Kedua eksistensi pemuda itu tidak pernah saling diam. Salah besar jika kalian menyangka mereka berdua sangat akur hingga tidak pernah adu mulut—apalagi jotos.
Karena faktanya, kedua kakak dan adik itu—Halilintar dan Taufan, selalu bersitegang. Tanpa kenal letih, baik tentang siapa yang membeli bahan makanan dan siapa yang memasak, siapa yang akan menggunakan kamar mandi lebih dulu, siapa yang akan pergi dan siapa yang akan tinggal, dan masih banyak 'siapa' dan 'siapa' lagi.
Tapi, sejauh ini mereka hanya berbagi tempat bernaung. Mereka tidak berbagi kehidupan.
•
•
"It's Cold Outside"
presented by: tasyacarmello
Boboiboy belongs to MONSTA
•
•
"Kak Hali," sesosok pemuda bermata biru safir nampak merana ketika mengucapkan nama itu. "Maksudmu aku harus membatalkan janjiku, begitu?"
Ia bertanya dengan nada tidak percaya.
Ayolah, ini adalah malam Minggu. Malam keramat yang akan sangat berharga bagi para orang-orang yang sudah memiliki pasangan!
Seperti dia, contohnya.
Sialnya, ia tidak bisa langsung beranjak keluar sekarang, sebab Kak Hali—Kakaknya, berdiri dengan gajenya di tengah-tengah jalan untuk menghalangi dirinya menuju pintu rumah.
"Kau sendiri bukannya sudah janji untuk memasak makan malam? Jangan bilang kau lupa, Taufan." Pertanyaan itu dijawab retorik. "Lagipula, katanya hari ini akan ada pemadaman listrik di beberapa daerah."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada super kecil—ia, Taufan, sampai harus benar-benar fokus agar bisa mendengarnya.
Halilintar biasanya tidak masalah untuk urusan memasak, berhubung selama ini memang Taufan terus yang bertugas membeli bahan-bahan makanan dan lainnya.
Jadi, satu-satunya alasan logis mengapa Kakak tercintanya itu melarangnya pergi, adalah ... Karena nanti malam mungkin akan ada pemadaman listrik?
Apa masalahnya? Kakaknya takut ditinggal sendirian?
Jangan bercanda! Alasan itu bahkan terdengar jauh lebih tidak logis untuk Taufan.
Taufan melirik jam tangannya, pukul delapan lewat lima belas. Bagus, berkat Kakaknya, ia sudah terlambat lima belas menit sekarang. Tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja.
Ia tidak akan tertipu dengan mudahnya!
"Acara ini hanya untuk aku dan Yaya!" Yang lebih muda secara tidak sadar menaikan nada suaranya satu oktaf.
"Kenapa kau selalu menghalangi kencanku, Kak Hali!"
Pertanyaan berubah menjadi tuduhan yang membuat situasi kian panas. Halilintar terpaku, memandang adik satu-satunya dengan marah. Ia menggeser tubuhnya perlahan, memperlihatkan pintu rumah bercat putih yang sebelumnya terhalang tubuhnya.
"Kita bisa pergi bertiga," cetus Halilintar, yang meskipun dengan datar, tidak mau mengalah. "Kau, aku, dan Yaya. Kita bertiga bisa pergi ke restoran, contohnya—"
Taufan menarik napas dalam, menahan gejolak hasrat untuk menimpuk kepala Kakaknya dengan televisi. 'Mana ada kencan seperti itu, Kakaaak!'
"Astaga naga, Kakakku yang kucintai dan kuhomati. Aku dan Yaya itu kencan! Bukannya pergi ke taman bermain!" Si penyuka biru itu memekik gemas. Jika saja ia bisa, pasti dirinya sudah menggigiti tembok semen rumahnya saking gregetnya.
Tolong lah, tidak mungkin pergi bertiga seperti itu disebut 'kencan', kan? Yang ada Halilintar akan terus mengawasi mereka setiap detiknya.
Tentu Halilintar tak akan mengerti arti semua ini. Kakaknya itu, konon sudah menjalin hubungan dengan buku-bukunya yang ia rawat dengan sepenuh hati di dalam kamarnya.
Ia tidak akan mengerti Taufan yang sungguhan sudah menjalin hubungan dengan wanita. Mungkin ia memang tidak tertarik—bukannya ia homoseksual, oke. Halilintar hanya masih merasa belum siap saja.
Halilintar akhirnya berdehem kecil. "Jam berapa kau kira-kira kembali?" Mata Taufan nampak menyipit curiga. Kakaknya masih berbalut jubah mandi, sementara dia sudah berpakaian teramat wangi dan rapi dari kepala hingga kaki.
Kakaknya tidak akan benar-benar nyempil di acara kencannya, kan?
Pemuda yang kencannya tertunda itu mendengus. Percuma rasanya bila ia melanjutkan debat dengan Kakaknya. "Entahlah. Mungkin akan lebih lama, karena aku sudah terlambat."
