Pada malam itu, aku mendengarkan pujian sampai fajar, bukan untuk mencari ketenangan tetapi untuk mencari sebagian jiwamu;

Pada bulan itu, aku membolak-balik semua tulisan, bukan untuk mencari pencerahan tetapi untuk menyentuh halaman-halaman di mana jari-jarimu pernah tertinggal;

Pada tahun itu, aku berlutut di tanah, kepalaku menyentuh debu, bukan untuk memberi hormat kepada para Dewa, tetapi untuk merasakan kehangatan yang kau tinggalkan;

Pada kehidupan itu, aku mengembara melewati sepuluh ribu gunung, bukan untuk mencari kehidupan setelah kematian, tetapi untuk berpapasan denganmu–

Sasuke, apakah kau percaya bahwa aku hidup melalui malam ini, hari ini, tahun ini dan kehidupan ini, hanya untuk memegang tanganmu dan menemanimu dalam perjalanan hidup?

.

.

One Night, One Day, One Year, One Lifetime

yī yè yī rì yī nián yī shì 一夜一日一年一世

Character: Masashi K.

Based on the last verse of Tsangyang Gyatso's poem :
That moment, I ascended to the Heavens and became immortal, not for eternal life, but to watch over you for a lifetime of peace and happiness …

Genre: Hurt/Romance, Angst

Probably two shoots, or maybe three shoots.

.

.

13 Oktober, Cerah.

Saat senja, hujan turun dari langit dan air dingin membentang di jalan. Saat itu pukul enam, aku membungkus bahuku dengan selendang dan meninggalkan rumah untuk menyambut Sasuke-ku pulang.

Kalau bukan karena ketidaksukaannya, aku mungkin sudah berada di bandara menunggu kedatangannya sekarang. Perjalanan bisnis Sasuke selama satu minggu sudah merupakan siksaan besar yang harus aku tanggung, bagaimana bisa aku mentolerir kenyataan bahwa aku tidak akan menjadi orang pertama yang dia lihat saat mendarat?

Tetapi dalam pembicaraan di telepon, dia dengan dingin melarang aku melakukannya.

Selama tiga hari, dia tidak menjawab panggilanku. Karena itulah tanpa pilihan, aku hanya bisa berkompromi dengan keinginannya.

Tepat pukul tujuh, Sasuke akhirnya muncul di depan mataku, mengenakan mantel berwarna krem yang telah kusiapkan untuknya. Aku sangat bersemangat seperti burung kecil saat aku berlari ke arahnya. "Sasuke, Sasuke." aku meneriakkan namanya karena sangat ingin diselimuti kehangatan pelukannya.

Saat dia mendengar suaraku, dia mengangkat kepalanya. Dia tidak menyangka aku menunggunya di ambang pintu dan matanya langsung mendingin, memperhatikan saat aku berlari ke arahnya. Dia bergeser, dengan mudah menghindari pelukanku. Sebuah penghinaan terlihat jelas dari pancaran matanya.

Mungkin sepanjang hidupku, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan sedikit pun kehangatan darinya, seperti burung yang hilang yang tidak akan pernah kembali ke kehangatan sarangnya.

Meskipun aku dapat dengan jelas melihat ketidakbahagiaan Sasuke, aku tidak mau memusatkan perhatianku pada fakta itu. Toh sebenarnya aku merasa bahwa reaksinya tidak berlebihan, jadi aku terus tersenyum, tetap tidak malu-malu saat aku berpegangan padanya dan menumpahkan isi hatiku.

"Sasuke, aku merindukanmu."

Mustahil untuk tidak merindukannya, karena dia adalah satu-satunya pria yang pernah aku cintai sepanjang hidupku.

Tubuh yang aku peluk tetap terdiam kaku. Meskipun badan tinggi Sasuke terbungkus rapi dengan pakaian berlapis untuk menghangatkannya, tetapi tidak ada kehangatan itu yang diberikan kepadaku. Sebaliknya, dia bergerak, mengangkat tangannya saat dia mendorongku menjauh.

Wajahnya tetap tanpa ekspresi saat dia berkata, "Ayo pulang."

Aku terus berseri-seri dan mengangguk karena kata 'rumah'-nya. Aku tahu bahwa ini hanya kata-kata yang tidak dia sengaja, tetapi aku sudah lama terbiasa dengan sengaja salah menafsirkan makna di balik kata-katanya, memutarnya dalam cahaya yang menyenangkan dan menghibur sehingga hatiku tetap hangat.

Pulang ke rumah.

Sasuke, ayo kita pulang ke rumah kita.

oOo

Dari kamar mandi terdengar suara percikan air. Aku mengubur kepalaku sambil terus membongkar barang bawaan Sasuke. Aku tahu bahwa setiap kali dia kembali dari perjalanannya, aku tidak akan mendapat oleh-oleh. Sasuke sering berkata bahwa aku kaya dan berkuasa. Tidak ada apa pun di dunia ini yang tidak dapat aku beli. Tidak ada yang tidak dapat aku rebut untuk menjadi milikku, jadi tidak pernah ada alasan baginya untuk memberiku sesuatu. Ketika dia mengucapkan kata-kata ini, terdengar sekilas jejak ejekan dan cemooh yang cocok dengan bongkahan es di matanya.

Aku ingin memprotes: semua yang bisa aku beli, tidak peduli seberapa mahal atau berharganya, tidak akan pernah bisa menggantikan satu barang pun darinya.

Tapi saat aku menatap ekspresi wajahnya, aku hanya bisa mundur, menelan kata-kataku.

Sepertinya memang begitu. Sasuke masih tidak bisa melupakan caraku merenggutnya ke tanganku bertahun-tahun yang lalu.

