Hokorippoi
Disclaimer: Koyoharu Gotoge.
Warning: OOC, typo, ga jelas, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
"Karena bagaimanapun itu, kita pasti berpisah dan tidak ada lagi satu pun selamat tinggal yang menemukan pertemuan."
Pagi penuh debu, adalah kalimat yang pertama kali keluar dari benak Tomioka Giyuu, tepat setelah ia membuka mata. Langit-langit kamar dengan lampu gantung, perabot minimalis yang hanya seperti laci, vas kosong, atau rak buku–semuanya tampak berdebu membuat pandangan Giyuu merasai kekotoran. Kemoceng di belakang pintu akhirnya Giyuu ambil yang segera saja, tangannya bergerak membersihkan yang otak definisikan sebagai debu itu.
Mungkin ada sekitar dua puluh menit Giyuu bekerja sama dengan kemoceng. Acara bersih-bersih itu kemudian ditutup oleh tabuh dari perut yang agak nyaring, pun cukup gaduh, di mana ketika Giyuu tiba di ruang makan tahu-tahu ia mencium kehangatan nasi. Ada pula ikan beserta tsukemono yang hanya sekali melihatnya, Giyuu bisa langsung tahu semua ini ada untuknya. Ia melupakan bagaimanakah matanya, tetapi yang pasti senyum di bibirnya sendiri amat dikenalinya–adalah miliknya yang sudah lama sekali tidak Giyuu sebut demikian.
Giyuu pun berjalan menghampiri dapur. Sebuah postur yang mungil tampak sedang mengaduk-aduk sesuatu, dan di belakang punggungnya terdapat tali celemek. Ternyata ia memasak sup miso. Bibirnya turut bersenandung yang terdengar merdu sekali.
"Kocho."
Nama itu kembali Giyuu panggil. Debu seketika jernih menjadi tanpa debu, membuat Giyuu hendak memeluk tubuhnya. Ia sudah bergerak sepelan mungkin. Benar-benar perlahan, apalagi jika yang di depannya ini adalah ilusi–sesuatu yang lebih rapuh dibandingkan realitas, ataupun kenangan manusia. Walaupun hanya khayal Giyuu memang ingin menangkapnya. Nyaris pula didapatkannya apabila ia tak menengok ke arah Giyuu, memasang wajah terkejut, sebelum tersenyum sendu menunjukkan iba yang akan selalu hadir untuk Giyuu.
"Maaf, Giyuu-san, tetapi aku bukan Shinobu-san. Kelihatannya Giyuu-san lapar banget, ya? Sup miso-nya sebentar lagi jadi, kok. Tunggulah di ruang makan."
Segalanya kini kembali berdebu, setelah Giyuu mendengar suara Kamado Tanjiro. Wajah itu pun datar lagi yang ketika Giyuu menatap langit-langit ruang makan, ia menghela napas berat. Apa yang hatinya harapkan, ketika ia justru berada di sini untuk mengunjungi nama Shinobu Kochou yang sudah menjadi nisan?
-ll-
Cerita di mana Giyuu, Tanjiro, juga Shinobu yang tergabung dalam kisatsutai, rasa-rasanya sudah lama sekali terjadi walaupun Giyuu tahu dengan jelas, pasukan yang tersisa baru membasmi Muzan satu bulan lalu. Jiwa-raga rekan-rekan mereka berguguran begitu banyak, dan salah satunya adalah yang bernama Kocho Shinobu ini. Jadilah setelah sarapan Giyuu berniat melayat, ditemani Tanjiro yang selalu mengajukan diri supaya di perjalanan, setidaknya Giyuu mempunyai teman bicara.
"Tidak apa-apa, Tanjiro. Untuk hari ini kau tak perlu ikut. Aku bisa sendiri."
Tetapi siapa sangka Giyuu akan menolaknya. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak Tanjiro itu, sesaat agak mengecewakan ia. Lebih-lebih ketika Tanjiro harus mendapati Giyuu pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Tunggu sebentar, Giyuu-san! Setidaknya bawalah ini untuk bekal. Jangan sampai kelaparan, atau Shinobu-san akan sedih."
Sepuluh onigiri yang dibungkus daun pisang diserahkan kepada Giyuu. Setelahnya kekecewaan Tanjiro berubah menjadi lambaian yang baik hati, di mana ia mendoakan keselamatan Giyuu. Jangan juga pulang terlalu larut, atau kelupaan memakan bekalnya yang Giyuu sambut dengan anggukan. Akhirnya perjalanan pun benar-benar dimulai yang mana, Giyuu langsung menuju Gunung Natagumo.
Nama Kocho Shinobu itu memang (seharusnya) terukir pada batu nisan. Namun, kata siapa tonggak pendek tersebut hanya eksis di kuburan? Penandanya bisa berada di mana saja karena Giyuu jujur, bahwa sebenarnya Shinobu tak pernah melewati prosesi pemakaman secara resmi.
Mayatnya tidak pernah dimandikan, ataupun didoakan. Bahkan sesungguhnya tak sekali pun menyinggung tanah, lebih-lebih bersemayan di sana, mengingat Shinobu dimakan oleh Douma–iblis kelas atas yang selama Shinobu hidup, ia hanya marah, dengki, dan mendendam untuk Douma yang telah membunuh Kanae; satu-satunya saudara Shinobu.
Jadi, apa yang Giyuu perbuat di Gunung Natagumo, sebenarnya hanyalah untuk mengenang hal-hal yang dinamakan masa lalu. Bahwa bagi Giyuu seorang di sinilah makam Shinobu berada, karena pertemuan pertama mereka terjadi di antara hutan-hutan ini.
"Aku datang lagi, Kocho. Entahlah sebenarnya kau menyukai tempat ini atau tidak, tetapi hanya ini yang bisa kupikirkan untukmu."
