Follow!

kookv - bxb - semi baku - school life - twoshoot

.

.

by: Odeee_

.

.

.

Handphonenya berdering beberapa kali namun tidak juga dianggap oleh Taehyung. Karena saat ini gelas diatas nampan yang dia bawa jauh lebih penting bahkan daripada nyawanya sendiri. Benda ini adalah kesayangan ibunya!

"Berikan pada ibu." Ibunya mengambil alih nampan ditangannya dengan buru-buru namun masih sangat hati-hati. "Angkat saja telponmu, itu berdering sejak lima menit yang lalu tanpa henti."

"Terimakasih ibu!"

"Ya ya ya, baiklah cepat jawab panggilanmu." Ibunya berkata dengan kakinya yang terus membawanya menjauh.

"Jimin?!" Ucap Taehyung begitu menjawab panggilannya. "Saat ini aku benar-benar sibuk! Acara ini bahkan belum dimulai dan kondisinya sangat sibuk, semua orang sangat sibuk!"

"Kau benar-benar tidak akan datang?" Terdengar suara Jimin dari seberang dengan khawatir. "Kau akan melewatkannya! Ini adalah pesta yang diadakan setahun sekali!"

"Aku tau oke? Aku sangat tau!" Taehyung memindahkan handphone dari telinga kiri ke telinga kanan. "Aku akan datang saat ibuku melepaskanku, saat ini dia tidak terlihat akan melepaskanku! Dia begitu sibuk dan menyeretku kemana-mana."

"Lalu kami akan menunggumu kalau begitu?" Tanya Jimin ragu.

"Tidak usah menungguku, jika pestanya selesai sebelum aku datang maka selesai, bubar, pulang!"

Taehyung melihat ibunya keluar masuk dengan tergesa membawa beberapa barang, hanya dengan melihatnya saja bahkan dia merasa begitu lelah.

"Baiklah aku benar-benar harus bergegas." Dia berkata tanpa menunggu Jimin menjawab. "Ibuku akan mematahkan kakinya jika aku tidak segera membantunya."

Dia menutup panggilan itu untuk berlari ke arah ibunya.

Hari ini adalah hari yang sangat bahagia dan merepotkan untuknya. Ayahnya mendapat pekerjaan diperusahaan ternama! Ibunya bersikeras untuk merayakannya dengan mengundang beberapa tetangga dan keluarga dekat.

Setelah meja makan terisi penuh dengan masakan, buah dan minuman akhirnya Taehyung bisa mengistirahatkan kakinya. Dia merasa kakinya akan patah!

"Ibu aku benar-benar harus pergi, hari ini juga adalah acara perpisahan seniorku." Taehyung berkata saat dia melihat ibunya juga beristirahat. "Aku belum memberi ucapan selamat pada beberapa senior yang aku kenal, sangat tidak pantas."

Ibunya meliriknya, lalu melirik jam yang tergantung diam pada dinding, "Pergilah saat tamu kita datang, sangat tidak pantas saat mereka datang keluarga kita tidak lengkap."

Tapi ibu mereka semua adalah tamu anda!

Taehyung, ibu dan ayah berdiri didepan pintu rumahnya untuk menyambut tamu yang mulai berdatangan. Handphonenya bergetar beberapa kali dari dalam sakunya.

Saat semua tamu undangan hadir, Taehyung mendekat untuk berbisik pada telinga ibunya, "Ibu bisakah aku pergi sekarang? Sudah tidak ada waktu lagi atau aku hanya akan bertemu dengan piring kotor disana."

"Katakan beberapa kata untuk tamu kita sebelum pergi." Ibunya balas berbisik.

Taehyung mulai memijit kepalanya. Ibunya sangat menghormati tamu-tamunya!

"Selamat malam bibi, paman, aku sangat berterimakasih untuk meluangkan waktu datang dalam acara perayaan ini." Taehyung berkata dengan matanya menatap satu persatu tamu-tamu itu. "Saat ini sekolahku juga tengah mengadakan perpisahan seniorku, aku benar-benar merasa sangat menyesal namun aku harus pergi sekarang atau semua seniorku akan pergi sebelum aku mengucapkan selamat pada mereka."

