disclaimer : this story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling, thanks.
—sorry for the typos—
Emerald itu kini tengah sibuk mencari keberadaan buku buku mantra diantara rak perpustakaan, sudah setengah jam Harry berada disana, juga tak kunjung menemukan buku yang cocok dengan keinginannya.
Hari ini dia berniat mempelajari mantra mantra baru, ingin mengasah kemampuannya lagi dan lagi. Harry adalah tipe orang yang tidak mudah bangga pada kemampuannya, dia akan terus berlatih hingga kemampuan itu benar benar berguna untuknya ataupun orang lain.
"Dimana buku itu?"
Monolognya, berjalan kearah tempat lain, membaca satu persatu judul buku dengan seksama.
Lagipula dia bisa mencarinya dengan leluasa, karena kedua sahabatnya, Ron juga Hermione sedang mengerjakan tugasnya di aula besar.
'ini dia'
Senyum cerah mengembang di bibirnya, meraih sebuah buku berwarna coklat tua, menariknya dari lemari lalu meninggalkan tempat itu dengan buku yang kini berada di tangannya, membolak balikan halaman buku, rautnya terlihat antusias saat membaca setiap kalimat dengan tulisan bergaya latin didalam sana, benar benar menyenangkan mengingat bagaimana rasanya dapat menguasai mantra mantra yang tertulis disana.
Manik itu terpaku pada sebuah mantra, mantra warna. Terdengar sangat unik, berbeda dengan mantra mantra lain yang berkesan keras dan kuat, didalam buku itu dijelaskan bahwa mantra warna adalah sebuah mantra yang dapat memprediksi suasana hati yang sedang dialami oleh targetnya.
Perasaan itu dilambangkan oleh asap dengan berbagai warna yang memiliki arti tersendiri. Harry tentu tertarik, dia belum pernah mendengar ini sebelumnya, mungkin akan terasa menyenangkan saat kau dapat membaca suasana hati orang lain.
Dia berlari dengan semangat ke kamarnya, mengeluarkan wand miliknya saat sudah sampai di ruangan itu. Membuka halaman buku yang sengaja dia lipat agar memudahkannya mencari mantra tersebut.
Harry mengikuti setiap langkah langkah yang tertulis dibuku seraya mengayunkan tongkatnya membentuk pola gerakan seperti yang dijelaskan, sesekali mencoba merapalkannya walau masih gagal. Harry meneguhkan hati, memfokuskan pikirannya pada energi yang ada di dalam tubuhnya, dia harus yakin bahwa kali ini keberhasilan akan memihaknya.
Bangkit, lalu berjalan ke cermin besar yang berada di sebelah kanan tempat tidur, menatap pantulan dirinya dicermin, lalu tersenyum yakin seraya menarik nafas dalam. Akan menjadikan dirinya sendiri sebagai percobaan mantra yang menurutnya tak terlalu berbahaya ini.
Emerald nya menatap yakin pantulannya di cermin, berteriak lantang mengangkat tongkatnya.
"COLRUS CONDIUS"
Suasana seketika hening, Harry membuka matanya, seperti tidak ada yang berubah tetap sama seperti sebelumnya, mengira bahwa kali ini dia gagal lagi. Namun, anggapannya berubah saat sebuah asap menghiasi ujung kepalanya, Harry dapat melihat dari cermin sekerumpulan asap itu seperti menari nari diatasnya. Dia tersenyum, dapat menjamin bahwa kali ini dia berhasil.
Warna merah dari asap yang menghiasinya saat ini memiliki arti kebahagiaan dan sukacita, tentu saja itu benar benar cerminan perasaan Harry, dia merasa senang karena dapat kembali lagi ke Hogwarts setelah liburan akhir tahun.
Harry berjalan keluar dari ruang tidur, ingin menemui Ron juga Hermione, kedua orang itu akan menjadi target Harry setelah dirinya, jika beruntung Harry dapat mengetahui perasaan yang terjalin diantara kedua sahabatnya.
Dia berjalan seorang diri di koridor, sesekali membalas sapaan orang orang yang tidak sengaja berpapasan dengannya, dan beberapa gadis yang tampak memandang tertarik kearahnya. Harry memiliki banyak pengagum, namun dia sama sekali tak mengetahui tentang semua itu, dia menganggap para gadis hanya bersikap ramah, walaupun sesekali tampak ingin menggodanya. Sudahlah Harry tak peduli.
Ditengah koridor, emerald nya menangkap seseorang tengah berjalan dengan tertunduk, sepertinya tak melihat keberadaan Harry disana, alisnya terangkat saat mengetahui itu adalah salah satu siswa Slytherin, Draco Malfoy.
