di kepalanya bagaikan kaset rusak.

["System detected anomaly on heartbeat. Please be calm"]

Ucap sistem AI di baju eksoskleton miliknya.

Ichika berjalan kearah target yang masih sekarat.

"Ghuk..."

Sistem pengenalan identitas di baju eksoskleton miliknya mampu mengidentifikasi setiap target dalam waktu singkat dan korban ini yang masih sekarat adalah seorang remaja berusia tak lebih dari 15 tahun.

Hampir semua target yang ada disini semuanya berusia antara 15 hingga 17 tahun dan

'...'

Gadis itu sekarat dengan tatapan ketakutan terlihat sangat jelas di wajahnya.

"...Hick...hick..."

Ichika melirik kearah pohon dimana seorang operator IS terduduk gemetar ketakutan melihat kearahnya.

"Jangan

"...t...tolo...ng...j..."

Ichika yang sudah di depan gadis itu hanya bisa menatapnya dengan pandangan kosong.

(slash)

Satu tebasan ia layangkan ke leher gadis itu.

'... menyedihkan'

Pikir Ichika saat melihat bagaimana seluruh baju eksoskleton miliknya telah berlumuran darah.

"Hick...hick... Monster..."

Ia mendengar tangisan, saat pandangan ia arahkan ke sumber suara, Ichika melihat seorang operator IS yang terduduk dengan air mata mengalir deras.

Ichika melihat itu hanya bisa melirik kearah pedangnya yang juga sudah berlumuran darah.

Saat Ichika melihat ke sekelilingnya, apa yang ia lihat adalah pemandangan mengerikan sepanjang mata memandang.

(melangkah)

Ichika berjalan kearah gadis muda itu yang juga menjadi target terakhirnya.

"K...Kumohon jangan bunuh aku..."

Ucap gadis remaja itu dengan nada bergetar, seluruh tubuhnya bergetar hebat saat melihat sosok dengan baju eksoskleton yang jauh lebih unggul dari mereka semua.

Ia sangat ketakutan bahkan kedua kakinya tidak mampu lagi untuk bergerak, sosok itu berdiri di depannya dengan pedang berlumuran darah dan baju eksoskleton yang juga penuh dengan lumuran darah bekas membantai semua rekan-rekannya.

Sosok monster itu saat sudah di depannya, seluruh tubuh yang bergetar dalam ketakutan ia hanya bisa menjerit ketika melihat sosok itu menatapnya.

[Incoming transmission]

Dari layar Visor Helm, Ichika melihat transmisi datang dari pusat komando.

["Letnan, kami melacak posisi Kobra saat ini mulai menjauh darimu. Segera kejar target dan eliminasi segera. Project Thor Mjolnir telah di lepaskan, Rod of God akan sampai di lokasimu dalam 2 Menit. segera menyingkir dari sana"]

[End of Transmission]

"Copy that"

Ucap Ichika saat melihat transmisi telah selesai. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke gadis itu yang masih bergetar ketakutan.

"Good night"

Ichika menaikkan pedangnya ke udara.

"Hiiiii!"

Gadis itu hanya bisa menutup mata sambil berteriak keras hingga hanya sebuah suara tebasan yang dapat terdengar.

(slash)

Saat suara tebasan menggema, gadis itu yakin jika hidupnya telah berakhir di tangan seorang monster.

Monster tanpa belas kasih yang bahkan tidak pun hati untuk mengampuni siapapun.

Hingga sebuah suara keras tiba-tiba terdengar di telinga gadis itu.

(pohon terpotong)

Sebuah suara pohon terbelah dua terdengar keras.

Sedikit takut, gadis remaja itu perlahan membuka matanya.

'A...apa aku... sudah mati?'

Tanyanya saat perlahan matanya mulai terbuka.

Saat cahaya mulai memasuki matanya, apa yang ia lihat adalah sesuatu yang mengejutkan.

Dia masih hidup.

"Hiii!"

Ia kembali menjerit ketika melihat sosok itu masih di depannya dengan pedang masih di tangannya.

["I will take you as POW"]

Ucap sosok dengan suara mekanikal itu hal berikutnya yang ia tahu, ia jatuh pingsan akibat pukulan yang menyerang perutnya

-0-

Tokyo, Markas USFJ, Pusat JSOC/Joint Special Operation Command

Di dalam ruangan komando, terdapat seorang pria dengan pakaian militer berpangkat Jenderal Bintang 4 Angkatan Darat duduk dengan laporan penuh di mejanya.

Di depannya, Tiga orang pria dengan pakaian militer lengkap dengan pangkat Letnan Kolonel, Letnan Satu, dan Kolonel berdiri dengan pose tegak.

"Letnan Satu Orimura, Ichika. Atas tindakanmu yang membiarkan target kobra melarikan diri dari wilayah target, dengan ini JSDF memberikanmu Hukuman yaitu penurunan pangkat ke Sersan Mayor dan kau juga di copot dari Special Forces Unit"

Ichika hanya bisa diam mendengarkan keputusan hukuman yang diterimanya.

"Mengenai misi mu, kau juga dengan baik menjalankan tugasmu walau kami sedikit terkejut kau membiarkan satu orang selamat sebagai POW. Kau sudah bekerja dengan baik, Sersan Mayor"

Jenderal kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan kearah Ichika. Jenderal kemudian memberikan Ichika jabat tangan sebagai pencapaian yang telah ia lakukan.

"Baiklah, kau akan di turunkan pangkatmu dan juga akan di copot dari SFU sesuai dengan hukuman yang telah kau terima"

mendengar hal itu, dua orang yang berdiri di samping Ichika mulai memberikan hormat pada Jenderal sebelum mereka berdua mulai menghadap ke Ichika dan mulai melepaskan pangkat di bahu Ichika dan mencopot pin Pasukan Khusus di dada kiri Ichika.

-0-

Setelah penurunan pangkat dan penempatan unit baru, Ichika Orimura 30 Tahun yang sekarang berpangkat Sersan Mayor hanya bisa menatap kearah meja kerja di kantor officer barunya.

'Sudah banyak hal yang terjadi, tapi apa yang ku raih selama ini?'

Pikir Ichika sambil mendesah menatap langit-langit ruangan kantornya.

Bukan hanya di copot dari kesatuan 2nd Platoon Special Forces Group Japan Self Defense Force, dia juga di pindah tugaskan di bawah USFJ Kamp Horimiya Prefektur Shinzuku.

Setelah aksinya yang membiarkan target kobra melarikan diri, Ichika beruntung tidak terkena hukuman penjara dan pemecatan permanen yang di jatuhkan oleh kejaksaan militer nasional setelah mempertimbangkan jumlah misi yang berhasil di lakukannya dan berhasil menangkap salah satu operator IS phantom task.

'Hm...'

Ichika menyusuri beberapa lembar dokumen dimana dia melihat daftar-daftar nama anggota phantom task yang KIA di tangannya.

'Mereka semua gila'

Ichika meremas dokumen itu saat melihat informasi oleh tim medis yang mengkonfirmasi bahwa semua operator IS itu semuanya tak lebih dari 17 tahun kebawah, yang artinya

'Urgh... Apa yang harus ku lakukan dengan semua dosa ku'

Tangan kanan Ichika mulai gemetaran saat membayangkan lagi setiap ekspresi wajah para gadis yang ia bunuh satu persatu.

"Damnit!"

Ichika melemparkan dokumen itu, berusaha melampiaskan semua rasa frustasinya yang perlahan menggerogoti otaknya.

(bam!)

Tangan kirinya pun ikut ia hantamkan ke meja setelah frustrasi tak bisa lagi ia lepaskan dari pikirannya.

Dari luar ruangan, seorang Kolonel yang melihat bagaimana Ichika melemparkan dokumen dan membanting tangannya ke meja hanya bisa mendesah.

"Pak, ku rasa kita harus mempertimbangkan soal tes medis dia"

Ucap seorang Letnan di sampingnya.

"Bagaimana dengan hasil medis setelah misi terakhirnya?"

Letnan itu kemudian mengalihkan pandangan ke ruangan dimana Ichika berada.

"Dari hasil analisa medis, kami mengkonfirmasi kalau dia positif PTSD Tahap 3. Normalnya hal ini sudah menjadi patokan untuk dia agar pensiun dari garis depan, tapi entah kenapa petinggi politik masih menginginkan dia untuk menjadi prajurit utama"

(mendesah) "Ada banyak yang harus di pertimbangkan dewan parlemen jika memang mereka harus mempensiunkan dia. Dia adalah prajurit gemilang yang bahkan mau menjalankan tugas seberapapun kotornya itu tanpa banyak bicara dan siap menanggung kotoran itu sendiri. Mungkin mereka beranggapan kalau dia adalah orang yang cocok untuk tugas sekeji ini"

Kolonel itu menatap dibalik jendela dimana dia melihat Ichika yang menyandarkan kepalanya di meja dengan kedua tangan ia letakkan di kepala bagaikan orang yang sangat depresi.

'Jika ini terus berlanjut, aku takut anak itu akan rusak'

Kolonel hanya bisa melihat dengan miris ke keadaan yang harus di tanggung oleh Ichika.

'Menghabisi dengan sangat cepat dan tanpa ampun melawan sekumpulan anak-anak, ku rasa itu adalah beban yang tidak bisa orang biasa bisa tanggung'

Selama 12 tahun Ichika bergabung dengan Militer, ia sudah menjalankan setidaknya 9 misi tempur resmi dan 13 misi rahasia yang semuanya berkaitan melawan organisasi phantom task dan yang lebih miris, semua musuh yang ia lawan tak lebih dari sekedar sekumpulan anak remaja.

Saat Kolonel mulai melangkah menjauh menuju ruangan kerjanya, tiba-tiba seseorang dengan pakaian militer perwira datang kearahnya dengan terburu-buru.

"Kolonel!"

"Apa yang terjadi?"

"Kami dapat informasi dari divisi intelijen kalau mereka menginginkan Ichika untuk datang ke ruang interogasi segera"

Kolonel yang mendengar hal itu hanya menatap kearah perwira itu dengan tatapan curiga. "Apa maksudmu, apa yang mereka inginkan dari Ichika?"

"Maaf pak, mengenai itu saya tidak tahu. Ini sudah keputusan dari Laksamana Yakamura"

'Angkatan laut pun menyetujui ini?'

Kolonel yang tidak bisa berkata apapun, hanya bisa menatap kearah perwira itu sebelum ia kembali berjalan kearah kantor Ichika bersama dengan perwira itu.

Ichika yang masih di meja kerjanya dengan kepala ia sandarkan di meja itu hanya bisa mendesah berat berulang-ulang kali setelah semua yang ia lakukan selama bertahun-tahun.

"Sersan Mayor Ichika Orimura"

Saat namanya di panggil Ichika langsung melirik dan melihat dua pendatang.

"Kolonel. Maaf tidak menyadari anda"

Ichika langsung memperbaiki pose nya dan berdiri menyapa Kolonel itu.

"Ichika, ikut bersamaku Nak. Aku ada tugas untukmu"

"Yes sir"

(Divisi Intelijen Markas USFJ Kamp Noriko)

Saat Ichika sampai di markas Intelijen USFJ/United States Forces in Japan, ia di sambut oleh seorang pria dengan setelah hitam tanpa dasi.

