Fic baru dari saya.
Among Peerage
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Warning: Alternate Universe, Out of Character, ZEROtoHERONaru!
Summary: Mati karena serangan iblis liar membuatnya direingkarnasikan menjadi iblis oleh Sona Sitri. Meski begitu, ia hanyalah makhluk lemah yang belum bisa membangkitkan Sacred Gear-nya. Perlahan, ia mulai kehilangan perhatian Sona. Naruto hanya ingin membuktikan ia berguna untuk Sona.
.
Fanfiction 2020/BijiBapakMu/Fanfiction 2020
.
Chapter 1: Peerage
Helaan napas dikeluarkannya secara perlahan. Mata yang menatap tak minat pada setumpuk kertas di meja kerjanya. Rambut pirang bergaya quiff haircut terlihat 'lesu' seakan mendeskripsikan keadaan tubuhnya sekarang. Uzumaki Naruto namanya. Siswa tahun pertama Kuoh Gakuen yang menjabat sebagai anggota OSIS karena darah yang mengalir padanya. Darah iblis.
Latar belakang mengapa Naruto dapat berubah menjadi iblis adalah saat ia masih kelas tiga SMP. Saat itu ia pulang larut malam karena mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Karena ingin cepat sampai, Naruto mengambil jalan pintas yang mengarah menuju bangunan tua.
Saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita tanpa busana yang meminta tolong, tak disangka wanita tersebut berubah menjadi sosok monster mengerikan. Naruto yang sangat ketakutan tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya ia mati karena tusukan dari kuku tajam monster itu. Di saat itulah muncul seseorang dari lingkaran sihir dan membunuh monster tersebut kemudian mereingkarnasikan dirinya menjadi bidak iblis keluarga Sitri. Kejadian tersebut sudah sembilan bulan yang lalu.
Naruto membereskan tumpukan kertas yang sudah ia periksa. Akhirnya, kerjaannya telah selesai. Sinar mentari terlihat berwarna jingga menandakan sebentar lagi akan malam. Tidak ada siapa pun di ruang OSIS kecuali dirinya. Ia menatap sebentar pada kursi mewah di meja utama yang merupakan milik king-nya. Ia lalu menghela napas berat dan keluar dari sana.
Naruto berjalan pelan menuju lapangan belakang yang sering digunakan oleh anggota OSIS untuk berlatih saat semua penghuni sekolah sudah pulang. Naruto melihat dari jauh, dari balik tembok bagaimana mereka sangat serius berlatih untuk menjadi kuat sementara dirinya hanya diberi tugas untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Naruto menyenderkan punggungnya ke dinding, menerawang jauh ke atas langit. Sudah sembilan bulan ia menjadi iblis di bawah naungan Sona Sitri. Saat ia terbangun, Sona menjelaskan tentang dunia supranatural dan alasan kenapa dirinya dibangkitkan menjadi iblis. Selain karena ia telah mati, alasan lain Sona membangkitkan dirinya adalah karena aura Sacred Gear yang ada dalam tubuhnya.
Sejak saat itu Sona berfokus pada dirinya dan melakukan berbagai cara untuk membangkitkan Sacred Gear tersebut. Namun, sampai sekarang ia belum bisa membangkitkannya. Alasan itulah yang membuat Sona perlahan mengurangi perhatiannya pada Naruto.
Remaja tersebut tahu bahwa king-nya kecewa karena ia tidak sesuai harapan. Ia paham betul. Mungkin juga Sona sedikit kecewa dan menyia-nyiakan evil pieces miliknya untuk membangkitkan Naruto. Pemikiran-pemikiran seperti itu membuat Naruto semakin depresi. Ia hanya ingin berguna untuk Sona.
Pusing karena memikirkan hal tersebut, Naruto memutuskan untuk pulang ke rumah.
Keesokan harinya, di pagi hari yang hangat khas musim semi ini Naruto berjalan pelan menuju sekolah. Di jalan ia tidak sengaja bertemu dengan gadis mungil yang merupakan teman satu kelasnya.
"Neko-chan," panggil Naruto pada seorang gadis berambut putih pendek dengan mata berwarna emas.
Sosok yang dipanggil menoleh dengan pandangan tidak suka. Ia kemudian menghampiri Naruto dan berkata, "Namaku Koneko!"
"Aku tahu, tapi aku lebih suka memanggilmu Neko-chan."