Halilintar menarik napas—dan tanpa diduga, ia membuka pintu di belakangnya. Tangannya meraih sebuah benda yang semula tersampir di atas sofa ruang tamu.
Sebuah syal warna hitam, yang selalu dipakainya selama musim dingin.
Yang Taufan tahu, itu adalah benda berharga keduanya setelah buku.
"Pakai. Di luar dingin,"
Halilintar melemparkan syalnya ke wajah Taufan, sebelum menarik pintu itu hingga terbuka sepenuhnya.
Taufan mengerutkan dahi, keheranan. Ia menatap syal itu lamat. "Bukannya ini—"
"Diam, dan pakai saja."
Hei, Kakaknya tidak sedang marah sampai-sampai menjadi out of character, kan?
Pemuda itu akhirnya mengangguk kaku—dan segera menggunakannya, enggan berlama-lama ditatap begitu intens oleh Kakaknya.
"U-Um ... Makasih." gumamannya terdengar begitu canggung.
Halilintar membuang pandangannya ke samping. "Jangan pulang terlalu malam. Akan repot jika aku harus menjemputmu ke luar," Ia mendorong punggung Adiknya keluar dari rumah.
Dan menutup pintu berbahan kayu itu hingga menyebabkan suara 'brak' yang keras.
Tapi, bukan itu yang membuat Taufan tetap terdiam dengan posisi masih menghadap pintu. Melainkan kalimat yang Kakak satu-satunya katakan tepat sebelum furnitur berbahan kayu itu membatasi mereka.
"Aku kesepian."
.
.
Halilintar tidak pernah ikut campur dalam urusannya, memang. Tapi, untuk beberapa hal, pemuda itu akan berperilaku layaknya naga yang melingkari kastil untuk melindungi seorang tuan puteri agar tidak keluar dari jarak pandangnya.
Seperti melewati pintu rumah, sendirian.
Bukan karena Halilintar egois sehingga berkali-kali mencoba mencegahnya melewati pintu. Itu terlalu konyol. Bukan karena ia ingin mematikan masa mudanya dengan melarangnya pergi ke berbagai tempat sendirian jika sedang tidak dalam kondisi darurat.
Serta, bukan karena Kakaknya tidak ingin ia menjalani hidup seperti orang normal.
Kakaknya hanya tahu kalau apa yang ada diluar sana tidak seperti apa yang Adiknya bayangkan. Halilintar tahu, dan itu adalah alasannya untuk tidak membiarkan Adiknya tahu—setidaknya tidak secepat ini.
Dan yang paling terutama, jika ia keluar dari rumah artinya ia meninggalkan Halilintar sendirian.
Taufan mengerti semua tingkah aneh yang sering dilakukan Kakak tsunderenya itu.
Halilintar hanya paranoid. Padahal ia tidak perlu berpikir sebanyak itu di usianya yang ke-dua puluh satu.
Halilintar hanya kesepian.
"Aku tidak punya teman. Satu orang yang menemaniku sudah cukup."
Kalimat itu, yang akan keluar bila Taufan menyinggung tentang mengapa Halilintar tidak pergi bersenang-senang keluar sehingga pemuda kuliahan itu juga bisa melakukan hal yang sama.
Taufan tidak tahu apa yang membuat Kakaknya menjadi seperti ini. Dingin, suram ... Dan kesepian. Sementara ia masih bisa pergi keluar untuk menemui teman-temannya.
Taufan memang tidak tahu, tapi ia tidak berharap tahu. Biarlah apa yang telah terjadi pada Kakaknya tetap menjadi rahasia terdalam dari sosok panutannya itu. Taufan tidak peduli.
Baginya, Halilintar tetaplah Halilintar.
Pemuda bertampang datar yang sering mencari masalah dengannya—ralat, tepatnya ia sendiri yang mencari masalah duluan—beradu mulut dengannya hampir setiap wajah mereka bertatapan, seorang pekerja keras yang terlalu berusaha untuk menghidupi diri mereka.
Dan seorang Kakaknya. Yang sungguh-sungguh di sayanginya.
Taufan tersenyum di tengah dingin yang terasa membekukan pipinya. Tangannya bergerak mengaitkan syal hitam Halilintar di lehernya.
Hangat. Halilintar benar, di luar memang terasa dingin.
Langkah kakinya menapak cepat di trotoar. Tepat sebelum ia berjalan melewati tikungan dua meter dari rumah mereka, netra safirnya mendapati gorden putih yang ada di lantai kedua rumah mereka tertutup.
Dengan celah sedikit.
"Aku tidak akan pergi lama, Kak Hali," bisikan itu terdengar lirih, seiring dengan senyumnya yang mengembang.
"Di luar dingin. Aku tidak mungkin menghabiskan malam di cuaca begini, huh."
Benar, selama ini mereka hanya berbagi tempat bernaung.
Dan itu membuat keduanya mengerti perasaan masing-masing.
•
•
Fin.
Catatan kaki: bromance yang amat sangat gagal—