Kekayaan dan kekuasaanku adalah dua hal yang Sasuke tidak akan pernah bisa terima.

7 tahun lalu, aku menemani ayah saat kami menghadiri konferensi perusahaan dan di sanalah aku pertama kali bertemu Sasuke. Saat itu, dengan setelan jasnya yang rapi dan artikulasi kata-kata yang jelas, dia mampu memukau setiap klien yang hadir.

Aku pernah membaca sebuah buku tentang psikologi yang menggambarkan ilmu di balik apa yang kita sebut sebagai 'cinta pada pandangan pertama'. Ini terjadi setiap kali seorang pria atau wanita yang sedang 'terangsang' berpapasan dengan seseorang yang secara fisik membuat mereka tertarik, sehingga memicu rangsangan saat itu juga. Daya Tarik adalah bahasa sehari-hari dari 'cinta pada pandangan pertama'.

Jadi aku berpikir bahwa ketika aku bertemu Sasuke hari itu, hormonku pasti tinggi, karena aku merasa seperti putri yang bertemu dengan Pangeran Tampan hingga terburu-buru untuk meninggalkan kesan padanya. Aku ingat bahwa saat konferensi telah berakhir, aku segera berhenti di depan Sasuke dengan wajah berseri-seri lebar.

Aku telah berjaga-jaga di ambang pintu aula konferensi, seperti binatang buas yang menunggu mangsanya.

Setelah kami menikah, Sasuke pernah berkata di suatu pagi.

"Ino, jika aku tahu saat itu bahwa kau telah jatuh cinta padaku dan akan menggunakan cara yang tidak bermoral untuk menikahiku, aku bersumpah kepada Surga bahwa aku tidak akan pernah berbicara sepatah kata pun."

"Sasuke, aku mencintaimu."

Aku hanya mampu membalas itu, karena selain mengungkapkan cintaku kepadanya setiap saat, aku tidak lagi tahu apa lagi yang bisa aku lakukan.

Begitulah yang terjadi. Setelah konferensi, Sasuke dan aku berkenalan, tetapi bagaimana bisa aku menerima kenyataan bahwa kami hanya akan menjadi teman? Karena itulah utuk pertama kalinya dalam hiduku, aku meminta hal yang paling egois kepada ayah.

Kata-kata kaya dan berkuasa tidak boleh digunakan untuk menggambarkanku. Sebaliknya, kekuasaan dan kekayaan merupakan hal mutlak yang dimiliki oleh ayahku, Ketua Pimpinan Perusahaan Yamanaka, seorang pria yang berdiri di antara eselon tertinggi di negara kami. Di negara ini, tidak ada yang tidak bisa dicapai olehnya, apalagi keinginan kecil yang diinginkan putri tunggal Yamanaka untuk pertama kali dalam hidupnya.

Aku akui bahwa metode ayah saat itu agak berlebihan. Bagaimanapun, Sasuke adalah keturunan terakhir dari Uchiha. Bagaimanapun runtuhnya keluarga bangsawan itu, tetap saja ada harga diri yang harus dijaga, setidaknya harga diri seorang manusia dan pria.

Tetapi pada saat itu, Sasuke sama sekali tidak tertarik padaku. Dalam hidupku, ini pertama kalinya aku menginkan sesuatu. Aku bertekad untuk menjadi pengantinnya sesegera mungkin, jadi aku tidak hanya tidak menghentikan ayah, aku bahkan senang melihat hal itu terjadi.

Ketika Sasuke tetap tidak tergerak oleh bujukan, ayahku akhirnya menggunakan metode yang paling kejam. Dia memerintahkan seseorang untuk menculik ibu Sasuke dan menyanderanya. Nyonya Uchiha, Ibu mertuaku sekarang, merupakan keluarga terakhir yang Sasuke miliki. Tentu saja Sasuke akan melakukan apapun untuk menyelamatkan ibunya. Tanpa jalan keluar, Sasuke memutuskan hubungannya dengan pacarnya saat itu dan menikahiku.

Tetapi itu semua tidak berakhir dengan bahagia.

Sebagai pembalasan, pada hari kami menikah, saat Sasuke menyelipkan cincin kawin ke jariku, dia berkata kepadaku, "Ino, kesampingkan cinta, aku bahkan tidak akan memberimu kebahagiaan. Aku akan menggunakan seluruh hidupku untuk membencimu sampai hari kamu mati."

Kurasa dia pasti sangat membenciku menggunakan kata 'benci' dan 'mati' di hari pernikahan kami.

Tapi aku hanya menatapnya. Dengan mata berkaca-kaca, aku berkata, 'Tidak apa-apa, Sasuke. Tidak apa-apa selama aku mencintaimu. Aku bisa menjadi orang yang memberikan semua kebahagiaan dalam pernikahan kita, selama kamu menemani di sisiku sampai hari aku mati."

Aku mengemasi pakaiannya dan melipatnya satu per satu. Pakaian dalam, kemeja, blazer, dasinya. Meskipun aku pernah hidup dalam kemewahan, sejak aku menikah dengan Sasuke, aku mulai belajar cara menjadi istri yang berbakti.

Segera, Sasuke keluar dari kamar mandi, handuk putih melilit tubuhnya. Aku berlutut di sisi ruangan dan terus menata pakaiannya. Dia tidak menatapku, langsung menuju tempat tidur. Namun aku tidak dapat bersikap seolah-olah aku terdiam, jadi aku buru-buru mengemasi sisa pakaiannya, mandi, lalu naik ke tempat tidur di sebelahnya.

Saat tubuhku menyentuh tubuh Sasuke, aku dengan cepat membenamkan diriku ke dalam pelukannya, seperti ular yang meliuk-liuk di sekelilingnya. Sasuke ingin mendorongku menjauh, karena dia tidak pernah mau memelukku dalam pelukannya saat kami tidur. Namun aku tetap keras kepala saat aku berpegangan pada tubuhnya yang tinggi, bertingkah seperti anak manja dalam pelukannya.

