Mencintaimu Dalam Diam.
By Frigg Nevia 07
Disclaimer : Bleach by Tite Kubo.
Genre : Hurt/Comfort and Romance.
Rating : T.
Warning : One shot, OCC, bahasa campur aduk, typo (s), fluff.
Pairing : ByaRuki.
A/n : Fic ini tercipta dari kalimat, "Aku hanya ingin engkau mengetahui kalau aku mencintaimu di sini." Nah dari situ aku puter otak dan terciptalah fic ini.
Happy Reading Guys….
•Nevia Mempersembahkan•
Summary : "Di ulang tahunku kali ini, aku hanya ingin kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya."
Rukia PoV
'Hari ini ulang tahunku, aku harap Nii-sama mengingatnya,' pikirku. Aku tahu itu benar-benar naif.
Aku bangun dari futon-ku lalu segera bersiap, setelah itu aku segera pergi ke ruang makan.
Saat aku berjalan dengan cerianya, tiba-tiba aku melihat Nii-sama sedang berjalan di depanku. Jarak kami cukup jauh, jadi aku berlari dan kembali berjalan saat sudah dekat dengannya.
"Ohayougozaimasu, Nii-sama," sapaku.
"Hn," balasnya dingin seperti biasa.
Aku hanya diam berjalan mengekor padanya. Setiap kali kami berjalan bersama aku selalu berada di belakangnya, melihat punggungnya yang tegap. Sebenarnya aku selalu berpikir, 'Kapan aku akan berjalan sejajarnya, kapan aku tidak hanya melihat punggungnya, kapan aku bisa melihat wajahnya saat berjalan.'
"Rukia," panggilnya membuatku tersentak.
"H-hai?" jawabku kaget.
"Pergilah ke dunia manusia setelah ini," perintahnya membuatku bingung.
"Eh!? Untuk apa?" tanyaku bingung.
"Misi," jawabnya singkat.
Selanjutnya hening mengisi perjalanan kami ke ruang makan.
x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:
Aku sampai di dunia manusia dan seperti biasa aku langsung muncul di kamar Ichigo.
"Ichigo," aku memanggilnya, tapi tak ada jawaban.
Aku mencoba mencarinya di seluruh ruangan yang ada, tapi kosong. Bahkan keluarga Ichigo pun tak ada, ke mana mereka pergi?
Aku menghiraukan tentang perginya Ichigo dan keluarganya, aku segera membuka soul pager dan melacak lokasi hollow yang harus kubunuh. Ralat, bukan kubunuh tapi kumurnikan.
Aku segera pergi ke tempat hollow itu berada dengan kepalaku yang penuh pikiran. Aku ingin mengatakan isi hatiku yang sebenarnya.
Nii-sama, apa kau tahu, sebenarnya aku sangat mencintaimu. Walau keangkuhanmu itu tak bisa diubah namun aku tetap mencintaimu. Semenjak aku masuk ke dalam keluarga Kuchiki, aku tidak tahu apa kau benar-benar menerimaku, kau sangat dingin padaku, kau bahkan tak mau melirikku sedikitpun saat bicara.
Nii-sama, aku selalu melakukan yang terbaik untukmu, apa kau tahu itu?Walau aku tahu kau tidak akan melihatku, melirikku, bahkan mengatakan sesuatu padaku. Tapi tetap saja aku ingin melakukan yang terbaik jika itu menyangkut dirimu.
Demi apa pun itu, pada saat aku akan dieksekusi dan kau masih tak mau melirikku sedikitpun, itu sangat menyakitkan. Setelah itu Ichigo mengajarkanmu tentang keberadaanku di dunia ini, tapi sikapmu padaku pun tak berubah sama sekali. Dingin dan tak peduli.Walau begitu, aku tetap mencintaimu, bukan cinta sebagai adik tapi seorang wanita. Aku mencintai sampai sekarang, mencintaimu dalam diam. Kuberharap bisa tersampaikan semua isi hatiku ini.
Groaarrhh! Suara raungan menggema-gema saat aku berhadapan dengan hollow itu.
