Serius unwaltz
Haikyuu!! Haruichi Furudate
Summary : Cerita singkat tentang perasaan pemuda bermarga Miya kepada seorang setter dengan netra segelap malam.
Warnings : Sho-ai, typos.
Rate : T
Genre : Fluff, General
Pairing: Miya Atsumu/Kageyama Tobio
Saya tidak mengambil keutungan dari penulisan fic ini kecuali kepuasan pribadi. Fanfiksi ini ditujukan hanya untuk hiburan semata.
.
.
.
A/N: halo, sudah lama ternyata saya enggak mampir di sini. Untuk merayakan FID tahun ini saya membawakan oneshot tentang dua setter kesayangan. Selamat membaca!
.
.
.
Atsumu memandang pemuda di hadapannya, terlihat serius sembari mencatat sesuatu pada buku kesayangannya. Sebuat pemikiran yang cukup liar terbersit di otaknya, ia tersenyum sembari berkata;
"Mau jadian?"
Pemuda yang sedari tadi sibuk sendiri itu menghentikan gerakan tangannya, menatap Atsumu sebentar lalu melanjutkan kegiatan menulisnya sembari berujar,
"oke," dengan santainya.
Keheningan menyelimuti keduanya; Atsumu jelas kaget, ia kira ucapannya tadi akan jadi angin lalu. Ia jelas tidak siap akan jawaban singkat pemuda yang kini masih sibuk dengan dunianya.
Atsumu menghela napas, netranya fokus ke pemuda di hadapannya. Ia membuka mulutnya,
"yang tadi serius," lanjutnya. Masih menatap sang lawan bicara dengan intens.
Pena diletakkan beriringan dengan suara buku yang ditutup menjadi tanda bahwa pemuda yang sedari tadi diajak berbicara— Kageyama Tobio namanya—telah mengarahkan seluruh fokusnya pada sang pemuda yang lebih tua.
Atsumu merasa terhisap ke dalam netra segelap malam milik pemuda dihadapannya, manik karamelnya terpaku pada Kageyama seakan tak bisa terlepas. Ia baru tersadar saat pemuda yang ditatapnya menghela napas pelan, sebelum berkata,
"kalau kamu serius, gak ada alasan buat aku untuk main-main."
Pemuda tersebut lalu tersenyum tipis.
Atsumu mengeraskan rahangnya, ia mendengar jawaban pemuda di hadapannya. Jelas, sangat jelas walaupun suara pemuda itu sangat lembut saat menjawab pertanyaannya.
Setelah bertahun-tahun menjadi sosok senpai, rival, serta teman baik yang membuat perasaan sang pemuda bermarga Miya tersebut semakin tumbuh, akhirnya pada hari ini perasaannya terbalas juga.
Tuhan, Atsumu ingin menangis sekarang.
.
.
.
Fin.