"Sasuke, apakah kamu merindukanku?"

Ini adalah pertanyaan yang tidak dapat aku tanyakan di bawah sinar matahari yang cemerlang. Hanya dalam kegelapan malam di mana aku bahkan tidak bisa melihat kelima jariku, aku akhirnya dengan lembut berani menanyakan ini padanya.

Jelas terlihat bahwa Sasuke membenci pertanyaanku karena dia mendorong badanku menjauh. Tanganku dengan cepat menyelinap ke piyamanya. Dengan canggung, aku mulai menyentuhnya, sampai tubuhnya mulai bergerak. Namun Sasuke mengangkat tangannya, memegang tanganku yang gelisah, dan menahannya.

Matanya mengunci mataku.

Seperti burung pipit kecil, aku tertawa, sangat gembira. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat ke dada Sasuke dan bertanya dengan nada paling sensual yang bisa kulakukan, "Sasuke, apakah kamu merindukanku?"

Orang lain sering mengatakan bahwa dalam pergolakan nafsu, pria akan kehilangan rasionalitas mereka, jadi aku berharap pada saat itu Sasuke akan menjawab: ya.

Dalam gerakan tiba-tiba, Sasuke membalikku ke bawah tubuhnya. Matanya dipenuhi dengan ketahanan yang tenang. Ketenangan itu menyatu dengan kemarahan dan nafsu, namun diatas itu semua adalah kebencian yang tak terbantahkan.

Saat aku menatap matanya, kesedihan mencengkeram hatiku.

Bahkan pada saat seperti itu, Sasuke mampu tetap berpikir jernih dan terus mengingat bahwa dia membenciku. Tiba-tiba, aku ingin melarikan diri. Namun aku malah mendapati diriku menekan lebih dekat ke arahnya, seolah dipaksa oleh naluri yang terkubur jauh di dalam diriku.

Lenganku melingkari lehernya. Aku menahan air mataku, menelannya kembali ke dalam hatiku.

Sejak awal, aku tidak pernah punya hak untuk meneteskan air mata.

Ketika aku membuka mataku kembali, wajahku sudah berubah, bibirku terangkat dengan senyum cerah. Namun Sasuke membenciku yang begitu sederhana dan tidak berpikir, seseorang yang bisa tersenyum begitu mudahnya. Seolah membalas dendam, pada saat terakhir, Sasuke berbisik ke telingaku, "Ino, kau hanyalah seorang wanita yang menawarkan dirimu kepadaku."

Sasuke benar. Aku adalah seorang wanita yang telah menawarkan diriku ke depan pintunya.

Pada malam pernikahan kami, Sasuke hanya menghabiskan malam bersamaku karena aku telah membius minumannya.

Jika bukan karena cintaku yang berbatasan dengan obsesi, aku tidak akan pernah melakukannya. Tapi meskipun aku sudah mencoba beberapa kali untuk menutup jarak antara kami setiap kali dia mabuk, dia tidak pernah kalah karena dia selalu bisa mengenaliku melalui aroma tubuhku.

Sekalipun aku pernah mencoba untuk memakai parfum mantan kekasihnya, dia langsung tahu itu aku.

Seperti yang bisa kalian bayangkan, ketika fajar menyingsing keesokan paginya, aku sekali lagi menerima hinaan Sasuke. Dia menatapku, matanya menatap tubuh telanjangku, cemoohan melintasi wajahnya.

"Mengapa kau harus menggunakan tindakan yang tidak perlu? Apakah kau takut aku tidak akan memenuhi tanggung jawabku sebagai suamimu?"

Tapi aku sudah dalam keadaan puas saat itu. Seperti kucing malas, aku hanya tersenyum, menggelengkan kepala, dan tidak berdebat dengannya. Aku berpikir bahwa Sasuke hanya mengatakan kata-kata seperti itu untuk melindungi harga dirinya yang terluka, karena dia pasti marah dengan tindakan ekstrem yang telah aku ambil.

Namun dalam hatiku, aku tidak bisa tidak berpikir: Sasuke, tanpa pengaruh alkohol dan obat perangsang, dapatkah kau benar-benar menyentuhku?

Aku tidak tahu jawabannya, jadi bagaimana aku bisa bertaruh?

oOo

Ketika aku bangun keesokan paginya, langit diterangi dengan cahaya redup.

Aku sering tidur larut malam dan bangun lebih awal. Ini adalah salah satu hal yang membuat Sasuke tidak senang denganku. Karena ketika aku pertama kali menikah dengannya, aku masihlah seorang anak yang egois yang bertindak dengan sengaja tanpa memikirkan bagaimana tindakanku akan mempengaruhi orang lain.

Karena kebiasaan, ketika aku beranjak meninggalkan tempat tidur setiap pagi, gerakanku canggung dan menimbulkan suara keras. Setiap kali Sasuke dibangunkan olehku, dia akan berbalik menatapku. Tatapannya setajam pisau dan suaranya sedingin anak panah, seolah takut bahkan sebagian dari diriku akan lolos dari ketidaksukaannya.

"Bahkan jika kau tidak melakukan apa pun di rumah sepanjang hari, dapatkah kau lebih memperhatikan waktu tidur yang dibutuhkan oleh orang lain?"

Aku bergeser kembali ke arahnya dan berkata, "Apakah aku membangunkanmu? Noted. Besok-besok aku akan lebih pelan lagi. Nah sekarang istirahatlah lagi– aku akan membuatkan sarapan." Kemudian aku memberikan ciuman pagi untuknya. Setiap kali aku melakukan itu, Sasuke akan menutup matanya, menghapus jejak bibirku, sebelum memalingkan kepalanya untuk melanjutkan tidur.