Hal itu membuat Harry bertanya tanya, seperti ada sesautu yang tengah terjadi pada anak itu, membuat insting menyuruhnya untuk mengikuti kemana Draco pergi. Dia melangkah secara perlahan, berjaga jaga seandainya Draco mengetahui keberadaannya, tapi sepertinya pemuda Blonde itu sama sekali tak sadar bahkan curiga dengan sekitar, Harry dapat bernafas lega.
Harry sedikit terkejut saat Draco berhenti di depan pintu ruang kebutuhan, memperhatikan gerak geriknya dari balik pilar pilar besar, menyadari jika Draco telah melangkah masuk setelah beberapa saat terdiam menatap tempat itu.
Harry terlihat tidak yakin dengan apa yang dilakukan Draco ditempat ini, namun itulah yang membuatnya tetap ingin membuntutinya untuk meyakinkan rasa penasarannya.
Potter berjalan dengan pelan, memperhatikan setiap pergerakan Draco didalam sana, sesekali menjauhi beberapa benda yang menurutnya ringkih dan dapat menimbulkan suara berisik jika tersentuh. Harry dapat melihat punggung Draco dari tempat persembunyiannya, jubah hijau itu bergerak lembut tertiup angin menambah kesan dingin namun elegan yang menjadi ciri khas keluarga Malfoy.
Suasana hening menyelimuti keduanya, sedetik kemudian dihiasi dengan suara ketukan jari jari Draco pada sebuah lemari kayu tua, pemuda itu tampak membuka pintu lemari, memasukan sebuah apel hijau kedalamnya, menutupnya kembali seperti semula, lalu sedikit mundur beberapa langkah menjauhi lemari itu. Harry tidak melepaskan pandangannya dari Draco. Bertanya tanya dengan apa yang sedang dilakukannya.
Draco mengangkat tongkat, menggumamkan suatu mantra, Harry tidak dapat melihat ada hal yang berubah setalah mantra itu terucap, dan Draco tetap mencobanya berulang kali, hingga di percobaan terakhirnya sebuah kilatan api menyeruak keluar dari dalam lemari yang secara tiba tiba tampak terbuka, kilatan itu mendarat tepat di tangan kanan Draco, sehingga tongkat yang ada di genggamannya terjatuh ke tanah.
Harry menahan nafas saat itu terjadi, hatinya memilih untuk keluar dari persembunyiannya dan membantu anak itu, perasaannya benar benar cemas dan tak tega,dia tak mengerti kenapa . Namun pikirannya memerintahkan agar dia tetap diam, menyembunyikan dirinya dari si Blonde.
Harry terkejut, Draco terisak. Benar benar terisak, Harry dapat melihat tubuh pemuda itu bersandar pada tumpukan barang barang tua disana, seraya memegangi tangannya yang terluka, air mata itu menetes melewati pipi juga dagunya, terus mengalir hingga ke leher.
Harry terdiam. Merasa tak pernah melihat pemuda angkuh itu menangis sebelumnya. Baru kali ini suara tangisan Draco memenuhi pendengarannya, Harry yakin dia tidak menangis karena luka ditangannya, pasti ada yang lebih sakit dari itu.
Harry mengeluarkan tongkat nya, mengayunkan mantra warna pada Draco, dia tak sadar dengan apa yang dia lakukan, hanya ingin mencari tahu. Harry menggumamkan mantranya dengan pelan, alisnya terangkat saat melihat warna asap diatas kepala Draco. Membuatnya tak sengaja menjatuhkan sebuah cawan kecil disebelahnya, mendengar suara asing itu, Draco bangkit dari duduknya, lalu berbalik menatapi sekitar dengan pandangan berjaga jaga.
Harry memukul dahinya pelan, bagaimana dia bisa ceroboh.
"Siapa disana?keluar!"
Alis Harry menyatu mendengar nada tak bersahabat itu. Lalu melangkah kedepan memperlihatkan keberadaannya, lebih memilih mengaku daripada terus bersembunyi dengan tidak tenang.
"Potter?!"
Draco mendekat dengan tampang angkuhnya, kini sudah tampak terlihat seperti Draco Malfoy di hari hari biasa, meski kali ini jejak air mata turut menghiasi kedua pipi pucatnya.
"Sejak kapan kau disini, Potter?"
Bertanya dengan nada tak suka, Harry mundur beberapa langkah menjaga jarak jikalau dia mendapat serangan dari si lawan bicara.
"Sekitar beberapa menit yang lalu aku rasa."
Draco mendengus, tentu dia merasa terganggu dengan kehadiran orang selain dirinya disini. Apalagi seorang Harry Potter.
"Apa kau mengikutiku?!"
Hanya diam yang dapat Harry lakukan, karena yang dikatakan pemuda Blonde itu benar adanya.
"Diammu berarti, ya, Potter. Apa kau tidak memiliki kesibukan sampai harus menjadi penguntit seperti ini?"
