Takeo merasa ada sesuatu yang berat di bahu kanannya ketika membuka mata.
Hal yang pertama ia lihat masihlah kolam yang airnya tenang—sama persis ketika ia memutuskan duduk sebentar (yang mana akhirnya ia malah jatuh tertidur)—kemudian langit tanpa awan yang dibubuhi jingga cerah. Saat ia kemari langit masih berwarna biru—itu beberapa waktu setelah jam makan siang, kalau tidak salah. Sepertinya ia ketiduran terlalu lama dan tidak ada yang menemuinya selama itu.
Eh, tapi ...
Kembali menyadari bahwa ada yang terasa berat di bahu kanannya, Takeo menoleh. Sepasang iris merahnya disambut sesuatu sewarna langit musim panas di siang hari—birunya cerah juga lembut. Ketika diperhatikan lebih lanjut, pemiliknya yang mengenakan setelan dominan putih-biru menyandarkan kepalanya di bahu Takeo, kedua matanya tertutup dan tangan kirinya menggenggam tangan kanan si Arishima sulung.
Itu Ton. Itu adiknya.
"Jadi siapa yang harus kita bangunin, Shiga? Arishima-kun atau Satomi-kun?"
"Arishima saja, kurasa—lagian kejutannya 'kan buat Satomi."
"Eh, iya juga ..."
Suara obrolan dari belakang membuat Takeo menolehkan kepalanya sedikit. Dari arah suara itu berasal, dua orang pemuda yang amat dikenalinya tengah berjalan ke arah bangku yang ia duduki. Mata salah satu dari mereka tak sengaja bersitatap dengan Takeo, dan ia menunjukkan raut girang.
"Ah, Arishima-kun udah bangun!"
"Eh, beneran?" Yang lainnya turut menoleh. Mendapati seorang Arishima Takeo sudah terbangun dari tidurnya menunjukkan wajah seolah berkata, "Oke, pekerjaan berkurang satu."
Kepada Shiga dan Musha yang kemudian menghampirinya, Takeo mendekatkan jari telunjuknya pada bibir—isyarat untuk tidak berisik, karena Ton di bahunya masih tertidur.
"Kalem, Arishima-kun, kami nggak akan berisik~" Musha terkekeh kecil.
"Tapi aku nggak nyangka dia malah bakalan ikut tidur, sih." Shiga menggaruk tengkuk.
Takeo mengerutkan dahi. "Hm?"
"Jadiii, rencana awalku sama Shiga itu, mau bikin kejutan buat nanti malem—kebetulan Satomi-kun bilang mau mengajakmu jalan-jalan ke luar, jadi kurasa rencana kami nggak bakal ada halangannya." ujar Musha. Kedua iris yang senada dengan helai-helai rambutnya itu menatap Satomi yang tertidur. "Terus, kami ke sini sebentar buat ... hmm, Arishima-kun kayaknya nggak perlu tahu. Tapi kami nemu kalian berdua di sini, Satomi-kun tidur di bahunya Arishima-kun kayak sekarang!"
Shiga mengangkat bahu. "Kayaknya dia nggak tega bangunin kamu, jadinya malah ikut tidur di sini," sahutnya.
"Tunggu ..." Takeo menyadari ada yang aneh. "Rencana? Kejutan? Nanti malem?"
"Iiih, Arishima-kun lupaa?" Musha mengerjap-ngerjap.
Takeo memiringkan kepala.
"Empat belas Juli, Arishima-kun—ulang tahunnya Satomi-kun, lho!"
"..." Gantian Takeo yang mengerjap-ngerjap.
Tunggu, sekarang sudah tanggal 14?
"Eh- oh, benar ..." Takeo mangut-mangut. Ia jarang memperhatikan tanggal, namun mana ia sangka 14 Juli bakal datang secepat ini.
"Kami baru ngerencanain kejutannya tadi pagi, sih—kamu 'kan ada jadwal delving, jadinya nggak tahu," kata Musha lagi.
"Kami udah bikin kue, sih—tinggal ngedekorasi tempat, kalau kamu mau ikut. Berhubung anaknya di sini, gimana kalo kita bikin di kamar dia aja?" Shiga melirik Ton sejenak, sebelum kembali pada Takeo.
Musha menoleh pada kawannya. "Eh, tapi sebentar lagi malam, lho—masa Satomi-kun ditinggal di sini sendirian?!"
Shiga menghela napas. "Ya ... nggak di sini juga, 'kan?"
"Aku bisa jaga dia di sini."
"Eh ...?"
Shiga dan Musha sama-sama menoleh ketika Takeo tahu-tahu menyahut. Takeo melirik Ton sesekali setelah yakin kedua temannya itu memperhatikannya.
"Oh!" Sepertinya Musha paham maksudnya. "Bener juga—nggak mungkin dipindah, soalnya Satomi-kun bisa bangun. Begitu, 'kan?"
Takeo mengangguk.
"Benar juga ..." Shiga mangut-mangut. "Berarti kamu di sini saja buat jagain Satomi, Arishima?"
"Boleh."
"Oke!" Musha berseru. "Kalau begitu kami yang urus sisanya, deh!"
"Maaf nggak bisa bantu ..."
"Nggak apa-apa~ Arishima-kun jagain Satomi-kun di sini aja~"
"Kami pergi dulu—kupastikan selesai sebelum benar-benar gelap." Shiga beranjak, begitu pula Musha. Tersisa Takeo dan Ton dalam taman belakang Toshokan yang sepi.
Ton masih tertidur di sebelahnya—pulas sekali, mirip Takeo sendiri sehari-hari apabila ketiduran. Takeo melirik lagi.
"Sudah tanggal empat belas lagi, eh?" Pemuda itu bergumam sendiri. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia menepuk pelan kepala adiknya. "Kamu udah lama besar, ya."
Adiknya itu sudah lama besar—Takeo tahu. Namun mau selama apapun waktu berlalu, bagi Takeo, Ton tetap adik kecilnya. Adik paling kecil di antara adik-adiknya yang lain. Takeo ingin melindunginya juga, selama ia masih ada di sini.
Ton sama sekali tidak kelihatan terganggu dengan apa yang dilakukan Takeo barusan. Takeo tersenyum kecil. Tangan kiri adiknya yang menggenggamnya ia genggam balik.
Sampai Shiga atau Musha kembali dan berkata kalau mereka sudah selesai mendekorasi, atau mungkin sampai Ton akhirnya bangun, ia akan tetap pada posisi itu—semoga saja ia tidak ketiduran lagi, pokoknya kali ini jangan sampai.
.
.
.
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
Happy (little belated) birthay, Satomi Ton! (July 14)
.
.
.
jujur, beneran aku gatau nulis apa ini. Tapi pengen ngadoin Satomi, tapi, tapi ... :(
Iya ... gitu aja sih :')
Tapi habede Satomiiiiii, moga betah di perpus ini bareng abangmu (/ω\)