Mungkin karena gerakanku yang tenang hari ini, Sasuke tidak bangun. Dia masih tidur, lengannya yang telanjang tersampir di selimut, punggungnya menghadap ke arahku. Dengan hati-hati aku duduk, membungkuk untuk mengamatinya. Saat aku menatap wajahnya, aku tidak bisa menahan diri, membungkuk untuk menempatkan ciuman lembut di wajahnya. Namun dalam hati aku berteriak, 'Sasuke, aku mencintaimu. Di dunia ini, tidak ada yang akan mencintaimu seperti aku.'

Setelah ciuman diam-diam ini, hatiku merasa puas.

Aku meninggalkan tempat tidur untuk menyiapkan sarapannya.

Sasuke menyukai mie kecap. Semangkuk mie dan saus adalah semua yang dibutuhkan untuk membuatnya bahagia. Aku ingat pertama kali aku mengundangnya keluar sebagai teman, aku telah memesan meja di restoran terbaik di kota, berharap untuk makan enak dengannya.

Tapi Sasuke-ku sangat menggemaskan, sopan, dan pengertian. Dia tidak terbuai.

Dia berdiri di depanku, mengenakan kemeja putih dan celana kasual, sederhana dan rapi. Saat pandangannya bergeser, melihat ke dalam aula bagian dalam restoran yang gemerlap, Sasuke tertawa kecil, lalu berkata, "Nona Yamanaka, kita tidak boleh makan di sini."

Aku mabuk dalam tawanya. Aku mengira kata-katanya merupakan upaya untuk menghindari makan malam kami, jadi aku buru-buru berkata dengan cemas, "Tidak apa-apa, tenang saja."

Tapi Sasuke melanjutkan, "Mengapa Anda harus menghabiskan begitu banyak ketika Anda bahkan tidak mentraktir bos Anda untuk makan? Makanan ini akan menghabiskan setengah gaji bulanan kami sebagai karyawan. Di tempat yang lebih sederhana saja mungkin? Tentu saja, jika Nona Yamanaka mengusulkan makanan ini sebagai perjanjian bisnis, maka saya akan menerimanya."

Ah, kau tahu Sasuke, bagaimana mungkin hatiku tetap tidak tergerak? Tahukah kamu bahwa orang yang berdiri di depanmu ini memiliki kekayaan yang mampu membuatmu makan mewah dalam tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun?

Jika kamu tidak begitu berprestasi dan berbakat, jika kamu lebih materialistis, sama seperti semua pria lain di dunia ini, bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu? Untuk alasan apa aku akan menggunakan cara yang tidak bermoral seperti itu untuk mendapatkan hatimu?

Mie kecapnya sederhana dan enak tapi sulit dibuat. Pada awal belajar memasak, bisa dibilang aku menyia-nyiakan mie hampir lima puluh kilogram. Setiap hari, meneliti cara memasak hidangan favorit Sasuke menjadi satu-satunya hobi yang aku miliki.

Semua orang mengatakan bahwa latihan membuat sempurna. Untungnya, Surga tidak mengecewakan seseorang yang gigih sepertiki. Meskipun Sasuke tidak pernah memuji mie yang aku buat, aku masih bisa melihat dari ekspresi kecil yang dia tunjukkan bahwa dia puas.

Setiap kali aku memasak, aku tidak merasa hanya membuat semangkuk mie. Sebaliknya, itu terasa seperti sebuah karya seni bagiku, merangkum dalam bentuk paling sederhana cintaku yang kuat untuk Sasuke tanpa obrolan, selain memberi tahu Sasuke bahwa aku mencintainya berulang kali, ini adalah satu-satunya hal lain yang bisa kulakukan untuk mengungkapkan perasaanku.

Setelah matang, piring berhiaskan bunga emas itu sudah hangat dengan mie kecap, aromanya menyebar ke seluruh ruangan. Tidak ada hiasan pada mie, karena Sasuke tidak suka bawang merah atau bawang putih dan bahkan tidak memakan daun bawang cincang.

Aku meletakkan piring itu dan kembali ke kamar tidur untuk minum segelas air. Saat aku kembali, Sasuke sudah berdiri di ruang makan, tangan kirinya membetulkan kancing lengan kanannya. Dia tidak menatapku, matanya tertuju pada semangkuk mie. Kemudian dia menarik kursi dan duduk.

Aku meletakkan cangkir air di depannya, berharap dia akan mengucapkan kata pujian. Di seluruh negara ini, dia adalah satu-satunya orang yang membuatku rela masuk ke dapur dan mengorbankan tidurku.

Sebenarnya, tidak perlu bagiku untuk melakukan semua ini. Sejak aku menikah dengannya, ayahku telah menghabiskan banyak uang untuk menyewa beberapa pembantu rumah tangga. Di dalam dan di sekitar rumah, mereka ada di sana untuk mengurus semua pekerjaan rumah tangga kami. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidup, aku telah meninggalkan rumah, jauh dari kenyamanan terlindung yang diberikan ayah untukku, jadi bagaimana mungkin ayah akan membiarkanku melakukan seluruh tugas?

Tapi aku hanya menggelengkan kepala saat itu, memecat semua pelayan yang disewa.

Sasuke, kamu adalah satu-satunya orang yang aku inginkan di dunia ini, dan aku bersedia menjadi Ino Yamanaka yang akan kamu cintai.

Sasuke, pernahkah kamu menyadari bahwa aku melakukan semua ini hanya karena aku menginginkan kata pujian darimu?