"Senang kau bisa hadir disini Ichika-san"

Ichika mengangguk sambil mengikuti pria itu yang membawanya masuk ke dalam.

"Jadi, apa yang membuat Badan Intelijen ingin aku datang kesini?"

Tanya Ichika saat mereka berjalan melewati aula gedung.

"Seperti yang anda tahu, Phantom Task yang saat ini di kendalikan penuh oleh Target Kobra tak lebih dari sekedar kumpulan kriminal yang menggunakan anak-anak sebagai prajurit"

"Aktivitas mereka dalam sedekade ini berhasil di kendalikan dan semua itu berkat kerja keras anda. Kami sangat menghargai itu, tapi bukan itu alasan kami memanggil anda kemari"

Saat mereka sampai di elevator, Pria bersetelan hitam itu kemudian mengalihkan pandangan ke Ichika.

"Kami berhasil mencegat informasi mengenai Phantom Task dan munculnya informasi kalau mereka akan melakukan sesuatu terhadap akademi IS dalam waktu dekat ini"

"Informasi ini juga kami perkuat setelah kami berhasil menginterogasi salah satu operator IS yang berhasil anda tangkap saat operasi kobra fish"

Pintu elevator terbuka dan mereka sampai di lantai bawah tanah dan disana Ichika dapat melihat bagaimana divisi intelijen sebenarnya.

"Selamat datang di SAS, disini kami hanya menempatkan pasukan terbaik di planet bumi sebagai komando yang paling berani dan paling kuat"

Di lantai bawah tanah, Ichika yang keluar dari elevator hanya bisa berjalan dengan takjub melihat banyaknya orang disini.

"Ikuti aku"

Pria bersetelan hitam itu kemudian membawa Ichika menuju tempat lain.

"Hey look at that"

"Oh? So, that's him huh?"

Beberapa orang yang Ichika lewati langsung melirik kearahnya, beberapa diantara orang yang ia lewati ada yang ia kenal dari bio data di JSDF.

"Jadi kalian bekerja sama dengan British Special Forces dan SEAL Team, huh"

Ucap Ichika saat melihat beberapa wajah yang ia cukup familiar.

Salah satunya Letnan Satu Samuel R. Etto dari kesatuan British Special Demolition and Rescue Operator, Kolonel Jebediah L. Smith dari U.S Navy SEAL Team 6 yang di kenal sebagai Night Hunter One dan terakhir Kim Lee Donghae dari kesatuan French Foreign Legiun.

'...'

"What's you think?"

"Hope he's not got that PTSD"

"Got his six?"

"Probably nope"

"Heh.."

Banyak dari mereka bercerita di belakangnya, namun Ichika tidak terlalu memperdulikan apa yang mereka katakan.

"The child killer of Japan"

Saat mendengar satu kalimat itu, Ichika langsung naik darah dan siap menghajar siapa yang berani mengatakan hal itu namun saat ia berbalik dan menatap siapa yang mengatakan itu, ia langsung mengurungkan niatnya.

"Letnan Kolonel Frederick, Ku harap anda tidak mengatakan hal itu lagi"

Balas Ichika dengan tatapan tajam.

Pria berusia antara 46/47 tahun itu hanya membalas tatapan Ichika dengan santai.

"Kau memiliki reputasi yang cukup kotor dan aku cukup terkejut melihat kemampuan mu di misi terakhirmu. 'Sersan Mayor' "

Melihat tidak adanya hal yang ingin di bicarakan, Ichika dan pria bersetelan hitam itu kembali berjalan melewati Letkol Frederick.

"Ku rasa aku menemukan orang yang cocok untuk tugas berikutnya" Gumam Frederick saat melihat keduanya pergi kearah elevator yang membawa langsung ke ruangan interogasi.

"Apa anda yakin soal itu, Letkol?" Balas Sersan Dua Johnson. "Kuharap anda pertimbangkan lagi mengenai itu, Letkol. Anda sendiri tahu bagaimana dia, kan?"

"Justru dengan kemampuan dan kekejian yang dia miliki itu yang bisa membantu kita"

"Darimana anda yakin soal itu, LetKol?"

"Insting"

(0)

Ruangan Interogasi, Ground Floor Level 8

Saat elevator terbuka, Ichika kembali di sambut oleh seorang pria yang memiliki aura yang sangat tinggi darinya.

"Senang anda bisa disini, Sersan Mayor Ichika"

Ichika langsung menyambut jabat tangan pria itu sambil mengangguk. "Dan siapa anda?"

"Oh, maaf kelancangan saya. Namaku James Arthur. Aku yang bertanggung jawab atas intelijen tingkat lanjut. Silahkan ikuti aku, ada hal yang ingin ku tunjukkan padamu"

Pria yang bernama James Arthur kemudian membawa Ichika ke sebuah ruangan pengawas dimana di baliknya terdapat sel tahanan yang terikat di kursi interogasi.

"Seperti yang anda lihat, kami berhasil menangkap salah satu operator IS Phantom Task yang terlibat dalam konflik di Yaman. Dan dia nampaknya sangat keras kepala"

James kemudian mengarahkan pandangan ke Ichika yang juga menatap kearah tahanan itu.

"Jangan bilang kalau kalian menyuruhku untuk melakukannya"

Balas Ichika sambil melirik tajam kearah tahanan itu.

"Bukan menyuruhmu, tapi itu adalah perintah. Kau disini atas perintah untuk menggali semua informasi yang dia punya dan kau di beri ijin untuk melakukan apapun yang kau mau"

"Dan jika aku menolak?"

"Sayangnya kau tidak punya pilihan lain, Sersan Mayor"

Melihat situasinya yang sangat tidak menguntungkan, Ichika hanya bisa menatap kearah gadis itu.

'Dia kemungkinan berusia antara 17 hingga 18 tahun'

"Ok, akan ku lakukan"

Ichika berjalan kearah pintu keluar dimana ia selanjutnya berjalan menuju pintu masuk sel tahanan. Sebelum ia masuk ke dalam, dua prajurit bersenjata lengkap melakukan check di mulai dari finger print hingga retina scan.

"Ichika"

Sebelum ia masuk, James Arthur menghentikannya dengan menepuk bahunya pelan.

"Aku tahu kalau ada yang aneh dengan permintaan dari atasan, ku harap kau tidak memiliki dendam dengan kami karena kami yang membawamu kesini"

"Itu sudah menjadi tanggung jawab dari awal aku bergabung dengan Militer"

Balas Ichika dengan nada datar sambil masuk kedalam ruangan sel.

Di dalam ruangan sel tahanan, beragam hal yang membuat suasana ruangan interogasi ini terasa mencekam dapat terlihat, seperti yang yang berlumuran darah dan beragam alat-alat lainnya yang bisa membuat orang biasa langsung ketakutan berada disini.

Namun melihat bagaimana mereka tidak mendapatkan perkembangan apapun, ia hanya bisa menebak kalau mereka hanya sekedar menakut-nakuti gadis ini tanpa ada nyali untuk menggunakan alat-alat ini.

Cukup masuk akal kenapa tidak ada yang punya nyali untuk melakukan itu, karena secara hukum melakukan siksaan terhadap tahanan adalah kejahatan perang dan yang lebih buruk lagi...

'... Menahan seseorang di bawah umur dan memaksa mereka hingga hancur ke psikologi nya adalah kejahatan terburuk'

Hukum PBB sangat jelas tertera dalam Peraturan Perlindungan Anak dan Perempuan.

Jadi

'... Perang ini sudah menjadi kejahatan terburuk sejak awal'

Ichika berjalan kearah tahanan yang duduk terikat di kursi interogasi dengan mata masih tertutup.

Dia adalah seorang perempuan dengan ciri-ciri, berambut blonde dengan fitur remaja khas dan memiliki semacam luka di lengan kirinya yang nampaknya luka itu sudah ada bertahun-tahun lamanya.

Ichika yang sudah di depan perempuan itu, mulai mengambil 'alat' yang ada di meja.

Dari ruangan monitoring, beberapa orang termaksud James Arthur mengawasi dengan sangat baik apa yang akan dia lakukan.

'mm?'

James mulai menduga apa yang akan terjadi berikutnya.

Dari dalam ruangan sel, Ichika yang memegang palu langsung ia ayunkan dengan sangat kuat ke tangan kiri gadis itu.

Spontan suara yang menyakitkan menggema di ruangan itu bahkan dari balik kaca ruang monitoring beberapa dari pengawas langsung menutup mata saat apa yang terjadi di depan mata mereka, hampir semua kecuali James.

'Sudah kuduga... anak itu sudah rusak'

Teriakan menyakitkan yang menggema terdengar keras, teriakan dari gadis malang itu justru tidak berpengaruh apapun pada sosok manusia yang berdiri di depannya.

"Bagus, kau sudah bangun"

"Khk... " Ia mulai mengangkat dagunya dan menatap kearah sumber suara. "Kyah!"

Sosok menakutkan itu menarik rambutnya dengan keras dan saat itu juga dia bisa melihat sepasang bola mata hitam kelam menatap langsung ke jiwanya.

"Bicara yang kau tahu apa yang aku tidak tahu"

Melihat tatapan tajam dan mengerikan langsung membuat gadis malang itu langsung gemetar ketakutan bahkan ia tak mampu menahan air matanya yang perlahan mulai terlihat di sudut matanya.

"Hiii!"

Ia menjerit kecil ketika tatapan itu semakin menakutkan dan semakin menakutkan setiap detiknya. "A...Aku ... tidak ... gyahhh!"

Rambutnya di tarik paksa oleh sosok itu, ia hanya bisa menjerit kesakitan terlebih lagi luka di tangannya membuat pikirannya tak mampu berpikir lurus lagi.

"Bicara"

Ucap sosok itu dengan nada kejam, kali ini gadis malang itu mulai menangis ketakutan saat sosok itu sangat jelas akan melakukan sesuatu yang akan menyakitkan.

"K...kumohon... a...a..aku t..tidak tahu a...apa-apa..."

Ucapnya merintih dalam kesakitan berharap kalau laki-laki kejam ini akan mengampuninya.

"Oh?"

"kyahh!"

Rambutnya di lepas secara paksa, belum sempat ia bereaksi laki-laki itu langsung berbalik badan kearah meja.

"Jika kau ingin bermain-main, akan ku turuti kemauan mu"

Ucap sosok itu

(clak...clak...)

suara yang menggema membuat gadis itu mulai ketakutan lagi, tubuh mungilnya merinding ketakutan dan suara gemetar tubuhnya dapat terdengar menggema di ruangan menyeramkan ini.

'T...tidak'

"...K...Kumohon... j...jangan..."

Sosok itu yang saat ini menatap kearahnya dengan sebuah benda di tangannya membuat gadis malang ini hanya bisa menangis memohon dan berusaha untuk melepaskan dirinya.

"Mari kita lihat seberapa tangguhnya kau"

Sosok itu mulai berlutut di depannya dengan palu yang tadi ia pakai melukainya dan beberapa paku panjang berkarat ia arahkan langsung di lututnya.

"J...Jangan... Ku...kumohon!... a...aku mohon!"

