Bagian 1: Cinta Pertama
"Halmeoni, aku akan pergi keluar untuk membeli tteobokki."
Ini adalah yang kedua kalinya kalimat itu terlontar. Chanyeol, si pemuda yang tengah mengenakan sepatu boots-nya, adalah pemilik dari suara tersebut. Namun yang diajak bicara belum kunjung memberi sahutan. Sang nenek yang kian hari pendengarannya kian minim itu barangkali kurang memperhatikan, sebab sepengetahuan Chanyeol, wanita paruh baya itu tadi tengah asyik menonton acara komedi yang ditayangkan di televisi lokal.
"Halmeoni!" kali ini lebih tinggi nadanya.
"YA! Jangan pulang terlalu malam!" terdengar suara neneknya dari dalam. Chanyeol mendengus, jadi dari tadi neneknya mendengarnya, namun terlalu malas untuk menjawab.
"Aku hanya pergi sebentar." Gumam Chanyeol pada dirinya sendiri.
Kaki jenjang itu kemudian melangkah keluar. Setelah menutup pintu, ia melirik sepeda butut milik kakeknya yang bersandar di dinding kayu. Tadinya Chanyeol hendak berjalan kaki untuk berkeliling di pedesaan ini, tapi ide untuk meminjam sepeda kumbang milik kakeknya rupanya tidak buruk juga.
Maka setelah mengunci mantelnya kuat-kuat, ia pun meluncur dengan sepeda tua itu di jalanan yang sepi.
Musim dingin nampaknya tengah ganas-ganasnya menyerang Yeongwol. Ditambah, ini merupakan bulan Januari. Chanyeol tadinya hendak berdiam diri saja di rumah. Menikmati secangkir cokelat panas, ditemani komik-komik yang pernah ia beli saat remaja dulu –kakek pasti masih menyimpannya di gudang, dan menghabiskan waktu seharian penuh dengan bermalas-malasan.
Tapi pikirannya dengan cepat mematahkan keinginan itu. Sebab ia rasa, jika hanya ingin bermalas-malasan, dirinya bisa melakukan itu di Seoul, kota besar yang ia tinggali selama sepuluh tahun terakhir.
Tujuannya pulang ke kampung halaman adalah untuk berlibur. Mengesampingkan sejenak penat yang ia alami di kota besar. Menggali kembali kebahagiaan di masa kecil yang ternyata amat sangat ia rindukan. Chanyeol ingin itu. Dan keinginannya takkan terkabul jika ia hanya berdiam mengurung diri di kamar.
Pemuda itu mengayuh sepedanya dengan lamban. Sembari sesekali menyapa beberapa pejalan kaki yang lewat. Tak lama kemudian, laju sepedanya terhenti ketika matanya menangkap sebuah kedai tteokobokki yang lumayan sepi sore itu. Enggan membuang waktu lebih lama, ia pun memarkirkan sepedanya di depan kedai, dan masuk ke dalam.
"Selamat dat—WOAH, PARK CHANYEOL?!"
Chanyeol tersenyum, dan saat itulah ia merasa telah bener-benar pulang ke tempatnya.
.
.
.
Adalah Kim Jongin, pria pemilik kedai yang menyambutnya di langkah pertama ia masuk. Chanyeol merasa sedikit terharu, sebab Jongin yang tengah memotong bawang sampai repot-repot menghampirinya dan mempersilakannya duduk. Rasanya senang sekali disambut oleh sahabat karib yang sudah lama tak ia jumpai tersebut.
"Wahhh… kau semakin tampan saja. Bagaimana kabarmu?" Jongin bertanya dengan antusias. Masih sama seperti dulu, pikir Chanyeol.
"Baik." Chanyeol menjawab singkat, dibubuhi senyuman yang tak luntur sejak ia bertemu dengan sahabatnya itu. "Kau terlihat sibuk." Ujarnya sambil melihat-lihat sekitar.
"Ah, tidak juga." Jongin mengibaskan tangannya.
Setelah menyuruh pegawai lain untuk mengurusi bagian dapur, Jongin memilih untuk duduk-duduk bersama tamu istimewanya di meja di dekat jendela. Ditemani kue beras dan sup panas, mereka mengawali reuni tak terduga sore itu.
"Oh ya, sebentar. Aku sampai lupa." Jongin berbalik dan berseru. "Kyungsoo-yah!"
Tidak ada jawaban.
"Yah! Do Kyungsoo!" cobanya, sekali lagi.
"Apa? Apa? Ada apa?" muncul seorang pria lain dari arah dapur. Matanya langsung membulat sempurna kala menemukan Chanyeol yang duduk di hadapan Jongin sambil melambaikan tangan.
