Apa yang akan kauperbuat, jika sekiranya aku menjadi orang yang menghentikan bunuh dirimu?

Pertanyaan itu terngiang-ngiang, tatkala ujung sepatu Hanemiya Kazutora nyaris melepaskan diri dari tepian jembatan. Tubuhnya yang sempat oleng, kini berpijak lagi pada bumi yang selalu direnungkannya. Sang pelaku penghentian, yakni Chifuyu Matsuno, tampak menghela napas lega. Keringat dingin sekilas bercucuran deras, seolah-olah Chifuyu-lah yang dunianya berputar-putar liar itu. Seakan-akan dialah yang selayang pandang merasai, betapa berbedanya angin saat sekadar berembus dengan yang mendukung jatuhnya raga manusia.

"Di sini rupanya. Pergi, yuk. Anginnya kencang banget, nih."

Sepuluh September adalah orkestra bagi musim gugur. Syal Chifuyu juga berkibar, sedangkan Kazutora tidak memakainya, sehingga Chifuyu memasangkannya pada leher Kazutora. Turur menasihati ia bahwa di tengah udara yang dinginnya kian mengukir puncak ini, ada baiknya Kazutora mulai menggunakan peralatan khas musim dingin.

Dengan satu tarikan yang ringan, Chifuyu lantas membawa Kazutora pergi meninggalkan jembatan. Entahlah ke mana Chifuyu mau mengajaknya, atau di manakah mereka akan tiba dalam beberapa menit ke depan, Kazutora tidak terlalu memikirkannya. Bahkan ia sempat memejamkan mata menikmati betapa hangatnya genggaman Chifuyu, di tengah embusan angin yang kian mengganas.

Apa yang akan kauperbuat, jika sekiranya aku menjadi orang yang menghentikan bunuh dirimu?

Pertanyaan tersebut kembali terbayang-bayang. Ketika Kazutora membuka mata, dan sosok Chifuyu menghilang entah ke mana, ia pun menangis dibandingkan menjawabnya. Atau air mata itu sebenarnya merupakan jawaban Kazutora sejak lama sekali.

Jika kau menjadi orang yang menghentikan bunuh diriku, berarti seharusnya kau ...

"Seharusnya kau tidak tersenyum seperti itu, Chifuyu."


Sesuatu Di Sepuluh September

Disclaimer: Ken Wakui.

Warning: OOC parah, typo, gak jelas (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun reauvafs (10/09/2021)


Kali ini Kazutora terkapar akibat menenggak racun. Ambulan tiba-tiba saja datang memasuki kamar indekosnya, walaupun keadaan Kazutora yang muntah busa tidak menjadi pengetahuan para tetangga. Memang begitu gaib yang sewaktu Kazutora membuka mata di rumah sakit, lalu Chifuyu kembali didapatinya tengah duduk-duduk di tepi ranjang, segala keterkejutan sirna digantikan senyuman hangat.

Yang memanggil ambulan itu, tentu saja Chifuyu. Ekspresi Kazutora seketika riang, begitu pun Chifuyu yang tersenyum lebar, sebelum tiba-tiba Chifuyu menjitak kepala Kazutora. Sejenak pemuda Hanemiya itu merintih kesakitan. Wajahnya dan Chifuyu tahu-tahu pula sangatlah dekat, di mana Chifuyu melotot sehoror mungkin.

"Ya ampun Kazutora! Sebenarnya kau ini kenapa, deh?"

"Kenapa apanya?" tanya Kazutora ulang. Bosan dengan menjitak kepala, Chifuyu menggantinya yang mana kali ini, ibu jari dan telunjuknya bersatu mencubit pipi Kazutora.

"Masa kau tidak bisa membedakan antara racun dan jus?! Untung saja aku sempat memanggil ambulan."

"O-oh. Soal itu ..."

"Masa harus diberi label, ini adalah jus melon sedangkan ini racun serangga? Konyol amat. Tetapi aku sudah melakukannya untukmu, sih."

Chifuyu kembali pada senyumannya yang mengantarkan harum musim panas. Dada Kazutora terasa lapang yang mendadak, hening mengisi apa pun yang kasatmata maupun tidak. Kazutora memandang Chifuyu heran. Pada akhirnya garis lengkung itu sendu juga menunjukkan diri yang sesungguhnya; wujud yang mulai melepaskan topeng penuh canda sekaligus main-main.