Harry tidak tahu harus menjawab apa, dia terus memandang tangan Draco yang tampak memerah dengan darah segar yang menetes dari tempat itu.
"Malfoy, tanganmu."
Draco memasukan tangannya kedalam jubah, menatap tajam kearah Harry.
"Jangan pedulikan aku!"
"Apa kau sedang ada masalah?"
Harry bertanya dengan ragu, namun hanya tatapan sinis penuh kebencian yang dia terima.
Draco berjalan kearah pintu ruangan itu dengan angkuhnya, tak lupa menabrakan bahunya pada Harry sebelum meninggalkan tempat itu.
"Jangan campuri urusanku, Potter!"
Kata kata terakhir pemuda itu sebelum dirinya menghilang dibalik pintu yang ditutup dengan keras dari arah luar.
༺༻
"Kalahkan para Slytherin itu, Mate. Kami akan selalu berdiri dibelakangmu!"
Ron Weasley mendapat pukulan panas dari Hermione, dia mengaduh secara berlebihan, Harry hanya tersenyum melihat kejadian itu.
Ingatkan dia untuk merapalkan mantra warna kepada kedua orang itu, agar dapat mengetahui perasaan apa yang ada diantara masing masing dari mereka.
"Harry hati-hati, aku tak mau kau jatuh seperti saat kau melawan Malfoy waktu itu."
Harry menghargai rasa peduli kedua sahabatnya, melambaikan tangan kepada mereka sebelum masuk ke area lapangan.
Disana Gryffindor dan Slytherin tengah bertatapan dengan sinisnya, hanya raut Harry yang terlihat biasa saja, lagipula dia tidak suka terlibat permusuhan antar penghuni asrama.
"Apa kau sudah siap, Harry?"
Harry mengangguk menjawab pertanyaan dari sang kapten Quidditch, Oliver.
Dari tempatnya, Harry dapat melihat dengan jelas wajah Draco, pemuda itu tampak kurang sehat dengan wajah yang pucat, dan Harry sadar sedari tadi Draco belum mengatakan sepatah katapun, berbeda di hari hari biasanya, Draco akan berbicara dengan nada tengilnya.
Pemuda Potter berjalan kearah sisi Slytherin, membuat beratus ratus mata menatap bingung, begitupun dengan Draco yang agak terkejut saat Harry berhenti tepat dihadapannya.
"Kau sedang sakit, Malfoy?"
Harry yakin, semua orang menatap aneh ke arahnya, namun dia tak peduli.
Draco terdiam menaikan kedua alisnya angkuh.
"Bukan urusanmu, Potter!"
"Kau terlihat pucat, tidak usah memaksakan dirimu, Malfoy."
"Memaksakan diriku?tentu saja aku harus memaksakan diriku untuk mengalahkanmu."
Nadanya mengejek. Harry menarik tangan Draco tanpa izin, membuat putra Lucius itu memberontak. Harry mencengkram kuat salah satu tangannya, sehingga dengan berat hati dia harus merelakan pergelangannya ditarik oleh Potter.
Panggilan dari para anggota team Quidditch pun tidak Harry hiraukan, terus berjalan tanpa menatap kearah belakang, membawa serta Draco bersamanya. Biarlah orang orang menganggapnya aneh. Dia hanya ingin mengikuti apa yang hati kecilnya katakan.
"Apa yang kau inginkan, Potter?!!!"
Draco mendorong dada Harry, pemuda itu terhuyung kebelakang, menyisahkan jarak diantara mereka.
"Tenanglah!"
"Tenang katamu? kau tak perlu bersikap sok baik padaku."
Dia tak mengerti kenapa Harry menariknya tanpa izin lalu membawanya ke Hospital Wing seperti saat ini, benar benar membuatnya emosi setengah mati.
"Ada apa ini?"
Madam Pomfrey baru datang, menatap heran kedua orang siswa yang telah berada lebih dulu ditempat itu.
"Tolong periksa keadaan Malfoy, Madam Pomfrey."
"Apa yang kau bicarakan, Potter?Tidak, aku tidak mau"
Harry mengabaikan nada protes dari Draco, melanjutkan perbincangannya dengan Madam Pomfrey.
"Dia terlihat pucat, dan tubuhnya panas, Madam."
Harry mengetahuinya saat dia menarik tangan pemuda blonde itu tadi. Suhu tubuhnya benar benar tinggi, sehingga menyebabkan kedua mata Draco dikit memerah.
"Berbaringlah Mr. Malfoy, aku akan memeriksa keadaanmu."
"Tidak, aku tidak mau!"
Draco berlari, namun baru beberapa langkah, pemuda itu tak sadarkan diri karena Harry telah lebih dulu melemparkan mantra kearahnya.
"Harry, kau ini!"
Madam Pomfrey menggeleng melihat ulah Harry, hanya dibalas cengiran oleh pemuda itu.