Koneko semakin cemberut dan membuang muka lalu berjalan lebih dulu. Naruto berjalan cepat sebentar untuk menyusul Koneko. Mereka berjalan bersama menuju Kuoh Gakuen. Sesekali mereka menanyakan keadaan masing-masing. Maksudnya, menanyakan keadaan sebagai bidak iblis.
Naruto dan Koneko merupakan teman satu kelas. Mereka sama-sama di kelas 1-C. Tempat mereka duduk pun bersebelahan yang membuat mereka akrab secara alami. Yah, meski keduanya merupakan pribadi yang agak pendiam.
Setelah sampai di sekolah, mereka berdua memutuskan berpisah karena Koneko akan ke ruangan klubnya sedangkan Naruto menuju ruangan OSIS. Kemarin Tsubaki menghubunginya untuk pergi ke ruang OSIS sebelum sekolah dimulai. Ada hal penting yang akan dibahas.
Naruto mengetuk pintu sebentar kemudian masuk dan melihat Sona yang sedang duduk di kursinya. Ia mengedarkan pandangan sebentar dan menyadari bahwa dirinya peerage pertama yang sampai.
"Selamat pagi, Kaichou." Naruto menyapa dengan nada agak gugup.
"Pagi juga, Naruto-kun," balas Sona kalem.
Naruto masuk kemudian duduk di sofa. Tidak ada perbincangan antara mereka berdua sampai semua anggota OSIS ada di sini.
Tsubaki yang setia berdiri di samping Sona berdehem cukup keras untuk menarik seluruh perhatian. Mewakili king-nya, Tsubaki memulai rapat.
"Alasan Sona-kaichou dan aku memanggil kalian ke sini adalah untuk memberitahukan bahwa kami menemukan beberapa orang yang memiliki aura Sacred Gear di sekolah ini," kata Tsubaki lalu membenarkan letak kacamatanya yang agak merosot.
Beberapa anggota OSIS mengangguk pertanda bahwa mereka juga dapat merasakan aura itu. Sedangkan Naruto dibuat cukup kaget karena ia sama sekali tidak bisa merasakan pancaran auranya. Hal itu juga yang membuat pandangannya sedikit tertunduk. Menyembunyikan ekspresi kecewanya. Naruto tidak menyadari bahwa Sona memperhatikan dirinya.
Sona angkat bicara. "Kali ini, kami menemukan tiga siswa yang memancarkan aura Sacred Gear. Mereka sama-sama siswa tingkat kedua. Mereka adalah; Hyodou Issei, Saji Genshirou, dan Emiya Shirou."
Salah satu anggota OSIS berambut putih panjang mengacungkan tangan, ia adalah Hanakai Momo. "Kaichou, apa Klub Penelitian Ilmu Gaib tahu tentang hal ini?"
Sona mengangguk singkat dengan ekspresi seriusnya. "Dua diantara tiga siswa ini memiliki aura seperti naga. Kemungkinan mereka memiliki Sacred Gear bertipe naga. Aku dan Rias sepakat untuk memilih salah satu dari mereka. Sedangkan satu siswa lainnya yang tidak memiliki aura naga akan diperebutkan.
"Jadi, jika kita berhasil memiliki salah satu siswa yang beraura naga maka kita tidak boleh mereingkarnasikan siswa beraura naga lainnya, sedangkan kita bebas merebut siswa beraura Sacred Gear biasa," kata seorang gadis berambut coklat panjang dikucir dua. Ia adalah Meguri Tomoe.
Tsubaki dan Sona mengangguk secara bersamaan. Tsubaki kemudian berjalan pelan menuju meja yang terletak di antara sofa. Ia mengambil sesuatu dari saku roknya dan meletakkannya di atas meja. Itu adalah foto dari ketiga siswa pemilik aura Sacred Gear.
Semua anggota OSIS memperhatikan tiga foto itu. Tidak ada di antara mereka yang menunjukkan bahwa mereka mengenal salah satu siswa itu. Hanya saja mereka tahu satu orang, Hyodou Issei yang terkenal sebagai salah satu dari tiga trio mesum Kuoh Gakuen.
Sona bangkit berdiri dari duduknya. "Naruto-kun, Momo. Kalian awasi siswa bernama Emiya Shirou. Tomoe dan Tsubasa awasi Hyodou Issei. Sedangkan aku dan Tsubaki akan mengawasi Saji Genshirou."