"Berhentilah bermain-main dengan maut, Kazutora. Kali ini aku bisa menghentikanmu, tetapi bagaimana dengan besok, besok, dan besoknya? Bisa jadi aku gagal."

Punggung tangan Kazutora dielusnya lembut. Keriangan yang semula menghias pertemuan mereka, kini menjadi kesedihan yang sulit Chifuyu ungkapkan, dan kerinduan Kazutora yang justru buntu ketika Chifuyu tepat di hadapannya. Detak jarum jam menjadi satu-satunya pengisi hening. Mulut Kazutora spontan terbuka, merasai waktu untuk berdua kian menipis.

"Berarti ... berarti Chifuyu tinggal tidak perlu menghentikanku, bukan? Dengan begitu aku dapat menyusulmu, dan menebus kesalahanku." Kedua tangan Kazutora mengepal kuat-kuat. Melihat itu Chifuyu menggeleng lemah, lalu menggenggamnya erat-erat–ia yang tidak ingin Kazutora begini, tetapi seharusnya melanjutkan hidup demi Chifuyu.

"Belum waktunya, Kazutora. Aku yakin kau masih berkesempatan melihat dunia ini lebih banyak lagi, dan lebih lama lagi."

Pada sepuluh September dua tahun lalu, Chifuyu meninggal demi menyelamatkan Kazutora dari kereta yang tengah melaju. Mereka sempat cekcok, sewaktu Chifuyu menggenggam pergelangan tangan Kazutora, di mana Kazutora marah-marah mengenai Chifuyu yang menurutnya palsu. Bahwa Chifuyu sekadar menyayangi Kazutora, sebab Kazutora adalah peninggalan terakhir dari Keisuke Baji yang lebih dahulu meninggal dibandingkan mereka.

Seandainya Kazutora bukanlah siapa-siapanya Baji, mustahil Chifuyu akan peduli. Tidak mungkin Chifuyu mau repot-repot menyambut Kazutora yang baru saja, dibebaskan dari penjara usai menjalani masa hukuman. Jika Kazutora tak pernah berteman dengan Baji, lalu Baji meninggal karena Kazutora menusuknya (kemudian Baji bunuh diri, demi membawa Kazutora lari dari rasa bersalah), pasti Chifuyu membuang jauh-jauh perasaan menyayangi Kazutora.

Kazutora tidak ingin dicintai sebagai peninggalan terakhir Baji, ia bilang. Lebih baik Chifuyu jujur yang apabila ia ingin mencekik Kazutora, maka cekiklah. Walaupun kebaikan yang Chifuyu lakukan adalah demi perlahan-lahan menyiksa Kazutora, seharusnya Chifuyu tak perlu begitu. Bukankah lebih baik ia melihat Kazutora disakiti oleh berbagai tinju, tiada mengobatinya agar sedikit demi sedikit Kazutora sekarat, daripada melalukan yang se-merepotkan pertama-tama menyayangi Kazutora barulah Chifuyu menyerapahinya?

(Terlebih, Baji yang berada dalam diri Kazutora tidak pantas juga untuk dipertahankan. Bahwa Baji yang Kazutora ingat itu, hanyalah Keisuke Baji yang tak Kazutora harapkan direbut oleh siapa pun. Baji adalah miliknya seorang yang takkan ia beri.)

"Saat di stasiun aku pun memintamu jujur. Bukannya melanjutkan kebohonganmu dengan mengorbankan dirimu sendiri."

Jujurlah pada Kazutora, bahwa Chifuyu membenci ia sampai ingin membunuhnya.

Jujurkan kepada Kazutora, bahwa dia bukanlah sosok yang pantas dipertahankan.

Jujurlah yang mana kejujuran yang satu ini, adalah pendapat Kazutora yang paling menolak Chifuyu. Dirinya yang meminta Chifuyu mengakui, ia melihat Kazutora sebagai Baji. Pasti benar begitu, dan Kazutora tiada membutuhkannya sebab tiada Baji yang Chifuyu harapkan di dalam Kazutora ini.

"Jadi Kazutora masih menganggapku bohong, nih?"