Gadis itu berteriak memohon padanya berharap ia tidak melakukan hal itu.

'Kenapa... kenapa dia sekejam itu padaku'

Gadis itu menangis keras dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan. Normalnya tidak ada satu laki-laki pun yang tega melakukan semua ini pada seorang perempuan, namun apa yang membuat gadis ini tak percaya apa yang ia lihat dan rasakan adalah laki-laki di depannya itu adalah seorang monster.

"Sekarang, apa kau mau bicara?"

Ulang laki-laki itu dengan nada sedingin es.

"Hick...hick..."

Dia hanya menangis terisak tak bisa membalas perkataan laki-laki itu, ketakutan yang menyelimuti pikirannya membuat semua yang ia ketahui menjadi lupa seketika dan itu semakin memperburuk keadaan saat laki-laki itu mulai menekankan paku berkarat itu ke lututnya.

Dari balik ruang monitoring, beberapa pengawas mulai menatap kearah Ichika dengan sinis, walau gadis yang ada di sel itu adalah tahanan tapi mereka masih tidak bisa menerima kalau mereka harus menyaksikan gadis malang harus mengalami Interogasi brutal ini.

"Pak..."

"Aku tahu apa yang ingin kau katakan" Potong James saat salah satu pengawas menatap kearahnya. "Walau aku benci harus melihat ini, tapi tetap saja kita punya tugas yang harus kita lakukan"

'Inilah kenapa aku sangat membenci ide wanita adalah sosok superior dibandingkan laki-laki'

'Mereka pada dasarnya memberikan wanita kemampuan teknologi tempur yang jauh lebih unggul namun tetap saja'

'Laki-laki lah yang harus mengerjakan pekerjaan kotor sesungguhnya dan itulah yang harusnya terjadi, bukan sebaliknya'

'...'

'Tunggu... bukankah semua itu mulai masuk akal?'

'Dengan menggunakan Phantom Task sebagai kambing hitam untuk memutarbalikkan keadaan seperti semula dan menunjukkan pada dunia kalau menempatkan wanita sebagai primadona utama adalah hal yang salah, terlebih lagi berkaitan soal senjata. Apa mungkin ini yang sebenarnya mereka rencanakan oleh seluruh pemimpin dunia?'

"Pak!"

"Pak!"

"Pak!"

James langsung tersadar dari lamunannya saat salah satu operator pengawas memanggilnya.

"Ada apa?"

"Pak, apa anda bisa hentikan dia?"

"Apa maksudmu?"

"Pak, dengan penuh hormat. Saya tidak bisa menahan hal ini, terlebih lagi apa yang dia lakukan pada anak-anak"

"Aku tahu perasaanmu, tapi ini sudah tugas. Dan aku tidak ingin..."

("Gyaaaahhhhh!")

Teriakan keras yang memekakkan telinga terdengar menggema di ruangan monitoring spontan tiga operator yang mengawasi ruangan dengan headphone terpasang di telinga mereka langsung mereka lepaskan saat itu juga.

("Gyaaaahhhhh!")

Teriakan kedua kembali terdengar dan kali ini teriakan itu lebih keras dari yang pertama.

James langsung berjalan kearah kaca dimana ia bisa melihat apa yang terjadi di sel tahanan namun apa yang ia lihat adalah sesuatu yang sangat mengerikan

'Jesus'

"Holy FKING shit!"

"He's MANIAC! Pak, kita harus menghentikan dia!"

Salah satu anggota intelijen yang berada di ruangan langsung berteriak kearah James ketika mereka melihat kegilaan yang terjadi di dalam sel itu.

James yang mati bisu hanya bisa terdiam membatu melihat hal itu

("Gyaaaahhhhh!")

"PAK!"

Anggota Intelijen yang mulai kehabisan kesabaran mulai menarik kerah bajunya membuat James langsung tersadar dari imajinasi liarnya.

"Pak! Kita harus menghentikan dia!"

James melihat seisi ruangan yang mulai terlihat marah dan berusaha melakukan sesuatu untuk menghentikan kegilaan itu hanya bisa terdiam menunggu tanggapannya.

"Kau benar, kita harus menghentikan dia"

James bersama dengan dua anggota intelijen langsung berlari kearah pintu keluar dan berlari secepatnya kearah sel Interogasi.

'Ku tarik lagi perkataan ku soal dia sudah rusak. Anak itu justru sudah gila'

Pikir James ketika tidak habis pikir melihat ada sosok manusia yang tega melakukan hal itu.

Lima menit sebelumnya, Ichika yang menatap kearah gadis yang menangis ketakutan hanya bisa mendesah.

Gadis malang itu mulai menatap kearah lututnya dimana benda tajam itu mulai menekan kulitnya.

Menangis, gemetar ketakutan, panik, dan teriak adalah hal yang bisa di lakukannya setelah ia tidak mampu untuk melepaskan diri dari sini.

"Kau membuat ini semua semakin rumit ya?~"

Ucap laki-laki itu dengan nada main-main. Namun itu justru menjadi sebuah nada paling horor di hidupnya.

"J...Jangan... Jangan ..."

Tangan kanan laki-laki itu yang memegang palu mulai terayun ke benda tajam berkarat itu yang menekan kulitnya.

"Jangan..."

Gadis itu yang melihat ayunan itu hanya bisa merintih dalam ketakutan dan tangisan hingga

(clank)

"Gyaaaahhhhh!"

Gadis malang itu berteriak kesakitan saat benda tajam itu menusuk langsung ke kulitnya dan menembus ke tulangnya

"Ahhhhh!"

"S...Sakit! K...Kumohon! H...Hentikan!"

Jerit gadis malang itu, di tengah derita sakit yang ia rasakan laki-laki kejam itu tanpa belas kasih langsung menarik paku itu dengan perlahan membuat rasa sakit yang ia rasakan menjadi berlipat ganda.

"Gyaaaahhhhh!"

Gadis itu berteriak hingga tenggorokannya mengering bahkan saat paku itu hampir terlepas dari kulitnya laki-laki kejam itu tanpa ampun kembali menekan paku panjang itu ke kulitnya hingga sepenuhnya menembus kakinya hingga ke kursi

"Aahhhhhh! Khhk..."

Teriakan gadis itu hampir sirna setelah semua suara yang ia punya semuanya terkuras habis namun saat pandangannya hampir memburam ia sempat melihat sosok laki-laki kejam itu mengambil paku lainnya dan menempelkan nya di lutut kanannya.

"J...Jangan!... Aku mohon... aku mohon... ampuni aku... kumohon..."

Gadis itu memohon di tengah tangisan, ia terus menangis kencang saat pria itu tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali.

"Hick...mhick...hick... a..aku mau p...pulang... k...kumohon... lepaskan aku... hick...hick a...aku mau pulang..."

Rintih gadis malang itu dengan tangisan deras yang membasahi seluruh bajunya.

"..."

Pria itu hanya diam menatap kearah gadis itu.

"Masih tidak mau bicara ya?"

"hick...hick... jangan! ampuni aku! aku mau pulang!"

Gadis itu berusaha memohon pada pria itu, satu-satunya di pikiran gadis malang itu hanyalah pulang ke rumah dan tidak akan pernah keluar rumah dengan harapan tidak akan pernah bertemu dengan monster ini selamanya

(clank)

"Gyaaaahhhhh!"

Kali ini paku kedua langsung menembus lutut kanan gadis malang itu dan teriakan menyakitkan kembali mengisi ruangan mengerikan ini.

Gadis itu berteriak sekuat mungkin bahkan sekeras mungkin berharap ada yang mau menolongnya dari neraka ini.

Berteriak dan terus berteriak gadis itu lakukan bahkan ia tak peduli lagi apa yang akan terjadi yang terpenting ia keluar dari tempat ini.

"Hick...hick... hyaaahhhhhhh!"

Gadis malang itu menangis dan menjerit hingga tenggorokannya sangat kering, kesadarannya pun terasa akan menghilang namun ia tidak bisa pingsan karena laki-laki kejam itu terus menarik paku itu dan menancapkannya kembali membuat rasa sakit yang ia rasakan tak pernah ada ujungnya.

"Tcih... kau tak berguna"

Laki-laki itu mulai terlihat muak, saat laki-laki itu berdiri dan mengambil sesuatu dari meja itu ia langsung menatap kearahnya dengan tatapan kejam.

"hick...hick... aku ... aku mau pulang... k...kumohon... b...biarkan aku pulang... otousan... okaa-san..."

Gadis itu menangis sambil memanggil kedua orang tuanya

"Mari kita selesaikan ini"

Gadis itu hanya bisa menatap dengan pasrah kearah pria itu yang membawa sebuah tang dan saat gadis itu hanya bisa menatap dengan tangisan yang masih membasahi tubuhnya, ia hanya bisa pasrah dan bersiap akan rasa sakit yang akan datang.

Pria itu tanpa takut ia meletakkan ujung tang itu di kukunya dan saat itu juga gadis itu hanya bisa memejamkan mata sambil berkata merintih memohon ampun berulang kali.

"Ghhhhhkk"

Rasa sakit mulai menyengat otaknya, ia tak mampu lagi untuk berteriak setelah semua suaranya dibuat kering oleh laki-laki kejam ini.

Ichika mulai menarik kuku gadis ini dengan sangat pelan namun sangat menyakitkan.

Hingga

(grab)

"Hentikan itu, Sersan Mayor"

Dua orang pria berhasil menahan Ichika, James yang melihat ke kondisi gadis malang itu hanya bisa bersimpatik padanya.

"Hick...hick...hueee...mmmhuaaa... a...p..pulang... a...aku mau p...pulang"

Jerit gadis itu dengan terisak-isak

"Sersan Mayor, aku yakin tugas yang aku berikan padamu adalah mengumpulkan informasi. Tapi apa yang kau lakukan?"

James kali ini melirik tajam kearah Ichika.

Saat dua agen melepaskan Ichika, Ichika langsung menatap kearah James. "Dengan penuh hormat pak. Saya hanya melakukan tugas saya sesuai arahan anda"

"Dengan menyiksa anak-anak hingga ke titik dimana kau bukan lagi manusia?"

"Pak, apakah anda masih menanggap kalau mereka hanyalah anak-anak semata dengan semua peralatan tempur yang bisa menandingi kekuatan militer dunia? Mereka tak lebih dari sekedar prajurit dan jika mereka (sambil menunjuk jarinya ke gadis malang yang masih menangis) sangat percaya diri kalau mereka lebih unggul dibandingkan personil militer terlatih hanya karena semua teknologi itu. Kurasa mereka bukan lagi anak-anak di mata hukum militer"

Kali ini James yang dibuat tak bisa berbicara setelah apa yang Ichika katakan.

"Pak, pastinya anda sudah tahu keahlian saya dan saya akan lakukan pekerjaan ku walaupun itu akan membunuhku"

"Sersan Mayor. Sudah cukup, kau boleh pergi. Interogasi kita hentikan untuk hari ini"

Ichika mendengar jawaban dari James hanya membalas dengan anggukan sebelum ia berjalan pergi keluar dari ruangan meninggalkan James dan dua agen yang masih terdiam menatap Ichika yang pergi.

"Kalian berdua"

""Yes sir""

James kemudian menatap kearah gadis muda itu yang masih terisak kesakitan dengan luka yang masih terbuka di kedua lututnya.

