Setelah Pertarungan Berakhir
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
#ShuuTou
Mereka baru saja menyelesaikan delving, ketika Shimazaki Touson meminta Tokuda Shuusei menemaninya mengambil air di dapur. Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam tanpa menyambut satu pun komentar. Pemurnian shinshokusha di hari ini memang merupakan agenda paling padat, di mana seminggu terakhir hal itu sudah sering terjadi. Bahwasanya mungkin saja, keduanya bahkan terlalu lelah untuk mengeluh.
"Mau minum juga enggak? Kita delving dari pagi, lho." Lalu beristirahat sejenak, sebenarnya pula seharusnya sudah selesai, tetapi mereka dipanggil lagi akibat kekurangan orang. Shuusei menyetujui melalui anggukan. Lucunya lagi Touson selaku penawar kebaikan, minumnya malah lebih sedikit dibandingkan Shuusei yang sampai bergelas-gelas.
"Di luar keliahatan diam. Di dalam sebenarnya capek banget, ya?"
"Serangan mereka membabi buta. Baru satu buku dimurnikan, ada lagi yang tercemar. Pekerjaan kita tidak akan habis rasa-rasanya." Gelas kosong diletakkan pelan di atas meja. Tarikan napas dari Shuusei begitu berat, seolah-olah bebannya dapat transparan kapan saja
"Mengerikan, tuh. Kesempatanku mengisengimu makin menipis."
"... Bisa-bisanya malah itu yang kaupedulikan. Tetapi Shimazaki, apa kira-kira kau memikirkan yang kupikirkan?"
Pandangan mereka bertemu. Obsidian bersanding dengan hijau daun yang mula-mula berpikir, sejurus kemudian tatapan keduanya sama. Sedikit-banyak Touson memahami maksud Shuusei. Pasti mengenai firasat di mana serangan gila-gilaan milik shinshokusha ini, menandakan sebuah epilog yang segera menjemput proyek alkemis. Kemenangan para sastrawan akan menyudahi pertarungan panjang. Kedamaian kembali pada literasi selama-lamanya.
"Mungkin benar, shinshokusha akhirnya memutuskan mengerahkan seluruh tenaganya. Ini adalah pertarungan akhir."
"Awalnya kupikir semua ini tidak memiliki ujung. Siapa sangka setelah dijalani dengan sangat lama, tahu-tahu mau berakhir." Seulas senyum menghias bibir Shuusei. Dapur tempat mereka memasak secara bergiliran, kreasi-kreasi aneh yang dipaksakan mempunyai nama inovasi, atau obrolan kecil yang terjalin ketika tanpa sengaja dua bungou bertemu, tentunya tetap Shuusei rindukan membuatnya di satu sisi merasa sendu.
"Setelah pertempuran berakhir, Shuusei mau melakukan apa?"
"Bukannya kita akan menghilang, setelah semua ini berakhir?"
"Iya, ya, pertanyaanku salah berarti. Kalau begitu, apa yang akan Shuusei perbuat sebelum kita menghilang?"
Cukup lama Shuusei mendiamkan pertanyaan Touson. Masalahnya adalah Shuusei turut bertanya-tanya, apakah waktu yang walaupun sedikit dapat mereka ambil; dijadikan kesempatan emas? Tentu saja Shuusei pun ingin bersama teman-temannya untuk terakhir kalinya. Berfoto menggunakan kamera Touson bahkan selalu merupakan ide yang bagus, meski tak bisa dilihat lagi atau hari di foto tersebut, tidak akan pernah diceritakan.
"Menurutmu kita mempunyai waktu untuk sedikit menciptakan kenang-kenangan?" Merasa buntu, pada akhirnya Shuusei bertanya. Tiba-tiba Touson memandang Shuusei lumayan lama, duduk di samping pemuda lempeng itu, lalu tindakannya terhenti.
"Kita punya, kok."
"Apa yang akan Shimazaki perbuat?"
"Sederhana saja, Shuusei. Aku yang duduk di sampingmu adalah jawabannya."
Kemudian Touson menggenggam sebelah tangan Shuusei. Kepalanya ditidurkan pada bahu Shuusei yang mendadak melupakan pegal, dan spontan Shuusei mengelus-elus rambut Touson. Ucapan selamat tidur dibarengi harapan agar Touson bermimpi indah, lantas Shuusei bisikkan selembut mungkin. Samar-samar pula ia meletakkan maaf pada dua cangkir yang ditelantarkan, karena Shuusei mau menggendong Touson ke kamarnya dulu–beres-beresnya belakangan.