"Oh astaga, pergilah nak jangan biarkan seniormu pergi tanpa melihatmu." Celetuk salah satu bibi dengan gaun biru.

"Pergilah nak, ingat untuk berhati-hati."

"Kenakan baju hangat, diluar sangat dingin paman hampir membeku."

"Panggillah taxi."

"Terimakasih bibi, paman, aku akan membawa sepedaku. Itu lebih cepat daripada mendapatkan taxi." Taehyung menunduk beberapa kali sebelum berlari ke dalam kamarnya mendapatkan baju hangat.


"Taehyung!"

"Jimin!"

Dengan cepat dia bergerak ke arah Jimin yang saat ini tengah berdiri dengan tangan melambai-lambai. Dia ada diantara beberapa orang yang tidak dikenalnya. Jimin adalah anggota basket sekolah, dia memiliki banyak teman!

Sementara Taehyung hanya tau untuk bergaul dengan teman sekelasnya.

"Duduk disini!" Jimin menepuk-nepuk kursi kosong disebelahnya. "Aku menyiapkan kursi ini untukmu, aku tau kau akan datang!"

Taehyung menunduk beberapa kali saat melewati kerumunan orang. Saat lima langkah sebelum dia sampai di kursinya kaki malangnya tanpa sengaja tersandung dengan suara keras.

"Tidak apa-apa?"

Dia tidak tau siapa yang bertanya, dia hanya mengangguk beberapa kali dan berkata, "Aku baik-baik saja, terimakasih."

"Letakkan matamu pada tempatnya!" Jimin memarahinya dengan suara kecil.

Taehyung adalah orang ceroboh nomor 1 didunia. Dia telah tersandung ribuan kali dan menjatuhkan benda yang ada dalam genggamannya ratusan kali. Itu adalah rekor yang hanya dapat diraih olehnya!

"Dimana makananku? aku sangat lapar sekarang!"

Taehyung keluar dari rumahnya tanpa makan, dan dia telah membuang banyak energi untuk mengayuh sepedanya. Dan dia sangat lapar!

"Aku sudah mendapatkannya untukmu oke!"

Jimin mendorong sepiring penuh makanan dengan berbagai varian. Nafsu makan Taehyung sangat besar, dia harus diberi satu piring penuh!

Melihat tumpukan hidangan diatas piringnya, matanya mulai berbinar seolah puluhan kunang-kunang sedang menari didalamnya.

Jimin berbicara dengan beberapa orang didalam meja untuk membahas banyak hal random, sementara Taehyung masih menunduk untuk makanannya.

Makanan adalah yang utama!

"Jimin aku akan ke toilet." Bisiknya.

Jimin memberinya anggukan singkat.

Taehyung melewati kerumunan orang dengan hati-hati, dia tidak ingin menabrak siapapun! Ada beberapa senior yang cukup akrab dengannya, dia memberikan beberapa salam sebelum berlalu.

Dia membawa matanya berkeliling untuk menemukan beberapa senior kenalannya yang belum diberi ucapan selamat. Dia mengabaikan tangga kecil didekat kolam dan tersandung.

Dia hanya merasa tubuhnya menabrak seseorang sebelum terdengar suara keras dari kolam renang. Seseorang yang baru saja ditabraknya telah jatuh ke dalam kolam!

"Ya Tuhan!" Taehyung begitu panik melihat orang yang jatuh ke dalam kolam.

Semua orang mulai berkerumun ke dekat kolam renang untuk melihat siapa yang terjatuh. Taehyung berlari mendekat dan mengulurkan tangannya pada orang yang saat ini tengah berdiri didalam kolam renang dengan tubuh basah kuyup.

Kolam itu hanya setinggi pinggangnya, namun dia telah tenggelam ke dalamnya dan begitu dia berdiri semuanya telah basah.