Mereka semua mengangguk mengerti. Berselang beberapa saat kemudian bel masuk sekolah berbunyi. Mereka bubar dan pergi menuju kelas masing-masing.
Proses belajar berjalan seperti biasa. Naruto adalah siswa paling pintar di angkatannya. Ia mendapat nilai paling tinggi saat ujian masuk sekolah. Nilai-nilainya juga selalu sempurna. Inilah salah satu kelebihannya, cerdas. Akibat kecerdasannya ia selalu ditunjuk oleh guru jika ada soal di papan tulis. Seperti biasa, ia selalu dapat mengerjakannya dengan benar.
Tak terasa waktu berlalu hingga bel pertanda istirahat berbunyi. Naruto dan Momo sebelumnya telah setuju bahwa mereka akan mencari informasi seputar Emiya Shirou dari orang sekitarnya dan akan berdiskusi di kantin sebelum bel selesai istirahat berbunyi.
Sesuai yang diperintahkan, Naruto segera menuju gedung yang menjadi tempat belajar murid tahun kedua. Beberapa siswi yang berpapasan dengannya merona merah saat melihat wajah Naruto yang terbilang tampan. Hingga akhirnya ia sampai di dekat pintu kelas Emiya Shirou dan melihat seseorang yang ia kenal keluar dari kelas tersebut.
"Kiba Yuuto-senpai?" gumam Naruto dan segera bersembunyi. Ia melihat Kiba tengah berbincang cukup akrab dengan targetnya. Naruto sedikit memincingkan mata dan mengepalkan tinjunya. Jadi, Klub Penelitian Ilmu Gaib telah selangkah lebih baju dari OSIS.
Naruto buru-buru pergi dari sana saat Kiba berjalan menuju ke arahnya. Saat ini tidak mungkin bertemu langsung dengan Emiya Shirou. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke kantin.
Naruto dan Momo terlihat duduk semeja dengan minuman masing-masing. Mereka berdua sedang berdiskusi serius. Beberapa siswi yang melihat Naruto–terutama siswi kelas dua dan tiga–langsung merona merah saat melihat senyum remaja pirang tersebut. Bukan apa-apa, Naruto adalah siswa paling populer di angkatannya.
Bukan hanya kecerdasan saja yang menjadikannya populer, juga karena ketampanannya dan potongan rambutnya yang mirip musisi k-pop. Yap, bagi siswi pecinta boyband asal Korea maka ia akan terpana oleh ketampanan dibalut potongan rambut Naruto.
Momo sedikit risih akan pandangan terpana dari beberapa siswi yang melintas. Ia memukul meja cukup keras dan mendelik sebagai isyarat untuk jangan mengganggu mereka. Alhasil, siswi-siswi tersebut buru-buru pergi.
Setelah menghela napas sebentar, Momo melanjutkan perkataannya. "Jadi, informasi apa yang Naruto-kun dapat?"
Naruto sedikit berekspresi menyesal. "Tidak banyak yang aku dapatkan. Hanya satu."
"Apa itu?"
"Sepertinya Klub Penelitian Ilmu Gaib selangkah lebih maju dari kita. Juga Rias-senpai mengirim Kiba-senpai untuk mengawasi dan mendekati Emiya Shirou-senpai," kata Naruto.
"Yu-Yuuto-kun?" Momo sedikit kaget dan tergagap setelah Naruto mengucapkan nama tersebut. pandangannya beralih ke sembarang arah dan pipinya mulai memerah.
Naruto yang melihat itu memiringkan kepalanya bingung. Sesaat kemudian ia baru tahu akan satu hal. "Oh iya, Momo-senpai menyukai Kiba-senpai."
Momo tersadar dari lamunannya saat Naruto memanggilnya berulang kali dengan cukup keras. Ia kemudian berdehem untuk mengembalikan keseriusannya. "Aku juga mendapat informasi setelah bertanya ke beberapa murid kelas dua kalau Emiya Shirou sering membantu orang lain tanpa pamrih."
"Membantu?" tanya Naruto.
Momo mengangguk. "Mereka mengatakan bahwa Emiya Shirou sering membantu teman-temannya dan beberapa klub. Aku tidak tahu secara pasti, tapi menurut beberapa siswa yang sering minta tolong padanya Emiya Shirou ahli dalam memperbaiki benda."
Naruto mengangguk mengerti. "Mungkin saja Emiya Shirou-senpai sudah membangkitkan Sacred Gear-nya dan menggunakannya untuk memperbaiki benda."