Tentu ia memahami maksudnya, barulah Shuusei dapat tersenyum seperti ini; menampilkan sebuah garis lengkung yang dibandingkan
Sebelum, bahkan setelah mereka menghilang, artinya Touson akan selalu berada di samping Shuusei, bukan? Bahkan Touson adalah waktu yang lebih berarti dibandingkan sebuah 24 jam, karena dia milik Shuusei, sehingga apa pun pasti sempat dilakukan, dan terjadi. Semua dapat ada, selama di samping Touson bermakna Shuusei tinggal di pikiran Touson, begitu pun sebaliknya.
"Aku pun akan berada di sampingmu, Shimazaki."
Touson kini tidur di ranjangnya, sedangkan Shuusei pergi juga untuk mengistirahatkan diri. Pertarungan yang sengit masih menunggu mereka.
#AkuTou
Berpapasan dengan Shimazaki Touson saja sudah buruk, apalagi harus berdiam di ruangan yang sama membuat Akutagawa Ryuunosuke terus-terusan ditegur Ougai Mori-sensei. Penulis Rashomon itu jadi terlalu banyak bergerak soalnya, padahal jarum obat harus segera menyuntik Akutagawa.
Masalah terbesar Akutagawa adalah, ia risi terhadap Touson yang keseringan memperhatikan Akutagawa. Dengan bangsatnya bahkan Touson mengejek, Akutagawa ini takut jarum suntik. Makanya Akutagawa marah-marah padahal dia begini gara-gara Touson. Mereka sendiri bisa sama-sama ditinggalkan di ruang kesehatan, sebab keduanya terluka lumayan parah. Shinshokusha makin keroyokan yang mana ini digandangkan sebagai akhir pertempuran.
"Sebentar lagi kita berpisah, lho. Bukankah lebih baik kalian akur?" tegur Mori-sensei untuk ke sekian kalinya. Mendengar itu Akutagawa kian cemberut, sedangkan Touson justru mengibas-ibas tangannya di udara.
"Justru sebaliknya, Sensei. Akutagawa-kun pasti senang kalau aku menghilang."
"Ya ampun. Tidak baik seperti itu, Akutagawa-kun. Meski kau sering diganggu, dan itu menyebalkan, sekarang anggap saja hal tersebut merupakan bentuk cinta dari Shimazaki-kun."
Usai berujar positif, Mori-sensei meninggalkan keduanya untuk urusan yang lain. Pintu sampai ditutup rapat-rapat, seolah-olah pertengkaran mereka yang gampang kambuh adalah rahasia paling rahasia. Iris aquamarine Akutagawa spontan menatap sinis wajah tanpa dosa yang Touson pajang. Apalagi kalau bukan memperkarakan yang barusan?
"Apa maksudmu berkata seperti tadi, sih? Mori-sensei jadi menegurku terus-terusan."
"Hooo~ Jadi aku salah, dan sebenarnya Akutagawa-kun tidak mau aku menghilang? Tsundere banget." Sejenak Akutagawa terdiam. Mulutnya sempat terbuka untuk meladeni Touson, kata-kata tetapi mengikuti rasa bingung, jadilah ia membisu. Terus berulang membuat Touson lama-kelamaan cekikikan.
"Maksudku itu, menggunakan kata menghilang bukankah keterlaluan?"
"Terus apa, dong? Kita akan menghilang, karena sebelumnya kita sudah meninggal. Hatimu begitu lembut ternyata."
Sebenarnya Touson tidaklah salah, bahwa mereka ini menghilang ketika sebelumnya sudah meninggal. Sementara soal hati Akutagawa yang lembut, sayang sekali ia ogah menggubrisnya apabila itu datang dari Touson.
Sebagai reinkarnasi jiwa penulis, ketika eksistensi mereka tiada maka itu hanya berarti tiada, tanpa boleh memiliki banyak makna. Kata yang paling menggambarkan situasi ini memang adalah menghilang, sebab semuanya saling meninggalkan tanpa ada yang ditinggalkan. Tak satu pun akan menetap untuk mengenang, ataupun mengisahkan perjuangan mereka kepada dunia mahaluas.
Tentu saja Akutagawa menyayangkan. Walaupun Touson amat menyebalkan dengan kegigihannya yang ingin mewawancarai Akutagawa, kata-kata Akutagawa bahkan kerap dipelintir habis-habisan membuat Akutagawa menjebak diri sendiri, dan diisengi oleh Touson merupakan kenang-kenangan yang buruk, apakah semua itu harus menghilang? Apakah memang pantasnya menghilang?
