Seeorang peri bertubuh mungil yang baru saja menginjak usia 18 tahun. Dia terlalu muda untuk menjelajahi dunia, tapi peri cantik dengan tinggi 160cm itu memiliki jiwa ingin tahu tak terkalahkan, menyebabkannya tidak bisa hanya duduk di dalam istana khayangan.

Hyuuga Hinata, nama lengkap gadis bersurai indigo panjang dengan sepasang bola mata bulan yang indah.

Gadis itu selalu menghabiskan waktu di dalam istana yang berdiri sangat megah di atas langit, salah satu awan raksasa. Dikelilingi oleh hutan yang diisi oleh berbagai tumbuhan dan hewan yang tidak bisa dibayangkan indahnya.

Namun, Hinata menemukan sesuatu yang lebih indah dan itu adalah dunia manusia. Dunia luas nan besar, ramai, unik itu terletak tidak jauh di bawah istana, tempatnya tinggal. Hinata membuat keputusan, dunia manusia akan menjadi tempat yang sangat tepat untuk menjelajah.

Awalnya, Hinata hanya memiliki sepuluh impian yang sangat ingin dia capai. Setelah turun ke dunia manusia, menggunakan sepasang sayap putih yang indah, impian itu berubah menjadi 1001.

1001 list impian yang harus dicapai. Semua orang bertany-tanya tentang seberapa banyak hal yang bisa gadis itu lakukan di dunia manusia dan gadis itu berhasil menjawab bahkan lebih banyak lagi.

Sesuatu yang tidak biasa di tempat Hinata tinggal, dia dengan senang hati melakukan semuanya.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

Trap By Bad(ie)

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Trap By Bad(ie) by Authors03

Please ... dont like, dont read ... thanks.

.

.

Prolog

Hinata POV

Hai, namaku Hinata! Kalian pasti sudah tahu. Aku tidak lagi tahu betapa bahagia senyuman yang wajah ini tampilkan, tapi bukan hanya sekedar di wajah, aku sungguh bahagia. Hati tidak mau berhenti berdebar dan rasanya menyenangkan.

Semua orang bertanya soal 1001 list impian yang telah aku catat dan aku sudah melakukan sangat banyak hal dalam waktu dua bulan.

Apa kalian tahu dunia manusia memiliki sesuatu yang disebut uang? Mereka terbuat dari kertas. Aku kira itu aneh karena di duniaku, uang terbuat dari emas berbentuk balok atau coin. Mereka juga memiliki coin, tidak, abaikan itu. Aku tahu banyak hal unik yang bisa dibahas, tapi aku tengah tidak mau membahas uang.

Semua orang ingin tahu apa yang aku lakukan selama di dunia manusia dan ini dia …

Hinata POV END

"Hinata! Belum ada yang datang, bagaimana jika kau mencuci kloset?" Seorang lelaki berperut buncit berteriak. Dia adalah sang bos, pemilik café tempat Hinata bekerja—tanpa digaji.

"Baik, Pak!" seru gadis bersetelan dress pink muda itu girang. Dia menyimpan kain yang digunakan untuk mengelap meja kembali ke bagian dapur sebelum menuju kloset yang terletak di bagian belakang.

Daftar lift ke 99, sebetulnya Hinata sudah sering melakukannya. Mencuci kloset dan WC maksudnya, tapi gadis itu masih saja selalu senang melakukannya.

"Uuu …!" lolong gadis itu bahagia, plus berbunga-bunga layaknya orang yang tengah jatuh cinta. Dia selalu suka saat kloset kotor disiram dan berubah menjadi putih bersih tanpa noda.

Apakah itu impian yang aneh? Maksudnya, sejak kapan mencuci kloset bisa masuk ke dalam sesuatu yang disebut, impian? Tidak ada yang tahu, tapi biarkan Hinata berbagia dengan kebahagiaan kecilnya~

Menggunakan brush tanpa sarung tangan, mengosok setiap sudut kemarik WC dengan hati-hati dan berakhir terpleset karena licinnya sabun yang digunakan terlalu banyak.

"Akh!" Hinata merintih kesakitan. Tubuh bagian bawah basah karena gayung di tangan yang terlepas dan tanpa sengaja menyiram.

Namun, itu bukan masalah besar karena dia, Hinata masih bisa tersenyum.

Dia kembali bangkit guna mengintip keluar WC untuk memastikan keadaan memang sepi dan tidak ada yang melihat. Gadis itu mengayunkan tangan dan secara ajaib, sebatang tongkat kecil dengan ujung berbentuk bintang muncul di tangan.