"Mae, Sode no Shirayuki," rapalku dan shikai-ku pun terlepas.
"Some no mai, tsukishiro." Seketika itu hollow tadi membeku dan hancur berkeping-keping.
~~~
Aku kembali ke rumah Ichigo dalam bentuk gigai. Aku membuka pintu rumah Ichigo dan aku sangat kaget saat melihat kejutan di balik pintu itu.
"Happy birthday, Rukia," ucap semuanya serentak.
Di siang itu aku hampir menangis menerima kejutan yang mereka buat.
"Rukia-san, selamat ulang tahun," ucap Yuzu—adik Ichigo dengan rambut coklat—dengan menghampiriku. Dia membawakanku sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna hijau dan pita merah di tengahnya, itu sangat indah nan berharga bagiku.
"Rukia-san, selamat untuk hari ulang tahunmu." Sekarang Karin—adik Ichigo dengan rambut hitam—yang mengucapkannya padaku.
"Arigatou," kataku dengan menatap dua orang di hadapanku. Mereka tersenyum senang lalu berjalan membelakangiku.
Aku melihat lurus ke depan dan mendapati ayah Ichigo dan Ichigo yang sedang memegang sebuah kue ulang tahun.
"Rukiaaa-chaann! Selamat ulang tahun!" ujar ayah Ichigo dengan nada yang riang dan ingin memelukku tapi aku sedikit bergeser ke kanan sehingga tidak terkena pelukannya.
Ayah Ichigo terjatuh dan aku meminta maaf. Itu semua hanya akting. Setelah selesai urusanku dengan ayah Ichigo, aku beralih ke Ichigo.
"Ini untukmu," kata Ichigo dengan menyodorkan kue ulang tahun berbentuk kelinci.
"Arigatou, Ichigo, ini sangat berharga," balasku.
"Ya, ngomong-ngomong kau belum bayar uang sewa," celotehnya membuatku kesal.
"Bahkan di hari ulang tahunku kau sangat menyebalkan," balasku kesal, "Aku hanya sebentar di sini, setelah ini akan pulang."
"Tumben, jarang sekali seperti ini," cemooh Ichigo.
"Nii-sama memintaku mengambil misi dadakan," jelasku padanya.
"Oh, jadi karena ulah Byakuya," katanya.
"Bisakah kau sesekali sopan padanya?" kesalku.
"Ngomong-ngomong tentang Byakuya, bagaimana hubungan kalian?" tanyanya tak menghiraukan teguranku tadi.
"Masih sama saja," jawabku sedikit sedih.
"Sudahlah jangan bersedih, ayo rayakan saja ulang tahunmu," katanya menyemangatiku.
Aku tersenyum lalu merayakan ulang tahunku di rumah Ichigo—sebentar.
x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:
Karena hari sudah menjelang sore, aku kembali ke Soul Society dan ingin melaporkan tugasku pada Nii-sama, tapi Renji mengajakku untuk ikut dengannya.
Saat aku sampai di depan ruangan kerjanya, dia membukakan pintu untukku lalu mempersilakan aku masuk, dia mengikutiku masuk lalu menutup pintu kembali.
Dia berjalan ke arah mejanya dan mengeluarkan sesuatu dari lacinya.
"Rukia, selamat ulang tahun, maaf telat mengucapkannya karena tadi kau bertugas aku jadi tidak bisa mengucapkannya lebih awal," katanya dengan menyodorkan sebuah kado ke arahku.
"Arigatou, Renji," ucapku dengan menerima kado itu.
"Sebelum itu, tiup lilin dulu," ujar Renji dengan mengeluarkan sebuah lilin kecil yang ada di atas piring kecil. Lilin itu berwarna merah sama seperti warna rambutnya. "Make a wish, Rukia," pintanya dengan menyodorkan lilin di depan wajahku, "Baru tiup lilinnya."
Aku menurutinya, aku menutup mataku lalu mengucapkan keinginanku di dalam hati.
'Aku mau isi hatiku tersampaikan pada orang yang sangat kucinta,' batinku lalu setelah itu membuka mataku dan meniup lilinnya.