"Benar. Kita akan menghilang. Aku juga tak menemukan kata yang lebih pas." Mana mungkin Akutagawa naif dengan berkata, ia tidak ingin semuanya menghilang. Apalagi dia berada di hadapan Touson, dan memperlihatkan kelemahan di depan orang yang kita benci bukankah aneh?
"Nah. Akutagawa-kun senang, kan, kalau aku menghilang?"
"Pastinya, sih."
"Ya sudah jangan sinis kayak tadi. Lagi pula aku tidak sakit hati atau apa pun. Malah aku makin bersemangat untuk mengejarmu di saat-saat terakhir ini."
"Aku senang, tetapi di satu sisi aku menghargainya, semua keisengan yang telah kaulakukan itu, juga sifat mengesalkanmu. Menurutku setidaknya inilah yang bisa kuperbuat, karena kita akan menghilang, dan berharap kita tetap bertahan sangatlah mustahil."
Konklusi itu membuat Touson tersenyum simpul. Ia menyukainya, lebih-lebih Akutagawa yang tampak dewasa sewaktu mengatakannya.
#Buraiha
"Guys. Karena sebentar lagi pertarungan selesai, kita enggak melakukan sesuatu, nih, buat kenang-kenangan terakhir?"
Buraiha tengah berkumpul di kamar Dan Kazuo, saat Sakaguchi Ango menanyakannya kepada Oda Sakunosuke, Dazai Osamu, dan tentunya Dan selaku pemilik ruangan. Keempatnya turut menikmati waktu istirahat yang sebisa mungkin dibuat santai, sebelum dipanggil lagi untuk menggantikan bungou yang lain. Shinshokusha memang kian ugal-ugalan, merembak menodai buku-buku, sehingga banyak yang percaya sebentar lagi segalanya usai.
"Kita, kan, sudah mengobrol. Memangnya itu bukan melakukan sesuatu?" tanya Dazai heran. Mumpung bisa Ango pun menjitak kepala Dazai, karena kesempatan seperti ini bukankah makin langka?
"Kayak membuat cerita bareng-bareng, atau apa, kek. Masak-masak juga boleh banget. Ini adalah terakhir kalinya kalian bisa memakan sup korupsi buatanku, lho."
"Kari buatanku juga. Pasti kalian ingin memakannya, kan?"
"Bagus, tuh. Bagaimana kalau karimu dan sup korupsiku kolaborasi, Odasaku? Biar Dazai sama Dan bahagia."
Ide tersebut membuat Dan kecut. Sesopan mungkin ia menolak agar Ango tidak tersinggung, sedangkan Dazai malah blak-blakan berkata, sup korupsi Ango sekadar memperburuk kari buatan Oda. Jadilah mereka bertengkar seperti biasanya, lalu Oda berusaha menenangkan. Sementara Dan memikirkan cara supaya perhatian Ango maupun Dazai teralihkan.
"Benar juga, bagaimana kalau kita mengatakan permohonan terakhir kita? Siapa tahu akan dikabulkan."
"Bagus, Dan! Aku menghargaimu, dan kekuatan tersembunyimu yang seharusnya jangan malu-malu." Entahlah apa artinya. Selama Dan merasa dipuji, lebih baik ia sekadar tersenyum walau kikuk. Lagi pula Ango memang begini, di mana sosoknya selalu menyumbangkan kesenangan yang unik.
"Permohonan terakhir, eh? Kalau begitu aku mau kita reinkarnasi lagi, tetapi bukan sebagai sastrawan. Kurasa seru jika kita menjadi sahabat di satu sekolah, lalu menjalani kehidupan modern."
"Kurasa keinginanku sama dengan Odasaku. Pokoknya asalkan kita berempat bertemu lagi, maka enggak masalah."
"Setuju. Jadi bagaimana denganmu, Dazai? Kau ... apa kau masih ingin hidup di kehidupan selanjutnya?"
Suara Dan bergetar ketika menanyakannya kepada Dazai. Mau bagaimana lagi mengingat pada Buraiha, Dazai merupakan satu-satunya yang meninggal akibat bunuh diri. Dazai belum merespons. Sebenarnya ia dilema, karena sulit dipungkiri hidup di perpustakaan ajaib ini bersama ketiga temannya, sangatlah menyenangkan. Namun, di satu sisi Dazai masih takut. Bagaimana jika terulang lagi, di mana mungkin dia harakiri atau melompat dari gedung, jika bukan menenggelamkan diri di Kanal Tanagawa?
Dia takut cerita yang dijalaninya bukanlah seperti di perpustakaan, melainkan sewaktu Dazai masih penulis. Dazai tak menginginkannya terulang dalam versi lain–menjalani kehidupan yang memalukan sebagai manusia gagal, di mana Dazai sekadar mampu berpura-pura menyerupai manusia hingga akhir hayatnya.