"Jika aku menganggapnya sungguhan, bukankah itu kurang ajar? Lagi pula sampai detik ini, aku bahkan tak pernah tahu kenapa kau sebegitunya menyayangiku."

Kereta yang hampir mendekati mereka, membuat Chifuyu mengambil keputusan di mana ia mendorong Kazutora jauh-jauh dari batas rel. Sementara Chifuyu terpeleset yang ketika sesaat tubuhnya mengambang di udara, ia sempat membisikkan sesuatu kepada Kazutora, sebelum akhirnya Chifuyu ditabrak dan tergilas.

Apa yang akan kauperbuat, jika sekiranya aku menjadi orang yang menghentikan bunuh dirimu?

Adalah bisikan yang sejak pagi menginterupsi benak Kazutora. Ditambah lagi sekarang ini Kazutora menanyakannya kepada Chifuyu. Mengapa Chifuyu amat menyayangi Kazutora?

Seandainya benar Chifuyu tidak memandang Kazutora sebagai Baji, tidak melihat Baji yang berada dalam diri Kazutora, atau semata-mata menganggap Kazutora adalah peninggalan terakhir Baji, maka bagaimana bisa Chifuyu menyayangi Kazutora? Cara seperti apa yang Chifuyu temukan yang bisa-bisanya, bahkan itu demi Kazutora seorang?

"Tahu enggak, sepuluh September itu hari apa?"

"Dulu hari Kamis. Sekarang ini Jumat."

"Enggak, enggak. Bukan itu maksudku. Harusnya, apa Kazutora tahu sepuluh September itu merayakan apa?"

"Tidak. Memangnya apa?"

"Hari pencegahan bunuh diri sedunia, lho. Keren banget, bukan? Aku baru mengetahuinya setelah Baji-san meninggal. Pas itu lagi iseng jalan-jalan, terus ketemu sama sekumpulan orang yang membawa spanduk kampanye."

Mendadak Chifuyu malah bercerita. Meskipun umurnya sudah 25, dan ia turut mengajak Kazutora membantunya menjalankan pet shop, Chifuyu masih seperti dirinya yang empat belas tahun. Begitu lugu, bersemangat, baik hati, yang mana Kazutora bisa langsung mengetahuinya hanya dari Chifuyu yang menangis untuk Baji.

"Jadi?"

"Jadi, kesimpulannya adalah aku mulai menyadari sebuah keinginan, di mana aku tidak mau ada yang berakhir seperti Baji-san. Makanya aku memutuskan untuk melakukannya dari orang terdekat, yaitu adalah kau."

"Takemicchi sebenarnya kuat. Draken kurasa tidak membutuhkan bantuanku, begitu pun Mitsuya serta yang lainnya, sedangkan Mikey menghilang. Makanya itu sebenarnya aku selalu menunggumu, Kazutora. Ini bukan karena Baji-san atau apa pun."

Jangan sampai ada yang berakhir seperti Baji, apalagi dia merupakan orang terdekat Keisuke Baji. Sementara soal Chifuyu yang berakhir ditabrak kereta, setidaknya ia percaya itu bukanlah salah satu penyesalan dalam hidup. Bahwa tentunya bukan berarti Chifuyu ingin berhenti melanjutkan napas demi Baji.

Ia menyelamatkan Kazutora, dan selalu menolong Kazutora walaupun Chifuyu tertinggal, karena akan lebih menyakitkan apabila Kazutora meninggal sebelum Chifuyu. Dirinya yang baru saja keluar dari jeruji besi, lalu Chifuyu menjemput Kazutora, bahkan adalah kali pertamanya Kazutora menyaksikan biru langit. Bahwa biasanya Kazutora pasti sekadar menontoni dinding, atau lantai yang dingin yang mana langkah kaki yang ia dengar, bukanlah tentang seseorang yang menghampiri Kazutora guna mengajaknya menyantap kehangatan di makan malam.

Selain yang betul-betul ia lihat dengan matanya, mungkin pula Kazutora masih menyaksikan bagaimanakah Baji mati. Baji yang menusukkan pisau ke perutnya mumpung ia masih hidup, agar ini seperti bunuh diri. Bukan Kazutora yang membunuh Baji, makanya ia berkata kepada Chifuyu peyoung yakisoba-nya bagi dua. Menunjukkan bahwa Baji tenteram, sehingga Kazutora pun sebaiknya segera mengikuti kedamaian Baji.