"Semoga keinginanmu terpenuhi," katanya bersemangat lalu tersenyum tulus.
Aku merayakan ulang tahunku dengan Renji dengan menghabiskan waktu berkeliling Seireitei.
x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:
Tanpa sadar hari sudah menjelang malam dan aku harus segera pulang tapi aku tidak langsung pulang melainkan ke kuburan kakakku terlebih dahulu. Sebenarnya jika aku telat pulang, bisa-bisa Nii-sama menghukumku, tapi aku tak peduli padanya.
"Nee-chan, maafkan aku," ucapku lirih di depan kuburan Hisana-nee, "Aku salah telah mencintai Nii-sama, suamimu. Seharusnya aku tak mencintainya, seharusnya aku tak menghianatimu, seharusnya aku tetap menganggapnya kakakku. Aku salah telah mencintai kakak iparku sendiri. Mohon maafkan aku. Tapi Nee-chan, bolehkah aku tetap mencintainya? Hanya mencintainya saja, tak perlu menjadi kekasih atau lebih, aku hanya ingin dia tahu kalau aku mencintainya. Saat dia tak bisa melupakan dirimu, saat dia terus mencintaimu dengan tulus, saat itulah aku juga terus mencintainya dalam diam. Nee-chan, hanya itu yang ingin kukatakan di hari ulang tahunku."
Aku menumpahkan isi hatiku di depan makam Hisana nee-chan. Aku ingin pergi tapi mengingat tentang kata-kataku tentang Nii-sama membuatku lemas, tanpa sadar air mataku meluncur keluar dari mata.
Aku menangis di depan kuburan Nee-chan sampai kepalaku menyentuh tanah kuburan Nee-chan.
"Nee-chan, aku mencintai Nii-sama, rasanya sangat sakit saat dia tak mengetahui itu. Sangat sakit saat dia tak mau melihat atau melirikku saat bicara," isakku. Semakin lama tangisanku semakin tak terkendali.
Aku segera menenangkan diriku, karena jika tidak aku tidak akan pulang. Aku tidak mau membuat Nii-sama khawatir saat melihatku pulang dengan keadaan seperti ini. Setelah ketenanganku kembali, aku segera melangkahkan kaki-ku pergi dari kuburan Hisana-nee.
~~~
Aku pulang dan itu sangat terlambat, bahkan aku melewati jam makan malam. Aku sudah siap jika akan menerima hukuman dari Nii-sama, tapi kenapa yang terjadi tidak sesuai dengan bayanganku.
"Tadaima," ucapku saat pintu gerbang Mansion Kuchiki terbuka. Aku melihat seseorang sudah menungguku di depan pintu.
"Kenapa kau pulang terlambat?" tanya Nii-sama dingin.
"M-maafkan aku, Nii-sama. Aku tak bermaksud untuk pulang terlambat, tadi aku merayakan ulang tahunku di rumah Ichigo jadi, aku pulang terlambat," jawabku berbohong.
"Masuk," balasnya dingin lalu segera membalik badannya dan berjalan menjauh. Aku mengikutinya masuk lalu saat jarak kami tidak terlalu jauh, dia berhenti dan mengatakan sesuatu, "Cepatlah membersihkan dirimu lalu ke ruang makan. Aku menunggumu."
Mataku sedikit terbelalak, bukankah jam makan malam sudah lewat? Aku sempat berpikir untuk menahan lapar semalaman karena melewatkan jam makan malam, tapi apa maksud Nii-sama tadi?
Aku menurutinya, aku segera pergi ke kamarku untuk membersihkan diri dan segera pergi ke ruang makan.
Sesampainya di sana, aku melihat Nii-sama sudah duduk dengan tenangnya. Aku masuk dan duduk di hadapannya seperti biasa, aku mengambil peralatan makanku lalu menunggu aba-abanya untuk memulai 'makan malam' ini.
x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:x:
Kami menyelesaikan makan malam kami lalu aku ingin kembali ke kamarku tapi Nii-sama memanggilku.