"Segera panggil medis kemari dan aku tidak mengijinkan kalian membiarkan dia mati"

"Affirm"

"Hick...hick...hick..."

James hanya bisa menatap kearah gadis remaja itu dengan tatapan kasihan. 'dia seumuran dengan putriku'

Tak lama tim medis pun datang dan mulai melakukan perawatan darurat setelah gadis muda itu terlihat mulai kehilangan banyak darah.

"Hei, apa kau mendengarku? Tetaplah sadar"

"Shit. Dia kehilangan banyak darah, denyut nadinya mulai melemah"

"Tetap bersamaku, ayolah!"

Tim medis berusaha keras merawat lukanya dan berusaha untuk menyelamatkan nyawa gadis malang ini.

'Ho shit, apa yang sebenarnya yang dialami gadis ini'

Petugas medis yang berhasil melepaskan gadis muda ini dari kursi itu mereka mulai membawanya ke ruangan gawat darurat secepat mungkin.

"Apa kau mendengar ku?! Tetap bertahanlah, kami akan menyelamatkan mu!"

"O... Okaa-san... O...Otou-san..."

Rintih gadis itu menahan rasa sakit. Petugas medis yang berhasil mencapai ruang ICU langsung berusaha mati-matian menyelamatkan nyawa gadis itu dengan menyuntikkan morfin dan mulai melakukan operasi dan pengobatan di sekitaran luka.

'Sangat kejam sekali tindakan tim intelijen. Apa mereka tidak punya rasa belas kasih pada perempuan?'

Pikir dokter saat melihat luka gadis ini. Luka bekas pukulan benda tumpul di kedua tangannya dan luka bekas benda tajam berkarat di lututnya membuat dokter langsung merinding membayangkan apa yang harus di alami gadis ini.

-0-

Saat suasana berubah malam, Ichika Orimura langsung berjalan menyusuri jalanan yang masih ramai di lalui beragam manusia.

Dia hanya mendesah saat melihat senja yang berganti malam.

'Apa yang sudah ku lakukan'

Pikir Ichika saat mengingat lagi apa yang telah ia lakukan tadi.

Saat ia menatap ke kedua tangannya, bayangan darah dan rasa frustrasi kembali menghantuinya berulang-ulang kali bahkan ia bisa gila di buat semua kenangan yang selalu menghantuinya.

12 Tahun menerima pekerjaan ini dan selama 8 tahun berturut-turut ia melakukan pekerjaan kotor demi melindungi apa yang ia yakini dan apa yang ia sayangi. Tapi... semakin ia mengalami ini semua, semakin ia menyadari betapa rusaknya dirinya dibuat sistem ini.

'Menggunakan anak-anak sebagai prajurit dan membuat mereka bangga akan ilusi fana semata'

'...'

Ia masih ingat dengan jelas saat dimana ia masih menjadi siswa akademi IS dimana ia dengan keyakinan akan melindungi semua yang ia sayangi dengan bertarung atas nama keadilan namun

'Apa arti keadilan sebenarnya?'

Langkah kakinya membawanya ke sebuah tempat dimana ia sangat ingin sekali berada.

Sebuah rumah

Rumah sederhana, tempat dimana ia tumbuh dan hidup bahagia bersama orang tercintanya.

Dari balik gorden jendela, ia bisa melihat sosok samar yang duduk di sofa menunggu kehadirannya.

'Maafkan aku...'

Ichika berbalik dan berjalan kearah lain dimana ia menuju ke tempat dimana ia akan menghilangkan semua hubungan yang ia miliki dengan sosok itu

Disaat yang sama, seorang wanita yang duduk di sofa menunggu dengan sabar sosok laki-laki yang ia sayangi pulang kerumah.

Dia masih duduk dan menunggu tak peduli berapa lama ia harus menunggu.

'...'

Saat ia menatap kearah jendela dimana ia melihat kilasan kenangan masa lalu, sebuah senyuman terbentuk di wajah manisnya yang sudah terlihat pudar di makan usia.

'Ichika... dimana kau'

Ucapnya di dalam pikirannya saat menunggu namun sosok yang ia tunggu masih tidak ada datang.

12 tahun menahan rasa rindu dan masih yakin sosok yang ia anggap sebagai keluarga satu-satunya itu akan pulang, ia hanya bisa menunggu dan terus menunggu tak peduli berapa lama ia menunggu.

(0)

Japan Ground Self Defense Force Prison

Saat Ichika sampai di tempat yang ia tuju, ia langsung berjalan masuk kedalam dimana beberapa penjaga mulai siaga saat ia sampai di gerbang pintu masuk.

"Maaf, waktu kunjungan sudah habis. Silahkan datang lagi besok"

Ucap penjaga saat melihat niat Ichika. Ichika yang dianggap oleh penjaga itu sebagai warga sipil biasa, mulai mengeluarkan kartu identitas miliknya.

"Sersan Mayor, Ichika Orimura. Baiklah kau boleh masuk"

Ucap penjaga saat kartu identitas miliknya selesai di scan oleh mesin pemindai.

Saat Ichika masuk kedalam penjara, ia mulai berjalan kearah aula dimana beberapa petugas masih terlihat berjaga dengan sigap. Senjata yang mereka pegang semuanya berisi peluru dan siap menembak ke siapapun yang berani berbuat macam-macam.

Ichika kemudian sampai di lorong dimana sebuah gerbang terbuat dari baja Cobham terlihat.

Ichika langsung meletakkan jarinya untuk di pindai mesin scanner dan terakhir retina matanya pun tak lepas di pindai oleh mesin scanner.

("Identity Confirmed. Former Lieutenant Ichika Orimura")

(suara decitan baja) pintu pun terbuka membiarkan Ichika masuk kedalam.

Saat ia masuk kedalam ia disambut tiga petugas bersenjata anti material assault rifle yang menjaga elevator ke lantai bawah tanah tempat para tahanan berada.

"Kami akan memeriksaku sebelum kau bisa mengakses elevator"

Ucap salah satu petugas bersenjata sambil membawa iPad yang berisi scanner tangan.

Proses pemindaian berlangsung dan saat selesai, Ichika langsung berjalan kearah elevator dimana ia mulai menuju lantai bawah tanah dimana tempat tahanan level tinggi berada.

Pintu elevator terbuka dan ruangan sel-sel tahanan dapat ia lihat. Ruangan bawah tanah ini memiliki pencahayaan yang sangat terang dan di lengkapi oleh beragam kamera pengawas di segala sudut.

Saat ia berjalan melewati sel tahanan, ia melihat salah satu tahanan yang cukup familiar di matanya.

Ichika berhenti di depan sel tahanan itu sambil melirik kearah tahanan yang ada di dalam.

Tahanan itu adalah wanita muda berusia antara 15/16 tahunan. Gadis muda itu adalah operator IS yang ia tangkap di misi terakhirnya.

"..."

Terlihat kurus, kurang tidur, wajah pucat dan tatapan kosong dapat terlihat jelas di badannya.

Saat gadis itu mulai mengangkat wajahnya mereka berdua saling menatap satu sama lain hingga beberapa detik kemudian gadis itu mulai melebarkan mata dan menjerit ketakutan.

"Kyaahhh... Pergi! Pergi! J...Jangan ... Jangan!"

Gadis muda itu mulai bergetar ketakutan, ia mulai menangis dan menjerit keras.

Tak butuh waktu lama beberapa petugas bersenjata dengan baju eksoskleton mendatanginya.

"Apa yang terjadi?"

Ichika hanya diam menatap kearah gadis itu.

Dua petugas yang masih menunggu jawaban Ichika, kemudian langsung mengerti apa yang terjadi setelah melihat tahanan yang ada di dalam sel.

"Oh.. Kau pasti Sersan Mayor Ichika Orimura. Heh... sepertinya dia masih ketakutan denganmu ya? The Child Killer of Japan"

Ichika mulai sedikit kesal saat ia kembali di panggil seperti itu.

"Aku mau melihat M. Bawa aku ke sel nya"

Mereka berdua kemudian membawa Ichika menjauh dari sel tahanan itu menuju sel tahanan yang lain.

"Hiiii!"

"Kyah!"

Jeritan dan jeritan terdengar di sepanjang koridor penjara dimana para tahanan banyak yang berteriak ketakutan saat Ichika melewati sel-sel itu.

"Hoho... Sangat jarang kita bisa mendengar sesuatu yang menyenangkan disini" Ucap salah satu operator eksoskleton.

Saat mereka sampai di pintu baja disana terdapat kontroller pemeriksaan terakhir dimana memerlukan dua petugas untuk mengkonfirmasi identitas mereka.

"Have fun"

Canda salah satu petugas saat Ichika memasuki ruangan tahanan.

Di dalam ruangan terdapat sel tahanan terbuat dari kaca anti material yang mampu menahan ledakan dan serangan apapun, disana seorang perempuan dewasa dengan tubuh mungil duduk diam dengan seluruh tubuh di ikat rantai bagaikan hewan.

"Wah-wah.. lihat siapa yang datang"

Ucap sosok wanita mungil itu saat melihat siapa yang datang mengunjungi nya.

"Ichika Orimura. Orimura palsu yang masih hidup"

Ichika hanya diam menatap kearah Madoka Orimura. "Kau masih sama seperti dulu huh? Seekor anjing peliharaan terbuang"

Mendengar hinaan Ichika, Madoka langsung menatapnya dengan tajam. "Sebaiknya kau jaga mulutmu selagi kau bisa"

"Dan?"

Madoka yang masih menatapnya dengan tatapan membunuh langsung meludah kearah Ichika. "Bajingan. Kau kira kau sudah hebat hanya karena kau bisa mengalahkan ku!"

"Kau tak lebih dari sekedar kotoran di keluarga Orimura!"

Bentak Madoka pada Ichika. Ichika berjalan mendekat kearah sel tahanan langsung memukul kaca itu dan melemparkan tatapan membunuh padanya

(bam!)

"Aku sedikitpun tak peduli dengan keluarga busuk itu. Aku lebih baik merobek-merobek setiap satu dari kalian dan membiarkan kalian jadi makanan hewan ternak"

"Kau adalah salah satu yang paling ingin aku hancurkan"

Aura membunuh yang kuat dari Ichika sukses membuat Madoka Orimura bergetar walau wajahnya masih tidak menunjukkan reaksi apapun selain tatapan tajam kearah Ichika, namun tubuhnya dapat dengan jelas mengatakan kalau dia saat ini sangat ketakutan

Ichika berbalik badan namun sebelum ia meninggalkan ruangan sel ia sempat mengalihkan pandangannya ke Madoka sekali lagi.

"Kalau aku jadi kau, aku lebih baik memikirkan bagaimana caranya untuk hidup di detik-detik terakhir daripada menggonggong bagai anjing kampungan"

Madoka hanya menyeringai kearah Ichika. "Kau pun sama"

Ichika mengabaikan Madoka dan mulai melangkah keluar dari ruangan sel. Seperginya Ichika, Madoka yang masih bergetar ketakutan hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Ichika merendahkan dirinya

'Kita lihat saja siapa yang akan tertawa nanti!'