Namun, Chifuyu pun tahu itu tidak mungkin sederhana. Pasti selama dipenjara, Kazutora yang dibayang-bayangi kematian Baji melihatnya sebagai penyesalan. Sebuah rasa bersalah, di mana seharusnya Kazutora-lah yang mati. Bukan orang sebaik Baji yang mestinya pergi, karena dunia pasti semakin buruk. Setiap harinya meminta maaf tanpa sekali pun berhenti yang tak berarti, Kazutora ingin didengarkan oleh Baji. Ia yang melakukannya semata-mata demi merusak diri sendiri, sebab sadar ia ini tak pantas bertahan.

Setidaknya untuk Kazutora seorang, Chifuyu ingin Kazutora lebih dahulu menemukan Baji yang berbeda. Baji yang jiwanya bebas, setelah sebelas tahun berlalu. Baji yang sudah menemukan, sekaligus memahami banyak hal melalui Chifuyu. Sosok Keisuke Baji yang pastinya bahagia, dan tanpa perlu menjelaskan bagaimananya, sesungguhnya Baji pun menunggu Kazutora keluar bersama Chifuyu.

Sayang sekali jika Kazutora tidak melihatnya, mengingat semua itu menggunakan mata kepala sendiri, dan ia tiba-tiba bunuh diri usai dibebaskan, bukan? Nanti Baji sedih, dan Chifuyu juga. Agar orang yang baiknya keterlaluan seperti mereka berdua bahagia, sebaiknya memang Kazutora menerima ketimbang melawan.

"Mulai sekarang, hiduplah dan lihat lebih banyak hal untukku serta Baji-san, oke? Keinginanku agar kau tak seperti Baji-san pun, pasti selalu sama. Jadi, aku pasti mengawasimu, Kazutora."

"Orang yang kaucintai akan selalu mengawasimu. Makanya sayangi aku juga agar aku dapat selalu melihatmu."

Usai mengucapkan itu, dan mengantarkan perasaan terakhirnya, Kazutora merasa ia membuka mata lagi. Namun, bukanlah Chifuyu yang didapatinya melainkan dokter yang terkejut. Matanya mengerjap-ngerjap sebab tahu-tahu, ia melihat Kazutora menangis.

"Tenang saja, Hanemiya-san. Kau tidak akan mati, kok. Besok bisa pulang malah," ucap sang dokter menyemangati, diikuti anggukan dari suster yang juga antusias. Mendengarnya Kazutora sekadar diam. Kedua petugas kesehatan itu saling berpandangan, sebelum berpamitan meninggalkan Kazutora.

Apa yang akan Kazutora perbuat, jika sekiranya Chifuyu menjadi orang yang menghentikan bunuh dirinya? Sekarang ini Kazutora bakalan berterima kasih saja, dibandingkan mencoba menyusul Chifuyu, dan mengulangi rasa bersalah seperti ketika Baji mengorbankan diri.

Ia takkan mati. Setidaknya walaupun Kazutora tidak lagi menemukan seseorang yang menyayangi ia, dan Chifuyu serta Baji adalah yang terakhir, Kazutora akan mengingat mereka supaya keduanya pun merasai hidup. Bahwa kematian yang sesungguhnya baru terjadi, saat Kazutora melupakan Baji begitu pun Chifuyu.


Tamat.


A/N: Awalnya mau bikin bener-bener angst, di mana kazutora mati. Tapi gak jadi karena keinget, kalo sepuluh september itu hari pencegahan bunuh diri. Makanya aku coba bikin sesuatu yang berhubungan dengan itu, dan yah jadilah fic ini. Soal chifuyu yang kazutora pertanyakan, kenapa bisa chifuyu masih sayang dia?

Buat sifat, aku gak tau ini IC/OOC, tapi semoga cukup IC dan ya semoga kalian suka, terutama reav tentunya. Seenggaknya meski file ceritaku hilang 1, aku puas bisa bikin kaztor chifuyu yang untungnya jadi dalam sehari. Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic lainnya oke~