"Rukia, ikut aku ke kamarku," katanya.
"Hai." Mau tidak mau aku menurutinya.
Kami sampai di depan kamar Nii-sama dan saat dia membuka pintu kamarnya, betapa aku kagum dengan hal yang ada di dalamnya, aku selalu ingin memasuki kamar Nii-sama walau hanya sekedar melihat-lihat saja.
Aku mengekor mengikutinya masuk. Sampai di dalam dia menuju ke sebuah lemari dan mengambil sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang, untuk ukurannya sekitar 9 cm x 7 cm. Dia memberikannya padaku dan aku menerimanya.
"Nii-sama ini…?"
"Selamat ulang tahun."
Aku membuka kotak itu dan di situ terdapat banyak kartu ucapan.
Rukia, kau adalah matahariku, kau selalu menghangatkanku. Arigatou.
Sikapku selalu dingin dan tak peduli, tapi saat di dekatmu, aku selalu tak bisa berhenti ingin mengatakan banyak hal.Setiap kata yang ingin keluar dari mulutku terasa membeku saat melihat tatapanmu. Tatapan yang kubenci darimu, tatapan kesedihan.
Kau mentari dan rembulanku. Setiap pagi aku berharap kau menyambutku dengan sinar hangat, sedangkan saat malam hari aku ingin kau terus menerangi malamku yang gelap.
Memikirkanmu sudah menjadi kebiasaan bagiku, memimpikanmu adalah canduku, dan mencintaimu sudah menjadi konsekuensi tetap bagiku.
Hatiku sudah mencintaimu, saat kucoba untuk berhenti mencintaimu, rasanya sangat menyakitkan.
Kau sama pentingnya seperti jantungku, jika kau tidak ada maka aku pun juga tidak ada.
Hidupku akan terasa hampa saat kau tidak ada, seperti langit malam tanpa bulan dan bintang.
Musim semi mungkin adalah jenis zanpakutou-ku dan musim dingin adalah jenis zanpakutou-mu tapi, bagiku kau adalah musim semi sedangkan aku musim dingin yang kau gantikan dengan bunga bermekaran.
Kau adalah kebangganku, harga diriku, dan hidupku.
Rukia, kau nafasku, kau detak jantungku, kau denyut nadiku, tanpamu aku tak akan bisa hidup.
Rukia, aku mencintaimu lebih dari apa pun, setelah kepergiannya hanya kau yang ada dipikiranku, maka dari itu tak pernah terlintas satu orang wanita pun dalam pikiranku.
Hari ini adalah hari ulang tahunmu, maukah kau mendengarkan aku mengatakan….
Belum selesai aku membaca kata terakhir, dia sudah mengatakan sesuatu yang membuat aku menatapnya dengan mata melebar.
"...aku mencintaimu."
"Nii-sama…?" aku bingung harus bagaimana aku bereaksi, dalam pikiranku masih tersebesit kalau mungkin saja dia berbohong atau bercanda.
"Aku mencintaimu Rukia," ucapnya sekali lagi, "Karena itu maukah kau menjadi matahariku yang selalu menghangatkanku? Maukah kau menjadi rembulanku yang selalu menerangiku? Maukah kau menjadi menjadi udaraku yang selalu setia disetiap hembusan nafasku? Maukah kau jadi detak jantungku yang terus berdetak untukku? Maukah kau jadi denyut nadiku yang selalu mengalir di seluruh tubuhku? Dan maukah kau jadi kekasihku yang selalu ada untukku?" tanyanya panjang lebar.
Jantungku berhenti sesaat saat mendengarnya, bukan hanya jantungku tapi aku merasa waktu pun ikut berhenti.
Air mata mengalir dari mataku, mungkin inilah pertanyaan terindah yang pernah kudengar selama hidupku.
"Rukia," panggilnya dan aku bisa melihat tatapannya yang khawatir.
"Nii-sama aku ingin menerimanya," jawabku dengan menutup wajahku yang penuh air mata, "Ta-tapi bagaimana dengan Hisana-nee?"