"Berikan tanganmu, aku akan membantumu." Taehyung berkata dengan tangan terulur. "Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja, aku tidak melihatmu dan menabrakmu, ini salahku."

Pria didalam kolam mengangkat satu alisnya, namun masih mengulurkan tangannya untuk meraih uluran tangan Taehyung.

Yang sebenarnya sedang terjadi bukanlah Taehyung menarik orang didalam kolam, namun orang didalam kolam itulah yang menarik Taehyung untuk terjun ke dalam kolam!

Dia menarik tangan Taehyung dan meraih pinggangnya sebelum mereka terjatuh ke dalam kolam bersama.

"Ahh-" Jeritan Taehyung tenggelam dalam air.

Dia mengangkat kepalanya dari dalam kolam dan mengatur pernapasannya. Sementara orang yang menariknya juga tengah melakukan hal yang sama.

Taehyung menatapnya penuh tanya.

Mengapa kau menarikku?

Mengapa kau membawaku jatuh juga?

Apakah kau memiliki dendam padaku?

Aku sudah meminta maaf!


Liburan semester berlalu begitu saja, para siswa merasa kurang, mereka membutuhkan liburan satu tahun!

Handphonenya bergetar dari dalam sakunya saat dia tengah berkendara dengan sepedanya menuju ke sekolah. Dia menepi untuk menerima panggilan dari Jimin.

"Tebak apakah kita masih dalam kelas yang sama atau tidak?!" Suara Jimin terdengar sangat antusias dari seberang.

"Kita satu kelas."

"Bisakah kau membiarkanku memberitahu jawabannya? Aku sangat bersemangat hari ini!" Jimin terdengar sedikit kesal, namun dalam beberapa saat kembali bersemangat. "Lalu kita berada dikelas yang sama dengan orang yang yang tidak ingin kau lihat! Tebaklah!"

Taehyung ragu-ragu untuk beberapa saat. Dia merasakan hawa negatif disekitarnya, "Jangan katakan..."

"Benar! Hahahaha!" Jimin tertawa bahagia dari seberang. "Jungkook! Orang yang kau dorong ke dalam kolam!"

"Aku tidak mendorongnya!" Taehyung berkata dengan buru-buru. "Aku tidak sengaja menabraknya! Dan dialah yang menarikku ke dalam kolam dengan sengaja!"

Jimin tertawa untuk waktu yang lama. Dia mulai tenang setelah beberapa detik, "Baiklah cepat datang ke sekolah, aku sudah mengamankan tempat duduk untuk kita berdua."

"Didekat jendela!"

"Didekat jendela!"

Taehyung menutup panggilan itu dan bergegas mengayuh sepedanya ke sekolah. Hari pertama sekolah adalah dimana semua siswa menjadi begitu bersemangat namun enggan dalam waktu yang bersamaan. Beberapa siswa akan mulai memamerkan sepatu baru, tas baru, bahkan sweater baru ketika hari pertama sekolah tiba. Jimin bahkan memamerkan pulpen dan penggaris baru!

Dalam sepuluh menit dia akhirnya tiba di sekolahnya, menuju ke tempat parkir untuk meletakkan sepedanya. Ada banyak siswa datang ke sekolah dengan sepeda dan beberapa akan diantar jemput oleh orangtua mereka, bahkan ada yang berjalan kaki atau dengan bus.

Taehyung yang baru saja melangkah tiga langkah dari sepedanya tiba-tiba mendengar suara dentuman nyaring. Sepedanya terjatuh!

"Ahh! Astaga!" Dia berbalik untuk menegakkan sepedanya dan menontonnya selama 2 menit sebelum benar-benar meninggalkan sepedanya.

Jimin telah mengiriminya beberapa pesan untuk segera masuk ke kelas atau dia akan terlambat. Taehyung tidak bisa untuk tidak berlari di dalam lorong kelas. Dia melewati beberapa kelas, menyapa beberapa mantan teman sekelas sebelumnya yang dia temui.