"Mungkin yang Naruto-kun katakan benar, tapi aku baru tahu kalau ada Sacred Gear bukan tipe bertarung. Ini akan menjadi informasi berharga. Oh satu lagi, sepertinya Emiya Shirou sering mengunjungi Klub Penelitian Ilmu Gaib untuk membantu mereka," kata Momo lalu menyeruput minumannya.
Naruto menghela napas. "Kita benar-benar tertinggal." Sesaat kemudian ia baru sadar satu hal. "Bukankah Emiya Shirou-senpai merupakan anggota klub panahan?"
Momo mengangguk. "Benar. Terlebih lagi dia adalah anggota utama saat kejuaraan nasional. Bakatnya dalam memanah sangat hebat."
"Wow, hebat."
Tidak lama kemudian bel pertanda masuk kelas berbunyi. Naruto dan Momo kembali ke kelas masing-masing. Pelajaran berlanjut dengan normal hingga pulang sekolah. Saat ini seluruh anggota OSIS tengah berdiskusi dan saling bertukar informasi mengenai target masing-masing. Hasilnya mereka tertinggal lebih jauh oleh kelompok Rias.
Sona agak kesal karena ia selalu dibelakang Rias. Namun, ia kembali menenangkan dirinya dan memutar otak untuk mencari cara mendapatkan Emiya Shirou. Ya, Emiya Shirou harus ia dapatkan dengan cara apa pun. Saat ini, total kekuatan kelompok Sona berada di bawah kelompok Rias.
"Kerja bagus kalian semua. Tetap awasi target dan juga kelompok Rias. Kita masih belum tahu jenis naga apa yang bersemayam di tubuh Hyodou-kun dan Saji-kun. Berharaplah kita akan mendapatkan yang lebih bagus dari pada kelompok Rias. Sisanya kita akan bersaing untuk mendapatkan Emiya-kun."
"Baik, Kaichou," kata mereka semua dengan kompak.
Setelah itu mereka semua mengerjakan tugas sebagai iblis; menyebarkan selembaran dan membuat kontrak kerja sama dengan manusia. Selama menjadi iblis, Naruto tidak pernah mendapatkan kontrak satu pun. Ia terus bertugas sebagai menyebar selembaran. Namun, kali ini saat ia hendak meminta selembaran yang akan disebarkan Sona berkata bahwa dirinya mendapatkan kontrak.
"Eh, benarkah itu, Kaichou?" tanya Naruto tidak percaya.
Sona mengangguk. "Selamat, Naruto-kun. Kau mendapatkan kontrak pertamamu."
Naruto tersenyum senang. "Aku tidak akan mengecewakan Kaichou!"
Tsubaki kemudian membuat lingkaran sihir teleportasi cukup besar di atas lantai. Naruto berjalan menuju lingkaran sihir tersebut dan berhenti di tengahnya. Ia sudah mendengar rincian kontraknya dari Sona.
"Baiklah, aku mulai. Teleportasi," kata Tsubaki.
Tubuh Naruto bercahaya kemudian menghilang bersamaan dengan lingkaran sihir berwarna biru itu yang juga menghilang.
Naruto tiba-tiba muncul di depan pintu rumah. Ia mengedarkan pandangannya sebentar dan menyadari jika ia sedang berada di pegunungan Kuoh. Rumah ini jauh dari akses apa pun bahkan jalan yang berada di sisinya sangat sepi padahal hari belum malam. Ia juga entah kenapa merasakan aura tidak enak dari rumah ini. Namun, Naruto memberanikan diri untuk mengetuk pintu. bagaimanapun juga ini adalah kontrak pertamanya yang harus berjalan sukses. Semua untuk membuat Sona senang.
Naruto mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban. Ia lalu mencari tombol bel dan setelah ketemu ia memencetnya beberapa kali. Menunggu sebentar hingga akhirnya pintu itu dibuka oleh seseorang berwajah sangar dengan rambut panjang berkelombangnya. Yang membuat Naruto berdigik ngeri selain tatapan tajam pria itu adalah bentuk janggutnya.
"Iblis?"
"Eh? Ah iya! Aku adalah iblis dari peerage Sona Sitri. Namaku Uzumaki Naruto." Naruto memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Masuk!"
"Ba-baik."
Naruto masuk ke rumah itu yang minim akan cahaya. Lampu rumah tidak ada yang dinyalakan, hanya beberapa lilin di berbagai tempat yang menyala redup.