"Dia tidak akan marah, dia merestui hubungan kita," jawabnya dengan tersenyum.
'Oh Kami-sama, itu adalah senyuman terindah yang pernah ada di dunia ini, ralat tiga dunia.'
"Bagaimana bisa?" tanyaku dengan terisak.
"Kalau dia tidak merestui hubungan kita, maka aku tidak akan mendengar semua perkataanmu di makamnya tadi," jawabnya membuatku kaget.
Jadi saat aku mengoceh tidak jelas tadi dia mendengarkannya, sungguh memalukan. Sempat terbesit dalam pikiranku kalau aku harus lari dari sini sekarang.
"Well Rukia, mendengar jawabanmu tadi, membuatku yakin kalau kau menerimaku," katanya. Aku meneguk ludah berat, demi apa pun sepertinya benar-benar harus pergi dari kamar ini.
Tangisku yang baru saja berhenti beberapa saat lalu sekarang terganti oleh tawa canggung, "Ja oyasumi, Nii-sama," kataku dan berniat menggunakan shunpo setelah ini tapi sebuah tangan yang kurus tapi kuat menahan lenganku.
"Mau ke mana? Kita belum selesai berbicara, Rukia," katanya datar.
"S-sudah malam N-Nii-sama, h-harus tidur," balasku dengan tergagap dan tak berani menatapnya.
"Tidak adil bila kau tak merayakan ulang tahunmu bersamaku juga," bisik Nii-sama membuatku merinding.
"Nii-sama kumohon lepaskan," mohonku pelan dan pipiku mulai bersemu merah.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Rukia," balasnya lalu mengangkat daguku dan memaksaku menatap matanya.
Dunia ini tampak berputar, rasanya pusing sekali. Tatapannya membuat seluruh isi kepalaku menghilang.
"Tidak untuk selamanya," bisiknya lalu dalam sekejap aku merasa sesuatu bertemu dengan bibirku.
Aku berkedip beberapa kali sebelum tersadar kembali.
"Nii-sama," ucapku dengan mendorongnya sedikit sehingga bibir kami berpisah.
"Apa itu sebuah penolakan?" tanyanya dengan mengangkat alisnya.
"Tidak, bukan begitu," jawabku cepat, "A-aku be-belum siap untuk itu," lanjutku memberi alasan.
"Kalau begitu biar kulatih supaya siap," katanya membuatku terbelalak.
Dia kembali menciumku dengan lembut. Uhh rasanya aku ingin pingsan sekarang. Setelah dia memisahkan bibir kami, aku mengambil napas sebanyak yang kubisa. Rasanya aku membutuhkan setabung oksigen—mungkin lebih—sekarang juga.
"Rukia, kau selamanya milikku, 'kan?" tanyanya dan spontan aku mengangguk. Dia tersenyum kembali lalu aku bisa merasakan napasnya di leherku.
"Nii-sama apa yang kau lakukan?" tanyaku berusaha tak gugup.
Dia hanya memberiku senyuman lalu aku bisa merasakan dia menghisap leherku. Rasanya ada getaran aneh yang menjalari tubuhku.
"Oyasumi," ucapnya mengembalikan kesadaranku.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali sebelum menyentuh leher di mana bibir Nii-sama bersinggah tadi.
'Dia benar-benar memberikanku kissmark?!' batinku kaget dan setelah itu mungkin aku tak bisa mengingat apa pun selain kegelapan.
Yap aku tak sadarkan diri setelah mengetahui dia memberiku kissmark. Sungguh naifnya diriku, tapi aku senang bisa mendengar kata-kata indah malam ini, di hari ulang tahunku.
Ternyata bukan hanya aku yang mencintainya dalam diam, tapi….
…Dia juga mencintaiku dalam diam.Kami berdua saling mencintai dalam diam.
(Esok pagi)
"Mmh," aku mengernyit karena sinar matahari mengenai wajahku. Aku langsung tersadar dan otomatis mengingat kejadian semalam yang samar. Aku sempat berpikir kalau kejadian semalam itu hanya mimpi jadi, aku segera ke kamar mandi dan melihat leherku yang sudah terdapat tanda kemerahan di sana, itu adalah bukti kalau semalam bukan mimpi.