Saat ini tanpa disadari dia telah mencapai kelas 3 SMA! Waktu berlalu sangat cepat.

Dia begitu terburu-buru hingga tanpa sadar kaki kirinya menabrak kaki kanannya dan terjatuh.

"Damn! Ada apa dengan lantai ini!"

Tas sekolahnya terbanting, itu tertutup begitu rapat sehingga tidak ada barang yang berserakan keluar. Namun saat dia akan mengambil tasnya, dia melihat sepasang kaki panjang melewatinya begitu saja bahkan tanpa berniat untuk membantunya!

Suasana dalam kelas begitu ribut ketika dia masuk, Jimin melambaikan tangan padanya. Dia mengambil posisi duduk menempel pada dinding dengan jendela terbuka, sementara dia menyisakan kursi kosong disebelahnya untuk Taehyung.

"Biarkan aku duduk disana!" Taehyung menghampirinya.

"Tidak akan!" Jimin menolaknya secara langsung. "Aku sudah membiarkanmu duduk diposisi ini selama 2 tahun! Aku tidak akan mengalah sekarang!"

Mereka berdua seolah telah diikat oleh suatu benang tak kasat mata, mereka selalu berada dalam kelas yang sama.

Taehyung menghela napas dan berkata dengan tidak rela, "Baiklah kau mendapatkannya tahun ini."

Dia meletakkan tasnya diatas meja, namun entah bagaimana tas itu terjatuh dari atas meja dengan suara yang cukup keras.

"Ahh! Ada apa dengan tas ini!" Taehyung menggerutu.

Ketika dia menunduk untuk mengambil tasnya, tanpa sengaja matanya menyapu sepatu di depannya. Itu adalah sepatu yang baru saja melewatinya saat dia terjatuh! Sepatu berwarna biru putih, Taehyung sangat mengingatnya.

Dia mengangkat kepalanya dan menatap orang yang duduk didepannya dengan kesal. Saat itu kelas dalam keadaan ramai namun dia masih bisa mendengar jika orang didepannya tengah tertawa kecil. Taehyung berdecih dan menampar tasnya dua kali.

"Jika tas itu memiliki mata, itu akan menangis sekarang." Jimin berkata di sebelahnya.

Taehyung masih nempar tasnya dengan kejam, "Ini kotor, aku membuatnya bersih tas ini seharusnya berterimakasih padaku."

Dua detik setelah pelajaran selesai Taehyung dan Jimin berlari dengan sangat kencang menuju kafetaria seolah seekor anjing galak tengah mengejar mereka untuk menggigit pantat mereka. Bahkan dengan kecepatan itu, saat mereka tiba di kafetaria, itu sudah memiliki antrian panjang. Apakah kumpulan orang itu memiliki sayap untuk terbang ke kafetaria? bagaimana bisa begitu cepat!

"Bibi tolong tambahkan irisan daging rebusnya." Taehyung berkata dengan begitu sopan.

Namun bibi kafetaria memarahinya, "Taehyung ini kau lagi, semua orang mendapatkan masing-masing satu sendok irisan daging dan aku sudah memberimu lebih tapi kau masih menginginkannya lagi? Perut apa yang kau bawa itu sebenarnya kenapa makan begitu banyak!"

Taehyung mendesah, "Bibi aku sedang dalam masa pertumbuhan, aku harus memakan daging yang banyak."

"Tidak ada daging untukmu lagi, pergi.. pergi.."

"Bibi sangat kejam, bagaimana aku akan bertambah tinggi jika aku memakan begitu sedikit daging."

Jimin yang mengantri disebelahnya mulai tidak sabar, dia mendorong Taehyung menjauh, "Aku akan memberimu daging milikku, cepat menyingkir atau aku akan membalik nampanmu!"

Mereka memilih meja secara acak, hanya dimana mereka melihat meja kosong mereka akan duduk, tidak seperti mereka memiliki meja tetap untuk dikuasai.