Tapi Sasuke tidak pernah sekalipun mengatakan kata-kata pujian kepadaku. Ketika dia melihatku menatapnya, dia meletakkan sumpitnya dan berkata dengan dingin, "Nona Yamanaka, apakah ada yang Anda butuhkan dari saya di pagi ini?"

Dalam beberapa hari terakhir, frekuensi dia memanggilku secara formal telah meningkat. Tanpa alasan, kegelisahan muncul di dalam hatiku dan aku dengan kesal menggelengkan kepalaku, menahan air mataku. Aku segera duduk di kursi menghadapnya, tersenyum sebelum aku mengangkat kepalaku lagi.

"Tidak. Sasuke, apakah kamu merasakan sesuatu yang berbeda dengan mie hari ini?"

Dia menatapku, sebelum menggelengkan kepalanya dengan acuh. "Tidak."

Aku bergumam setuju.

Hari ini, aku telah menambahkan cuka alih-alih kecap, jadi bagaimana mungkin Sasuke tidak merasakan sesuatu yang berbeda? Apakah hidup bersamaku membuat seluruh hidupmu begitu tidak berwarna sampai-sampai makanan yang kamu makan semuanya terasa hambar?

Segera, Sasuke selesai makan dan kembali ke kamar tidur untuk berpakaian. Aku tidak peduli dengan semangkuk mie-ku sendiri dan mengikuti di belakangnya. Saat aku membuka pintu, Sasuke kebetulan sedang mengganti celananya dan seluruh tubuhnya hanya dibalut dengan celana dalam berwarna putih. Dia menatapku. Untuk sesaat, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia segera berbalik, membelakangiku.

Tapi aku tahu apa yang ingin dikatakan Sasuke karena dia sudah mengatakannya kepadaku berkali-kali di masa lalu.

Sasuke mengatakan bahwa dia tidak menyukai caraku memperhatikannya saat dia berpakaian.

Tapi aku seperti anak kecil yang tidak pernah bisa diajari. Ketika dia mengucapkan kata-kata ini, aku hanya tertawa. Tak berdaya, dia hanya bisa membiarkanku melakukan sesukaku.

Aku pergi ke lemari dan membantunya mengambil pakaiannya. Lalu aku menyerahkan dasinya.

Betul sekali. Aku hanya melakukan hal-hal konyol untuk memiliki kesempatan membantunya mengikat dasinya.

Menghadapi kekeraskepalaanku, tidak ada yang bisa dilakukan Sasuke. Seringkali, selain kebencian, satu-satunya emosi lain yang dia rasakan terhadapku adalah ketidakberdayaan – ketidakberdayaan yang terukir jauh di dalam tulangnya, kelemahan yang ingin dia hapus dari hidupnya.

Dan aku – aku berpegang teguh pada ketidakberdayaannya untuk mendapatkan sebagian kecil dari perhatiannya.

Dengan hati-hati, aku membantunya memperbaiki dasi, merapikan lipatannya. Saat aku mengangkat kepalaku untuk melihat Sasuke, tidak mengejutkan, aku melihat bahwa dia tidak menatapku. Melihat aku sudah selesai, dia mundur selangkah dan menuju ruang kerja untuk mengambil tas kerjanya.

Sasuke berangkat kerja, dan ruangan itu langsung berubah menjadi rumah yang sunyi. Matahari kuning yang melintas melalui lengkungan jendela Prancis tidak memberi kehangatan pada ruangan itu. Aku menatap meja sarapan yang telah kusiapkan, dan karena tidak nafsu makan, aku membuang semuanya.

Sebenarnya, Naruto benar.

Untuk alasan apa aku ingin tinggal di rumah sebesar itu? Dan untuk alasan apa aku mendambakan hidup dengan pria seperti itu?

"Ino, kamu sebenarnya sangat cantik. Kamu terlahir sebagai putri, dan seharusnya menjalani hidupmu dengan penuh kekaguman dan iri hati dari orang lain. "

Setiap kali Naruto mengucapkan kata-kata ini, aku tidak bisa menahan tawa.

Naruto adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Dia tidak berasal dari latar belakang keluarga yang baik, dan termasuk dalam kelas pekerja. Biaya universitasnya dibayar dengan usahanya sendiri dan keluarganya bahkan tidak memiliki klan.

Dia hanya mengatakan kata-kata ini karena dia merasa tidak adil atas namaku. Aku mencintai Sasuke dengan sepenuh hati, tetapi Sasuke tidak pernah sekalipun mengakuiku, memilih untuk menutup telinga dan menutup mata terhadap cinta ini. Merasakannya, tetapi tidak pernah menikmatinya; menerimanya, tetapi tidak pernah mengembalikannya.

Aku ingat, suatu hari, ketika Naruto minum terlalu banyak, dia mengaku di telingaku, "Ino, jika ada seseorang yang akan mencintaiku sedikit seperti kamu mencintai Sasuke, aku akan mengikutinya tanpa penyesalan."

Naruto mengatakan bahwa karena seberapa dalam dia ingin dicintai, selama orang itu akan menghujani dia dengan secercah kasih sayang, bahkan jika yang tersisa hanya kepahitan dan kesedihan, dia masih bisa menanggungnya.

Ada pepatah: selama Anda bersedia untuk mengambil satu langkah ke depan, biarkan saya menjadi orang yang berjalan sembilan ratus sembilan puluh sembilan langkah yang tersisa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, satu-satunya temanku telah menyatakan keinginannya yang terdalam kepadaku. Aku kemudian mulai menggunakan semua cara yang aku miliki untuk memaksa wanita yang dicintainya untuk mengambil langkah pertama ke depan.

Hanya saja, sebelum wanita yang dicintai Naruto membuat langkah pertama, Naruto sendiri sudah mengambil langkah maju untuk memutuskan semua hubungan denganku.