Sementara itu, di lorong Ichika berjalan pelan kearah elevator namun pikirannya masih tertuju ke Madoka yang berada di sel tahanan.

'Tak akan ku biarkan siapapun berani mengancam keluarga ku'

Kenangan dimana dia menangkap Madoka masih segar di pikirannya seolah-olah itu masih terjadi kemarin.

Beberapa tahun lalu saat misi penangkapan Madoka, Ichika yang di lengkapi oleh baju eksoskleton produksi Lockheed Martin dan Aurora Black Shark Inc berhasil menyelesaikan misi tempurnya dengan rating sukses 100 persen.

Membunuh dan membunuh semua musuh, terdengar sangat sederhana di kertas namun kenyataannya ia harus melawan mentalnya yang berusaha menolak membunuh para remaja di bawah umur yang menjadi musuhnya.

'Sudah sekian lama aku melakukan pekerjaan ini tapi aku masih saja tak bisa membiasakan diriku di dunia kotor ini'

Apa yang Ichika lihat di kedua tangannya adalah tangan yang penuh dengan lumuran darah. Ekspresi meremehkan saat melawan Ichika namun harus berubah menjadi ekspresi horor yang penuh dengan ketakutan dapat dengan jelas terekam di otaknya.

Mereka memohon ampun dan menangis bahkan menjerit ketakutan adalah hal yang selalu ia hadapi setiap kali berurusan dengan misi tempur.

Tapi...

'Besok semua akan berakhir'

Itu benar

Madoka akan menemui ajalnya di kursi listrik dan ia tidak akan pernah lagi berurusan dengan masa lalunya yang menghantuinya setiap saat.

Tinggal permasalahan Tabane Shinonono.

(0)

"Hah..."

Shinku Sarashiki. Itulah namaku dan aku adalah siswi di akademi IS yang masih menjadi akademi paling bergengsi yang ada di seluruh dunia.

'Aku masih tidak mengerti'

Ucapku saat melihat bagaimana proses pengerjaan program yang akan aku pasang di IS milik ku.

Sebentar lagi pertandingan antar kelas akan berlangsung dan setiap murid di kelas di wajibkan berpasangan.

Permasalahannya, IS milikku masih memiliki masalah glitch di bagian software sehingga aku harus melakukan debug secepatnya.

Bug yang terdapat di IS milikku terjadi saat melakukan pelepasan pengaman di senjata dimana IS milikku tiba-tiba melepaskan pengaman Shield sehingga IS milikku langsung padam saat itu juga.

"Kenapa sangat sulit sekali memperbaiki ini?"

Aku hanya bisa mengeluh saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 20.46

Perasaan letih mulai terasa di tubuhku, aku mulai menghentikan proses debugging sambil membereskan peralatan yang masih berantakan dimana-mana.

'Jalan-jalan sebentar mungkin bisa menenangkan pikiranku'

Aku mulai berjalan keluar dari ruangan maintenance IS menuju gerbang Akademi IS. Normalnya di jam segini para siswi tidak di perbolehkan untuk keluar dari akademi, namun karena sebentar lagi kompetisi antar kelas, peraturan itu sedikit di longgarkan dengan tujuan agar para siswi tidak mengalami tekanan berlebihan saat menghadapi kompetisi nanti.

Saat aku mulai mengeluarkan smartphone ku, aku melihat headline berita hari ini dimana lagi-lagi markas Phantom Task berhasil di hancurkan oleh pasukan koalisi PBB.

'Geez... Kapan sih perang aneh ini selesai'

Pikirku saat mulai menaiki kereta gantung yang menghubungkan langsung antara Akademi IS dengan Kota Tokyo.

Di dalam kereta aku hanya menatap kearah jendela dimana pikiranku melayang entah kemana-mana.

'Kanzaki Onee-chan...'

Sarashiki Kanzaki, kakak perempuan ku yang sudah hampir 30 tahun namun masih belum menikah, terkadang aku membayangkan jika aku berakhir seperti dia, apa yang akan terjadi.

Memang benar selama ini aku belum pernah merasakan jatuh cinta mengingat sekolah yang ku hadiri selama ini, semuanya khusus untuk perempuan.

Tapi sesekali aku ingin sekali merasakan bagaimana perasaan saat sedang jatuh cinta.

"Hah..."

Aku mendesah berat ketika turun dari kereta, saat ini aku tidak tahu mau kemana tapi mungkin kalau jalan-jalan sebentar bisa sedikit menghilangkan stress ku.

Saat aku berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai, aku tanpa sadar sampai di game center dimana tempatnya para riajuu berkumpul dengan pasangan mereka.

'Tcih'

Aku sedikit kesal saat melihat pasangan-pasangan itu bermesraan disini

Tak tahan melihat banyaknya orang disini aku memutuskan untuk keluar dari game center dan kembali berjalan menuju tempat lain yang jauh lebih tenang.

Saat aku sampai di sebuah kuil siluet manusia dapat terlihat berdiri di depan kuil dalam diam.

'Dia'

saat aku mendekat aku mulai mengenali siapa yang sedang berdoa di depan kuil itu.

'Ichika-san?'

Melihatnya diam berdoa membuatku sedikit penasaran, perlahan aku berjalan kearahnya dan saat aku sampai di sampingnya dia masih diam berdoa.

(Kricing)

Suara bel kuil aku bunyikan dan aku mulai berdoa dalam diam

'Kami-sama... Kumohon, semoga aku bisa menang di pertandingan nanti'

Aku selesai berdoa dan saat aku membuka mata, Ichika-san melirik kearahku.

"Apa peraturan akademi IS membenarkan siswi berkeliaran jam segini?"

Tanya Ichika-san dengan senyuman, entah kenapa melihatnya seperti itu membuat wajahku memanas.

"E...er... A...aku s..sudah ijin"

Jawabku terbata-bata berusaha menghindari kontak mata dengan Ichika-san

"... Kalau begitu, sebaiknya jangan terlalu malam"

Ucap Ichika-san sebelum ia berbalik kearah lain, "Uhmmm... A...ano"

Lagi-lagi aku mulai gagap

"I... Ichika-san!"

"hm?"

Ichika-san mulai berbalik menatapku. ah... dia benar-benar menatapku, apa aku kelihatan aneh?

"A...apa kita bisa bertemu lagi?"

'Ahhhh... apa sih yang aku katakan! bukannya itu malah membuatku terdengar seperti orang aneh!'

Teriakku dalam batinku, namun Ichika-san tak menjawabku hingga ...

(Pat)

"Fuee?!"

Ichika-san tersenyum, wajahnya sangat dekat namun apa yang membuatku kaget adalah tangannya yang dengan pelan mengelus kepalaku

"Kita pasti bisa bertemu lagi nanti"

"Fueee..."

(pat pat) Ichika-san terus mengelus kepalaku dengan lembut, saat aku melihat wajahnya aku merasa kalau Ichika-san adalah sosok Onii-chan yang sangat ku dambakan.

"Jadilah anak baik dan jangan menyerah, ku yakin kau pasti bisa melewati masalahmu"

(pat-pat)

Ichika-san mengelus dengan lembut, membuat pikiranku terbang entah kemana. Wajahku terasa sangat panas saat melihat wajah dia yang sangat keren itu.

"Baiklah, kalau begitu. Selamat malam"

Ichika-san kali ini mulai melepaskan tangannya dari kepalaku, untuk sesaat aku merasa kecewa.

"U...ummmm... ano!"

"Apa bisa aku memanggilmu, Ichika Onii-chan!"

'Fuaaa! Apa yang sudah ku lakukan!'

"Ehhh... m... maksudku... a...aku..."

Ichika-san hanya tersenyum sekali lagi.

"Tentu saja, malah aku sangat senang kalau punya imouto yang sangat imut sepertimu"

'Kyaaahhhh'

Aku hanya membeku dengan wajah seperti terbakar menahan rasa malu ku

Ichika-san pergi meninggalkan ku dan melihatnya pergi entah kenapa rasa senang justru menghujani diriku

Saat hari berganti, Ichika berpikir kalau hari ini tidak akan kunjung tiba namun nyatanya hari itu datang juga

Hari dimana hukuman mati Madoka Orimura di laksanakan setelah terjadi penundaan.

Ichika yang duduk dalam diam di kursi aula gedung, hanya bisa menatap kosong ke jam tangannya.

'...'

"Sersan Mayor Ichika Orimura"

Seseorang datang dan saat ia melihat siapa itu, seorang pria dengan setelah perwira menghadap dengan hormat padanya.

"Kami memiliki kabar buruk"

(0)

4 April 2047, Lokasi : Persian Gulf USS Nimitz Super Carrier, Debrief United States Marine Corps Force Reconnaissance/II Marine Expeditionary Force/24th Marine Expeditionary Unit

Unit Profile

Sersan Mayor Ichika Orimura (31 years old) Second in Command

Weapon & Equipment : Level 3 BDU Black Camo, FN Mk. 17 SCAR Mod 1, EXO Type : Combat & High Mobility Infantryman

Lieutenant Colonel Frederick (47 years old) Commander

Weapon & Equipment : Level 3 BDU Black Camo, M16A4 Mod 0

EXO Type : None

Lieutenant Martin's (35 Years old) Marksman

Weapon & Equipment : Level 1 BDU with none camo, M110 Semi-Automatic Sniper System, Remington 870, M27 LAW Shoulder Fired Missile

Mission Objective : Kill on Sight Code Name Chloe

End of Mission Debriefing

"Hey, apa kau sudah mengatur sistem navigasi mu?"

Ichika mulai membuka matanya dan melihat sekeliling dimana ia melakukan finalisasi pengaturan di baju eksoskleton miliknya.

"Bagus, sekarang bersiaplah. Kita akan berangkat"

Ucap Letkol Frederick.

Ichika mulai menurunkan kaca visor helm, seketika sistem AI mulai mengenalinya.

Baju eksoskleton yang ia kenakan kali ini sangat berbeda dengan eksoskleton yang biasa ia gunakan saat menjalankan misi sebelumnya, eksoskleton ini dibuat khusus oleh New Engine Corporation.

Eksoskleton yang terdiri dari kerangka besi dengan mobilitas tinggi yang dilengkapi RCS Jet Thruster dan helm visor full scan 360 membuat Eksoskleton ini sangat mudah di gunakan dibandingkan eksoskleton full body yang dimiliki oleh militer.

Mereka bertiga kemudian berjalan keluar kearah dek penerbangan di kapal induk dimana sebuah pesawat VTOL menunggu mereka.

'Another busy day huh?'

Ichika mulai melihat kearah senjata yang ia pegang, senjata ini tidak terlihat spesial namun apa yang membuat ia sedikit tertarik dengan teknologi dari New Engine Corporation adalah teknologi 3D Visor yang ada di kaca helm miliknya, Visor dapat mengenali senjatanya dan memberikan informasi soal status peluru, catrige yang digunakan, jangkauan efektivitas, serta batas tembakan yang dapat di tolerir oleh senjata sebelum rusak.

'Walau nampak sepele, tapi kemampuan benda ini cukup menarik'

(srriiing)

Dari tangan Ichika keluar sebuah pedang yang tersambung langsung ke Eksoskleton di aliri oleh energi listrik bertegangan tinggi.

'...'