"Berikan daging yang kau janjikan!" Taehyung berkata begitu mereka duduk.

"Apakah kau babi? kau makan begitu banyak!" Namun Jiimin masih memindahkan irisan dagingnya ke dalam nampan Taehyung.

Jimin melakukan diet begitu ketat, dia makan untuk porsi balita setiap harinya.

Saat Taehyung memiliki makanan didepannya dia akan mengabaikan segalanya. Termasuk orang yang saat ini tengah memperhatikannya dari meja yang posisinya hanya 2 meja dari posisinya saat ini.

"Bisakah kau menjadi kenyang hanya dengan melirik Taehyung makan?"

Jungkook mengangkat sudut bibirnya sebelum mengalihkan pandangannya dari Taehyung, "Aku hanya ingin melihat kekacauan apa yang akan dibuat olehnya saat ini."

"Dia sangat tekun saat makan, tidak akan membuat kekacauan." Jung Hoseok berkata saat dia menatap Taehyung yang saat ini tengah menunduk dengan makanannya mengabaikan Jimin yang terus berbicara didepannya. "Dia makan begitu banyak, namun masih memiliki badan sekecil itu."

Dalam beberapa saat mereka melihat Taehyung terbatuk dan menelan air seolah jiwanya berada di dalam airnya.

Jungkook tidak bisa untuk tidak tertawa saat melihatnya, "Lihat, dia mengacaukannya."

"Kau sangat menikmatinya." Hoseok berkata saat dia melihat Jungkook tertawa dengan gembira.

Jungkook akhirnya menghentikannya tawanya, namun dia masih mengembangkan senyumnya, "Sebelumnya dia menjatuhkan sepeda, lalu terjatuh dilorong, lalu menjatuhkan tasnya dikelas dan sekarang dia terbatuk karena makan begitu banyak."

Hoseok menatapnya dengan tidak percaya, "Bagaimana bisa kau mendapatkan semuanya?"

"Aku hanya secara kebetulan berada dibelakangnya dan duduk tepat didepannya." Dia kembali menatap Taehyung yang saat ini tengah menepuk-nepuk dadanya dengan mulut yang terus mengunyah. "Cute."

Mendengar itu Hoseok yang tengah makan mulai terbatuk.


Siang itu saat periode pembelajaran kedua, Taehyung mengangkat tangannya untuk meminta ijin ke toilet. Guru didalam kelasnya memberinya lambaian tangan sebagai persetujuan.

Ketika dia keluar dari bilik, dia melihat teman sekelasnya yang duduk tepat didepannya tengah mencuci wajah diwastafel. Taehyung ragu-ragu namun masih berdiri di sebelahya untuk mencuci tangannya. Dia melirik Jungkook saat tangannya memutar keran air, dia tidak tau kenapa menjadi gugup, dia memutar keran itu dengan cepat sehingga airnya menyembur keluar membasahi sebagian baju dan wajahnya.

"Ah! Ada apa dengan keran ini!" Taehyung berkata dengan kesal saat dia mematikan kerannya.

Jungkook yang berdiri disebelahnya mulai tertawa.

Dia berbalik untuk menatap Taehyung yang saat ini berdiri didepannya dengan wajah dan baju basah. Jungkook tertawa untuk waktu yang lama sebelum mengeluarkan tissu dari dalam sakunya. "Gunakan ini untuk mengeringkan wajahmu."

Setelah ragu beberapa saat akhirnya Taehyung menerima uluran tissunya, "Terimakasih untuk tissunya dan.. untuk menertawakanku dengan begitu bahagia."

Jungkook kembali terkekeh sebelum benar-benar berhenti tertawa, "Maaf aku tidak bisa menahannya."

"Tidak masalah." Taehyung berkata saat dia mengangkat poninya untuk menyeka dahinya. "Ini salahku karena menjadi begitu lucu."

Jungkook tersenyum dan mengangguk, "Ya, kau sangat lucu."

Dan juga sangat tampan.