Ketika semuanya masih utuh, gunung ini merupakan tempat bersarangnya iblis bulan bawah. Giyuu ingat Shinobu berusaha menangkap Tanjiro yang diduga, membawa iblis bersamanya. Mereka yang sekadar bertemu di rapat rutin dengan Oyakata-sama pun, belum apa-apa bahkan sudah bertengkar. Soalnya Giyuu menolak perburuan Shinobu terhadap Tanjiro serta adiknya, yakni Kamado Nezuko.
Selain berkelit dan sedikit menyerang, mereka juga mengobrol. Di mana semua yang Giyuu ingat dengan jelas itu seolah-olah baru terjadi kemarin. Atau sesungguhnya sudah samar-samar, tetapi Giyuu terus memperbaharuinya agar seakan-akan ia baru saja bertemu Shinobu.
Dengan kenangan yang memang sesedikit itu, jadilah seulas tanya selalu muncul untuk menunjukkan iba kepada Giyuu. Apa hubungan yang ia dan Shinobu bawa, setelah mereka bertemu di Gunung Natagumo lalu sesekali bertukar kabar, semenjak sempat berkonflik?
"Hari ini pun dipenuhi dengan debu. Sejak mendengar berita bahwa kau dikalahkan, dan mati, semuanya menjadi berdebu. Tidak ada yang berubah, dan mustahil, karena kita bukanlah apa-apa."
Pada akhirnya pertanyaan yang selalu mengekori Giyuu itu sebenarnya sudah memiliki jawaban. Mungkin terus-menerus muncul, sebab Giyuu tidak sekali pun menerima jika mereka bersama mereka bukanlah siapa-siapa, dan ia tak mengakuinya sebagai lubuk hati terdalam.
Pasti Shinobu tertawa karena ia mendengarnya dari Giyuu, bukan? Apa pula yang Giyuu harapkan ketika sekalinya Shinobu berpapasan dengan Giyuu, mereka sekadar saling menyapa atau Shinobu menyindir Giyuu secara halus? Giyuu yang sendirian, tidak mempunyai teman, tetapi betul-betul tak menyadarinya–bodoh sekali.
Tetapi yang pasti, itu bukanlah suami-istri.
Bukan juga sepasang kekasih, ataupun sahabat karib, ketika Giyuu tidak pernah memanggil Shinobu sebagai temannya begitu pun sebaliknya.
"Kita bukanlah apa-apa, tetapi sebenarnya aku ingin kau menjadi teman pertamaku. Sayang sekali aku telat mengatakannya, sehingga sekarang ini aku hanya pantas mengenangmu sebagai seseorang yang luar biasa."
Sebenarnya tidak boleh ada Giyuu di mana pun itu, dan Shinobu hanyalah Shinobu yang begitu gagah, sebab ia mati dengan cara yang diharapkannya. Namun, apakah Giyuu serta-merta keliru sebab ia melewati batas? Apakah juga semuanya memang salah Giyuu, karena ia tak langsung mengungkapkannya kepada Shinobu?
Mungkin.
Entahlah.
Mungkin benar semuanya salah Giyuu.
Entahlah benar atau salah semuanya merupakan ketololan Giyuu.
Siapa yang benar ataupun salah, ujung-ujungnya mereka pasti berpisah. Karena Giyuu-lah yang bertahan, ia tetap akan melihat pagi yang dipenuhi debu. Sebanyak apa pun Giyuu menggunakan kemoceng untuk membersihkan perabotan, atau mengusap-usap matanya agar ia berhenti melihat langit yang kusam, ia takkan lepas dari debu akibat Giyuu menyesal tidak mengatakan bahwa Shinobu merupakan temn pertamanya.
Padahal jika Giyuu mengatakannya, ia dapat meraih Shinobu dengan kalimat seperti, "selamat datang". Karena ia adalah teman pertama Giyuu, tentu tidaklah aneh, bukan, jika Giyuu menyambutnya dan esok, mereka bisa lebih akrab lagi dibandingkan sebelumnya?
"Sekali lagi kuucapkan selamat tinggal, Kocho. Walaupun aku tidak akan pernah jelas, aku cukup menikmatinya."
Sekarang Giyuu akan pulang. Nanti ia datang lagi yang dibandingkan melawat Shinobu, mungkin lebih tepatnya Giyuu melayat perasaannya untuk Shinobu yang takkan tersampaikan–ia ingin Shinobu menjadi teman pertamanya, dan Giyuu mengucapkan selamat datang. Semua ini setelah era iblis berakhir, bahkan sejujurnya lebih berharga dibandingkan yang telah Giyuu lewati bersama Shinobu. Fakta yang ogah-ogahan Giyuu akui itu kini mendorong ia untuk menghela napas yang dikeluarkan ataupun tidak, intinya sesak.
Jika yang tidak Giyuu lalui dengan Shinobu barulah terasa amat berharga, bukankah artinya lebih baik mereka tak selamanya bersama? Jadi Giyuu bisa apa selain menghela napas? Perasaan yang sudah merekah akan mustahil keliru, karena ia tiba pada waktu di mana seseorang yang seharusnya menenangkan, justru telah menjelma ketiadaan.
Tamat.
A/N: Percayalah ini amat sangat gak jelas ... aku juga bingung bikin apa, tapi yang pasti aku yakin ini terinspirasi dari lagu "tabun". Awalnya mau menggambarkan lagu itu, tapi ini kayak ... ya itu tadi, gaje. Makanya kalo kalian sampe baca author note, sebaiknya aku minta maaf karena udah membuang-buang waktu kalian.
Tapi seenggaknya, thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. seneng juga sih masih bisa nulis buat fandom ini, walau sekalinya nongol lagi malah gak jelas wkwkw.