Indikator menunjukkan jumlah energi yang tersedia di baju eksoskleton serta energi cadangan yang dapat di gunakan saat keadaan darurat.

"Hari ini mungkin kita akan sedikit sibuk, jadi persiapkan diri kalian"

Ucap Letkol Frederick saat mulai membuka pintu yang langsung membawa mereka ke dek penerbangan.

Di dek penerbangan, beberapa kru dengan kaos dan rompi beragam warna dapat terlihat.

"Ok, kalian siap?"

Tanya Letkol Frederick sekali lagi pada mereka berdua. Ichika hanya mengangguk dalam diam diikuti Letnan Martin juga hanya menjawab dengan mengangguk.

Mereka kemudian berjalan masuk kedalam VTOL V-22 Osprey dimana pilot telah menunggu.

("This is control, You're authorised to take off")

Saat pesawat mulai lepas landas dari kapal induk, Ichika yang duduk dalam diam mulai melamun dan membiarkan pikirannya terbang entah kemana-mana.

'Dimana aku membuat kesalahan'

'Kalau saja...'

Dengan mata masih terpejam, Ichika yang masih melamun mulai menyesali beberapa keputusan yang pernah ia buat dulu.

'Jika saja dulu aku tak pernah menyentuh benda itu, aku mungkin bisa menjalani hidupku dengan normal'

Sesal Ichika saat memikirkan bagaimana nasibnya saat ini.

Ia hidup di jalanan yang penuh dengan kotoran yang tak pernah ada habisnya dan itu semua karena benda yang bernama IS.

'Kalau saja...'

Kali ini Ichika mulai mendesah saat membayangkan apa yang terjadi jika ia tidak pernah terlibat dengan IS dan akademi IS.

'Kalau saja aku tak pernah terlibat dengan IS, apa aku tetap sama seperti dulu? Apa yang akan terjadi dengan Chifuyu? Apa yang akan terjadi dengan Houki? dan semuanya?'

'Tapi'

Kali ini Ichika membuka matanya dengan tajam ia mengarahkan pandangan ke bayangan dimana dirinya yang naif.

'Tapi apa?'

'Apa yang berubah? Apa yang dunia pedulikan soal aku?'

'Tidak ada'

'Tak akan ada yang berubah'

Ichika mulai menyalakan sistem operasi AI yang ada di Eksoskleton miliknya.

Ia kemudian memeriksa sekali lagi helm pelindung kepala, kaca visor, sinyal radio, sensor gerak eksoskleton, sensor inframerah dan tak lupa ia memakai masker full face yang menutupi wajahnya.

Letkol Frederick kemudian berdiri dimana ia juga terlihat memakai masker full face dan kaca mata hitam yang menutupi kedua matanya.

"Tiga puluh detik lagi kita sampai di LZ"

Letnan Martin juga mulai memeriksa senjatanya tak lupa ia memasang selongsong peluru Armor Piercing yang dapat menembus plat baja dengan mudah.

Ichika yang masih menatap kearah senjatanya, mulai menarik nafas pelan berusaha menenangkan dirinya yang sedikit gemetaran.

'Kau pasti bisa melalui ini'

Ucapnya saat melihat kearah senjata yang ada di tangannya.

Namun pikirannya saat ini tertuju ke sosok yang sangat ia rindukan, sesosok keluarga yang sedang menunggunya di rumah. Sosok yang sangat ingin ia berada di sisinya dan sosok yang menjadi alasannya untuk hidup.

'Aku akan pulang'

"Allright! Let's go!"

Saat pintu kargo bay terbuka, mereka bertiga langsung berjalan keluar sekaligus memeriksa area LZ.

"Area clear"

Ucap Letkol Frederick saat memeriksa perimiter.

("Ok boys, kami pergi darisini")

Pintu kargo bay tertutup dan pesawat V-22 Osprey mulai terbang vertikal sebelum akhirnya terbang menjauh dari LZ.

"Ichika, periksa area" Perintah LetKol Frederick

Ichika mulai menyalakan sistem scanning area dimana ia bisa melakukan pemindaian dengan radius 13 kilometer.

Saat mereka berjalan menyusuri gurun pasir yang hampa, Letkol Frederick memerintahkan Letnan Martin untuk bergerak menjauh dari mereka berdua.

Letnan Martin mulai mencari lokasi sempurna untuk menembak dari jarak jauh.

Mereka berdua mulai berjalan dengan pelan saat lokasi Target mereka mulai terlihat.

"Ichika"

Melihat tatapan itu, Ichika yang mulai memahami maksudnya langsung menyalakan sistem penargetan otomatis.

"4 penjaga di depan, 3 di tower dan 7 berada di luar pagar"

Ucap Ichika saat melihat melalui scanner di kaca visornya.

Mendengar laporan Ichika, Frederick langsung menyalakan radio dan menghubungkan langsung ke Martin yang berjarak 2 kilometer dari posisi mereka.

"Martin, apa kau mengkonfirmasi visual?"

("Affirm")

"Bagus, tetap awasi. Laporkan jika kau menemukan keberadaan target"

("Roger")

"Ichika, hubungi USS Nimitz. Kita butuh CAS"

"Yes sir"

"Command, disini Casual 3. Apa kau mendengar kami?"

("...")

("Disini Command. We got you loud and clear")

"Meminta bantuan CAS (close air support) segera. Kami mengkonfirmasi adanya pangkalan kobra disini"

("Copy that. Skuadron Bomber F/A 18 akan tiba di lokasi kalian. ETA 7 Menit")

"Dimengerti"

"Letkol, Command akan mengirimkan CAS. ETA 7 Menit"

Frederick kemudian menatap ke jam tangannya dan mulai mencocokkan waktu dengan kemungkinan terburuk dimana mereka membutuhkan CAS secepatnya.

"Martin, katakan padaku kalau kau mendapatkan sesuatu?"

("statis...")

("... Pak, aku mengkonfirmasi adanya target Chole disana. Dia di jaga ketat di gedung barat daya")

"Ok, tetap berjaga"

Frederick kemudian menatap kearah lokasi tempat target mereka sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke Ichika.

"Apa kau bisa melakukannya?"

Ichika tidak langsung menjawab namun ia mulai melakukan sesuatu dengan kontrol panel yang ada di lengan kirinya dimana semua pengaturan baju eksoskleton berada.

("Cloaking system activated")

Suara sistem AI saat Ichika mulai menyalakan mode penyamaran.

seketika tubuh Ichika mulai transparan saat cloak baju eksoskleton telah aktif.

"Ok, Aku pergi"

Ucap Ichika sebelum mulai berjalan kearah target.

Saat ia berjalan melewati bukit pasir, Ichika sampai di kota tua terbengkalai yang di tutupi tumpukan pasir.

Dengan penuh kewaspadaan, Ichika berjalan menyelinap di antara gang-gang kecil dimana ia beberapa kali melewati penjaga yang sedang waspada.

'Nampaknya kedatangan kami sudah di prediksi oleh mereka'

Pikir Ichika saat melihat betapa banyaknya penjaga di kota tua ini.

("Waspada, aku melihat ada dua target yang berjalan kearahmu")

Peringat Martin saat ia melihat dua operator IS yang berjalan mengarah ke arahnya.

Ichika dengan mode cloak masih aktif langsung bersembunyi diantara gang kecil menunggu mereka melewatinya.

"Apa kau dengar kabar soal prajurit pembunuh dari pasukan PBB?"

Salah satu operator IS itu mulai berbicara dan kebetulan Ichika mendengarnya.

"Apa maksudmu soal si Iblis kejam dari neraka itu?"

"Uhu" Ia membalas dengan mengangguk

Sial untuk Ichika, mereka berdua justru berhenti di depan gang dimana ia sedang bersembunyi.

"Katanya mereka akan mengirimkan iblis itu kesini"

"... A...Apa kita akan di bunuhnya?"

Tanya salah satu operator IS itu dengan nada bergetar.

"Soal itu..."

"Terakhir kali sosok kejam itu terlibat dengan kita, itu saat mereka berusaha membunuh Tabane-sama. Dan dari cerita dan rekaman yang ku lihat... Y...Ya dia sepertinya tak kenal belas kasih pada siapapun"

Mereka berdua mulai terdiam membayangkan bagaimana rekan-rekan mereka yang di bunuh dengan kejam oleh sosok itu.

Sementara itu, Ichika yang mendengar celotehan mereka mulai meringis akan bagaimana dirinya di gambarkan oleh musuhnya.

"Iblis dari neraka"

Ucap salah satunya saat mereka membayangkan sosok itu.

("Sersan, sebaiknya kau singkirkan mereka sebelum mereka menyadari keberadaan mu")

Ucap Martin lewat radio saat melihat bagaimana Ichika masih diam dibalik bayangan gang.

"Copy"

Ichika mulai berjalan dengan pelan menyelinap kearah mereka berdua yang masih bercerita.

"Ku...Kuharap dia tak datang kemari"

Ucap salah satu operator IS.

"Apa kau takut?"

Operator IS itu mengangguk dengan bergetar saat membayangkan sosok yang sangat tidak mungkin bisa mereka lawan.

Saat ia ingin berbicara tiba-tiba rekannya mulai melihatnya dengan tatapan ngeri.

Namun ia sebelum bisa menyadari apa yang terjadi sesuatu yang membuatnya merinding ketakutan datang dari belakangnya.

"One"

Ucap sebuah suara mekanikal, hal berikutnya yang ia tahu ia kehilangan kesadaran setelah perasaan yang menyakitkan datang dari lehernya.

"Hii"

Operator IS itu berusaha berteriak namun dalam hitungan detik ia terkena serangan langsung dari sosok itu.

"Two"

(slash)

Dua operator IS terbunuh seketika setelah ia menusuk leher dan menebas langsung menembus IS milik mereka.

'Sebaiknya aku singkirkan mereka'

Pikir Ichika saat melihat dua tubuh yang baru saja ia bunuh.

Sementara itu di posisi Frederick, ia mulai menyelinap masuk melalui jalur timur dimana lebih sedikit penjagaan disana.

"Ada yang aneh"

Frederick melihat dimana mereka nampaknya sengaja melengahkan penjagaan seolah-olah sedang menunggu sesuatu.

'Disana ?'

Frederick dengan senjata masih siap menembak ia mulai berjalan masuk kedalam sebuah gedung terbengkalai. Saat ia mulai masuk kedalam, ia langsung bersembunyi saat mendengar langkah kaki.

'...'

Suara langkah kaki itu mulai terdengar jelas tak lama ia dapat melihat dua sosok berjalan melewati persembunyiannya.

"Apa status dari sisa unit yang ada?"

Tanya salah satu wanita, Frederick yang tak mengetahui siapa itu hanya bisa berusaha untuk tidak membuat persembunyiannya terbongkar namun saat ia mulai mengintip ia dapat melihat dengan jelas siapa itu

'Ketemu'

Dia adalah wanita dengan tinggi 157 cm dengan rambut berwarna perak.

'Chloe'

"Saat ini unit kita di Siberia masih menunggu kedatangan Tabane-sama. Sejauh ini para serangga masih belum melakukan apapun"

"Bagus, bagaimana dengan Orimura Ichika?"