Dia memperhatikan bagaimana Taehyung menyeka wajahnya dan mengibaskan poninya yang basah.

Setelah beberapa saat dia menyadari jika baju itu tidak akan kering dengan cepat jadi dia bertanya, "Tidakkah kau merasa tidak nyaman dengan pakaian basah? gantilah dengan baju olahraga."

"Ah, aku membawa pulang baju olahragaku untuk dicuci." Taehyung berkata dengan sedih. "Siapa yang tau aku akan tersiram air saat ini."

"Gunakan milikku, aku mempunyai dua seragam olahraga didalam lokerku."

Taehyung menyipitkan matanya untuk menatap Jungkook, dia berkata dengan curiga, "Tiba-tiba menjadi begitu baik?"

Jungkook kembali tertawa, "Aku memang selalu baik."

Keduanya menuju ke loker untuk mendapatkan baju olahraga sebagai ganti seragamnya yang basah. Jungkook tidak memiliki banyak barang didalam lokernya begitu dia membukanya. Hanya ada sepatu basket dan dua baju olahraga.

"Lokermu sangat bersih."

Jungkook mengulurkan baju olahraganya pada Taehyung saat dia berkata, "Apakah lokermu kotor?"

"Bukan berarti milikku kotor, lokerku juga bersih." Dia menerimanya dan mulai melepas satu persatu kancing bajunya.

"Apa yang kau lakukan?!' Jungkook menatapnya dengan mata membulat.

Taehyung masih melepas kancing bajunya, "Apa lagi yang bisa aku lakukan? melepas pakaianku."

"Apakah kau memiliki rasa malu?!"

"Ada apa?" Taehyung menghentikan gerakan tangannya dan mulai menatap sekitar. "Apakah ada gadis yang mengintip disini?"

"Tidak ada yang mengintip." Jungkook berkata. "Hanya bisakah kau menjadi begitu terbuka seperti ini? Aku berdiri tepat didepanmu!"

"Apa masalahnya?" Taehyung kembali melepaskan kancing bajunya. "Hanya seorang pria yang sama sepertiku."

Jungkook tercengang untuk beberapa saat, kemudian mulai terkekeh, "Baiklah lakukan apapun."

Mungkin dia terlalu banyak berpikir, hanya saja dia tidak akan melepas pakaiannya didepan orang yang baru dikenalnya. Dia bahkan tidak ingin melepas pakaian didepan team basketnya saat mereka berganti pakaian. Dia merasa tidak nyaman melakukannya. Hanya didepan Hoseok dia bisa dengan santai melepas pakaiannya.

Mereka telah berteman untuk waktu yang lama.

"Bajumu begitu besar." Taehyung berkata saat menyadari baju itu begitu longgar untuk tubuh kurusnya.

"Itu karena kau begitu kurus."

"Aku tidak kurus, hanya saja baju ini memang sangat besar." Dia melirik Jungkook sebelum berkata, "Kau.. ternyata gemuk."

"Aku tidak gemuk, ini adalah ukuran badan ideal.'

"Siapa pembohong yang mengatakan itu ideal?!" Taehyung meraung dengan tidak percaya.

"Semua orang mengatakannya! Semua orang setuju!" Jungkook ikut meraung tidak ingin kalah.

"Mereka semua pembohong!"

"Berhenti bicara dan kembalikan bajuku! aku tidak jadi meminjamkannya padamu!"

Taehyung membulatkan matanya, "Bagaimana bisa kau menjadi orang seperti ini? Sepuluh menit yang lalu kau meminjamkannya dan sekarang kau menagihnya kembali?!"

"Bagaimana denganmu?" Jungkook balas menatapnya dengan mata membulat. "Seseorang meminjamkan baju untukmu dan kau menghinanya!"

Taehyung terdiam beberapa saat, merasa jika apa yang Jungkook katakan adalah kebenaran.

"Maaf oke?!" Dia masih berteriak.

"Oke!" Jungkook ikut berteriak.

Berikutnya mereka tertawa bersama untuk waktu yang lama.