Hatiku sangat bahagia walau pipiku bersemu merah tapi yang pasti aku sangat bahagia karena ini. Aku segera bersiap dan keluar dari kamar untuk menuju ruang makan.
Seperti biasa aku melihat Nii-sama sudah berjalan duluan. Aku menghampirinya lalu menyapanya seperti biasa, sebisa mungkin aku bersikap biasa dan seolah tak terjadi apa pun semalam.
"Ohayou, Nii-sama," kataku memberi salam dan berharap dia membalas sapaanku dan sifatnya yang dingin sedikit melembut, tapi harapan itu sirna saat melihat sikapnya.
"Hn," seperti biasa dia hanya bergumam untuk membalas sapaanku. Kebahagian yang awalnya memancar dariku langsung sirna dan tergantikan dengan kemuraman, aku menundukan kepala kecewa.
'Kukira sifatmu akan berubah setelah semalam, tapi ternyata tidak,' batinku kecewa.
"Selamat pagi, Mentariku," bisik seseorang dengan suara yang begitu familiar, aku tahu suara itu, aku tahu. Suara Nii-sama, tapi saat aku mengangkat kepalaku dia sudah ada di hadapanku dengan membelakangiku.
'Apa dia menggunakan shunpo tadi?' tanyaku membatin, 'Ah lupakan saja itu, tapi yang pasti aku tahu dia mengucapkannya dengan lembut.'
"Rukia," panggilnya dingin seperti biasa.
"H-hai?" dan seperti biasa aku kaget dengan panggilan itu.
"Temui aku di kantor divisi 6 saat jam makan siang," perintahnya dingin.
"Untuk?" tanyaku bingung.
"Menyelesaikan urusan kita semalam," jawabnya dengan memalingkan wjahnya ke arahku. Aku bisa melihat dia tersenyum.
Mendengar itu aku langsung salah tingkah dan lebih memilih untuk membuang muka.
"Pakai ini," ujarnya dengan melemparkan syalnya ke arahku. Aku sempat menatapnya bingung dan dia dengan angkuhnya kembali memalingkan wajahnya ke depan dan menatap lurus ke depan. "Aku tak mau tanda itu dilihat oleh orang lain," katanya dan aku paham maksudnya.
Dengan cepat aku memakai syalnya dan aku bisa merasakan aroma sakura yang selalu ada di sekelilingnya.
"Hanya aku yang boleh melihat itu, karena kau hanya milikku," bisiknya dan sekali lagi pipiku bersemu merah karenanya.
"Cukup Nii-sama," gumamku malu-malu, "Jangan buat aku pingsan lagi," lanjutku pelan dan aku bisa mendengar dia terkekeh.
Selanjutnya seperti biasa hening menyelimuti kami tapi kali ini berbeda, aku merasa bisa mengetahui apa yang dia ingin katakan padaku. Kami seperti melakukan telepati.
Kami-sama, arigatou ne, telah mengabulkan permintaanku di hari ulang tahunku. Sekarang aku dan Nii-sama mengetahui isi hati kami masing-masing, aku bahagia untuk itu. Dan mulai sekarang aku tahu kalau dia selalu melihatku walau aku tak menyadarinya. Dia selalu melihat apa yang aku lakukan dan dia selalu melihat cintaku padanya.
Kami tak akan lagi saling mencintai dalam diam.
.
.
.
FIN
Okay everyone, bolehlah ya sedikit curhat. Pertama aku gak bisa move on dari anime Bleach, yang kedua otakku error jadi, gak bisa lancar buat fic, dan yang ketiga, lagi galau karna tugas dan fandom Anime Bleach Indonesia SEPI. Oh ya, mohon maap jika Nevia masih melakukan kesalahan dalam fic ini ;), maklum orang gak bisa tapi males belajar.
Moga bisa menikmati fic GaJe ini, btw minta review-nya.