"Demi kebaikannya."
Madam Pomfrey mengehela nafas maklum, membantu Harry menggotong tubuh Draco ke ranjang yang telah disiapkan. Tubuh Draco tidak terlalu berat untuk ukuran seorang pemuda.
"Madam, tolong jaga dia sebentar, aku harus kembali ke lapangan untuk bermain Quidditch."
Madam Pomfrey mengangguk, Harry bergegas pergi seraya memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada teman temannya saat mereka menanyakan tentang hal ini.
༺༻
"Maaf, aku harus pergi teman teman, kalian pergilah terlebih dahulu."
Harry melepaskan seragam Quidditch dari tubuhnya, menyampirkan nya dibahu, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sebagai pakaiannya. Hari ini Gryffindor berhasil mengalahkan Slytherin, lagi.
"Kau ingin kemana, Harry?kau harus menjelaskan kepada kami tentang apa yang terjadi antara kau dan Ferret itu tadi!"
Ron merentangkan kedua tangan, sehingga Potter tidak dapat beranjak dari tempatnya.
"Dia sedang sakit, Ron. Aku membawanya pada Madam Pomfrey."
Harmione meletakan kedua tangannya dipinggang, tak habis pikir kenapa Harry ingin berurusan dengan Slytherin itu.
"Lalu sekarang kau ingin pergi kemana?"
Harry menatap Hermione, tahu bahwa gadis itu hanya mencemaskan nya, setelah selama ini mengetahui tentang Draco Malfoy yang selalu bersikap buruk pada Harry.
"Aku ingin menemuinya di ruang kesehatan."
"Oh mate, kau tidak perlu repot repot melakukan itu untuknya."
"Ron, aku tidak merasa direpotkan, jadi aku harap kalian mengerti."
Putus Harry tanpa mendengarkan rutukan kesal kedua sahabatnya, lalu melenggang pergi dengan langkah besar.
"Biarkan kami ikut, Harry!"
"Tidak usah, Hermione. Pergilah lebih dulu, aku menyusul."
Keduanya kompak menghela nafas dalam, dengan berat hati membiarkan Harry melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Draco terkena demam tinggi, Harry."
Harry hanya mengangguk saat Madam Pomfrey mengatakan itu, menatap kearah Draco yang masih tertidur akibat mantranya.
"Aku rasa dia terlalu lelah, Nak," Harry mengangguk, lagi.
"Dan apa kau mengetahui tentang luka yang berada di tangan kanan nya?"
Harry menautkan alis, berpikir untuk mengungkapkan apa yang dia lihat kemarin atau tidak, tetapi sepertinya bercerita pada Madam Pomfrey adalah pilihan yang pas.
"Itu luka karena api."
"Api?api bagaimana Harry?"
"Kemarin, kemarin aku melihatnya pergi ke ruang kebutuhan, kau tahu madam, disana ada lemari tua yang aku juga tidak tahu apa gunanya, tapi tiba tiba ada api yang muncul dari dalam dan melukai tangannya."
"Lemari?"
Wanita itu tampak terkejut, menuntun Harry untuk pergi beberapa langkah lebih jauh dari Dracon
"Itu lemari penghilang Harry."
Harry menautkan alisnya.
"Lemari penghilang itu sudah rusak sejak lama, dan aku tidak tahu bagaimana Draco bisa mengetahui tentang benda itu."
"Yang aku tahu, lemari itu sangat berbahaya, dapat digunakan untuk hal yang baik, namun dapat juga untuk hal yang buruk."
"Aku tidak tahu apa alasan Draco sehingga berurusan dengan lemari itu, tapi yang harus kau tahu adalah, benda itu dapat menghilangkan nyawa seseorang, Harry."
Harry tertegun, memikirkan bagaimana jika kemungkinan besar nyawa Draco terenggut akibat berurusan dengan benda tersebut, tanpa sadar merasakan perasaan cemas dihatinya.
"Terimakasih, Madam."
"Sudah tugasku, Harry."
Sebuah tepukan hangat mendarat di bahunya, Madam Pomfrey tersenyum, lalu beranjak pergi untuk mengambil beberapa resep obat untuk Draco.
Harry mendekat kearah ranjang tempat Draco terbaring, dilihatnya wajah pemuda itu, terlihat tenang saat tertidur, tapi akan berubah sinis saat terbangun. Harry tersenyum kecil mengingat bagaimana cara dia menatap Harry selama ini. Lalu bertanya tanya alasan apa yang mendasari nya hingga Draco harus berurusan dengan barang terlarang seperti itu.
༺༻
"Apa dia mengucapkan terimakasih padamu, Harry?"
Harmione menatap serius pemuda kacamata itu, begitu juga dengan Ron yang rela mengabaikan daging asapnya hanya untuk mendengar jawaban Harry. Oh ayolah! Ron akan selalu merasa penasaran dengan penghuni Slytherin tersebut.