Dia berdiri di depanku saat dia berteriak, "Ino, apa kau gila? Apakah kau pikir semua orang sama hinanya denganmu, menggunakan uang untuk mendapatkan apa pun yang kau inginkan? Aku akhirnya mengerti mengapa Sasuke tidak akan pernah mencintaimu – kau pantas mendapatkannya!'

Aku membeku. Aku tidak tahu harus berkata apa, memperhatikan saat dia berbalik untuk pergi, berjalan keluar dari hidupku selamanya.

Aku hanya ingin kamu bahagia, Naruto, itu saja.

Ketika aku kembali ke rumah, untuk pertama kalinya, aku menangis di depan Sasuke. Saat air mataku jatuh melewati pipiku, aku tidak ingin apa-apa selain membenamkan diriku ke dalam pelukannya, tapi Sasuke hanya menatapku, ekspresinya tidak berubah.

Dia berkata, "Kamu pantas mendapatkannya."

Lalu dia berjalan ke kamar mandi.

Dalam kurun waktu sehari, dua orang terpenting dalam hidupku berkata kepadaku, Ino Yamanaka, kamu pantas mendapatkannya.

oOo

Setelah Sasuke berangkat kerja, aku tidak melakukan apa-apa, tetapi aku tidak ingin berkeliaran tanpa tujuan di dalam rumah. Jadi, pada pukul delapan tiga puluh, aku meninggalkan rumah tepat waktu. Di kota ini, selain dari rumah yang aku tinggali bersama Sasuke, masih ada satu tempat lain yang harus aku tuju.

Tempat ini sebenarnya tidak dianggap sebagai panti asuhan. Ini juga bukan panti asuhan yang hanya menerima anak-anak yang sakit parah. Ketika aku menyewa Kurenai untuk mendesain tempat itu, aku berkata bahwa aku tidak ingin ini menjadi tempat berteduh, karena aku berharap itu akan menjadi rumah.

Tentu saja, Kurenai mengerti maksudku. Dengan lembut, dia mencium keningku, dan berkata dia mengerti.

Sekarang, ada lima puluh enam anak di sini. Mereka semua masih muda, tubuh mereka lemah dan kurus kering. Namun ketika mereka melihatku, mereka segera menjadi cerah, dan berteriak, "Bibi Ino!"

Di sini, ada orang-orang yang secara khusus disewa untuk mengatur urusan sehari-hari tempat ini. Meskipun gaji mereka tidak tinggi, banyak dari mereka adalah sukarelawan yang bersemangat dalam perjuangan mereka. Selain mereka, ada dokter dan perawat lain yang merawat anak-anak.

Tsunade adalah direktur di sini. Awalnya, dia mengelola urusan perkebunan keluarga Yamanaka, tetapi setelah ayahku meninggal, aku telah memecat semua pelayan lainnya dan hanya mempertahankan Tsunade dalam membantuku mengelola panti asuhan.

Tsunade adalah wanita yang baik dan lembut. Dia juga satu-satunya orang yang mencintaiku setelah ayahku meninggal.

Dia sering membelai rambutku sambil berkata, "Ino, kamu adalah orang yang paling pantas dicintai di dunia ini."

Tetapi aku hanya tersenyum dan berkata, "Bibi Tsuna berpikir terlalu tinggi tentangku."

Apakah Ino Yamanaka layak dicintai atau tidak adalah pertanyaan yang sepenuhnya bergantung pada apa yang dipikirkan Sasuke.

Namun Sasuk sering berkata, "Ino Yamanaka, aku membencimu, dan aku akan membencimu sampai hari kita mati – aku akan selalu membencimu."

Bagaimana mungkin seorang Ino Yamanaka yang dibenci oleh Sasuke Uchiha pantas mendapatkan cinta?

Di sore hari, Sasuke tidak kembali ke rumah untuk makan. Dia bekerja sebagai pegawai biasa di dewan investasi pemerintah di kawasan bisnis. Ketika ayahku masih hidup, pernah ada desas-desus bahwa Sasuke akan ditunjuk sebagai penerus perusahaannya, perusahaan yang telah ia bangun dengan susah payah.

Ayah pernah mencari banyak pria yang sempurna untukku, untuk memilih orang terbaik yang bisa dia percayakan untuk perusahaannya. Tetapi dia tidak berdaya di hadapan seorang putri yang tidak berbakti sepertiku. Dari kecil, aku sudah dimanjakan olehnya, dan hal yang paling sering aku lakukan adalah membuat ulah.

Melihat kekeraskepalaanku, ayahku tidak punya pilihan selain mengizinkanku menikahi Sasuke. Tapi Sasuke-ku sama keras kepala dan sombongnya. Dia tidak peduli dengan harta ayahku, sehingga perusahaan ayah tidak memiliki penerus.

oOo

15 November. Berawan.

Sebenarnya, aku tidak pernah menyukai hari berawan, di mana langit mendung dengan awan gelap. Bahkan saat hujan, aku masih tidak menyukai hari yang mendung.

Sebelum musim dingin tiba, aku sudah mengganti semua perabotan dan dekorasi di dalam rumah. Aku pernah memiliki banyak ide untuk menciptakan rumah yang sempurna yang akan aku bagikan dengan orang-orang yang paling aku cintai, dan setelah aku bertemu Sasuke, aku membuat impian itu menjadi kenyataan.

Ulang tahun Sasuke adalah pada tanggal 15 November, hari yang telah aku nantikan selama lebih dari dua minggu. Sejak akhir Oktober, aku sudah mulai memikirkan bagaimana aku ingin merayakan ulang tahunnya.

Di pagi hari setelah aku bangun, aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya meskipun aku sangat ingin melakukannya, karena aku ingin memberinya kejutan nanti. Aku hanya tersenyum, merasa sangat puas.