Kali ini pertanyaan Chloe menarik perhatian Frederick yang masih mendengarkan di balik reruntuhan bangunan.

"Menurut perkiraan, kita setidaknya bisa menguasai dia dalam waktu dekat ini. Tinggal menyiapkan beberapa bahan yang kurang"

"Fufu..."

Frederick yang melihat mereka semakin menjauh darinya hanya bisa terdiam sejenak memikirkan apa yang sebenarnya mereka rencanakan.

'Sebaiknya aku ikuti mereka'

Frederick mulai bergerak mengikuti kearah mereka pergi, berjalan dengan perlahan berusaha untuk tidak diketahui oleh mereka berdua Frederick mulai berhenti saat melihat keduanya memasuki sebuah ruangan.

"Martin, katakan kalau kau melihat kemana mereka pergi"

("...")

"Martin?"

"Martin, comms check"

"Martin?"

Suara statis yang ia dengar berulang-ulang, melihat keanehan komunikasi ini Frederick mulai waspada dan mulai perlahan berjalan kearah lain.

Senjata masih dia arahkan ke depan dengan kewaspadaan ia tingkatkan ia mulai menyusuri gedung ini

"Tak ku sangka kalian bisa menyusup kesini"

"!"

Frederick yang mendengar suara menggema dengan cepat ia membidik senjatanya ke segala arah

'Shit'

("Menyerahlah, kau tak bisa kemana-mana)

Ucap suara menggema itu

(Bam)

Seketika lantai langsung bergetar dan dalam waktu singkat beberapa sosok dengan baju eksoskleton IS mulai terlihat.

"Shit!"

Frederick langsung berlari saat melihat 7 IS mengepungnya, dengan sigap ia menembak kearah IS itu walau ia tahu peluru 556 miliknya tak mungkin mampu menembus perisai mutlak dari IS.

("Kalian sangat menyebalkan")

Ucap suara menggema itu lagi, Frederick yang berlari di tengah hujan peluru berusaha untuk mencari tempat berlindung. "ghk!" sebuah ledakan nyaris mengenainya, Frederick justru semakin berlari secepatnya dari mereka yang mengejarnya

"Command, disini Juliet 68 posisiku telah terbongkar! Meminta CAS secepatnya!"

"Damnit!"

Frederick berhenti dari berlarinya dan membalas tembakan para operator IS itu yang masih tak lelah mengejarnya.

("Disini Command, Skuadron F/A 18 Bomber akan tiba di wilayah udara dalam 30 detik")

"COPY THAT"

Tembakan terus ia arahkan dan sesekali Frederick berlari kearah lain saat para operator IS itu berhenti menembakinya sejenak.

"Hook Shiiit!"

Frederick yang melihat jalan buntu di depannya mulai berteriak ketika ia harus melompat kearah jendela dimana ledakan cukup besar menghempaskan tubuhnya.

Bagaikan di tabrak mobil, Frederick berusaha untuk bangkit secepatnya setelah tembok bangunan itu hancur dibuat operator IS.

'Keras kepala sekali'

Umpatnya saat melihat mereka berusaha menghabisinya. (truuuurtu)

Suara tembakan IS menggema dan posisi Frederick semakin tidak menguntungkan setelah bantuan dari operator IS itu mulai berdatangan.

"Command! Dimana CAS! Posisiku telah terpojok! Meminta dukungan udara segera, Over!"

"Shit"

Frederick langsung membalas tembakan kearah mereka yang masih keras kepala.

Tembakan yang ia arahkan bagaikan peluru BB yang langsung memantul saat mengenai perisai mutlak IS itu.

(Shuuush)

Suara roket terdengar dan saat itu juga Frederick langsung berlari ketika sebuah roket melesat kearahnya.

(Boom)

Ledakan besar menghancurkan tempat dia berlindung tadi, namun hempasan ledakan itu membuatnya terlempar beberapa meter dan menghantam tembok.

"Khhk!"

(0)

(booom)

Ichika langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara gemuruh, kepulan asap terlihat membumbung tinggi dan dari posisi asap itu, tak salah lagi kalau itu datang dari posisi Letnan Kolonel Frederick.

(Alarm)

Suara sirene keras terdengar dan dalam sekejap semua operator IS berkeliaran kearah asap itu

'Ini gawat'

Ichika yang masih dalam mode cloaking system, mulai berjalan dari gedung ke gedung berusaha menghindari kontak dari para penjaga yang menaikkan status waspada tinggi.

("Disini Romeo 44, kami memasuki wilayah udara. Kami siap memberikan CAS sebanyak 3 kali pass")

Ichika langsung menatap kearah langit dengan bantuan Visor ia bisa melihat setidaknya ada 2 skuadron pesawat tempur F/A 18 terbang di ketinggian 47 ribu kaki di udara.

Beberapa operator IS yang menyadari keberadaan pesawat tempur mulai menyalakan sistem pertahanan udara dan dalam waktu singkat mereka mulai menembaki ke posisi pesawat tempur.

"Martin, Frederick. Comm check"

...

Suara statis yang ia dengar, Ichika dengan cepat mulai bergerak kearah posisi Frederick. Tak lama ia berjalan ia melihat beberapa operator IS mulai bergerak secara bersamaan.

'... dang it!'

Ichika melalui visor helm dengan zoom 80x dapat melihat siapa yang operator IS itu bawa di tangannya, dia adalah sosok pria 46/47 tahun dengan baju BDU yang sobek akibat ledakan

'Letnan Martin?'

Ichika melihat Martin yang terikat di kursi kayu dan tak lama Frederick juga di lempar ke samping Martin.

Keduanya tak sadarkan diri dan sepertinya dugaan Ichika mengenai kemungkinan kalau kedatangan mereka telah di ketahui ternyata benar.

Ichika mulai bergerak kearah reruntuhan dimana ia mulai mengatur baju eksoskleton ini ke mode tempur penuh.

Disaat yang sama ia melihat sesosok manusia mulai berjalan kearah Martin dan Frederick yang terikat.

"Aku tahu kau ada disini. Keluarlah kalau kau tidak ingin kami melukai mereka!"

Ucap operator IS itu dengan pengeras suara.

Di langit, Ichika dapat melihat pesawat tempur mulai keluar dari zona tempur setelah operator IS berusaha menembak jatuh mereka. Beruntung, IS tidak mampu terbang lebih tinggi dari 35 ribu kaki karena permasalahan oksigen dan temperatur yang cenderung membuat IS mengalami instabilitas

"Akan ku tunggu 5 detik, sebaiknya kau keluar atau aku terpaksa menggunakan kekerasan!"

Bentak wanita itu dengan nada mengancam, wanita itu kemudian mengambil sebilah pedang katana dan ia arahkan ke Martin.

"Lima!"

Ichika melihat itu hanya bisa mengumpat setelah selesai melakukan pengaturan final di baju eksoskleton. 'Walau dengan kemampuan penuh, tetap saja sangat sulit untuk mengalahkan mereka semua'

Pikir Ichika saat melihat total operator IS yang ada di tempat ini semuanya berjumlah 9 orang dan mereka menahan dua rekannya sebagai sandera.

'Haruskah' Ichika hanya diam setelah melihat opsi visor helmnya.

Dengan menembakkan rudal EXM 47 EMP Cruise Missile ke lokasi ini melalui USS John Terry setidaknya bisa melumpuhkan mereka semua namun mengingat jarak antara tempat ini dengan kapal Aegis, setidaknya membutuhkan waktu 4 menit dan jika ia memilih menggunakan CAS bomber yang sekarang masih ada di angkasa maka...

'Mau pilihan apapun, dua-duanya berujung jalan buntu'

Martin tidak bisa di pungkiri akan mati di tagan mereka.

"Tiga!"

"Romeo 44, Disini Code name I, Meminta Bomb Run lokasi Y axis 6454.77 X axis 4436.44" Ucap Ichika sambil menatap kearah wanita itu yang siap melayangkan pedangnya.

"Dua!"

Ichika hanya bisa diam menyaksikan di balik bayangan reruntuhan saat wanita itu mulai mendekatkan katana nya ke leher Martin.

"Satu!"

(slassh)

Tanpa berkedip, Ichika hanya menyaksikan dalam diam rekannya terbunuh di depannya.

'...'

Ichika masih tenang namun pikirannya berusaha mengatakannya kalau ia sangat ingin sekali menghabisi mereka semua. Sekali lagi ia mengecek senjatanya dan ia mulai berdiri dan berjalan kearah mereka yang berkumpul disana.

8 Operator IS total keseluruhan dengan 27 kombatan bersenjata M4A4 dan beberapa senjata modifikasi ilegal yang tak terdaftar secara resmi

("Cloaking mode deactivated")

Sistem AI mulai menonaktifkan mode penyamaran dan seketika semua orang langsung mengarahkan pandangannya ke sosok yang tiba-tiba muncul.

"Siapa kau!"

Bentak wanita yang tadi menghabisi nyawa Martin, Ichika dengan mode tempur penuh hanya diam berdiri disana sambil mengaktifkan mode membunuh di dalam pikirannya.

("All of you dead")

Balas Ichika

"Bunuh dia!"

Perintah wanita itu namun sebelum mereka semua bisa bereaksi 2 skuadron pesawat tempur mulai terlihat di angkasa dan menjatuhkan beragam bom kearah mereka.

"Hancurkan mereka!"

Perintah wanita itu pada operator IS sambil mengarahkan jarinya ke pesawat tempur. Dua operator IS langsung melesat ke angkasa mengejar skuadron-skuadron pesawat tempur

Dalam waktu singkat mereka semua langsung menembak kearah Ichika, Ichika yang melihat mereka beraksi langsung membalas dengan sangat cepat.

(trututu)

Ichika membalas tembakan sambil berlari dan berlindung diantara gedung.

"Jangan biarkan dia lari!"

(booom)

Ledakan berikutnya menghantam beberapa kombatan tanpa IS, spontan mereka di lumat ledakan besar dan api yang membara.

"Gyaaah!"

(tum)

Ichika langsung menembak kearah kombatan yang terbakar akibat ledakan bom pesawat tempur.

Ichika melihat mereka yang terbunuh dengan cepat akibat Bomb dari pesawat tempur hanya bisa menghela nafas lega karena ia tidak perlu repot-repot lagi untuk mengurus mereka sekaligus.

Ichika langsung keluar dari tempat berlindung dan mulai mengaktifkan full body armor yang terpasang di Eksoskleton miliknya.

("Sentry mode activated")

Saat itu juga baju eksoskleton miliknya berubah menjadi mesin robot pembunuh yang memiliki aura yang mencekam.

"Semuanya! Bunuh dia! Abaikan pesawat itu" Bentak wanita itu saat melihat sosok yang familiar di ingatannya sekarang berdiri di depannya.

Di tengah kepanikan, para operator IS mulai mengarahkan tembakan ke Ichika namun mereka justru terkejut ketika Ichika mampu menghindari setiap tembakan dan membalas tembakan ke para kombatan yang tanpa pelindung IS.

"Hyah!"

Jerit kecil dari kombatan yang terkena tembakan Ichika namun dalam waktu singkat ia terbunuh setelah peluru ketiga mengenai langsung kepalanya.