"Tunggulah di ruang tamu."
"Baiklah."
Naruto duduk di sofa empuk. Sesuai permintaan kliennya, ia menunggu. Menunggu. Terus menunggu hingga beberapa belas menit berlalu pria itu datang dengan burung merpati bertengger manis di bahunya. Pria itu duduk di depan Naruto.
"Anoo, aku mendengar dari Sona-kaichou bahwa Anda adalah pelanggan baru. Dan Anda ingin aku yang melayani," kata Naruto sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Itu benar."
"Jadi, apa yang harus saya lakukan?"
Pria tersebut menutup mata sebelum menjawab pertanyaan Naruto. Ia kemudian membuka mata secara perlahan. "Kau adalah anak pertama dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, 'kan?"
Naruto membulatkan kedua matanya. Terkejut karena pria di depannya tahu nama orang tuanya. Ia kemudian mengangguk.
"Namaku Rob Lucci, seorang agen rahasia dari pemerintah Jepang sekaligus mantan anak buah ayahmu, Minato."
"Eh?" Belum sadar akan keterkejutannya, Naruto kembali dibuat terkejut lagi. Di hadapannya sekarang ada pria yang pernah menjadi anak buah ayahnya.
Sebenarnya, Naruto kehilangan ayahnya saat masih kecil. Minato mati saat menjalankan tugas. Ia juga tahu bahwa ayahnya bekerja sebagai agen rahasia pemerintah. Setelah kematiannya, ibu Naruto memutuskan untuk mengganti nama anak-anaknya menjadi marga Uzumaki. Naruto yang saat itu masih polos mengangguk saja saat ibunya bilang seperti itu. Untuk tujuan kenapa marganya diganti ia tak tahu.
"Anda … adalah anak buahnya Tou-san?"
Rob Lucci mengangguk. "Aku di sini untuk menuntaskan janjiku pada Minato."
"Janji?"
"Sebelum kematiannya dia berpesan agar mengajarimu cara bertarung untuk mempertahankan diri. Aku juga akan memberitahumu bahwa pekerjaan kami adalah agen rahasia yang khusus menangani fenomena supranatural. Dengan kata lain kami mengawasi seluruh gerak-gerik makhluk supranatural yang ada di Jepang."
"Organisasi kami bernama Chiper Pol."
Naruto terus dihantam oleh informasi baru. Ia tak menyangka bahwa ayahnya yang selama ini terlihat biasa saja ternyata adalah segelintir manusia yang tahu keberadaan makhluk supranatural. Kepala Naruto sedikit pusing menerima informasi ini.
"Apa organisasi itu seperti Exorcist?" tanya Naruto. Ia menundukkan kepala dan tangannya menyentuh keningnya membuat Rob Lucci tak dapat melihat ekspresi Naruto.
"Tidak. Exorcist milik fraksi surga sedangkan kami murni bentukan pemerintah Jepang," jawab Rob Lucci.
"Paman tadi berkata agen rahasia, 'kan? Terus kenapa Paman malah memberitahukan informasi besar ini kepadaku? Paman juga tahu bukan kalau sekarang aku ini iblis."
Rob Lucci menghela napas ringan. "Normalnya kami tidak boleh memberitahukan ini pada siapapun. Tapi, janji tetaplah janji. Dan aku yakin kau juga tidak akan membocorkan informasi ini."
"Apa alasan Paman sangat yakin jika aku tak akan membocorkannya?" tanya Naruto dengan pandangan serius.
"Karena kau mirip dengan Minato."
Naruto tertegun. Ia tidak bisa berucap. Memang benar ia tidak akan membocorkan informasi ini kepada siapa pun termasuk Sona tanpa diperintah oleh Rob Lucci. Informasi ini menyangkut tentang ayahnya, wajar saja jika Naruto tidak akan membocorkannya pada siapa pun termasuk orang yang paling ia percaya. Karena hal ini juga ia sadar alasan ibunya mengganti marga. Untuk melindungi ia dan adiknya dari musuh ayahnya.
Naruto menghirup napas dalam dan membuangnya perlahan. Menutup mata untuk mengumpulkan keseriuasannya. Sekarang ia sudah kembali dengan mode tenangnya.
Di waktu yang bersamaan, Tomoe dan Tsubasa terlihat mengawasi Issei yang sedang menyendiri di jembatan penyebrangan. Mereka berada cukup jauh dari tempat Issei agar tidak ada yang menyadari. Beberapa saat berlalu, terlihat seorang wanita menghampiri Issei dan berbincang dengannya.