Aku mengirim Sasuke untuk bekerja, lalu pergi ke supermarket. Sasuke menikmati gandum; dia tidak suka makanan manis dan berminyak. Sasuke menyukai warna putih dan membenci kuning. Semua ini aku tahu seperti aku mengenali telapak tanganku.

Karena masih pagi, supermarket sepi dengan beberapa pembeli. Aku membeli bahan makanan tanpa kesulitan dan segera mengisi keranjang belanja sampai penuh. Kemudian aku membawa banyak tas belanja dan menunggu taksi datang.

Aku tidak bisa mengemudi karena tangan dan kakiku bisa mati rasa kapan saja tanpa peringatan. Tentu saja, kelumpuhan ini juga meluas ke bagian lain dari tubuhku.

Di sore hari, aku mulai menyiapkan makan malam, segudang bahan berserakan di meja dapur.

Hanya saja, aku tidak pernah menyangka bahwa penyakitku akan muncul disaat yang jelek seperti ini.

Saat aku terbaring lumpuh di lantai, aku ingin merangkak kembali ke kamar tidur untuk mengambil obat, tetapi aku tidak memiliki kekuatan yang tersisa di dalam diriku. Tubuhku gemetar, rasa sakit yang tajam membutakan pandanganku. Mengepalkan rahangku, aku memaksakan diri untuk menahannya, melihat melewati air mata yang berkumpul di mataku.

Ponselku berada tepat di sebelahku. Hanya dengan satu tombol, aku dapat menghubungi nomor Sasuke dan menerima obat yang akubutuhkan untuk mengurangi rasa sakit. Jika tidak, jika aku jatuh pingsan, mungkin aku tidak akan pernah bisa melihat Sasuke lagi.

Pada akhirnya, rasionalitas tidak menang melawan emosiku.

Menatap telepon, aku memejamkan mata.

Mungkin hal-hal ini hanya terjadi padaku karena aku telah melakukan terlalu banyak kejahatan dalam hidup. Sasuke sering berkata kepadaku bahwa aku telah melakukan banyak hal yang tidak bermoral. Tapi saat itu, aku hanya menepisnya dengan tawa. Aku mengatakan bahwa bahkan jika pembalasan menimpaku, ini adalah hal yang akan datang seribu tahun kemudian, jadi Sasuke hanya bisa bebas dariku dalam seribu tahun lagi.

Setiap kali aku mengatakan ini, Sasuke akan menatapku dengan dingin, rasa hinanya terlihat jelas. Di depannya, aku tidak pernah bertindak seperti wanita yang berbudi luhur.

Ketika aku akhirnya sadar kembali, pikiran pertamaku adalah: Sasuke, kau sama sekali tidak berhasil melepaskan diri dariku.

Langit sudah gelap, dan aku melihat dari jam tanganku bahwa sudah jam 7 malam. Sepertinya serangan ketidaksadaran terbaruku telah melampaui rekor lima jam sebelumnya.

Aku berdiri, merapikan lipatan di celemekku saat aku melirik tumpukan belanjaan di meja dapur. Hatiku tenggelam. Sasuke akan segera tiba di rumah, tapi aku belum berhasil menyiapkan apapun.

Surga tahu betapa aku sangat ingin membantu Sasuke merayakan ulang tahun ini. Mungkin ini akan menjadi ulang tahun terakhir yang aku rayakan bersamanya.

Ketika Sasuke kembali ke rumah, hari sudah larut malam pada pukul 11.30 malam.

Sebelum itu, aku sudah mencoba meneleponnya beberapa kali, tetapi dia tidak pernah mengangkatnya.

Di meja makan ada banyak piring makanan yang ditumpuk. Tentu saja, ini tidak disiapkan olehku. Setelah aku bangun, aku tidak lagi punya waktu atau mood untuk mempersiapkan ini.

Ada juga kue tiga lapis yang dipesan khusus di tengah meja. Aku tidak tahu mengapa aku memesan kue sebesar itu. Mungkin di lubuk terdalam pikiranku, aku menyimpan harapan bahwa Sasuke dan aku tidak akan pernah selesai memakan kue ini, sehingga hari ini tidak akan pernah berakhir.

Sasuke mabuk, dan telah dipulangkan oleh rekan kerjanya. Orang yang mengirimnya pulang adalah Shisui dan dia memanggilku 'kakak ipar', panggilan yang membuatku sangat bahagia.

Dia menyerahkan Sasuke kepadaku, lalu mengamati rumah itu dengan wajah terkejut. Rumah ini terlalu mewah dan bukan sesuatu yang bisa dibeli oleh Sasuke.

Sepertinya Sasuke membenci aromaku setiap saat. Begitu dia jatuh ke pelukanku, dia berjuang untuk melepaskan diri. Diam-diam, dia menggumamkan nama seseorang. Hanya karena aku yakin tidak ada orang lain yang mendengarnya, aku mempertahankan ketenangan saat melihat rekan kerjanya keluar.

Ketika aku kembali, Sasuke sudah mendapatkan kembali sebagian kecil dari ketenangannya.

Matanya terkunci ke dalam mataku, menatapku dengan tajam. Aku lega melihat jam dinding yang menunjukkan bahwa sudah sepuluh menit menuju tengah malam, dan aku tidak melewatkan ulang tahun terakhir Sasuke.

Aku melihat kue itu, lalu berkata kepada padanya, "Sasuke, selamat ulang tahun."

Dia tidak mengharapkanku untuk mengatakan ini, dan membeku. Akhirnya, ekspresinya berubah menjadi jijik.

Namun aku bertahan, berpura-pura tidak terpengaruh ketika aku memaksanya, "Make a wish, Hn?"