"Aku tidak mengharapkan ucapan terimakasih, Hermione."
"Jawablah dengan jawaban iya atau tidak, aku tidak peduli dengan alasanmu, Harry."
Harry terpaksa menggeleng, memang itu yang terjadi kemarin. Draco terbangun dengan suasana hati yang buruk, melemparkan beberapa kalimat pedas pada Harry yang setia menungguinya hingga terbangun, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih ataupun sebagainya.
"Sudah aku katakan, kau tidak perlu peduli dengan Ferret tidak tahu terimakasih itu, Mate."
Kali ini Hermione setuju dengan perkataan Ron, Harry terlalu baik untuk mendapat perlakuan buruk dari seorang Draco Malfoy.
"Sudahlah, lupakan. Lanjutkan saja makan malam kalian."
Keduanya menatap dengan raut kesal, sementara Harry hanya tersenyum seolah tak terjadi apa apa.
Emerald itu menatap meja sebrang dari balik lensa bulatnya, menatapi para Slytherin yang tampak menguasai tempat itu, atau lebih tepatnya hanya terfokus pada salah satu dari penghuninya.
Harry berjalan seorang diri di koridor karena Hermione pergi lebih dulu bersama Ginny, sementara Ron yang sedang pergi menemani Neville Longbottom ke kamar mandi.
Langit mulai menggelap, terjadi bersamaan dengan usainya kegiatan sekolah di hari itu.
Profesor McGonagall telah memerintahkan para pelajar di Hogwarts untuk segera memasuki ruang tidurnya masing masing, mengistirahatkan diri sebelum memulai kegiatan di esok hari.
Dan Malam ini entah kenapa Harry enggan masuk ke ruang tidurnya, hanya ingin menatap bulan diluar sana. Kegiatan yang kerap kali ia lakukan jika sedang merindukan kedua orang tuanya. Memilih menara astronomi untuk tempatnya melihat angkasa, berlari kecil menaiki tangga yang mengarah langsung ketempat tujuannya.
Sedikit terkejut saat mendapati orang lain sudah berada lebih dulu ditempat itu. Seseorang dengan surai Blonde yang tampak bergerak pelan tertiup hembusan angin malam, Harry mengenal betul siapa pemiliknya.
"Malfoy?"
Harry mundur beberapa langkah saat secara tiba tiba Draco mengarahkan tongkatnya tepat dihadapan Harry.
"Apa lagi yang kau inginkan, Potter?!"
"Aku kesini hanya untuk menatap bulan."
"Menyedihkan."
Draco memasukan tongkatnya kedalam jubah, sesekali menatap sinis ke arah Harry yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa kau sedang mempunyai masalah?"
Harry dapat melihat dengan jelas perubahan ekpresi yang terlihat di wajah pucat itu, hanya beberapa detik sebelum raut angkuh kembali menguasainya.
"Aku bukan orang yang memiliki banyak masalah seperti kau, Potter!" ejeknya.
Harry tahu, pemuda itu hanya mencoba menutupi sesuatu, Harry dapat melihat dengan jelas dari manik abunya.
"Kau bisa membagi masalahmu denganku jika kau mau, Aku mungkin tidak bisa membantu mu sepenuhnya, namun aku rasa, aku dapat menjadi pendengar yang baik."
Draco tertawa, menjauh beberapa langkah dari Harry.
"Aku sangat menghargai niatmu. Tapi aku benar benar tak membutuhkan dirimu ataupun kepedulianmu"
Dia melipat kedua tangannya dengan angkuh, memandang rendah kepada Harry.
"Jangan memperlakukan ku seakan aku orang yang lemah, aku benar benar tidak mengharapkan itu darimu."
Sarkasnya kemudian berbalik, berjalan menjauh dari Harry.
"Kau hanya berpura pura kuat untuk menutupi lukamu."
Suasana berubah hening, hanya dihiasi oleh suara hembusan angin malam yang terasa dingin.
Draco terhenti, terdiam ditempatnya, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras.
"Aku rasa saat ini sudah cukup, Malfoy."
Sebuah pukulan keras mendarat di pipi kanan Harry, pemuda itu terjatuh dengan ujung bibir tampak mengeluarkan darah segar.
Nafas Draco memburu, amarah menyelimutinya.
Menarik kerah jubah Harry, lalu melayangkan pukulan yang kini berpindah ke perut lawannya, membuat Harry terbatuk menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Kau tidak tahu apa apa!!" Bentak Draco.
Harry bangkit, sesekali menahan rasa perih yang menyerang wajahnya.
Melangkah beberapa meter kearah Draco, sehingga pemuda Blonde itu memberi tatapan menusuk kearahnya.
"Aku mengerti perasaanmu."