Tomoe dan Tsubasa tentu mendengar apa yang mereka bicarakan. Panca indera iblis lebih tajam berkali-kali lipat dari manusia biasa sehingga mereka bisa mendengar jelas walau jarak antara mereka dan Issei jauh.
Tsubasa menyipitkan mata. "Aura dari wanita itu … dan juga seragam sekolahnya …."
Tomoe mengangguk mengartikan bahwa ia setuju dengan maksud dari perkataan Tsubasa. "Tidak salah lagi, wanita itu adalah malaikat jatuh. Dan seragam yang ia kenakan tidak cocok dengan sekolah manapun di Kuoh."
"Apa yang diinginkan malaikat jatuh?" Tsubasa berpikir sambil menggigit ibu jarinya.
"Aku tidak tahu. Lebih baik kita segera beri tahu Kaichou tentang hal ini."
"Baiklah, ayo."
Emiya Shirou tersenyum gugup saat berhadapan dengan salah satu siswi yang dijuluki Two Great Onee-sama, Rias Gremory. Ia saat ini sedang berada di ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib sesuai permintaan Kiba saat jam istirahat.
"Terima kasih, Emiya-kun," kata Rias dengan sopan dan sebisa mungkin memberikan kesan elegan pada laki-laki di depannya.
"T-tidak usah berterima kasih, Senpai. Memperbaiki pemanas ruangan pekerjaan mudah untukku." Shirou secara tidak sadar menggaruk belakang kepalanya karena terlalu gugup.
"Meski begitu kau sangat membantu. Musim semi baru saja dimulai tapi hawa musih dingin masih terasa. Jadi, karena kau memperbaiki pemanas ruangan ini aku jadi terbantu."
"Begitu, syukurlah." Dalam hatinya, Shirou ingin sekali keluar dari ruangan ini.
Kembali ke Naruto, remaja pirang itu mendengarkan penjelasan tentang ayahnya dengan serius. Rob Lucci mengatakan bahwa ayahnya adalah mantan pemimpin dari Chiper Pol Number 9 atau sering disebut CP9. Saat itu, Minato adalah salah satu dari 10 orang terkuat di organisasinya.
Naruto menundukkan kepala dan melihat telapak tangannya. "Jadi begitu, Tou-san adalah orang yang hebat ya … berbeda denganku," kata Naruto dengan mengecilkan volume suaranya di akhir. Namun, Rob Lucci masih bisa mendengarnya.
"Satu hal. Aku akan bertanya satu hal dan kumohon Paman menjawabnya dengan jujur."
"Apa itu?"
"Siapa yang membunuh ayahku dan dari mana asal fraksinya?" tanya Naruto dengan dingin dan pandangan yang menyiratkan kebencian.
Rob Lucci diam sebentar memandang mata Naruto kemudian menjawab. "Namanya Kokabiel, salah satu petinggi malaikat jatuh."
Mendengar itu Naruto menghela napas lega. "Begitu, syukurlah bukan dari fraksi iblis yang membunuh Tou-san."
Rob Lucci bangkit berdiri dari duduknya. "Sesuai yang aku katakan. Aku akan mengajarimu cara bertarung ala Chiper Pol. Itu juga jika kau ingin."
Naruto bangkit berdiri. "Tentu saja aku akan menerimanya. Aku harus menjadi kuat agar aku diakui oleh Sona-kaichou!"
"Hn. Aku tidak peduli alasan kau ingin jadi kuat. Tugasku hanyalah mengajarimu cara bertarung kami yang disebut Rokushiki."
Bersambung
AN: Yah … entah kenapa saya ingin membuat fic mainstream ala-ala Naruto yang menjadi bidak iblis. Well, mungkin ini bentuk nostalgia saya. Saya harap fic ini menghibur kalian dan menjadi angin baru untuk ffn yang semakin sepi.
Di fic ini saya melakukan sedikit perubahan terhadap susunan bidak Sona. Berikut susunannya"
King: Sona Sitri
Queen: Shinra Tsubaki
Bishop (2x): Hanakai Momo
Rook (2x): Yura Tsubasa
Knight: Meguri Tomoe dan Uzumaki Naruto
Pawn: -
Jangan lupa review, favs, dan foll untuk menyemangati para author. Jayakan kembali ffn tercinta kita.
[17/10/2020]