"D...dia monster!" Kali ini salah satu operator IS mulai panik ketika melihat betapa mudahnya rekan-rekannya di habisi satu persatu.

(Srriiing)

Suara decitan keras menggema dan saat operator IS itu melihat kearah lengan Ichika, ia langsung tahu apa yang Ichika rencanakan.

"Semuanya! Siapkan mode tempur jarak dekat!"

Ichika hanya melihat kearah mereka dengan tatapan dingin akan naifnya para bocah-bocah ini.

Jet thruster di kaki Ichika langsung menyala dan ia melesat dalam kecepatan tinggi kearah mereka.

"Kyah!"

Teriak salah satu kombatan saat Ichika menedangnya.

"Jangan abaikan aku!"

Kali ini operator IS itu berusaha menyerang Ichika, dengan cepat Ichika menghindari serangan frontal itu dan membalasnya dengan pukulan keras yang di tenagai oleh energi dari eksoskleton 80 persen.

Pertarungan jarak dekat itu berlangsung singkat setelah Ichika berhasil mengalahkan operator IS, di saat yang sama skuadron bomber F-18 mulai menjatuhkan bom terakhir diikuti tembakan misil udara-ke-darat yang spontan menghancurkan beberapa kamp Phantom Task.

Di tengah ladang api yang membara, Ichika berjalan di antara banyaknya mayat yang tergeletak di tanah.

"Hah...hah..."

Ichika yang mulai kehabisan nafas, hanya bisa terduduk dalam diam menyaksikan pemandangan ini.

'sungguh, lelucon yang tidak lucu'

Ichika kembali berdiri dan berjalan kearah Frederick yang masih terbaring tak sadarkan diri.

"Command, meminta jemputan medis, LZ Bravo"

("Affirmative, confirm casualties")

"Satu KIA, dan satu WIA"

("Copy that")

Ichika kemudian mengangkat Frederick dan tubuh Martin yang telah dingin ke lokasi penjemputan.

Berkat eksoskleton, ia tidak mengalami kesulitan dalam mengangkat keduanya, sepuluh menit ia berjalan ia akhirnya sampai di lokasi LZ Bravo dimana di jadwalkan tim penjemput akan tiba disini.

Namun

'Misi ini belum selesai'

Ichika setelah selesai memeriksa sekali lagi senjatanya, ia mulai berjalan kembali ke tempat itu dimana ia masih memburu targetnya.

Bagaikan predator yang sedang memburu mangsanya, Ichika berjalan dengan tenang ke reruntuhan kota yang di lahap api, eksoskleton hitam yang berlumuran darah membuatnya bagaikan robot pembunuh yang dikirim untuk menghabisi siapapun yang ada di hadapannya.

"..."

Ichika melihat-lihat sekaligus memeriksa setiap sudut memastikan tidak ada serangan dadakan yang akan menyerangnya.

"Hufh...hufh..."

Suara seseorang yang sekarat, bukan hanya satu suara yang ia dengar setidaknya dia dapat melihat ada 7 orang terluka parah akibat ledakan bom dan rudal AGM di tambah 3 lagi orang yang terluka setelah bertarung dengan Ichika.

"Tcih..."

Ichika berjalan berusaha mengabaikan nafsu ingin menghabisi mereka, saat ia sampai di sebuah kamp yang masih berdiri tegak seolah-olah tak tersentuh oleh ledakan.

"Magnetic Barrier... cukup cerdik"

Ichika mulai mengeluarkan pedang yang tersimpan di pergelangan tangan eksoskleton miliknya. Saat pedang telah keluar ia langsung menyambungkan energi penuh ke pedang, dan dalam satu kali tebasan barier itu hancur bagaikan kaca pecah.

Ichika mulai berjalan masuk ke dalam kamp dan hal pertama yang menyambutnya saat ia masuk adalah sebuah serangan dadakan.

(Grab!)

Ichika dengan mudah menangkap lengan seseorang yang akan menyerangnya dengan pedang.

"kyah"

Jerit kecil terdengar dan Ichika mulai mengangkat lengan itu keatas membuat tubuh mungil itu terangkat.

Sosok wanita mungil dengan rambut silver cukup familiar dengan kedua bola mata berwarna krim coklat yang sangat menawan.

"Kyaahhh"

Jerit wanita kecil itu saat lengannya di remukkan Ichika, ia dapat mendengar beberapa retakan tulang yang akan hancur.

"Katakan padaku, dimana Madoka Orimura"

Tegas Ichika pada wanita ini.

Wanita itu membalas Ichika dengan lirikan tajam walau air matanya mengalir deras akibat menahan rasa sakit di lengannya.

"Mati saja kau, monster!"

Wanita itu meludah tepat kearah wajah Ichika yang tertutup visor helm.

"oh? Tak mau bicara"

Kali ini Ichika semakin menambah kekuatan cengkraman di lengan wanita itu.

(crack)

Suara tulang yang remuk terdengar jelas dan seketika wanita itu menjerit keras.

Lengannya yang remuk membuat rasa sakit yang di alaminya cukup membuat dia hampir pingsan.

Namun Ichika dengan cepat mencekik lehernya membuat wanita itu langsung kesulitan bernafas.

"Bicara"

"Khhhhkkkkkkk"

Wanita itu berusaha bernafas namun cengkraman eksoskleton miliknya membuat usaha gadis itu sia-sia.

"S...Si...Be...R...ia..."

Rintih wanita itu saat ia akan kehabisan nafas.

Ichika langsung melepaskan cengkraman membiarkan wanita itu bernafas namun sebelum ia dapat mengatakan sesuatu, pandangannya langsung buram setelah sesuatu menghantam lehernya.

(5 April 2047)

Setelah ia kembali ke pangkalan militer di misi sebelumnya dan berhasil menangkap Chloe, Ichika kembali ke Jepang melaporkan misi dan Intelijen yang ia temukan ke USFJ.

Saat ia selesai melakukan tugas formalnya, ia kembali berjalan menyusuri jalanan kota Tokyo yang masih ramai seperti biasanya.

Disana ia melihat beragam orang lalu lalang bagaikan orang kebingungan mencari apa yang mereka tak ketahui.

Namun untuk Ichika, ia justru berjalan kearah tempat yang sangat ingin ia datangi.

Tempat dimana ia bisa merelakan semua pikiran kotor dan kejinya.

Tempat dimana ia melampiaskan rasa frustasinya kepada seseorang yang sangat ia cintai.

(knock knock)

Ketukan pintu terdengar dan saat ia membuka pintu rumah, ia berjalan masuk untuk menemui seseorang itu.

Dan yang benar saja, sesaat setelah ia membuka pintu sosok itu menyambutnya dengan senyuman kebahagiaan.

"Aku pulang"

Ucapnya pada seseorang di depannya.

(hug) wanita itu memeluknya dengan air mata mengalir di kedua matanya.

"Kemana saja kau! ... hick... hick..."

Tangis kecil wanita dewasa itu.

Ichika langsung menerima pelukan itu sambil mengelus pelan rambut hitam wanita ini.

"... Aku disini, dan aku sangat senang melihatmu lagi..."

"Chifuyu-nee"

Ucap Ichika dengan pelan sambil melepaskan segala kerinduan yang menyelimuti pikirannya.

Mereka berdua tetap dalam posisi itu hingga beberapa menit. Saat Ichika meletakkan kedua tangannya di wajah Chifuyu Orimura, ia dapat melihat ekspresi kerinduan teramat dalam tergambar jelas di wajahnya.

Ichika hanya bisa mencium kening manis Kakak perempuannya. Chifuyu yang merasakan kecupan tiba-tiba dari Ichika hanya bisa membeku sebelum ia menutup matanya membiarkan waktu berlalu diantara keduanya.

Beberapa waktu berlalu dan mereka berdua mulai berjalan masuk ke ruangan tamu dimana biasanya menghabiskan waktu bersama

Duduk bersampingan dengan kepala Chifuyu di sandarkan di bahu Ichika tak mau bergerak sedikitpun dari posisi itu

"Apa ini jadinya kakak perempuan ku sekarang?"

Goda Ichika sambil menekan jarinya di pipi lembut Chifuyu.

Chifuyu Orimura yang membisu hanya bisa memerah melihat bagaimana dekatnya mereka berdua.

"I...Ichika"

"Hm?"

"Apa kau akan pergi lagi?"

Tanya Chifuyu dengan khawatir, Ichika yang merasakan bagaimana enggannya Chifuyu melepaskan diri dari posisi ini hanya bisa tersenyum sambil mengusap pelan kepalanya yang spontan membuat Chifuyu merasa nyaman.

"Tidak, aku tidak akan pergi. Aku ingin libur panjang berdua denganmu"

Goda Ichika lagi.

Tanpa mereka sadari, tindakan keduanya bagaikan pasangan suami-istri yang sangat mesra namun apa yang harus di katakan lagi, mereka berdua adalah keluarga yang saling mencintai satu sama lain dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun

Ichika yang kelelahan mulai tertidur dengan pulas di kasur lamanya membiarkan waktu malam berlalu, namun di tengah tidurnya Chifuyu masuk ke kamar Ichika dan melihat ke wajah Ichika yang tertidur pulas.

'Ichika...'

Chifuyu mengusap tangannya di wajah Adik laki-laki nya yang pernah menghilang sangat lama.

'Apa kau tahu betapa hancurnya aku saat kau pergi?'

Tanya Chifuyu di dalam benaknya saat melihat wajah Ichkka.

'Apa kau tahu betapa putus asanya aku saat itu?'

Chifuyu menangis lagi.

'Hii!'

Ia justru terkejut ketika Ichika yang tertidur tiba-tiba mendekapnya dan membawanya ke tempat tidur dimana ia dan Ichika saling terbaring berduaan.

Ichika yang sudah terbangun menatap ke wajah Chifuyu yang menangis membuat jiwanya terobek-robek.

Chifuyu dapat merasakan kehangatan tubuh Ichika, entah kenapa ia terhipnotis dengan kehangatan ini.

"Tidurlah, Chifuyu"

Ucap Ichika saat melihat wajah Chifuyu. Ia mengelus rambut hitam panjang Chifuyu yang sedikit memutih akibat stress dan beban yang di tanggung olehnya.

Namun saat Chifuyu mulai tertidur entah kenapa semua letih, lelah, stress, depresi dan frustrasi yang ia alami selama bertahun-tahun lamanya perlahan menghilang.

Elus lembut Ichika berikan ke Chifuyu berharap ia tak terbangun dari tidurnya.

Keluarga Orimura yang membuang mereka, telah membayar dosa yang mereka lakukan dengan kedua tangannya namun ia tak merasa senang ataupun lega sedikitpun.

'Tak peduli apa yang mereka katakan, aku akan selalu melindungi mu. Aku akan selalu bersamamu dan akan selalu mencintaimu'

"Hrrmm"

Erang pelan Chifuyu di dalam tidurnya saat Ichika mengelus wajahnya dengan sangat lembut.

'Tangan penuh kotoran ini tak pantas untukmu. Tapi setidaknya... Aku bisa memberikan mu apa yang masih ada di dalam diriku'

Ichika mulai tertidur disampingnya membiarkan malam berlalu berharap keesokan harinya ia bisa melihat Chifuyu tersenyum lagi.