Tongkat sihir, semua peri memilikinya. Dengan benda itulah mengapa Hinata tidak perlu digaji dan mengapa sayap indahnya bisa tidak terlihat. Ujung tongkat ajaib itu diayun dan tubuh Hinata sudah berubah menjadi kering. Layaknya magic, cling! Begitu saja dan masalah selesai.

Gadis itu akhirnya bisa kembali tersenyum.

"Hinata, apakah kau sudah siap?!" Suara sang atasan memasuki indera pendengar, sukses menyita perhatian Hinata.

"Aku akan segera siap!" jawab Hinata, menguatkan suara agar bisa terdengar.

"Tolong layan pelanggan, secepatnya!"

"Baik!" balas gadis itu. Dia terburu-buru menyiram WC untuk menghilangkan licinnya sabun. Sebelum itu, lupa mengayunkan tangan untuk kembali menyembunyikan tongkat. Dia menyimpan tongkat ajaib itu dengan cara diselipkan ke belakang tali yang mengikat erat di bagian perut.

Tidak diperlukan waktu lama untuk selesai dengan toilet yang dijamin bersih tanpa sedikit pun noda kuning, wangi dan kinclong. Hinata beri garansi jika saja hal itu tidak benar. Kalian harus yakin karena itulah alasan mengapa seorang gadis cantik bisa diterima bekerja di café kecil-kecilan ini tanpa gaji.

Maksudnya, dia bekerja dengan sangat baik dan sekali lagi, tanpa digaji. Tidakkah itu aneh? Faktanya adalah dia menguntungkan—dan mudah disuruh-suruh.

Hinata mengambil buku menu beserta nota kecil dan pena dari atas meja kasir, bergegas menuju pelanggan di salah satu meja yang terletak di bagian depan café, dekat dinding kaca yang menampilkan jalan raya yang ramai. Dia menyerahkan dua buku itu pada dua orang yang terduduk berseberangan.

Ada dua pekerja, biasanya. Karena pagi ini lelaki itu izin sakit, Hinata terpaksa bekerja sendiri. Tidak sepenuhnya sendiri karena ada sang atasan. Namun, lelaki itu tidak membantu sama sekali. Hanya duduk di meja kasir dan berteriak-teriak dengan nada memerintah.

Beruntung karena pekerjanya adalah Hinata. Sang bos tidak merasa bersikap berlebihan dan Hinata pun tidak merasa ditindas.

"Kopi," pesan sang lelaki bersurai kuning sembari menyerahkan menu kembali. Hinata biasanya sangat senang saat melihat seseorang menggenakan setelan mewah berupa jas, tapi dia seperti melewatkan setelan yang melekat di tubuh etletis lelaki itu karena terlampau serius melayani.

"Aku teh," kata yang satunya lagi.

"Kopi satu dan teh satu." Seperti biasa Hinata harus mencatat pesanan lebih dulu, tapi tampaknya sang pelanggan pemilik sepasang bola mata indah berwarna biru langit itu tidak bisa bersabar.

Hinata telah siap mencatat, niat ingin mengambil menu yang masih disodorkan. Tapi sang pelanggan malah melepasnya, menyebabkan lembaran tipis itu jatuh ke lantai.

"Lama," komentarnya sinis. "Tanganku lelah." Kontak mata bertemu untuk sesaat. Hinata tidak menyukainya, begitulah pikir sang pekerja. Tapi abaikan. Hinata tidak bisa membenci tamu. Meski sang atasan tidak akan mau memecatnya, tapi tetap saja. Hinata ingin menjadi seorang pekerja profesional, itu adalah daftar keinginannya yang ke-123.

"Maaf," sesal Hinata. Dia menunduk untuk memunggut apa yang jatuh dan berbalik untuk pergi.

Naruto, nama sang pelanggan menyebalkan yang tidak tahu cara bersikap ramah. Alisnya mengernyit karena netra tanpa sengaja mendapati tongkat mainan terselip bagian punggung Hinata, tepatnya di bagian tali pinggang kain dengan warna senada dengan dress yang dia kenakan.

Naruto … hanya penasaran. Sebelum Hinata sempat mengambil langkah, dia menarik tongkat sepanjang penggaris itu tanpa sang pemilik sadari.

TO BE CONTINUE

Alright, guys! Kembali lagi bersama Authors03. Sebetulnya author lagi punya satu cerita dengan genre adultromance, tapi … terakhir kali Hinata kontak fisik dengan orang lain, kita tidak menyukainya. Author hanya tidak nyaman juga sih hehe karena Hinata hanya untuk Naruto . Ya … meski begitu semoga kalian suka ini. Sebetulnya author ragu sih karena cerita kek gini kek udh klasik bangat. Cuma author berusaha :"

Next or delete? Silahkan tinggalkan review. Sampai jumpa!