"Tidak, kau tidak mengerti!"
Draco berteriak, Harry benar benar merasa pemuda itu sedang menanggung banyak beban, rautnya tampak frustasi.
"Kau bisa membaginya denganku, Malfoy."
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, Potter!"
Draco bergerak menjauh, alisnya menyatu, merasakan udara dingin yang kini terasa menusuk tubuh pucatnya. Luka ditangannya kembali terasa sakit, membuat jari jari ramping itu sedikit bergetar, ditambah lagi emosi yang kini menyelimutinya, memperburuk suasana hatinya.
"Aku tahu perasaanmu sedang tidak baik."
"Tahu apa kau, Potter?"
Draco berucap dengan sinis, memandang penuh kebencian pada lawannya. Harry terdiam ditempat, tak melepaskan Emerald nya dari manik abu muda pemuda dihadapannya. Hanya membiarkan kata kata tajam menusuknya secara bertubi tubi.
"Aku hanya-"
Harry terdiam saat Draco tertawa dengan raut frustasi. Pemuda itu beranjak dari tempatnya, berjalan beberapa langkah mendekat kearah Harry, sesekali memegangi luka ditangan yang kini berdenyut sakit. Draco berhenti tepat dihadapan Harry, memandang wajah itu dengan kedua maniknya, menghela nafas pelan merasakan perih di tangannya.
"Malfoy?"
"Potter, pernahkah kau dituntut untuk selalu terlihat sempurna? pernahkah kau dituntut untuk selalu menjadi yang terkuat? pernahkah kau dituntut untuk selalu mengikuti perintah orang lain? pernahkah kau dituntut untuk selalu tetap tegar? pernahkah kau hidup tanpa kasih sayang? dan pernahkah kau merelakan dirimu hilang hanya untuk menjadi orang lain? aku yakin kau tak pernah merasakan semua itu, Potter!"
Harry menatap dengan pandangan lirih, merasa sakit saat mendengar ucapan yang seharusnya tak membuatnya merasakan hal itu, Harry merasa semua kata kata itu berasal dari hati kecil Draco. Dia dapat melihat dengan jelas, pemuda itu sedang berusaha mengendalikan diri, mempertahankan raut kerasnya.
"Ayahku selalu menuntut ku agar selalu terlihat sempurna, aku selalu menuruti semua perintahnya, semua kemauannya, tapi dia sama sekali tak pernah bertanya padaku, apa aku bahagia dengan semua ini?apa aku bahagia dengan hidupku selama ini?"
"Aku mengaguminya, tapi sama sekali tak pernah mendapat balasan dari rasa kagum itu. Semua pencapaianku selama ini tidaklah cukup untuk membuatnya bangga"
"Aku mengerti perasaanmu"
"Tidak, kau tidak mengerti, Potter!"
"Kau sama seperti orang orang diluar sana, hanya memandangku dari satu sisi, selalu membicarakan tentang sikap dinginku, tanpa pernah bertanya kenapa aku memakai topeng itu"
"Bukan itu pandangan ku untukmu, Malfoy."
Draco tersenyum miris, menatap tepat kedalam kedua bola mata lawannya. Dia dapat melihat pantulan dirinya pada kedua mata Harry.
"Banyak orang yang peduli terhadapmu, kau selalu menjadi kebanggaan mereka, kau selalu memiliki teman untuk bercerita, selalu memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidupmu, Potter"
"Sementara aku, aku harus mencoba dengan keras hanya untuk mendapat sebuah suara tepuk tangan, aku harus selalu bersikap seakan aku kuat hanya untuk mendapat pengakuan, aku selalu mengikuti segala perintah tanpa memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang aku mau"
"Tidak ada yang benar benar peduli dengan semua itu, mereka hanya bisa berkata buruk tentangku, seolah mereka lupa bahwa aku juga manusia, aku memiliki perasaan sama seperti mereka, aku hanya manusia, Potter. Hanya manusia"
Harry menahan nafas, saat rasa nyeri menyerang hatinya, merasakan segala perkataan Draco benar benar mengungkapkan sisi lain pemuda itu.
"Keinginanku bukanlah menjadi yang terkuat. Aku hanya ingin seseorang bangga atas semua kerja keras yang telah aku lakukan selama ini, aku hanya ingin ada yang bertanya tentang bagaimana keadaanku hari ini, aku hanya ingin ada yang meyakinkanku bahwa semua akan baik baik saja, dan aku hanya ingin sebuah pelukan disaat aku sedih ataupun bahagia. Semua itu akan terasa cukup bagiku, aku tidak ingin menjadi sempurna ataupun menjadi yang terkuat"
"Aku lelah dengan semua ini, aku terlalu banyak menatap kebencian yang selalu mengarah padaku, aku lelah terus kehilangan diriku hanya untuk menjadi orang lain"
"Aku bukanlah orang jahat seperti yang mereka katakan, aku hanya tidak memiliki pilihan, Potter, aku...aku"
Draco tidak dapat melanjutkan lagi perkataannya, dia jatuh berlutut, air mata tidak mampu dibendungnya, membiarkannya mengalir melewati kedua pipi hingga menetes ke jubah hijaunya. Hatinya sudah terlalu sakit menahan semua rasa itu selama ini.