Lagi pula dunia di mana kehidupan menghuni adalah apa, selain perjuangan yang sia-sia?
Dazai tidak ingin menjadi badut lagi, dan inilah yang membuatnya ketakutan itu. Bagaimana jika ia hanya berharga sebagai manusia gagal, makanya udara diembuskan kepada raga Dazai? Meskipun ia memiliki Dan, Oda, serta Ango, bahkan ketiga sahabatnya tak dapat menolong Dazai. Dia ini terlalu rendah, dan kekurangan makna.
"Gampang, kok, gampang. Bagaimana kalau kita semua reinkarnasi jadi sup korup–", "Bunga saja. Kita akan menjadi empat bunga cantik yang mekar di taman," sela Oda yang memang sengaja. Toh salah Ango juga, mengapa ia begitu absurd?
"Ah. Menjadi bintang di angkasa pun tidak masalah. Malahan keren banget menurutku." Dan sampai ikut-ikutan. Dengan antusias Ango dan Oda setuju, lalu mereka mengajukan ide-ide lain asalkan bukan manusia.
Asalkan setelah Dazai menderita akibat Tuhan, mereka bukanlah penderitaan Dazai yang selanjutnya.
Pada akhirnya sebagai yang pertama kali meninggalkan teman-temannya, tentu Oda sedih. Bahkan di saat-saat terakhir dalam hidupnya yang kian fana, Oda justru mengirimkan dukacitanya kepada Dazai. Anak itu membutuhkan Oda, tetapi suka atau benci Oda harus berakhir. Padahal setidaknya Oda ingin diizinkan untuk memastikan, Dazai akan berakhir dengan cara yang baik. Karena kunci sebenarnya dari menjadi manusia adalah ...
ia mati sebagai manusia, dan mati sebagai manusia bukanlah bunuh diri, melainkan mati karena harus mati.
Sementara Ango, meskipun ia sedih dan tetap mengomentari kematian Dazai dengan kata-kata pedas–sahabatnya ini malah menjadi pengecut yang cengeng, kalah gara-gara meninggal, padahal pada hakikatnya manusia itu yang terpenting hidup–kekecewaan tetaplah lebih besar. Ia tidak bisa menampar, kemudian membanting Dazai guna menyadarkan Dazai bahwa Oda benar. Padahal pasti tinggal sedikit lagi Dazai menjadi manusia yang diidam-idamkannya.
Lalu Dan ... mengenai Dan yang sampai-sampai rela menemani Dazai bunuh diri, kemudian menggubah, "Dazai Osamu: The Novel", mana mungkin ia berharap Dazai mati lagi. Dan bahkan tak pernah ingin menuliskan Dazai, sebenarnya. Ia maunya menggenggam tangan Dazai, mengajak dia jalan-jalan, lantas mengobrolkan apa pun karena bersama Dazai, segalanya pasti berubah seru.
"Duh ... kalian kenapa, deh? Menjadi bunga atau bintang angkasa, memangnya kita bakalan saling mengenal?"
"Pasti, dong! Kan kita sudah pernah bertemu sebelumnya, dan saling mengetahui kehidupan masing-masing. Mau menjadi apa pun itu, intinya enggak terpisahkan." Ucapan dari Ango membuat Dazai terharu. Mungkin setidaknya, ia bisa menjanjikan ini kepada mereka, daripada terus-terusan dihibur yang agak membuatnya sebal–habis dia seperti anak kecil di mata ketiga sahabatnya.
"Aku enggak tahu, apakah sebenarnya sekarang ini aku mendukung keinginan Ango atau menolaknya. Namun, apabila di kehidupan selanjutnya aku harus hidup lagi ... doakan aku itu karena aku berubah pikiran, dan lebih ingin bersama kalian dibandingkan takut menderita."
Mereka bertiga merangkul Dazai erat-erat. Keinginan itu akan diungkapkan juga sebagai permohonan terakhir setidaknya.
Tamat.
A/N: Aku bikin ini, karena pernah bahasa sama elkan soal dia yang mau bikin, apa yang kira2 para bungou lakukan setelah shinshokusha dikalahkan? Awalnya mau ada akukume, tapi gak jadi dan diganti sama buraiha. Akukume itu porsi elkan. Aku bikin pair lain aja makanya. Gak ada ketentuan khusus soal penentuan pair. Aku bikin aja yang sekiranya idenya cocok sama pair apa.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic selanjutnya~