"Hallo." Sapa Chanyeol.
"Wah, Chanyeol! Kapan kau datang?!"
Kemudian dimulailah obrolan hangat khas para sahabat yang tengah ber-reuni. Baik Jongin dan Kyungsoo, keduanya merupakan teman Chanyeol semasa sekolah. Namun yang mengherankan adalah dua orang itu dari dulu tidak pernah akur, dan secara mengejutkan justru mereka memutuskan untuk menikah. Tepatnya dua tahun yang lalu, dan Chanyeol melewatkannya. Tidak sempat datang karena hari itu ia tengah gencar berpromosi untuk album terbarunya.
"Yah… kau tidak akan pernah tahu siapa jodohmu sampai ia benar-benar datang kepadamu." Begitu kata Kyungsoo.
Perbincangan itu terus berlanjut. Kebanyakan adalah topik tentang teman sekelas saat di sekolah dulu. Mayoritas dari mereka masih setia untuk tinggal di desa ini, enggan untuk merantau ke kota besar sebab belum tentu juga bagaimana nasib mereka di sana. Contohnya saja Jongin yang memilih untuk mewarisi kedai sang ayah, dan merasa sangat cukup dengan apa yang ia miliki sekarang. Yang mana membuat Chanyeol turut senang kala mendengarnya.
"Berapa lama kau akan tinggal?" Tanya Jongin.
Chanyeol menyeruput kuah supnya sebelum menjawab, "Mungkin dua atau tiga minggu."
"Ahh… begitu." Kedua orang di hadapannya mengangguk-angguk.
Setelah merasa cukup dengan hidangannya, Chanyeol pun memutuskan untuk pamit. Lagipula tak enak berbincang lama-lama dengan pemilik kedai. Mereka pasti harus mengurus pekerjaan lain yang lebih penting dibanding hanya duduk mengobrol dengan kawan lama.
"Gratis." Kata Jongin saat Chanyeol hendak menyodorkan beberapa won di kasir.
"Jangan begitu." Si jangkung tentu saja merasa tak enak hati.
"Kau boleh membayarnya lain kali." Jongin masih bersikukuh. "Lagipula tidak setiap hari kedai-ku dikunjungi oleh idol terkenal. Ini momen langka." Candanya.
Chanyeol membalasnya dengan sebuah gelengan berikut tawa. Setelah berdebat tentang bayar membayar –yang mana Chanyeol kalah dan berjanji akan mentraktir Jongin lain kali—maka ia pun berpamitan untuk segera pulang.
"Jangan lupa promosikan kedaiku di akun IG-mu, ya!"
Samar-samar masih terdengar suara Jongin di belakang ketika Chanyeol memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Pemuda itu hanya mengangguk sambil tertawa, lalu mendorong pintu keluar.
Udara dingin kembali terasa menusuk-nusuk kulit. Masih tersisa satu jam sebelum petang menyambut. Chanyeol pikir ia mungkin akan berkeliling sebentar sebelum pulang ke rumah. Maka segera, ia pun membangunkan sepeda yang sedari tadi ia tidurkan di halaman depan kedai milik Jongin.
"Sampai jumpa lagi, seonsaengnim!"
Suara anak-anak itu berhasil merebut perhatian Chanyeol dari sepeda tua milik kakeknya. Pemuda itu pun mendongak, menatapi sekumpulan anak sekolah dasar yang membubarkan diri sambil melambaikan tangan pada seseorang yang masih berdiri di sisi jalan.
Seseorang itu, Chanyeol mengenalnya. Berdiri di pinggir jalan dengan tubuhnya yang tak begitu tinggi, nampak habis dilahap oleh jaketnya sendiri. Tak banyak yang berubah darinya. Gurat wajahnya pun masih sama, tenang nan menyejukkan.
Melihatnya, tak ayal membuat Chanyeol bertanya-tanya, bagaimana bisa pria yang berumur hampir tiga puluh memiliki wajah yang sama seperti ia di umur delapan belas?
(Ah… seseorang itu memang tidak pernah berhenti untuk membuatnya takjub. Bahkan setelah sekian tahun.)
"Chanyeol-ah, kau kah itu?"
Seseorang itu adalah Byun Baekhyun.
Cinta pertamanya.
.
.
.
Notes: Terinspirasi sehabis nonton drama when the weather is fine. Jadi pengen nulis fanfict tema winter yang semoga bisa bikin hati adem. Per-chapternya akan sangat pendek, paling cuma seribu words. Sengaja biar pelan pelan bacanya hehe.
Oke lanjut!