Suara tangis itu terdengar menyayat hati, tubuh Draco bergetar, kepalanya tertunduk menyembunyikan raut putus asa. Sisi dirinya yang tidak pernah dia perlihatkan kepada dunia. Harry benar benar telah memaksa masuk kedalam pikirannya, menyebabkan semua pertahanan nya runtuh, biarkan hari ini dia menangis layaknya manusia biasa, tanpa peduli status ataupun semua hal yang membelenggunya.
Selama ini Draco selalu berusaha mengubur dalam dalam semua luka, menampakan sisi kerasnya. Tapi malam ini, air matanya menjadi bukti bagaimana kedua mata indah itu berbicara, ketika bibirnya tak mampu menjelaskan semuanya.
Beberapa saat kemudian, Draco merasakan sebuah dekapan lembut di tubuhnya, diikuti dengan usapan pelan di area punggung, menimbulkan perasaan nyaman yang tidak dapat dijelaskan dengan sebuah kata.
"Aku bangga padamu, kau telah melakukan yang terbaik selama ini, tanpa peduli dirimu, lebih mementingkan keinginan orang tuamu, kau putra yang baik, Malfoy. Dan terimakasih sudah bertahan selama ini, kau benar benar orang yang kuat."
"Kau harus yakin, semuanya akan baik baik saja. Hari ini, esok, ataupun seterusnya. Semuanya kan baik baik saja"
Tangis Draco kembali pecah saat mendengar kalimat itu menyapa indranya, membalas dengan memeluk erat tubuh Harry, menyembunyikan wajahnya pada bahu pemuda itu.
Harry mengusap pelan punggung Draco, mencoba menenangkan dari segala rasa patah yang dia rasakan. Harry pernah berada di posisi itu saat sebelum dia datang ke Hogwarts, namun sekarang dia sudah melupakan semuanya, berkat kehadiran orang orang yang menyayanginya.
Harry menghela nafasnya dalam saat mengingat Draco tidaklah seberuntung dirinya, pemuda itu harus bertahan sendirian dari beban yang menghantuinya, Harry dapat merasakan perasaan sakit itu.
Tepukan pelan dia daratkan di pucuk kepala Draco, membuat tangisnya berangsur angsur mereda, hanya menyisakan kemerahan di wajah juga ujung hidungnya akibat terlalu lama menangis.
"Potter, jangan katakan pada siapapun tentang ini"
Harry tersenyum kecil saat pemuda itu berbicara dengan nada suara kecil namun terdengar penuh peringatan, khas seorang Draco Malfoy. Si blonde melepaskan pelukannya, sedikit mengusap sisa air mata dengan telapak tangan. Lalu menatap kearah Harry menunggu jawaban yang sebenarnya tidak perlu Harry jawab.
"Tenang, Malfoy"
Harry tersenyum, dia dapat melihat sebuah kelembutan yang mulai terpancar dari manik abu abu itu, benar benar terlihat indah dengan sedikit bekas kilatan air mata didalam sana.
"Kau bisa membuat siapapun bangga terhadapmu tanpa perlu berubah menjadi orang lain, hanya cukup menjadi Malfoy, Draco Malfoy"
Draco mengangguk pelan, rautnya menenang sesekali membenarkan letak poni yang tampak mulai memanjang.
"Kau tak perlu terus berusaha menjadi kuat dihadapan semua orang, ada kalanya kau harus melepaskan semua itu, kau boleh marah, menangis, ataupun tertawa"
"Apa kau juga melakukan itu selama ini, Potter?"
"Tentu saja, aku sering menangis saat Hagrid menceritakan masa kecilnya padaku"
Alis Draco terangkat, heran.
"Kenapa kau menangis?"
"Sebab setahuku dia tidak pernah kecil, tubuhnya sudah besar sejak dia lahir"
Draco tertawa lepas, sebenarnya kalimat itu tidak lucu, tapi saat mengingat yang mengatakan hal konyol itu adalah seorang murid kebanggaan Albus Dumbledore, maka benar benar terdengar sangat konyol.
"Teruslah tertawa, kau terlihat indah saat bahagia, Draco"
Harry memanggil nama kecilnya, Draco sedikit merasa asing dengan panggilan Harry untuknya, sebab selama ini pemuda itu selalu memanggil nama keluarganya menyebabkan dia sedikit salah tingkah.