Pada akhirnya, Sasuke masih sedikit mabuk. Dia tidak menjawab pertanyaanku, dia juga tidak menatapku, hanya berjalan terhuyung-huyung kembali ke kamar tidur. Dalam kepanikan, aku menggesekkan jari telunjukku di bagian atas kue, bergegas ke arahnya dengan sikap seperti anak manja yang mendesak.

"Kalau begitu makan saja! Bagiamana? Hanya satu gigit." Aku melambaikan jari-jariku di depan wajahnya, mencoba memasukkannya ke dalam mulutnya.

Sasuke dengan cepat menghindariku dan berkata, "Aku lelah."

Aku berdiri terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa.

Perlahan-lahan, aku memasukkan jariku ke dalam mulut, mentega kue segera menyerang indera perasaku, rasa mual meningkat dalam diriku. Tapi ini tidak bisa meredam rasa sakit yang menggerogoti hatiku.

oOo

Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi rumah sakit. Saran yang diberikan oleh para dokter tetap tidak berubah: Aku harus segera dirawat di rumah sakit untuk memulai kemoterapi. Namun, ada baris baru dalam laporan mereka: penyakitku memburuk dan situasinya semakin mendesak.

"Bagaimana peluang saya untuk sembuh?"

"Ini bukan masalah kemungkinan untuk disembuhkan. Jika Anda sakit, kami berkewajiban untuk merawat Anda. Tidak peduli peluang Anda, kami akan mencoba yang terbaik."

Tapi aku menggelengkan kepalaku. Aku melihat ke dokter berpengalaman yang duduk di seberangku dan berkata, "Apa gunanya melakukan upaya yang sia-sia? Saya hanya ingin menghabiskan sisa hidup saya dalam kebahagiaan."

Beberapa hari kemudia, Departemen Sasuke sedang mengatur pertemuan. Setelah pernikahan kami selama enam tahun, ini adalah pertama kalinya dia mengundangku untuk menghadiri makan malam perusahaannya. Aku sangat bersemangat seperti burung pipit kecil yang menari di antara pepohonan, menciptakan kekacauan saat aku berjingkrak di sekitar rumah.

Mungkin Sasuke hanya memperkenalkanku kepada rekan-rekannya karena rekan kerjanya telah mengetahui keberadaanku pada hari dia dikirim pulang dalam keadaan mabuk. Meski begitu, aku tidak bisa menahan rasa terima kasihku yang tiba-tiba bahwa Sasuke telah pulang larut malam itu, bahkan memaafkannya untuk itu.

Dua hari sebelum kumpul-kumpul, aku mulai mempersiapkannya. Aku menatap cermin saat aku mengamati gaya rambutku, lalu menatap lemari sambil memikirkan pakaian apa yang akan aku kenakan. Di depan Sasuke, aku memberi isyarat tanpa henti sambil terus mengoceh, "Sasuke, apakah ini terlihat bagus? Apakah ini terlihat bagus?"

Dengan tidak sabar, Sasuke menghentikanku. Dia tidak mengangkat kepalanya bahkan ketika dia mengatakan bahwa semua gaun itu baik-baik saja. Karena suasana hatiku yang ceria, aku mengabaikan sikapnya, dan setelah mencoba semua pakaian yang kumiliki, aku melompat ke tubuhnya, tanganku melingkari lehernya, mengamatinya dengan mata penuh perhatian.

Meskipun Sasuke terus menjauh dan tidak ramah, dia tidak mendorongku menjauh.

Aku menatap matanya dalam-dalam. Luasnya matanya sebanding dengan lautan, seolah-olah hanya dengan sapuan sedikit saja, seseorang akan tenggelam dalam kedalamannya yang tak terbatas. Matanya adalah harta yang sangat kusayangi, karena meskipun pemiliknya adalah milikku, aku masih takut orang lain akan mencurinya dari genggamanku. Aku menempelkan hidungku ke hidungnya. Hidungnya mancung, seperti pegunungan Alpen. Jari-jariku menelusuri wajahnya, merasakan kekencangan otot-ototnya dan kehalusan kulitnya, benar-benar terpesona oleh bayangan di hadapanku.

Tanpa alasan, mataku terbakar dengan jejak basah. Perlahan, aku melihat bayangan diriku di mata Sasuke mulai kabur.

Sebelum bibirku bertemu dengannya, aku berbisik, "Sasuke, terima kasih."

Terima kasih telah muncul dalam hidupku; terima kasih telah ada di dunia ini; terima kasih telah berada di sisiku saat ini; terima kasih telah menunjukkan kepadaku bahwa aku memiliki kemampuan untuk mencintai.

Terima kasih telah memberi tahu rekan kerjamu tentangku; terima kasih karena tidak menyangkal keberadaanku.

Mungkin karena meskipun aku sudah mengatakan kepada Sasuke berkali-kali bahwa aku mencintainya, ini masih pertama kalinya aku berterima kasih padanya, jadi tubuh Sasuke menegang.

Dia mengangkat kepalanya, menatapku dengan seksama. Aku melihat secercah kecerahan di matanya, tidak seperti apa pun yang pernah ku lihat di masa lalu. Meski hanya sesaat, aku berhasil melihatnya sekilas sebelum menghilang, menghilang ke dalam kegelapan.

Aku memejamkan mata, dan menekan diriku ke arahnya, menciumnya.

Samar-samar, aku bertanya-tanya dalam kepalaku.

Sasuke di masa depan, apakah kau juga akan memperlakukanku dengan cara ini?

Tapi Sasuke, di masa depan… aku tidak akan berada di sisimu lagi.

TBC


Just like letters on the sand where waves were,

I feel I'll disappear to a far off place

All the words in my heart, I can't show them all to you

But, It's that I love you.

IU-Through the night