"Terimakasih Potter, terimakasih untuk semua kepedulianmu, aku sangat menghargainya"
"Dan maaf atas semua perilaku buruk ku selama ini, aku tahu aku memang orang yang menyebalkan"
"Baguslah jika kau sadar"
Draco menyipitkan kedua matanya, sedikit tidak terima dengan jawaban Harry, padahal dirinya sendiri yang menyebut bahwa dia menyebalkan.
"Aku becanda"
Draco tertawa kecil, begitupun dengan Harry, penghuni Gryffindor itu merasakan sebuah perbedaan sikap pada pemuda dihadapannya, sikap lembut yang membuatnya nyaman, dan tidak pernah dia temukan dari Draco sebelumnya.
Sesaat kemudian raut Harry tampak berubah sedikit serius, menimang pertanyaan yang sejak kemarin berputar putar di kepalanya.
"Malfoy"
"Hm?"
Kepalanya refleks terangkat, tanpa sadar menampakan bola mata yang berubah bulat layaknya puppy yang lucu, membuat fokus Harry sedikit terganggu. Namun sebisa mungkin, Harry mengesampingkan perasaan gemas dalam dirinya, karena ada hal yang lebih penting dari itu, yang tersimpan di otaknya.
"Kemarin, apa yang kau lakukan dengan lemarin penghilang"
Draco terdiam, dia mengingat kejadian kemarin saat Harry mengetahui kegiatannya di ruang kebutuhan.
"Aku mendengar ayahku membicarakan lemari itu dengan salah seseorang yang tidak kukenal, dia berbicara banyak tentang kegunaan lemari penghilang, dan saat itu aku tahu jika benda itu rusak sehingga disimpan di ruang kebutuhan"
"Lalu?"
"Lalu diam diam aku ingin memperbaikinya agar ayahku merasa senang, tapi kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, Potter"
Draco menghela nafas pelan, merasa kecewa saat mengingat kembali kegagalan nya untuk memperbaiki benda itu. Harry menepuk pelan bahunya.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, dan perlu kau tahu, benda itu sangat berbahaya, kau tidak bisa terus terusan berada dalam satu ruangan bersama lemari itu, Malfoy"
"Aku tahu, Potter. Tapi aku pikir aku bisa membenarkan benda itu seperti semula, namun aku gagal."
"Tidak, sudah cukup, kau sudah melakukan yang terbaik."
Draco tersenyum kecil.
"Terimakasih, Potter."
Senyuman cerah mengembang di bibir Harry
"Malfoy, kita bisa menjadi teman jika kau mau"
Harry tersenyum lebar dengan raut konyol seraya melanjutkan perkataannya.
"Atau lebih dari teman, jika kau ingin."
Harry tertawa bodoh saat mengatakannya, terasa lucu menggoda pemuda yang selama ini tak pernah terlihat akur dengannya.
Tawa itu terhenti saat Harry hanya mendapatkan raut datar dari Draco, tidak ada senyum ataupun ekspresi lain yang ditampakkan oleh pemuda Blonde itu. Harry merasa tidak enak hati, takut jika kata katanya terdengar tidak sopan ataupun sebagainya.
"Maaf jik-"
Kalimat itu menjadi rumpang kala sebuah kecupan lembut mendarat dibibir Harry, dia dapat melihat wajah Draco yang terpampang nyata dihadapan nya. Harry tersenyum disela sela aktivitas itu, tak menyangka jika perkatannya akan membawa rasa nyaman seperti saat ini.
Harry menarik pinggang Draco, mengikis jarak diantara mereka. Sementara Draco membiarkan lawannya untuk mendominasi, Harry merasa Draco memberikannya izin untuk bergerak lebih. Lidahnya menjelajah masuk kedalam rongga sang Slytherin, membuatnya melenguh pelan dibawah langit gelap yang tampak indah.
Harry melepaskan tautan saat merasakan pukulan pelan di dadanya, memberi kesempatan lawannya untuk bernafas dengan tenang.
"Mungkin kita dapat mencobanya, aku rasa?"
Ungkap Draco tak yakin, rona merah telah menjalar dikedua pipinya hingga ke telinga, sementara Harry memasang tampang jahil.
"Maksudmu sahabat?"
"Lebih dari itu, Potter"
"Hmm, super sahabat?"
"Lebih dari itu"Geram Malfoy
"Sahabat sejati?"
"Bicaralah pada dinding, Potter!"
Harry tertawa saat raut kesal terpampang jelas di wajah Draco, tangan Harry terulur untuk mengusap pelan surai Blonde tersebut.
"Baiklah maafkan aku, dan aku rasa kita dapat mencoba untuk menjalaninya, Malfoy"
Draco tersenyum lembut, dan hal itu akan menjadi salah satu pemandangan favorit Harry mulai hari ini dan seterusnya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading yall, i hope u can enjoy it.
